Nubuat untuk Muhammad? (1) Konteks dan Sejarah Matius 12:15-21
Benarkah Matius 12:15-21 Nubuat untuk Muhammad?
Pendahuluan
Salah satu klaim populer dalam literatur dakwah Islam adalah bahwa Matius 12:15-21 merupakan nubuat tentang kedatangan Nabi Muhammad. Klaim ini sering muncul dalam debat antaragama, terutama dipopulerkan oleh Ahmed Deedat dan beberapa apologet Muslim kontemporer. Namun, ketika teks ini diperiksa secara cermat—baik dari konteks Alkitabiah, sejarah, hadis, maupun Al-Qur'an itu sendiri—banyak ketidaksesuaian mendasar yang muncul. Artikel ini akan mengkaji klaim tersebut secara kritis.
---
1. Teks Matius 12:15-21
"Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Dia, dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh Roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memberitahukan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, dan tidak ada orang yang akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, sampai ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nya bangsa-bangsa akan berharap."
Teks ini adalah kutipan dari Yesaya 42:1-4, yang dalam konteks aslinya merupakan bagian dari "Nyanyian Hamba Yahweh" (Servant Songs).
---
2. Klaim Apologet Muslim
Argumen utama yang diajukan:
1. Kata "Hamba-Ku" (bahasa Ibrani: eved) diklaim merujuk kepada Muhammad, bukan Yesus.
2. Frasa "bangsa-bangsa akan berharap" dianggap merujuk pada umat non-Yahudi yang menerima Islam.
3. "Tidak akan berbantah dan tidak berteriak" dianggap menggambarkan Muhammad yang tidak melakukan mujizat besar seperti Yesus.
4. "Hukum" yang diberitakan dianggap sebagai Syariat Islam.
---
3. Ketidaksesuaian dengan Konteks Alkitabiah
a. Konteks Langsung Matius
Matius mengutip Yesaya 42 secara eksplisit untuk menjelaskan tindakan Yesus yang menyembuhkan orang banyak dan melarang mereka memberitahukan siapa Dia (ayat 15-16). Konteks ini sama sekali tidak berbicara tentang nabi yang akan datang kemudian, melainkan tentang Yesus sendiri yang menggenapi pola "Hamba" dalam Yesaya.
b. Identifikasi "Hamba" dalam Yesaya
Dalam Yesaya 42:1, Yahweh berkata: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupegang, yang Kupilih, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan." Frasa ini paralel dengan:
· Yesaya 41:8 — "Israel, hamba-Ku"
· Yesaya 44:1 — "Hamba-Ku, Yakub"
· Yesaya 49:3 — "Engkau adalah hamba-Ku, Israel"
Namun, dalam perkembangan nubuat, "Hamba" ini mengalami individualisasi dan mengarah kepada Mesias. Perjanjian Baru secara konsisten mengidentifikasi Yesus sebagai penggenapan Hamba ini (Kisah 8:32-35; Matius 3:17; 17:5).
c. "Buluh yang patah" dan "sumbu yang pudar"
Metafora ini menggambarkan kelembutan dan belas kasihan Hamba terhadap yang lemah. Dalam konteks Yesus, ini sangat sesuai dengan pelayanan-Nya kepada orang berdosa, orang sakit, dan yang tersisih. Tidak ada indikasi dalam teks bahwa ini merujuk pada tokoh yang sama sekali berbeda.
---
4. Ketidaksesuaian dengan Sejarah Muhammad
a. Muhammad bukan "Hamba yang Dipilih" dalam pengertian Yesaya
Muhammad memang disebut dalam Al-Qur'an sebagai abd (hamba) — misalnya dalam QS Al-Baqarah 2:23; Al-Isra 17:1. Namun, gelar "hamba" dalam Yesaya 42 memiliki konteks perjanjian khusus dengan Israel dan penggenapan mesianik, bukan sekadar gelar umum.
b. Perbedaan karakter pelayanan
· Yesus dalam Matius 12:15-21 menyembuhkan semua orang sakit (ayat 15).
· Muhammad dalam sejarah tidak dikenal sebagai penyembuh mujizat. Hadis-hadis sahih tidak mencatat Muhammad melakukan penyembuhan massal seperti yang digambarkan dalam konteks Matius 12.
c. "Tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan"
Jika ini merujuk pada Muhammad, maka bertentangan dengan fakta sejarah bahwa Muhammad berdakwah secara terbuka di jalan-jalan Mekah, di pasar Ukaz, dan di depan Ka'bah. Ia juga berteriak dan menyeru manusia kepada Islam secara publik. Ini bertentangan langsung dengan frasa "tidak ada orang yang akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan."
