Pelayanan: Hak dan Kewajiban : Membedakan yang Benar — Antara Upah yang Layak dan Motivasi yang Murni

Pelayanan: Hak dan Kewajiban

Membedakan yang Benar — Antara Upah yang Layak dan Motivasi yang Murni

---

Pendahuluan: Dua Hal yang Sering Dicampur

Dalam diskursus tentang pelayanan Kristen, ada dua hal yang sering dicampur — dan pencampuran ini melahirkan kesalahpahaman terbesar dalam praktik gereja:

1. Hak pelayan untuk menerima upah.
2. Motivasi pelayan dalam melayani.

Paulus menulis dengan jelas tentang hak — bahwa pekerja pelayanan berhak menerima upah (1 Korintus 9:7–14; 1 Timotius 5:17–18). Tetapi Paulus juga menulis bahwa ia melepaskan haknya — dan bahwa Injil — bukan upah — adalah motivasi utamanya (1 Korintus 9:15–18; 2 Korintus 11:7–9).

Dan Yesus menunjukkan pola yang lebih dalam: Ia menerima — tanpa menetapkan. Ia memberi — tanpa menuntut. Ia bersyukur — tanpa menagih.

Artikel ini akan menunjukkan bahwa kesalahpahaman terbesar gereja adalah mengubah hak menjadi kewajiban — dan kasih menjadi transaksi. Dan bahwa pola yang benar adalah menerima dengan syukur — bukan menagih dengan paksa.

---

Bagian 1: Hak Pelayan — Apa yang Paulus Tulis

1.1 1 Korintus 9:7–14 — Hak yang Nyata

1 Korintus 9:7–14 (TB)

"Siapa* pernah bertugas sebagai prajurit dengan biaya sendiri? Siapa menanam anggur dan tidak makan buahnya? Atau siapa menggembalakan kawanan ternak dan tidak minum susu kawanan itu? Apakah aku mengatakan hal-hal ini hanya menurut pandangan manusia? Bukankah hukum Taurat juga mengatakannya? Sebab dalam hukum Taurat Musa ada tertulis: 'Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik.' Apakah Allah mengucapkan itu hanya karena lembu? Bukankah Ia mengatakannya sepenuhnya untuk kepentingan kita? Sebab untuk kepentingan kitalah ada tertulis: 'Orang yang membajak harus membajak dengan penuh harapan, dan orang yang mengirik gandum harus mengiriknya dengan penuh harapan akan mendapat bagiannya.' Jika kami telah menabur benih rohani bagi kamu, tidak berlebihan kiranya kalau kami menuai dari kamu benih jasmani. Kalau orang lain mendapat hak atas kamu, bukankah kami lebih berhak lagi? Tetapi kami tidak menggunakan hak itu. Sebaliknya, kami sabar menanggung segala sesuatu, supaya kami tidak menghambat Injil Kristus. Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang bekerja di dalam Bait Allah mendapat makanannya dari Bait Allah itu, dan mereka yang melayani di mezbah mendapat bagiannya dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu."*

Analisis:

· "Prajurit" — tidak bertugas dengan biaya sendiri.
· "Penanam anggur" — makan buahnya.
· "Gembala" — minum susu kawanannya.
· "Jangan memberangus mulut lembu" — pekerja layak makan.
· "Kami tidak menggunakan hak itu" — Paulus melepaskan haknya.
· "Supaya kami tidak menghambat Injil" — motivasi Paulus.
· "Tuhan telah menetapkan" — hak itu nyata.

Poin kunci: Hak itu nyata — tetapi Paulus melepaskannya demi Injil.

1.2 1 Timotius 5:17–18 — Penatua yang Layak

1 Timotius 5:17–18 (TB)

"Penatua-penatua* yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali gandanya, terutama mereka yang bekerja keras dalam memberitakan firman dan mengajar. Bukankah Kitab Suci berkata: 'Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,' dan: 'Seorang pekerja patut mendapat upahnya.'"*

Analisis:

· "Patut dihormati" — hak.
· "Terutama mereka yang bekerja keras" — upah sesuai kerja.
· "Seorang pekerja patut mendapat upahnya" — prinsip Alkitabiah.

Poin kunci: Upah adalah hak — bukan kemurahan.

1.3 Galatia 6:6 — Menopang Pengajar

Galatia 6:6 (TB)

"Dan* baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu."*

Analisis:

· "Membagi segala sesuatu" — menopang.
· "Dengan orang yang memberikan pengajaran" — guru firman.
· Ini adalah tanggung jawab jemaat.

Poin kunci: Jemaat bertanggung jawab menopang pelayan firman.

1.4 Roma 15:27 — Berkat Rohani, Berkat Jasmani

Roma 15:27 (TB)

"Mereka* telah melakukannya dengan sukarela dan sebenarnya mereka berhutang kepada jemaat di Yerusalem. Sebab jika orang-orang bukan Yahudi telah mendapat bagian dalam berkat rohani mereka, mereka wajib juga melayani orang-orang Yahudi itu dengan berkat jasmani."*

Analisis:

· "Mendapat bagian dalam berkat rohani" — Injil.
· "Wajib juga melayani dengan berkat jasmani" — menopang.
· Ada timbal balik — rohani dan jasmani.

Poin kunci: Yang menerima berkat rohani patut melayani dengan berkat jasmani.

1.5 2 Korintus 11:7–9 — Paulus Melepaskan Haknya

2 Korintus 11:7–9 (TB)

"Apakah* aku berbuat dosa, karena aku merendahkan diriku sendiri supaya kamu ditinggikan, karena aku memberitakan Injil Allah kepadamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain aku rampok, karena aku menerima upah dari mereka untuk melayani kamu. Dan ketika aku ada bersama-sama dengan kamu dan kekurangan, aku tidak membebani seorang pun. Sebab apa yang kurang bagiku, telah dipenuhi oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diri, supaya aku tidak menjadi beban bagimu, dan itu akan tetap kulakukan."*

Analisis:

· "Memberitakan Injil dengan cuma-cuma" — Paulus melepaskan haknya.
· "Aku tidak membebani seorang pun" — Paulus tidak menjadi beban.
· "Aku menjaga diri" — Paulus berhati-hati.
· "Itu akan tetap kulakukan" — komitmen Paulus.

Poin kunci: Hak itu nyata — tetapi Paulus melepaskannya demi Injil.

1.6 2 Timotius 2:6 — Petani yang Bekerja Keras

2 Timotius 2:6 (TB)

"Seorang* petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."*

Analisis:

· "Bekerja keras" — usaha.
· "Menikmati hasil usahanya" — hak.
· Ini adalah prinsip umum — bukan hanya rohani.

Poin kunci: Kerja keras berhak atas hasil.

1.7 Ringkasan — Hak Pelayan

Ayat Prinsip
1 Korintus 9:7–14 Pekerja pelayanan berhak menerima upah
1 Timotius 5:17–18 Penatua yang baik patut dihormati dua kali gandanya
Galatia 6:6 Jemaat menopang pengajar firman
Roma 15:27 Yang menerima berkat rohani melayani dengan berkat jasmani
2 Korintus 11:7–9 Paulus melepaskan haknya demi Injil
2 Timotius 2:6 Petani menikmati hasil usahanya

Kesimpulan: Hak itu nyata — tetapi bukan motivasi utama.

---

Bagian 2: Pola Yesus — Menerima Tanpa Menetapkan

2.1 Mukjizat Makan — 5 Roti dan 2 Ikan

Matius 14:15–21 (TB)

"Menjelang* malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: 'Tempat ini terpencil dan hari sudah malam; suruhlah orang banyak ini pergi, supaya mereka dapat pergi ke desa-desa dan membeli makanan bagi mereka sendiri.' Tetapi Yesus berkata kepada mereka: 'Tidak perlu mereka pergi; kamu yang harus memberi mereka makan.' Jawab mereka: 'Yang ada pada kami hanyalah lima roti dan dua ikan.' Yesus berkata: 'Bawalah ke mari kepadaku.' Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Sesudah itu diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, dan sambil menengadah ke langit, Ia mengucap berkat. Kemudian dibagi-bagikan-Nya roti itu kepada murid-murid-Nya, dan murid-murid-Nya membagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semua makan dan kenyang. Lalu murid-murid-Nya mengumpulkan sisa potongan-potongan roti itu, dua belas bakul penuh. Yang makan ada kira-kira lima ribu orang laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak."*

Analisis:

· Yesus tidak menetapkan berapa yang harus diberikan.
· Yesus menerima apa yang ada — 5 roti dan 2 ikan.
· Yesus mengucap berkat — atas apa yang ada.
· Yesus memberi lebih dari yang diterima — 5.000 orang kenyang.
· Yesus tidak menagih kepada orang banyak — Ia memberi.

Poin kunci: Yesus tidak menuntut upah — Ia memberi berkat. Yang dilakukan adalah bersyukur — bukan menagih.

2.2 Undangan Perjamuan — Menerima Tanpa Menetapkan

Lukas 7:36–50 (TB)

"Seorang* Farisi mengundang Yesus makan bersama-sama dengan dia. Lalu Ia masuk ke rumah orang Farisi itu dan duduk makan. Dan di kota itu ada seorang perempuan yang hidup dalam dosa. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, ia membawa sebuah bulir pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya dan membasahi kaki-Nya dengan air matanya, lalu dilapnya dengan rambutnya dan diciumnya kaki-Nya, sesudah itu diminyakinya dengan minyak wangi itu."*

Analisis:

· Yesus diundang — tanpa menetapkan syarat.
· Yesus menerima perjamuan — tanpa menuntut.
· Yesus menerima minyak wangi — tanpa menetapkan nilainya.
· Yesus menerima kasih — bukan kewajiban.

Poin kunci: Yesus menerima berdasarkan kasih — bukan berdasarkan kewajiban.

2.3 Yesus Tidak Menetapkan Tarif

Prinsip:

· Yesus tidak pernah berkata: "Aku** mau dibayar **sekian."
· Yesus tidak pernah berkata: "Ini** tarif untuk **mukjizat."
· Yesus tidak pernah berkata: "Kalian** berhutang **kepada-Ku."
· Yesus memberi — dan menerima apa yang diberikan — dengan syukur.

Poin kunci: Yesus tidak menjadi penagih pajak — Ia menjadi pemberi berkat.

2.4 Elisa — Contoh yang Benar

2 Raja-raja 5:15–16 (TB)

"Kemudian* kembalilah ia dengan seluruh rombongannya kepada abdi Allah itu... 'Oleh sebab itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini.' Tetapi Elisa menjawab: 'Demi TUHAN yang hidup, yang kulayani, aku tidak akan menerima sesuatu apapun.' Dan walaupun Naaman mendesak dia supaya menerimanya, ia tetap menolak."*

Analisis:

· Naaman menawarkan pemberian — dengan sukarela.
· Elisa menolak — dengan tegas.
· Elisa tidak menerima imbalan — karena ia bukan penyembuh.
· Elisa adalah pelindung — Allah adalah sumber.
· Elisa tidak menjadi penagih — ia menjadi pelayan.

Poin kunci: Elisa menolak imbalan — karena ia tahu bahwa ia bukan sumber.

2.5 Gehazi — Contoh Penyimpangan

2 Raja-raja 5:20–27 (TB)

"Lalu* berkatalah Gehazi, abdi Elisa, abdi Allah itu: 'Sesungguhnya, tuanku telah menolak Naaman, orang Aram itu, dengan tidak menerima dari tangannya apa yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, aku akan mengejar dia dan menerima sesuatu dari padanya.' Jadi dikejarlah Gehazi Naaman... Lalu keluarlah Gehazi dari hadapannya, dan kulitnya putih seperti salju karena penyakit kusta."*

Analisis:

· Gehazi adalah abdi Elisa — pelayan.
· Gehazi mengejar Naaman — untuk menerima imbalan.
· Gehazi berbohong — mengatasnamakan Elisa.
· Gehazi menerima imbalan — dan jatuh ke dalam dosa simoni.
· Gehazi berpikir dirinya berjasa — dan ia jatuh.

