Kematian Yesus di Salib yang Tak Mungkin Dipahami Islam, Sebuah Penjelasan Apologetika
Kematian Yesus di Salib yang Tak Mungkin Dipahami Islam
Sebuah Penjelasan Apologetika
---
Pendahuluan: Mengapa Perdebatan Ini Tidak Pernah Selesai
Selama empat belas abad, dialog antara Islam dan Kristen tentang salib telah berlangsung—dan selama itu pula, kedua pihak sering merasa tidak didengar. Umat Islam berkata, "Tidak mungkin Allah mati." Umat Kristen berkata, "Kami tidak pernah mengatakan Allah mati." Umat Islam berkata, "Yesus tidak disalib." Umat Kristen berkata, "Justru di salib itu keselamatan kami." Keduanya berbicara, tetapi keduanya tidak bertemu.
Mengapa? Karena persoalannya bukan pada penjelasan salib itu sendiri, melainkan pada dua fondasi pemahaman yang berbeda total: apa itu Allah dan apa itu manusia. Sebelum kita dapat menjelaskan mengapa salib masuk akal dalam kekristenan, kita harus terlebih dahulu menyadari bahwa kita berbicara dari dua alam pemikiran yang berbeda. Artikel ini ditulis bukan untuk menyerang Islam, melainkan untuk menjelaskan kepada pembaca Kristen—dan kepada siapa pun yang ingin mendengar—mengapa kematian Yesus di salib tidak mungkin dipahami dalam kerangka Islam, dan mengapa itu bukan kegagalan penjelasan Kristen, melainkan konsekuensi dari perbedaan fondasi yang tidak dapat dijembatani dengan kata-kata saja.
---
Bagian I: Perbedaan Fondasi Pertama — Apa Itu Allah?
Allah dalam Islam: Dzat yang Transenden dan Tak Terbagi
Dalam Islam, Allah adalah Dzat—wujud yang mutlak, esa, tidak berbagi, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Allah tidak memiliki roh dalam pengertian komponen atau dimensi internal yang dapat dipisahkan dari diri-Nya. Ketika Al-Qur'an menyebut Rūḥ (roh), itu merujuk pada makhluk ciptaan—seperti malaikat Jibril, atau "roh" yang ditiupkan kepada manusia—bukan pada hakikat Allah itu sendiri. Allah adalah Aḥad—satu yang tidak dapat dibagi, tidak dapat dikomposisikan, tidak dapat memiliki relasi internal di dalam diri-Nya.
Konsekuensinya: dalam Islam, tidak ada ruang untuk gagasan bahwa Allah dapat "mengalami" sesuatu di dalam diri-Nya sendiri. Allah tidak menderita. Allah tidak mati. Allah tidak berinkarnasi. Kematian, penderitaan, dan inkarnasi adalah kategori-kategori yang hanya berlaku bagi makhluk, bukan bagi Sang Pencipta.
Allah dalam Kekristenan: Roh yang Hidup dan Berelasi
Dalam kekristenan, Allah adalah Roh (Yohanes 4:24). Ia bukan hanya Dzat yang transenden, tetapi juga Pribadi yang hidup, yang memiliki relasi internal di dalam diri-Nya sendiri—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ini bukan tiga allah, melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi. Dan karena Allah adalah Roh, maka hakikat-Nya bukanlah "materi yang tidak dapat mati," melainkan "hidup yang tidak dapat mati."
Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya: dalam Islam, keabadian Allah berarti Ia tidak dapat mati karena Ia bukan materi; dalam kekristenan, keabadian Allah berarti Ia adalah hidup itu sendiri, dan hidup tidak dapat mati. Dalam Islam, kematian mustahil bagi Allah karena Allah bukan roh yang hidup—Ia adalah Dzat yang transenden. Dalam kekristenan, kematian mustahil bagi hakikat ilahi Yesus, tetapi bukan mustahil bagi natur manusiawi-Nya, karena natur manusiawi-Nya memang dapat mati.
---
Bagian II: Perbedaan Fondasi Kedua — Apa Itu Manusia?
Manusia dalam Islam: Makhluk yang Dibentuk dari Tanah
Dalam Islam, manusia diciptakan dari tanah (ṭīn, turāb) dan ditiupkan kepadanya roh (rūḥ) dari Allah (QS. Al-Hijr: 29; QS. As-Sajdah: 9). Tetapi perlu dicatat: roh yang ditiupkan itu bukanlah hakikat Allah, melainkan makhluk ciptaan juga—sebuah "roh" yang diberikan sebagai anugerah, bukan bagian dari diri Allah. Manusia adalah makhluk yang sepenuhnya berbeda dari Allah. Tidak ada kesamaan hakikat antara manusia dan Allah. Manusia adalah 'abd (hamba), Allah adalah Rabb (Tuhan). Jarak antara keduanya tidak terhingga.
Manusia dalam Kekristenan: Imago Dei — Gambar dan Rupa Allah
Dalam kekristenan, manusia diciptakan "menurut gambar dan rupa Allah" (imago Dei — Kejadian 1:26-27). Ini bukan berarti manusia secara fisik menyerupai Allah, melainkan bahwa manusia memiliki kesamaan hakikat dalam hal roh: manusia adalah makhluk rohani yang memiliki roh yang tidak dapat mati, sama seperti Allah adalah Roh. Manusia bukan hanya makhluk materi; ia adalah roh yang mengenakan tubuh. Roh manusia tidak mati ketika tubuh mati—ia tetap hidup, entah dalam hadirat Allah atau dalam keterpisahan dari-Nya.
Di sinilah titik temu yang paling tidak dapat dihindari: dalam kekristenan, manusia memiliki roh seperti Allah memiliki roh. Karena itu, ketika kita berbicara tentang kematian, kita harus bertanya: apa yang mati? Tubuh bisa mati. Tetapi roh tidak pernah mati. Roh tidak dapat mati. Itulah sebabnya Yesus berkata, "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa" (Matius 10:28).
---
Bagian III: Konsekuensi — Roh Tidak Pernah Mati
Dalam kerangka Kristen, kematian bukanlah akhir dari eksistensi, melainkan pemisahan. Kematian fisik adalah pemisahan antara tubuh dan roh. Tetapi roh itu sendiri tidak mati. Ia terus hidup—entah dalam keadaan sadar menantikan kebangkitan, atau dalam keadaan terpisah dari Allah.
Maka, ketika kita mengatakan "Yesus mati di salib," kita tidak mengatakan "Yesus berhenti eksis." Kita mengatakan: Tubuh manusiawi-Nya mati; roh manusiawi-Nya terpisah dari tubuh; tetapi hakikat ilahi-Nya tidak pernah mati. Inilah yang membedakan kematian Yesus dari kematian manusia biasa: pada manusia biasa, roh terpisah dari tubuh dan menunggu kebangkitan. Pada Yesus, Pribadi ilahi tetap bersatu dengan roh manusiawi-Nya bahkan ketika tubuh-Nya mati. Kematian tidak memisahkan keilahian dari kemanusiaan-Nya—ia hanya memisahkan tubuh dari roh.
---
Bagian IV: Salib dan Kebutuhan akan Dwi Natur
Di sinilah kita sampai pada inti persoalan: salib tidak dapat dijelaskan tanpa doktrin dua natur Kristus (hypostatic union). Yesus adalah satu Pribadi dengan dua natur—natur ilahi yang kekal dan natur manusiawi yang diambil-Nya dalam inkarnasi. Kedua natur itu tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, dan tidak terpisahkan.
Mengapa ini penting untuk salib?
1. Jika Yesus hanya manusia biasa, kematian-Nya tidak memiliki nilai ilahi yang tak terhingga—ia tidak dapat menebus dosa seluruh umat manusia.
2. Jika Yesus hanya Allah tanpa kemanusiaan, Ia tidak dapat mati—karena Allah tidak dapat mati—dan Ia tidak dapat mewakili manusia.
3. Hanya jika Yesus adalah Allah dan manusia sekaligus, kematian-Nya memiliki nilai tak terhingga dan Ia benar-benar mengalami kematian sebagai manusia.
Yang mati di salib adalah natur manusiawi-Nya—tubuh dan roh manusiawi-Nya terpisah. Tetapi karena Pribadi yang mati itu adalah Pribadi ilahi, maka kematian itu memiliki nilai ilahi. Inilah misteri salib: Allah tidak mati, tetapi Pribadi yang adalah Allah mengalami kematian melalui natur manusiawi-Nya.
---
Bagian V: Mengapa Islam Tidak Mungkin Memahami Ini
Sekarang kita sampai pada kesimpulan yang sulit tetapi perlu dinyatakan dengan kasih: Islam tidak mungkin memahami kematian Yesus di salib, bukan karena umat Islam kurang cerdas atau kurang informasi, tetapi karena fondasi pemahaman mereka tentang Allah dan manusia secara struktural berbeda.
1. Jika Allah adalah Dzat yang tidak dapat memiliki roh, maka tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa Allah adalah Roh yang hidup.
2. Jika manusia tidak memiliki kesamaan hakikat dengan Allah, maka tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa Allah dapat mengambil natur manusia dan tetap menjadi Allah.
3. Jika roh manusia tidak dipahami sebagai sesuatu yang kekal dan tidak dapat mati, maka tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa kematian Yesus adalah pemisahan tubuh dari roh, bukan kematian hakikat ilahi.
4. Jika tidak ada konsep dua natur dalam satu Pribadi, maka salib akan selalu terdengar seperti "Allah mati"—yang memang mustahil.
Maka, ketika seorang Muslim berkata, "Tidak mungkin Allah mati di salib," ia benar dalam kerangka pemahamannya. Tetapi orang Kristen tidak pernah mengatakan "Allah mati." Orang Kristen mengatakan: "Pribadi yang adalah Allah mengalami kematian melalui natur manusiawi-Nya, yang Ia ambil demi keselamatan kita." Ini bukan kontradiksi; ini adalah misteri yang hanya dapat dipahami jika kedua fondasi—Allah sebagai Roh yang hidup dan manusia sebagai imago Dei yang memiliki roh yang tidak dapat mati—telah diterima.
---
Bagian VI: Kepada Pembaca Kristen — Bagaimana Menjelaskan dengan Kasih
Jika Anda seorang Kristen yang berdiskusi dengan sahabat Muslim tentang salib, ingatlah:
1. Jangan mulai dari salib. Mulailah dari pertanyaan: Apa itu Allah? Apa itu manusia? Jika fondasi ini belum dibangun, penjelasan salib akan selalu terdengar seperti omong kosong.
2. Jangan defensif. Ketika seorang Muslim berkata, "Allah tidak bisa mati," jawablah, "Saya setuju. Allah tidak bisa mati. Itulah sebabnya kami tidak mengatakan Allah mati."
3. Jelaskan dwi natur dengan sabar. Banyak orang Kristen sendiri tidak memahami bahwa yang mati di salib adalah natur manusiawi Yesus, bukan natur ilahi-Nya. Jika kita sendiri tidak memahami ini, bagaimana kita mengharapkan orang lain memahaminya?
4. Sadari batas penjelasan. Ada misteri yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Salib adalah misteri kasih Allah. Kita dapat menjelaskan mengapa itu masuk akal, tetapi kita tidak dapat sepenuhnya menjelaskan bagaimana Allah menjadi manusia dan mati untuk kita.
5. Doakan. Hanya Roh Kudus yang dapat membuka mata seseorang untuk melihat kebenaran salib. Argumentasi yang paling tajam pun tidak dapat menggantikan pekerjaan Roh.
---
Penutup: Salib yang Tak Terpahami, Kasih yang Tak Terbatas
Kematian Yesus di salib tidak mungkin dipahami dalam kerangka Islam karena Islam memiliki pemahaman yang berbeda tentang Allah dan manusia. Tetapi bagi orang Kristen, salib bukanlah skandal yang memalukan—ia adalah puncak kasih Allah. Di salib, Allah yang adalah Roh mengambil natur manusia, mengalami kematian melalui natur itu, dan bangkit kembali untuk memberikan hidup yang kekal kepada semua orang yang percaya.
Salib tidak dapat dijelaskan tanpa dwi natur. Dwi natur tidak dapat dijelaskan tanpa pemahaman bahwa Allah adalah Roh yang hidup dan manusia adalah imago Dei yang memiliki roh yang tidak dapat mati. Dan semua ini tidak dapat dipahami tanpa kasih—kasih yang lebih besar dari akal manusia, kasih yang rela mati agar kita dapat hidup.
"Sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)
---
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar