Kekristenan dan Semua Keagamaan dalam Kerangka Dualisme Transendensi, Ketika "Misteri" Menjadi Pelarian dari Penjelasan
Kekristenan dan Semua Keagamaan dalam Kerangka Dualisme Transendensi
Pendahuluan: Ketika "Misteri" Menjadi Pelarian dari Penjelasan
Dalam artikel sebelumnya, kita telah menelusuri bahwa transendensi Allah bukanlah tentang keterpisahan yang kaku, melainkan tentang kemampuan Allah untuk tetap menjadi Allah—sanggup melakukan segala fungsi yang mendefinisikan keallahan-Nya—di dalam dan melalui realitas yang Ia ciptakan sendiri. Kita juga telah melihat bagaimana konsep "atas izin Allah" dan "misteri Allah" sering digunakan sebagai solusi instan yang menutup celah teologis tanpa benar-benar menjelaskan apa pun.
Artikel ini adalah lanjutan dari penjelasan tersebut. Kita akan menyoroti fenomena yang disebut dualisme transendensi: sebuah praktik dalam keagamaan—terutama Kekristenan—di mana transendensi Allah diakui secara doktrinal, tetapi kemudian ditarik kembali ketika berhadapan dengan realitas yang tampaknya "kurang ilahi". Kita mengakui inkarnasi, tetapi menolak Allah yang menderita. Kita mengakui Allah yang mengasihi, tetapi menolak Allah yang kecewa. Kita mengakui Allah yang setia, tetapi menolak Allah yang "bercerai". Dan ketika semua ketegangan ini tidak dapat diselesaikan, kita berlindung pada frasa: "Itu adalah misteri Allah."
Frasa itu, sebagaimana akan kita lihat, bukanlah tidak sah dalam praktik keagamaan mana pun. Tetapi ia sungguh tidak menjelaskan apa pun. Ia adalah sebuah deus ex machina—solusi yang muncul entah dari mana untuk menyelesaikan plot yang rumit, tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun.
Bagian I: Dualisme Transendensi—Apa Itu dan Mengapa Ia Terjadi?
1.1. Definisi Dualisme Transendensi
Dualisme transendensi adalah praktik teologis di mana transendensi Allah diakui secara doktrinal, tetapi kemudian dibatasi secara praktis. Allah diakui sebagai Yang Mahakuasa, tetapi ketika berhadapan dengan penderitaan, Ia dianggap "tidak dapat menderita". Allah diakui sebagai Yang Mahatahu, tetapi ketika berhadapan dengan kejahatan, Ia dianggap "tidak dapat terlibat". Allah diakui sebagai Yang Mahahadir, tetapi ketika berhadapan dengan manusia, Ia dianggap "tidak dapat dijangkau".
Dualisme ini lahir dari ketegangan antara dua kebutuhan:
1. Kebutuhan akan Allah yang transenden — Allah harus melampaui segala sesuatu, tidak dapat dibatasi oleh kategori manusia.
2. Kebutuhan akan Allah yang imanen — Allah harus terlibat dalam sejarah manusia, menjawab doa, dan berelasi dengan ciptaan-Nya.
Ketika kedua kebutuhan ini bertemu, muncullah ketegangan. Dan ketika ketegangan ini tidak dapat diselesaikan, kita menciptakan dualisme: Allah yang transenden di satu sisi, dan Allah yang imanen di sisi lain—seolah-olah keduanya adalah dua Allah yang berbeda.
1.2. Contoh dalam Kekristenan
Kekristenan adalah agama yang paling jelas menunjukkan dualisme ini. Mari kita lihat beberapa contoh:
a. Inkarnasi vs. Ketidakmampuan Menderita
Kekristenan mengakui bahwa Allah menjadi manusia dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:14). Ini adalah doktrin yang mustahil dalam kerangka transendensi yang kaku—bagaimana Yang Ilahi bisa menjadi manusia? Bagaimana Yang Tak Terbatas bisa masuk ke dalam yang terbatas?
