Babel, yang Duduk di Atas Banyak Air (Mata?); Melihat Kembali Wahyu 17:1, 15 — Ketika Kesempurnaan Palsu Bermegah di Atas Air Mata - Tentang Perceraian
Babel, yang Duduk di Atas Banyak Air (Mata?)
Melihat Kembali Wahyu 17:1, 15 — Ketika Kesempurnaan Palsu Bermegah di Atas Air Mata
---
Abstrak
Wahyu 17:1 dan 15 menggambarkan Babel sebagai "perempuan yang duduk di atas banyak air"—dan ayat 15 menafsirkan "air" sebagai "bangsa-bangsa, orang-orang banyak, dan bahasa-bahasa." Namun, ada dimensi yang sering terlewat: air dalam Alkitab juga adalah simbol air mata—simbol penderitaan, kepedihan, dan kepahitan. Artikel ini akan menghubungkan penafsiran ulang atas Wahyu 17:1 dan 15 dengan kesalahpahaman Gereja atas makna pernikahan dan perceraian. Kita akan melihat bahwa Babel—kesempurnaan palsu—duduk di atas banyak air: di atas air mata bangsa-bangsa, di atas penderitaan korban, di atas kepahitan mereka yang dipaksa bertahan dalam relasi yang mati, di atas kemunafikan yang menuntut kesempurnaan. Gereja, sebagai mempelai Kristus, seharusnya hadir sebagai kasih yang menopang—bukan aturan yang menghakimi. Tetapi Gereja sering jatuh ke dalam kesalahpahaman akan sabda Yesus: "Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48). Ayat ini sering dibaca sebagai tuntutan usaha manusia—padahal ia adalah ayat tentang anugerah. Ketika seseorang menjadi anak Bapa yang sempurna, ia menerima kesempurnaan sebagai anugerah—dan tanda kesempurnaan itu adalah buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera—bukan aturan yang menyimpan bibit kemunafikan. Babel adalah kesempurnaan palsu yang bermegah di atas air mata kepedihan dan kepahitan. Dan Gereja dipanggil untuk turun dari Babel—dan duduk bersama mereka yang menangis.
---
Pendahuluan: Air yang Sering Terlewat
1.1 Wahyu 17:1, 15 — Teks dan Terjemahan
Wahyu 17:1
"Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: 'Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.'"
Wahyu 17:15
"Lalu ia berkata kepadaku: 'Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Pelacur besar" Babel—kesempurnaan palsu
"Duduk di tempat yang banyak airnya" Posisi Babel
"Air... adalah bangsa-bangsa" Penafsiran ayat 15
"Rakyat banyak dan kaum dan bahasa" Universalitas
Kesimpulan: Wahyu 17:15 menafsirkan "air" sebagai bangsa-bangsa—orang banyak—dan bahasa. Tetapi ada dimensi lain yang perlu digali: air sebagai air mata.
1.2 Air dalam Alkitab — Simbol Multidimensi
Simbol Makna Ayat
Air kehidupan Anugerah Yohanes 4:14
Air baptisan Pembersihan Kisah 8:36
Air bah Penghakiman Kejadian 7:17
Air mata Penderitaan Mazmur 6:7
Air mata Kepedihan Yeremia 9:1
Air mata Pengharapan Wahyu 21:4
Kesimpulan: Air dalam Alkitab adalah simbol multidimensi—termasuk air mata—simbol penderitaan—kepedihan—dan pengharapan.