Poin kunci: Gehazi adalah contoh sempurna pelayan yang mengubah hak menjadi kewajiban — dan jatuh.

---

Bagian 3: Kesalahpahaman Gereja — Hak Menjadi Kewajiban

3.1 Apa yang Terjadi Ketika Hak Menjadi Kewajiban

Prinsip:

· Paulus menulis tentang hak — bukan kewajiban.
· Jemaat menopang — karena kasih — bukan karena paksaan.
· Pelayan menerima — dengan syukur — bukan dengan tuntutan.
· Tetapi — ketika hak menjadi kewajiban — maka pelayanan menjadi transaksi.

Bentuk penyimpangan:

· Pelayan menetapkan tarif — seperti penagih pajak.
· Pelayan menuntut upah — seperti pekerja upahan.
· Pelayan mengancam — jika tidak dipenuhi.
· Pelayanan menjadi bisnis — bukan kasih.

Poin kunci: Kesalahpahaman terbesar adalah mengubah hak menjadi kewajiban — dan kasih menjadi transaksi.

3.2 Perbandingan Pola

Aspek Pola yang Benar Pola yang Menyimpang
Motivasi Kasih Kewajiban
Sikap Syukur Tuntutan
Tindakan Memberi Menagih
Hubungan Persekutuan Transaksi
Upah Diterima dengan syukur Dituntut dengan paksa
Jika kurang Bersyukur Menagih
Contoh Elisa, Yesus Gehazi, Simon

3.3 Simon si Penyihir — Contoh PB

Kisah 8:18–24 (TB)

"Ketika* Simon melihat, bahwa oleh penumpangan tangan rasul-rasul itu Roh Kudus diberikan, ia menawarkan uang kepada mereka, katanya: 'Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya barangsiapa yang aku tumpangi tangan, menerima Roh Kudus.' Tetapi Petrus berkata kepadanya: 'Binasalah kiranya uangmu bersama-sama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa karunia Allah dapat diperoleh dengan uang.'"*

Analisis:

· Simon mencoba membeli karunia Allah.
· Simon berpikir dirinya bisa berjasa.
· Petrus menghardik — dengan keras.
· Dosa Simon — simoni — menganggap karunia Allah bisa diperoleh dengan jasa.

Poin kunci: Simon adalah contoh PB — pelayan yang mengubah hak menjadi kewajiban — dan jatuh.

---

Bagian 4: Pola yang Benar — Kasih, Bukan Kewajiban

4.1 Prinsip yang Harus Dipegang

1. Pelayanan adalah kasih — bukan pekerjaan upahan.
2. Upah adalah hak — tetapi bukan motivasi.
3. Jika diberikan — bersyukur.
4. Jika tidak diberikan — tetap melayani.
5. Jika kurang — bersyukur — bukan menagih.
6. Yesus memberi — tanpa menetapkan tarif.
7. Yesus menerima — dengan syukur — bukan dengan tuntutan.

4.2 Yesus — Pemberi, Bukan Penagih

Prinsip:

· Yesus memberi makan — 5.000 orang — tanpa menetapkan tarif.
· Yesus menyembuhkan — tanpa menetapkan harga.
· Yesus menerima minyak wangi — tanpa menetapkan nilainya.
· Yesus menerima perjamuan — tanpa menuntut.
· Yesus adalah Pemberi — bukan penagih pajak.

Poin kunci: Yesus tidak menjadi penagih pajak — Ia menjadi pemberi berkat.

4.3 Jika Kurang — Bersyukur

Prinsip:

· Jika apa yang diterima kurang — yang harus dilakukan adalah bersyukur.
· 5 roti dan 2 ikan — untuk 5.000 orang — Yesus bersyukur.
· Yesus tidak menagih — Ia memberi berkat.
· Jika kurang — bukan waktunya menagih — waktunya bersyukur.

Poin kunci: Jika kurang — bersyukur — bukan menagih.

4.4 Elisa — Menolak Imbalan

Prinsip:

· Elisa menolak imbalan — karena ia bukan sumber.
· Elisa tidak menjadi penagih — ia menjadi pelayan.
· Elisa adalah pelindung — Allah adalah sumber.
· Elisa tahu bahwa ia bukan sumber — Allah adalah sumber.

Poin kunci: Elisa menolak imbalan — karena ia tahu bahwa ia bukan sumber.

---

Bagian 5: Kesimpulan

5.1 Ringkasan

Prinsip Penjelasan
Hak pelayan Nyata — Paulus menulis tentang itu
Hak pelayan Pekerja berhak menerima upah
Hak pelayan Jemaat bertanggung jawab menopang
Motivasi Injil — bukan upah
Pola Yesus Menerima tanpa menetapkan
Pola Yesus Memberi tanpa menuntut
Pola Yesus Bersyukur tanpa menagih
Kesalahpahaman Hak menjadi kewajiban
Kesalahpahaman Kasih menjadi transaksi
Contoh yang benar Elisa — menolak imbalan
Contoh yang salah Gehazi — menagih imbalan
Contoh yang salah Simon — membeli karunia

5.2 Poin-Poin Utama

1. Paulus menulis tentang hak atas upah — bukan kewajiban.
2. Upah adalah hak nyata — tetapi bukan motivasi utama.
3. Yesus menunjukkan pola yang lebih dalam — menerima tanpa menetapkan.
4. Yesus memberi makan — tanpa menetapkan tarif.
5. Yesus menerima perjamuan — tanpa menuntut.
6. Yesus menerima minyak wangi — tanpa menetapkan nilainya.
7. Jika apa yang diterima kurang — yang harus dilakukan adalah bersyukur — bukan menagih.
8. Kesalahpahaman terbesar gereja adalah mengubah hak menjadi kewajiban — dan kasih menjadi transaksi.
9. Elisa menolak imbalan — Gehazi menagih imbalan.
10. Yesus adalah Pemberi — bukan penagih pajak.

5.3 Dampak Praktis

Dengan memahami hal ini:

1. Kita dibebaskan dari mentalitas transaksional dalam pelayanan.
2. Kita dibebaskan dari menuntut upah — dan belajar bersyukur.
3. Kita dibebaskan dari menjadi penagih pajak — dan menjadi pemberi berkat.
4. Kita dibebaskan untuk melayani dengan kasih — bukan dengan kewajiban.
5. Kita dibebaskan untuk menerima dengan syukur — bukan dengan tuntutan.
6. Kita dibebaskan untuk memberi — tanpa menetapkan tarif.
7. Kita dibebaskan untuk memuliakan Kristus — karena Dialah yang layak.

---

Seruan Ibadah

---

Allah yang Kekal dan Mahatahu,
Yesus Kristus, Pemberi Berkat,

Engkau telah menunjukkan kepada kami—
melalui Paulus—
bahwa pekerja pelayanan berhak menerima upah.

Engkau telah menunjukkan kepada kami—
melalui Yesus—
bahwa pelayanan adalah kasih — bukan kewajiban.

Engkau telah menunjukkan kepada kami—
melalui Elisa—
bahwa pelayan sejati menolak imbalan.

Engkau telah menunjukkan kepada kami—
melalui Gehazi—
bahwa pelayan yang menagih imbalan akan jatuh.

Ampunilah kami—
karena kami sering mengubah hak menjadi kewajiban,
karena kami sering mengubah kasih menjadi transaksi,
karena kami sering menagih — bukan bersyukur,
karena kami sering menuntut — bukan memberi.