---
5. Ketidaksesuaian dengan Hadis
a. Muhammad sebagai pemberi syafaat yang bersuara
Dalam hadis-hadis sahih, Muhammad digambarkan berbicara dengan suara keras di hadapan banyak orang, termasuk dalam peristiwa-peristiwa besar seperti Haji Wada', Khutbah Arafah, dan saat memimpin perang. Ini bertentangan dengan gambaran "tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak."
b. Tidak ada hadis yang mengklaim Matius 12:15-21 sebagai nubuat
Tidak ada satu pun hadis sahih—baik Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, maupun lainnya—yang menyebutkan bahwa Muhammad mengutip atau merujuk pada Matius 12:15-21 sebagai nubuat tentang dirinya. Klaim ini murni konstruksi apologetik modern, bukan berasal dari tradisi Islam klasik.
c. Muhammad tidak dikenal sebagai "sumbu yang pudar"
Hadis-hadis menggambarkan Muhammad sebagai pemimpin yang tegas, termasuk dalam urusan hukum dan perang. Ia tidak digambarkan sebagai figur yang "tidak memadamkan sumbu yang pudar" dalam pengertian belas kasihan tanpa batas terhadap musuh-musuhnya.
---
6. Ketidaksesuaian dengan Al-Qur'an
a. Muhammad sebagai "rahmat bagi seluruh alam" (QS Al-Anbiya 21:107)
Klaim bahwa Matius 12:21 ("bangsa-bangsa akan berharap") merujuk pada Muhammad sering dikaitkan dengan QS Al-Anbiya 21:107. Namun, "bangsa-bangsa" dalam Matius 12:21 (Ibrani: goyim) dalam konteks Yesaya merujuk pada bangsa-bangsa non-Yahudi yang akan menerima terang keselamatan melalui Hamba Yahweh. Dalam Al-Qur'an, Muhammad memang diutus kepada seluruh manusia (QS Al-A'raf 7:158), tetapi konsep "harapan bangsa-bangsa" dalam Yesaya memiliki konotasi keselamatan universal yang berbeda dengan konsep kerasulan dalam Islam.
b. Yesus dalam Al-Qur'an sebagai pemberi mukjizat
Al-Qur'an sendiri mengakui Yesus (Isa) sebagai pemberi mukjizat—menyembuhkan orang buta, orang lumpuh, dan menghidupkan orang mati (QS Ali Imran 3:49; Al-Ma'idah 5:110). Ini cocok dengan konteks Matius 12:15 yang berbicara tentang penyembuhan. Justru Al-Qur'an memperkuat bahwa konteks Matius 12 adalah tentang Yesus, bukan Muhammad.
c. Tidak ada ayat Al-Qur'an yang mengutip Matius 12:15-21
Al-Qur'an tidak pernah mengutip atau merujuk pada Matius 12:15-21. Klaim bahwa ini nubuat untuk Muhammad adalah interpretasi eksternal yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an itu sendiri.
---
7. Pendapat Sarjana dan Teolog Islam
a. Sarjana Muslim klasik
· Ibnu Katsir dalam tafsirnya tidak pernah menyebut Matius 12:15-21 sebagai nubuat tentang Muhammad.
· At-Tabari juga tidak merujuk pada teks ini dalam konteks kenabian Muhammad.
· Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb tidak membahas Matius 12:15-21 sebagai nubuat.
b. Apologet Muslim modern
· Ahmed Deedat (1918-2005) adalah salah satu yang paling vokal mengklaim Matius 12:15-21 sebagai nubuat untuk Muhammad. Namun, metodologinya sering dikritik karena mengabaikan konteks historis dan sastra.
· Zakir Naik juga menggunakan argumen serupa, tetapi tidak memberikan bukti dari sumber-sumber Islam klasik.
· Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Fazlur Rahman tidak mendukung klaim ini.
c. Sarjana Muslim kritis
· Muhammad Asad dalam The Message of the Qur'an tidak mengklaim Matius 12:15-21 sebagai nubuat untuk Muhammad.
· Abdullah Yusuf Ali dalam komentarnya tidak merujuk pada teks ini.
· Muhammad Abduh dan Rashid Rida dalam Al-Manar tidak membahas klaim ini.
---
8. Pendapat Sarjana dan Teolog di Luar Islam
a. Sarjana Alkitab
· R.T. France dalam The Gospel of Matthew (NICNT) menegaskan bahwa Matius 12:15-21 adalah penggenapan Yesaya 42 dalam diri Yesus.
