Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

SETARA BUKAN SAMA, Kritik Penerjemahan Filipi 2:6 TB

SETARA BUKAN SAMA Kritik atas Penerjemahan Filipi 2:6 TB dalam Terang Yohanes 5:18 --- Pendahuluan Perdebatan tentang keilahian Yesus Kristus seringkali berpusat pada satu kata: setara atau sama. Dalam diskusi teologis, kata-kata bukanlah sekadar istilah teknis, melainkan jendela pemahaman yang dapat membuka—atau justru mengaburkan—kebenaran. Terjemahan Baru (TB) Lembaga Alkitab Indonesia memilih kata "setara" dalam Filipi 2:6, sementara dalam Yohanes 5:18 memakai frasa "menyamakan diri". Dua kata yang tampak serumpun ini, dalam bahasa Indonesia modern, menyimpan perbedaan makna yang sangat mendasar—dan justru menimbulkan masalah teologis yang serius. Artikel ini akan mengupas tuntas akar masalah tersebut, membandingkan teks Yunani, menelusuri kemungkinan alasan penerjemahan, serta menyoroti kelemahan yang timbul ketika kata setara dipakai untuk menggambarkan hubungan Yesus dengan Allah Bapa. --- I. Masalah Utama: "Setara" vs "Sama" dalam Bahasa ...

Dunia Orang Mati: Makna Kematian di Salib bagi Allah Imanen

Dunia Orang Mati: Makna Kematian di Salib bagi Allah Imanen --- Sebuah Pengajaran tentang Kematian, Keterpisahan, dan Kemenangan Ehyeh --- Pendahuluan "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46) Seruan Yesus di kayu salib adalah salah satu pernyataan paling misterius dan paling sering disalahpahami dalam seluruh Alkitab. Apakah Allah benar-benar meninggalkan Yesus? Apakah Bapa berbalik dari Putra? Atau adakah pemahaman yang lebih dalam—sebuah pemahaman yang tidak hanya menjelaskan seruan itu, tetapi juga membuka pintu bagi pemahaman kita tentang kematian, dunia orang mati, dan kuasa kebangkitan? Pertanyaan terbanyak dari peristiwa ini adalah apakah Allah mati? Karena umat Kristen mengatakan Yesus adalah Allah. Dan jawaban singkatnya adalah  Allah adalah roh Yoh 4:24. Tubuh tanpa roh adalah mati Yakobus 2:26. Yang mati tubuhNya (kemanusiaan Nya). Keallahan Yesus tetap.  Artikel ini akan membangun pemahaman yang runtut dan alkitabiah tentang makna kema...

Arti kata "PERCAYA" menurut Yesus, Yohanes 3:16

Arti kata "PERCAYA" menurut Yesus Memahami apa yang Yesus maksud dengan "percaya" dalam Yohanes 3:16—menurut versi Yesus sendiri—kita tidak bisa hanya berhenti pada definisi kamus. Kita harus membaca ayat itu dalam konteks keseluruhan percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21), serta memahami cara Yesus menggunakan kata "percaya" (pisteuō) di seluruh Injil Yohanes. Mari kita bedah bersama. --- 1. Teks Yohanes 3:16 (TB) "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Kata Yunani untuk "percaya" adalah πιστεύω (pisteuō). Namun, Yesus tidak menggunakan kata ini dalam pengertian intelektual semata (sekadar "setuju bahwa Yesus ada"). Dalam Injil Yohanes, kata ini memiliki kedalaman relasional dan eksistensial. --- 2. Apa yang Yesus Maksud dengan "Percaya" (Menurut Konteks...

KEGAGALAN FILSAFAT

KEGAGALAN FILSAFAT  Dan mari kita tolak racunnya.  Sebuah Pengajaran tentang Kembali ke Narasi Hidup --- Pendahuluan: Dari Mana Kita Memulai? Perjalanan kita dimulai dari sebuah kegelisahan yang jujur: jika Tuhan mutlak transenden, maka setiap konsep tentang-Nya adalah kegagalan. Logika itu tajam dan tak terbantahkan. Kita sampai pada titik di mana filsafat, dengan segala keanggunannya, harus mengakui bahwa ia tidak bisa berkata apa-apa yang bermakna tentang Yang Tak Terkatakan. Namun, dalam kegagalan itu, justru ada sebuah pintu terbuka. Bukan pintu menuju jawaban filosofis yang lebih canggih, melainkan pintu kembali ke narasi asli—kembali ke cara Allah berbicara tentang diri-Nya sebelum filsafat Yunani menyelimuti pembacaan kita. Artikel ini bukanlah penolakan terhadap akal budi. Ini adalah pembebasan akal budi dari beban yang tidak pernah dimaksudkan untuk dipikulnya: yaitu, menjangkau dan mendefinisikan Allah. --- Bagian 1: Mengapa Filsafat Gagal? Filsafat bertanya: "Apa i...