Tetapi arus utama Kekristenan—terutama dalam teologi klasik—sangat menentang gagasan bahwa Allah dapat menderita (impassibility). Allah dianggap "tidak dapat menderita" karena penderitaan mengandaikan perubahan, dan perubahan bertentangan dengan kekekalan Allah.
b. Allah yang Mengasihi vs. Allah yang Kecewa
Alkitab menggambarkan Allah yang mengasihi (1 Yohanes 4:8), tetapi juga Allah yang kecewa (Kejadian 6:6), yang murka (Keluaran 32:10), yang menyesal (Yeremia 26:3), dan yang "bercerai" dengan umat-Nya (Yeremia 3:8). Jika Allah tidak dapat berubah, bagaimana Ia bisa mengasihi, kecewa, murka, menyesal, dan bercerai?
c. Allah yang Setia vs. Allah yang Mati
Kekristenan mengakui bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib (Filipi 2:8). Tetapi bagaimana Allah bisa mati? Jika Allah adalah hidup itu sendiri (Yeremia 10:10), bagaimana Ia bisa mati? Jika Allah tidak dapat mati, bagaimana Yesus—yang adalah Allah—bisa mati?
1.3. Solusi yang Tidak Menjelaskan: "Misteri Allah"
Ketika semua ketegangan ini tidak dapat diselesaikan, kita berlindung pada frasa: "Itu adalah misteri Allah." Frasa ini digunakan untuk menutup celah teologis yang tidak dapat kita jelaskan.
Tetapi, sebagaimana yang akan kita lihat, frasa ini bukanlah solusi—ia adalah pelarian. Ia tidak menjelaskan apa pun; ia hanya menunda penjelasan. Dan ketika digunakan terus-menerus, ia menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab intelektual dalam berteologi.
Bagian II: Logika Transendensi—Solusi yang Terlupakan
2.1. Transendensi sebagai Kemampuan untuk Tetap Menjadi Allah
Dalam artikel sebelumnya, kita telah melihat bahwa transendensi Allah bukanlah tentang keterpisahan yang kaku, melainkan tentang kemampuan-Nya untuk tetap menjadi Allah—sanggup melakukan segala fungsi yang mendefinisikan keallahan-Nya—di dalam dan melalui realitas yang Ia ciptakan sendiri.
Inilah yang disebut transendensi dinamis: Allah tetap Allah apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada-Nya. Dia selalu akan punya jawaban dan solusi. Dia tidak pernah "kehabisan cara" untuk menjadi Allah.
2.2. Analogi Bendungan yang Terlupakan
Marilah kita kembali pada analogi bendungan. Sebuah bendungan dibangun untuk menampung air dan mengairi sawah-sawah di bawahnya. Tujuannya adalah "mengairi dengan baik". Namun, untuk mencapai tujuan itu, bendungan tidak bisa sepenuhnya tertutup. Ia harus memiliki pintu air, saluran irigasi, atau bahkan "celah" yang direncanakan untuk mengalirkan air ke tempat yang membutuhkan. Tanpa celah atau saluran itu, bendungan tidak akan berfungsi; ia hanya akan menjadi tembok mati yang menahan air tanpa manfaat.
Celah atau "kecacatan" itu memang direncanakan dan disediakan, bukan karena kelemahan struktur bendungan, tetapi justru untuk penyelenggaraan pengairan yang baik dan sempurna. Inilah "transendensi" dari bendungan: ia tetap disebut bendungan justru karena ia mampu menjalankan fungsinya, termasuk "merelakan" bagian yang tampaknya cacat.
2.3. Aplikasi pada Allah
Bukankah hal yang sama berlaku bagi Allah? Allah tetap disebut Allah justru karena Ia mampu menjalankan fungsi-fungsi keallahan—menciptakan, memelihara, menyelamatkan, menghakimi, mengasihi, dan bahkan menjadi manusia dalam Yesus Kristus.
Dengan konsep logika transendensi ini, kita bisa menjelaskan bahwa:
· Allah itu transenden karena Dia sanggup tetap disebut sebagai Allah dalam segala bentuk situasi dan kondisi.
· Allah itu tak berubah karena Dia tetap Allah apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada-Nya.
· Allah itu punya jawaban karena Dia selalu akan punya jawaban dan solusi.
