Pengharapan dalam Kelemahan; Ketika Kehendak Bebas Membuat Kita Khawatir — Ulangan 29-30 dan Janji Allah bagi Manusia yang Lemah
Pengharapan dalam Kelemahan
Ketika Kehendak Bebas Membuat Kita Khawatir — Ulangan 29-30 dan Janji Allah bagi Manusia yang Lemah
---
Pendahuluan: Kekhawatiran yang Wajar
Artikel sebelumnya tentang kehendak bebas, meterai yang dapat disobek, dan kemurtadan mungkin meninggalkan rasa khawatir. Jika keselamatan kita bergantung pada ketekunan kita — dan jika kita dapat merobek meterai Roh Kudus dari dalam — maka siapa yang dapat bertahan? Jika setiap pilihan kita dapat membawa kita kepada kemurtadan, dan jika dosa terhadap Roh Kudus tidak dapat diampuni, maka bukankah kita semua berada dalam bahaya?
Kekhawatiran ini wajar — dan bahkan sehat. Alkitab sendiri memperingatkan: "Barangsiapa mengira dirinya teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Namun kekhawatiran yang berlebihan — yang membuat kita takut akan Allah, ragu akan keselamatan kita, dan putus asa akan kelemahan kita — bukanlah yang dikehendaki Allah.
Artikel ini berargumen bahwa Ulangan 29-30 — yang berbicara tentang perjanjian Allah — memberikan pengharapan bagi manusia yang lemah. Perjanjian itu bukan perjanjian yang bergantung pada kekuatan manusia, tetapi pada kasih setia Allah yang mengerti kelemahan umat-Nya. Dan Yesus serta para rasul menegaskan pengharapan ini: bahwa Allah mengerti kelemahan kita, bahwa Ia tidak membiarkan kita sendirian, dan bahwa Ia sendiri yang akan memelihara kita sampai akhir.
Keselamatan kita bukanlah hasil kerja kita — tetapi hasil karya Allah. Dan justru karena itu, kita dapat berpengharapan — bahkan dalam kelemahan kita.
---
Bagian I: Ulangan 29-30 — Perjanjian yang Mengerti Kelemahan
1. Ulangan 29 — Perjanjian yang Ditegakkan oleh Allah
"Kamulah pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu... untuk masuk ke dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah yang diadakan TUHAN, Allahmu, dengan engkau pada hari ini, supaya Ia menegakkan engkau pada hari ini menjadi suatu bangsa bagi-Nya dan supaya Ia menjadi Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya kepadamu dan seperti yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, kepada Abraham, Ishak dan Yakub." (Ulangan 29:10, 12-13)
Perjanjian di Moab adalah pembaruan perjanjian — dan perhatikan: perjanjian itu bukan sekadar kesepakatan dua pihak yang setara. Perjanjian itu adalah ikatan di mana Allah mengikatkan diri-Nya kepada umat-Nya — dan mengikat umat-Nya kepada diri-Nya.
Yang penting: perjanjian itu tidak bergantung pada kekuatan umat untuk memeliharanya. Allah mengetahui kelemahan umat-Nya — dan Ia tetap mengadakan perjanjian itu. Perjanjian itu adalah anugerah — bukan prestasi.
2. Ulangan 29:4 — Kelemahan yang Diakui
"Tetapi sampai sekarang TUHAN belum memberikan kepadamu hati untuk mengerti dan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar."
Ini adalah pengakuan yang jujur: umat Israel belum memiliki hati yang mengerti, mata yang melihat, dan telinga yang mendengar. Mereka lemah — dan Allah mengetahuinya. Namun Allah tidak membatalkan perjanjian itu karena kelemahan mereka. Ia tetap mengikatkan diri-Nya kepada mereka — dan Ia sendiri yang akan memberikan hati yang mengerti, mata yang melihat, dan telinga yang mendengar.
Perjanjian Allah mengerti kelemahan manusia — dan justru karena itu, perjanjian itu memberikan pengharapan.
3. Ulangan 30:1-6 — Janji Pemulihan
"Maka apabila engkau telah sampai kepada segala perkara ini, yaitu berkat dan kutuk yang telah Kuperhadapkan kepadamu, dan engkau telah menimbang-nimbang dalam hatimu... dan engkau telah bertobat kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya... maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau... TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." (Ulangan 30:1-2, 3, 6)
Inilah janji pengharapan yang luar biasa:
· Allah akan memulihkan — bahkan setelah kutuk.
· Allah akan menyayangi — bahkan setelah kegagalan.
· Allah sendiri yang akan menyunat hati — yang memampukan umat untuk mengasihi Dia.
Perhatikan: Allah tidak menunggu umat menjadi kuat untuk memulihkan mereka. Ia memulihkan mereka justru dalam kelemahan mereka — dan Ia sendiri yang mengerjakan apa yang tidak dapat mereka kerjakan.
4. Ulangan 30:11-14 — Perintah yang Tidak Terlalu Sulit
"Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh... Tetapi firman itu sangat dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, supaya engkau dapat melakukannya." (Ulangan 30:11, 14)
Perintah Allah tidak terlalu sulit — bukan karena manusia kuat, tetapi karena firman itu dekat — di dalam mulut dan hati. Allah tidak meminta manusia untuk mencapai sesuatu yang jauh — Ia memberikan firman-Nya dekat — dan Ia sendiri yang memampukan untuk melakukannya.
Perjanjian Allah tidak membebani manusia dengan tuntutan yang mustahil — tetapi memberikan apa yang dituntut-Nya.
5. Ulangan 30:19-20 — Pilihan Hidup
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu." (Ulangan 30:19-20)
Pilihan memang ada — dan manusia dipanggil untuk memilih. Namun perhatikan: pilihan itu bukan pilihan antara kekuatan manusia dan kelemahan manusia — tetapi pilihan antara hidup dalam kasih Allah dan mati dalam penolakan. Dan Allah tidak membiarkan manusia memilih sendirian — Ia memanggil langit dan bumi sebagai saksi, dan Ia sendiri yang mengerjakan pemulihan.
Pilihan itu nyata — tetapi anugerah yang memampukan juga nyata.
---
Bagian II: Yesus — Pengharapan bagi yang Lemah
1. Yesus Mengerti Kelemahan Kita
"Sebab kita tidak mempunyai imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)
Yesus mengerti kelemahan kita — karena Ia sendiri telah mengalaminya. Ia tidak menjauh dari yang lemah — Ia mendekat kepada mereka. Ia tidak menghakimi yang lemah — Ia menguatkan mereka.
2. Yesus Berdoa untuk Kita
"Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:31-32)
Yesus berdoa untuk Petrus — agar imannya tidak gugur. Dan meskipun Petrus menyangkal Yesus tiga kali, iman-Nya tidak gugur — karena Yesus berdoa untuknya. Yesus berdoa untuk kita — dan doa-Nya adalah jaminan bahwa iman kita tidak akan gugur.
3. Yesus Memelihara Kita
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa-Ku." (Yohanes 10:27-29)
Yesus memelihara domba-domba-Nya — dan tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Nya. Kelemahan kita bukanlah ancaman bagi pemeliharaan-Nya — karena Ia sendiri yang memelihara kita.
4. Yesus — Pokok Anggur yang Memampukan
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:4-5)
Kita tidak dapat berbuah dari diri sendiri — tetapi di dalam Kristus, kita berbuah banyak. Kelemahan kita bukanlah penghalang — justru kelemahan itulah yang membawa kita kepada ketergantungan pada Kristus.
---
Bagian III: Para Rasul — Pengharapan dalam Kelemahan
1. Paulus — Kekuatan dalam Kelemahan
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.' Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9)
Paulus bermegah dalam kelemahannya — karena kuasa Kristus menjadi sempurna dalam kelemahan. Kelemahan bukanlah akhir — ia adalah awal dari kuasa Allah.
2. Paulus — Allah yang Memelihara
"Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:38-39)
Paulus yakin — bukan karena kekuatan jemaat Roma, tetapi karena kasih Allah yang tidak dapat dipisahkan. Kelemahan kita tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah — karena kasih itu bukan bergantung pada kekuatan kita, tetapi pada kesetiaan Allah.
3. Petrus — Allah yang Memelihara
"Hendaklah kamu makin giat, supaya dengan perbuatanmu kamu menguatkan panggilan dan pilihanmu. Sebab apabila kamu melakukan itu, kamu tidak akan tersandung." (2 Petrus 1:10)
Petrus memperingatkan — tetapi ia juga menegaskan bahwa Allah yang memelihara. Dan di akhir suratnya:
"Tetapi Allah yang penuh dengan kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita sedikit waktu lamanya." (1 Petrus 5:10)
Allah sendiri yang akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita. Kelemahan kita bukanlah akhir — karena Allah sendiri yang bekerja dalam kita.
4. Yohanes — Allah yang Memelihara
"Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya dalam nama Anak Allah tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal." (1 Yohanes 5:11-13)
Yohanes menulis agar kita tahu bahwa kita memiliki hidup yang kekal. Kepastian keselamatan bukan berasal dari kekuatan kita — tetapi dari kesaksian Allah tentang Anak-Nya.
---
Bagian IV: Pengharapan dalam Kelemahan — Sintesis
1. Perjanjian Allah Mengerti Kelemahan
Ulangan 29-30 menunjukkan bahwa perjanjian Allah mengerti kelemahan manusia — dan Allah sendiri yang memampukan umat untuk setia. Perjanjian itu bukan beban — tetapi anugerah.
2. Yesus Berdoa untuk Kita
Yesus berdoa untuk kita — seperti Ia berdoa untuk Petrus — agar iman kita tidak gugur. Doa-Nya adalah jaminan bahwa kita tidak akan binasa.
3. Roh Kudus Memampukan Kita
Roh Kudus memampukan kita untuk bertekun — dan Ia sendiri yang berdoa untuk kita (Roma 8:26). Kelemahan kita bukanlah penghalang — karena Roh yang memampukan.
4. Allah Memelihara Kita
Allah memelihara kita — dan tidak seorang pun dapat merebut kita dari tangan-Nya (Yohanes 10:28-29). Kelemahan kita bukanlah ancaman — karena Allah yang memelihara.
5. Pengharapan Bukanlah Kesombongan
Pengharapan ini bukanlah kesombongan — seolah-olah kita kuat dan tidak dapat jatuh. Pengharapan ini adalah kerendahan hati — yang mengakui kelemahan kita, tetapi percaya pada kasih Allah yang lebih besar dari kelemahan kita.
---
Bagian V: Kelegaan — Apa yang Dikatakan Yesus dan Para Rasul
1. Yesus — "Marilah kepada-Ku"
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Matius 11:28-30)
Yesus mengundang yang lemah — dan memberi mereka kelegaan. Beban yang Ia berikan ringan — karena Ia sendiri yang memikulnya bersama kita.
2. Yesus — "Aku menyertai kamu"
"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20)
Yesus menyertai kita sampai akhir — dan kehadiran-Nya adalah jaminan bahwa kita tidak akan sendirian.
3. Para Rasul — "Kasih karunia cukup"
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)
Kasih karunia Allah cukup — bahkan dalam kelemahan kita. Kelemahan kita bukanlah penghalang — justru kelemahan itulah yang memungkinkan kuasa Allah dinyatakan.
4. Para Rasul — "Allah setia"
"Allah setia, dan Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13)
Allah setia — dan Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Kelemahan kita diketahui-Nya — dan Ia sendiri yang memberikan jalan keluar.
---
Kesimpulan: Pengharapan dalam Kelemahan
Mari kita rangkum:
1. Ulangan 29-30 menunjukkan bahwa perjanjian Allah mengerti kelemahan manusia — dan Allah sendiri yang memampukan umat untuk setia. Perjanjian itu bukan beban — tetapi anugerah.
2. Yesus berdoa untuk kita — seperti Ia berdoa untuk Petrus — agar iman kita tidak gugur. Doa-Nya adalah jaminan bahwa kita tidak akan binasa.
3. Roh Kudus memampukan kita untuk bertekun — dan Ia sendiri yang berdoa untuk kita.
4. Allah memelihara kita — dan tidak seorang pun dapat merebut kita dari tangan-Nya.
5. Pengharapan ini bukanlah kesombongan — tetapi kerendahan hati yang mengakui kelemahan kita dan percaya pada kasih Allah yang lebih besar.
6. Yesus mengundang yang lemah untuk datang kepada-Nya — dan memberi mereka kelegaan.
7. Kasih karunia Allah cukup — bahkan dalam kelemahan kita.
Kehendak bebas memang nyata — dan kita memang dapat jatuh. Tetapi Allah yang memanggil kita adalah Allah yang setia — yang mengerti kelemahan kita, yang berdoa untuk kita, yang memelihara kita, dan yang tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Perjanjian-Nya mengerti kelemahan kita — dan Ia sendiri yang memampukan kita untuk setia. Karena itu, janganlah khawatir — tetapi percayalah. Janganlah takut — tetapi berharaplah. Sebab Allah yang memulai pekerjaan baik di dalam kita akan menyelesaikannya sampai pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6).
Pengharapan kita bukanlah pada kekuatan kita — tetapi pada kasih Allah.
Dan kasih Allah tidak pernah gagal.
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11)
---
Soli Deo Gloria.
- - -
Baca artikel terkait lainnya :
Komentar
Posting Komentar