1.3 Tesis Artikel Ini
Artikel ini akan menunjukkan bahwa:
1. Babel duduk di atas banyak air — termasuk air mata bangsa-bangsa
2. Babel adalah kesempurnaan palsu — yang bermegah di atas penderitaan
3. Gereja sering jatuh ke dalam Babel — ketika menuntut kesempurnaan
4. Matius 5:48 adalah ayat tentang anugerah — bukan usaha manusia
5. Kesempurnaan sejati adalah buah Roh — bukan aturan yang memaksa
6. Gereja dipanggil untuk turun dari Babel — dan menopang yang menangis
---
Bagian 1: Babel — Duduk di Atas Banyak Air
1.1 Siapa Babel?
Wahyu 17:5
"Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: 'Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Babel besar" Kota kesombongan
"Ibu dari wanita-wanita pelacur" Sumber pelacuran
"Kekejian bumi" Dosa
Kesimpulan: Babel adalah simbol kesombongan—pelacuran rohani—dan kekejian. Babel adalah kesempurnaan palsu—yang dibangun di atas kemunafikan.
1.2 Babel Duduk di Atas Banyak Air
Aspek Penjelasan
Posisi Duduk—berkuasa
Tempat Banyak air—bangsa-bangsa
Makna Menguasai banyak orang
Simbol Kekuasaan—kekayaan—kemuliaan palsu
Kesimpulan: Babel duduk di atas banyak air—yaitu menguasai banyak bangsa. Tetapi ada dimensi lain: Babel duduk di atas air mata—di atas penderitaan—di atas kepedihan.
1.3 Air Mata Bangsa-Bangsa
Aspek Penjelasan
Air mata Penderitaan
Bangsa-bangsa Korban Babel
Babel Bermegah di atas mereka
Akibat Kepahitan
Kesimpulan: Babel duduk di atas air mata bangsa-bangsa—bermegah di atas penderitaan mereka—dan mengeksploitasi kepedihan mereka.
1.4 Babel sebagai Kesempurnaan Palsu
Aspek Babel Kerajaan Allah
Dasar Kesombongan Kerendahan hati
Metode Kemunafikan Kejujuran
Tujuan Mencari nama Memuliakan Allah
Hasil Kekacauan Damai
Akibat Terserak Dipersatukan
Kesimpulan: Babel adalah kesempurnaan palsu—yang dibangun di atas kesombongan—kemunafikan—dan eksploitasi penderitaan.
---
Bagian 2: Air Mata dalam Alkitab
2.1 Air Mata sebagai Simbol Penderitaan
Mazmur 6:7
"Mataku lesu karena sedih, merana karena segala lawanku."
Mazmur 42:4
"Air mataku kujadikan makananku siang dan malam, karena orang terus-menerus berkata kepadaku: 'Di manakah Allahmu?'"
Yeremia 9:1
"Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku menjadi mata air, supaya aku dapat menangis siang dan malam karena orang-orang yang terbunuh dari puteri bangsaku!"
Analisis:
Frasa Makna
"Mataku lesu karena sedih" Penderitaan
"Air mataku kujadikan makananku" Kepedihan
"Kepalaku penuh air" Kesedihan
"Menangis siang dan malam" Dukacita
Kesimpulan: Air mata dalam Alkitab adalah simbol penderitaan—kepedihan—dan dukacita. Air mata adalah bahasa mereka yang terluka.
2.2 Allah Peduli pada Air Mata
Mazmur 56:9
"Hitunglah perbuatan-perbuatanku, Engkau telah mencatat keluh kesahku dalam kirbat-Mu; air mataku telah Kaucatat dalam kitab-Mu."
Analisis:
Frasa Makna
"Mencatat keluh kesahku" Allah peduli
"Air mataku telah Kaucatat" Allah menghitung
"Dalam kitab-Mu" Allah mengingat
Kesimpulan: Allah peduli pada air mata. Ia mencatat—menghitung—dan mengingat. Air mata tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.
2.3 Yesus Menangis
Yohanes 11:35
"Maka menangislah Yesus."
Analisis:
Frasa Makna
"Menangislah Yesus" Yesus berdukacita
"Yesus" Allah yang menjelma
Kesimpulan: Yesus menangis—Ia berdukacita—Ia peduli. Allah tidak jauh dari air mata—Ia menangis bersama kita.
