Yesus (Allah) Menyembah Bapa (Allah): Bukan Sekadar Kemanusiaan yang Berkorban Saat Inkarnasi, Karena Telah Disembelih Sejak Dunia Dijadikan

Yesus (Allah) Menyembah Bapa (Allah): Bukan Sekadar Kemanusiaan yang Berkorban Saat Inkarnasi, Karena Telah Disembelih Sejak Dunia Dijadikan

Dari Avodah Zarah menuju Avodah Sejati — Korban Pengganti, Imam Besar, dan Domba yang Tersembelih Sejak Kekekalan

---

Pendahuluan: Sebuah Keterkaitan yang Terlupakan

Dalam diskusi tentang penyembahan Yesus kepada Bapa, kita sering terjebak pada pertanyaan filosofis: "Bagaimana Allah bisa menyembah Allah?" Namun pertanyaan itu muncul karena kita memisahkan penyembahan dari korban — padahal dalam Alkitab, keduanya tidak terpisahkan. Penyembahan (avad) dan persembahan korban adalah satu kesatuan ibadah. Ketika kita memisahkan keduanya, kita kehilangan kunci untuk memahami mengapa Yesus menyembah Bapa.

Artikel ini berargumen bahwa:

1. Penyembahan (avad) dan korban tidak dapat dipisahkan dalam PL — keduanya adalah satu tindakan ibadah yang menyatakan ketundukan dan pengakuan akan keberdosaan.
2. Penyembahan berhala (avodah zarah) adalah pemalsuan dari avad yang sejati — ia adalah penyembahan yang salah objeknya, tetapi tetap menunjukkan bahwa avad selalu melibatkan persembahan korban.
3. Abraham dan Ishak adalah pola dasar dari korban pengganti — Allah menyediakan domba sebagai pengganti.
4. Yesus adalah Imam Besar sekaligus Domba Korban — dan sebagai Domba, Ia telah disembelih sejak dunia dijadikan (Why. 13:8).
5. Karena itu, penyembahan Yesus kepada Bapa bukan sekadar kemanusiaan yang berkorban saat inkarnasi — melainkan penyembahan yang berakar pada korban kekal yang telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan, yang dinyatakan dalam sejarah melalui inkarnasi, dan yang memungkinkan penyembahan kita diterima.

Dengan kata lain: Yesus menyembah Bapa bukan hanya karena Ia manusia yang taat — tetapi karena Ia adalah Domba yang telah disembelih sejak kekekalan, yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penyembahan yang sempurna.

---

Bagian I: Avad — Penyembahan yang Selalu Melibatkan Korban

1. Avad dan Korban dalam PL

Kata Χ’ָΧ‘ַΧ“ (avad) berarti "melayani, beribadah". Namun dalam PL, avad tidak pernah berdiri sendiri — ia selalu terkait dengan korban dan persembahan. Mari kita lihat:

· Keluaran 3:12 — "Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah (avad) kepada Allah di gunung ini." — Dan di gunung Sinai, bangsa Israel menerima sistem korban (Imamat).
· Keluaran 10:25-26 — "Tetapi Musa berkata: 'Engkau juga harus memberikan kepada kami korban-korban dan korban bakaran untuk kami persembahkan kepada TUHAN, Allah kami. Tetapi ternak kami harus turut berjalan bersama-sama dengan kami... sebab dari padanya kami akan mengambil untuk beribadah (avad) kepada TUHAN, Allah kami.'"
· Yosua 24:14-15 — "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah (avad) kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia... pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah (avad)..."

Perhatikan: beribadah (avad) selalu melibatkan persembahan — karena ibadah yang sejati adalah penyerahan diri yang dinyatakan melalui korban.

2. Avodah Zarah — Penyembahan Berhala sebagai Pemalsuan

Kata Χ’ֲΧ‘Χ•ֹΧ“ָΧ” Χ–ָΧ¨ָΧ” (avodah zarah) — "penyembahan asing/berhala" — berakar pada avad. Ini menunjukkan bahwa:

· Penyembahan berhala adalah pemalsuan dari avad yang sejati — ia adalah penyembahan yang salah objeknya, tetapi tetap merupakan tindakan ibadah yang melibatkan korban dan persembahan.
· Penyembahan berhala selalu melibatkan korban — kepada berhala, kepada dewa-dewa, kepada kuasa-kuasa lain. Ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk penyembah — ia selalu menyembah sesuatu, dan selalu mempersembahkan korban kepada sesuatu.

