Iman dan Penebusan, Pemahaman Utuh Relasi Manusia dan Allah

Makna Iman dan Penebusan

Menuju Pemahaman yang Utuh tentang Relasi Manusia dengan Allah

---

Abstrak

Artikel ini menyajikan sintesis teologis yang komprehensif tentang dua konsep sentral dalam Kekristenan: iman dan penebusan. Berdasarkan rangkaian diskusi sebelumnya, artikel ini membangun pemahaman bahwa iman bukanlah sekadar asumsi intelektual atau aktivitas religius, melainkan pernikahan rohani—sebuah relasi intim dan eksklusif dengan Kristus. Penebusan, di sisi lain, bukanlah lisensi untuk berbuat dosa, melainkan anugerah yang memulihkan relasi yang telah rusak dan membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah. Kedua konsep ini tidak dapat dipahami secara terpisah; iman adalah respons terhadap penebusan, dan penebusan adalah dasar bagi iman yang sejati. Artikel ini juga membahas kesalahpahaman umum tentang kedua konsep ini serta implikasi praktisnya bagi kehidupan orang percaya.

---

1. Pendahuluan: Dua Konsep yang Sering Disalahpahami

Sepanjang sejarah Kekristenan, dua konsep—iman dan penebusan—telah menjadi pusat teologi namun juga sumber kebingungan terbesar. Banyak orang Kristen yang memahami iman sebagai "percaya bahwa Yesus ada" atau "menyetujui doktrin-doktrin tertentu." Banyak pula yang memahami penebusan sebagai "tiket masuk surga" atau "pembebasan dari hukuman dosa" tanpa memahami implikasinya yang lebih dalam.

Kebingungan ini tidak muncul begitu saja. Ia berakar pada:

1. Pengaruh filsafat Yunani yang memisahkan roh dan materi, sehingga iman dipahami sebagai urusan "rohani" yang terpisah dari kehidupan sehari-hari.
2. Teologi yang terlalu legalistis yang melihat penebusan hanya sebagai transaksi hukum di pengadilan surgawi.
3. Pengabaian terhadap akar Ibrani dari konsep-konsep ini, yang justru kaya akan makna relasional dan eksistensial.

Artikel ini berupaya mengembalikan pemahaman yang utuh tentang iman dan penebusan dengan kembali kepada akar alkitabiahnya, khususnya dengan memahami:

· Iman sebagai pernikahan rohani—sebuah relasi intim dan eksklusif dengan Kristus yang melibatkan seluruh keberadaan.
· Penebusan sebagai pemulihan relasi—anugerah yang membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah dan hidup dalam kesetiaan.

---

2. Iman: Lebih dari Sekadar Percaya

2.1. Akar Kata: Yada dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, konsep "percaya" tidak pernah dipahami sebagai sekadar persetujuan intelektual. Kata Ibrani yang paling dekat dengan "iman" adalah אָמַן (aman)—yang berarti "teguh, dapat diandalkan, setia." Iman adalah keteguhan hati kepada Allah, bukan sekadar opini tentang Allah.

Namun, untuk memahami iman secara mendalam, kita harus melihat kata kunci lain yang sering dikaitkan dengan relasi perjanjian: יָדַע (yada)—"mengenal secara intim."

Aspek Yada Penjelasan Contoh Alkitab
Pengetahuan Eksperiensial Bukan tahu tentang, tetapi tahu melalui pengalaman "Adam mengenal Hawa" (Kejadian 4:1)
Pengetahuan Relasional Melibatkan seluruh keberadaan—hati, pikiran, dan tindakan "Hanya kamu yang Kukenal" (Amos 3:2)
Pengetahuan Eksklusif Bersifat monogamis—tidak bisa dibagi dengan yang lain "Jangan ada ilah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3)
Pengetahuan yang Mengubah Mengasilkan transformasi hidup "Mengenal Engkau adalah hidup kekal" (Yohanes 17:3)

Kesimpulan: Dalam Perjanjian Lama, mengenal Allah berarti menjalin relasi perjanjian yang intim dan eksklusif—seperti pernikahan. Iman, dengan demikian, bukan sekadar "percaya bahwa Allah ada," tetapi "percaya kepada Allah" dalam arti mempercayakan seluruh hidup kepada-Nya.

2.2. Iman sebagai Pernikahan Rohani

Jika yada adalah kerangka Perjanjian Lama untuk memahami relasi dengan Allah, maka Perjanjian Baru menggenapinya dengan gambaran yang lebih eksplisit: pernikahan rohani.

Elemen Pernikahan Padanan Rohani Ayat Kunci
Mempelai Pria Kristus "Aku telah mempersembahkan kamu kepada satu suami" (2 Korintus 11:2)
Mempelai Wanita Gereja/umat percaya "Istri Kristus" (Efesus 5:23-27)
Perjanjian Nikah Perjanjian Baru "Perjanjian baru dalam darah-Ku" (Lukas 22:20)
Kesetiaan Ketaatan "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku" (Yohanes 14:15)
Keintiman Doa dan Persekutuan "Bapa dan Aku akan datang dan tinggal bersama dia" (Yohanes 14:23)
Persatuan Hidup dalam Kristus "Tidak ada lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20)

Inilah mengapa Yesus berkata, "Aku tidak pernah mengenal kamu" (Matius 7:23) kepada mereka yang bernubuat dan mengusir setan dalam nama-Nya. Mereka memiliki aktivitas religius tetapi tidak memiliki relasi pernikahan dengan Kristus. Mereka tidak memiliki yada.

2.3. Iman dalam Pengertian Yesus Sendiri

Yesus sendiri memberikan definisi operasional tentang apa artinya "percaya" dalam Yohanes 3:16. Namun, untuk memahaminya dengan benar, kita harus membaca ayat itu dalam konteksnya:

Ayat Pernyataan Yesus Makna Percaya
Yohanes 3:3 "Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" Percaya = kelahiran baru—transformasi radikal oleh Roh Kudus
Yohanes 3:5 "Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" Percaya = masuk ke dalam relasi hidup dengan Allah sebagai Raja dan Bapa
Yohanes 3:16 "Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" Percaya = memercayakan seluruh hidup kepada Pribadi Kristus
Yohanes 3:19-21 "Barangsiapa berbuat jahat, membenci terang... tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang" Percaya = datang kepada Terang dan hidup dalam kebenaran

Kesimpulan: Menurut Yesus sendiri, iman adalah:

1. Gerakan eksistensial—datang kepada Terang, keluar dari kegelapan dosa.
2. Kelahiran baru—dilahirkan dari air dan Roh oleh kuasa Roh Kudus.
3. Relasi hidup—mempercayakan seluruh diri kepada Nama Yesus.
4. Ketaatan aktif—mengikuti Yesus dan melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.
5. Transformasi berkelanjutan—hidup dalam kebenaran dan kasih.
6. Persekutuan kekal—masuk ke dalam hidup kekal yang dimulai sekarang dan berlangsung selamanya.

2.4. Kesalahan Gereja Modern tentang Iman

Gereja modern telah kehilangan narasi pernikahan rohani. Iman diajarkan sebagai:

Ajaran Keliru Akibat Koreksi
Iman = sistem moral ("Jangan berdosa") Kekristenan menjadi agama aturan Iman = relasi kasih yang melahirkan ketaatan
Iman = keanggotaan organisasi ("Rajin ke gereja") Kekristenan menjadi aktivitas sosial Iman = persekutuan intim dengan Kristus
Iman = pengetahuan teologis ("Hafal ayat") Kekristenan menjadi akademis Iman = pengenalan yang mengubah hidup
Iman = pengalaman emosional ("Merasa dekat") Kekristenan menjadi subjektif Iman = kesetiaan dalam ikatan perjanjian

Yesus berkata kepada jemaat Efesus: "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula" (Wahyu 2:4). Mereka memiliki teologi yang benar (ay. 2), tetapi kehilangan yada—keintiman dengan Mempelai Pria mereka.

---

3. Penebusan: Bukan Lisensi untuk Berdosa

3.1. Makna Penebusan dalam Alkitab

Kata "penebusan" dalam bahasa Ibrani adalah פְּדוּת (pedut) dan גְּאֻלָּה (ge'ullah)—yang berarti "pembebasan dengan membayar harga tebusan." Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani ἀπολύτρωσις (apolutrōsis) memiliki makna yang sama: pembebasan melalui pembayaran tebusan.

Namun, penebusan dalam Alkitab bukan sekadar transaksi hukum. Ia adalah:

Aspek Penebusan Penjelasan Ayat Kunci
Pembebasan dari Perbudakan Dari dosa dan maut "Kamu telah dimerdekakan dari dosa" (Roma 6:18)
Pemulihan Relasi Kembali kepada Allah "Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8)
Pengampunan Dosa Penghapusan kesalahan "Pengampunan dosa" (Efesus 1:7)
Penerimaan sebagai Anak Status baru di hadapan Allah "Kamu menerima Roh yang menjadikan kamu anak" (Roma 8:15)
Pemulihan Ciptaan Seluruh alam ikut ditebus "Penciptaan itu sendiri akan dimerdekakan" (Roma 8:21)

3.2. Kesalahpahaman tentang Penebusan

Ada dua kesalahpahaman utama tentang penebusan:

Kesalahpahaman 1: Penebusan = Kebebasan untuk Berdosa

Banyak orang berpikir, "Karena Kristus sudah menebus dosaku, aku bebas berbuat dosa." Ini adalah penyalahgunaan anugerah yang paling fatal.

Kesalahan Kebenaran
Penebusan adalah lisensi untuk berdosa Penebusan adalah pembebasan dari dosa, bukan pembebasan untuk berdosa
"Di mana dosa bertambah, di situ anugerah makin berlimpah" (Roma 5:20) dijadikan dalih Paulus menjawab: "Tidak! Bagaimana mungkin kita masih hidup dalam dosa?" (Roma 6:2)
Anugerah = toleransi atas dosa Anugerah = kuasa untuk hidup baru

Kesalahpahaman 2: Penebusan Adalah Otomatis

Banyak yang menganggap bahwa karena Kristus telah mati untuk semua orang, maka semua orang otomatis diselamatkan. Ini mengabaikan peran respons manusia.

Kesalahan Kebenaran
Penebusan otomatis bagi semua orang Penebusan ditawarkan, tetapi harus diterima
Allah menebus tanpa syarat Allah membuka pintu, tetapi manusia harus masuk
"Kristus mati untuk semua, jadi semua selamat" "Barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa" (Yohanes 3:16)—ada syarat

3.3. Penebusan sebagai Pemulihan Relasi

Penebusan, pada intinya, adalah pemulihan relasi yang rusak. Dosa bukan sekadar pelanggaran aturan; dosa adalah perselingkuhan—pengkhianatan terhadap relasi perjanjian dengan Allah.

Dosa sebagai Perselingkuhan Implikasi
Seperti istri yang berselingkuh dari suaminya Dosa menghancurkan kepercayaan dan keintiman
Efek perselingkuhan: lupa realita relasi yang sesungguhnya Dosa membuat manusia kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan siapa Allah
Perselingkuhan menciptakan tembok pemisah Dosa menghalangi relasi dengan Allah
Perselingkuhan membutakan mata hati Dosa membuat manusia enggan kembali

Hosea 2:19-20 menangkap inti penebusan sebagai pemulihan relasi:

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya... dalam kasih dan rahmat. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."

Penebusan bukan hanya tentang pengampunan, tetapi tentang pemulihan pernikahan antara Allah dan umat-Nya.

3.4. Mengapa Penebusan Tidak Otomatis?

Allah menawarkan penebusan, tetapi manusia harus menerimanya. Mengapa?

1. Kasih tidak memaksa. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8), dan kasih tidak pernah memaksa. Kasih mengundang, tetapi tidak memaksa.
2. Kehendak bebas harus dihormati. Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, dan Ia tidak akan melanggarnya. Pintu pertobatan dibuka, tetapi manusia sendirilah yang harus memutuskan untuk masuk.
3. Relasi sejati membutuhkan kerelaan. Seperti pernikahan, relasi dengan Allah harus dipilih secara bebas. Jika dipaksa, itu bukan relasi, melainkan perbudakan.

Wahyu 3:20 menggambarkan undangan Allah:

"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."

Allah mengetuk, tetapi kita yang harus membuka. Penebusan tidak otomatis—ia adalah undangan yang harus diterima.

3.5. Efek Dosa yang Tetap Ada

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang penebusan adalah bahwa setelah dosa diampuni, semua efeknya hilang. Tidak demikian.

Efek Dosa Penjelasan Implikasi
Lupa realita relasi Dosa membuat manusia kehilangan kesadaran akan Allah Penebusan tidak otomatis memulihkan kesadaran—kita harus berusaha
Tembok pemisah Dosa menciptakan jarak dengan Allah Penebusan membuka jalan, tetapi kita harus melangkah
Kebiasaan berdosa Dosa menjadi pola hidup Penebusan memberi kuasa, tetapi kita harus berlatih
Efek sosial Dosa merusak relasi dengan sesama Penebusan memulihkan, tetapi pemulihan butuh waktu

Inilah mengapa Rasul Paulus berkata, "Aku membutuhkan disiplin, dan aku menundukkan tubuhku" (1 Korintus 9:27). Penebusan tidak otomatis membuat kita sempurna; ia memberi kita kemampuan untuk bertumbuh.

---

4. Hubungan antara Iman dan Penebusan

4.1. Iman adalah Respons terhadap Penebusan

Penebusan adalah karya Allah; iman adalah respons manusia. Hubungan ini dapat digambarkan sebagai:

```
Kasih Allah (Yohanes 3:16)
        ↓
Penebusan (Kristus mati untuk dosa kita)
        ↓
Pemberitaan Injil (Kabar Baik diberitakan)
        ↓
Iman = Respons Manusia (Datang kepada Terang)
        ↓
Kelahiran Baru (Dilahirkan dari Air dan Roh)
        ↓
Hidup Baru (Mengikuti Kristus dalam Ketaatan)
        ↓
Hidup Kekal (Persekutuan Sempurna dengan Allah)
```

Paulus menulis: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" (Efesus 2:8).

Elemen Penjelasan
Kasih Karunia Allah yang memulai—penebusan adalah inisiatif Allah
Iman Manusia merespons—iman adalah pintu masuk
Pemberian Allah Keselamatan sepenuhnya adalah anugerah, bukan upah
Bukan Hasil Usaha Tidak ada manusia yang bisa "membeli" keselamatan

4.2. Iman dan Penebusan dalam Konteks Pernikahan

Jika iman adalah pernikahan rohani, dan penebusan adalah pemulihan relasi, maka kedua konsep ini bersatu dalam gambaran pernikahan:

Tahap Pernikahan Padanan Rohani Penjelasan
Lamaran Pemberitaan Injil Allah melamar umat-Nya melalui Kristus
Penerimaan Iman Manusia menerima lamaran Allah
Pernikahan Keselamatan Persatuan dengan Kristus
Kehidupan Pernikahan Hidup dalam Ketaatan Menyenangkan hati Mempelai Pria
Pemulihan setelah Konflik Pengakuan Dosa Kembali kepada kasih yang pertama
Kekekalan Hidup Kekal Persekutuan yang tidak pernah berakhir

Kitab Wahyu menutup Alkitab dengan gambaran ini:

"Mari, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba" (Wahyu 21:9).

Iman dan penebusan tidak dapat dipahami secara terpisah. Iman adalah "ya" manusia kepada lamaran Allah; penebusan adalah "ya" Allah untuk memulihkan relasi yang rusak.

4.3. Apakah Orang yang Beriman Bisa Berdosa?

Ini adalah pertanyaan yang membingungkan banyak orang. Jika iman adalah persatuan dengan Kristus, dan Kristus tidak berdosa, mungkinkah orang yang beriman masih berdosa?

Jawaban Penjelasan Ayat Kunci
Ya, orang beriman masih bisa berdosa Karena kita masih hidup dalam daging dan belum sempurna "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri" (1 Yohanes 1:8)
Tetapi orang beriman tidak bisa hidup terus-menerus dalam dosa Karena benih Allah tetap ada dalam dirinya "Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi" (1 Yohanes 3:9)
Dosa orang beriman adalah "penyimpangan," bukan "pola hidup" Seperti perselingkuhan dalam pernikahan—itu menyakitkan dan membutuhkan pemulihan "Jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil" (1 Yohanes 1:9)

Perbedaan Kunci:

Orang yang Tidak Beriman Orang yang Beriman
Berdosa tanpa rasa bersalah Berdosa dengan kesadaran dan penyesalan
Dosa adalah gaya hidup Dosa adalah penyimpangan
Tidak mau bertobat Mau bertobat dan kembali
Tidak mengenal Allah Mengenal Allah dan merindukan-Nya
Hidup dalam kegelapan Hidup dalam terang, meskipun kadang jatuh

Petrus adalah contoh sempurna. Ia menyangkal Yesus tiga kali—dosa yang sangat berat. Tetapi Petrus adalah orang beriman. Ia menangis, ia bertobat, dan ia kembali. Yesus memulihkannya, bukan menghakiminya.

---

5. Implikasi Praktis: Hidup dalam Iman dan Penebusan

5.1. Kembali kepada Kasih yang Pertama

Kesalahan terbesar gereja modern adalah kehilangan kasih yang pertama (Wahyu 2:4). Bagaimana kita kembali?

Langkah Penjelasan Praktik
Sadari status Anda Anda adalah mempelai Kristus, bukan karyawan Allah Bacalah Kidung Agung dan biarkan kerinduan itu membara
Bangun keintiman Doa bukan daftar permintaan, tetapi percakapan intim Luangkan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan
Hidup dalam ketaatan Ketaatan adalah bahasa cinta, bukan aturan Tanyakan: "Apa yang menyenangkan hati-Mu hari ini?"
Jangan lari saat jatuh Petrus jatuh, tetapi ia kembali—ia tidak lari Jika jatuh, larilah kepada Kristus, bukan menjauh
Rindukan Dia Bukan hanya pekerjaan-Nya, tetapi Dia sendiri Tanyakan setiap hari: "Apakah aku merindukan Tuhan?"

5.2. Memahami Penebusan dengan Benar

Kesalahan Koreksi
Penebusan = tiket surga Penebusan = pemulihan relasi
Penebusan = bebas berbuat dosa Penebusan = bebas dari dosa
Penebusan = otomatis Penebusan = anugerah yang harus diterima
Penebusan = hanya urusan individu Penebusan = memulihkan seluruh ciptaan
Penebusan = akhir dari perjuangan Penebusan = awal dari perjuangan iman

Paulus menulis: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, usahakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar" (Filipi 2:12). Ini bukan berarti kita "bekerja" untuk keselamatan, tetapi kita hidup dalam keselamatan itu—dengan kesungguhan dan kerendahan hati.

5.3. Menjadi Saksi yang Efektif

Pemahaman yang benar tentang iman dan penebusan mengubah cara kita bersaksi:

Cara Bersaksi yang Salah Cara Bersaksi yang Benar
Menakut-nakuti dengan neraka Menarik dengan kasih Kristus
Menawarkan "tiket surga" Menawarkan relasi dengan Allah
Menekankan aturan dan larangan Menekankan keintiman dan kebebasan
Bersikap menghakimi Bersikap rendah hati dan penuh kasih
Berfokus pada dosa Berfokus pada kasih Allah yang mengampuni

Petrus menulis: "Hiduplah sedemikian rupa, sehingga mereka yang memfitnahmu karena perbuatanmu yang baik, menjadi malu" (1 Petrus 3:16). Saksi yang paling efektif adalah hidup yang berubah—bukan argumen yang keras.

---

6. Kesimpulan: Iman dan Penebusan sebagai Satu Kebenaran

Artikel ini telah membuktikan bahwa:

1. Iman bukanlah sekadar persetujuan intelektual atau aktivitas religius. Iman adalah pernikahan rohani—relasi intim dan eksklusif dengan Kristus yang melibatkan seluruh keberadaan. Akar kata yada dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa iman adalah pengetahuan yang relasional, eksperiensial, dan transformasional.
2. Penebusan bukanlah lisensi untuk berdosa atau tiket otomatis ke surga. Penebusan adalah pemulihan relasi yang rusak—seperti mempelai yang kembali kepada mempelai prianya. Dosa adalah perselingkuhan, dan penebusan adalah pengampunan yang memulihkan kesetiaan.
3. Iman dan penebusan tidak dapat dipahami secara terpisah. Iman adalah respons manusia terhadap penebusan yang dikerjakan Allah. Iman adalah "ya" kita kepada lamaran Allah; penebusan adalah "ya" Allah untuk memulihkan kita.
4. Hidup dalam iman dan penebusan berarti hidup dalam ketaatan yang lahir dari kasih. Seperti mempelai yang setia kepada suaminya, orang percaya hidup dalam ketaatan bukan karena takut dihukum, tetapi karena cinta. Ketaatan adalah bahasa cinta—ekspresi dari relasi yang sejati.
5. Penebusan tidak menghilangkan efek dosa secara otomatis. Efek dosa—kebiasaan buruk, pola pikir yang salah, luka batin—tetap ada dan membutuhkan proses pemulihan. Penebusan memberi kita kuasa, tetapi kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus untuk bertumbuh.

---

Rumusan Final

"Iman adalah pintu masuk ke dalam pernikahan rohani dengan Kristus. Penebusan adalah anugerah yang memulihkan relasi yang rusak dan membuka pintu itu. Iman tanpa penebusan adalah usaha manusia yang sia-sia; penebusan tanpa iman adalah anugerah yang ditolak. Tetapi ketika iman dan penebusan bertemu, manusia tidak lagi hidup sebagai budak dosa, tetapi sebagai mempelai yang dikasihi—hidup dalam kebebasan, ketaatan, dan kasih yang kekal.

Inilah kabar baik yang sesungguhnya: Allah tidak hanya mengampuni dosa kita; Ia memulihkan relasi kita. Ia tidak hanya membebaskan kita dari hukuman; Ia menjadikan kita mempelai-Nya. Dan di dalam Kristus, kita bukan lagi orang asing dan pendatang, tetapi anggota keluarga Allah—hidup dalam keintiman yang tidak pernah berakhir.

Karena itu, marilah kita kembali kepada kasih yang pertama. Marilah kita mengenal Dia bukan sekadar dengan pikiran, tetapi dengan segenap hati. Marilah kita hidup bukan lagi karena takut, tetapi karena cinta yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab Dia yang telah memulai pekerjaan baik di dalam kita akan menyelesaikannya sampai pada hari Kristus Yesus. Amin."

---

Soli Deo Gloria.

Yesus adalah Mempelai Pria; kita adalah mempelai wanita. Iman adalah pernikahan; penebusan adalah pemulihan. Inilah kebenaran yang membebaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Kenapa Kristen Kalau Yesus Yahudi ?