Bernubuat, Mengusir Setan, Bermujizat demi Nama Yesus — Sebuah Kejahatan? Memeriksa Kembali Matius 7:22-23
Bernubuat, Mengusir Setan, Bermujizat demi Nama Yesus — Sebuah Kejahatan?
Memeriksa Kembali Matius 7:22-23 dalam Terang Definisi Yesus tentang "Percaya"
---
Pendahuluan: Sebuah Pertanyaan yang Mengganggu
Matius 7:22-23 adalah salah satu ayat yang paling sering disalahpahami — dan sekaligus paling sering disalahgunakan. Bunyinya:
"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:22-23)
Pertanyaan yang langsung muncul: Apakah bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mujizat demi nama Yesus adalah kejahatan?
Sekilas, ayat ini tampak mengatakan demikian. Tiga aktivitas yang secara lahiriah adalah pekerjaan ilahi — bernubuat, eksorsisme, dan mujizat — justru disebut sebagai "kejahatan" (ἀνομία / anomia). Mereka yang melakukannya disebut "pembuat kejahatan" dan diusir dari hadirat Kristus.
Namun tafsiran seperti ini menimbulkan masalah serius:
1. Kontradiksi internal — Yesus sendiri mengutus murid-murid-Nya untuk melakukan ketiga hal ini (Matius 10:1, 7-8; Lukas 10:1, 9, 17). Jika ketiganya adalah kejahatan, mengapa Yesus memerintahkannya?
2. Kontradiksi praktis — Jika bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat adalah kejahatan, maka tidak ada satu pun pelayanan Kristen yang sah di muka bumi.
3. Kontradiksi logis — Yesus berkata di ayat lain: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan" (Yohanes 14:12). Jika pekerjaan itu sendiri jahat, maka iman pun menghasilkan kejahatan.
Jelas ada yang salah dengan tafsiran bahwa aktivitas itu sendiri adalah kejahatan. Pertanyaannya bukan apa yang mereka lakukan, tetapi siapa mereka, dan atas dasar apa mereka melakukannya.
Artikel ini akan menunjukkan bahwa Matius 7:22-23 bukan tentang kejahatan dari aktivitas rohani, melainkan tentang kejahatan dari iman yang tidak sejati. Dan untuk memahami ini, kita harus kembali kepada definisi Yesus sendiri tentang apa artinya "percaya kepada-Ku" — sebagaimana telah diuraikan dalam artikel sebelumnya, "Percaya Yesus — menurut Yesus, atau menurut Al-Qur'an?"
---
Bagian 1: Apa yang Bukan Kejahatan dalam Matius 7:22-23
A. Konteks Langsung: Yesus Baru Saja Mengajarkan Tentang Dua Jalan
Matius 7:22-23 tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari penutup Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Mari kita lihat alur argumen Yesus:
Ayat Isi Fungsi
Matius 7:13-14 "Masuklah melalui pintu yang sesak... sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan" Dua jalan: lebar vs sempit
Matius 7:15-20 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" Dua jenis nabi: benar vs palsu
Matius 7:21 "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk..." Dua jenis pengakuan: verbal vs sejati
Matius 7:22-23 "Bukankah kami bernubuat... mengusir setan... mengadakan mujizat..." Dua jenis pelayanan: atas nama-Ku vs oleh-Ku
Matius 7:24-27 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya..." Dua jenis pendengar: pelaku vs pendengar saja
Jadi, Matius 7:22-23 adalah bagian dari serangkaian kontras antara yang lahiriah dan yang sejati. Yesus tidak sedang mengajar bahwa pelayanan adalah kejahatan. Ia sedang mengajar bahwa pelayanan tanpa hubungan yang sejati dengan Dia adalah kejahatan.
B. Kata Kunci: "Aku Tidak Pernah Mengenal Kamu"
Perhatikan bahwa alasan Yesus menolak mereka bukan karena mereka bernubuat, mengusir setan, atau bermujizat. Alasannya adalah:
"Aku tidak pernah mengenal kamu!" (οὐδέποτε ἔγνων ὑμᾶς / oudepote egnō hymas)
Kata "mengenal" (γινώσκω / ginōskō) dalam bahasa Yunani bukan sekadar "tahu tentang" atau "mengetahui keberadaan." Ini adalah pengetahuan relasional yang intim — sama seperti suami "mengenal" istrinya (Kejadian 4:1, LXX menggunakan ginōskō). Ini adalah hubungan pribadi yang hidup, bukan sekadar informasi teologis.
Jadi, masalahnya bukan pada aktivitas mereka, tetapi pada relasi mereka. Mereka melakukan hal-hal yang benar, tetapi tanpa hubungan yang benar dengan Dia yang mereka serukan.
C. Kata Kunci Kedua: "Pembuat Kejahatan" (ἀνομία)
Kata yang diterjemahkan "kejahatan" dalam Matius 7:23 adalah ἀνομία (anomia). Secara harfiah berarti "tanpa hukum" atau "melanggar hukum." Ini bukan kata untuk "dosa" secara umum (ἁμαρτία / hamartia), tetapi secara spesifik pelanggaran terhadap kehendak Allah yang dinyatakan.
Yesus berkata: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 7:21).
Jadi, anomia di sini adalah melakukan pelayanan "demi nama Yesus" sambil mengabaikan kehendak Bapa. Ini adalah kejahatan — bukan karena aktivitasnya, tetapi karena ketidaktaatan yang tersembunyi di balik aktivitas yang tampak saleh.
---
Bagian 2: Definisi Yesus tentang "Percaya" — dan Mengapa Pelayanan Tanpa Iman Sejati adalah Kejahatan
A. Yesus Tidak Pernah Memisahkan "Percaya" dari "Ketaatan"
Dalam artikel sebelumnya, kita telah melihat delapan ukuran "percaya" menurut Yesus:
1. Menaati kehendak Bapa (Matius 7:21)
2. Menerima Yesus sebagai satu-satunya jalan (Yohanes 14:6)
3. Mengasihi Yesus di atas segala sesuatu (Matius 10:37; Yohanes 14:15)
4. Menyangkal diri, memikul salib, mengikut Yesus (Lukas 9:23)
5. Menghasilkan buah (Matius 7:16-19)
6. Tetap tinggal dalam firman-Nya (Yohanes 8:31)
7. Melakukan pekerjaan yang Yesus lakukan (Yohanes 14:12)
8. Tetap setia hingga akhir (Matius 24:13)
Perhatikan bahwa Matius 7:21-23 adalah bagian dari poin pertama: percaya berarti menaati kehendak Bapa. Mereka yang bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat tidak melakukan kehendak Bapa — meskipun mereka menggunakan nama Yesus.
Mengapa? Karena mereka tidak percaya kepada Yesus dalam definisi yang Yesus sendiri tetapkan. Mereka percaya kepada kuasa yang bekerja melalui nama Yesus, tetapi tidak percaya kepada Pribadi yang memiliki nama itu.
B. Iman yang Sejati vs Iman yang Kosong
Yakobus membedakan dua jenis iman:
"Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar." (Yakobus 2:19)
Iman yang hanya mengakui fakta tentang Yesus — bahkan fakta bahwa Dia adalah Tuhan — tidak menyelamatkan. Setan pun tahu Yesus adalah Tuhan. Mereka bahkan "berseru: 'Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?'" (Matius 8:29).
Jadi, bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat "demi nama Yesus" tidak otomatis membuktikan iman yang sejati. Setan dapat berbicara tentang Yesus. Setan dapat mengakui Yesus. Bahkan, setan dapat melakukan "mujizat" — dalam arti tanda-tanda yang menyesatkan (2 Tesalonika 2:9; Wahyu 13:13-14).
Yang membedakan adalah relasi. Yesus berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu." Mereka tidak pernah memiliki hubungan pribadi dengan Dia. Mereka hanya menggunakan nama-Nya.
C. Pelayanan Sebagai Topeng Ketidaktaatan
Mengapa seseorang bisa bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat demi nama Yesus, tetapi tetap disebut "pembuat kejahatan"?
Karena pelayanan dapat menjadi topeng bagi hati yang tidak taat. Yesus mengecam para pemimpin religius pada zaman-Nya dengan kata-kata yang sangat keras:
"Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Matius 15:8-9)
Pelayanan yang tidak lahir dari hati yang taat adalah ibadah yang percuma. Bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat — jika dilakukan tanpa ketaatan kepada kehendak Bapa — adalah anomia, pelanggaran hukum.
---
Bagian 3: Mengapa Aktivitas Itu Sendiri Bukan Kejahatan
A. Yesus Sendiri Memerintahkan Ketiganya
Jika bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat adalah kejahatan, maka Yesus sendiri adalah guru yang mengajarkan kejahatan. Sebab Ia:
1. Mengutus murid-murid untuk bernubuat — "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat" (Matius 10:7)
2. Mengutus murid-murid untuk mengusir setan — "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan" (Matius 10:8)
3. Mengutus murid-murid untuk bermujizat — "Sembuhkanlah orang sakit... dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu" (Lukas 10:9)
Bahkan, Yesus berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu" (Yohanes 14:12).