Dalam PL, avodah zarah adalah dosa paling serius — karena ia adalah pemalsuan dari avad yang sejati. Israel dipanggil untuk beribadah (avad) hanya kepada TUHAN — dan tidak beribadah (avad) kepada allah lain (Kel. 20:5; Ul. 6:13).

3. Penyembahan Sejati = Korban yang Benar

Jika avodah zarah adalah penyembahan yang salah objeknya, maka penyembahan sejati adalah penyembahan yang benar objeknya — dengan korban yang benar. Dan korban yang benar hanya dapat dipersembahkan oleh imam yang benar — yang telah dikuduskan untuk tujuan itu.

Inilah yang membawa kita kepada Abraham dan Ishak.

---

Bagian II: Abraham dan Ishak — Pola Korban Pengganti

1. Kejadian 22:1-14 — Ujian di Gunung Moria

"Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: 'Abraham!' Lalu sahut Abraham: 'Ya, TUHAN.' Firman-Nya: 'Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'" (Kejadian 22:1-2)

Ini adalah puncak ujian iman Abraham — dan puncak penyembahan dalam PL. Perhatikan:

· Penyembahan (shachah) dan korban tidak terpisahkan — Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran (olah).
· Korban adalah tindakan penyembahan tertinggi — karena ia melibatkan penyerahan segala sesuatu kepada Allah.
· Ishak adalah "anakmu yang tunggal, yang engkau kasihi" — korban yang paling berharga.

2. Kejadian 22:7-8 — Allah Menyediakan Korban

"Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: 'Bapa.' Sahut Abraham: 'Ya, anakku.' Bertanyalah Ishak: 'Lihat, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?' Sahut Abraham: 'Allah akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.'"

Ini adalah nubuat pertama tentang korban pengganti:

· Abraham tidak dapat menyediakan korban yang layak — ia hanya dapat percaya bahwa Allah akan menyediakannya.
· "Allah akan menyediakan" (YHWH yireh — TUHAN akan menyediakan) — ini adalah prinsip korban pengganti: manusia tidak dapat mempersembahkan korban yang layak; Allah sendiri yang menyediakan.

3. Kejadian 22:13-14 — Domba Pengganti

"Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: 'TUHAN menyediakan' (YHWH yireh)..."

Inilah pola korban pengganti:

· Ishak tidak jadi dikorbankan — karena domba menggantikannya.
· Domba itu adalah penyediaan Allah — bukan hasil usaha manusia.
· Korban pengganti memungkinkan penyembahan yang diterima — Abraham mempersembahkan domba, dan penyembahannya diterima.

4. Hubungan dengan Yesus

Pola Abraham-Ishak adalah bayangan dari Kristus:

· Ishak = anak yang dikasihi, yang "dikorbankan" — tetapi digantikan.
· Domba = korban pengganti yang disediakan Allah.
· Yesus = Anak yang tunggal (Yoh. 3:16), yang menjadi Domba (Yoh. 1:29) — Allah menyediakan korban bagi diri-Nya sendiri.

"Sesungguhnya, Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Wahyu 5:12)

---

Bagian III: Yesus — Imam Besar dan Domba Korban

1. Imam Besar yang Mempersembahkan Diri-Nya

Ibrani 9:11-14 menggambarkan Yesus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya sendiri:

"Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia... Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal."

Perhatikan: Yesus adalah Imam sekaligus Korban. Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri — dan persembahan itu adalah penyembahan yang sempurna.

