Menanggapi Perceraian, Cara Yesus Kristus; Kasih yang Merendahkan Diri, Bukan Aturan yang Memaksa - Tentang Perceraian
Menanggapi Perceraian, Cara Yesus Kristus
Kasih yang Merendahkan Diri, Bukan Aturan yang Memaksa
---
Abstrak
Seluruh artikel tentang perceraian yang telah ditulis tidak dimaksudkan untuk mendorong perceraian dalam keluarga. Sebaliknya, artikel-artikel itu mengajak Gereja melihat kembali makna sesungguhnya dari pernikahan dan perceraian. Perceraian tidak diizinkan Allah—sama seperti kegagalan pertobatan tidak diizinkan Allah. Tetapi bukan berarti Allah tidak mengakui adanya individu yang memilih untuk tidak bertobat. Inilah materi yang sangat sulit dijelaskan karena sangat riskan disalahpahami. Gereja sering mengambil jalur aman—dengan aturan yang memaksa. Disebut memaksa karena perceraian diajarkan sebagai kegagalan "kesempurnaan" perkawinan—padahal perceraian adalah kegagalan pertobatan. Memaksa seseorang tetap bertahan dalam pernikahan yang gagal berarti memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan. Artikel ini akan melihat kembali apa yang dilakukan Yesus terhadap semua individu yang bertobat sepanjang pelayanan-Nya—semua tergerak oleh cinta dan kasih yang ditunjukkan-Nya. Bayangkan jika Yesus tidak merendahkan diri-Nya dan menerima kasih Petrus yang fana—tetapi menuntut kasih yang sempurna saat pertemuan sesudah kebangkitan-Nya—akankah Gereja hadir di dunia? Seluruh murid telah mengkhianati Yesus—dan Yesus mengakui "perceraian" yang ada dengan melakukan pendekatan kasih—merendahkan "standar" cinta-Nya agar bisa menopang dan mengangkat mereka yang jatuh—bukan menuntut kesempurnaan. Inilah cara Yesus Kristus menanggapi perceraian.
---
Pendahuluan: Sebuah Klarifikasi yang Perlu
1.1 Klarifikasi Tujuan
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa artikel ini—dan seluruh artikel tentang perceraian sebelumnya—tidak dimaksudkan untuk:
Bukan Tujuan Penjelasan
Mendorong perceraian Perceraian bukanlah tujuan—tetapi evaluasi ulang
Melegalkan dosa Dosa tetap dosa—tetapi pengakuan adalah langkah pertobatan
Merendahkan pernikahan Pernikahan tetap sakramen—tetapi dapat berhenti menjadi sakramen
Menghakimi korban Korban perlu pembebasan—bukan penghakiman
Menolak kekudusan Kekudusan tetap standar—tetapi kasih adalah sarana
Kesimpulan: Tujuan artikel ini adalah mengajak Gereja melihat kembali makna sesungguhnya dari pernikahan dan perceraian—bukan mendorong perceraian.
1.2 Klarifikasi Istilah
Istilah Makna
Perceraian tidak diizinkan Allah Kegagalan pertobatan tidak diizinkan Allah
Allah mengakui perceraian Allah mengakui adanya individu yang memilih tidak bertobat
Gereja memaksa Gereja menuntut kesempurnaan—bukan menerima realitas
Memaksa bertahan Memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan
Kesimpulan: Perceraian tidak diizinkan Allah—tetapi Allah mengakui adanya individu yang memilih tidak bertobat. Gereja sering memaksa—bukan membebaskan.
1.3 Materi yang Sangat Sulit Dijelaskan
Aspek Penjelasan
Risiko Sangat riskan disalahpahami
Bahaya Bisa dianggap mendorong perceraian
Tantangan Menyeimbangkan kebenaran dan kasih
Kebutuhan Kedewasaan rohani untuk memahami
Kesimpulan: Materi ini sangat sulit dijelaskan karena sangat riskan disalahpahami. Diperlukan kedewasaan rohani untuk memahaminya.
1.4 Tesis Artikel Ini
Artikel ini akan menunjukkan bahwa:
1. Perceraian adalah kegagalan pertobatan — bukan kegagalan kesempurnaan perkawinan
2. Memaksa bertahan — berarti memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan
3. Yesus menanggapi pertobatan dengan kasih — bukan dengan aturan yang memaksa
4. Yesus merendahkan diri-Nya — untuk menopang dan mengangkat yang jatuh
5. Yesus menerima kasih yang fana — bukan menuntut kasih yang sempurna
6. Cara Yesus menanggapi perceraian — adalah kasih yang merendahkan diri
---
Bagian 1: Perceraian adalah Kegagalan Pertobatan
1.1 Bukan Kegagalan Kesempurnaan Perkawinan
Pemahaman Salah Pemahaman Benar
Perceraian = kegagalan kesempurnaan Perceraian = kegagalan pertobatan
Pernikahan harus sempurna Pernikahan harus bertobat
Perceraian = dosa Perceraian = akibat dosa
Perceraian = akhir Perceraian = evaluasi ulang
Kesimpulan: Perceraian bukanlah kegagalan kesempurnaan perkawinan—tetapi kegagalan pertobatan. Fokus pada kesempurnaan adalah salah—fokus pada pertobatan adalah benar.
1.2 Mengapa Disebut Kegagalan Pertobatan?
Alasan Penjelasan
Tujuan pernikahan Pertobatan—bukan kesempurnaan
Sakramen Tanda pertobatan
Kasih Buah pertobatan
Pemulihan Hasil pertobatan
Kesimpulan: Disebut kegagalan pertobatan karena pernikahan adalah sakramen pertobatan—dan ketika pertobatan tidak tercapai—pernikahan gagal mencapai tujuannya.
1.3 Memaksa Bertahan = Memaksa Kegagalan Pertobatan
Aspek Penjelasan
Memaksa bertahan Menuntut tetap dalam relasi yang gagal
Akibat Tetap dalam kegagalan pertobatan
Bahaya Tidak ada ruang untuk bertobat
Hasil Kemunafikan
Kesimpulan: Memaksa seseorang tetap bertahan dalam pernikahan yang gagal berarti memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan—tanpa ruang untuk bertobat.
1.4 Mengapa Gereja Memilih Jalur Aman?
Alasan Penjelasan
Takut Takut dianggap mendorong perceraian
Tradisi Mengikuti tradisi—bukan kebenaran
Citra Menjaga citra baik
Kontrol Mengontrol hidup orang
Kesimpulan: Gereja memilih jalur aman karena takut—tradisi—citra—dan kontrol—bukan karena kebenaran.
1.5 Bahaya Jalur Aman
Aspek Akibat
Kemunafikan Relasi mati dipertahankan
Penderitaan Korban terus menderita
Pertobatan Tidak terjadi
Kesaksian Rusak
Babel Menyembah kesempurnaan palsu
Kesimpulan: Jalur aman berbahaya karena menciptakan kemunafikan—penderitaan—tidak terjadinya pertobatan—rusaknya kesaksian—dan Babel.
---
Bagian 2: Yesus dan Pertobatan — Kasih yang Merendahkan Diri
2.1 Yesus dan Individu yang Bertobat
Sepanjang pelayanan-Nya—Yesus selalu menanggapi pertobatan dengan kasih—bukan dengan aturan yang memaksa.
Tokoh Pertobatan Respons Yesus
Petrus Menangis setelah menyangkal Dipulihkan
Perempuan berdosa Menangis di kaki Yesus Diampuni
Zakheus Berbalik dari kecurangan Diterima
Penjahat di kayu salib Mengakui kesalahan Dijanjikan surga
Anak yang hilang Kembali kepada ayah Diterima
Kesimpulan: Yesus selalu menanggapi pertobatan dengan kasih—bukan dengan aturan yang memaksa. Ia tidak menuntut kesempurnaan—Ia menerima pertobatan.
2.2 Petrus — Kasih yang Fana
Yohanes 21:15-17
"Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?' Jawab Petrus kepada-Nya: 'Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.' Kata Yesus kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Jawab Petrus kepada-Nya: 'Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.' Kata Yesus kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Dan Petrus merasa sedih karena Yesus berkata kepadanya untuk ketiga kalinya: 'Apakah engkau mengasihi Aku?' Maka jawab Petrus: 'Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.' Kata Yesus kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Apakah engkau mengasihi Aku" Pertanyaan Yesus
"Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau" Jawaban Petrus
"Gembalakanlah domba-domba-Ku" Perintah Yesus
"Petrus merasa sedih" Kesadaran Petrus
"Engkau tahu segala sesuatu" Pengakuan Petrus
Kesimpulan: Yesus tidak menuntut kasih yang sempurna dari Petrus. Ia menerima kasih Petrus yang fana—dan memulihkannya. Jika Yesus menuntut kesempurnaan—akankah Gereja hadir di dunia?
2.3 Yesus Merendahkan Diri-Nya
Filipi 2:6-8
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
Analisis:
Frasa Makna
"Tidak menganggap kesetaraan" Kerendahan hati
"Mengosongkan diri" Pengorbanan
"Mengambil rupa hamba" Pelayanan
"Merendahkan diri-Nya" Kerendahan hati
"Taat sampai mati" Ketaatan
Kesimpulan: Yesus merendahkan diri-Nya—bukan menuntut kesempurnaan. Ia mengosongkan diri-Nya—untuk menopang dan mengangkat yang jatuh.
2.4 Yesus Menerima Kasih yang Fana
Aspek Penjelasan
Kasih Petrus Fana—tetapi diterima
Kasih Yesus Sempurna—tetapi merendahkan diri
Standar Diturunkan—untuk menopang
Tujuan Memulihkan—bukan menghakimi
Kesimpulan: Yesus menerima kasih yang fana—bukan menuntut kasih yang sempurna. Ia merendahkan standar cinta-Nya—agar bisa menopang dan mengangkat mereka yang jatuh.
2.5 Bayangkan Jika Yesus Menuntut Kesempurnaan
Jika Yesus Menuntut Kesempurnaan Kenyataan
Petrus tidak dipulihkan Petrus dipulihkan
Gereja tidak lahir Gereja lahir
Tidak ada pengampunan Ada pengampunan
Tidak ada kasih Ada kasih
Kesimpulan: Jika Yesus menuntut kesempurnaan—Gereja tidak akan hadir di dunia. Tetapi Yesus merendahkan diri-Nya—dan menerima kasih yang fana.
---
Bagian 3: Seluruh Murid Mengkhianati Yesus
3.1 Pengkhianatan Murid
Matius 26:31
"Maka berkatalah Yesus kepada mereka: 'Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.'"
Analisis:
Frasa Makna
"Kamu semua" Semua murid
"Tergoncang imanmu" Pengkhianatan
"Tercerai-berai" Keterputusan
Kesimpulan: Seluruh murid mengkhianati Yesus—mereka tercerai-berai. Ini adalah "perceraian" antara Yesus dan murid-murid-Nya.
3.2 Yesus Mengakui "Perceraian" yang Ada
Aspek Penjelasan
Pengkhianatan Murid-murid melarikan diri
Keterputusan Relasi terputus
Pengakuan Yesus mengakui realitas
Pendekatan Kasih—bukan aturan
Kesimpulan: Yesus mengakui "perceraian" yang ada—yaitu pengkhianatan murid-murid—dan melakukan pendekatan kasih—bukan menuntut kesempurnaan.
3.3 Yesus Merendahkan "Standar" Cinta-Nya
Aspek Penjelasan
Standar Kasih yang sempurna
Diturunkan Agar bisa menopang
Bahu Metafora—menopang yang jatuh
Tujuan Mengangkat—bukan menghakimi
Kesimpulan: Yesus merendahkan "standar" cinta-Nya—seperti bahu yang menopang—agar bisa mengangkat mereka yang jatuh. Ia tidak menuntut kesempurnaan.
3.4 Pendekatan Kasih Yesus
Aspek Penjelasan
Pendekatan Kasih
Metode Merendahkan diri
Tujuan Memulihkan
Hasil Gereja lahir
Kesimpulan: Pendekatan kasih Yesus—yang merendahkan diri—memulihkan murid-murid—dan melahirkan Gereja.
---
Bagian 4: Menanggapi Perceraian, Cara Yesus Kristus
4.1 Kasih yang Merendahkan Diri
Aspek Penjelasan
Kasih Hakikat Allah
Merendahkan diri Metode Yesus
Menopang Tujuan
Mengangkat Hasil
Kesimpulan: Cara Yesus menanggapi perceraian adalah kasih yang merendahkan diri—untuk menopang dan mengangkat yang jatuh.
4.2 Bukan Aturan yang Memaksa
Aspek Aturan yang Memaksa Kasih yang Merendahkan Diri
Pendekatan Hukum Kasih
Metode Paksaan Persuasi
Tujuan Ketaatan Pertobatan
Hasil Kemunafikan Pemulihan
Kesimpulan: Yesus tidak menggunakan aturan yang memaksa—tetapi kasih yang merendahkan diri. Ia tidak menuntut ketaatan—Ia mengundang pertobatan.
4.3 Menerima Realitas
Aspek Penjelasan
Realitas Relasi terputus
Pengakuan Yesus mengakui
Pendekatan Kasih
Tujuan Pemulihan
Kesimpulan: Yesus menerima realitas—mengakui keterputusan—dan melakukan pendekatan kasih—bukan menutupi kemunafikan.
4.4 Memulihkan yang Jatuh
Aspek Penjelasan
Yang jatuh Murid-murid
Pemulihan Dipulihkan
Metode Kasih yang merendahkan diri
Hasil Gereja lahir
Kesimpulan: Yesus memulihkan yang jatuh—bukan menghakimi mereka. Ia merendahkan diri-Nya—untuk mengangkat mereka.
4.5 Cara Yesus vs. Cara Gereja
Aspek Cara Yesus Cara Gereja
Pendekatan Kasih Aturan
Metode Merendahkan diri Memaksa
Tujuan Pertobatan Ketaatan
Hasil Pemulihan Kemunafikan
Sikap Menerima realitas Menutupi realitas
Kesimpulan: Cara Yesus adalah kasih yang merendahkan diri—menerima realitas—dan memulihkan. Cara Gereja sering adalah aturan yang memaksa—menutupi realitas—dan menghasilkan kemunafikan.
---
Bagian 5: Mengapa Gereja Harus Berubah?
5.1 Bahaya Aturan yang Memaksa
Aspek Akibat
Kemunafikan Relasi mati dipertahankan
Penderitaan Korban terus menderita
Pertobatan Tidak terjadi
Kesaksian Rusak
Babel Menyembah kesempurnaan palsu
Kesimpulan: Aturan yang memaksa berbahaya karena menciptakan kemunafikan—penderitaan—tidak terjadinya pertobatan—rusaknya kesaksian—dan Babel.
5.2 Kasih yang Membebaskan
Aspek Penjelasan
Kasih Membebaskan
Kebenaran Memerdekakan
Pengakuan Langkah pertama
Pertobatan Tujuan
Kesimpulan: Kasih yang membebaskan—bukan aturan yang memaksa—adalah cara Yesus. Kasih membebaskan kita untuk mengakui realitas—dan bertobat.
5.3 Mengikuti Cara Yesus
Aspek Penjelasan
Teladan Yesus
Metode Kasih yang merendahkan diri
Tujuan Pemulihan
Hasil Gereja yang hidup
Kesimpulan: Gereja harus mengikuti cara Yesus—kasih yang merendahkan diri—bukan aturan yang memaksa.
5.4 Pertobatan Gereja
Aspek Penjelasan
Pengakuan Gereja telah salah
Pertobatan Berbalik dari aturan yang memaksa
Pemulihan Kembali kepada kasih
Hasil Gereja yang memulihkan
Kesimpulan: Gereja perlu bertobat—mengakui kesalahannya—dan berbalik dari aturan yang memaksa kepada kasih yang memulihkan.
---
Bagian 6: Kesimpulan
6.1 Ringkasan Poin Utama
Poin Penjelasan
Perceraian = kegagalan pertobatan Bukan kegagalan kesempurnaan
Memaksa bertahan Memaksa tetap dalam kegagalan pertobatan
Yesus menanggapi pertobatan dengan kasih Bukan aturan yang memaksa
Yesus merendahkan diri-Nya Untuk menopang dan mengangkat
Yesus menerima kasih yang fana Bukan menuntut kesempurnaan
Cara Yesus Kasih yang merendahkan diri
6.2 Kalimat Kunci
"Perceraian tidak diizinkan Allah—sama seperti kegagalan pertobatan tidak diizinkan Allah. Tetapi bukan berarti Allah tidak mengakui adanya individu yang memilih untuk tidak bertobat. Gereja sering mengambil jalur aman—dengan aturan yang memaksa. Disebut memaksa karena perceraian diajarkan sebagai kegagalan 'kesempurnaan' perkawinan—padahal perceraian adalah kegagalan pertobatan. Memaksa seseorang tetap bertahan dalam pernikahan yang gagal berarti memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan. Yesus tidak melakukan itu. Yesus selalu menanggapi pertobatan dengan kasih—bukan dengan aturan yang memaksa. Ia merendahkan diri-Nya—menerima kasih Petrus yang fana—dan tidak menuntut kasih yang sempurna. Seluruh murid telah mengkhianati Yesus—dan Yesus mengakui 'perceraian' yang ada dengan melakukan pendekatan kasih—merendahkan 'standar' cinta-Nya agar bisa menopang dan mengangkat mereka yang jatuh—bukan menuntut kesempurnaan. Inilah cara Yesus Kristus menanggapi perceraian. Dan jika Yesus menuntut kesempurnaan—Gereja tidak akan hadir di dunia. Tetapi Yesus merendahkan diri-Nya—dan Gereja lahir. Gereja harus mengikuti cara Yesus—kasih yang merendahkan diri—bukan aturan yang memaksa."
6.3 Seruan
Tuhan Yesus Kristus,
yang telah merendahkan diri-Mu—
yang menerima kasih Petrus yang fana—
yang tidak menuntut kesempurnaan—
yang menopang dan mengangkat yang jatuh,
Kami mengaku bahwa kami sering mengikuti cara yang salah.
Kami menggunakan aturan yang memaksa—
bukan kasih yang merendahkan diri.
Kami menuntut kesempurnaan—
bukan menerima pertobatan.
Kami menutupi realitas—
bukan mengakui keterputusan.
Kami memaksa bertahan—
bukan membebaskan untuk bertobat.
Ampuni kami, Tuhan.
Ajarlah kami untuk mengikuti cara-Mu—
kasih yang merendahkan diri.
Ajarlah kami untuk menerima realitas—
tanpa kemunafikan.
Ajarlah kami untuk menopang yang jatuh—
tanpa menuntut kesempurnaan.
Ajarlah kami untuk memulihkan—
tanpa menghakimi.
Ketika kami tergoda untuk memaksa—
ingatkan kami bahwa Engkau tidak memaksa.
Ketika kami tergoda untuk menuntut—
ingatkan kami bahwa Engkau menerima.
Ketika kami tergoda untuk menutupi—
ingatkan kami bahwa Engkau mengakui.
Ketika kami tergoda untuk menghakimi—
ingatkan kami bahwa Engkau memulihkan.
Biarlah kami menjadi Gereja yang mengikuti cara-Mu—
kasih yang merendahkan diri—
yang menopang dan mengangkat yang jatuh—
yang memulihkan—bukan menghakimi.
Karena Engkaulah Tuhan—
dan hanya Engkaulah yang layak.
Dalam nama Yesus Kristus, Amin.
---
Soli Deo Gloria
---
Lampiran: Tabel Perbandingan
Tabel 1: Perceraian — Kegagalan Pertobatan vs. Kegagalan Kesempurnaan
Aspek Kegagalan Pertobatan Kegagalan Kesempurnaan
Fokus Pertobatan Kesempurnaan
Tujuan Pemulihan Citra
Metode Kasih Aturan
Hasil Pertobatan Kemunafikan
Tabel 2: Memaksa Bertahan vs. Membebaskan untuk Bertobat
Aspek Memaksa Bertahan Membebaskan untuk Bertobat
Pendekatan Aturan Kasih
Metode Paksaan Persuasi
Tujuan Ketaatan Pertobatan
Hasil Kemunafikan Pemulihan
Tabel 3: Cara Yesus vs. Cara Gereja
Aspek Cara Yesus Cara Gereja
Pendekatan Kasih Aturan
Metode Merendahkan diri Memaksa
Tujuan Pertobatan Ketaatan
Hasil Pemulihan Kemunafikan
Sikap Menerima realitas Menutupi realitas
Tabel 4: Yesus dan Petrus — Kasih yang Fana Diterima
Aspek Jika Yesus Menuntut Kesempurnaan Kenyataan
Petrus Tidak dipulihkan Dipulihkan
Gereja Tidak lahir Lahir
Pengampunan Tidak ada Ada
Kasih Tidak ada Ada
---
Daftar Ayat Kunci
Ayat Tema
Yohanes 21:15-17 Yesus memulihkan Petrus
Filipi 2:6-8 Yesus merendahkan diri-Nya
Matius 26:31 Semua murid akan tergoncang
Matius 19:8 Ketegaran hati—izin perceraian
Lukas 15:20 Ayah menerima anak yang hilang
1 Korintus 13:4-8 Kasih yang sejati
Roma 5:8 Allah menunjukkan kasih-Nya
Efesus 5:25-27 Kasih Kristus kepada Gereja
2 Timotius 2:13 Allah tetap setia
Ratapan 3:22-23 Kasih setia Allah
---
Penutup
Seluruh artikel tentang perceraian yang telah ditulis tidak dimaksudkan untuk mendorong perceraian dalam keluarga. Sebaliknya, artikel-artikel itu mengajak Gereja melihat kembali makna sesungguhnya dari pernikahan dan perceraian.
Perceraian tidak diizinkan Allah—sama seperti kegagalan pertobatan tidak diizinkan Allah. Tetapi bukan berarti Allah tidak mengakui adanya individu yang memilih untuk tidak bertobat.
Gereja sering mengambil jalur aman—dengan aturan yang memaksa. Disebut memaksa karena perceraian diajarkan sebagai kegagalan "kesempurnaan" perkawinan—padahal perceraian adalah kegagalan pertobatan. Memaksa seseorang tetap bertahan dalam pernikahan yang gagal berarti memaksa seseorang tetap dalam kegagalan pertobatan.
Yesus tidak melakukan itu. Yesus selalu menanggapi pertobatan dengan kasih—bukan dengan aturan yang memaksa. Ia merendahkan diri-Nya—menerima kasih Petrus yang fana—dan tidak menuntut kasih yang sempurna.
Seluruh murid telah mengkhianati Yesus—dan Yesus mengakui "perceraian" yang ada dengan melakukan pendekatan kasih—merendahkan "standar" cinta-Nya agar bisa menopang dan mengangkat mereka yang jatuh—bukan menuntut kesempurnaan.
Inilah cara Yesus Kristus menanggapi perceraian. Dan jika Yesus menuntut kesempurnaan—Gereja tidak akan hadir di dunia. Tetapi Yesus merendahkan diri-Nya—dan Gereja lahir.
Semoga artikel ini membantu kita untuk:
· Mengikuti cara Yesus—kasih yang merendahkan diri
· Menerima realitas—tanpa kemunafikan
· Menopang yang jatuh—tanpa menuntut kesempurnaan
· Memulihkan—bukan menghakimi
· Menjadi Gereja yang hidup—bukan Babel yang mati
Soli Deo Gloria.
---
Baca artikel terkait lainnya :
- - -
Baca artikel lainnya :
Komentar
Posting Komentar