Trinitas dan YHWH: Menolak Lupa Akar Yudaisme dalam Kekristenan; Makna Amanat Agung dalam Bahasa Ibrani, Bunyi Harafiahnya, dan Mengapa Bapa Gereja Memilih Rumusan Trinitaris
Trinitas dan YHWH: Menolak Lupa Akar Yudaisme dalam Kekristenan
Makna Amanat Agung dalam Bahasa Ibrani, Bunyi Harafiahnya, dan Mengapa Bapa Gereja Memilih Rumusan Trinitaris
---
Pendahuluan: Sebuah Perintah yang Berakar di Tanah Yahudi
Amanat Agung dalam Matius 28:18-20 sering dibaca dalam bahasa Yunani — dan memang demikian teks aslinya. Namun perintah itu diucapkan oleh seorang Yahudi kepada murid-murid Yahudi, dalam konteks Yudaisme abad pertama, dan dengan kategori-kategori Yahudi. Ketika kita hanya membaca teks Yunani tanpa menelusuri akar Yudaisme-nya, kita kehilangan dimensi makna yang sangat penting.
Artikel ini berargumen bahwa:
1. Amanat Agung — jika diucapkan atau dipahami dalam bahasa Ibrani — mengungkap makna yang lebih kaya dan lebih berakar pada Yudaisme.
2. Bunyi harafiahnya — jika diterjemahkan kembali ke bahasa Ibrani — menunjukkan keterhubungan yang jelas dengan YHWH dan Sepuluh Perintah Musa.
3. Bapa Gereja memilih rumusan Trinitaris — bukan hanya "nama Yesus" — karena rumusan Trinitaris lebih mudah ditelusuri ke akar Yudaisme-nya, sementara "nama Yesus" sendiri adalah sintesis yang lebih sulit ditelusuri ke akar Yudaisme.
Dengan kata lain: Trinitas bukanlah "penyimpangan" dari Yudaisme — ia adalah cara gereja mula-mula mempertahankan akar Yudaisme-nya di tengah dunia Yunani.
---
Bagian I: Amanat Agung dalam Bahasa Ibrani — Rekonstruksi Harafiah
1. Teks Yunani Matius 28:19
"Πορευθέντες οὖν μαθητεύσατε πάντα τὰ ἔθνη, βαπτίζοντες αὐτοὺς εἰς τὸ ὄνομα τοῦ Πατρὸς καὶ τοῦ Υἱοῦ καὶ τοῦ Ἁγίου Πνεύματος."
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
2. Rekonstruksi Ibrani — Kata per Kata
Jika Yesus mengucapkan perintah ini dalam bahasa Ibrani (atau Aram), bunyinya akan seperti ini:
Yunani Ibrani Makna
Poreuthentes (παρευθέντες) לְכוּ (lekhu) "Pergilah"
Mathēteusate (μαθητεύσατε) וְעָשׂוּ תַּלְמִידִים (ve'asu talmidim) "Jadikanlah murid"
Panta ta ethnē (πάντα τὰ ἔθνη) כָּל־הַגּוֹיִם (kol-hagoyim) "Segala bangsa"
Baptizontes (βαπτίζοντες) וְטָבְלוּ (vetavlu) "Baptislah"
Eis to onoma (εἰς τὸ ὄνομα) לְשֵׁם (leshem) "Dalam nama"
Tou Patros (τοῦ Πατρός) הָאָב (ha'Av) "Bapa"
Kai tou Huiou (καὶ τοῦ Υἱοῦ) וְהַבֵּן (vehaBen) "dan Anak"
Kai tou Hagiou Pneumatos (καὶ τοῦ Ἁγίου Πνεύματος) וְרוּחַ הַקֹּדֶשׁ (veRuach haQodesh) "dan Roh Kudus"
Bunyi harafiah dalam bahasa Ibrani:
"לְכוּ וְעָשׂוּ תַּלְמִידִים מִכָּל־הַגּוֹיִם, וְטָבְלוּ אוֹתָם לְשֵׁם הָאָב וְהַבֵּן וְרוּחַ הַקֹּדֶשׁ."
"Lekhu ve'asu talmidim mikol-hagoyim, vetavlu otam leshem ha'Av vehaBen veRuach haQodesh."
"Pergilah dan jadikanlah murid dari segala bangsa, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
3. Makna "Leshem" — "Dalam Nama"
Kata "leshem" (לְשֵׁם) — "dalam nama" — memiliki nuansa Yahudi yang kaya:
· "Shem" (שֵׁם) — "nama" — dalam PL sering merujuk pada karakter, otoritas, dan kehadiran Allah.
· "Leshem" — "dalam nama" — menunjukkan perpindahan kepemilikan — dari milik diri sendiri menjadi milik Allah.
· "Leshem YHWH" — "dalam nama TUHAN" — adalah frasa yang sering digunakan dalam PL untuk menunjukkan ibadah yang sah (Ulangan 18:5; 1 Raja-raja 8:29; Mazmur 118:26).
"Leshem ha'Av vehaBen veRuach haQodesh" — "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" — adalah pernyataan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu nama — satu Allah — yang layak disembah.
---
Bagian II: Amanat Agung dan Sepuluh Perintah Musa
1. Bunyi Harafiah Tanpa Memperdulikan Sepuluh Perintah Musa
Jika kita membaca Amanat Agung tanpa memperdulikan Sepuluh Perintah Musa — yaitu tanpa memperdulikan konteks perjanjian Sinai — bunyinya harafiahnya adalah:
"Pergilah dan jadikanlah murid dari segala bangsa, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Bunyi harafiah ini menimbulkan pertanyaan: Siapa "Bapa"? Siapa "Anak"? Siapa "Roh Kudus"? Tanpa konteks Yudaisme, istilah-istilah ini bisa disalahartikan — seolah-olah ada tiga allah yang berbeda.
2. Membaca dalam Konteks Sepuluh Perintah Musa
Sepuluh Perintah Musa dimulai dengan:
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Keluaran 20:2-3)
Perintah pertama ini adalah fondasi dari seluruh perjanjian Sinai — dan fondasi dari seluruh Alkitab. Allah adalah satu — dan tidak ada allah lain.
Amanat Agung — jika dibaca dalam konteks Sepuluh Perintah — tidak boleh dipahami sebagai penyembahan kepada tiga allah. Sebaliknya, Amanat Agung harus dipahami sebagai pernyataan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu Allah — YHWH — yang sama yang berbicara di Sinai.
3. "Dalam Nama" — Bukan "Dalam Nama-Nama"
Frasa Yunani "eis to onoma" — bentuk tunggal — menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu nama. Jika Matius ingin menyatakan tiga allah yang berbeda, ia akan menggunakan bentuk jamak — "eis ta onomata". Tetapi ia menggunakan bentuk tunggal — "eis to onoma" — yang menunjukkan kesatuan hakikat.
Dalam bahasa Ibrani, ini akan menjadi "leshem" — bentuk tunggal — yang menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu nama — satu Allah — YHWH.
---
Bagian III: YHWH dan Trinitas — Akar Yudaisme yang Tidak Boleh Dilupakan
1. YHWH — Nama Allah yang Kekal
"Aku adalah Aku. Lagi firman-Nya: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU ADALAH AKU telah mengutus aku kepadamu.'" (Keluaran 3:14)
"TUHAN, TUHAN, Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia dan kebenaran." (Keluaran 34:6)
YHWH (יהוה) — yang dalam PL dibaca sebagai "Adonai" — adalah nama Allah yang paling kudus dalam Yudaisme. Nama ini menunjukkan kehadiran, kekekalan, dan kasih setia Allah.
2. Trinitas — Tiga Pribadi dalam Satu YHWH
Trinitas bukanlah penyembahan kepada tiga allah — melainkan penyembahan kepada satu YHWH — yang dinyatakan dalam tiga Pribadi:
· Bapa — YHWH yang menciptakan dan memilih.
· Anak — YHWH yang menebus dan menjadi manusia.
· Roh Kudus — YHWH yang memampukan dan menguduskan.