2. Domba yang Tersembelih Sejak Dunia Dijadikan

"Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembah dia [binatang itu], yaitu semua orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan." (Wahyu 13:8)

Frasa "Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan" (tou arniou tou esphagmenou apo katabolΔ“s kosmou) adalah kunci untuk memahami penyembahan Yesus kepada Bapa. Apa artinya?

a) Korban Kristus bukanlah rencana darurat.
Korban Kristus ditetapkan sebelum dunia dijadikan — dalam kekekalan. Ini berarti:

· Salib bukanlah "kecelakaan" — ia adalah rencana kekal Allah.
· Penyembahan Yesus kepada Bapa bukanlah "reaksi" terhadap dosa — ia adalah ekspresi kekal dari kasih Trinitas.
· Kenosis bukanlah "improvisasi" — ia adalah bagian dari rencana kekal yang telah ditetapkan sebelum waktu dimulai.

b) Korban Kristus bersifat kekal.
Karena Kristus "disembelih sejak dunia dijadikan", maka korban-Nya memiliki nilai kekal — bukan hanya temporal. Ini berarti:

· Penyembahan Yesus kepada Bapa bukan hanya terjadi pada inkarnasi — ia berakar pada kekekalan.
· Kemanusiaan Kristus bukan satu-satunya alasan Ia menyembah — Ia menyembah sebagai Domba yang telah ditetapkan sejak kekekalan.
· Penyembahan kita diterima karena korban kekal ini — bukan karena usaha kita.

c) "Sejak dunia dijadikan" menunjuk pada penetapan, bukan pelaksanaan.
Secara teologis, frasa ini berarti:

· Penetapan (decree) korban Kristus terjadi dalam kekekalan — sebelum dunia dijadikan.
· Pelaksanaan (execution) korban Kristus terjadi dalam sejarah — di kayu salib.
· Aplikasi (application) korban Kristus terjadi dalam hidup orang percaya — melalui Roh Kudus.

Dengan demikian, penyembahan Yesus kepada Bapa adalah:

· Berdasarkan penetapan kekal — Ia adalah Domba yang telah ditetapkan sejak kekekalan.
· Dinyatakan dalam sejarah — melalui inkarnasi, ketaatan, dan salib.
· Diterapkan kepada kita — melalui iman dan pengudusan.

3. Mengapa Yesus Menyembah Bapa?

Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan dengan lebih lengkap:

Yesus menyembah Bapa bukan hanya karena:

· Ia manusia yang taat (meskipun ini benar).
· Ia mengambil rupa hamba dalam inkarnasi (meskipun ini benar).
· Ia adalah Imam Besar yang mewakili manusia (meskipun ini benar).

Tetapi terutama karena:

· Ia adalah Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan (Why. 13:8) — korban kekal yang mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa dalam kasih yang kekal.
· Penyembahan-Nya adalah ekspresi dari korban kekal itu — bukan hanya tindakan temporal, tetapi realitas kekal yang dinyatakan dalam waktu.
· Ia adalah Penyembah yang sempurna — karena hanya Domba yang layak yang dapat mempersembahkan penyembahan yang layak.

Dengan kata lain:

Yesus menyembah Bapa karena Ia adalah Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya sebagai Domba — dan Domba itu telah ditetapkan sejak kekekalan. Penyembahan-Nya bukan sekadar kemanusiaan yang berkorban saat inkarnasi, tetapi ekspresi dari korban kekal yang telah ada sebelum dunia dijadikan.

---

Bagian IV: Avodah Zarah vs. Avodah Sejati — Penyembahan yang Diterima

1. Avodah Zarah — Penyembahan yang Ditolak

Avodah zarah adalah penyembahan yang salah objeknya — dan karena itu ditolak. Namun ia juga salah caranya — karena ia mempersembahkan korban kepada yang bukan Allah, dan dengan motivasi yang salah.

Dalam PL, avodah zarah selalu ditolak — bahkan dihukum (Kel. 20:5; Ul. 13:6-11). Mengapa? Karena:

· Objeknya salah — bukan Allah.
· Korbannya salah — bukan korban yang layak.
· Imamnya salah — bukan imam yang dikuduskan.

2. Avodah Sejati — Penyembahan yang Diterima

Avodah sejati adalah penyembahan yang:

· Objeknya benar — hanya Allah.
· Korbannya benar — korban yang layak, yang disediakan Allah.
· Imamnya benar — imam yang dikuduskan.

Dalam PL, avodah sejati hanya mungkin melalui sistem korban yang Allah tetapkan — dan hanya melalui imam yang Allah kuduskan. Dan bahkan sistem itu hanya bayangan — karena korban yang sejati adalah Kristus sendiri.

3. Yesus — Avodah Sejati yang Sempurna

Yesus adalah Avodah Sejati yang sempurna:

· Objeknya benar — Bapa.
· Korbannya benar — diri-Nya sendiri, Domba yang tak bercacat.
· Imamnya benar — Ia adalah Imam Besar yang kekal.

Dan karena itu, penyembahan-Nya diterima — bahkan diperkenan — karena Ia adalah Penyembah yang sempurna, yang mempersembahkan korban yang sempurna, kepada Allah yang benar.

---

Bagian V: Implikasi bagi Kita — Penyembahan yang Diterima karena Korban yang Sempurna

1. Kita Tidak Dapat Mempersembahkan Korban yang Layak

Seperti Abraham, kita tidak dapat menyediakan korban yang layak — kita hanya dapat percaya bahwa Allah akan menyediakannya. Dan Allah telah menyediakannya: Yesus, Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan.

2. Kita Menyembah karena Korban Kristus

Penyembahan kita diterima bukan karena kualitas kita, tetapi karena kualitas korban Kristus. Kita menyembah melalui Dia, dalam Dia, dan bersama Dia — karena Ia adalah Imam Besar yang mempersembahkan penyembahan kita kepada Bapa.

"Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini, di mana kita berdiri dan yang membuat kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:2)

3. Kita Menyembah sebagai Umat Milik Allah

Karena kita telah ditebus oleh darah Domba, kita menjadi milik Allah — dan sebagai milik Allah, kita berhak menyembah-Nya. Penyembahan kita adalah hak istimewa yang diperoleh melalui korban Kristus.

4. Kita Menyembah dalam Pengharapan akan Penyembahan Kekal

Karena Kristus adalah Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan, penyembahan kita saat ini adalah antisipasi dari penyembahan kekal di hadapan takhta:

"Maka aku melihat... seekor Anak Domba yang seolah-olah telah disembelih... dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru: 'Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.'" (Wahyu 5:6, 9)

---

Kesimpulan: Penyembahan yang Berakar pada Korban Kekal

Mari kita rangkum:

1. Penyembahan (avad) dan korban tidak dapat dipisahkan — avad selalu melibatkan persembahan, dan avodah zarah adalah pemalsuan dari avad sejati.
2. Abraham dan Ishak adalah pola korban pengganti — Allah menyediakan domba sebagai pengganti, dan korban itu memungkinkan penyembahan yang diterima.
3. Yesus adalah Imam Besar sekaligus Domba Korban — Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang sempurna.
4. Yesus adalah Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan (Why. 13:8) — korban-Nya ditetapkan dalam kekekalan, dinyatakan dalam sejarah, dan diterapkan dalam hidup orang percaya.
5. Karena itu, penyembahan Yesus kepada Bapa bukan sekadar kemanusiaan yang berkorban saat inkarnasi — melainkan ekspresi dari korban kekal yang telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan.
6. Penyembahan kita diterima karena korban Kristus — bukan karena kualitas kita, tetapi karena kualitas Domba yang sempurna.

Yesus menyembah Bapa bukan hanya karena Ia manusia yang taat, bukan hanya karena Ia mengambil rupa hamba, bukan hanya karena Ia Imam Besar — tetapi karena Ia adalah Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan. Penyembahan-Nya berakar pada korban kekal yang telah ditetapkan dalam kasih Trinitas sebelum waktu dimulai. Dan karena korban itu, kita — yang telah ditebus dan menjadi milik Allah — dapat menyembah Bapa dengan penyembahan yang diterima: melalui Kristus, dalam Kristus, dan bersama Kristus.

Avodah sejati hanya mungkin melalui Korban yang sejati.
Dan Korban yang sejati adalah Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan.
Karena itu, penyembahan Yesus kepada Bapa adalah penyembahan yang kekal — yang memungkinkan penyembahan kita yang temporal menjadi penyembahan yang berkenan kepada Allah.

---

Soli Deo Gloria.

- - -

Baca artikel terkait lainnya :





















- - -

Baca artikel lainnya :

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan