Islam Sebagai Mayoritas dan Minoritas
Islam Sebagai Mayoritas dan Minoritas
Serial Mari mengenal Islam sejenak (2)
Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda?
Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.
---
Pendahuluan
Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur dalam diskursus keislaman kontemporer: apa yang membuat Islam disebut "sehat"? Bukan sehat secara jumlah pemeluk, bukan sehat secara politik, bukan sehat secara ekonomi. Tapi sehat secara substansi — sehat sebagai ajaran yang hidup dalam perilaku pemeluknya.
Dan pertanyaan turunannya: apakah kesehatan Islam ditentukan oleh posisi mayoritas atau minoritas?
Dua pertanyaan ini menjadi penting karena dalam banyak diskursus, "mayoritas" dan "minoritas" diperlakukan seolah-olah menjadi kategori teologis — seolah menjadi mayoritas adalah tanda keberkahan, dan menjadi minoritas adalah tanda kelemahan. Padahal Al-Qur'an tidak pernah berbicara seperti itu.
---
Apa yang Dimaksud dengan "Islam Sehat"?
Sebelum masuk ke persoalan mayoritas-minoritas, kita perlu menyepakati dulu: apa itu Islam yang sehat?
Islam yang sehat bukanlah Islam yang paling banyak pemeluknya. Bukan yang paling megah bangunannya. Bukan yang paling ramai acaranya. Bukan yang paling sering muncul di layar televisi.
Islam yang sehat adalah Islam yang memenuhi perintah paling dasar dari Al-Qur'an. Dan perintah paling dasar itu, sebagaimana telah kita bahas, adalah:
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
"Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik."
— QS. Al-Baqarah [2]: 83
Perhatikan: lin-nās — kepada manusia. Bukan kepada Muslim. Bukan kepada yang seiman. Bukan kepada yang berelasi. Bukan kepada yang tidak memusuhi. Hanya: manusia.
Inilah indikator pertama dan paling mendasar dari Islam yang sehat: apakah lisannya baik kepada manusia secara universal? Tanpa syarat. Tanpa kecuali.
Kalau indikator paling dasar ini gagal, maka tidak ada gunanya berbicara tentang Islam yang sehat — seberapa pun besar jumlah pemeluknya.
---
Mayoritas: Antara Berkah dan Ujian
Menjadi mayoritas bukanlah tujuan dalam Islam. Ia hanyalah konsekuensi — dan konsekuensi itu bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi ujian.
Mayoritas sebagai Ujian
Al-Qur'an memperingatkan bahwa mayoritas tidak otomatis benar:
"Wa in tuṭi' aktsara man fil-arḍi yuḍillūka 'an sabīlillāh..."
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah..."
— QS. Al-An'am [6]: 116
"Wa mā aktsarun-nāsi wa lau ḥaraṣta bimu'minīn"
"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya."
— QS. Yusuf [12]: 103
"Bal aktsaruhum lā ya'qilūn"
"Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti."
— QS. Al-Ankabut [29]: 63
Ayat-ayat ini bukan berarti mayoritas selalu salah. Tapi ia mematahkan asumsi bahwa menjadi mayoritas adalah jaminan kebenaran. Mayoritas bisa benar, bisa juga salah. Jumlah bukanlah ukuran.
Mayoritas sebagai Amanah
Ketika Islam menjadi mayoritas, yang datang bukanlah kemenangan, melainkan tanggung jawab. Karena mayoritas punya kuasa — dan kuasa selalu mengundang penyalahgunaan.
Dalam posisi mayoritas, ujiannya adalah:
Pertama, ujian kekuasaan. Apakah mayoritas menggunakan kuasanya untuk memaksa atau untuk melindungi? Al-Qur'an menegaskan:
"Lā ikrāha fid-dīn"
"Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam)."
— QS. Al-Baqarah [2]: 256
Mayoritas yang sehat tidak memaksa. Mayoritas yang sehat melindungi hak minoritas — bahkan ketika ia punya kuasa untuk menindas.
Kedua, ujian kesombongan. Apakah mayoritas merasa lebih mulia karena jumlahnya? Al-Qur'an menolak logika ini:
"Inna akramakum 'indallāhi atqākum"
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."
— QS. Al-Hujurat [49]: 13
Kemuliaan bukan karena jumlah. Kemuliaan adalah karena takwa — dan takwa tidak bisa dihitung dengan angka.
Ketiga, ujian ucapan. Apakah mayoritas tetap berbicara baik kepada manusia — termasuk kepada minoritas? Atau kuasa membuatnya lupa bahwa lin-nās tidak mengenal batas mayoritas-minoritas?
Mayoritas yang Sakit
Mayoritas yang sakit adalah mayoritas yang:
· Menganggap jumlah sebagai bukti kebenaran
· Menggunakan kuasa untuk menindas yang lemah
· Merasa paling mulia karena paling banyak
· Berbicara baik hanya kepada yang seiman
· Lupa bahwa lin-nās mencakup semua manusia
Mayoritas yang sakit bukanlah mayoritas Muslim — ia hanyalah mayoritas yang kebetulan Muslim. Karena label "Muslim" tidak menyembuhkan penyakit hati. Sebagaimana label "mayoritas" tidak menjamin kesehatan jiwa.
---
Minoritas: Antara Kelemahan dan Kekuatan
Menjadi minoritas juga bukanlah kutukan dalam Islam. Ia hanyalah posisi — dan posisi itu bisa menjadi kelemahan, bisa juga menjadi kekuatan.
Minoritas sebagai Kekuatan
Al-Qur'an sering menceritakan kemenangan minoritas atas mayoritas:
"Kam min fi'atin qalīlatin ghalabat fi'atan katsīratan bi'idznillāh..."
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah..."
— QS. Al-Baqarah [2]: 249
"Fa hazamūhum bi'idznillāh..."
"Maka mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah..."
— QS. Al-Baqarah [2]: 251
Nabi Nuh berdakwah 950 tahun, dan yang beriman bersamanya sangat sedikit:
"Wa mā āmana ma'ahū illā qalīl"
"Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit."
— QS. Hud [11]: 40
Nabi Ibrahim adalah umat yang satu — sendirian melawan seluruh kaumnya:
"Inna Ibrāhīma kāna ummatan qānitan lillāhi ḥanīfā..."
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif..."
— QS. An-Nahl [16]: 120
Dan yang paling penting: Nabi Muhammad ﷺ memulai dakwahnya sebagai minoritas — di Mekkah, selama 13 tahun, beliau dan para sahabat adalah kelompok kecil yang tertindas. Tapi justru di situlah Islam yang sehat lahir dan tumbuh.
Minoritas yang Sehat
Minoritas yang sehat adalah minoritas yang:
· Tidak iri kepada mayoritas
· Tidak membenci mayoritas
· Tidak memusuhi mayoritas
· Tetap berbicara baik kepada semua manusia
· Tetap berbuat baik kepada semua manusia
· Tidak menjadikan kepahitan sebagai identitas
Minoritas yang sehat tidak menuntut balasan atas kebaikannya. Ia berbuat baik karena memang demikian perintah Allah — bukan karena berharap mayoritas akan berubah menjadi baik.
"Wa mā li'ahadin 'indahū min ni'matin tujzā. Illābtighā'a wajhi rabbihil-a'lā"
"Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi."
— QS. Al-Lail [92]: 19-20
Minoritas yang Sakit
Minoritas yang sakit adalah minoritas yang:
· Merasa paling benar karena paling sedikit
· Menganggap penderitaan sebagai kemuliaan
· Menjadikan kebencian sebagai ibadah
· Menutup diri dari seluruh manusia
· Berbicara baik hanya kepada yang seiman
· Lupa bahwa lin-nās mencakup semua manusia
Minoritas yang sakit bukanlah minoritas Muslim — ia hanyalah minoritas yang kebetulan Muslim. Karena label "Muslim" tidak menyembuhkan luka hati. Sebagaimana label "minoritas" tidak menjadikan seseorang otomatis benar.
---
Yang Menentukan: Bukan Jumlah, Tapi Ucapan
Di sini kita kembali ke fondasi yang sudah kita bangun: QS. Al-Baqarah [2]: 83.
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
"Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik."
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut:
· Mayoritas
· Minoritas
· Muslim
· Non-Muslim
· Kaya
· Miskin
· Kuat
· Lemah
Yang disebut hanya: an-nās — manusia.
Ini berarti kesehatan Islam tidak ditentukan oleh posisi sosial, tapi oleh kualitas ucapan. Mayoritas yang berbicara baik kepada manusia adalah mayoritas yang sehat. Minoritas yang berbicara baik kepada manusia adalah minoritas yang sehat. Dan sebaliknya: mayoritas yang berbicara buruk kepada manusia adalah mayoritas yang sakit. Minoritas yang berbicara buruk kepada manusia adalah minoritas yang sakit.
Jumlah tidak menyembuhkan. Posisi tidak menyembuhkan. Hanya ucapan yang baik — kepada semua manusia — yang menjadi tanda kesehatan.
---
Empat Kombinasi
Dari dua variabel — posisi (mayoritas/minoritas) dan kesehatan (sehat/sakit) — kita mendapatkan empat kombinasi:
1. Mayoritas yang Sehat
· Menggunakan kuasa untuk melindungi, bukan menindas
· Berbicara baik kepada semua manusia
· Tidak merasa lebih mulia karena jumlah
· Melindungi hak minoritas
· Menjadi rahmat bagi sekitarnya
2. Mayoritas yang Sakit
· Menggunakan kuasa untuk menindas
· Berbicara baik hanya kepada yang seiman
· Merasa paling mulia karena jumlah
· Menindas minoritas
· Menjadi bencana bagi sekitarnya
3. Minoritas yang Sehat
· Tidak iri kepada mayoritas
· Tetap berbicara baik kepada semua
· Tidak menjadikan kepahitan sebagai identitas
· Berbuat baik tanpa mengharap balasan
· Menjadi saksi kebenaran
4. Minoritas yang Sakit
· Merasa paling benar karena sedikit
· Menjadikan kebencian sebagai ibadah
· Menutup diri dari seluruh manusia
· Berbicara baik hanya kepada yang seiman
· Menjadi beban bagi sekitarnya
---
Kesimpulan
Islam yang sehat bukan Islam yang mayoritas. Islam yang sehat bukan Islam yang minoritas. Islam yang sehat adalah Islam yang ucapannya baik kepada manusia — tanpa syarat, tanpa kecuali.
Mayoritas bisa sehat, bisa sakit. Minoritas bisa sehat, bisa sakit. Yang membedakan bukanlah jumlah, tapi kualitas ucapan — sebagaimana QS. Al-Baqarah [2]: 83.
Dan ketika ucapan sudah tidak baik — kepada siapa pun, mayoritas maupun minoritas — maka kasih tanpa syarat telah hilang. Dan ketika kasih tanpa syarat hilang, yang tersisa hanyalah kebencian — yang tidak peduli apakah ia bersembunyi di balik label mayoritas atau minoritas.
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
"Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik."
Kepada manusia. Bukan kepada mayoritas. Bukan kepada minoritas. Kepada manusia.
---
Daftar Referensi
1. QS. Al-Baqarah [2]: 83 — "Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā" (Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik)
2. QS. Al-Baqarah [2]: 249 — Golongan sedikit mengalahkan golongan banyak
3. QS. Al-Baqarah [2]: 251 — Kemenangan dengan izin Allah
4. QS. Al-Baqarah [2]: 256 — "Lā ikrāha fid-dīn" (Tidak ada paksaan dalam agama)
5. QS. Al-An'am [6]: 116 — Mayoritas bisa menyesatkan
6. QS. Hud [11]: 40 — Yang beriman bersama Nuh hanya sedikit
7. QS. Yusuf [12]: 103 — Kebanyakan manusia tidak beriman
8. QS. An-Nahl [16]: 120 — Ibrahim adalah umat yang satu
9. QS. Al-Ankabut [29]: 63 — Kebanyakan mereka tidak mengerti
10. QS. Al-Hujurat [49]: 13 — Kemuliaan adalah karena takwa
11. QS. Al-Lail [92]: 19-20 — Berbuat baik karena mencari keridhaan Allah
---
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik.
Mayoritas maupun minoritas.
Tanpa syarat. Tanpa kecuali. Tanpa menunggu.
Komentar
Posting Komentar