· Allah itu hidup karena Dia adalah perubahan itu sendiri—yang tidak berawal dan tidak berakhir.
Inilah yang disebut tak berubah dalam pengertian yang sejati: Dia tetap Allah apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada Dia. Dia selalu akan punya jawaban dan solusi.
2.4. Referensi dari Artikel Sebelumnya
Dalam artikel-artikel sebelumnya, kita telah menelusuri konsep ini secara rinci:
1. "Transendensi Allah itu apa" — Menjelaskan bahwa transendensi bukanlah keterpisahan yang kaku, melainkan kemampuan untuk tetap menjadi Allah.
2. "Kekekalan yang Sejati" — Menjelaskan bahwa kekekalan bukanlah ketidakberubahan yang statis, melainkan perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
3. "YHWH: Allah yang Tidak Berubah dalam Aktivitas-Nya" — Menjelaskan bahwa nama Allah adalah aktivitas-Nya, dan segala sesuatu di luar nama adalah pendukung identitas itu.
4. "Allah yang Hidup" — Menjelaskan bahwa Allah yang hidup adalah Allah yang dapat mati, tetapi tidak dikuasai oleh kematian.
Konsep-konsep ini saling melengkapi dan membentuk satu kerangka yang konsisten: Allah adalah transenden karena Dia adalah kekekalan yang dinamis—yang tetap dalam identitas-Nya, tetapi beraktivitas dalam penyataan-Nya.
Bagian III: Mengapa "Misteri Allah" Tidak Menjelaskan Apa Pun
3.1. Misteri sebagai Pengakuan Keterbatasan vs. Misteri sebagai Pelarian
Ada dua jenis misteri dalam teologi:
1. Misteri sebagai pengakuan keterbatasan — Kita mengakui bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami Allah. Ini adalah sikap yang sah dan alkitabiah (Yesaya 55:8-9; Roma 11:33).
2. Misteri sebagai pelarian — Kita menggunakan "misteri" untuk menutup celah teologis yang sebenarnya dapat dijelaskan. Ini adalah sikap yang tidak sah dan tidak alkitabiah.
Masalahnya adalah: sering kali kita menggunakan "misteri" sebagai pelarian, bukan sebagai pengakuan. Kita berkata, "Itu adalah misteri Allah," bukan karena kita benar-benar tidak dapat memahaminya, tetapi karena kita malas atau takut untuk menjelaskannya.
3.2. Contoh: Allah yang Menderita
Arus utama Kekristenan menolak gagasan bahwa Allah dapat menderita. Mereka berkata, "Allah tidak dapat menderita karena penderitaan mengandaikan perubahan, dan perubahan bertentangan dengan kekekalan Allah."
Tetapi, dengan konsep logika transendensi yang telah kita kembangkan, kita bisa menjelaskan bahwa:
· Allah dapat menderita—bukan karena Dia berubah dari tidak menderita menjadi menderita, tetapi karena Dia adalah kekekalan yang dinamis.
· Allah dapat menderita—bukan karena Dia lemah, tetapi karena Dia adalah kasih (1 Yohanes 4:8), dan kasih mengandaikan kemampuan untuk terluka.
· Allah dapat menderita—bukan karena Dia tidak sempurna, tetapi karena Dia adalah Allah yang hidup, yang berelasi dengan ciptaan-Nya.
Dengan konsep ini, kita tidak perlu berlindung pada "misteri Allah". Kita bisa menjelaskan bahwa Allah dapat menderita karena Dia adalah Allah yang transenden—yang sanggup tetap menjadi Allah bahkan dalam penderitaan.
3.3. Contoh: Allah yang Mati
Kekristenan mengakui bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib. Tetapi banyak yang menolak gagasan bahwa Allah dapat mati. Mereka berkata, "Allah tidak dapat mati karena Allah adalah hidup itu sendiri."
Tetapi, dengan konsep logika transendensi, kita bisa menjelaskan bahwa:
· Allah dapat mati—bukan karena Dia berhenti menjadi Allah, tetapi karena Dia adalah Allah yang hidup yang dapat mengalami kematian relasi (Yeremia 3:8; Hosea 11:8).