2.4 Air Mata akan Dihapuskan
Wahyu 21:4
"Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Analisis:
Frasa Makna
"Menghapus segala air mata" Pemulihan
"Maut tidak akan ada lagi" Kemenangan
"Perkabungan, ratap tangis, dukacita" Penderitaan diakhiri
"Segala sesuatu yang lama telah berlalu" Pembaruan
Kesimpulan: Air mata akan dihapuskan—tetapi saat ini—air mata adalah realitas. Babel bermegah di atas air mata—tetapi Allah akan menghapusnya.
---
Bagian 3: Gereja yang Jatuh ke Dalam Babel
3.1 Kesalahpahaman Gereja tentang Kesempurnaan
Matius 5:48
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Analisis:
Frasa Makna
"Haruslah kamu sempurna" Perintah
"Sama seperti Bapamu" Standar
"Adalah sempurna" Sifat Allah
Kesimpulan: Ayat ini sering dibaca sebagai tuntutan usaha manusia—padahal ia adalah ayat tentang anugerah. Kesempurnaan bukanlah pencapaian manusia—tetapi pemberian Allah.
3.2 Matius 5:48 — Ayat tentang Anugerah
Pemahaman Salah Pemahaman Benar
Tuntutan usaha manusia Anugerah Allah
Pencapaian Pemberian
Kewajiban Karunia
Kesombongan Kerendahan hati
Kesimpulan: Matius 5:48 adalah ayat tentang anugerah—bukan usaha manusia. Ketika seseorang menjadi anak Bapa yang sempurna—ia menerima kesempurnaan sebagai anugerah.
3.3 Tanda Kesempurnaan — Buah Roh
Galatia 5:22-23
"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."
Analisis:
Buah Makna
Kasih Relasi yang benar
Sukacita Hati yang bersyukur
Damai sejahtera Hati yang tenang
Kesabaran Hati yang tabah
Kemurahan Hati yang baik
Kebaikan Hati yang mulia
Kesetiaan Hati yang setia
Kelemahlembutan Hati yang lembut
Penguasaan diri Hati yang terkendali
Kesimpulan: Tanda kesempurnaan adalah buah Roh—bukan aturan yang memaksa. Buah Roh hanya hadir dalam kasih—kerelaan—dan sukacita—bukan dalam aturan yang menyimpan bibit kemunafikan.
3.4 Aturan yang Menyimpan Bibit Kemunafikan
Aspek Aturan yang Memaksa Buah Roh
Sumber Manusia Allah
Metode Paksaan Kasih
Hasil Kemunafikan Ketulusan
Buah Dukacita Sukacita
Akibat Kepahitan Damai
Kesimpulan: Aturan yang memaksa menyimpan bibit kemunafikan—yang melahirkan dukacita dan kepahitan—dalam tampilan "kesempurnaan palsu."
3.5 Gereja sebagai Babel
Aspek Babel Gereja yang Jatuh
Dasar Kesombongan Aturan
Metode Kemunafikan Paksaan
Tujuan Mencari nama Mencari citra
Hasil Kekacauan Kepahitan
Akibat Terserak Terjerumus
Kesimpulan: Gereja jatuh ke dalam Babel ketika ia menuntut kesempurnaan—menggunakan aturan yang memaksa—dan menyembah kesempurnaan palsu.
---
Bagian 4: Yesus dan Air Mata
4.1 Yesus Datang untuk Orang Berdosa
Markus 2:17
"Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: 'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Bukan orang sehat" Bukan yang merasa benar
"Orang sakit" Yang membutuhkan
"Bukan orang benar" Bukan yang merasa sempurna
"Orang berdosa" Yang mengakui dosa
Kesimpulan: Yesus datang bukan untuk orang benar—tetapi untuk orang berdosa. Ia datang bukan untuk yang merasa sempurna—tetapi untuk yang menangis.
4.2 Sukacita di Sorga karena Satu Orang Berdosa yang Bertobat
Lukas 15:7
"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Analisis:
Frasa Makna
"Sukacita di sorga" Respons sorga
"Satu orang berdosa yang bertobat" Pertobatan
"Sembilan puluh sembilan orang benar" Yang merasa benar
"Tidak memerlukan pertobatan" Yang tidak sadar
Kesimpulan: Sorga bersukacita atas pertobatan—bukan atas kesempurnaan palsu. Sorga bersukacita atas orang berdosa yang bertobat—bukan atas orang benar yang merasa tidak perlu bertobat.
4.3 Yesus Menopang yang Jatuh
Matius 11:28-30
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Analisis:
Frasa Makna
"Letih lesu dan berbeban berat" Yang menderita
"Aku akan memberi kelegaan" Penopangan
"Lemah lembut dan rendah hati" Karakter Yesus
"Kuk yang enak" Beban yang ringan
Kesimpulan: Yesus menopang yang jatuh—memberi kelegaan—dan meringankan beban. Ia tidak menuntut kesempurnaan—Ia menopang yang menangis.
4.4 Yesus Menerima Air Mata
Tokoh Air Mata Respons Yesus
Petrus Menangis setelah menyangkal Dipulihkan
Perempuan berdosa Menangis di kaki Yesus Diampuni
Maria Magdalena Menangis di kubur Dihibur
Janda di Nain Menangis atas anaknya Anaknya dibangkitkan
Kesimpulan: Yesus menerima air mata—Ia tidak menolak—Ia tidak menghakimi—Ia menopang.
---
Bagian 5: Turun dari Babel
5.1 Panggilan untuk Turun
Wahyu 18:4
"Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: 'Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Pergilah dari padanya" Panggilan untuk keluar
"Jangan mengambil bagian" Pemisahan
"Dosa-dosanya" Dosa Babel
"Malapetaka-malapetakanya" Hukuman
Kesimpulan: Allah memanggil umat-Nya untuk keluar dari Babel—tidak mengambil bagian dalam dosanya—dan tidak turut ditimpa malapetakanya.
5.2 Turun dari Kesempurnaan Palsu
Aspek Babel Kerajaan Allah
Dasar Kesombongan Kerendahan hati
Metode Kemunafikan Kejujuran
Tujuan Mencari nama Memuliakan Allah
Hasil Kekacauan Damai
Akibat Terserak Dipersatukan
Kesimpulan: Turun dari Babel berarti meninggalkan kesempurnaan palsu—dan kembali kepada kerendahan hati—kejujuran—dan kemuliaan Allah.
5.3 Menjadi Gereja yang Menopang
Aspek Gereja yang Menghakimi Gereja yang Menopang
Pendekatan Aturan Kasih
Metode Paksaan Persuasi
Tujuan Ketaatan Pertobatan
Hasil Kemunafikan Pemulihan
Sikap Menuntut kesempurnaan Menerima realitas
Kesimpulan: Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang menopang—bukan yang menghakimi. Gereja dipanggil untuk menerima realitas—bukan menuntut kesempurnaan.
5.4 Duduk Bersama yang Menangis
Aspek Babel Gereja yang Sejati
Posisi Duduk di atas air mata Duduk bersama yang menangis
Sikap Bermegah Berdukacita
Tindakan Mengeksploitasi Menopang
Hasil Kepahitan Pemulihan
Kesimpulan: Gereja yang sejati tidak duduk di atas air mata—tetapi duduk bersama yang menangis. Gereja tidak bermegah—tetapi berdukacita. Gereja tidak mengeksploitasi—tetapi menopang.
---
Bagian 6: Kesimpulan
6.1 Ringkasan Poin Utama
Poin Penjelasan
Babel duduk di atas banyak air Termasuk air mata bangsa-bangsa
Babel adalah kesempurnaan palsu Bermegah di atas penderitaan
Gereja sering jatuh ke dalam Babel Menuntut kesempurnaan
Matius 5:48 adalah ayat tentang anugerah Bukan usaha manusia
Kesempurnaan sejati adalah buah Roh Bukan aturan yang memaksa
Gereja dipanggil untuk turun dari Babel Dan menopang yang menangis
6.2 Kalimat Kunci
"Babel duduk di atas banyak air—dan air itu adalah bangsa-bangsa—orang banyak—dan bahasa. Tetapi air juga adalah air mata—air mata bangsa-bangsa—air mata korban—air mata mereka yang dipaksa bertahan dalam relasi yang mati—air mata mereka yang dituntut kesempurnaan. Babel adalah kesempurnaan palsu yang bermegah di atas air mata kepedihan dan kepahitan. Dan Gereja sering jatuh ke dalam Babel ketika ia menuntut kesempurnaan—menggunakan aturan yang memaksa—dan menyembah kesempurnaan palsu. Matius 5:48—'Hendaklah kamu sempurna'—adalah ayat tentang anugerah—bukan usaha manusia. Ketika seseorang menjadi anak Bapa yang sempurna—ia menerima kesempurnaan sebagai anugerah. Dan tanda kesempurnaan itu adalah buah Roh—kasih—sukacita—damai sejahtera—bukan aturan yang menyimpan bibit kemunafikan—yang melahirkan dukacita dan kepahitan dalam tampilan 'kesempurnaan palsu.' Yesus datang bukan untuk orang benar—tetapi untuk orang berdosa. Ia datang bukan untuk yang merasa sempurna—tetapi untuk yang menangis. Sorga bersukacita atas satu orang berdosa yang bertobat—lebih dari sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Gereja dipanggil untuk turun dari Babel—dan duduk bersama yang menangis. Gereja dipanggil untuk menopang—bukan menghakimi. Gereja dipanggil untuk menerima realitas—bukan menuntut kesempurnaan. Karena Babel akan runtuh—tetapi air mata akan dihapuskan. Dan Gereja yang sejati adalah Gereja yang menangis bersama—dan menopang—dan mengasihi."
6.3 Seruan
Tuhan, Allah yang melihat air mata,
yang mencatat keluh kesah kami dalam kirbat-Mu,
yang menghapus air mata kami dalam kitab-Mu,
Kami mengaku bahwa kami telah membangun Babel.
Kami telah duduk di atas air mata—
bermegah di atas penderitaan—
mengeksploitasi kepedihan—
menuntut kesempurnaan.
Kami telah menyembah kesempurnaan palsu—
yang dibangun di atas kemunafikan—
bukan di atas anugerah.
Ampuni kami, Tuhan.
Robohkan Babel kami.
Turunkan kami dari tahta kesombongan.
Ajarlah kami untuk duduk bersama yang menangis—
bukan duduk di atas air mata mereka.
Ajarlah kami untuk menopang—
bukan menghakimi.
Ajarlah kami untuk menerima realitas—
bukan menuntut kesempurnaan.
Engkau telah datang bukan untuk orang benar—
tetapi untuk orang berdosa.
Engkau telah datang bukan untuk yang merasa sempurna—
tetapi untuk yang menangis.
Engkau telah menangis—
Engkau telah menopang—
Engkau telah memulihkan.
Ajarlah kami untuk menjadi seperti Engkau—
yang lemah lembut dan rendah hati—
yang memberi kelegaan kepada yang letih lesu—
yang menopang yang jatuh.
Biarlah kami menjadi Gereja yang sejati—
yang duduk bersama yang menangis—
dan menopang mereka dengan kasih.
Karena Engkaulah Allah yang menghapus air mata—
dan Engkaulah yang akan menghapusnya selamanya.
Dalam nama Yesus Kristus, Amin.
---
Soli Deo Gloria
---
Lampiran: Tabel Perbandingan
Tabel 1: Air dalam Alkitab — Multidimensi
Simbol Makna Ayat
Air kehidupan Anugerah Yohanes 4:14
Air baptisan Pembersihan Kisah 8:36
Air bah Penghakiman Kejadian 7:17
Air mata Penderitaan Mazmur 6:7
Air mata Kepedihan Yeremia 9:1
Air mata Pengharapan Wahyu 21:4
Tabel 2: Babel vs. Gereja yang Sejati
Aspek Babel Gereja yang Sejati
Posisi Duduk di atas air mata Duduk bersama yang menangis
Sikap Bermegah Berdukacita
Tindakan Mengeksploitasi Menopang
Hasil Kepahitan Pemulihan
Dasar Kesombongan Kerendahan hati
Tabel 3: Matius 5:48 — Salah Paham vs. Pemahaman Benar
Salah Paham Pemahaman Benar
Tuntutan usaha manusia Anugerah Allah
Pencapaian Pemberian
Kewajiban Karunia
Kesombongan Kerendahan hati
Tabel 4: Aturan yang Memaksa vs. Buah Roh
Aspek Aturan yang Memaksa Buah Roh
Sumber Manusia Allah
Metode Paksaan Kasih
Hasil Kemunafikan Ketulusan
Buah Dukacita Sukacita
Akibat Kepahitan Damai
---
Daftar Ayat Kunci
Ayat Tema
Wahyu 17:1, 15 Babel duduk di atas banyak air
Wahyu 18:4 Panggilan untuk keluar dari Babel
Wahyu 21:4 Air mata akan dihapuskan
Mazmur 56:9 Allah mencatat air mata
Yeremia 9:1 Air mata sebagai kepedihan
Yohanes 11:35 Yesus menangis
Matius 5:48 Kesempurnaan sebagai anugerah
Galatia 5:22-23 Buah Roh
Markus 2:17 Yesus datang untuk orang berdosa
Lukas 15:7 Sukacita di sorga karena pertobatan
Matius 11:28-30 Yesus menopang yang letih lesu
---
Penutup
Babel duduk di atas banyak air—dan air itu adalah bangsa-bangsa—orang banyak—dan bahasa. Tetapi air juga adalah air mata—air mata bangsa-bangsa—air mata korban—air mata mereka yang dipaksa bertahan dalam relasi yang mati—air mata mereka yang dituntut kesempurnaan.
Babel adalah kesempurnaan palsu yang bermegah di atas air mata kepedihan dan kepahitan.
Dan Gereja sering jatuh ke dalam Babel ketika ia menuntut kesempurnaan—menggunakan aturan yang memaksa—dan menyembah kesempurnaan palsu.
Matius 5:48—"Hendaklah kamu sempurna"—adalah ayat tentang anugerah—bukan usaha manusia. Ketika seseorang menjadi anak Bapa yang sempurna—ia menerima kesempurnaan sebagai anugerah. Dan tanda kesempurnaan itu adalah buah Roh—kasih—sukacita—damai sejahtera—bukan aturan yang menyimpan bibit kemunafikan—yang melahirkan dukacita dan kepahitan dalam tampilan "kesempurnaan palsu."
Yesus datang bukan untuk orang benar—tetapi untuk orang berdosa. Ia datang bukan untuk yang merasa sempurna—tetapi untuk yang menangis. Sorga bersukacita atas satu orang berdosa yang bertobat—lebih dari sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.
Gereja dipanggil untuk turun dari Babel—dan duduk bersama yang menangis. Gereja dipanggil untuk menopang—bukan menghakimi. Gereja dipanggil untuk menerima realitas—bukan menuntut kesempurnaan.
Karena Babel akan runtuh—tetapi air mata akan dihapuskan. Dan Gereja yang sejati adalah Gereja yang menangis bersama—dan menopang—dan mengasihi.
Soli Deo Gloria.
---
Baca artikel terkait lainnya :
- - -
Baca artikel lainnya :
Komentar
Posting Komentar