Kelangkaan Ayat Humaniora dalam Al-Qur'an Menurut Sarjana dan Teolog Islam
Kelangkaan Ayat Humaniora dalam Al-Qur'an Menurut Sarjana dan Teolog Islam
Serial Mari mengenal Islam sejenak (3)
Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda?
Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.
---
Pendahuluan
Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat sebuah pengamatan yang jarang dibahas secara terbuka: kelangkaan ayat-ayat yang berbicara tentang humaniora — tentang kasih kepada manusia sebagai manusia, tentang etika universal, tentang kemanusiaan yang tidak terikat oleh batas agama, suku, atau golongan.
Pengamatan ini bukanlah pengamatan orang luar yang ingin merendahkan Al-Qur'an. Justru sebaliknya: ia muncul dari para sarjana dan teolog Muslim sendiri — orang-orang yang mencintai Al-Qur'an dan mengkajinya sepanjang hidup. Mereka menyadari bahwa ketika kita mencari ayat-ayat yang berbicara tentang humanisme universal — kasih kepada manusia tanpa syarat — jumlahnya sangat sedikit dibandingkan ayat-ayat tentang ibadah, hukum, tauhid, dan relasi internal umat.
Pertanyaannya bukan: "Apakah Al-Qur'an mengajarkan humaniora?" — karena jawabannya jelas ya. Pertanyaannya adalah: "Mengapa porsinya begitu kecil?" Dan pertanyaan inilah yang menjadi perdebatan di kalangan sarjana dan teolog Islam.
---
Apa yang Dimaksud dengan "Ayat Humaniora"?
Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "ayat humaniora" dalam konteks ini.
Ayat humaniora adalah ayat yang:
1. Berbicara tentang manusia sebagai manusia — bukan sebagai Muslim, bukan sebagai mukmin, bukan sebagai anggota golongan tertentu.
2. Memerintahkan kebaikan tanpa syarat — tanpa imbalan, tanpa relasi, tanpa kondisi.
3. Bersifat universal — berlaku untuk semua manusia, tanpa kecuali.
4. Berbicara tentang etika sosial murni — bukan tentang ibadah ritual, bukan tentang hukum waris, bukan tentang akidah.
Dengan definisi ini, kita bisa mulai menghitung. Dan hasilnya — sebagaimana diakui oleh banyak sarjana — sangat sedikit.
---
Pengamatan Para Sarjana dan Teolog
1. Fazlur Rahman (1919–1988)
Fazlur Rahman, salah satu sarjana Muslim paling berpengaruh abad ke-20, dalam karyanya Major Themes of the Qur'an (1980) mencatat bahwa Al-Qur'an memang berbicara tentang keadilan sosial, tentang orang miskin, tentang yatim piatu — tapi selalu dalam konteks komunitas beriman. Keadilan sosial dalam Al-Qur'an, menurut Rahman, lebih banyak dibingkai sebagai kewajiban orang beriman daripada sebagai hak universal manusia.
Rahman tidak mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak mengajarkan humaniora. Tapi ia mengakui bahwa porsinya kecil dibandingkan dengan tema-tema lain. Dan ia mendorong pembaca modern untuk mengembangkan tema-tema humaniora ini — bukan karena Al-Qur'an kekurangan, tapi karena konteks historis di mana Al-Qur'an diturunkan memang berbeda.
2. Mohammed Arkoun (1928–2010)
Mohammed Arkoun, sarjana Aljazair-Prancis, dalam Rethinking Islam (1994) berbicara tentang apa yang ia sebut "the unthought" (yang tidak terpikirkan) dalam tradisi Islam. Salah satu "yang tidak terpikirkan" itu adalah humanisme universal — gagasan bahwa manusia memiliki nilai sebelum ia menjadi Muslim.