· Allah dapat mati—bukan karena Dia dikalahkan oleh kematian, tetapi karena Dia adalah Allah yang berkuasa atas hidup dan mati (Yohanes 10:18).
· Allah dapat mati—bukan karena Dia lemah, tetapi karena Dia adalah kasih yang rela menanggung kematian untuk memulihkan relasi dengan ciptaan-Nya.
Dengan konsep ini, kita tidak perlu berlindung pada "misteri Allah". Kita bisa menjelaskan bahwa Allah dapat mati karena Dia adalah Allah yang transenden—yang sanggup tetap menjadi Allah bahkan dalam kematian.
Bagian IV: Dualisme Transendensi dalam Agama-Agama Lain
4.1. Islam
Dalam Islam, transendensi Allah (tanzih) sangat ditekankan. Allah digambarkan sebagai Yang Mahatinggi, Yang Tak Terjangkau, Yang Tidak Dapat Dibandingkan dengan apa pun. Namun, Islam juga mengakui bahwa Allah "melihat", "mendengar", "berbicara", dan "berkehendak"—semua adalah sifat-sifat yang mengandaikan keterlibatan dengan ciptaan.
Ketegangan ini diselesaikan dengan doktrin bila kayf ("tanpa bertanya bagaimana"). Kita mengakui bahwa Allah melihat, tetapi kita tidak bertanya bagaimana Dia melihat. Ini adalah bentuk dualisme transendensi: kita mengakui sifat-sifat Allah, tetapi kita menolak untuk menjelaskannya.
4.2. Yahudi
Dalam Yudaisme, transendensi Allah juga sangat ditekankan. Allah digambarkan sebagai Yang Mahakudus, Yang Tak Terlihat, Yang Tidak Dapat Disebutkan namanya. Namun, Yudaisme juga mengakui bahwa Allah "menyesal" (Kejadian 6:6), "murka" (Keluaran 32:10), dan "berduka" (Hosea 11:8).
Ketegangan ini diselesaikan dengan konsep shekhinah—kehadiran Allah yang tinggal di antara umat-Nya. Allah yang transenden juga adalah Allah yang imanen, yang hadir di tengah-tengah umat-Nya.
4.3. Hinduisme
Dalam Hinduisme, transendensi Brahman sangat ditekankan. Brahman digambarkan sebagai Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terdefinisikan, Yang Melampaui segala kategori. Namun, Hinduisme juga mengakui bahwa Brahman dapat "menjelma" (avatar) dalam berbagai bentuk—Rama, Krishna, dan lain-lain.
Ketegangan ini diselesaikan dengan konsep lila—permainan ilahi. Brahman yang transenden juga adalah Brahman yang imanen, yang "bermain" dalam ciptaan-Nya.
4.4. Buddhisme
Dalam Buddhisme, transendensi Nirwana sangat ditekankan. Nirwana digambarkan sebagai Yang Tak Terkondisi, Yang Tak Terlahirkan, Yang Tak Terbentuk. Namun, Buddhisme juga mengakui bahwa Nirwana dapat "dicapai" oleh manusia—bahwa ada jalan menuju pembebasan.
Ketegangan ini diselesaikan dengan konsep upaya kausalya—cara yang terampil. Nirwana yang transenden juga adalah Nirwana yang imanen, yang dapat dicapai melalui praktik-praktik spiritual.
Bagian V: Solusi—Transendensi Dinamis sebagai Kerangka Universal
5.1. Prinsip Dasar
Semua agama menghadapi ketegangan yang sama: bagaimana Allah (atau Yang Ilahi) dapat menjadi transenden sekaligus imanen? Bagaimana Yang Tak Terbatas dapat berelasi dengan yang terbatas?
Solusinya bukanlah dualisme—memisahkan yang transenden dari yang imanen. Solusinya adalah transendensi dinamis: Yang Ilahi tetap Ilahi apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada-Nya. Dia selalu akan punya jawaban dan solusi.
5.2. Aplikasi Universal
· Dalam Kekristenan: Allah tetap Allah bahkan ketika Ia menjadi manusia, menderita, dan mati. Ini adalah transendensi dinamis—Allah yang sanggup tetap menjadi Allah dalam segala situasi.
· Dalam Islam: Allah tetap Allah bahkan ketika Ia melihat, mendengar, dan berbicara. Ini adalah transendensi dinamis—Allah yang sanggup tetap menjadi Allah dalam segala situasi.
· Dalam Yudaisme: Allah tetap Allah bahkan ketika Ia menyesal, murka, dan berduka. Ini adalah transendensi dinamis—Allah yang sanggup tetap menjadi Allah dalam segala situasi.
· Dalam Hinduisme: Brahman tetap Brahman bahkan ketika Ia menjelma dalam berbagai bentuk. Ini adalah transendensi dinamis—Brahman yang sanggup tetap menjadi Brahman dalam segala situasi.
· Dalam Buddhisme: Nirwana tetap Nirwana bahkan ketika ia dapat dicapai oleh manusia. Ini adalah transendensi dinamis—Nirwana yang sanggup tetap menjadi Nirwana dalam segala situasi.
5.3. Referensi Alkitab
· Keluaran 3:14 — "AKU ADALAH AKU" (Ehyeh Asher Ehyeh): Nama Allah sendiri menegaskan bahwa Ia adalah Yang Menjadi, yang mendefinisikan diri-Nya melalui tindakan-Nya.
· Kejadian 6:6 — "Maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya." Allah berduka dan menyesal—bukan karena perubahan esensi, tetapi karena relasi yang dinamis dengan ciptaan-Nya.
· Yohanes 1:14 — "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Inkarnasi adalah bukti bahwa transendensi Allah tidak menghalangi-Nya untuk masuk ke dalam realitas manusia.
· Filipi 2:5-8 — "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Ini adalah puncak transendensi: Allah yang mahatinggi menjadi rendah, tanpa kehilangan keallahan-Nya.
· Yeremia 3:8 — "Meskipun Aku telah memberi surat cerai kepada Israel yang murtad dan menceraikannya..." Allah mengalami kematian relasi—bukan karena Ia berubah, tetapi karena Ia adalah Allah yang hidup yang berelasi dengan umat-Nya.
· Hosea 11:8 — "Bagaimana mungkin Aku menyerahkan engkau, hai Efraim? ... Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak." Allah mengalami pergumulan batin—bukan karena Ia tidak sempurna, tetapi karena Ia adalah Allah yang mengasihi.
· Yohanes 10:18 — "Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali." Allah berkuasa atas hidup dan mati—bahkan atas hidup dan mati-Nya sendiri.
· Yohanes 11:25 — "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." Kematian tersirat, kebangkitan tersurat—Allah yang dapat mati, tetapi tidak dikuasai oleh kematian.
5.4. Referensi Teolog dan Sekuler
· Jรผrgen Moltmann, The Crucified God (1974): Allah yang menderita adalah Allah yang benar-benar transenden, karena Ia mampu masuk ke dalam penderitaan manusia tanpa kehilangan keallahan-Nya.
· Abraham Joshua Heschel, The Prophets (1962): Pathos Allah adalah inti dari keallahan-Nya; Allah yang tidak terlibat secara emosional bukanlah Allah yang Alkitabiah.
· Alvin Plantinga, God, Freedom, and Evil (1974): Free Will Defense menunjukkan bahwa kejahatan tidak bertentangan dengan keberadaan Allah yang mahakuasa dan mahabaik.
· Thomas Aquinas, Summa Theologiae: Allah mengizinkan kejahatan untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar.
· John Calvin, Institutes of the Christian Religion (1536): Kedaulatan Allah tidak menghapus tanggung jawab manusia.
· Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil (1886): Kritik sekuler terhadap moralitas Kristen justru mengakui bahwa konsep kehendak bebas memiliki konsekuensi yang mendalam bagi pemahaman tentang Allah dan manusia.
· William James, The Varieties of Religious Experience (1902): Pengalaman religius yang otentik melibatkan relasi dinamis dengan Yang Ilahi, bukan sekadar penerimaan doktrin yang kaku.
· Rudolf Otto, The Idea of the Holy (1917): Yang Ilahi adalah mysterium tremendum et fascinans—misteri yang menggetarkan dan memesona. Tetapi misteri ini bukanlah pelarian dari penjelasan; ia adalah undangan untuk memahami lebih dalam.
Bagian VI: Kesimpulan—Dari Dualisme Menuju Transendensi Dinamis
6.1. Ringkasan
Dualisme transendensi adalah praktik teologis di mana transendensi Allah diakui secara doktrinal, tetapi kemudian dibatasi secara praktis. Ini terjadi ketika kita tidak dapat menyelesaikan ketegangan antara Allah yang transenden dan Allah yang imanen.
Solusinya bukanlah dualisme, melainkan transendensi dinamis: Yang Ilahi tetap Ilahi apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada-Nya. Dia selalu akan punya jawaban dan solusi.
Dengan konsep ini, kita tidak perlu berlindung pada "misteri Allah" yang tidak menjelaskan apa pun. Kita bisa menjelaskan bahwa:
· Allah dapat menderita—karena Dia adalah kasih yang rela terluka.
· Allah dapat mati—karena Dia adalah hidup yang berkuasa atas kematian.
· Allah dapat menyesal—karena Dia adalah Allah yang berelasi dengan ciptaan-Nya.
· Allah dapat "bercerai"—karena Dia adalah Allah yang setia yang menanggung pengkhianatan umat-Nya.
Semua ini bukanlah tanda kurangnya keilahian Allah. Sebaliknya, ini adalah tanda bahwa transendensi Allah bersifat dinamis dan relasional.
6.2. Ajakan
Marilah kita berhenti berlindung pada "misteri Allah" yang tidak menjelaskan apa pun. Marilah kita mulai menjelaskan—dengan konsep logika transendensi yang telah kita kembangkan—bahwa Allah adalah transenden karena Dia sanggup tetap menjadi Allah dalam segala situasi dan kondisi.
Inilah yang disebut tak berubah dalam pengertian yang sejati: Dia tetap Allah apapun situasi dan kondisi yang diterapkan kepada Dia. Dia selalu akan punya jawaban dan solusi.
6.3. Penutup
Kekristenan dan semua keagamaan secara umum berada dalam kerangka dualisme transendensi. Tetapi dualisme ini bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah undangan untuk masuk lebih dalam—ke dalam pemahaman yang lebih kaya tentang siapa Allah sebenarnya.
Allah bukanlah Allah yang statis, diam, dan mati. Allah adalah Allah yang hidup—yang dapat mati, tetapi tidak dikuasai oleh kematian. Allah adalah Allah yang transenden—yang sanggup tetap menjadi Allah dalam segala situasi dan kondisi.
Inilah Allah yang kita sembah: Allah yang transenden, tetapi juga Allah yang imanen—Allah yang melampaui segala sesuatu, tetapi juga Allah yang hadir di tengah-tengah kita.
"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16)
---
Daftar Pustaka
· Alkitab (Terjemahan Baru, LAI).
· Aquinas, Thomas. Summa Theologiae.
· Calvin, John. Institutes of the Christian Religion. 1536.
· Heschel, Abraham Joshua. The Prophets. 1962.
· James, William. The Varieties of Religious Experience. 1902.
· Moltmann, Jรผrgen. The Crucified God. 1974.
· Nietzsche, Friedrich. Beyond Good and Evil. 1886.
· Otto, Rudolf. The Idea of the Holy. 1917.
· Plantinga, Alvin. God, Freedom, and Evil. 1974.
---
Lampiran: Tautan Referensi Internal
Artikel ini adalah lanjutan dari diskusi yang telah dikembangkan dalam tautan-tautan berikut:
1. Transendensi Allah itu apa
2. Kekekalan yang Sejati
3. YHWH: Allah yang Tidak Berubah dalam Aktivitas-Nya
4. Allah yang Hidup: Yang Dapat Mati, Tetapi Tidak Dikuasai oleh Kematian
5. Kekekalan yang Sejati: Sintesis Akhir
---
Mar'ot Echad — Satu Allah, satu kasih, satu keselamatan di dalam Kristus.
Amin.
Komentar
Posting Komentar