Rumusan Trinitaris dalam Amanat Agung adalah pernyataan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu YHWH — bukan tiga allah yang berbeda.
3. Mengapa Bapa Gereja Memilih Rumusan Trinitaris?
Bapa Gereja memilih rumusan Trinitaris — bukan hanya "nama Yesus" — karena:
a) Rumusan Trinitaris lebih mudah ditelusuri ke akar Yudaisme
· "Bapa" (ha'Av) — adalah istilah Yahudi yang kaya makna — menunjuk pada Allah sebagai Bapa umat-Nya (Ulangan 32:6; Yesaya 63:16; Yeremia 3:4).
· "Anak" (haBen) — adalah istilah Yahudi yang kaya makna — menunjuk pada Mesias (Mazmur 2:7; 2 Samuel 7:14; Daniel 7:13-14).
· "Roh Kudus" (Ruach haQodesh) — adalah istilah Yahudi yang kaya makna — menunjuk pada kehadiran Allah yang memampukan (Kejadian 1:2; Yesaya 61:1; Yehezkiel 36:26-27).
Ketiga istilah ini berakar dalam PL — dan dapat ditelusuri ke akar Yudaisme-nya.
b) "Nama Yesus" adalah sintesis yang lebih sulit ditelusuri
· "Yesus" (Yeshua) — adalah nama Yahudi yang berarti "YHWH menyelamatkan".
· Namun "nama Yesus" sendiri adalah sintesis — gabungan antara nama Yahudi dan gelar Kristus (Mashiach).
· "Nama Yesus" tidak secara langsung menunjuk pada struktur Trinitas — ia menunjuk pada satu Pribadi — yaitu Anak.
· Untuk menjelaskan Trinitas dari "nama Yesus" saja, diperlukan penjelasan tambahan tentang Bapa dan Roh Kudus.
c) Rumusan Trinitaris mempertahankan akar Yudaisme di tengah dunia Yunani
· Gereja mula-mula hidup di dunia Yunani — di mana kategori filosofis Yunani mendominasi.
· Rumusan Trinitaris — dengan istilah-istilah Yahudi nya — mempertahankan akar Yudaisme di tengah tekanan Helenisasi.
· Bapa Gereja seperti Athanasius, Basilius, dan Agustinus berjuang mempertahankan rumusan Trinitaris — bukan hanya sebagai doktrin, tetapi sebagai identitas gereja yang berakar pada Yudaisme.
---
Bagian IV: Mengapa "Nama Yesus" Saja Tidak Cukup?
1. "Nama Yesus" dalam PB — Data
Data PB menunjukkan bahwa "nama Yesus" digunakan dalam baptisan (Kisah 2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Namun data ini tidak berarti bahwa "nama Yesus" saja cukup untuk menyatakan Trinitas.
2. "Nama Yesus" — Kristologi, Bukan Trinitas
"Nama Yesus" menunjuk pada Kristus — Pribadi kedua dalam Trinitas. Untuk menyatakan Trinitas secara lengkap, diperlukan penyebutan Bapa dan Roh Kudus — sebagaimana dilakukan dalam Matius 28:19.
"Nama Yesus" saja adalah kristologi — bukan trinitas. Kristologi adalah bagian dari Trinitas — tetapi bukan seluruhnya.
3. Rumusan Trinitaris — Lebih Lengkap dan Lebih Berakar
Rumusan Trinitaris lebih lengkap karena:
· Menyebut Bapa — sumber dan tujuan penyembahan.
· Menyebut Anak — Imam dan Persembahan.
· Menyebut Roh Kudus — Pemampau penyembahan.
Rumusan Trinitaris lebih berakar karena:
· Menggunakan istilah-istilah Yahudi yang dapat ditelusuri ke PL.
· Mempertahankan monoteisme Yahudi — satu Allah dalam tiga Pribadi.
· Menghubungkan baptisan dengan perjanjian Sinai — di mana Allah menyatakan diri-Nya sebagai YHWH.
---
Bagian V: Menolak Lupa Akar Yudaisme
1. Bahaya Melupakan Akar Yudaisme
Jika gereja melupakan akar Yudaisme-nya, ia kehilangan:
· Konteks perjanjian — baptisan adalah tanda perjanjian baru — bukan ritual tanpa makna.
· Konteks monoteisme — Trinitas adalah satu Allah — bukan tiga allah.
· Konteks penyembahan — penyembahan adalah respons terhadap YHWH — bukan ritual kosong.
2. Trinitas sebagai "Penjaga" Akar Yudaisme
Trinitas adalah cara gereja mempertahankan akar Yudaisme-nya:
· "Bapa" — menunjuk pada YHWH yang menciptakan dan memilih Israel.
· "Anak" — menunjuk pada Mesias yang dijanjikan kepada Israel.
· "Roh Kudus" — menunjuk pada kehadiran Allah yang memampukan Israel untuk beribadah.
Trinitas bukanlah "penyimpangan" dari Yudaisme — ia adalah cara gereja mempertahankan Yudaisme di tengah dunia Yunani.
3. Bapa Gereja dan Akar Yudaisme
Bapa Gereja seperti Athanasius, Basilius, dan Agustinus berjuang mempertahankan rumusan Trinitaris — bukan hanya sebagai doktrin, tetapi sebagai identitas gereja yang berakar pada Yudaisme.
Athanasius menegaskan:
"Jika Kristus bukan Allah, maka baptisan dalam nama-Nya tidaklah berbeda dari baptisan dalam nama manusia. Tetapi karena baptisan dalam nama Kristus adalah baptisan ilahi, maka Kristus adalah Allah."
Athanasius menghubungkan baptisan dengan keilahian Kristus — dan dengan demikian mempertahankan monoteisme Yahudi — satu Allah dalam tiga Pribadi.
---
Kesimpulan: Trinitas dan YHWH — Akar yang Tidak Boleh Dilupakan
Mari kita rangkum:
1. Amanat Agung — jika diucapkan dalam bahasa Ibrani — memiliki makna yang lebih kaya dan lebih berakar pada Yudaisme.
2. Bunyi harafiahnya dalam bahasa Ibrani — "leshem ha'Av vehaBen veRuach haQodesh" — menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu nama — satu Allah.
3. Tanpa konteks Sepuluh Perintah Musa, Amanat Agung bisa disalahartikan seolah-olah ada tiga allah. Dalam konteks Sepuluh Perintah, Amanat Agung adalah pernyataan monoteisme — satu YHWH dalam tiga Pribadi.
4. Bapa Gereja memilih rumusan Trinitaris — bukan hanya "nama Yesus" — karena rumusan Trinitaris lebih mudah ditelusuri ke akar Yudaisme-nya.
5. "Nama Yesus" adalah sintesis yang lebih sulit ditelusuri ke akar Yudaisme — karena ia menunjuk pada satu Pribadi — yaitu Anak.
6. Trinitas bukanlah "penyimpangan" dari Yudaisme — ia adalah cara gereja mempertahankan Yudaisme di tengah dunia Yunani.
Trinitas dan YHWH bukanlah dua hal yang bertentangan — Trinitas adalah cara gereja memahami YHWH dalam terang Kristus. Amanat Agung, jika diucapkan dalam bahasa Ibrani, mengungkap akar Yudaisme-nya: "leshem ha'Av vehaBen veRuach haQodesh" — dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus — satu Allah, tiga Pribadi. Dan Bapa Gereja memilih rumusan Trinitaris bukan karena ia "lebih Yunani" — tetapi justru karena ia "lebih Yahudi" — lebih mudah ditelusuri ke akar Yudaisme-nya. Menolak lupa akar Yudaisme berarti mempertahankan Trinitas — karena Trinitas adalah cara gereja mempertahankan YHWH di tengah dunia yang berubah.
YHWH adalah satu — dan Trinitas adalah cara gereja memahami-Nya.
Amanat Agung adalah perintah Yahudi — yang berakar pada Sepuluh Perintah Musa.
Dan Trinitas adalah penjaga akar Yudaisme — di tengah dunia Yunani.
---
Soli Deo Gloria.
- - -
Baca artikel terkait lainnya :
Komentar
Posting Komentar