Validasi Septuaginta Termasuk Deuterokanonikanya, Pendekatan Koinsiden: Situasi dan Kondisi sebagai Bukti Historis
Validasi Septuaginta Termasuk Deuterokanonikanya
Pendekatan Koinsiden: Situasi dan Kondisi sebagai Bukti Historis
---
Pendahuluan
Ketika kita membahas kanon Alkitab, sering kali kita terjebak pada kategori yang terbentuk belakangan — kanon rabinik, kanon Katolik, kanon Protestan — lalu membacanya kembali ke abad pertama. Padahal, pertanyaan yang lebih jujur adalah: apa yang benar-benar beredar, dipakai, dan diakui pada masa Yesus dan para murid?
Artikel ini mengajukan pendekatan yang berbeda: validasi melalui koinsiden — yakni kesesuaian antara situasi, kondisi, perayaan, pengajaran, dan kutipan yang hanya masuk akal jika Septuaginta (termasuk kitab-kitab deuterokanonikanya) memang digunakan dan diakui.
---
1. Masalah Metodologis: Anakronisme "Rabinik"
Sering dikatakan bahwa kitab-kitab deuterokanonika "ditolak" karena tidak masuk kanon rabinik. Tapi ini anakronistik:
· Yudaisme rabinik belum ada pada masa Yesus. Ia baru terbentuk setelah kejatuhan Yerusalem (70 M) dan konsolidasi di Yavneh (~90–100 M).
· Yang ada pada masa Yesus adalah Sanhedrin, Bait Suci, dan berbagai aliran (Farisi, Saduki, Eseni, Zelot) — bukan otoritas kanon tunggal.
· Kanon Ibrani belum ditetapkan secara formal pada abad pertama.
Maka, berbicara tentang "penolakan rabinik" terhadap kitab-kitab tertentu sebelum otoritas itu ada adalah kesalahan historis.
---
2. Koinsiden Pertama: Perayaan Hanukkah (Yohanes 10:22)
"Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem. Ketika itu musim dingin." (Yoh 10:22)
Fakta:
· Hanukkah tidak ada dalam Tanakh.
· Dasar peristiwanya tercatat dalam 1 dan 2 Makabe — kitab deuterokanonika.
· Yesus menghadiri perayaan ini dan mengajar di Bait Allah saat itu (ay. 23–30).
Koinsiden:
· Jika Yesus menolak kitab-kitab di luar Tanakh, mengapa Ia menghadiri perayaan yang bersumber dari kitab itu?
· Jika Ia hanya "lewat", mengapa Ia justru memakai momen itu untuk menyatakan klaim tertinggi tentang diri-Nya ("Aku dan Bapa adalah satu", ay. 30)?
Kesimpulan:
Kehadiran dan pengajaran Yesus saat Hanukkah adalah koinsiden yang sulit dijelaskan jika Ia menolak otoritas kitab-kitab deuterokanonika.
---
3. Koinsiden Kedua: "Mesias Harus Menderita"
Yesus berulang kali mengajarkan bahwa Mesias harus menderita:
· Matius 16:21 — "Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan..."
· Markus 8:31 — "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan..."
· Lukas 9:22 — "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan..."
· Lukas 24:26 — "Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu...?"
Pertanyaan kritis:
Kitab mana yang memuat konsep "Mesias/orang benar harus menderita"?
Kitab Memuat konsep?
Yesaya 53 ✅
Mazmur 22 ✅
Mazmur 69 ✅
Zakharia 12:10 ✅
Kebijaksanaan Salomo 2 ✅
Koinsiden:
· Konsep ini tidak ada di banyak kitab Tanakh.
· Kebijaksanaan Salomo 2:12–20 adalah salah satu teks paling eksplisit yang menggambarkan:
· Orang benar disebut "anak Allah"
· Ia ditolak oleh orang fasik
· Ia diuji dan disiksa
· Ia dibunuh dengan cara memalukan
· Para pengejek menantang: "Jika ia benar-benar anak Allah, Allah akan menolongnya"
Jika Yesus mengajarkan konsep yang hanya ada di beberapa kitab, dan Kebijaksanaan Salomo adalah salah satunya, maka mengapa ia dikecualikan?
---
4. Koinsiden Ketiga: Pengejek di Salib (Matius 27:40–43)
"Ia menyelamatkan orang lain, tetapi Ia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri! ... Ia percaya kepada Allah, baiklah Allah menyelamatkannya, kalau Ia menghendakinya, sebab Ia berkata: Akulah Anak Allah." (Mat 27:42–43)
Bandingkan dengan Kebijaksanaan Salomo 2:17–20:
"Marilah kita lihat apakah perkataannya benar... Jika orang benar itu benar-benar anak Allah, maka Allah akan menolongnya dan melepaskan dia dari tangan lawannya."
Koinsiden:
· Frasa "anak Allah"
· Tantangan "biarlah Allah menolongnya"
· Konteks penolakan dan penderitaan orang benar
· Nada ejekan yang identik
Ini bukan paralel dangkal — ini paralel frasa dan struktur.
---
5. Koinsiden Keempat: Yesus sebagai Pengajar Hikmat
Yesus adalah pengajar hikmat:
· Perumpamaan
· Aforisme
· Beatitudes
· Kontras "orang bijak vs orang bodoh"
Genre ini persis sama dengan:
· Amsal
· Sirakh
· Kebijaksanaan Salomo
Koinsiden:
· Jika Yesus mengajar dalam genre hikmat, dan Kebijaksanaan Salomo adalah kitab hikmat yang beredar luas di diaspora...
· Mengapa kita mengasumsikan Ia menolaknya?
· Terlebih, tidak ada bukti Ia menolak kitab hikmat mana pun.
---
6. Koinsiden Kelima: Konteks Diaspora
· Timotius dibesarkan oleh ibu Yahudi di Listra (Kis 16:1) — wilayah diaspora.
· Paulus mengatakan Timotius mengenal "Kitab Suci" sejak kecil (2 Tim 3:15).
· Di sinagoga diaspora, Septuaginta adalah teks yang digunakan.
Koinsiden:
· Jika Timotius mengenal Kitab Suci dari kecil di diaspora, maka Kitab Suci itu adalah Septuaginta.
· Jika Septuaginta memuat kitab-kitab deuterokanonika, maka Timotius mengenalnya.
· Jika Paulus menyebutnya "Kitab Suci", maka ia tidak mengecualikannya.
---
7. Koinsiden Keenam: Kutipan PB yang Mengikuti LXX
Mayoritas kutipan Perjanjian Lama dalam PB mengikuti Septuaginta, bukan Masoretik. Contoh:
· Yesaya 7:14 — LXX: parthenos ("perawan"), Masoretik: almah ("gadis muda")
· Mazmur 40:6 — LXX: "tubuh", Masoretik: "telinga"
· Amos 9:11–12 — dikutip di Kisah 15:16–17 mengikuti LXX
Koinsiden:
· Jika PB mengutip LXX, maka penulis PB menerima LXX sebagai otoritatif.
· Jika LXX otoritatif, maka kitab-kitab di dalamnya tidak otomatis ditolak.
---
8. Koinsiden Ketujuh: Temuan Qumran
Qumran menunjukkan bahwa:
· Kitab-kitab di luar kanon rabinik beredar dan dianggap penting (Tobit, Sirakh, Henokh, Yobel)
· Ada versi Semitik untuk beberapa kitab deuterokanonika
· Kanon belum tertutup pada abad pertama
Koinsiden:
· Jika kitab-kitab ini beredar dan dipakai, maka tidak ada alasan otomatis untuk menolaknya.
· Jika Yesus hidup dalam konteks itu, maka Ia tidak beroperasi dengan kategori kanon yang belum ada.
---
9. Sintesis: Validasi melalui Koinsiden
Koinsiden Menunjuk pada
Hanukkah (Yoh 10:22) Penerimaan tradisi dari kitab deuterokanonika
"Mesias harus menderita" Dasar referensi dari Yesaya 53, Mzm 22, Kebijaksanaan Salomo 2
Pengejek di salib (Mat 27:40–43) Paralel frasa dengan Kebijaksanaan Salomo 2:17–20
Yesus sebagai pengajar hikmat Genre yang sama dengan Kebijaksanaan Salomo
Konteks diaspora (2 Tim 3:15) Penggunaan Septuaginta
Kutipan PB mengikuti LXX Otoritas Septuaginta
Temuan Qumran Kanon belum tertutup
Kesimpulan:
Koinsiden-koinsiden ini saling menguatkan. Tidak ada satu pun yang cukup sendiri, tapi bersama-sama mereka membentuk pola yang sulit dibantah:
Yesus dan komunitas awal hidup dalam dunia di mana Septuaginta — termasuk kitab-kitab deuterokanonikanya — beredar, dipakai, dan diakui.
---
10. Penutup: Beban Pembuktian
Jika seseorang mengklaim bahwa Yesus menolak Kebijaksanaan Salomo atau kitab deuterokanonika lainnya, maka beban pembuktian ada padanya, karena:
1. Tidak ada pernyataan eksplisit Yesus yang menolaknya
2. Tidak ada otoritas kanon yang berlaku saat itu untuk menolaknya
3. Ada koinsiden yang justru menunjuk pada penerimaannya
4. Ada paralel tekstual yang kuat dengan pengajaran Yesus
Sebaliknya, mereka yang mengklaim validitas Septuaginta termasuk deuterokanonikanya memiliki dasar:
· Historis (penggunaan LXX)
· Tekstual (manuskrip, kutipan PB)
· Koinsidental (situasi, perayaan, pengajaran)
· Patristik (penggunaan oleh Bapa Gereja)
---
Kesimpulan Akhir
Validitas Septuaginta termasuk deuterokanonikanya tidak perlu dibuktikan dengan dekrit kanon yang belum ada, melainkan dengan koinsiden — kesesuaian antara situasi, kondisi, perayaan, pengajaran, dan kutipan yang hanya masuk akal jika kitab-kitab itu memang digunakan dan diakui oleh Yesus dan komunitas awal.
---
Artikel ini disusun dengan pendekatan historis-tekstual, bukan untuk membela satu tradisi kanon tertentu, melainkan untuk menguji asumsi yang sering tidak dipertanyakan.
Soli Deo Gloria
Komentar
Posting Komentar