Ajarlah kami—
untuk melayani dengan kasih,
untuk menerima dengan syukur,
untuk memberi tanpa menetapkan tarif,
untuk bersyukur ketika kurang.

Yesus adalah Pemberi—
bukan penagih pajak.
Yesus adalah Sumber—
bukan transaksi.
Yesus adalah Kasih—
bukan kewajiban.

Dan pelayanan yang benar—
lahir dari kasih—
digerakkan oleh belas kasihan—
menolak imbalan—
dan berujung pada ketaatan—
kepada Kristus—
satu-satunya Perantara.

Mar'ot Echad—Satu Allah, satu kasih, satu keselamatan di dalam Kristus.

Amin.

---

Daftar Pustaka

Kitab Suci (Terjemahan Baru, LAI)

· Kejadian 11:27–28; 12:4–5; 13:5–13; 14:12–16; 18:16–33; 19:1–29
· Keluaran 32:13, 32
· Imamat 19:31
· Bilangan 22–24; 31:8, 16
· Ulangan 18:10–12
· 1 Samuel 28:3–25
· 2 Raja-raja 5:1–27
· Ayub 14:21; 19:25–26
· Mazmur 36:10; 90:3; 91:11; 106:23; 121:1–2; 139:13; 146:4
· Amsal 4:23; 18:21
· Pengkhotbah 9:5, 10; 12:7
· Yesaya 14:13–14; 59:2
· Yeremia 2:13; 17:5–7
· Matius 5:16; 6:9–13; 7:7–11; 12:34; 14:15–21; 16:19; 17:1–8; 18:10, 18; 19:28; 26:36–46; 27:52; 28:18
· Markus 10:42–45; 11:23
· Lukas 1:28, 38; 2:35; 7:36–50; 16:19–31; 22:29–30; 23:43
· Yohanes 1:1–3, 10, 14; 2:1–11; 3:8, 12; 5:22, 26; 11:11–14; 13:1–17; 14:6, 13–14; 15:5; 16:23; 17:5, 20, 24; 19:25, 30
· Kisah 2:36; 4:12; 8:9–24; 12:7–11; 17:28
· Roma 1:7, 9–10; 3:23; 5:12; 6:23; 8:1, 10, 17, 26–27, 38–39; 10:1, 9–10; 15:27
· 1 Korintus 1:2; 9:7–18; 10:31; 12:12–27; 15:6, 18, 20–22, 54–55
· 2 Korintus 4:13; 5:17; 11:7–9; 12:8–9
· Galatia 6:6
· Efesus 1:1, 4, 15–16, 22–23; 2:1, 6, 8–9; 4:15–16; 5:32; 6:18
· Filipi 1:3–4; 2:5–11; 4:6, 13
· Kolose 1:9, 16, 18; 3:17
· 1 Tesalonika 4:13–18; 5:25
· 2 Tesalonika 3:1
· 1 Timotius 2:1–5; 5:17–18; 6:15
· 2 Timotius 2:6
· Titus 1:16; 2:11
· Ibrani 1:14; 7:23–25; 9:15, 27; 11; 12:2, 24; 13:18
· Yakobus 1:5; 2:14–26; 3:3–5; 4:3; 5:14–16
· 1 Petrus 1:19–20; 2:12, 15; 3:18–19
· 2 Petrus 2:15; 3:9
· 1 Yohanes 2:19; 5:4, 14, 16
· Yudas 1:11
· Wahyu 1:8, 18; 2:7, 11, 14, 17, 26; 3:5, 12, 20, 21; 4:1–2; 5:3, 8, 9–10; 6:9–11; 8:3–4; 12:1; 19:1, 7–9, 16; 20:6, 12; 21:1; 22:5, 17

Kitab Tobit (Deuterokanonika)

· Tobit 1:1–2; 3:1–6, 7–9, 11–15, 16–17; 5:4–6; 6:1–5; 8:1–3; 11:7–8, 11–15; 12:11–15, 16–22; 13:1–6

Referensi Teologis

· Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (1964), bab 8
· Paus Pius XII, Ad Caeli Reginam (1954)
· Paus Leo XIII, Octobri Mense (1891), Supremi Apostolatus (1883)
· Dikasteri untuk Ajaran Iman, Mater Populi Fidelis (2025)
· Ratzinger, Joseph. Maria dalam Teologi (1996)
· Barth, Karl. Church Dogmatics III/4
· Bonhoeffer, Dietrich. Letters and Papers from Prison
· Calvin, John. Commentary on Hosea
· Von Balthasar, Hans Urs. The Theology of the Two Covenants
· Wright, N.T. Jesus and the Victory of God
· Keener, Craig S. The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary
· Instone-Brewer, David. Divorce and Remarriage in the Bible
· Loader, William. The New Testament on Sexuality
· Martin, Dale B. Sex and the Single Savior

Referensi Sekuler

· Vermes, Geza. Jesus the Jew: A Historian's Reading of the Gospels
· Sanders, E.P. The Historical Figure of Jesus
· Crossan, John Dominic. Jesus: A Revolutionary Biography
· Ehrman, Bart D. Jesus: Apocalyptic Prophet of the New Millennium
· Fitzmyer, Joseph A. Tobit. Commentaries on Early Jewish Literature. Berlin: De Gruyter, 2003.
· Moore, Carey A. Tobit: A New Translation with Introduction and Commentary. Anchor Bible 40A. New York: Doubleday, 1996.
· Nickelsburg, George W.E. Jewish Literature between the Bible and the Mishnah. Minneapolis: Fortress Press, 2005.

---

Penutup

Artikel ini telah menunjukkan bahwa pelayanan memiliki dua sisi — hak dan kewajiban — dan bahwa kesalahpahaman terbesar gereja adalah mencampur keduanya.

Kuncinya adalah memahami bahwa:

1. Hak pelayan untuk menerima upah adalah nyata — Paulus menulis tentang itu.
2. Kewajiban jemaat untuk menopang pelayan adalah nyata — Paulus menulis tentang itu.
3. Tetapi — motivasi pelayan bukan upah — melainkan Injil.
4. Yesus menunjukkan pola yang lebih dalam — menerima tanpa menetapkan.
5. Yesus memberi makan — tanpa menetapkan tarif.
6. Yesus menerima perjamuan — tanpa menuntut.
7. Yesus menerima minyak wangi — tanpa menetapkan nilainya.
8. Jika apa yang diterima kurang — yang harus dilakukan adalah bersyukur — bukan menagih.
9. Elisa menolak imbalan — Gehazi menagih imbalan.
10. Yesus adalah Pemberi — bukan penagih pajak.

Dan inilah yang perlu kita pegang:

· Bukan menagih — tetapi bersyukur.
· Bukan menuntut — tetapi menerima.
· Bukan transaksi — tetapi kasih.
· Bukan kewajiban — tetapi sukarela.
· Bukan penagih pajak — tetapi pemberi berkat.

Seperti kata Yesus:

"Yesus berkata kepada mereka: 'Tidak perlu mereka pergi; kamu yang harus memberi mereka makan.'" (Matius 14:16)

Dan seperti kata Elisa:

"Demi TUHAN yang hidup, yang kulayani, aku tidak akan menerima sesuatu apapun." (2 Raja-raja 5:16)

Pelayanan yang benar — lahir dari kasih — digerakkan oleh belas kasihan — menolak imbalan — dan berujung pada ketaatan kepada Kristus — satu-satunya Perantara.

Soli Deo Gloria.

---

"Seorang pekerja patut mendapat upahnya." (1 Timotius 5:18)

"Tetapi kami tidak menggunakan hak itu. Sebaliknya, kami sabar menanggung segala sesuatu, supaya kami tidak menghambat Injil Kristus." (1 Korintus 9:12)

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Kenapa Yesus Di Baptis ?