Menyikapi Kecenderungan Menghakimi dalam Dialog sebagai Seorang Kristen - Memahami Islam
Menyikapi Kecenderungan Menghakimi dalam Dialog sebagai Seorang Kristen
Sebuah Artikel Apologetika, Pengajaran, dan Penjelasan
---
Pendahuluan: Mengapa Kita Cenderung Menghakimi?
Dalam dialog dengan Islam—atau dengan siapa pun yang berbeda iman—ada dorongan alami untuk menghakimi: menilai, menghukum, dan menempatkan diri di atas lawan bicara. Dorongan ini bukan hanya masalah metodologi, tetapi masalah hati. Ia berakar pada kombinasi antara teologi yang keliru tentang diri sendiri, psikologi pertahanan diri, dan budaya berdebat yang kompetitif.
Artikel ini bertujuan:
1. Memahami akar kecenderungan menghakimi—baik dalam diri kita maupun dalam dinamika dialog.
2. Menyajikan dasar Alkitabiah tentang sikap Kristen yang benar.
3. Menawarkan kerangka teologis dari tradisi Kristen.
4. Melengkapi dengan wawasan sekuler (psikologi, sosiologi, komunikasi) yang jujur dan relevan.
5. Memberikan langkah praktis untuk menyikapi kecenderungan ini sebagai murid Kristus.
---
Bagian 1: Memahami Akar Kecenderungan Menghakimi
1.1. Akar Teologis: Salah Memahami Kekudusan dan Kebenaran
Banyak orang Kristen menghakimi karena mengira bahwa:
· Kekudusan berarti menjauh dari yang najis — sehingga dialog dianggap kompromi.
· Kebenaran harus ditegakkan dengan tegas — sehingga kelembutan dianggap kelemahan.
· Menghakimi adalah pembelaan iman — padahal itu pembelaan diri sendiri.
Masalahnya: kekudusan tanpa kasih menjadi kesombongan rohani; kebenaran tanpa kasih menjadi kekerasan verbal; pembelaan iman tanpa kerendahan hati menjadi pertengkaran (2 Timotius 2:24-25).
1.2. Akar Psikologis: Pertahanan Diri dan Kognitif Bias
Psikologi modern menjelaskan mengapa kita cenderung menghakimi:
Konsep Psikologis Penjelasan Relevansi dalam Dialog
Confirmation bias (bias konfirmasi) Kita mencari informasi yang mendukung pandangan kita dan mengabaikan yang bertentangan Kita hanya melihat kesalahan lawan, bukan kebenarannya
Cognitive dissonance (disonansi kognitif) Ketika keyakinan kita terancam, kita menyerang sumber ancaman Kita menghakimi agar merasa aman
In-group/out-group bias Kita menganggap kelompok kita lebih benar dan kelompok lain lebih salah Kita menghakimi "mereka" untuk membenarkan "kita"
Fundamental attribution error Kita menjelaskan kesalahan orang lain sebagai karakter buruk, tetapi kesalahan kita sebagai situasi Kita menghakimi motif lawan, tetapi membela motif sendiri
Self-serving bias Kita menganggap diri kita lebih adil dan benar daripada orang lain Kita merasa berhak menghakimi
1.3. Akar Sosiologis: Budaya Debat dan Polarisasi
Dalam budaya yang terpolarisasi—termasuk media sosial—dialog sering berubah menjadi pertarungan identitas. Menghakimi menjadi cara untuk:
· Menunjukkan loyalitas kepada kelompok sendiri.
· Mendapatkan pengakuan dari sesama.
· Menghindari keraguan dengan menyerang pihak lain.
Sosiolog Peter Berger menyebut ini sebagai "plausibility structure"—struktur keyakinan yang dijaga dengan menolak alternatif. Menghakimi adalah salah satu mekanisme pertahanan struktur ini.
1.4. Akar Budaya dalam Dunia Islam
Untuk berdialog dengan jujur, kita juga perlu memahami akar kecenderungan menghakimi dalam Islam—bukan untuk menyerang, tetapi untuk mengerti:
Akar Penjelasan
Doktrin al-wala' wal-bara' Loyalitas kepada Allah dan permusuhan terhadap yang menolak Allah—dapat ditafsirkan sebagai kewajiban menghakimi
Konsep amar ma'ruf nahi munkar "Menyuruh yang baik dan mencegah yang munkar"—dapat menjadi dasar menegur, kadang dengan keras
Sejarah polemik Tradisi polemik teologis dalam sejarah Islam-Kristen—saling menghakimi sebagai "kafir"
Tekanan sosial Dalam masyarakat Muslim, menegur "penyimpangan" sering dianggap kewajiban sosial
Teologi kedaulatan Allah adalah hakim mutlak—manusia kadang merasa menjadi "wakil" penghakiman-Nya
Catatan penting: Ini bukan stereotype. Ini adalah faktor yang perlu dipahami agar dialog tidak naif. Tidak semua Muslim menghakimi; banyak yang ramah dan terbuka. Tetapi memahami akar ini membantu kita tidak bereaksi berlebihan dan tidak membalas dengan penghakiman yang sama.
---
Bagian 2: Dasar Alkitabiah—Mengapa Kristen Tidak Boleh Menghakimi?
2.1. Larangan Yesus yang Tegas
"Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi."
— Matius 7:1-2
"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"
— Matius 7:3
Yesus tidak melarang penilaian moral secara umum—Ia melarang penghakiman yang hipokrit dan sombong. Kata Yunani κρίνω (krinō) berarti "menghakimi dengan otoritas final"—hak yang hanya milik Allah.
2.2. Allah sebagai Hakim Tunggal
"Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu?"
— Yakobus 4:12
"Sebab itu janganlah kamu menghakimi sebelum waktunya, sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi apa yang tersembunyi dalam kegelapan."
— 1 Korintus 4:5
Penghakiman adalah prerogatif Allah. Ketika kita menghakimi, kita merampas takhta Allah—dan itu adalah dosa kesombongan yang serius.
2.3. Teladan Yesus: Lembut terhadap Pencari, Tegas terhadap Penghakimi
Situasi Sikap Yesus
Perempuan Samaria (Yohanes 4) Yesus berdialog, tidak menghakimi, tetapi menyingkapkan kebenaran dengan kasih
Perempuan berzina (Yohanes 8:1-11) "Aku tidak menghakimimu; pergilah dan jangan berbuat dosa lagi"
Zakheus (Lukas 19) Yesus makan bersamanya—dianggap kompromi oleh orang Farisi
Orang Farisi (Matius 23) Yesus menegur keras—tetapi mereka adalah penghakimi, bukan pencari
Pilatus (Yohanes 18-19) Yesus tidak membela diri, tidak menghakimi balik
Pola: Yesus lembut terhadap yang mencari, tegas terhadap yang menghakimi. Kita sering membaliknya: tegas terhadap pencari, lembut terhadap diri sendiri.
2.4. Kasih sebagai Hukum Tertinggi
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."
— 1 Korintus 13:4-5
"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."
— 1 Yohanes 4:8
Menghakimi adalah kebalikan dari kasih. Kasih menutupi kesalahan (1 Petrus 4:8); penghakiman membongkarnya.
2.5. Sikap yang Benar: Lemah Lembut dan Hormat
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat."
— 1 Petrus 3:15
Kata πραΰτης (prautēs) — "lemah lembut" — bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang terkendali. Kata φόβος (phobos) — "hormat" — berarti kesadaran akan Allah yang hadir dalam dialog.
2.6. Hamba Tuhan Tidak Boleh Bertengkar
"Dan hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang, cakap mengajar, sabar, dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka kepada kebenaran."
— 2 Timotius 2:24-25
Perhatikan: pertobatan adalah pekerjaan Tuhan, bukan hasil penghakiman kita. Tugas kita adalah menuntun dengan lemah lembut, bukan menghakimi dengan keras.
---
Bagian 3: Wawasan Teolog Kristen
3.1. Agustinus: Kasih sebagai Bentuk Kebenaran
"Sekali lagi, janganlah engkau menyerang kesalahan orang lain dengan cara yang membuat engkau sendiri bersalah. ... Kasihilah manusia, tetapi bencilah kesalahannya."
— Agustinus, In Epistolam Joannis
Agustinus membedakan antara membenci dosa dan membenci orang. Penghakiman yang benar adalah tindakan kasih—bukan penghinaan. Ia juga menulis:
"Di dalam hal yang esensial, kesatuan; di dalam hal yang tidak esensial, kebebasan; di dalam segala hal, kasih."
3.2. Thomas Aquinas: Penghakiman yang Benar Hanya Milik Allah
Aquinas mengajarkan bahwa penghakiman (judicium) dalam arti final hanya milik Allah, karena hanya Allah yang mengetahui hati. Manusia dapat menilai tindakan (dengan hati-hati), tetapi tidak dapat menilai hati atau takdir kekal seseorang.
3.3. Martin Luther: Simul Iustus et Peccator
Luther menegaskan bahwa orang Kristen adalah "benar dan berdosa pada saat yang sama" (simul iustus et peccator). Ini berarti:
· Kita tidak lebih benar dari lawan bicara kita—kita juga diselamatkan oleh kasih karunia.
· Kesadaran akan dosa sendiri melarang penghakiman atas orang lain.
· Dialog bukan antara "orang benar" dan "orang salah," tetapi antara dua orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia.
3.4. Karl Barth: Allah yang Berbicara, Bukan Kita yang Menghakimi
Barth menekankan bahwa firman Allah adalah yang berbicara—bukan kita. Tugas kita adalah menunjuk kepada Kristus, bukan menggantikan Kristus sebagai hakim. Ia menulis:
"Teologi adalah tugas manusia yang berusaha memahami firman Allah—bukan tugas menghakimi manusia lain."
3.5. Dietrich Bonhoeffer: Kasih yang Nyata, Bukan Penghakiman yang Abstrak
Bonhoeffer, dalam Life Together, menulis:
"Siapa yang ingin hidup bersama orang lain harus siap untuk tidak menghakimi, tetapi melayani."
Ia juga mengkritik "kasih karunia yang murah" (cheap grace)—tetapi juga mengkritik "penghakiman yang murah"—menghakimi orang lain tanpa kasih adalah bentuk kesombongan rohani.
3.6. C.S. Lewis: Kita Bukan Hakim, Kita adalah Sesama Terdakwa
"Kita semua adalah sesama terdakwa di ruang sidang Allah. Kita tidak duduk di kursi hakim."
— C.S. Lewis, Mere Christianity (parafrase)
Lewis juga menulis tentang "The Weight of Glory"—bahwa setiap orang yang kita temui adalah makhluk yang akan menjadi mulia atau hina selama-lamanya. Menghakimi mereka adalah meremehkan misteri yang Allah kerjakan.
3.7. Billy Graham: Teladan Dialog yang Tidak Menghakimi
Billy Graham dikenal karena sikapnya yang tidak menghakimi—ia berbicara tentang dosa, tetapi tidak pernah menghakimi individu. Ia berkata:
"Adalah tugas Roh Kudus untuk meyakinkan orang akan dosa. Tugas saya adalah mengasihi mereka dan menyampaikan kabar baik."
---
Bagian 4: Wawasan Sekuler yang Jujur
4.1. Psikologi Komunikasi: Dialog vs. Debat
Para ahli komunikasi membedakan:
Debat Dialog
Tujuan: menang Tujuan: mengerti
Mendengar untuk menyerang Mendengar untuk memahami
Menghakimi posisi lain Menjelajahi posisi lain
Fokus pada perbedaan Fokus pada hubungan
Penghakiman adalah kebiasaan debat, bukan kebiasaan dialog. Dalam dialog, kita tidak perlu menghakimi untuk menyampaikan kebenaran.
4.2. Psikologi Perubahan Keyakinan: Mengapa Penghakiman Gagal
Penelitian menunjukkan bahwa penghakiman tidak mengubah pikiran—ia mengeraskan posisi:
· Reactance theory (Brehm): Ketika orang merasa dihakimi, mereka melawan dan mempertahankan keyakinan mereka lebih kuat.
· Motivated reasoning (Kunda): Orang memproses informasi untuk mendukung keyakinan mereka—penghakiman memperkuat motivasi ini.
· Backfire effect (Nyhan & Reifler): Koreksi yang keras kadang memperkuat keyakinan yang salah.
Kesimpulan: Jika tujuan kita adalah menyampaikan kebenaran, penghakiman gagal secara strategis—bukan hanya secara moral.
4.3. Sosiologi Agama: Dialog yang Menghormati
Peter Berger dan Thomas Luckmann menunjukkan bahwa keyakinan dijaga oleh struktur sosial. Dialog yang menghakimi mengancam struktur ini—dan reaksi alaminya adalah pertahanan. Dialog yang menghormati membuka ruang untuk refleksi.
Diana Eck (Harvard) dalam A New Religious America menekankan "pluralism" bukan sebagai relativisme, tetapi sebagai "engagement with difference"—keterlibatan aktif dengan yang berbeda, tanpa menghakimi.
4.4. Filsafat Dialog: Martin Buber dan Emmanuel Levinas
Martin Buber membedakan "Ich-Du" (Aku-Engkau) dan "Ich-Es" (Aku-Itu):
· Ich-Es: Kita memperlakukan orang lain sebagai objek—termasuk objek penghakiman.
· Ich-Du: Kita memperlakukan orang lain sebagai subjek—sesama manusia yang layak dihormati.
Emmanuel Levinas menegaskan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis—"Jangan membunuh." Menghakimi adalah bentuk kekerasan terhadap wajah itu.
4.5. Riset tentang Dialog Antaragama
Leonard Swidler (templat dialog antaragama) mengusulkan "Dialogue Decalogue"—10 prinsip dialog, termasuk:
1. Tujuan dialog adalah belajar, bukan mengubah.
2. Dialog dimulai dengan asumsi bahwa lawan bicara jujur.
3. Dialog menuntut kerendahan hati tentang keyakinan sendiri.
4. Dialog menuntut tidak menghakimi motif lawan.
Catherine Cornille (dialog antaragama) menekankan "hospitality"—keramahan epistemik: menerima lawan bicara sebagai tamu yang layak dihormati, bukan musuh yang harus dikalahkan.
---
Bagian 5: Menyikapi Kecenderungan Menghakimi—Langkah Praktis
5.1. Sebelum Dialog: Periksa Hati
Pertanyaan Tujuan
Apakah saya berdoa untuk lawan bicara saya? Menguji kasih
Apakah saya siap diubah? Menguji kerendahan hati
Apakah saya mencari kebenaran atau kemenangan? Menguji motif
Apakah saya mengasihi orang ini sebagai manusia? Menguji hati
Apakah saya sadar bahwa saya juga orang berdosa? Menguji kesadaran diri
5.2. Selama Dialog: Praktikkan Disiplin
Praktik Penjelasan
Dengarkan dulu Jangan menyiapkan jawaban saat lawan bicara masih berbicara (Amsal 18:13)
Tanyakan, jangan tuduh "Mengapa Anda percaya itu?" lebih baik dari "Anda salah"
Bedakan orang dan keyakinan Kasihilah orang; ujilah keyakinan dengan hormat
Akui ketidaktahuan "Saya tidak tahu" adalah jawaban yang jujur
Hindari kata "kafir" Kata ini menghakimi, bukan menjelaskan
Jangan menyerang motif Kita tidak tahu hati orang lain
Tetap tenang Kemarahan adalah tanda penghakiman yang gagal
5.3. Setelah Dialog: Refleksi
Pertanyaan Tujuan
Apakah saya menghormati lawan bicara? Evaluasi sikap
Apakah saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh? Evaluasi komunikasi
Apakah saya menyampaikan kebenaran dengan kasih? Evaluasi metode
Apakah saya berdoa untuknya? Evaluasi hati
Apakah saya belajar sesuatu? Evaluasi kerendahan hati
5.4. Jika Kita Dihakimi: Menyikapi dengan Kasih
Dialog dengan Islam tidak selalu ramah. Kadang kita dihakimi—disebut "kafir," "musyrik," atau "sesat." Bagaimana menyikapinya?
Sikap Dasar Alkitab
Jangan membalas Roma 12:17 — "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan"
Tetap tenang Amsal 15:1 — "Jawaban yang lemah lembut meredakan amarah"
Doakan Matius 5:44 — "Doakanlah mereka yang menganiaya kamu"
Jangan menghakimi balik 1 Petrus 2:23 — Yesus "tidak membalas ancaman"
Tetap hormat 1 Petrus 3:16 — "Dengan hati nurani yang murni"
Ingat: Menghakimi balik adalah kekalahan—bukan karena kita kalah argumen, tetapi karena kita kehilangan kasih.
5.5. Teladan Praktis: Yesus dan Perempuan Samaria
Yohanes 4 adalah model dialog yang tidak menghakimi:
Tindakan Yesus Prinsip
Ia duduk di sumur—tempat yang tidak lazim Masuk ke dunia lawan bicara
Ia meminta air—membuka percakapan Rendah hati, tidak menggurui
Ia tidak langsung menegur dosa Menunggu waktu yang tepat
Ia menyingkapkan kebenaran tentang diri-Nya Menyampaikan kebenaran dengan kasih
Ia tidak menghakimi perempuan itu "Aku tidak menghakimimu"
Ia menantang dengan kebenaran "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi"
Pola: Kasih dulu, kebenaran kemudian—bukan kebenaran tanpa kasih, bukan kasih tanpa kebenaran.
---
Bagian 6: Teologi Dialog yang Bertanggung Jawab
6.1. Dialog Bukan Kompromi
Dialog yang tidak menghakimi bukan berarti:
· Menyamakan semua agama.
· Mengorbankan kebenaran.
· Menolak misi Kristen.
· Menganggap semua keyakinan sama benar.
Dialog yang tidak menghakimi berarti:
· Menyampaikan kebenaran dengan kasih.
· Menghormati lawan bicara sebagai manusia.
· Mengandalkan Roh Kudus untuk meyakinkan.
· Mengakui bahwa kita juga orang berdosa.
6.2. Kebenaran dan Kasih: Bukan Pilihan
"Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, yaitu Kristus, Kepala segala sesuatu."
— Efesus 4:15
Kebenaran tanpa kasih = penghakiman.
Kasih tanpa kebenaran = kompromi.
Kebenaran di dalam kasih = dialog Kristen yang sejati.
6.3. Misi dan Penghormatan: Bukan Kontradiksi
Misi Kristen bukan menghakimi—misi Kristen adalah memberitakan kabar baik. Kabar baik bukan "Anda salah," tetapi "Kristus telah mati untuk Anda."
Ketika kita menghakimi, kita mengaburkan kabar baik. Ketika kita mengasihi, kita memperjelas kabar baik.
---
Bagian 7: Kesimpulan
7.1. Ringkasan
Aspek Penjelasan
Akar penghakiman Salah paham kekudusan, pertahanan diri, bias kognitif, budaya polarisasi, dan dinamika sosial
Dasar Alkitabiah Yesus melarang penghakiman hipokrit (Matius 7:1-2); Allah adalah Hakim tunggal (Yakobus 4:12); kasih adalah hukum tertinggi (1 Korintus 13)
Teolog Kristen Agustinus, Aquinas, Luther, Barth, Bonhoeffer, Lewis, Graham—semua menekankan kasih dan kerendahan hati
Wawasan sekuler Psikologi menunjukkan penghakiman gagal mengubah pikiran; filsafat menekankan wajah orang lain sebagai panggilan etis
Langkah praktis Periksa hati, dengarkan, tanyakan, bedakan orang dan keyakinan, doakan, jangan membalas penghakiman
Teologi dialog Dialog bukan kompromi; kebenaran di dalam kasih adalah pola Kristen
7.2. Panggilan untuk Menjadi Murid yang Tidak Menghakimi
"Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah."
— Roma 15:7
Menghakimi adalah penyangkalan terhadap kasih karunia yang telah kita terima. Kita dihakimi? Tidak—kita diampuni. Kita dihukum? Tidak—kita diselamatkan. Dan karena kita telah menerima kasih karunia, kita tidak berhak menghakimi.
7.3. Ayat Hafalan
"Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi."
— Matius 7:1
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab... dengan lemah lembut dan hormat."
— 1 Petrus 3:15
"Dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih."
— Efesus 4:15
7.4. Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau tidak menghakimi perempuan Samaria—Engkau mengasihinya dan menyingkapkan kebenaran. Engkau tidak menghakimi Zakheus—Engkau makan bersamanya. Engkau tidak menghakimi Petrus yang menyangkal-Mu—Engkau memulihkannya.
Ampunilah kami karena sering menghakimi. Ajarlah kami untuk mendengarkan, mengasihi, dan menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut. Biarlah Roh Kudus yang meyakinkan, bukan kami yang menghakimi. Jadikan kami murid-murid yang rendah hati, yang menyadari bahwa kami juga orang berdosa yang telah menerima kasih karunia.
Di dalam nama Yesus. Amin.
Soli Deo Gloria.
---
Daftar Referensi
Sumber Alkitab
· Kitab Suci Terjemahan Baru (LAI): Matius 7:1-5; 23; Lukas 19; Yohanes 4; 8:1-11; Roma 12:17; 15:7; 1 Korintus 4:5; 13:4-5; Efesus 4:15; Filipi 2:1-11; 2 Timotius 2:24-25; Yakobus 4:12; 1 Petrus 2:23; 3:15-16; 4:8; 1 Yohanes 4:8
Teolog Kristen
· Agustinus. In Epistolam Joannis ad Parthos. (Homili tentang kasih)
· Aquinas, Thomas. Summa Theologiae. (II-II, q. 60: tentang penghakiman)
· Luther, Martin. The Freedom of a Christian. (Simul iustus et peccator)
· Barth, Karl. Church Dogmatics. Vol. I/1. (Firman Allah sebagai dasar teologi)
· Bonhoeffer, Dietrich. Life Together. (Kasih yang nyata dalam komunitas)
· Lewis, C.S. Mere Christianity. (Kerendahan hati dan penghakiman)
· Lewis, C.S. The Weight of Glory. (Misteri kemuliaan orang lain)
· Graham, Billy. Just As I Am. (Otobiografi—teladan dialog)
Psikologi dan Sosiologi Sekuler
· Brehm, Jack W. A Theory of Psychological Reactance. (1966)
· Kunda, Ziva. "The Case for Motivated Reasoning." Psychological Bulletin 108, no. 3 (1990): 480-498.
· Nyhan, Brendan, dan Jason Reifler. "When Corrections Fail: The Persistence of Political Misperceptions." Political Behavior 32, no. 2 (2010): 303-330.
· Berger, Peter L., dan Thomas Luckmann. The Social Construction of Reality. (1966)
· Buber, Martin. I and Thou. (1923)
· Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity. (1961)
· Swidler, Leonard. "The Dialogue Decalogue." Journal of Ecumenical Studies 20, no. 1 (1983): 1-4.
· Cornille, Catherine. The Im-Possibility of Interreligious Dialogue. (2008)
· Eck, Diana L. A New Religious America. (2001)
· Chapman, Colin. Cross and Crescent: Responding to the Challenge of Islam. (2007)
· Qureshi, Nabeel. No God but One: Allah or Jesus? (2016)
· Accad, Fouad Elias. Building Bridges: Christianity and Islam. (1997)
Sumber Islam (untuk memahami akar penghakiman)
· Al-Qur'an Al-Karim: QS Al-Ma'idah 5:2; QS Ali Imran 3:104, 110; QS At-Taubah 9:71
· Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim
· Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin (bagian amar ma'ruf nahi munkar)
Baca artikel terkait lainnya :
Baca artikel lainnya :
Komentar
Posting Komentar