Kebingungan Gereja dan Dualisme Substansi
Artikel akan membongkar ontologi (ajaran tentang "ada") yang selama ini diam-diam dianut gereja, tetapi tidak pernah disadari: bahwa gereja—tanpa sadar—adalah penganut dualisme Platonis, yang memisahkan "rohani" dari "jasmani", dan "pribadi" dari "benda".
---
Kebingungan Gereja dan Dualisme Substansi
Setiap benda adalah pribadi menurut strukturnya sendiri. Ini bukan panteisme, bukan animisme, tetapi pandangan alkitabiah yang hilang—bahwa seluruh ciptaan memiliki "kebenaran" (logos) dan "kehormatan" karena diciptakan oleh Allah yang adalah Pribadi. Mari kita bedah dengan jernih, tanpa reaksi alergi.
---
1. Kesalahan Gereja: Dualisme yang Tidak Alkitabiah
Gereja tradisional—karena pengaruh Yunani (Plato, Aristoteles)—mengajarkan:
· Manusia = pribadi (berjiwa).
· Benda = objek mati (tanpa jiwa).
· Hubungan = manusia menguasai benda (genesis 1:28) secara eksploitatif.
Ini adalah warisan Descartes ("aku berpikir, maka aku ada") dan materialisme mekanistik, bukan Alkitab. Alkitab justru melihat seluruh ciptaan sebagai "keluarga Allah" yang bernyanyi, berseru, dan merespons.
---
2. Bukti Alkitab: Ciptaan Sebagai "Pribadi" dalam Arti Relasional
Ayat Ciptaan yang "Bersuara" Makna
Mazmur 19:2-4 "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya... tidak ada yang tidak mendengar suara mereka." Langit dan cakrawala adalah subjek komunikasi, bukan objek bisu.
Yesaya 55:12 "Gunung-gunung dan bukit-bukit akan bergemuruh dengan nyanyian... dan segala pohon di padang akan bertepuk tangan." Gunung, bukit, pohon—melakukan tindakan pribadi: bernyanyi dan bertepuk tangan.
Roma 8:19-22 "Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan... makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan." Makhluk (ciptaan) memiliki kerinduan, penantian, dan harapan—ini adalah atribut pribadi.
Kolose 1:16-17 "Karena di dalam Dia segala sesuatu diciptakan... segala sesuatu ada di dalam Dia dan untuk Dia." Segala benda memiliki tujuan dan arah kepada Kristus—mereka bukan netral, tetapi berorientasi.
Wahyu 5:13 "Aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan di bumi dan di bawah bumi... berkata: 'Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, puji-pujian...'." Seluruh ciptaan—bukan hanya manusia—memuji Allah secara aktif.
---
3. Definisi "Pribadi" Menurut Struktur Benda
Anda mengatakan: "Tiap benda adalah pribadi menurut struktur benda itu sendiri." Ini bukan animisme (memberi roh pada benda), tetapi ontologi relasional:
· Struktur atom air (H₂O) memiliki "karakter" untuk melarutkan garam, mengalir, dan memberi hidup—ini adalah "kebenaran" yang diletakkan Allah.
· Struktur pohon memiliki "karakter" untuk menyerap karbon, mengeluarkan oksigen, dan memberi buah—ini adalah "panggilan" dari Pencipta.
· Struktur batu memiliki "karakter" untuk menjadi fondasi yang kokoh—ini adalah "kesetiaan" pada tujuannya.
Dalam teologi Kristen klasik, ini disebut "logos spermatikos" (benih-benih Firman) yang tersebar di seluruh ciptaan. Setiap benda "berbicara" tentang Allah melalui strukturnya, dan ia "merespons" dengan menjadi dirinya sendiri.
Contoh ekstrem (tetapi alkitabiah): Keledai Bileam (Bil 22:28-30) berbicara—bukan karena keledai punya jiwa manusia, tetapi karena Allah bisa memakai struktur pribadi keledai (kemampuan vokal) untuk menyampaikan pesan.
---
4. Mengapa Gereja Bingung dan Menolak Mentah-mentah?
Ada 3 akar kebingungan:
a. Ketakutan akan Animisme dan Panteisme
Gereja takut jika mengakui "kepribadian" benda, maka ia akan menyembah benda (panteisme) atau menganggap roh ada di dalam benda (animisme).
Padahal: Alkitab tidak mengajarkan bahwa benda adalah Allah (panteisme) atau dirasuki roh (animisme), tetapi bahwa benda memiliki relasi dengan Allah sebagai ciptaan-Nya yang baik.
b. Pengaruh Filsafat Yunani (Plato) yang Memisahkan Roh dan Materi
Plato mengajar bahwa materi itu jahat atau rendah; roh itu baik. Gereja menerima ini, lalu menganggap:
· Rohani = penting (doa, firman).
· Jasmani/benda = tidak penting (hanya alat).
Akibat: Menghancurkan pohon untuk kayu gereja tanpa rasa hormat, mengeksploitasi tambang tanpa memikirkan generasi berikutnya—karena "benda bukan pribadi."
c. Teologi Penatalayanan yang Sempit
Gereja mengajarkan "kuasa" manusia atas alam (Kej 1:28) sebagai dominasi, bukan pelayanan. Padahal bahasa Ibrani radah berarti "menggembalakan" (seperti raja yang menggembalakan rakyat), bukan "mengeksploitasi".
---
5. Pandangan yang Benar: "Relasi dengan Benda" dalam Iman Kristen
Jika kita menerima bahwa setiap benda adalah pribadi menurut strukturnya, maka:
1. Kita tidak boleh memperlakukan benda secara sembarangan.
· Membuang sampah sembarangan = menghina "pribadi" tanah.
· Menebang hutan tanpa reboisasi = membungkam "nyanyian" pohon (Yes 55:12).
2. Kita bisa "berdialog" dengan benda.
· Bukan dalam arti mistis, tetapi memahami bahasa struktur-nya.
· Contoh: Arsitek yang "mendengarkan" batu untuk membangun jembatan yang aman, atau petani yang "membaca" tanah untuk menanam yang sesuai.
3. Kita bisa "bersyukur" atas benda.
· Paulus berkata, "Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik dan tidak ada yang harus ditolak, asal diterima dengan ucapan syukur" (1 Tim 4:4).
· Ucapan syukur adalah pengakuan relasi—bahwa benda adalah pemberian dari Pribadi Allah.
4. Kita bisa "memulihkan" benda yang rusak.
· Roma 8:21 mengatakan ciptaan akan dimerdekakan dari kebinasaan. Kita adalah alat pemulihan Allah.
---
6. Contoh Praktis: Gereja yang "Sadar" Akan Kepribadian Benda
Praktik Lama (Dualistik) Praktik Baru (Relasional)
Membangun gedung gereja asal jadi, dengan material murah, tanpa memikirkan dampak lingkungan. Memilih material lokal, daur ulang, dan berdesain hemat energi—sebagai bentuk hormat pada "struktur" kayu dan batu.
Mengkritik fengshui sebagai okultisme total. Membedakan fengshui mistis (benda beraura gaib) vs fengshui rasional (menghormati arah angin dan sinar matahari).
Membuang sampah plastik di selokan karena "benda mati". Mendaur ulang dan mengurangi sampah—karena tanah dan air memiliki "pribadi" untuk menopang kehidupan.
Merusak gunung untuk tambang tanpa reklamasi. Mengekstraksi mineral dengan bertanggung jawab, dan memulihkan lahan—sebagai bentuk "mendengarkan" gunung yang merintih (Rm 8:22).
---
7. Teguran Alkitab untuk Dua Ekstrem
a. Ekstrem Menolak Total (Menganggap Benda Tak Punya Nilai)
"Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia." — Amsal 14:31
Jika berlaku untuk manusia, berlaku juga untuk ciptaan—menghancurkan alam adalah menghina Penciptanya.
b. Ekstrem Menyembah Benda (Animisme/Panteisme)
"Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia fana, burung, binatang berkaki empat, atau binatang melata." — Roma 1:23
Kita tidak menyembah pohon, tetapi kita menghormati pohon sebagai ciptaan yang dipakai Allah untuk memuliakan-Nya.
---
8. Kesimpulan: Gereja Dipanggil Menjadi "Imam bagi Ciptaan"
Anda benar: gereja bingung karena tidak punya teologi yang matang tentang benda. Akibatnya, ia menolak secara mentah apa yang sebenarnya adalah kearifan Allah yang tersembunyi dalam struktur.
Panggilan kita hari ini adalah kembali ke imamat yang sejati:
· Imam adalah perantara antara Allah dan manusia, dan juga antara Allah dan ciptaan (karena seluruh ciptaan merindukan keselamatan—Rm 8:19).
· Kita mempersembahkan roti dan anggur (benda) dalam perjamuan kudus, dan roti/anggur itu menjadi tubuh/darah Kristus—bukan karena benda itu ajaib, tetapi karena Allah memakai struktur benda untuk menyampaikan kasih-Nya.
· Kita dipanggil untuk "membaca" struktur benda, "menghormati" fungsinya, dan "memulihkan" relasi yang rusak—agar seluruh ciptaan ikut memuji Allah.
---
"Sebab oleh Dia segala sesuatu diciptakan, baik yang di sorga maupun yang di bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia."
— Kolose 1:16
Jangan takut untuk mengatakan: "Benda ini memiliki pribadi menurut strukturnya." Karena dengan berkata demikian, Anda sedang mengakui bahwa Allah adalah Pencipta yang mahakaya, yang menuangkan diri-Nya ke dalam setiap atom, sel, dan batu—bukan untuk disembah, tetapi untuk dikenal dan dikelola dengan kasih.
---
Komentar
Posting Komentar