Orang Kristen Bebas Berbuat Dosa? Sebuah Pertanyaan yang Tampak Sederhana, tetapi Menjebak
Orang Kristen Bebas Berbuat Dosa?
Serial Siapa Yang Mati di Salib
- - -
Sebuah Pertanyaan yang Tampak Sederhana, tetapi Menjebak
Ada tiga pertanyaan yang sering diajukan kepada orang Kristen — dan yang ketiga hampir selalu membuat bingung:
1. "Apakah salib menghapus dosa dan menebus manusia?" — Ya.
2. "Jadi apakah orang Kristen yang berdosa juga diselamatkan?" — Ya.
3. "Berarti orang Kristen bebas berbuat dosa?" — ...?
Di titik ketiga, banyak orang Kristen terdiam. Ada yang menjawab "tidak" tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa. Ada yang menjawab "ya" tetapi tahu itu salah. Ada yang mencoba menjawab dengan aturan-aturan, tetapi aturan-aturan itu terasa seperti tambalan yang tidak menyelesaikan masalah.
Artikel ini berargumen bahwa pertanyaan itu sendiri mengandung kerangka yang salah — dan jawabannya bukan dengan memperbaiki kerangka itu, melainkan dengan menggantinya. Kerangka yang benar bukanlah hukum, melainkan relasi.
---
I. Mengapa Pertanyaan Itu Terasa Seperti Jebakan
Pertanyaan ketiga terasa menjebak karena ia dibangun di atas silogisme yang tampak logis:
Premis 1: Salib menghapus dosa orang Kristen.
Premis 2: Orang Kristen masih berdosa.
Kesimpulan: Orang Kristen bebas berbuat dosa.
Silogisme ini terasa tidak terbantahkan — dan justru karena itu, banyak orang Kristen terjebak. Mereka mencoba menjawab di dalam kerangka yang sama, sehingga jawaban mereka selalu tampak tidak konsisten:
· Kalau mereka berkata "tidak bebas," mereka tampak menyangkal anugerah.
· Kalau mereka berkata "bebas," mereka tampak membenarkan dosa.
· Kalau mereka berkata "bebas tetapi tidak boleh," mereka tampak tidak konsisten.
Masalahnya bukan pada jawabannya, tetapi pada kerangkanya. Kerangka itu adalah kerangka hukum — dan kerangka hukum tidak pernah bisa menjelaskan anugerah.
---
II. Kerangka Hukum dan Keterbatasannya
Kerangka hukum memperlakukan keselamatan sebagai transaksi:
Dosa = utang.
Salib = pembayaran.
Lunas = bebas.
Kalau begitu, maka pertanyaan ketiga memang tidak terhindarkan: kalau utang sudah lunas, mengapa tidak boleh berutang lagi?
Tetapi Alkitab tidak pernah memperlakukan keselamatan sebagai transaksi yang selesai begitu saja. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion (III.11.1) menulis:
"Kita tidak dibenarkan oleh ketaatan kita, tetapi oleh ketaatan Kristus; dan kita tidak dibenarkan supaya kita tetap dalam dosa, tetapi supaya kita menghasilkan buah."
Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship memperingatkan tentang apa yang ia sebut cheap grace — "anugerah murahan":
"Anugerah murahan adalah anugerah yang dianggap sebagai prinsip, sebagai sistem, sebagai doktrin — pengampunan dosa yang diumumkan secara umum, tanpa pertobatan, tanpa disiplin, tanpa penyerahan diri. Anugerah murahan adalah anugerah tanpa salib."
Karl Barth dalam Church Dogmatics (IV/1) menegaskan:
"Anugerah bukanlah izin untuk berdosa, tetapi kuasa untuk tidak berdosa."
Dan Paul Tillich dalam The Protestant Era menulis:
"Anugerah tidak menghapus konsekuensi dosa; anugerah menghapus kuasa dosa untuk memisahkan kita dari Allah."
Kerangka hukum gagal karena ia memperlakukan keselamatan sebagai status yang bisa dimiliki sambil memutuskan relasi. Padahal keselamatan adalah relasi itu sendiri.
---
III. Kerangka Relasi: Keselamatan sebagai Persekutuan
Alkitab membuka dan menutup dengan relasi. Di Kejadian 1-2, Allah bersekutu dengan manusia di taman. Di Wahyu 21-22, Allah kembali bersekutu dengan manusia: "Ia akan diam bersama-sama dengan mereka" (Why. 21:3).
Kejadian 2:17 berkata: "pada hari engkau memakannya, engkau pasti mati." Namun Adam masih hidup ratusan tahun setelahnya (Kej. 5:5). Artinya, kematian yang dimaksud lebih dulu adalah kematian relasi — keterputusan dari Allah — sebelum kematian fisik.
Jürgen Moltmann dalam The Crucified God menulis:
"Di salib, Allah sendiri masuk ke dalam keterputusan, agar keterputusan itu tidak lagi menjadi akhir bagi manusia."
Miroslav Volf dalam Exclusion and Embrace menambahkan:
"Keselamatan bukanlah pelarian dari dunia, tetapi pemulihan persekutuan — dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri."
Dalam kerangka relasi, keselamatan bukan status hukum, tetapi persekutuan yang hidup. Dan persekutuan yang hidup harus dihidupi.
Analogi yang lebih tepat:
Bukan "utang yang lunas," tetapi "anak yang pulang."
Seorang anak yang pulang ke rumah ayahnya tidak lalu berkata: "Karena aku sudah diterima, aku bebas pergi lagi." Justru karena ia diterima, ia ingin tinggal. Kepulangan bukan izin untuk pergi; kepulangan adalah awal dari tinggal.
---
IV. Tiga Pertanyaan, Satu Kerangka Baru
Mari kita jawab ulang ketiga pertanyaan itu — bukan dengan menghindar, tetapi dengan mengganti kerangkanya.
Pertanyaan 1: Apakah salib menghapus dosa dan menebus manusia?
Jawaban dalam kerangka relasi:
Salib memulihkan relasi yang terputus oleh dosa. Penghapusan dosa bukan tujuan akhir; ia adalah sarana agar relasi dapat dipulihkan.
1 Petrus 3:18 — "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah."
Perhatikan: tujuan akhirnya adalah dibawa kepada Allah — bukan sekadar diampuni. Roma 5:10 menegaskan hal yang sama: "kita... diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya." Kata kuncinya: diperdamaikan — relasi.
John Stott dalam The Cross of Christ menulis:
"Salib bukan hanya pembayaran utang; salib adalah jembatan yang dibangun Allah menuju manusia yang menjauh."
Pertanyaan 2: Jadi apakah orang Kristen yang berdosa juga diselamatkan?
Jawaban dalam kerangka relasi:
Pertanyaan ini salah karena mengasumsikan bahwa "diselamatkan" adalah status hukum yang bisa dimiliki sambil memutuskan relasi. Padahal keselamatan adalah relasi itu sendiri.
Kalau seorang anak pulang ke rumah ayahnya, lalu pergi lagi dan tidak kembali — apakah ia masih "anak"? Secara biologis mungkin ya. Tetapi secara relasional, ia telah memutuskan apa yang ia miliki.
Ini bukan soal "kehilangan keselamatan," tetapi soal hakikat keselamatan itu sendiri.
Yohanes 15:6 — "Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering."
Yesus tidak berkata "barangsiapa tidak percaya," tetapi "barangsiapa tidak tinggal." Kata kerjanya adalah meno (μένω) — tinggal, berdiam, bertahan. Keselamatan adalah tinggal, bukan sekadar pernah datang.
1 Yohanes 2:19 — "Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita."
Yohanes membedakan "berasal dari" dan "termasuk pada." Tidak semua yang pernah bersama, tetap bersama.
Ibrani 10:26-27 — "Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah kita memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu."
Bukan dosa karena kelemahan, tetapi dosa yang sengaja — yaitu pemutusan relasi yang disengaja.
Agustinus dalam De Civitate Dei menulis:
"Tidak ada orang yang dapat kehilangan Allah kecuali ia yang telah memiliki-Nya; dan tidak ada yang dapat memiliki-Nya kecuali ia yang tetap di dalam-Nya."
Pertanyaan 3: Berarti orang Kristen bebas berbuat dosa?
Jawaban dalam kerangka relasi:
Tidak. Tetapi bukan karena aturan, melainkan karena relasi.
Orang yang benar-benar mengenal kasih Allah tidak ingin berbuat dosa — bukan karena takut hukuman, tetapi karena dosa merusak relasi yang ia kasihi. Ia tidak berkata "aku tidak boleh," tetapi "aku tidak mau."
Perbedaan antara moralisme dan relasi:
Moralisme Relasi
"Jangan berdosa, nanti dihukum." "Jangan berdosa, nanti relasi kita rusak."
Ketaatan karena takut Ketaatan karena kasih
Peraturan Pribadi
Budak Anak
Roma 6:1-2 — "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?"
Paulus tidak menjawab dengan aturan, tetapi dengan identitas: "kita telah mati bagi dosa." Pertanyaannya bukan "boleh atau tidak?" tetapi "siapa kita?"
Roma 6:15 — "Jadi, apakah kita boleh berbuat dosa, karena kita tidak hidup di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!"
Yohanes 14:15 — "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Bukan "kalau kamu takut," tetapi "kalau kamu mengasihi."
2 Korintus 5:14 — "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami..." Kasih, bukan hukum, yang menguasai.
Martin Luther, dalam Freedom of a Christian, menulis:
"Orang Kristen adalah tuan yang bebas atas segala sesuatu, dan tidak tunduk kepada siapa pun. Orang Kristen adalah hamba yang melayani segala sesuatu, dan tunduk kepada semua orang."
Paradoks ini hanya bisa dipahami dalam kerangka relasi: bebas dari hukum, terikat pada kasih.
Søren Kierkegaard dalam Works of Love menambahkan:
"Kasih adalah pemenuhan hukum; dan kasih tidak pernah mencari alasan untuk melanggar, karena kasih itu sendiri adalah alasan untuk taat."
---
V. Contoh: Penjahat di Salib
Jawaban yang paling utuh untuk pertanyaan "apakah orang Kristen bebas berbuat dosa?" bukanlah argumen teologis, tetapi seorang penjahat yang mati di kayu salib.
Lukas 23:39-43:
"Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: 'Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!' Tetapi yang lain memarahi orang itu, katanya: 'Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.' Lalu ia berkata: 'Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau masuk ke dalam Kerajaan-Mu.' Kata Yesus kepadanya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.'"
Mari kita bedah:
1. Dosa tetap harus dipertanggungjawabkan
Penjahat itu tidak berkata: "Aku tidak bersalah." Ia berkata: "Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita."
Ia mengakui dosanya. Ia menerima tanggung jawabnya. Ia tidak memakai anugerah sebagai alasan untuk membenarkan diri.
2. Dengan pengharapan akan anugerah penebusan
Tetapi ia juga tidak berkata: "Aku terlalu berdosa untuk diselamatkan." Ia berkata: "Yesus, ingatlah aku."
Ia berharap — bukan pada kebaikannya, tetapi pada siapa Yesus.
3. Mengakui perutusan Yesus
Yang paling dalam: penjahat itu tidak hanya mengakui dosanya, tetapi juga mengakui siapa Yesus. Di saat semua orang meninggalkan Yesus — murid-murid melarikan diri, Petrus menyangkal, orang banyak mengejek — penjahat itu mengakui bahwa Yesus adalah Raja.
Ia melihat seorang yang telanjang, berdarah, sekarat — dan berkata: "Engkau akan masuk ke dalam Kerajaan-Mu."
Itu iman. Iman yang tidak didasarkan pada bukti, tetapi pada pengenalan akan siapa Yesus.
Paus Benediktus XVI, dalam Jesus of Nazareth: Holy Week, menulis tentang penjahat ini:
"Penjahat itu bukan teolog. Ia tidak punya waktu untuk bertobat dengan perbuatan. Ia tidak dibaptis. Ia tidak menerima Ekaristi. Tetapi ia menerima lebih dari yang ia minta — karena ia mengakui siapa Yesus."
John Piper dalam The Passion of Jesus Christ menambahkan:
"Keselamatan penjahat itu adalah bukti bahwa anugerah tidak bergantung pada prestasi, tetapi juga bukti bahwa anugerah tidak pernah memisahkan pertobatan dari iman."
---
VI. Apakah Orang Kristen Bebas Berbuat Dosa? Jawaban Akhir
Tidak — tetapi bukan karena aturan, melainkan karena relasi.
Ya — tetapi bukan kebebasan untuk berdosa, melainkan kebebasan dari dosa.
Perbedaan ini penting:
Bebas untuk berdosa Bebas dari dosa
Dosa sebagai hak Dosa sebagai belenggu
Anugerah sebagai izin Anugerah sebagai kuasa
"Aku boleh" "Aku dimerdekakan"
Perbudakan yang menyamar sebagai kebebasan Kebebasan yang sejati
Yohanes 8:34-36 — "Kata Yesus: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.'"
Perhatikan: Yesus tidak berkata "kamu bebas berbuat dosa." Ia berkata "kamu dimerdekakan dari dosa." Kebebasan sejati bukan kemampuan untuk berdosa, tetapi kemampuan untuk tidak berdosa.
Agustinus dalam Confessions:
"Kasihilah Allah, dan lakukan apa yang engkau mau." (Dilige, et quod vis fac.)
Kalimat ini sering disalahpahami. Agustinus tidak berkata "lakukan apa saja." Ia berkata: kalau engkau benar-benar mengasihi Allah, maka keinginanmu akan selaras dengan keinginan-Nya. Kasih mengubah keinginan.
Blaise Pascal dalam Pensées:
"Ada dua jenis manusia: mereka yang menganggap dirinya benar dan mereka yang tahu dirinya berdosa. Yang pertama tidak membutuhkan anugerah; yang kedua menerimanya."
---
VII. Implikasi Praktis
1. Bagi yang bertanya dengan tulus
Pertanyaan "apakah orang Kristen bebas berbuat dosa?" sering datang dari orang yang sungguh ingin tahu — bukan menjebak. Jawaban yang tepat bukan "tidak boleh," tetapi: "Orang yang mengenal kasih Allah tidak ingin berbuat dosa — bukan karena takut, tetapi karena kasih."
2. Bagi yang bertanya untuk menjebak
Pertanyaan itu sering datang dari orang yang ingin membenarkan dosanya sendiri. Jawaban yang tepat bukan berdebat di dalam kerangka hukum, tetapi mengganti kerangkanya: "Pertanyaan Anda mengasumsikan keselamatan adalah status hukum. Padahal keselamatan adalah relasi. Dan relasi yang hidup tidak bisa hidup sambil diputuskan."
3. Bagi orang Kristen sendiri
Bahaya terbesar bukan "berbuat dosa," tetapi "menganggap anugerah sebagai izin." Yudas mengingatkan:
"Sebab ada orang-orang tertentu, yang telah lama ditentukan untuk menerima hukuman ini, yang telah menyusup masuk ke dalam jemaat: orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang mengubah kasih karunia Allah kita menjadi hawa nafsu cabul, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus."
— Yudas 1:4
Bonhoeffer menutup The Cost of Discipleship dengan kalimat yang tajam:
"Anugerah yang mahal adalah anugerah yang memanggil kita untuk mengikut; anugerah murahan adalah anugerah yang membiarkan kita tetap di tempat kita."
---
VIII. Penutup: Satu Kalimat
Salib tidak menghapus dosa supaya kita bebas — salib menghapus dosa supaya kita pulang.
Dan orang yang sudah pulang tidak ingin pergi lagi.
---
"Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka semua orang telah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka."
— 2 Korintus 5:14-15
---
Daftar Pustaka
Alkitab:
· Alkitab Terjemahan Baru (TB), Lembaga Alkitab Indonesia.
· The Holy Bible, New International Version (NIV).
Teolog:
· Agustinus. Confessions.
· Agustinus. De Civitate Dei.
· Barth, Karl. Church Dogmatics, IV/1.
· Benediktus XVI. Jesus of Nazareth: Holy Week.
· Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship.
· Calvin, John. Institutes of the Christian Religion, III.11.
· Kierkegaard, Søren. Works of Love.
· Luther, Martin. Freedom of a Christian.
· Moltmann, Jürgen. The Crucified God.
· Piper, John. The Passion of Jesus Christ.
· Stott, John. The Cross of Christ.
· Tillich, Paul. The Protestant Era.
· Volf, Miroslav. Exclusion and Embrace.
Sekuler:
· Arendt, Hannah. The Human Condition.
· Becker, Ernest. The Denial of Death.
· Frankl, Viktor. Man's Search for Meaning.
· Freud, Sigmund. Civilization and Its Discontents.
· Kübler-Ross, Elisabeth. On Death and Dying.
· Lewis, C.S. A Grief Observed.
· Pascal, Blaise. Pensées.
· Tutu, Desmond. No Future Without Forgiveness.
---
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar