KEKEKALAN YANG SEJATI: Bukan Ketidakberubahan yang Statis, Tetapi Perubahan yang Tidak Berawal dan Tidak Berakhir

KEKEKALAN YANG SEJATI:

Bukan Ketidakberubahan yang Statis, Tetapi Perubahan yang Tidak Berawal dan Tidak Berakhir

Sintesis Akhir: Memahami Ehyeh Asher Ehyeh sebagai Rumusan Kekekalan yang Paling Padat

---

Pendahuluan: Definisi Kekekalan yang Mengguncang

Selama ini, kita mendefinisikan kekekalan sebagai:

· Tidak berubah.
· Statis.
· Diam.
· Tidak bergerak.

Tetapi definisi ini terlalu sederhana untuk Allah yang Mahakuasa. Definisi ini bahkan salah—karena ia menggambarkan kekekalan sebagai kematian, bukan kehidupan.

Mari kita telusuri mengapa:

1. Kekekalan tidak mengenal kehidupan dan kematian — karena kedua istilah ini menunjukkan waktu, paling tidak menunjukkan awal dan akhir.
2. Kekekalan tidak mengenal ciptaan — karena ciptaan memiliki awal dan akhir.
3. Kekekalan tidak mengenal sifat — karena tiap sifat memiliki anti-sifat, di mana awal dari sifat adalah akhir dari anti-sifat.
4. Karena itu, kekekalan bukanlah ketiadaan perubahan — tetapi perubahan itu sendiri yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ehyeh Asher Ehyeh:
"AKU ADALAH AKU" (Keluaran 3:14).

Ini adalah rumusan paling padat tentang kekekalan:
Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Barulah kemudian—setelah memahami kekekalan sebagai perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir—satu entitas bisa mengklaim dirinya hidup dan memiliki sifat.

---

Bagian 1: Kekekalan Tidak Mengenal Kehidupan dan Kematian

A. Kehidupan dan Kematian Menunjukkan Waktu

Kehidupan dan kematian adalah dua istilah yang menunjukkan waktu:

Istilah Mengandaikan Menunjukkan
Kehidupan Ada awal (kelahiran) dan ada akhir (kematian) Waktu
Kematian Ada awal (kematian) dan ada akhir (kebangkitan atau kehancuran) Waktu

Keduanya mengandaikan:

· Awal — Ada titik di mana kehidupan dimulai, ada titik di mana kematian dimulai.
· Akhir — Ada titik di mana kehidupan berakhir, ada titik di mana kematian berakhir.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada awal.
· Tidak ada akhir.
· Karena itu, tidak ada kehidupan dan kematian dalam pengertian waktu.

Yohanes 11:25:

"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati."

Analisis:

· Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup."
· Tetapi untuk menjadi kebangkitan, harus ada kematian yang mendahului.
· Dan untuk menjadi hidup, harus ada kematian yang dialami.
· Ini berarti: Yesus—dalam kekekalan-Nya—mengalami kematian dan kebangkitan bukan sebagai peristiwa waktu, tetapi sebagai realitas kekal.

Dalam kekekalan:

· Kehidupan dan kematian bukanlah peristiwa yang berurutan.
· Kehidupan dan kematian adalah dimensi dari keberadaan yang sama.
· Allah adalah yang hidup—dan karena itu, Dia dapat mati.
· Allah adalah yang mati—dan karena itu, Dia dapat bangkit.
· Keduanya adalah realitas kekal dalam diri Allah.

B. Kekekalan Tidak Mengenal Awal dan Akhir

Kekekalan berarti:

· Tidak ada awalan — Tidak ada titik di mana sesuatu dimulai.
· Tidak ada akhiran — Tidak ada titik di mana sesuatu berakhir.

Jika tidak ada awalan dan akhiran, maka:

· Tidak ada kehidupan — karena kehidupan mengandaikan awal (kelahiran) dan akhir (kematian).
· Tidak ada kematian — karena kematian mengandaikan awal (kematian) dan akhir (kebangkitan atau kehancuran).
· Yang ada adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Mazmur 90:2:

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."

Analisis:

· "Sebelum gunung-gunung dilahirkan" — Tidak ada awalan.
· "Sampai selama-lamanya" — Tidak ada akhiran.
· "Engkaulah Allah" — Keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada "sebelum" dan "sesudah."
· Tidak ada "awal" dan "akhir."
· Yang ada adalah keberadaan yang kekal—yang tidak dapat disebut "hidup" atau "mati" dalam pengertian waktu.

C. Kekekalan sebagai Ketiadaan Kehidupan dan Kematian

Kesimpulan:
Kekekalan tidak mengenal kehidupan dan kematian—karena kedua istilah ini menunjukkan waktu.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada kehidupan yang berawal dan berakhir.
· Tidak ada kematian yang berawal dan berakhir.
· Yang ada adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa:

· Allah tidak dapat disebut "hidup" dalam pengertian waktu—karena "hidup" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah tidak dapat disebut "mati" dalam pengertian waktu—karena "mati" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah adalah Yang Kekal—yang melampaui kedua istilah itu.

---

Bagian 2: Kekekalan Tidak Mengenal Ciptaan

A. Ciptaan Memiliki Awal dan Akhir

Ciptaan adalah segala sesuatu yang diciptakan:

· Manusia.
· Alam semesta.
· Malaikat.
· Segala sesuatu yang ada selain Allah.

Ciptaan memiliki:

· Awal — Ada titik di mana ciptaan dimulai (penciptaan).
· Akhir — Ada titik di mana ciptaan berakhir (kematian, kehancuran, atau transformasi).

Kejadian 1:1:

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."

Analisis:

· "Pada mulanya" — Ada awal.
· "Allah menciptakan" — Ada tindakan penciptaan.
· "Langit dan bumi" — Ada ciptaan.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada "pada mulanya" — karena tidak ada awal.
· Tidak ada "penciptaan" — karena tidak ada proses.
· Tidak ada "ciptaan" — karena tidak ada yang berawal dan berakhir.

B. Kekekalan Tidak Mengenal Ciptaan

Jika kekekalan tidak mengenal awal dan akhir, maka:

· Kekekalan tidak mengenal penciptaan — karena penciptaan adalah awal dari ciptaan.
· Kekekalan tidak mengenal ciptaan — karena ciptaan memiliki awal dan akhir.
· Kekekalan tidak mengenal hubungan dengan ciptaan — karena hubungan mengandaikan waktu.

Namun, Allah menciptakan.
Dan Allah berhubungan dengan ciptaan-Nya.

Bagaimana ini mungkin?

Jawabannya:
Allah menciptakan bukan karena kekekalan-Nya berubah, tetapi karena kekekalan-Nya adalah perubahan itu sendiri.

Dalam kekekalan:

· Penciptaan bukanlah peristiwa yang mengubah Allah.
· Penciptaan adalah ekspresi dari kekekalan Allah—yang selalu menciptakan, selalu berhubungan, selalu mengasihi.
· Allah tidak "memulai" menciptakan—karena tidak ada "sebelum" penciptaan dalam kekekalan.
· Allah tidak "berhenti" menciptakan—karena tidak ada "sesudah" penciptaan dalam kekekalan.

Yohanes 5:17:

"Tetapi Ia berkata kepada mereka: 'Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.'"

Analisis:

· "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang" — Allah terus bekerja.
· "Akupun bekerja juga" — Yesus terus bekerja.
· Pekerjaan Allah bukanlah peristiwa yang berawal dan berakhir—tetapi realitas kekal yang terus berlangsung.

C. Kekekalan sebagai Ketiadaan Ciptaan

Kesimpulan:
Kekekalan tidak mengenal ciptaan—karena ciptaan memiliki awal dan akhir.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada ciptaan yang berawal dan berakhir.
· Tidak ada hubungan yang berawal dan berakhir.
· Yang ada adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa:

· Allah tidak dapat disebut "Pencipta" dalam pengertian waktu—karena "Pencipta" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah tidak dapat disebut "Bapa" dalam pengertian waktu—karena "Bapa" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah adalah Yang Kekal—yang melampaui kedua istilah itu.

Namun, Allah tetap menciptakan dan berhubungan.
Bagaimana ini mungkin?
Karena kekekalan bukanlah ketiadaan perubahan—tetapi perubahan itu sendiri yang tidak berawal dan tidak berakhir.

---

Bagian 3: Kekekalan Tidak Mengenal Sifat

A. Tiap Sifat Memiliki Anti-Sifat

Sifat adalah karakteristik atau atribut yang melekat pada sesuatu:

· Kasih.
· Keadilan.
· Kekudusan.
· Kemahakuasaan.

Tiap sifat memiliki anti-sifat:

· Kasih ↔ Kebencian.
· Keadilan ↔ Ketidakadilan.
· Kekudusan ↔ Kekotoran.
· Kemahakuasaan ↔ Ketidakberdayaan.

Dan tiap sifat memiliki:

· Awal — Ada titik di mana sifat itu mulai ada.
· Akhir — Ada titik di mana sifat itu berakhir.

Contoh:

· Kasih — Awal dari kasih adalah akhir dari kebencian.
· Kebencian — Awal dari kebencian adalah akhir dari kasih.
· Keadilan — Awal dari keadilan adalah akhir dari ketidakadilan.
· Ketidakadilan — Awal dari ketidakadilan adalah akhir dari keadilan.

Karena tiap sifat memiliki anti-sifat, maka:

· Tiap sifat tidak bisa tanpa awal.
· Tiap sifat tidak bisa tanpa akhir.
· Jika tanpa awal dan akhir, maka itu bukan adanya sifat—tetapi ketiadaan sifat.

B. Kekekalan Tidak Mengenal Sifat

Jika kekekalan tidak mengenal awal dan akhir, maka:

· Kekekalan tidak mengenal sifat — karena sifat memiliki awal dan akhir.
· Kekekalan tidak mengenal anti-sifat — karena anti-sifat memiliki awal dan akhir.
· Kekekalan tidak mengenal perubahan dari sifat ke anti-sifat — karena perubahan mengandaikan waktu.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada sifat yang berawal dan berakhir.
· Tidak ada anti-sifat yang berawal dan berakhir.
· Yang ada adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa:

· Allah tidak dapat disebut "kasih" dalam pengertian waktu—karena "kasih" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah tidak dapat disebut "adil" dalam pengertian waktu—karena "adil" mengandaikan awal dan akhir.
· Allah adalah Yang Kekal—yang melampaui semua sifat.

Namun, Allah adalah kasih.
Dan Allah adalah adil.

Bagaimana ini mungkin?

Jawabannya:
Allah adalah kasih—bukan sebagai sifat yang berawal dan berakhir, tetapi sebagai realitas kekal yang tidak berawal dan tidak berakhir.
Allah adalah adil—bukan sebagai sifat yang berawal dan berakhir, tetapi sebagai realitas kekal yang tidak berawal dan tidak berakhir.

C. Kekekalan sebagai Ketiadaan Sifat

Kesimpulan:
Kekekalan tidak mengenal sifat—karena tiap sifat memiliki anti-sifat, di mana awal dari sifat adalah akhir dari anti-sifat.

Dalam kekekalan:

· Tidak ada sifat yang berawal dan berakhir.
· Tidak ada anti-sifat yang berawal dan berakhir.
· Yang ada adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa:

· Allah tidak dapat disebut "kasih" dalam pengertian waktu.
· Allah tidak dapat disebut "adil" dalam pengertian waktu.
· Allah adalah Yang Kekal—yang melampaui semua sifat.

Namun, Allah tetap adalah kasih dan adil.
Bagaimana ini mungkin?
Karena kekekalan bukanlah ketiadaan sifat—tetapi sifat itu sendiri yang tidak berawal dan tidak berakhir.

---

Bagian 4: Ehyeh Asher Ehyeh—Rumusan Kekekalan yang Paling Padat

A. Allah Memperkenalkan Diri-Nya sebagai Ehyeh Asher Ehyeh

Keluaran 3:14:

"Firman Allah kepada Musa: 'AKU ADALAH AKU.' Lagi firman-Nya: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU TELAH MENGUTUS AKU kepadamu.'"

Ibrani:
אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה
Ehyeh Asher Ehyeh

Terjemahan harfiah:

· Ehyeh — "Aku adalah" atau "Aku akan menjadi."
· Asher — "yang" atau "bahwa."
· Ehyeh — "Aku adalah" atau "Aku akan menjadi."

Terjemahan yang paling tepat:
"Aku adalah Aku" atau "Aku akan menjadi apa yang Aku akan menjadi."

B. Ehyeh Asher Ehyeh sebagai Rumusan Kekekalan

Mengapa Ehyeh Asher Ehyeh adalah rumusan paling padat tentang kekekalan?

Karena rumusan ini:

1. Tidak menyebut nama — Allah tidak memberikan nama yang dapat didefinisikan.
2. Tidak menyebut sifat — Allah tidak memberikan sifat yang dapat dibatasi.
3. Tidak menyebut awal — Tidak ada "sebelum" dalam rumusan ini.
4. Tidak menyebut akhir — Tidak ada "sesudah" dalam rumusan ini.
5. Hanya menyebut keberadaan — "Aku adalah" atau "Aku akan menjadi."

Analisis:

Elemen Makna Implikasi
Ehyeh (Aku adalah) Keberadaan Allah adalah keberadaan itu sendiri
Asher (yang) Relasi Allah berhubungan dengan diri-Nya sendiri
Ehyeh (Aku adalah) Keberadaan Allah adalah keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir

Kesimpulan:
Ehyeh Asher Ehyeh adalah rumusan kekekalan yang paling padat karena:

· Tidak menyebut nama—karena nama mengandaikan definisi.
· Tidak menyebut sifat—karena sifat mengandaikan anti-sifat.
· Tidak menyebut awal—karena awal mengandaikan waktu.
· Tidak menyebut akhir—karena akhir mengandaikan waktu.
· Hanya menyebut keberadaan—yang tidak berawal dan tidak berakhir.

C. Yang Tidak Berubah adalah Perubahan Itu Sendiri

Inilah inti dari kekekalan:
Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Mari kita pahami:

Definisi Kekekalan yang Salah Definisi Kekekalan yang Benar
Tidak berubah = statis Tidak berubah = perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir
Tidak berubah = diam Tidak berubah = gerakan yang tidak berawal dan tidak berakhir
Tidak berubah = mati Tidak berubah = hidup yang tidak berawal dan tidak berakhir
Tidak berubah = ketiadaan Tidak berubah = keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir

Dalam kekekalan:

· Perubahan bukanlah lawan dari kekekalan.
· Perubahan adalah ekspresi dari kekekalan.
· Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri—yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Analogi:

· Air yang mengalir — Air terus mengalir, tetapi sungainya tetap ada.
· Api yang menyala — Api terus menyala, tetapi apinya tetap ada.
· Allah yang kekal — Allah terus berubah, tetapi Allah tetap ada.

Dalam kekekalan:

· Allah tidak "berubah" dari satu keadaan ke keadaan lain—karena itu mengandaikan waktu.
· Allah adalah perubahan itu sendiri—yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Inilah mengapa:

· Allah dapat menciptakan—tanpa "memulai" menciptakan.
· Allah dapat mengasihi—tanpa "memulai" mengasihi.
· Allah dapat menghakimi—tanpa "memulai" menghakimi.
· Karena Allah adalah perubahan itu sendiri—yang tidak berawal dan tidak berakhir.

D. Barulah Kemudian Satu Entitas Bisa Mengklaim Dirinya Hidup dan Memiliki Sifat

Setelah memahami kekekalan sebagai perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir, barulah satu entitas bisa mengklaim dirinya hidup dan memiliki sifat.

Mengapa?

Karena:

· Kehidupan mengandaikan perubahan—dari tidak ada menjadi ada, dari ada menjadi tidak ada.
· Sifat mengandaikan perubahan—dari tidak memiliki menjadi memiliki, dari memiliki menjadi tidak memiliki.
· Kekekalan adalah perubahan itu sendiri—yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Dalam kekekalan:

· Allah dapat disebut "hidup"—karena Dia adalah perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· Allah dapat disebut "kasih"—karena Dia adalah perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· Allah dapat disebut "adil"—karena Dia adalah perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Tetapi:

· Allah tidak disebut "hidup" dalam pengertian waktu—karena waktu mengandaikan awal dan akhir.
· Allah tidak disebut "kasih" dalam pengertian waktu—karena waktu mengandaikan awal dan akhir.
· Allah disebut "hidup" dan "kasih" dalam pengertian kekal—yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa:

· Yohanes 11:25 — "Akulah kebangkitan dan hidup" — Yesus dapat berkata demikian karena Dia adalah kekekalan itu sendiri.
· 1 Yohanes 4:8 — "Allah adalah kasih" — Allah dapat disebut kasih karena Dia adalah kekekalan itu sendiri.
· Yeremia 10:10 — "Dialah Allah yang hidup" — Allah dapat disebut hidup karena Dia adalah kekekalan itu sendiri.

Kesimpulan:
Barulah setelah memahami kekekalan sebagai perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir, satu entitas bisa mengklaim dirinya hidup dan memiliki sifat.
Karena hidup dan sifat—dalam pengertian kekal—adalah ekspresi dari perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

---

Bagian 5: Sintesis Akhir—Kekekalan yang Sejati

A. Definisi Kekekalan yang Sejati

Kekekalan bukanlah:

· ❌ Tidak berubah dalam arti statis.
· ❌ Diam.
· ❌ Mati.
· ❌ Ketiadaan.

Kekekalan adalah:

· ✅ Perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· ✅ Gerakan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· ✅ Hidup yang tidak berawal dan tidak berakhir.
· ✅ Keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Inilah mengapa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ehyeh Asher Ehyeh:
"AKU ADALAH AKU."
Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

B. Diagram Sintesis

```
KEKEKALAN YANG SEJATI
│
├── TIDAK MENGENAL KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
│ ├── Kehidupan mengandaikan awal dan akhir
│ ├── Kematian mengandaikan awal dan akhir
│ └── Kekekalan tidak mengenal keduanya
│
├── TIDAK MENGENAL CIPTAAN
│ ├── Ciptaan memiliki awal dan akhir
│ ├── Penciptaan mengandaikan waktu
│ └── Kekekalan tidak mengenal keduanya
│
├── TIDAK MENGENAL SIFAT
│ ├── Sifat memiliki anti-sifat
│ ├── Awal sifat adalah akhir anti-sifat
│ └── Kekekalan tidak mengenal keduanya
│
├── EHVEH ASHER EHVEH
│ ├── Tidak menyebut nama
│ ├── Tidak menyebut sifat
│ ├── Tidak menyebut awal
│ ├── Tidak menyebut akhir
│ └── Hanya menyebut keberadaan
│
├── YANG TIDAK BERUBAH ADALAH PERUBAHAN ITU SENDIRI
│ ├── Perubahan bukan lawan kekekalan
│ ├── Perubahan adalah ekspresi kekekalan
│ └── Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri
│
└── BARULAH KEMUDIAN SATU ENTITAS BISA MENGKLAIM DIRINYA HIDUP DAN MEMILIKI SIFAT
    ├── Hidup—dalam pengertian kekal
    ├── Kasih—dalam pengertian kekal
    ├── Adil—dalam pengertian kekal
    └── Semua adalah ekspresi dari perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir
```

C. Dampak Praktis

Dengan memahami kekekalan yang sejati:

1. Kita dibebaskan dari gambaran Allah yang statis — Allah bukanlah Allah yang diam, tetapi Allah yang bergerak, berubah, dan bekerja.
2. Kita dibebaskan dari gambaran Allah yang jauh — Allah bukanlah Allah yang tidak tersentuh oleh waktu, tetapi Allah yang masuk ke dalam waktu.
3. Kita dibebaskan dari gambaran Allah yang mati — Allah bukanlah berhala yang tidak pernah hidup dan tidak pernah mati, tetapi Allah yang hidup—yang dapat mati, tetapi tidak dikuasai kematian.
4. Kita dibebaskan untuk mengalami Allah yang hidup — Allah yang terus bekerja, terus mengasihi, terus menyelamatkan.
5. Kita dibebaskan untuk hidup dalam kekekalan — Bukan menunggu kekekalan di masa depan, tetapi mengalami kekekalan sekarang—dalam relasi dengan Allah yang kekal.

---

Kesimpulan: Kekekalan yang Sejati

Kekekalan bukanlah ketidakberubahan yang statis.
Kekekalan adalah perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Kekekalan tidak mengenal:

· Kehidupan dan kematian—karena keduanya mengandaikan waktu.
· Ciptaan—karena ciptaan memiliki awal dan akhir.
· Sifat—karena tiap sifat memiliki anti-sifat.

Kekekalan adalah:

· Ehyeh Asher Ehyeh—"AKU ADALAH AKU."
· Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.
· Keberadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Barulah kemudian—setelah memahami kekekalan sebagai perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir—satu entitas bisa mengklaim dirinya hidup dan memiliki sifat.

Dan Allah—yang adalah kekekalan itu sendiri—dapat berkata:

· "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yohanes 11:25).
· "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8).
· "Dialah Allah yang hidup" (Yeremia 10:10).

Karena Dia adalah kekekalan itu sendiri—perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

---

Seruan Ibadah

Allah yang Kekal, yang tidak berawal dan tidak berakhir,

Kami menyembah Engkau—bukan sebagai berhala yang statis,
tetapi sebagai Allah yang hidup—yang terus bekerja, terus mengasihi, terus menyelamatkan.

Engkau adalah Ehyeh Asher Ehyeh—
"AKU ADALAH AKU."
Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Engkau tidak mengenal kehidupan dan kematian—
karena keduanya mengandaikan waktu.
Engkau tidak mengenal ciptaan—
karena ciptaan memiliki awal dan akhir.
Engkau tidak mengenal sifat—
karena tiap sifat memiliki anti-sifat.

Tetapi Engkau adalah hidup—
dalam pengertian kekal.
Engkau adalah kasih—
dalam pengertian kekal.
Engkau adalah adil—
dalam pengertian kekal.

Ajarlah kami untuk memahami kekekalan-Mu—
bukan sebagai ketidakberubahan yang statis,
tetapi sebagai perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Ajarlah kami untuk hidup dalam kekekalan-Mu—
bukan menunggu di masa depan,
tetapi mengalami sekarang—
dalam relasi dengan Engkau yang kekal.

Mar'ot Echad—Satu Allah, satu kasih, satu keselamatan di dalam Kristus.

Amin.

---

"Firman Allah kepada Musa: 'AKU ADALAH AKU.'"
— Keluaran 3:14

"Akulah kebangkitan dan hidup"
— Yohanes 11:25

"Allah adalah kasih"
— 1 Yohanes 4:8

"Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal"
— Yeremia 10:10

Kekekalan bukanlah ketidakberubahan yang statis. Kekekalan adalah perubahan yang tidak berawal dan tidak berakhir. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Inilah Allah yang kami sembah—yang kekal, yang hidup, yang mengasihi.

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Kenapa Yesus Di Baptis ?