Arkoun berargumen bahwa tradisi Islam ortodoks terlalu fokus pada dikotomi Muslim/non-Muslim, sehingga manusia sebagai manusia sering terlewat. Menurutnya, Al-Qur'an sebenarnya mengandung benih-benih humanisme — tapi benih itu tidak dikembangkan oleh tradisi tafsir yang terlalu sibuk dengan hukum dan akidah.
3. Nasr Hamid Abu Zayd (1943–2010)
Nasr Hamid Abu Zayd, sarjana Mesir yang meninggal dalam pengasingan, dalam karyanya tentang "teks dan konteks" Al-Qur'an, mencatat bahwa Al-Qur'an adalah teks yang terikat konteks. Ia diturunkan dalam masyarakat yang sangat partikular — masyarakat Arab abad ke-7 — dan banyak perintahnya ditujukan kepada komunitas beriman yang sedang dalam proses pembentukan.
Abu Zayd tidak mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak universal. Tapi ia mengakui bahwa bahasa Al-Qur'an seringkali partikular — dan salah satu akibatnya adalah bahwa humanisme universal menjadi kurang menonjol dibandingkan identitas komunal.
4. Khaled Abou El Fadl (lahir 1963)
Khaled Abou El Fadl, profesor hukum Islam di UCLA, dalam The Great Theft (2005) dan karyanya yang lain, berbicara tentang "the forgotten humanity" — kemanusiaan yang terlupakan — dalam diskursus Islam kontemporer. Ia berargumen bahwa para puritan telah mereduksi Islam menjadi kode hukum dan identitas kelompok, sehingga kasih kepada manusia sebagai manusia menjadi terpinggirkan.
Abou El Fadl tidak menyalahkan Al-Qur'an. Ia menyalahkan penafsiran yang terlalu fokus pada aspek legal dan ritual, sehingga aspek humaniora — yang sebenarnya ada — menjadi terlupakan.
5. Amina Wadud (lahir 1952)
Amina Wadud, sarjana feminis Muslim Amerika, dalam Qur'an and Woman (1992) mencatat bahwa Al-Qur'an memang berbicara tentang keadilan — tapi keadilan itu seringkali dibatasi oleh konteks patriarkal di mana teks diturunkan. Ia berargumen bahwa prinsip-prinsip humaniora dalam Al-Qur'an perlu dibebaskan dari penafsiran yang membatasi.
Wadud menyoroti bahwa banyak ayat yang berbicara tentang kasih dan keadilan — tapi aplikasinya dalam tradisi seringkali tidak universal. Kasih kepada manusia seringkali dibatasi oleh batas agama, jenis kelamin, dan status sosial.
6. Farid Esack (lahir 1959)
Farid Esack, sarjana Afrika Selatan, dalam Qur'an, Liberation and Pluralism (1997) berbicara tentang "the Qur'an as a text of liberation" — Al-Qur'an sebagai teks pembebasan. Ia berargumen bahwa Al-Qur'an memang mengandung prinsip-prinsip humaniora — tapi prinsip-prinsip itu tidak selalu dikembangkan oleh tradisi.
Esack menyoroti bahwa ketika Al-Qur'an berbicara tentang orang tertindas (mustad'afīn), ia berbicara tentang manusia — bukan hanya Muslim. Tapi penafsiran ortodoks seringkali mengaburkan universalitas ini.
7. Abdullah Saeed (lahir 1960)
Abdullah Saeed, profesor studi Islam di Universitas Melbourne, dalam Interpreting the Qur'an (2006) membahas apa yang ia sebut "hierarchy of values" dalam Al-Qur'an. Ia berargumen bahwa Al-Qur'an mengandung nilai-nilai dasar (seperti keadilan, kasih, dan humaniora) dan nilai-nilai instrumental (seperti aturan hukum yang spesifik untuk konteks tertentu).
Menurut Saeed, nilai-nilai dasar humaniora ada dalam Al-Qur'an — tapi porsinya kecil dibandingkan nilai-nilai instrumental. Dan tantangan bagi pembaca modern adalah memprioritaskan nilai-nilai dasar ini — bukan karena Al-Qur'an kekurangan, tapi karena tradisi penafsiran seringkali membalik prioritas.
---
Ayat-Ayat Humaniora: Yang Sedikit Itu
Mari kita lihat ayat-ayat yang secara harfiah berbicara tentang humaniora universal — dan betapa sedikitnya:
1. QS. Al-Baqarah [2]: 83
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
"Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik."
Ini adalah satu-satunya ayat dalam Al-Qur'an yang secara harfiah memerintahkan ucapan baik kepada manusia secara universal — tanpa syarat, tanpa relasi, tanpa kondisi.
2. QS. Al-Hujurat [49]: 13
"Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min dzakarin wa untsā..."
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan..."
Ayat ini berbicara tentang asal-usul manusia — tapi tidak memerintahkan kasih secara eksplisit. Ia hanya menyatakan fakta penciptaan.
3. QS. An-Nisa [4]: 1
"Yā ayyuhan-nāsu ittaqū rabbakumul-ladzī khalaqakum min nafsin wāḥidah..."
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri..."
Sama seperti di atas: fakta penciptaan, bukan perintah kasih.
4. QS. Al-Mumtahanah [60]: 8
"Lā yan-hākumullāhu 'anil-ladzīna lam yuqātilūkum..."
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu..."
Ayat ini kondisional — hanya berlaku untuk yang tidak memerangi. Bukan universal.
5. QS. Al-Isra [17]: 70
"Wa laqad karramnā banī Ādama..."
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam..."
Ayat ini menyatakan kemuliaan semua manusia — tapi tidak memerintahkan kasih kepada mereka.
6. QS. At-Tin [95]: 4
"Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm"
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Ini pernyataan tentang manusia, bukan perintah kasih.
---
Mengapa Begitu Sedikit?
Di sinilah perdebatan di kalangan sarjana dan teolog Islam menjadi menarik. Ada beberapa penjelasan yang diajukan:
1. Penjelasan Historis
Al-Qur'an diturunkan dalam konteks historis yang sangat spesifik: masyarakat Arab abad ke-7 yang terpecah oleh suku, kabilah, dan golongan. Dalam konteks seperti itu, identitas komunal adalah prioritas — karena tanpa identitas komunal, komunitas tidak bisa bertahan.
Karena itu, Al-Qur'an lebih banyak berbicara tentang relasi internal umat (sesama Muslim) daripada relasi universal manusia. Bukan karena universalitas tidak penting — tapi karena konteks menuntut prioritas yang berbeda.
2. Penjelasan Teologis
Sebagian teolog berargumen bahwa humaniora universal dalam Al-Qur'an tidak perlu banyak ayat — karena satu ayat saja sudah cukup. QS. Al-Baqarah [2]: 83 — "qūlū lin-nāsi ḥusnā" — sudah mencakup semua manusia. Tidak perlu diulang-ulang.
Argumen ini ada benarnya. Tapi kritiknya adalah: kalau satu ayat sudah cukup, mengapa ayat tentang hukum waris diulang-ulang? Mengapa ayat tentang ibadah diulang-ulang? Mengapa ayat tentang akidah diulang-ulang? Kalau humaniora begitu penting, mengapa tidak diulang-ulang juga?
3. Penjelasan Metodologis
Sebagian sarjana berargumen bahwa kelangkaan ayat humaniora bukanlah masalah — karena Al-Qur'an bukan kitab humaniora. Al-Qur'an adalah kitab petunjuk (hudan lin-nās) — dan petunjuk itu mencakup semua aspek kehidupan, termasuk humaniora.
Menurut argumen ini, kita tidak perlu menghitung berapa banyak ayat tentang humaniora — kita perlu memahami bahwa humaniora adalah bagian dari petunjuk itu. Kalaupun hanya satu ayat, satu ayat itu cukup.
4. Penjelasan Kritis
Sebagian sarjana kritis — seperti Arkoun, Abu Zayd, dan Abou El Fadl — berargumen bahwa kelangkaan ayat humaniora adalah masalah nyata. Bukan masalah Al-Qur'an — tapi masalah tradisi penafsiran yang terlalu fokus pada hukum dan akidah, sehingga humaniora menjadi terpinggirkan.
Menurut mereka, Al-Qur'an memang mengandung benih-benih humaniora — tapi benih itu tidak dikembangkan. Dan akibatnya, umat Islam seringkali kehilangan dimensi humaniora dalam Islam — dimensi yang sebenarnya ada.
---
Implikasi: Mengapa Ini Penting?
Pertanyaan tentang kelangkaan ayat humaniora bukanlah pertanyaan akademis semata. Ia punya implikasi nyata:
1. Implikasi bagi Hubungan Antarumat
Kalau ayat humaniora sedikit, maka prioritas umat Islam bisa tergeser ke arah identitas komunal — dan hubungan antarumat bisa menjadi tegang. Ini menjelaskan mengapa di banyak negara Muslim, hubungan dengan non-Muslim seringkali kurang harmonis.
2. Implikasi bagi Etika Sosial
Kalau ayat humaniora sedikit, maka etika sosial bisa direduksi menjadi etika komunal — dan kasih kepada manusia sebagai manusia bisa terlupakan. Ini menjelaskan mengapa di banyak masyarakat Muslim, kebaikan seringkali dibatasi oleh batas agama.
3. Implikasi bagi Pengembangan Islam
Kalau ayat humaniora sedikit, maka pengembangan Islam ke depan memerlukan penekanan khusus pada humaniora — bukan karena Al-Qur'an kekurangan, tapi karena tradisi perlu diimbangi.
---
Kesimpulan
Kelangkaan ayat humaniora dalam Al-Qur'an adalah fakta yang diakui oleh banyak sarjana dan teolog Islam — dari Fazlur Rahman hingga Khaled Abou El Fadl. Mereka tidak mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak mengajarkan humaniora. Mereka mengatakan bahwa porsinya kecil — dan bahwa tradisi penafsiran seringkali memperkecil porsi itu lebih jauh lagi.
Yang tersisa — dan yang paling murni — adalah QS. Al-Baqarah [2]: 83:
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
"Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik."
Satu ayat. Tanpa syarat. Tanpa kecuali. Kepada manusia.
Mungkin satu ayat sudah cukup — kalau kita benar-benar menjalankannya. Tapi kalau kita mengabaikannya, berapa pun banyaknya ayat humaniora yang ada, tidak akan mengubah apa pun.
---
Daftar Referensi
Karya Sarjana dan Teolog
1. Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur'an (1980)
2. Mohammed Arkoun, Rethinking Islam (1994)
3. Nasr Hamid Abu Zayd, Mafhūm an-Naṣṣ (1990)
4. Khaled Abou El Fadl, The Great Theft (2005)
5. Amina Wadud, Qur'an and Woman (1992)
6. Farid Esack, Qur'an, Liberation and Pluralism (1997)
7. Abdullah Saeed, Interpreting the Qur'an (2006)
Ayat Al-Qur'an
1. QS. Al-Baqarah [2]: 83 — "Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
2. QS. An-Nisa [4]: 1 — Penciptaan manusia dari satu jiwa
3. QS. Al-Hujurat [49]: 13 — Penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan
4. QS. Al-Mumtahanah [60]: 8 — Berbuat baik kepada yang tidak memusuhi
5. QS. Al-Isra [17]: 70 — Kemuliaan anak Adam
6. QS. At-Tin [95]: 4 — Penciptaan manusia dalam bentuk terbaik
---
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik.
Satu ayat. Tanpa syarat. Tanpa kecuali.
Kepada manusia.
Komentar
Posting Komentar