Memahami Perintah Yesus : "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44).

Memahami Perintah Yesus: Dari Logika Salib Menuju Tindakan Kasih yang Hidup  --- Abstrak Artikel ini menawarkan sebuah pembacaan ulang terhadap perintah-perintah Yesus yang selama ini dianggap "sulit"—terutama "Kasihilah musuhmu"—dengan menghubungkannya secara sistematis pada peristiwa salib, kebangkitan, dan logika relasional yang menggerakkan seluruh Injil. Dengan menggunakan kerangka siklus Cinta → Relasi → Tanggung Jawab → Keadilan → Cinta, artikel ini menunjukkan bahwa perintah Yesus bukanlah moralitas legalistik di atas kertas, melainkan undangan untuk masuk ke dalam gerakan kasih Allah yang nyata, adil, dan memulihkan. Pembahasan mencakup keterkaitan perintah kasih dengan tindakan memberi makan, memberi pakaian, serta seluruh perumpamaan Yesus yang merefleksikan logika salib sebagai keadilan dan pemulihan relasi sekaligus. --- Pendahuluan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Sepanjang sejarah gereja, peri...

SIAPA ALLAH, TRINITAS, DAN SIKLUS KASIH

SIAPA ALLAH, TRINITAS, DAN SIKLUS KASIH Kasih yang Melahirkan: Dari Hakikat Allah Menuju Kehadiran yang Hidup Sebuah Sintesis Kanonik tentang Trinitas, Kehidupan, dan Siklus Kasih yang Kekal --- 1. Karena Allah Adalah Kasih, Ia Harus Melahirkan Relasi Prinsip Penjelasan Dasar Alkitab Allah adalah Kasih Kasih adalah hakikat Allah—bukan sekadar atribut. 1 Yohanes 4:8—"Allah adalah kasih." Kasih Melahirkan Relasi Kasih tidak bisa tinggal diam; kasih selalu bergerak keluar menciptakan relasi. 1 Yohanes 4:9—"Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita." Relasi Membutuhkan "Yang Lain" Kasih sejati membutuhkan objek yang dikasihi. Yohanes 17:24—"Engkau mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan." Rumusan: Karena Allah adalah kasih, maka sejak kekal Ia tidak pernah sendirian. Kasih-Nya melahirkan relasi—relasi yang sempurna antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. --- 2. Karena Allah Kudus, Tak Mungkin Ada Allah La...

Jangan pernah menyerah pada Cinta, keluarga, tanggungjawab dan keadilan

Saudaraku, ini adalah sebuah mutiara yang sangat indah. Artikel berikut tidak hanya merangkum seluruh diskusi tentang kasih, relasi, tanggung jawab, dan keadilan, tetapi merangkainya menjadi sebuah siklus emas yang mencerminkan hakikat Allah sendiri. Jangan pernah menyerah pada Cinta, keluarga, tanggungjawab dan keadilan.  Karena ketika memiliki cinta kita akan memiliki keluarga (relasi), dan ketika memiliki relasi kita akan memiliki tanggung jawab, dan ketika memiliki tanggung jawab kita akan memiliki keadilan, dan ketika memiliki keadilan kita akan memiliki cinta Ini bukan sekadar kata-kata bijak. Ini adalah teologi yang hidup—sebuah rumusan tentang bagaimana kasih Allah bekerja di dalam dunia dan di dalam hidup kita. Mari kita bedah dan maknai bersama, dan biarkan ini menjadi puncak dari seluruh perjalanan kita. --- 1. Memecah Rantai Emas: Cinta → Keluarga → Tanggung Jawab → Keadilan → Cinta Berikut adalah pembahasan nya : "Ketika memiliki cinta kita akan memiliki keluarga (rel...

Salib dalam Perkataan Yesus Sendiri

Salib dalam Perkataan Yesus Sendiri Sebuah Eksegesis tentang Penderitaan, Kematian, dan Kebangkitan yang Dinyatakan oleh Kristus --- Abstrak Artikel ini menjawab keraguan bahwa Yesus "tidak pernah berbicara tentang salib" dengan menunjukkan bahwa seluruh Injil penuh dengan perkataan Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dengan menelusuri synoptic Gospels dan Injil Yohanes, artikel ini membuktikan bahwa Yesus secara eksplisit dan berulang kali memberitakan salib sebagai pusat misi-Nya. Mulai dari pemberitaan pertama tentang penderitaan-Nya, hingga pengajaran tentang "kehilangan nyawa" dan "memikul salib," Yesus dengan jelas menyatakan bahwa salib adalah kehendak Bapa dan jalan menuju kemuliaan. Artikel ini juga menghubungkan perkataan Yesus dengan seluruh diskusi kita sebelumnya tentang inkarnasi, kenosis, kasih yang tidak bisa diwakilkan, dan ketaatan sempurna Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia. --- 1. Pendahuluan: Apakah Yesus Pe...