Ketika Allah Bukan Lagi Allah: Keunggulan Allah Alkitab yang Bernama YHWH, Dialog Antar Agama dan Kepercayaan tentang Siapa Itu Allah

Ketika Bukan Lagi Allah: Keunggulan Allah Alkitab yang Bernama YHWH

Dialog Antar Agama dan Kepercayaan tentang Siapa Itu Allah

---

Pendahuluan: Pertanyaan yang Mengguncang Dialog Antar Agama

Dalam dialog antar agama dan kepercayaan, pertanyaan tentang "siapa Allah" sering kali menjadi titik perdebatan yang tidak berujung. Setiap agama mengklaim memiliki konsep tentang Allah atau dewa yang paling benar, paling tinggi, paling transenden. Namun, bagaimana jika kita memulai dialog dengan premis yang sangat sederhana:

Nama adalah identitas utama.
Segala sesuatu selain nama adalah pendukung identitas — bukan kontra.

Premis ini bukanlah premis yang asing. Dalam konsep manusia, nama adalah petunjuk identitas — siapa seseorang, apa karakter-nya, apa peran-nya. Alkitab sendiri mendukung prinsip ini:

· Kejadian 2:19 — "TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu."
· Kejadian 17:5 — "Lalu Abram tidak lagi disebut namanya Abram, tetapi namanya Abraham, sebab Aku telah membuat engkau menjadi bapa sejumlah besar bangsa."
· Matius 16:18 — "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku."

Jika premis ini benar — bahwa nama adalah identitas utama — maka konsekuensinya sangat besar bagi dialog antar agama.

---

Bagian 1: Premis — Nama sebagai Identitas Utama

A. Nama adalah Identitas

Dalam seluruh Alkitab, nama bukan sekadar label. Nama adalah identitas — menunjukkan siapa seseorang, apa karakternya, apa misinya.

· Keluaran 3:13-15 — Musa bertanya kepada Allah: "Apabila aku datang kepada orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kukatakan kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU TELAH MENGUTUS AKU kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun."

Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama — YHWH. Nama ini bukan sekadar label — ini adalah identitas — Allah yang menjadi — Allah yang beraktivitas.

B. Segala Sesuatu Selain Nama adalah Pendukung

Jika nama adalah identitas utama, maka segala sesuatu selain nama adalah pendukung identitas — bukan kontra. Artinya:

· Sifat-sifat Allah — kasih, adil, kudus, mahakuasa — adalah pendukung identitas YHWH.
· Aktivitas Allah — menciptakan, menyelamatkan, menghakimi — adalah pendukung identitas YHWH.
· Klaim-klaim tentang Allah — tidak berubah, tidak terlihat, tidak terhampiri — adalah pendukung identitas YHWH.

Semuanya menunjuk pada YHWH — bukan menentang YHWH.

---

Bagian 2: Konsekuensi bagi Allah Agama Lain

A. Allah yang Bernama "God of Love"

Bayangkan sebuah konsep tentang Allah yang bernama "God of Love" — Allah Kasih. Dalam konsep ini, kasih adalah identitas utama — bukan sekadar sifat.

Pertanyaan kritis:

· Ketika ada saat dunia tidak memiliki cinta — apakah "God of Love" masih bisa disebut Allah?
· Jika kasih adalah identitas-nya, maka ketika kasih tidak ada, identitas-nya hilang — dan ia bukan lagi Allah.
· Jika kasih adalah identitas-nya, maka keberadaan-nya bergantung pada ada-nya kasih di dunia.
· Maka: "God of Love" kehilangan transendensi-nya** — karena ia bergantung pada sesuatu di luar dirinya — yaitu kasih di dunia.

Bandingkan dengan YHWH:

· YHWH adalah Allah yang menjadi — identitas-Nya** adalah aktivitas — bukan kasih sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
· YHWH adalah kasih — tetapi kasih itu adalah realitas kekal — bukan sesuatu yang bergantung pada ada-nya kasih di dunia.
· YHWH tidak kehilangan identitas-Nya** ketika dunia tidak memiliki kasih — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan kasih yang bergantung pada ciptaan.
· Maka: YHWH tetap transenden — karena identitas-Nya** tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya**.

B. Allah yang Bernama "El/Allah"

Bayangkan sebuah konsep tentang Allah yang bernama "El" atau "Allah" — nama yang generik — yang berarti "Tuhan" atau "Allah".

Pertanyaan kritis:

· Ketika ada saat orang tidak menyembahnya — apakah "El/Allah" masih bisa disebut Allah?
· Jika "El/Allah" adalah identitas-nya, maka ketika tidak ada yang menyembah, identitas-nya hilang — dan ia bukan lagi Allah.
· Jika "El/Allah" adalah identitas-nya, maka keberadaan-nya bergantung pada ada-nya penyembah di dunia.
· Maka: "El/Allah" kehilangan transendensi-nya** — karena ia bergantung pada sesuatu di luar dirinya — yaitu penyembah di dunia.

Bandingkan dengan YHWH:

· YHWH adalah Allah yang menjadi — identitas-Nya** adalah aktivitas — bukan "Tuhan" sebagai gelar yang bergantung pada penyembah.
· YHWH adalah Tuhan — tetapi "Tuhan" itu adalah realitas kekal — bukan sesuatu yang bergantung pada ada-nya penyembah di dunia.
· YHWH tidak kehilangan identitas-Nya** ketika tidak ada yang menyembah — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan gelar yang bergantung pada ciptaan.
· Maka: YHWH tetap transenden — karena identitas-Nya** tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya**.

C. Allah yang Bernama "God of Mercy"

Bayangkan sebuah konsep tentang Allah yang bernama "God of Mercy" — Allah Belas Kasihan.

Pertanyaan kritis:

· Ketika ada saat dunia tidak membutuhkan belas kasihan — apakah "God of Mercy" masih bisa disebut Allah?
· Jika belas kasihan adalah identitas-nya, maka ketika belas kasihan tidak dibutuhkan, identitas-nya hilang — dan ia bukan lagi Allah.
· Jika belas kasihan adalah identitas-nya, maka keberadaan-nya bergantung pada ada-nya orang yang membutuhkan belas kasihan di dunia.
· Maka: "God of Mercy" kehilangan transendensi-nya** — karena ia bergantung pada sesuatu di luar dirinya — yaitu orang yang membutuhkan belas kasihan di dunia.

Bandingkan dengan YHWH:

· YHWH adalah Allah yang menjadi — identitas-Nya** adalah aktivitas — bukan belas kasihan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
· YHWH adalah belas kasihan — tetapi belas kasihan itu adalah realitas kekal — bukan sesuatu yang bergantung pada ada-nya orang yang membutuhkan belas kasihan di dunia.
· YHWH tidak kehilangan identitas-Nya** ketika tidak ada yang membutuhkan belas kasihan — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan belas kasihan yang bergantung pada ciptaan.
· Maka: YHWH tetap transenden — karena identitas-Nya** tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya**.

---

Bagian 3: Mengapa Allah Alkitab yang Bernama YHWH Tetap Transenden?

A. Identitas YHWH adalah Aktivitas Kekal

YHWH berasal dari akar היה (hayah) — "menjadi."
YHWH adalah Allah yang menjadi — yang beraktivitas.
YHWH adalah nama yang menunjukkan aktivitas — bukan sesuatu yang berdiri sendiri di luar Allah.
Maka: Identitas YHWH adalah aktivitas-Nya** — dan aktivitas-Nya** adalah identitas-Nya.
Identitas ini tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya — karena aktivitas itu adalah realitas kekal yang tidak berawal dan tidak berakhir.

B. Segala Sesuatu di Luar Nama adalah Pendukung

Segala sesuatu di luar nama — termasuk kasih, keadilan, belas kasihan, kemahakuasaan — adalah pendukung identitas YHWH — bukan kontra.
Kasih bukan identitas yang berdiri sendiri — kasih adalah pendukung identitas YHWH.
Keadilan bukan identitas yang berdiri sendiri — keadilan adalah pendukung identitas YHWH.
Belas kasihan bukan identitas yang berdiri sendiri — belas kasihan adalah pendukung identitas YHWH.
Maka: YHWH tidak kehilangan identitas-Nya** ketika kasih, keadilan, atau belas kasihan tidak ada di dunia — karena identitas-Nya** bukan kasih, keadilan, atau belas kasihan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri — tetapi aktivitas kekal yang menjadi dasar dari semuanya.

C. YHWH Tetap Transenden

Transendensi berarti Allah melampaui segala sesuatu yang ada di dunia.
YHWH tetap transenden — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal yang tidak bergantung pada sesuatu di dunia.
YHWH tetap transenden — karena segala sesuatu di luar nama-Nya** adalah pendukung identitas-Nya** — bukan identitas itu sendiri.
YHWH tetap transenden — karena Ia adalah Allah yang menjadi — yang beraktivitas — yang tidak berawal dan tidak berakhir.

---

Bagian 4: Dialog Antar Agama — Mengapa YHWH Unggul?

A. Allah Agama Lain Kehilangan Transendensi

Nama Allah Identitas Kapan Kehilangan Transendensi?
God of Love Kasih Ketika dunia tidak memiliki cinta
El/Allah Tuhan Ketika tidak ada yang menyembah
God of Mercy Belas kasihan Ketika tidak ada yang membutuhkan belas kasihan
God of Justice Keadilan Ketika tidak ada ketidakadilan
God of Peace Damai Ketika tidak ada konflik
God of War Perang Ketika tidak ada perang
God of Wisdom Hikmat Ketika tidak ada kebodohan

Kesimpulan:

· Semua Allah yang identitas-nya** adalah sifat atau gelar yang berdiri sendiri akan kehilangan transendensi-nya** ketika sifat atau gelar itu tidak ada di dunia.
· Mereka bergantung pada sesuatu di luar diri mereka — yaitu keadaan dunia.
· Maka: Mereka bukan Allah yang transenden — mereka adalah Allah yang terikat pada dunia.

B. YHWH Tetap Transenden

Nama Allah Identitas Kapan Kehilangan Transendensi?
YHWH Aktivitas kekal — "menjadi" Tidak pernah

Kesimpulan:

· YHWH tidak kehilangan transendensi-Nya** — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan sifat atau gelar yang bergantung pada dunia.
· YHWH tetap transenden — karena Ia adalah Allah yang menjadi — yang beraktivitas — yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· YHWH tetap transenden — karena segala sesuatu di luar nama-Nya** adalah pendukung identitas-Nya** — bukan identitas itu sendiri.

---

Bagian 5: Mengapa Ini Penting dalam Dialog Antar Agama?

A. Dialog yang Jujur

Dialog antar agama sering kali terjebak dalam relativisme — semua agama dianggap sama benar.
Tetapi premis nama sebagai identitas utama menunjukkan bahwa tidak semua konsep tentang Allah sama.
Ada Allah yang identitas-nya** bergantung pada dunia — dan ada Allah yang identitas-nya** tidak bergantung pada dunia.
Yang pertama kehilangan transendensi — yang kedua tetap transenden.
Maka: Dialog yang jujur harus mengakui perbedaan ini — bukan menutupinya dengan relativisme.

B. Pertanyaan untuk Setiap Agama

Untuk setiap agama atau kepercayaan, pertanyaan kritis adalah:

· Siapa nama Allah Anda?
· Apakah nama itu adalah identitas yang berdiri sendiri — atau aktivitas kekal?
· Apakah Allah Anda kehilangan identitas-nya** ketika keadaan dunia berubah?
· Jika ya — maka Allah Anda bukan Allah yang transenden.
· Jika tidak — maka Allah Anda adalah Allah yang transenden.

C. YHWH sebagai Jawaban

YHWH adalah jawaban atas pertanyaan ini.
YHWH adalah Allah yang menjadi — yang beraktivitas — yang tidak berawal dan tidak berakhir.
YHWH adalah Allah yang identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan sifat atau gelar yang bergantung pada dunia.
YHWH adalah Allah yang tetap transenden — karena Ia tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya.
YHWH adalah Allah yang unggul dalam dialog antar agama — karena Ia adalah satu-satunya** Allah yang identitas-Nya** tidak dapat digantikan oleh keadaan dunia.

---

Bagian 6: Kesimpulan

A. Ringkasan

1. Nama adalah identitas utama — dalam konsep manusia dan Alkitab.
2. Segala sesuatu di luar nama adalah pendukung identitas — bukan kontra.
3. Allah agama lain — yang identitas-nya adalah sifat atau gelar yang berdiri sendiri — kehilangan transendensi ketika sifat atau gelar itu tidak ada di dunia.
4. YHWH — Allah Alkitab — tetap transenden — karena identitas-Nya adalah aktivitas kekal — bukan sifat atau gelar yang bergantung pada dunia.
5. Dalam dialog antar agama — premis ini menunjukkan bahwa tidak semua konsep tentang Allah sama — dan YHWH adalah Allah yang unggul — karena Ia tidak dapat digantikan oleh keadaan dunia.

B. Ayat-Ayat Kunci

Ayat Teks Makna
Keluaran 3:14-15 "AKU ADALAH AKU... TUHAN (YHWH)... itulah nama-Ku untuk selama-lamanya" Allah memperkenalkan diri sebagai aktivitas
Yohanes 5:17 "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang" Aktivitas Allah terus-menerus
Maleakhi 3:6 "Aku, TUHAN, tidak berubah" Identitas Allah tetap
Yakobus 1:17 "Pada-Nya tidak ada perubahan" Karakter Allah tetap
1 Timotius 6:16 "Yang diam dalam terang yang tak terhampiri" Allah tidak terlihat
Bilangan 23:19 "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia menyesal" Allah tidak menyesal
Ibrani 13:8 "Yesus Kristus tetap sama" Identitas Yesus tetap

C. Penutup

Ketika bukan lagi Allah — itulah nasib Allah-Allah yang identitas-nya** adalah sifat atau gelar yang berdiri sendiri.
Ketika dunia tidak memiliki cinta — God of Love bukan lagi Allah.
Ketika tidak ada yang menyembah — El/Allah bukan lagi Allah.
Ketika tidak ada yang membutuhkan belas kasihan — God of Mercy bukan lagi Allah.

Tetapi YHWH — Allah Alkitab — tetap Allah.
YHWH tetap transenden — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal — bukan sifat atau gelar yang bergantung pada dunia.
YHWH tetap Allah — karena Ia adalah Allah yang menjadi — yang beraktivitas — yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah keunggulan Allah Alkitab yang bernama YHWH — dalam dialog antar agama dan kepercayaan.
Inilah Allah yang tidak pernah bukan lagi Allah — karena identitas-Nya** adalah aktivitas kekal itu sendiri.

---

Mar'ot Echad — Satu Allah, satu kasih, satu keselamatan di dalam Kristus.

Amin.

---

Referensi Alkitab

Perjanjian Lama:

· Kejadian 1:1, 2:19, 17:5
· Keluaran 3:13-15, 3:14-15
· Bilangan 23:19
· 1 Samuel 15:29
· Mazmur 90:2, 102:27
· Yesaya 40:8, 46:10
· Yeremia 10:10
· Maleakhi 3:6

Perjanjian Baru:

· Matius 16:18, 24:35
· Yohanes 1:1, 1:14, 1:18, 5:17, 11:25
· 1 Timotius 6:16
· Ibrani 13:8
· Yakobus 1:17
· 1 Yohanes 4:8

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Kenapa Yesus Di Baptis ?