Jadi, aktivitas itu sendiri adalah baik. Yang membuatnya menjadi kejahatan adalah motif, relasi, dan ketaatan di baliknya.
B. Buah yang Baik Tidak Menyelamatkan Pohon yang Buruk
Yesus berkata: "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:16). Tetapi Ia juga berkata: "Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api" (Matius 7:19).
Pohon yang buruk bisa saja menghasilkan buah yang tampak baik — untuk sementara. Tetapi pada akhirnya, buah itu akan terbukti berasal dari pohon yang buruk. Yudas Iskariot mengusir setan bersama murid-murid lain (Matius 10:1-8), tetapi ia tetap "anak kebinasaan" (Yohanes 17:12).
Jadi, mujizat bukan bukti keselamatan. Mujizat adalah karunia yang dapat diberikan kepada siapa saja — bahkan kepada mereka yang hatinya jauh dari Allah.
C. Karunia Rohani Tanpa Buah Roh
Paulus menulis tentang karunia-karunia rohani yang luar biasa — nubuat, mujizat, dan iman yang memindahkan gunung — dan berkata:
"Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (1 Korintus 13:2)
Karunia rohani tanpa kasih adalah tidak berguna. Dan kasih — kasih yang sejati kepada Kristus — adalah ketaatan: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yohanes 14:15).
Mereka yang bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat dalam Matius 7:22 tidak memiliki kasih kepada Kristus, karena mereka tidak menuruti perintah-Nya. Mereka melakukan banyak hal demi nama-Nya, tetapi mereka tidak mengenal-Nya.
---
Bagian 4: Hubungan dengan Artikel Sebelumnya — "Percaya Yesus Menurut Yesus"
A. Iman yang Didefinisikan oleh Yesus vs Iman yang Didefinisikan bukan oleh Yesus.
Artikel sebelumnya menunjukkan bahwa "percaya Yesus" menurut Yesus adalah penyerahan total — ketaatan, kasih di atas segalanya, penerimaan akan klaim ketuhanan-Nya, dan ketekunan sampai akhir.
Matius 7:22-23 adalah studi kasus sempurna dari mereka yang "percaya Yesus" menurut definisi mereka sendiri — tetapi bukan menurut definisi Yesus.
Mereka percaya bahwa:
· Nama Yesus memiliki kuasa
· Pelayanan demi nama-Nya adalah bukti iman
· Mujizat adalah konfirmasi kebenaran
Tetapi Yesus berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu.
B. Paralel dengan Klaim Islam "Kami Percaya Yesus"
Seorang Muslim berkata: "Kami juga percaya Yesus." Tetapi seperti mereka yang bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat dalam Matius 7:22, seorang Muslim:
1. Menggunakan nama Yesus — Isa al-Masih dihormati sebagai nabi
2. Melakukan "pelayanan" — menyebarkan ajaran tentang Isa
3. Mengakui "mujizat" — Isa menyembuhkan, membangkitkan orang mati (QS. 3:49; 5:110)
Tetapi ia tidak mengenal Yesus yang Yesus perkenalkan. Ia mengenal Isa yang didefinisikan oleh Al-Qur'an — Isa yang tidak mati, tidak bangkit, tidak Tuhan, tidak Mesias yang menderita.
Yesus berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu." Bukan karena mereka tidak melakukan apa-apa demi nama-Nya, tetapi karena mereka tidak percaya kepada-Nya sebagaimana Ia mendefinisikan diri-Nya.
C. Kejahatan Terbesar: Menolak Definisi Yesus tentang Diri-Nya
Dalam Matius 7:22-23, kejahatan (anomia) adalah melakukan pelayanan demi nama Yesus sambil menolak siapa Yesus sebenarnya. Mereka menyebut Dia "Tuhan, Tuhan," tetapi mereka tidak menaati kehendak Bapa — yaitu percaya kepada Dia yang diutus Bapa (Yohanes 6:29).
Yesus berkata: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah" (Yohanes 6:29).
Mereka yang bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat tidak melakukan pekerjaan ini. Mereka melakukan pekerjaan lain — pekerjaan yang tampak lebih spektakuler — tetapi pekerjaan yang tidak dikehendaki Allah, karena tidak lahir dari iman yang sejati.
Demikian pula, seorang Muslim yang berkata "Saya percaya Yesus" tetapi menolak:
· Ketuhanan Yesus
· Kematian Yesus
· Kebangkitan Yesus
· Kemesiasan Yesus
...tidak melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Ia melakukan banyak hal "demi nama Isa," tetapi ia tidak percaya kepada Dia yang telah diutus Allah sebagaimana Dia mendefinisikan diri-Nya.
---
Bagian 5: Kesimpulan — Kejahatan Bukan pada Aktivitas, Tetapi pada Hati
A. Tiga Kesalahan dalam Menafsirkan Matius 7:22-23
Kesalahan Koreksi
"Bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat adalah kejahatan" Ketiganya adalah perintah Yesus dan pekerjaan Roh Kudus. Yang jahat adalah melakukannya tanpa hubungan yang sejati dengan Kristus.
"Mereka diusir karena melakukan hal-hal yang salah" Mereka diusir karena Yesus tidak pernah mengenal mereka. Masalahnya adalah relasi, bukan aktivitas.
"Mujizat membuktikan seseorang benar di hadapan Allah" Mujizat dapat dilakukan oleh nabi palsu (Ulangan 13:1-3; Matius 24:24). Yang membuktikan adalah ketaatan kepada kehendak Bapa.
B. Apa Artinya "Mengenal" Yesus?
Yesus berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu." Mengenal Yesus bukanlah:
· Tahu tentang Yesus
· Memakai nama Yesus
· Melayani demi nama Yesus
· Melakukan mujizat demi nama Yesus
Mengenal Yesus adalah:
· Percaya kepada-Nya sebagaimana Ia mendefinisikan diri-Nya
· Menaati kehendak Bapa — yaitu percaya kepada Dia yang diutus Bapa
· Mengasihi Dia di atas segala sesuatu
· Tetap tinggal dalam firman-Nya
· Menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan
C. Panggilan untuk Memeriksa Diri
Matius 7:22-23 bukan hanya peringatan bagi mereka yang jelas-jelas menolak Yesus. Ini adalah peringatan bagi semua orang yang menggunakan nama Yesus — termasuk mereka yang rajin beribadah, aktif melayani, dan bahkan melakukan mujizat.
Pertanyaannya bukan: "Apakah saya melakukan banyak hal demi nama Yesus?"
Pertanyaannya adalah: "Apakah Yesus mengenal saya?"
Dan Yesus mengenal mereka yang percaya kepada-Nya menurut definisi-Nya sendiri — bukan menurut definisi yang kita buat sendiri, bukan menurut definisi yang dibuat oleh kitab lain, bukan menurut definisi yang dibuat oleh tradisi.
D. Penutup: Anomia yang Paling Tragis
Kejahatan (anomia) yang paling tragis bukanlah dosa yang dilakukan oleh orang yang jauh dari Yesus. Kejahatan yang paling tragis adalah pelayanan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dekat dengan Yesus, tetapi tidak pernah dikenal oleh-Nya.
Mereka berkata: "Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?"
Dan Yesus akan berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:22-23)
Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.
---
Penutup: Definisi yang Tidak Bisa Diubah
Matius 7:22-23 mengajarkan kita bahwa aktivitas rohani tidak pernah menggantikan relasi yang sejati. Bernubuat, mengusir setan, dan bermujizat — semuanya adalah pekerjaan yang baik dan benar. Tetapi jika dilakukan tanpa mengenal Yesus — yaitu, tanpa percaya kepada-Nya sebagaimana Ia mendefinisikan diri-Nya — maka semuanya itu menjadi anomia, pelanggaran hukum.
Yesus tidak pernah menerima iman yang setengah-setengah. Ia tidak menerima pengakuan "Tuhan, Tuhan" tanpa ketaatan. Ia tidak menerima penghormatan sebagai nabi saja — Ia menuntut pengakuan sebagai Tuhan. Ia tidak menerima jalan alternatif — Ia menyatakan diri-Nya satu-satunya jalan.
Dan Ia tidak menerima pelayanan yang dilakukan demi nama-Nya jika pelayanan itu tidak lahir dari iman kepada-Nya sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya.
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21)
"Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yohanes 6:29)
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)
Itulah definisi Yesus. Dan definisi itu tidak bisa diubah — baik oleh tradisi, maupun oleh kitab lain.
---
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar