Ketika Kasih Tanpa Syarat Hilang, Perspektif Al-Qur'an tentang Ucapan Baik sebagai Fondasi Kasih kepada Manusia
Ketika Kasih Tanpa Syarat Hilang
Perspektif Al-Qur'an tentang Ucapan Baik sebagai Fondasi Kasih kepada Manusia
Serial Mari mengenal Islam sejenak (1)
Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda?
Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.
---
Pendahuluan
Dalam Al-Qur'an, ada satu ayat yang sering terlewat, padahal ia adalah fondasi paling dasar dari seluruh etika sosial dalam Islam. Ayat itu tidak berbicara tentang perang, tidak tentang ibadah ritual, tidak tentang hukum waris. Ia hanya berbicara tentang sesuatu yang tampak sepele: ucapan.
"Wa idz akhadznā mītsāqa banī isrā'īla lā ta'budūna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānā wa dzil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qūlū lin-nāsi ḥusnā..."
"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil: Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik..."
— QS. Al-Baqarah [2]: 83
Yang membuat ayat ini luar biasa bukanlah isinya yang mulia — tapi syaratnya yang kosong. Tidak ada syarat. Tidak ada relasi. Tidak ada balasan. Tidak ada iman yang sama. Tidak ada kesukuan. Tidak ada warna kulit. Hanya: an-nās — manusia.
Dan justru di situlah letak persoalannya.
---
Kasih yang Sudah Terlalu Banyak Syarat
Kita hidup di zaman di mana kasih kepada sesama telah mengalami inflasi syarat. Berbuat baik hari ini hampir selalu punya pintu masuk.
Al-Qur'an sendiri menyebutkan berbagai bentuk kebaikan bersyarat ini, dan semuanya sah:
1. Berbuat baik karena relasi
"Wa bil-wālidaini iḥsānā wa bidzil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri dzil-qurbā wal-jāri al-junubi wash-shāḥibi bil-janbi wabni as-sabīli..."
"Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil..."
— QS. An-Nisa [4]: 36
Ayat ini memerintahkan iḥsān (perbuatan baik), dan objeknya adalah mereka yang berelasi dengan kita — orang tua, kerabat, tetangga, teman. Semua punya pintu masuk.
2. Berbuat baik karena kondisi
"Lā yan-hākumullāhu 'anil-ladzīna lam yuqātilūkum fid-dīni wa lam yukhrijūkum min diyārikum an tabarrūhum wa tuqsithū ilaihim..."
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu..."
— QS. Al-Mumtahanah [60]: 8
Ayat ini memerintahkan tabarrū (berbuat baik) dan adil — tapi dengan syarat: mereka tidak memerangi dan tidak mengusir. Ini bersifat kondisional.
3. Saling mengenal — bisa positif, bisa negatif
"Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min dzakarin wa untsā wa ja'alnākum syu'ūban wa qabā'ila lita'ārafū..."
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal..."
— QS. Al-Hujurat [49]: 13
Li ta'ārafū (saling mengenal) — ini bukan perintah kasih. Mengenal bisa berujung positif, bisa juga negatif. Ini hanya perintah berinteraksi, bukan mengasihi.
Semua ini sah. Semua ini baik. Tapi perhatikan: semuanya punya syarat. Semuanya punya pintu masuk. Semuanya punya alasan di luar dirinya sendiri.
Itu bukan kasih tanpa syarat. Itu kasih bertransaksi.
---
Satu-satunya Perintah yang Tidak Bisa Ditawar
Di tengah semua kebaikan bersyarat itu, QS. Al-Baqarah [2]: 83 berdiri sendiri. Ia tidak meminta harta. Tidak meminta tenaga. Tidak meminta waktu. Tidak meminta pengorbanan.
Ia hanya meminta lisan.
Perhatikan struktur ayatnya. Sebelum perintah "qūlū lin-nāsi ḥusnā", Allah menyebutkan:
1. Lā ta'budūna illallāh — jangan menyembah selain Allah
2. Wa bil-wālidaini iḥsānā — berbuat baik kepada orang tua
3. Wa dzil-qurbā — kaum kerabat
4. Wal-yatāmā — anak yatim
5. Wal-masākīni — orang miskin
6. Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā — dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik
Lima perintah pertama punya objek yang spesifik dan berelasi. Yang keenam — lin-nās — adalah manusia secara universal. Tanpa syarat. Tanpa kecuali.
Dan justru karena itulah ia menjadi perintah yang paling tidak bisa ditawar. Karena kalau yang paling murah saja — ucapan — tidak bisa kita berikan, maka tidak ada lagi alasan yang tersisa.
Kita bisa berdalih tidak punya uang untuk bersedekah. Kita bisa berdalih tidak punya waktu untuk menolong. Kita bisa berdalih tidak punya relasi untuk berbuat baik. Tapi tidak ada dalih untuk tidak berbicara baik. Lisan tidak butuh modal. Lisan tidak butuh waktu. Lisan tidak butuh relasi.
Maka ketika ucapan pun sudah tidak baik, tidak ada lagi ruang kasih yang tersisa.
---
Ucapan Buruk sebagai Pintu Setan
Al-Qur'an tidak pernah menganggap ucapan buruk sebagai persoalan kecil. Ia bahkan menghubungkannya langsung dengan setan:
"Wa qul li'ibādī yaqūlul-latī hiya aḥsan. Innas-syaithāna yanzaghu bainahum..."
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka..."
— QS. Al-Isra' [17]: 53
Perhatikan urutannya. Bukan "setan menimbulkan perselisihan, maka janganlah kalian berucap buruk." Tapi sebaliknya: "hendaklah kalian berucap yang lebih baik — karena setan itu menimbulkan perselisihan."
Artinya: ucapan buruk adalah pintu masuk setan. Bukan sekadar pelanggaran sosial, bukan sekadar etika yang gagal, tapi kerusakan spiritual. Setiap kata yang kita lontarkan tanpa kasih adalah undangan terbuka bagi perselisihan, kebencian, dan perpecahan.
Al-Qur'an bahkan menyebut ucapan buruk sebagai perkataan yang buruk yang diumpamakan seperti pohon yang buruk:
"Wa matsalu kalimatin khabītsatin kasyajaratin khabītsatinijtutstsati min fauqil-ardhi mā lahā min qarār"
"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun."
— QS. Ibrahim [14]: 26
Sementara ucapan yang baik diumpamakan sebagai pohon yang baik:
"Alam tara kaifa ḍaraballāhu matsalā kalimatan ṭayyibatan kasyajaratin ṭayyibatin aṣluhā tsābitun wa far'uhā fis-samā'"
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit."
— QS. Ibrahim [14]: 24
Ucapan baik berakar teguh dan menjulang ke langit. Ucapan buruk tercabut dari akarnya dan tidak punya tempat berpijak. Itulah perbedaan keduanya.
---
Struktur Kasih yang Runtuh dari Bawah
Mari kita susun ulang struktur kasih dalam Al-Qur'an berdasarkan ayat-ayat yang telah disebutkan:
| Tingkat | Perintah | Objek | Syarat | Referensi |
|---|---|---|---|---|---|
| Minimal | Ucapan baik | Manusia (universal) | Tidak ada | QS. Al-Baqarah [2]: 83 |
| Lebih | Perbuatan baik | Yang berelasi | Ada relasi | QS. An-Nisa [4]: 36 |
| Lebih | Berbuat baik | Yang tidak memusuhi | Ada kondisi | QS. Al-Mumtahanah [60]: 8 |
| Interaksi | Saling mengenal | Semua bangsa | Tidak tentu | QS. Al-Hujurat [49]: 13 |
| Puncak | Kasih | Semua | Tidak ada | QS. Al-Baqarah [2]: 83 |
Lihatlah bahwa puncak kasih sebenarnya kembali ke titik minimal: tanpa syarat. Yang membedakan hanyalah bentuknya — dari ucapan, menjadi perbuatan, menjadi pengorbanan. Tapi prinsipnya sama: tanpa syarat.
Dan di sinilah tragedinya. Ketika tingkat minimal saja gagal — ucapan baik kepada manusia tanpa syarat — maka tingkat-tingkat di atasnya otomatis runtuh. Tidak mungkin seseorang berbuat baik kepada tetangganya dengan tulus kalau lisannya saja sudah tidak baik kepada manusia secara umum.
Kasih kepada sesama bukanlah piramida yang dibangun dari bawah ke atas. Ia adalah fondasi yang menopang seluruh bangunan. Kalau fondasinya retak, seluruh bangunan akan runtuh — seberapa pun megahnya bagian atas.
---
Ketika Kasih Tanpa Syarat Hilang
Maka apa yang terjadi ketika kasih tanpa syarat hilang?
Pertama, yang tersisa hanyalah transaksi.
Setiap kebaikan dihitung. Setiap bantuan ditagih. Setiap senyum punya harga. Al-Qur'an memperingatkan tentang orang-orang yang berbuat baik karena mengharapkan balasan:
"Wa lā tamnun tastaktsir"
"Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak."
— QS. Al-Muddatstsir [74]: 6
Kedua, yang muncul adalah tribalisme.
Kalau kasih hanya untuk yang berelasi, maka yang di luar relasi menjadi orang asing. Dan orang asing, dalam logika ini, adalah ancaman. Padahal Al-Qur'an menegaskan:
"Yā ayyuhan-nāsu ittaqū rabbakumul-ladzī khalaqakum min nafsin wāḥidah..."
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri..."
— QS. An-Nisa [4]: 1
Semua manusia berasal dari satu jiwa. Tidak ada yang asing. Tidak ada yang lebih dulu. Tidak ada yang lebih berhak.
Ketiga, yang tumbuh adalah kebencian.
Karena kalau kasih hanya untuk yang "seperti kita", maka yang "tidak seperti kita" layak dibenci. Ucapan buruk menjadi senjata. Lisan menjadi pedang. Dan setan — sebagaimana diperingatkan QS. Al-Isra' [17]: 53 — menabur perselisihan di mana-mana.
---
Menghidupkan Kembali yang Hilang
Lalu bagaimana kita menghidupkan kembali kasih tanpa syarat?
Mulailah dari yang paling murah: ucapan. Bukan sedekah. Bukan pengorbanan. Bukan gerakan besar. Cukup ucapan baik kepada manusia.
Al-Qur'an memberikan panduan tentang bagaimana ucapan yang baik itu:
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
— QS. Al-Baqarah [2]: 83
"Wa qul li'ibādī yaqūlul-latī hiya aḥsan"
— QS. Al-Isra' [17]: 53
"Wa idz qulnā lil-malā'ikatisjudū li'ādama fa sajadū..."
— QS. Al-Baqarah [2]: 34
Dan yang paling tegas:
"Wa qūlū qaulan sadīdā"
"Dan ucapkanlah perkataan yang benar."
— QS. Al-Ahzab [33]: 70
"Wa qūlū lahum qaulan ma'rūfā"
"Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik."
— QS. An-Nisa [4]: 5
"Wa qul lahumā qaulan karīmā"
"Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."
— QS. Al-Isra' [17]: 23
Kepada siapa? Kepada manusia. Tanpa syarat.
· Kepada yang berbuat baik kepada kita — tentu.
· Kepada yang tidak berbuat baik kepada kita — justru di situlah ujiannya.
· Kepada yang berbeda pendapat dengan kita — terutama.
· Kepada yang berbeda iman dengan kita — tanpa kecuali.
· Kepada yang tidak kita kenal — karena mereka juga manusia.
Karena kalau kita hanya berbicara baik kepada yang berbicara baik kepada kita, apa istimewanya?
"Wa mā lakum lā tu'minūna billāhi..."
— QS. Al-Hadid [57]: 8
---
Penutup
QS. Al-Baqarah [2]: 83 bukanlah ayat yang megah. Ia tidak berbicara tentang pengorbanan besar, tentang perjuangan panjang, tentang pengorbanan jiwa dan raga. Ia hanya berbicara tentang ucapan.
Tapi justru karena itulah ia menjadi cermin paling jujur bagi kita semua. Karena ucapan adalah sesuatu yang tidak bisa kita sembunyikan. Kita bisa berpura-pura berbuat baik. Kita bisa berpura-pura bersedekah. Tapi kita tidak bisa berpura-pura berbicara baik. Lisan adalah cermin hati.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa ucapan yang baik adalah pohon yang baik — akarnya teguh, cabangnya menjulang ke langit, dan ia memberi buah setiap saat:
"Tu'tī ukulahā kulla ḥīnim bi'idzni rabbihā..."
"...yang memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya..."
— QS. Ibrahim [14]: 25
Sementara ucapan yang buruk adalah pohon yang buruk — tercabut dari akarnya, tidak punya tempat berpijak, dan tidak memberi manfaat apa pun.
Maka ketika kasih tanpa syarat hilang, yang pertama kali hilang adalah ucapan baik. Dan ketika ucapan baik hilang, yang pertama kali muncul adalah kebencian.
Kita tidak perlu menunggu dunia runtuh untuk menyadarinya. Kita hanya perlu mendengarkan lisan kita sendiri — dan bertanya:
Sudahkah hari ini aku mengucapkan kata-kata yang baik kepada manusia — tanpa syarat?
---
Daftar Referensi
1. QS. Al-Baqarah [2]: 83 — "Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā" (Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik)
2. QS. An-Nisa [4]: 1 — Semua manusia berasal dari satu jiwa
3. QS. An-Nisa [4]: 5 — "Qaulan ma'rūfā" (Perkataan yang baik)
4. QS. An-Nisa [4]: 36 — Perintah berbuat baik kepada yang berelasi
5. QS. Al-Isra [17]: 23 — "Qaulan karīmā" (Perkataan yang mulia)
6. QS. Al-Isra [17]: 53 — "Yaqūlul-latī hiya aḥsan" (Ucapan yang lebih baik) dan setan menimbulkan perselisihan
7. QS. Al-Ahzab [33]: 70 — "Qaulan sadīdā" (Perkataan yang benar)
8. QS. Al-Hujurat [49]: 13 — "Lita'ārafū" (Saling mengenal)
9. QS. Al-Mumtahanah [60]: 8 — Berbuat baik kepada yang tidak memusuhi
10. QS. Al-Muddatstsir [74]: 6 — Larangan memberi karena mengharap balasan
11. QS. Ibrahim [14]: 24-26 — Perumpamaan kalimat yang baik dan buruk
---
"Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā"
Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik.
Tanpa syarat. Tanpa kecuali. Tanpa menunggu.
Komentar
Posting Komentar