· D.A. Carson dalam Matthew (EBC) menyatakan bahwa kutipan ini menunjukkan Yesus sebagai Hamba Yahweh yang lembut dan penuh belas kasihan.
· Craig Blomberg dalam Matthew (NAC) menegaskan bahwa tidak ada dasar untuk mengaitkan teks ini dengan Muhammad.
· John Nolland dalam The Gospel of Matthew (NIGTC) menekankan bahwa Matius menggunakan Yesaya 42 untuk menjelaskan identitas Yesus, bukan nabi lain.
b. Sarjana Perbandingan Agama
· William Montgomery Watt dalam Muslim-Christian Encounters tidak mendukung klaim bahwa Matius 12:15-21 merujuk pada Muhammad.
· Kenneth Cragg dalam The Call of the Minaret mengkritik metodologi apologetik yang memaksakan nubuat Alkitabiah kepada Muhammad.
· Gabriel Said Reynolds dalam The Qur'an and the Bible menunjukkan bahwa klaim semacam ini sering mengabaikan konteks sastra dan historis.
c. Teolog Kristen
· Norman Geisler dan Abdul Saleeb dalam Answering Islam membahas klaim ini secara rinci dan menyimpulkan bahwa Matius 12:15-21 tidak mungkin merujuk pada Muhammad.
· James White dalam What Every Christian Needs to Know About the Qur'an menegaskan bahwa teks ini adalah tentang Yesus.
· Sam Shamoun dalam berbagai artikelnya menunjukkan ketidaksesuaian historis dan tekstual.
---
9. Analisis Kritis terhadap Klaim
a. Masalah metodologi
Klaim bahwa Matius 12:15-21 adalah nubuat untuk Muhammad sering menggunakan metode eisegesis (membaca makna ke dalam teks) daripada exegesis (mengeluarkan makna dari teks). Mereka mengabaikan:
· Konteks langsung Matius 12
· Konteks Yesaya 42
· Struktur sastra Nyanyian Hamba
· Penggunaan Perjanjian Baru atas Yesaya 42
b. Masalah historis
· Muhammad tidak menyembuhkan orang sakit secara massal seperti yang digambarkan dalam Matius 12:15.
· Muhammad tidak "menyingkir" dari musuh-musuhnya dengan cara yang sama seperti Yesus dalam konteks ini.
· Muhammad berbicara dengan suara keras di depan umum, bertentangan dengan "tidak ada orang yang akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan."
c. Masalah teologis
· Dalam Islam, Muhammad adalah nabi terakhir (khatam an-nabiyyin), tetapi Matius 12:15-21 berbicara tentang Hamba yang sudah ada dan sedang berkarya.
· Konsep "Hamba Yahweh" dalam Yesaya memiliki dimensi penebusan dan penderitaan (Yesaya 53) yang tidak sesuai dengan konsep kenabian Muhammad.
---
10. Kesimpulan
Berdasarkan analisis di atas, klaim bahwa Matius 12:15-21 adalah nubuat untuk Muhammad tidak memiliki dasar yang kuat, baik dari:
1. Konteks Alkitabiah — teks ini adalah kutipan Yesaya 42 yang secara eksplisit diterapkan Matius kepada Yesus.
2. Sejarah Muhammad — banyak detail dalam teks tidak cocok dengan kehidupan Muhammad.
3. Hadis — tidak ada hadis sahih yang mendukung klaim ini.
4. Al-Qur'an — tidak ada ayat yang merujuk pada teks ini sebagai nubuat.
5. Sarjana Muslim — baik klasik maupun modern yang kritis tidak mendukung klaim ini.
6. Sarjana non-Muslim — konsensus akademik menolak klaim ini.
Dengan demikian, Matius 12:15-21 bukan nubuat untuk Muhammad, melainkan penggenapan nubuat Yesaya tentang Yesus Kristus sebagai Hamba Yahweh yang lembut, penuh belas kasihan, dan menjadi harapan bagi bangsa-bangsa.
---
Daftar Pustaka
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI)
2. Yesaya 42:1-4; Matius 12:15-21
3. Carson, D.A. Matthew. Expositor's Bible Commentary.
4. France, R.T. The Gospel of Matthew. NICNT.
5. Blomberg, Craig. Matthew. NAC.
6. Nolland, John. The Gospel of Matthew. NIGTC.
7. Geisler, Norman & Saleeb, Abdul. Answering Islam.
8. White, James. What Every Christian Needs to Know About the Qur'an.
9. Reynolds, Gabriel Said. The Qur'an and the Bible.
10. Watt, W. