YHWH: Siapa dan Bagaimana, Tapi Bukan Apa; Mengapa Alkitab Menolak Pertanyaan "Apa Itu Allah" — dan Mengapa Gereja Terjebak di Dalamnya
YHWH: Siapa dan Bagaimana, Tapi Bukan Apa
Mengapa Alkitab Menolak Pertanyaan "Apa Itu Allah" — dan Mengapa Gereja Terjebak di Dalamnya
---
Pendahuluan: Sebuah Kesombongan yang Dibungkus Kerendahan Hati
Selama berabad-abad, doktrin Trinitas telah dirumuskan untuk menjelaskan "apa" Allah — satu substansi, tiga pribadi (una substantia, tres personae). Rumusan ini terdengar seperti kerendahan hati — pengakuan bahwa Allah adalah misteri yang tak terpahami. Namun jika kita jujur, rumusan ini adalah kesombongan yang dibungkus kerendahan hati: manusia berdosa mencoba mendefinisikan hakikat Allah dengan kategori-kategori yang tidak pernah Allah berikan.
Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk menjelaskan "apa" Allah. Alkitab selalu berbicara tentang siapa Allah dan bagaimana Ia bertindak. Ketika Musa bertanya tentang nama Allah — yang dalam budaya Ibrani berarti identitas dan karakter — Allah menjawab dengan YHWH: "Aku adalah Aku" (Keluaran 3:14). Ia tidak memberikan definisi filosofis tentang hakikat-Nya. Ia memberikan nama — yang menyatakan siapa Dia dan bagaimana Dia berelasi.
Artikel ini berargumen bahwa:
1. Pertanyaan "apa itu Allah" adalah pertanyaan yang salah — dan Alkitab menolak untuk menjawabnya.
2. YHWH adalah pernyataan bahwa Allah tidak dapat didefinisikan dengan kategori "apa" — Ia hanya dapat dikenal sebagai "siapa" dan "bagaimana".
3. Trinitas — jika dipahami dengan benar — bukan jawaban atas "apa" Allah, tetapi jawaban atas "siapa" dan "bagaimana" Allah: siapa yang mencipta, siapa yang menebus, siapa yang memampukan — dan bagaimana relasi itu bekerja.
4. Gereja menyimpang ketika ia mencoba menjawab "apa" Allah — dan penyimpangan ini berakar pada pengaruh filsafat Yunani.
5. Alkitab mengajarkan sikap yang benar terhadap polemik ini: menyembah tanpa mendefinisikan, percaya tanpa menjelaskan, dan hidup dalam relasi tanpa mereduksi Allah menjadi konsep.
---
Bagian I: Mengapa "Apa" adalah Pertanyaan yang Salah?
1. Pertanyaan "Apa" adalah Pertanyaan tentang Esensi
Pertanyaan "apa" (quid est) adalah pertanyaan tentang esensi — tentang hakikat sesuatu. Dalam filsafat Yunani, pertanyaan ini adalah pertanyaan utama: "Apa itu kebenaran?", "Apa itu keadilan?", "Apa itu Allah?"
Namun Alkitab tidak pernah mengajukan pertanyaan ini tentang Allah. Alkitab tidak pernah mendefinisikan Allah sebagai "substansi", "esensi", atau "hakikat". Alkitab selalu berbicara tentang Allah sebagai Pribadi — yang berbicara, bertindak, berjanji, mengasihi, menghukum, menyelamatkan.
2. Pertanyaan "Apa" Melampaui Kapasitas Ciptaan
Sebagai ciptaan, kita tidak memiliki kapasitas untuk memahami "apa" Allah — karena Allah bukan ciptaan. Allah adalah Pencipta — dan Pencipta tidak dapat direduksi menjadi kategori ciptaan.
"Sebab pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9)
Pertanyaan "apa" Allah adalah pertanyaan yang melampaui kapasitas kita sebagai ciptaan. Kita tidak dapat memahami "apa" Allah — karena kita bukan Allah.
3. Pertanyaan "Apa" adalah Godaan Terbesar Manusia
Jika kita memahami "apa" Allah, kita bisa menciptakan tiruan-Nya. Itulah godaan terbesar manusia — godaan untuk menjadi seperti Allah (Kejadian 3:5). Dengan mencoba mengeksplorasi "apa" Allah, manusia berusaha menguasai Allah — mereduksi-Nya menjadi konsep yang dapat dikendalikan.
Allah menolak untuk direduksi menjadi "apa" — karena Ia tahu bahwa manusia akan menyalahgunakan pengetahuan itu.
---
Bagian II: YHWH — Siapa dan Bagaimana, Tapi Bukan Apa
1. Keluaran 3:14 — "Aku adalah Aku"
"Firman Allah kepada Musa: 'AKU ADALAH AKU.' Lagi firman-Nya: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU ADALAH AKU telah mengutus aku kepadamu.'" (Keluaran 3:14)
Nama YHWH (יהוה) berasal dari kata kerja Ibrani היה (hayah) — "menjadi", "ada". Nama ini bukan definisi filosofis tentang "apa" Allah — melainkan pernyataan tentang "siapa" Dia dan "bagaimana" Dia hadir.
YHWH berarti:
· "Aku adalah Aku" — Allah tidak dapat didefinisikan dengan kategori manusia.
· "Aku akan menjadi apa yang Aku akan jadi" — Allah bebas untuk menyatakan diri-Nya sesuai kehendak-Nya.
· "Aku hadir" — Allah adalah Allah yang hadir bersama umat-Nya.
YHWH bukanlah jawaban atas "apa" Allah — melainkan jawaban atas "siapa" Dia dan "bagaimana" Dia berelasi.
2. Keluaran 34:6-7 — Siapa dan Bagaimana
"TUHAN, TUHAN, Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia dan kebenaran, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman..." (Keluaran 34:6-7)
Ini adalah pernyataan paling lengkap tentang siapa Allah dalam PL. Perhatikan: Allah tidak mendefinisikan "apa" Dia — Ia menyatakan siapa Dia:
· Pengasih (rachum) — siapa Dia dalam relasi.
· Penyayang (chanun) — siapa Dia dalam tindakan.
· Panjang sabar (erek appayim) — bagaimana Dia menghadapi manusia.
· Berlimpah kasih setia (rav chesed) — bagaimana Dia setia pada perjanjian.
· Berlimpah kebenaran (rav emet) — bagaimana Dia setia pada janji-Nya.
Semua ini adalah pernyataan tentang siapa dan bagaimana — bukan tentang apa.
3. YHWH dan Trinitas — Siapa dan Bagaimana dalam Relasi
Trinitas — jika dipahami dengan benar — bukan jawaban atas "apa" Allah. Trinitas adalah jawaban atas "siapa" dan "bagaimana":
Pertanyaan Jawaban Trinitaris
Siapa yang mencipta dan menjadi sumber? Bapa — sumber segala sesuatu
Siapa yang berinkarnasi dan merendahkan diri? Anak — Firman yang menjadi manusia
Siapa yang berdiam dalam diri kita dan mendukung? Roh Kudus — Penghibur dan Pemampau
Bagaimana kita diciptakan? Oleh Bapa, melalui Firman, dalam Roh
Bagaimana kita menyembah? Kepada Bapa, melalui Anak, dalam Roh
Bagaimana kita dicintai? Oleh Bapa, melalui Anak, dalam Roh
Bagaimana kita diselamatkan? Oleh Bapa, melalui Anak, dalam Roh
Trinitas menjawab siapa dan bagaimana — bukan apa. Dan jawaban ini sudah cukup untuk pertumbuhan iman kita.
4. Mengapa "Apa" adalah Misteri?
Ketika kita bertanya "apa" Allah, kita harus sadar bahwa itu adalah misteri — bukan karena Allah ingin menyembunyikan diri, tetapi karena kapasitas kita sebagai ciptaan terbatas.
"Sebab sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (1 Korintus 13:12)
Paulus mengakui bahwa pengetahuan kita sekarang tidak sempurna. Kita tidak dapat memahami "apa" Allah sekarang — dan itu bukanlah masalah. Yang penting adalah kita mengenal "siapa" Dia dan "bagaimana" Dia berelasi dengan kita.
---
Bagian III: Penyebab Penyimpangan Gereja
1. Pengaruh Filsafat Yunani
Gereja mula-mula hidup di dunia Yunani — dan terpengaruh oleh filsafat Yunani. Filsafat Yunani mengajukan pertanyaan "apa" — dan gereja mencoba menjawabnya dengan kategori Yunani:
· Ousia (substansi) — untuk menjelaskan "apa" Allah.
· Hypostasis (pribadi) — untuk menjelaskan "apa" tiga Pribadi.
· Apatheia (tanpa emosi) — untuk menjelaskan "apa" sifat Allah.
Kategori-kategori ini tidak berasal dari Alkitab — dan telah mendistorsi pemahaman gereja tentang Allah.
2. Polemik yang Tak Berujung
Karena gereja mencoba menjawab "apa" Allah dengan kategori Yunani, muncul polemik yang tak berujung:
· Arianisme vs. Nicea — apakah Anak sehakikat dengan Bapa?
· Nestorianisme vs. Kalsedon — bagaimana dua natur Kristus bersatu?
· Monofisitisme vs. Diophysitisme — apakah Kristus memiliki satu atau dua natur?
Semua polemik ini berlandaskan pertanyaan "apa" — dan kategori Yunani yang digunakan untuk menjawabnya.
3. Kesombongan Intelektual
Gereja jatuh dalam kesombongan intelektual — mengira bahwa dengan kategori filsafat, ia dapat menjelaskan Allah secara tuntas. Paulus memperingatkan:
"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak... Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat." (1 Korintus 1:26-27)
Kesombongan intelektual adalah godaan terbesar gereja — dan itu adalah godaan yang sama dengan godaan di Taman Eden: "kamu akan menjadi seperti Allah" (Kejadian 3:5).
---
Bagian IV: Sikap yang Benar Menurut Alkitab
1. Menyembah Tanpa Mendefinisikan
Alkitab mengajarkan bahwa kita menyembah Allah tanpa harus mendefinisikan-Nya:
"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)
Penyembahan bukanlah tentang memahami "apa" Allah — melainkan tentang berelasi dengan "siapa" Dia. Kita menyembah Bapa melalui Anak dalam Roh Kudus — tanpa harus menjelaskan "apa" itu Trinitas.
2. Percaya Tanpa Menjelaskan
Alkitab mengajarkan bahwa kita percaya tanpa harus menjelaskan secara tuntas:
"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6)
Iman bukanlah tentang memahami "apa" Allah — melainkan tentang percaya kepada "siapa" Dia. Kita percaya bahwa Allah ada — dan bahwa Ia memberi upah kepada orang yang mencari-Nya — tanpa harus menjelaskan "apa" hakikat-Nya.
3. Hidup dalam Relasi Tanpa Mereduksi
Alkitab mengajarkan bahwa kita hidup dalam relasi dengan Allah — tanpa mereduksi-Nya menjadi konsep:
"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya..." (Filipi 3:10)
Paulus tidak ingin mengenal "apa" Allah — ia ingin mengenal "siapa" Dia — dan hidup dalam relasi dengan-Nya. Itulah yang Alkitab ajarkan.
4. Menyadari Batas Pengetahuan
Alkitab mengajarkan bahwa ada batas pengetahuan kita:
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya..." (Ulangan 29:29)
Allah telah menyatakan diri-Nya sebagai "siapa" dan "bagaimana" — dan itu sudah cukup untuk pertumbuhan iman kita. "Apa" Allah adalah hal yang tersembunyi — dan kita tidak perlu menyelidikinya.
---
Bagian V: Bagaimana Bersikap atas Polemik Ini?
1. Jangan Terjebak dalam Polemik "Apa"
Polemik tentang "apa" Allah — apakah Trinitas itu "satu substansi tiga pribadi", apakah Kristus memiliki satu atau dua natur, apakah Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak — adalah polemik yang berlandaskan kategori Yunani. Alkitab tidak memerintahkan kita untuk terjebak di dalamnya.
2. Kembali pada "Siapa" dan "Bagaimana"
Sebaliknya, kita dipanggil untuk kembali pada "siapa" dan "bagaimana":
· Siapa yang mencipta? Bapa.
· Siapa yang menebus? Anak.
· Siapa yang memampukan? Roh Kudus.
· Bagaimana kita menyembah? Kepada Bapa, melalui Anak, dalam Roh.
· Bagaimana kita diselamatkan? Oleh Bapa, melalui Anak, dalam Roh.
Ini sudah cukup untuk pertumbuhan iman kita.
3. Menghormati Misteri Tanpa Menjelaskannya
Kita dapat menghormati misteri Allah tanpa harus menjelaskannya:
"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33)
Paulus tidak mencoba menjelaskan "apa" Allah — ia justru memuliakan Allah karena kekayaan-Nya yang tak terselidiki. Itulah sikap yang benar.
4. Fokus pada Relasi, Bukan Definisi
Yang terpenting bukanlah mendefinisikan Allah — melainkan berelasi dengan-Nya:
· Mengasihi Dia — bukan hanya memahami-Nya.
· Menyembah Dia — bukan hanya menjelaskan-Nya.
· Menaati Dia — bukan hanya menganalisis-Nya.
Relasi dengan Allah adalah tujuan dari iman Kristen — bukan definisi tentang Allah.
---
Kesimpulan: YHWH — Siapa dan Bagaimana, Tapi Bukan Apa
Mari kita rangkum:
1. Pertanyaan "apa" Allah adalah pertanyaan yang salah — dan Alkitab menolak untuk menjawabnya.
2. YHWH adalah pernyataan bahwa Allah tidak dapat didefinisikan dengan kategori "apa" — Ia hanya dapat dikenal sebagai "siapa" dan "bagaimana".
3. Trinitas — jika dipahami dengan benar — adalah jawaban atas "siapa" dan "bagaimana" Allah: siapa yang mencipta, siapa yang menebus, siapa yang memampukan — dan bagaimana relasi itu bekerja.
4. Gereja menyimpang ketika ia mencoba menjawab "apa" Allah — dan penyimpangan ini berakar pada pengaruh filsafat Yunani.
5. Alkitab mengajarkan sikap yang benar: menyembah tanpa mendefinisikan, percaya tanpa menjelaskan, hidup dalam relasi tanpa mereduksi Allah menjadi konsep, dan menyadari batas pengetahuan kita.
6. Polemik tentang "apa" Allah adalah polemik yang tak berujung — dan kita tidak perlu terjebak di dalamnya.
7. Yang terpenting adalah relasi dengan Allah — bukan definisi tentang Allah.
YHWH adalah pernyataan bahwa Allah tidak dapat didefinisikan dengan kategori "apa" — Ia hanya dapat dikenal sebagai "siapa" dan "bagaimana". Trinitas, jika dipahami dengan benar, adalah jawaban atas "siapa" dan "bagaimana" — bukan "apa". Gereja menyimpang ketika ia mencoba menjawab "apa" dengan kategori filsafat Yunani — dan polemik yang tak berujung adalah akibatnya. Alkitab mengajarkan kita untuk menyembah tanpa mendefinisikan, percaya tanpa menjelaskan, dan hidup dalam relasi tanpa mereduksi Allah menjadi konsep. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah memahami "apa" Allah — tetapi mengenal "siapa" Dia, dan hidup dalam "bagaimana" Dia berelasi dengan kita. Dan itu sudah cukup untuk pertumbuhan iman kita.
YHWH — Siapa dan Bagaimana, Tapi Bukan Apa.
Trinitas — Siapa yang Mencipta, Siapa yang Menebus, Siapa yang Memampukan.
Dan kita — yang diciptakan, ditebus, dan dimampukan — menyembah dalam roh dan kebenaran.
---
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar