Sunat: Posisi Kristen Ditinjau dari Perspektif Alkitabiah
Sunat: Posisi Kristen Ditinjau dari Perspektif Alkitabiah
Pendahuluan
Sunat (khitan) merupakan salah satu praktik keagamaan paling tua dan paling signifikan dalam sejarah agama-agama Abrahamik. Dalam Islam dan Yahudi, sunat memiliki status yang jelas dan terikat dengan hukum agama. Dalam kekristenan, praktik ini sering menimbulkan pertanyaan: mengapa sebagian besar umat Kristen tidak disunat padahal Alkitab memuat perintah sunat? Apakah Kristen mengabaikan Alkitab, ataukah ada pemahaman teologis yang mendasarinya? Artikel ini menjelaskan posisi Kristen secara Alkitabiah dengan bertanggung jawab.
1. Sunat dalam Perjanjian Lama
Sunat pertama kali diperkenalkan bukan kepada Musa, melainkan kepada Abraham:
"Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat... Orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang kulit khatan dagingnya tidak disunat, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya, sebab ia telah melanggar perjanjian-Ku." (Kejadian 17:10, 14)
Kemudian sunat ditegaskan kembali dalam hukum Musa (Imamat 12:3), dan menjadi tanda kovenantal yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain. Penting dicatat: sunat adalah tanda perjanjian, bukan sekadar prosedur medis atau tradisi budaya. Sunat menandai keanggotaan dalam umat perjanjian Allah.
2. Sunat dan Hati: Dimensi Spiritual dalam Perjanjian Lama
Jauh sebelum era Perjanjian Baru, para nabi sudah menekankan bahwa sunat fisik tidak cukup tanpa sunat hati:
"Sunatlah hatimu dan janganlah bertegar tengkuk lagi." (Ulangan 10:16)
"Sunatlah hatimu bagi TUHAN dan buanglah kulit khatan hatimu." (Yeremia 4:4)
"TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, supaya engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu." (Ulangan 30:6)
Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam Perjanjian Lama, makna terdalam sunat adalah transformasi batin, bukan sekadar ritual fisik. Benih teologis ini kemudian berkembang dalam pengajaran Perjanjian Baru.
3. Sunat dan Yesus Kristus
Yesus sendiri disunat pada hari kedelapan sesuai hukum Taurat (Lukas 2:21). Namun, dalam pelayanan-Nya, Ia tidak pernah menjadikan sunat sebagai syarat mengikut Dia. Yang Ia tekankan adalah pertobatan hati dan kelahiran baru.
Yang paling penting secara teologis adalah kematian Kristus. Paulus menghubungkan sunat dengan salib:
"Sebab seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia... Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh tangan manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan." (Kolose 2:9-12)
Dengan kata lain, sunat fisik digenapi dalam sunat Kristus — yaitu karya salib yang mematikan manusia lama. Baptisan menjadi tanda perjanjian baru, menggantikan fungsi sunat sebagai tanda masuk ke dalam umat Allah.
4. Keputusan Konsili Yerusalem (Kisah 15) — Titik Krusial
Isu sunat menjadi krisis teologis pertama dalam sejarah gereja. Muncul golongan yang mengajarkan: "Kalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat Musa, kamu tidak dapat diselamatkan" (Kisah 15:1). Paulus dan Barnabas berdebat keras melawan ajaran ini.
Dalam Konsili Yerusalem, Petrus berkata:
"Jadi mengapa kamu mau mencobai Allah dengan memasang kuk pada tengkuk murid-murid itu, yang tidak dapat dipikul oleh nenek moyang kita maupun kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga." (Kisah 15:10-11)
Keputusan resmi konsili (Kisah 15:19-29) tidak mewajibkan sunat bagi orang percaya non-Yahudi. Ini bukan keputusan sembarangan, melainkan penetapan doktrinal bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman, bukan oleh ritual atau pekerjaan hukum Taurat.
5. Pengajaran Paulus
Paulus adalah rasul yang paling tegas menjelaskan posisi sunat dalam ekonomi keselamatan baru:
"Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah iman yang bekerja oleh kasih." (Galatia 5:6)
"Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang penting." (Galatia 6:15)
"Karena kita adalah orang-orang yang bersunat secara rohani, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah." (Filipi 3:3)
Paulus bahkan menyebut mereka yang memaksakan sunat sebagai syarat keselamatan dengan istilah keras (Galatia 5:12). Namun, ia juga menunjukkan keluwesan praktis: ia menyunat Timotius (Kisah 16:3) demi kelancaran pelayanan, tetapi menolak menyunat Titus (Galatia 2:3) karena isu prinsip. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, sunat bukanlah dosa, tetapi tidak boleh dijadikan syarat keselamatan.
6. Prinsip Kebebasan dan Kasih
Sama seperti hal makanan, prinsip Kristen tentang sunat adalah: bebas secara teologis, tetapi penuh kasih secara praktis. Sunat tidak lagi wajib secara religius, tetapi juga tidak dilarang secara mutlak. Yang ditekankan adalah jangan menjadikan ritual lahiriah sebagai ukuran kesalehan atau batu sandungan bagi orang lain (Roma 14:13-21; 1 Korintus 8:9-13).
7. Menjawab Sanggahan Umum
Sanggahan: "Bukankah sunat adalah perjanjian kekal (Kejadian 17:13)? Mengapa Kristen tidak melakukannya?"
Jawaban: Kata "kekal" dalam bahasa Ibrani (olam) dapat berarti "berlangsung terus" atau "selamanya" dalam konteks perjanjian tertentu, tetapi Alkitab sendiri menunjukkan bahwa perjanjian Sinai bersifat sementara dan digenapi dalam Kristus (Ibrani 8:13; 10:1). Perjanjian baru menggantikan perjanjian lama, dan tanda perjanjian baru adalah baptisan, bukan sunat (Kolose 2:11-12).
Sanggahan: "Yesus disunat, jadi mengapa pengikut-Nya tidak?"
Jawaban: Yesus lahir "di bawah hukum Taurat" (Galatia 4:4) dan menaati seluruhnya untuk menggenapi hukum bagi kita. Ketaatan-Nya bukan untuk diimitasi secara ritual, melainkan untuk menghasilkan keselamatan bagi mereka yang percaya. Sunat-Nya pada hari kedelapan justru menegaskan bahwa Ia adalah keturunan Abraham yang sah dan penggenap janji.
Sanggahan: "Bukankah sunat bermanfaat secara medis?"
Jawaban: Manfaat medis bisa menjadi pertimbangan praktis, tetapi bukan dasar teologi Kristen. Alkitab tidak menjadikan kesehatan sebagai alasan utama perintah sunat; alasan utamanya adalah tanda perjanjian. Jika alasan medis menjadi dasar mutlak, maka hukum Taurat lainnya juga harus ditaati — yang justru ditolak oleh Konsili Yerusalem.
8. Kesimpulan
Posisi Kristen tentang sunat dapat dirumuskan secara ringkas:
1. Secara historis, sunat adalah tanda perjanjian Abraham dan bagian dari hukum seremonial Israel.
2. Secara nubuat, para nabi sudah menekankan sunat hati sebagai makna terdalam dari ritual lahiriah.
3. Secara kristologis, Kristus menggenapi sunat melalui karya salib — "sunat Kristus" yang menanggalkan tubuh dosa.
4. Secara gerejawi, Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak wajib bagi orang percaya non-Yahudi, karena keselamatan oleh kasih karunia melalui iman.
5. Secara praktis, umat Kristen memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dijalani dengan kasih dan tidak menjadi batu sandungan.
Dengan demikian, bagi umat Kristen, sunat bukanlah ukuran kesalehan atau syarat keselamatan. Yang menjadi ukuran adalah iman kepada Kristus, kasih kepada sesama, dan hidup sebagai ciptaan baru — sebab "bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang penting" (Galatia 6:15).
---
Artikel ini disusun sebagai penjelasan internal iman Kristen dan dalam semangat dialog yang saling menghormati. Perbedaan praktik antar agama sebaiknya dipahami dalam kerangka teologis masing-masing, bukan dijadikan dasar saling menghakimi.
Baca artikel terkait lainnya :
Komentar
Posting Komentar