BAHASA ASLI BUKAN YANG UTAMA, TEOLOGI PENERJEMAHAN KRISTEN

TEOLOGI PENERJEMAHAN KRISTEN: MENGAPA BAHASA ASLI BUKAN YANG TERUTAMA

Sebuah Analisis Hermeneutis, Historis, dan Teologis

---

PENDAHULUAN: PERGESERAN PARADIGMA

Dalam tradisi Islam, Yudaisme, dan beberapa tradisi lain, bahasa asli kitab suci bersifat sakral dan tidak dapat diganggu gugat:

Tradisi Sikap terhadap Bahasa Asli
Islam Al-Qur'an hanya sah dalam bahasa Arab; terjemahan = "tafsir," bukan Al-Qur'an
Yudaisme Taurat harus dibaca dalam bahasa Ibrani; penerjemahan = risiko distorsi
Zoroastrianisme Avesta dibaca dalam bahasa Avestan kuno
Hinduisme Veda dalam bahasa Sanskerta; terjemahan = kehilangan kekuatan mantra

Kekristenan berbeda secara fundamental.

Tesis Artikel Ini:
Bagi Kekristenan, Allah pertama-tama adalah Allah yang HADIR, bukan Allah yang bernama. Bahasa asli bukan yang utama; yang utama adalah pergerakan manusia kembali kepada Tuhan melalui apa yang diterima — baik dari bacaan maupun penjelasan bacaan.

---

BAGIAN I: MENGAPA BAHASA ASLI BUKAN YANG TERUTAMA

1.1 Preseden Alkitabiah: Tuhan Berbicara dalam Bahasa Manusia

Fakta Alkitabiah:

Peristiwa Bahasa Referensi
Taurat Ibrani Keluaran 24:12
Injil Yunani Koine Matius, Markus, Lukas, Yohanes
Kisah Para Rasul Yunani Kisah 1:1
Surat Paulus Yunani Roma 1:1
Wahyu Yunani Wahyu 1:1

Implikasi:

· Jika Allah ingin bahasa asli menjadi yang utama, Ia akan memilih satu bahasa untuk seluruh Alkitab
· Namun, Ia memilih Ibrani, Aram, dan Yunani — tiga bahasa berbeda
· Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan yang utama; pesan yang utama

1.2 Preseden Pentakosta: Bahasa Manusia sebagai Wahana

Kisah Para Rasul 2:1-11:

"Ketika tiba hari Pentakosta... mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain... orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libya, Roma, Kreta, Arab — mereka semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."

Analisis:

Elemen Signifikansi
Bahasa-bahasa lain Allah menggunakan bahasa manusia
Setiap orang mendengar Dalam bahasa ibu mereka
Perbuatan besar Allah Pesan, bukan bahasa
Tidak ada bahasa sakral Semua bahasa setara

Kesimpulan: Pentakosta adalah pembalikan Babel — Allah memberkati keragaman bahasa, bukan mengutuknya.

1.3 Yesus dan Bahasa Sehari-hari

Fakta:

· Yesus berbicara dalam Aram (bahasa sehari-hari Galilea)
· Ia mengutip Septuaginta (Yunani) — bukan hanya Ibrani
· Ia menggunakan perumpamaan dari kehidupan sehari-hari
· Ia tidak pernah menuntut bahasa Ibrani sebagai syarat

Referensi:

· Markus 5:41 — "Talita kumi" (Aram) — Yesus menggunakan bahasa sehari-hari
· Markus 15:34 — "Eloi, Eloi, lama sabakhtani" (Aram) — Yesus berseru dalam bahasa ibu
· Matius 5:1-12 — Khotbah di Bukit dalam bahasa yang dapat dipahami rakyat
· Lukas 4:16-21 — Yesus membaca Yesaya (mungkin dalam Septuaginta Yunani)

Kesimpulan: Yesus tidak mengutamakan bahasa asli; Ia mengutamakan komunikasi.

1.4 Paulus dan Prinsip Kontekstualisasi

1 Korintus 9:19-23:

"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat... Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat... Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang."

Analisis:

Prinsip Implikasi
Menjadi segala-galanya Fleksibilitas budaya
Memenangkan orang Tujuan: hubungan, bukan bahasa
Kontekstualisasi Pesan disesuaikan dengan pendengar
Tidak ada bahasa sakral Semua bahasa dapat digunakan

Kesimpulan: Paulus tidak mengutamakan bahasa asli; ia mengutamakan jangkauan.

---

BAGIAN II: ALLAH YANG HADIR — BUKAN ALLAH YANG BERNAMA

2.1 Prioritas Alkitabiah: Kehadiran Sebelum Nama

Keluaran 3:12-15:

"Firman-Nya: 'Aku akan menyertai engkau (Ehyeh imakh)...' Tetapi Musa berkata kepada Allah: 'Apabila aku menghadap orang Israel dan berkata: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya: Apa nama-Nya? — apakah yang harus kukatakan kepada mereka?' Allah berfirman kepada Musa: 'Ehyeh asher Ehyeh (Aku adalah Aku)...'"

Urutan Prioritas:

Prioritas Teks Fokus
1 Keluaran 3:12 "Aku akan menyertai engkau" — kehadiran
2 Keluaran 3:14 "Ehyeh asher Ehyeh" — hakikat
3 Keluaran 3:15 "YHWH... nama-Ku" — nama

Kesimpulan: Allah memperkenalkan kehadiran-Nya terlebih dahulu, baru nama-Nya.

2.2 Allah yang Hadir dalam Pergulatan Ciptaan

Referensi Alkitabiah:

Teks Allah yang Hadir
Kejadian 3:8 Berjalan di taman mencari Adam
Kejadian 4:9 Bertanya kepada Kain
Kejadian 6:5-8 Melihat kejahatan, menyesal
Keluaran 2:23-25 Mendengar keluhan, mengingat perjanjian
Keluaran 3:7-8 "Aku telah memperhatikan... Aku telah turun untuk menyelamatkan"
Mazmur 34:18 "TUHAN dekat pada orang yang patah hati"
Mazmur 145:18 "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru"
Yesaya 57:15 "Tinggal bersama orang yang remuk dan rendah hati"
Hosea 11:8 "Hati-Ku berbalik, belas kasihan-Ku bangkit"
Yohanes 1:14 "Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita"

Analisis:

Elemen Ibrani/Yunani Arti
Menyertai עִמָּנוּ (immanu) Bersama
Dekat קָרוֹב (qarov) Hampir
Tinggal שָׁכַן (shakhan) Berdiam
Diam ἐσκήνωσεν (eskenosen) Mendirikan kemah
Imanuel עִמָּנוּאֵל (Immanu'el) Allah beserta kita

Kesimpulan: Allah Alkitab adalah Allah yang hadir — dalam pergulatan, penderitaan, dan kegembiraan ciptaan-Nya.

2.3 Allah yang Memperkenalkan Diri dalam Relasi

Referensi Alkitabiah:

Relasi Teks Makna
Bapa Keluaran 4:22; Mazmur 103:13; Yeremia 31:9; Matius 6:9 Hubungan keluarga
Suami Hosea 2:16-20; Yesaya 54:5 Hubungan perjanjian
Gembala Mazmur 23:1; Yohanes 10:11 Hubungan pemeliharaan
Penyelamat Yesaya 43:11; Titus 2:13 Hubungan pembebasan
Raja Mazmur 47:2; 1 Timotius 1:17 Hubungan otoritas
Bapa Roma 8:15; Galatia 4:6 Hubungan adopsi
Sahabat Yohanes 15:15 Hubungan intim

Kesimpulan: Allah memperkenalkan diri dalam relasi — bukan dalam nama yang harus diucapkan dengan benar.

2.4 Nama sebagai Akibat, Bukan Sebab

Analisis:

Urutan Teks Fokus
1 Allah hadir Kejadian 3:8
2 Allah bertindak Keluaran 3:7-8
3 Allah memperkenalkan diri Keluaran 3:14
4 Allah memberi nama Keluaran 3:15

Kesimpulan: Nama adalah akibat dari kehadiran dan tindakan, bukan sebaliknya.

---

BAGIAN III: BAHASA ASLI BUKAN YANG UTAMA — BUKTI HISTORIS

3.1 Sejarah Penerjemahan Alkitab

Terjemahan Tahun Bahasa Signifikansi
Septuaginta (LXX) ~250 SM Yunani Alkitab Ibrani diterjemahkan
Targum ~100 SM Aram Taurat diterjemahkan
Peshitta ~200 M Suryani Alkitab diterjemahkan
Vulgata ~400 M Latin Jerome menerjemahkan
Wulfila Bible ~350 M Gotik Alkitab diterjemahkan
Alkitab Wycliffe ~1382 Inggris Terjemahan pertama
Alkitab Tyndale ~1526 Inggris Dari bahasa asli
KJV 1611 Inggris Terjemahan otoritatif
Alkitab Luther 1534 Jerman Terjemahan Jerman
Alkitab Douay-Rheims 1610 Inggris Katolik

Implikasi: Kekristenan selalu menerjemahkan — tidak ada bahasa sakral.

3.2 Sikap Bapa Gereja terhadap Bahasa

Bapa Gereja Pandangan
Origenes Menggunakan Hexapla — 6 versi Alkitab
Jerome "Ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus"
Agustinus "Alkitab ditulis untuk semua orang"
Klemens Aleksandria "Filsafat Yunani adalah persiapan Injil"
Yohanes Krisostomus "Paulus berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami"
Gregorius Agung "Kitab Suci harus dibaca dalam bahasa rakyat"

Kutipan Jerome (Prologus Galeatus):

"Kita tidak perlu mengikuti kebiasaan orang Yahudi; kita membaca Kitab Suci dalam bahasa kita sendiri."

3.3 Reformasi Protestan dan Bahasa Rakyat

Prinsip Reformasi:

Prinsip Penjelasan
Sola Scriptura Hanya Kitab Suci
Tota Scriptura Seluruh Kitab Suci
Sacra Scriptura Kitab Suci yang kudus
Dalam bahasa rakyat Dapat dipahami semua orang

Tokoh Reformasi:

Tokoh Kontribusi
Martin Luther Menerjemahkan Alkitab ke Jerman
William Tyndale Menerjemahkan Alkitab ke Inggris
John Wycliffe Menerjemahkan Alkitab ke Inggris
Jan Hus Menerjemahkan Alkitab ke Ceko
Erasmus Menerbitkan Perjanjian Baru Yunani
Calvin Institusi — teologi dalam bahasa rakyat

Kutipan Luther:

"Alkitab harus dibaca dalam bahasa ibu setiap orang, agar firman Allah dapat tinggal di hati mereka."

3.4 Misi Modern dan Penerjemahan

Lembaga Fokus Terjemahan
Wycliffe Bible Translators Semua bahasa 700+ bahasa
SIL International Bahasa minoritas 1.700+ bahasa
United Bible Societies Bahasa global 500+ bahasa
Biblica Bahasa global 100+ bahasa
Lembaga Alkitab Indonesia Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia

Prinsip Misi:

· Setiap orang berhak membaca Alkitab dalam bahasa ibunya
· Tidak ada bahasa yang lebih sakral dari yang lain
· Pesan Injil harus dapat dipahami

---

BAGIAN IV: HERMENEUTIKA KRISTEN — APA YANG DITERIMA

4.1 Prinsip Hermeneutika Kristen

Prinsip Penjelasan
Kontekstual Dibaca dalam konteks
Kristosentris Berpusat pada Kristus
Komunal Dibaca dalam komunitas
Dinamis Makna berkembang
Praktis Diterapkan dalam hidup

4.2 Peran Roh Kudus dalam Pembacaan

Yohanes 16:13:

"Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran."

1 Korintus 2:10-14:

"Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh... Roh menyelidiki segala sesuatu... Kita tidak menerima roh dunia, tetapi Roh yang berasal dari Allah, supaya kita dapat mengetahui apa yang diberikan kepada kita oleh Allah."

Analisis:

Elemen Peran
Roh Kudus Guru
Pembaca Murid
Teks Alat
Komunitas Konteks
Kristus Pusat

Kesimpulan: Pembacaan Alkitab adalah peristiwa rohani, bukan sekadar analisis linguistik.

4.3 Apa yang Diterima — Bukan Apa yang Ditulis

Pergeseran Fokus:

Fokus Lama Fokus Baru
Apa yang ditulis Apa yang diterima
Bahasa asli Bahasa pembaca
Huruf Makna
Teks Konteks
Analisis Aplikasi
Informasi Transformasi

Kutipan:

Agustinus (De Doctrina Christiana):

"Siapa yang membaca Alkitab dan tidak memahami kasih Allah, tidak memahami apa pun."

Luther:

"Alkitab adalah buaian Kristus. Kita membaca untuk menemukan Kristus."

Barth:

"Alkitab adalah saksi manusiawi terhadap wahyu ilahi. Kita membaca untuk mendengar firman Allah."

4.4 Pergerakan Manusia kepada Tuhan

Filipi 3:12-14:

"Bukan seolah-olah aku telah memperolehnya atau telah menjadi sempurna, tetapi aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Analisis:

Elemen Yunani Arti
Mengejar διώκω (dioko) Berlari menuju
Menangkap καταλαμβάνω (katalambano) Memahami
Ditangkap κατελήμφθην (katelēmphthēn) Diambil
Melupakan ἐπιλανθάνομαι (epilanthanomai) Melepas
Mengarahkan ἐπεκτείνομαι (epekteinomai) Merentangkan
Berlari τρέχω (trecho) Berlari

Kesimpulan: Kekristenan adalah pergerakan menuju Tuhan — bukan pemujaan bahasa.

---

BAGIAN V: IMPLIKASI PRAKTIS

5.1 Sikap terhadap Terjemahan

Sikap Penjelasan
Terbuka Semua terjemahan berguna
Kritis Diuji dengan teks asli
Kontekstual Disesuaikan dengan pembaca
Dinamis Diperbarui sesuai kebutuhan
Doa Dibaca dengan Roh

Praktik:

· Membaca berbagai terjemahan
· Membandingkan versi
· Menggunakan alat bantu
· Berdoa sebelum membaca
· Berdiskusi dalam komunitas

5.2 Sikap terhadap Bahasa Asli

Sikap Penjelasan
Menghargai Bahasa asli berharga
Tidak Menyembah Bukan yang utama
Menggunakan Sebagai alat bantu
Tidak Mutlak Bukan satu-satunya
Kontekstual Diterjemahkan

Kutipan:

Erasmus:

"Aku ingin Alkitab diterjemahkan ke dalam semua bahasa, agar dapat dibaca oleh semua orang."

Tyndale:

"Jika Allah mengizinkan aku hidup, aku akan membuat anak laki-laki yang membajak mengetahui Kitab Suci lebih baik dari pada pendeta."

5.3 Sikap terhadap Nama Ilahi

Sikap Penjelasan
Fokus pada Makna Karakter Allah
Bukan Fonem Bukan pengucapan
Relasional Bapa, Penyelamat
Hadir Imanuel
Diterjemahkan Dalam bahasa pembaca

Praktik:

· Menggunakan "Tuhan" dalam bahasa Indonesia
· Menggunakan "Lord" dalam bahasa Inggris
· Menggunakan "Bapa" dalam doa
· Fokus pada karakter Allah
· Hidup sesuai nama-Nya

5.4 Sikap terhadap Tradisi

Sikap Penjelasan
Menghargai Tradisi berharga
Tidak Mutlak Bukan yang utama
Diuji Dengan Kitab Suci
Kontekstual Disesuaikan
Dinamis Berkembang

Kutipan:

Vincent of Lerins:

"Kita harus berpegang pada apa yang dipercaya di mana-mana, selalu, oleh semua orang."

Namun:

"Tradisi adalah alat, bukan tujuan. Kristus adalah tujuan."

---

BAGIAN VI: PERBANDINGAN DENGAN TRADISI LAIN

6.1 Islam

Aspek Islam Kristen
Bahasa asli Arab — sakral Ibrani/Yunani — netral
Terjemahan Tafsir — bukan Al-Qur'an Alkitab — tetap Alkitab
Pengucapan Harus benar Tidak mutlak
Nama Allah 99 nama — harus benar Nama — karakter
Fokus Teks Hubungan

6.2 Yudaisme

Aspek Yudaisme Kristen
Bahasa asli Ibrani — sakral Ibrani — berharga
Terjemahan Targum — tidak sakral Alkitab — tetap Alkitab
Pengucapan YHWH — tidak diucapkan YHWH — tidak mutlak
Nama Allah 7 nama — kudus Nama — karakter
Fokus Taurat Kristus

6.3 Hinduisme

Aspek Hinduisme Kristen
Bahasa asli Sanskerta — sakral Ibrani/Yunani — netral
Terjemahan Tidak sakral Netral
Pengucapan Mantra — harus benar Doa — tidak mutlak
Nama Dewa Banyak — harus benar Nama — karakter
Fokus Mantra Hubungan

---

BAGIAN VII: KESIMPULAN

7.1 Ringkasan Argumen

1. Alkitabiah: Allah berbicara dalam berbagai bahasa; Pentakosta memberkati keragaman bahasa.
2. Teologis: Allah pertama-tama adalah Allah yang hadir, bukan yang bernama.
3. Relasional: Allah memperkenalkan diri dalam relasi (Bapa, Penyelamat), bukan dalam fonem.
4. Historis: Kekristenan selalu menerjemahkan — tidak ada bahasa sakral.
5. Hermeneutis: Yang utama adalah apa yang diterima, bukan apa yang ditulis.
6. Praktis: Fokus pada pergerakan menuju Tuhan, bukan pemujaan bahasa.

7.2 Tesis Final

Bagi Kekristenan:

1. Allah pertama-tama adalah Allah yang HADIR — dalam pergulatan ciptaan-Nya
2. Allah memperkenalkan diri dalam RELASI — Bapa, Penyelamat, Gembala
3. Allah baru kemudian BERNAMA — nama adalah akibat, bukan sebab
4. Bahasa asli BUKAN yang utama — yang utama adalah pergerakan manusia kepada Tuhan
5. Yang utama adalah apa yang DITERIMA — dari bacaan dan penjelasan bacaan
6. Tidak ada bahasa yang sakral — semua bahasa dapat menjadi wahana firman Allah

7.3 Panggilan

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)

"Aku adalah Aku" (Ehyeh asher Ehyeh) — Allah yang hadir, yang menyertai, yang menyelamatkan.

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yohanes 1:14)

"Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada." (Kisah 17:28)

---

LAMPIRAN: REFERENSI LENGKAP

A. Alkitab dan Terjemahan

1. Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS).
2. Septuaginta, ed. A. Rahlfs.
3. Novum Testamentum Graece (Nestle-Aland 28).
4. Tanakh: The Holy Scriptures, JPS.
5. New Revised Standard Version.
6. New International Version.
7. King James Version.
8. Terjemahan Baru (LAI).

B. Teologi dan Hermeneutika

9. Agustinus. De Doctrina Christiana.
10. Barth, K. Church Dogmatics.
11. Brueggemann, W. Theology of the Old Testament.
12. Fee, G. D. New Testament Exegesis.
13. Goldingay, J. Models for Scripture.
14. Kaiser, W. C. Toward an Exegetical Theology.
15. Osborne, G. R. The Hermeneutical Spiral.
16. Thiselton, A. C. Hermeneutics: An Introduction.
17. Vanhoozer, K. J. Is There a Meaning in This Text?.
18. Wright, N. T. Scripture and the Authority of God.

C. Sejarah Penerjemahan

19. Bruce, F. F. The Books and the Parchments.
20. Metzger, B. M. The Bible in Translation.
21. Nida, E. A. Toward a Science of Translating.
22. Nida, E. A., & Taber, C. R. The Theory and Practice of Translation.
23. Ryken, L. The Word of God in English.

D. Studi tentang Nama Ilahi

24. Mettinger, T. N. D. In Search of God.
25. Freedman, D. N. "The Name of God in the Bible."
26. Cross, F. M. Canaanite Myth and Hebrew Epic.
27. Albright, W. F. From the Stone Age to Christianity.

E. Misi dan Kontekstualisasi

28. Bosch, D. J. Transforming Mission.
29. Hesselgrave, D. J. Communicating Christ Cross-Culturally.
30. Kraft, C. H. Christianity in Culture.
31. Lingenfelter, S. G. Agents of Transformation.
32. Walls, A. F. The Missionary Movement in Christian History.

F. Jurnal

33. Journal of Biblical Literature (JBL).
34. The Bible Translator.
35. Missiology: An International Review.
36. International Bulletin of Missionary Research.

---

EPILOG: PERTANYAAN REFLEKTIF

1. Apakah kita telah menyembah bahasa, bukan Allah?
2. Apakah kita telah menjadikan teks sebagai berhala?
3. Apakah kita telah melupakan Allah yang hadir?
4. Apakah kita telah mengabaikan relasi dengan Tuhan?
5. Apakah kita telah menolak terjemahan yang dapat membawa orang kepada Tuhan?

"Roh dan kebenaran" — bukan huruf dan bahasa.

"Imanuel" — Allah beserta kita.

"Ehyeh asher Ehyeh" — Aku adalah Aku.

Soli Deo Gloria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Kenapa Kristen Kalau Yesus Yahudi ?