UNIVERSALISME, AMANAT AGUNG, RELASI, DAN KESIA-SIAAN SUBSTANSI

UNIVERSALISME, AMANAT AGUNG, RELASI, DAN KESIA-SIAAN SUBSTANSI

Sebuah Pergulatan Iman Menuju Kristus yang Hidup

---

Pendahuluan: Dari Tradisi Menuju Relasi

Perjalanan iman sejati seringkali dimulai bukan dengan kepastian, melainkan dengan kegelisahan. Kegelisahan ketika ritual terasa hampa, doktrin terasa dingin, dan substansi agama justru menjauhkan dari Allah yang hidup. Pertanyaan mendasar yang muncul: Apakah kekristenan hanya soal benar secara teologis, ataukah ada panggilan yang lebih dalam—yaitu mengenal Pribadi di balik semua kebenaran itu?

Artikel ini lahir dari pergulatan tersebut. Ia mengajak pembaca meninggalkan tembok-tembok substansi yang membatasi, untuk masuk ke dalam samudra relasi yang universal, yang telah dinyatakan Allah melalui Kristus sejak semula.

---

Bagian 1: Universalisme dalam Perspektif Alkitab

Allah yang Menyelamatkan Seluruh Umat Manusia

Keselamatan dalam Alkitab tidak pernah dimaksudkan sebagai hak istimewa eksklusif bagi satu bangsa atau kelompok. Sejak awal, Allah memberkati Abraham dengan janji: "Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3). Bangsa Israel dipilih bukan untuk diselamatkan sendirian, tetapi untuk menjadi saluran berkat universal.

Nabi Yesaya menggema: "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa" (Yesaya 56:7). Dan Perjanjian Baru menegaskan: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal" (Yohanes 3:16). Kata "dunia" (kosmos) di sini bersifat universal, mencakup semua manusia tanpa kecuali.

Namun, universalisme tawaran kasih bukanlah universalisme tanpa Kristus. Rasul Petrus dengan tegas menyatakan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Jadi, universalisme alkitabiah adalah universalisme Kristosentris: semua bangsa dipersilakan datang, tetapi hanya melalui satu Pintu, yaitu Yesus.

---

Bagian 2: Amanat Agung sebagai Revelasi dan Relasi

Bukan Sekadar Perintah, Tetapi Panggilan untuk Mengenal

Amanat Agung (Matius 28:19-20) sering dibaca sebagai instruksi misionaris. Namun, ia adalah revelasi (penyataan) tentang hati Allah yang merindukan semua orang mengenal-Nya. Yesus berkata: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."

Perhatikan: inti Amanat Agung adalah "murid"—sebuah istilah relasional. Seorang murid bukanlah sekadar pelajar doktrin, tetapi seseorang yang hidup bersama Gurunya, meniru Dia, dan merasakan apa yang Dia rasakan. Ini bukan proyek ekspansi agama, tetapi perluasan keluarga Allah.

Di dalam Amanat Agung, Allah menyatakan diri-Nya sebagai:

· Bapa sebagai Sumber segala kasih.
· Anak sebagai pernyataan kasih yang nyata dalam sejarah.
· Roh Kudus sebagai realita kasih yang hidup dan bekerja di dalam kita.

Relasi Trinitas inilah yang menjadi model dan kuasa bagi relasi kita dengan sesama. Kita tidak membawa "substansi ajaran" kepada orang lain, tetapi kita mengundang mereka ke dalam relasi yang sama dengan Bapa, melalui Anak, dalam Roh.

---

Bagian 3: Relasi vs Substansi

Inti Seluruh Narasi Alkitab

Salah satu kesalahan terbesar agama adalah menjadikan substansi (doktrin, ritual, hukum, struktur) sebagai tujuan akhir, padahal substansi hanyalah sarana. Alkitab sejak awal hingga akhir adalah narasi tentang Relasi yang Terputus dan Relasi yang Dipulihkan.

· Di Taman Eden, Allah mencari Adam bukan untuk menghakimi substansi dosanya, tetapi bertanya: "Di manakah engkau?" (Kejadian 3:9)—sebuah pertanyaan relasional.
· Sepanjang Perjanjian Lama, Allah menyebut Israel "istri-Ku" (Hosea 2:16) dan "umat-Ku"—bukan karena ritual mereka sempurna, tetapi karena perjanjian kasih.
· Puncak segalanya: "Firman itu telah menjadi manusia" (Yohanes 1:14). Inkarnasi adalah tindakan relasional tertinggi: Allah masuk ke dalam daging kita agar kita bisa bersekutu dengan-Nya.
· Akhir dari Wahyu bukanlah sebuah buku teologi, melainkan "Perjamuan Kawin Anak Domba" (Wahyu 19:7)—pesta relasi yang kekal.

Teolog Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship menulis: "Hanya orang yang percaya yang taat, dan hanya orang yang taat yang percaya." Ketaatan di sini bukanlah kepatuhan buta pada aturan substansi, tetapi respons cinta kepada Pribadi yang dikenal.

Soren Kierkegaard, filsuf eksistensialis Kristen, mengkritik keras kekristenan yang menjadi "Kristen KTP"—hanya sekadar identitas kultural tanpa pergulatan pribadi. Baginya, iman adalah "lompatan ke dalam ketidakpastian" untuk bertemu dengan Allah yang hidup, bukan sekadar menerima dogma.

---

Bagian 4: Kesia-siaan Substansi Menurut Kitab Pengkhotbah

Segala Sesuatu adalah Angin

Kitab Pengkhotbah adalah kitab paling "sekuler" dalam Alkitab, karena ia berani mempertanyakan seluruh usaha manusia untuk menggenggam substansi:

· "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia" (Pengkhotbah 1:2).
· Hikmat? Sia-sia, karena orang bodoh dan bijak sama-sama mati (2:15-16).
· Kekayaan? Sia-sia, karena tidak bisa dibawa mati (5:15).
· Pekerjaan keras? Sia-sia, karena hasilnya dinikmati orang lain (4:4).
· Bahkan ibadah ritual tanpa hati disebut sia-sia (5:1).

Pengkhotbah menyimpulkan: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena inilah tugas setiap manusia" (12:13). Tetapi perintah utama itu sendiri adalah relasional: "Kasihilah Tuhan, Allahmu... dan kasihilah sesamamu..." (Markus 12:29-31). Dengan demikian, bahkan kesimpulan Pengkhotbah mengarah pada relasi, bukan substansi.

Perspektif Sekuler - Albert Camus: Dalam Mitos Sisifus, Camus menggambarkan absurditas manusia yang terus mendorong batu substansi ke atas bukit, hanya untuk melihatnya berguling kembali. Namun, Camus tidak menemukan jawaban. Alkitab menjawab: bukan dengan menghilangkan substansi, tetapi dengan menempatkannya pada porsi yang benar—sebagai latar panggung, bukan drama itu sendiri. Drama sejati adalah relasi dengan Sang Pencipta.

---

Bagian 5: Memakan Daging dan Meminum Darah

Makna Relasional di Balik Ritual

Yesus berkata: "Jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu" (Yohanes 6:53). Secara harfiah, ini adalah pernyataan yang radikal dan sulit. Tetapi Yesus segera menjelaskan: "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63).

Maknanya:

· Daging = realisasi keberadaan-Nya dalam pekerjaan. Memakan daging berarti meneladani karya Yesus, yaitu ketaatan total kepada Bapa.
· Darah = lambang semangat kehidupan. Meminum darah berarti mengambil bagian dalam semangat pengabdian dan pelayanan Yesus.

Inilah gaya hidup seorang murid: Ketaatan (pada kehendak Bapa), Pengabdian (ketekunan dalam kesulitan), dan Pelayanan (kesabaran dalam mengasihi objek dan subjek tugas). Bukan ritual komuni mingguan yang menyelamatkan, tetapi hidup yang dihabiskan untuk melakukan kehendak Allah seperti Yesus melakukannya.

---

Bagian 6: Siklus Kasih Allah

Cinta - Keluarga - Tanggungjawab - Keadilan - Cinta

Inilah Kasih, yang selalu hadir dalam siklus yang indah dan alkitabiah:

1. Kasih (Cinta) : Sumber dan tujuan segala sesuatu. "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8).
2. Keluarga (Relasi) : Kasih diwujudkan dalam persekutuan. "Kamu adalah keluarga Allah" (Efesus 2:19).
3. Tanggungjawab : Relasi melahirkan tugas untuk mengasihi sesama. "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (Markus 12:31).
4. Keadilan : Tanggungjawab nyata dalam membela yang lemah. "Berlakulah adil, cintailah kesetiaan, dan hiduplah dengan rendah hati di hadapan Allahmu" (Mikha 6:8).
5. Kembali ke Kasih : Keadilan tanpa kasih menjadi legalisme; kasih tanpa keadilan menjadi sentimentalisme. Siklus ini mengembalikan kita pada esensi Allah.

Ini adalah kerajaan Allah yang Yesus beritakan: sebuah relasi yang mengalir keluar menjadi tindakan nyata, dan kembali lagi kepada sumbernya.

---

Kesimpulan: Kembali ke Relasi, Bukan Substansi

Pergulatan iman manusia—baik Kristen maupun non-Kristen—sering kali berakhir pada perdebatan substansi: doktrin mana yang benar, ritual mana yang sah, denominasi mana yang selamat. Tetapi Yesus datang untuk mengakhiri semua itu. Ia tidak berkata, "Aku memberi kamu substansi yang benar," tetapi "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6). Ia adalah kehadiran, bukan rumusan.

Keselamatan adalah mengenal Dia (Yohanes 17:3). Iman adalah mempercayakan diri kepada-Nya, seperti Abraham yang percaya pada janji, bukan pada konsep. Gereja adalah keluarga yang belajar mengasihi, bukan lembaga yang menjaga kemurnian doktrin.

Tetaplah bergumul. Tetaplah merindukan relasi. Karena kerinduan itu sendiri adalah bukti bahwa Roh Kudus, realita kasih Allah, sedang bekerja di dalam hati. Dan Ia akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran—bukan kebenaran statis, tetapi kebenaran yang adalah Kristus.

---

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
— Matius 6:33

---

Doa Penutup:
Tuhan Yesus, lepaskan kami dari belenggu substansi yang sia-sia. Pimpin kami ke dalam relasi yang hidup dengan Engkau, Bapa, dan Roh Kudus. Jadikan kami alat kasih-Mu bagi seluruh umat manusia, agar nama-Mu dimuliakan di semua bangsa. Amin.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Kenapa Kristen Kalau Yesus Yahudi ?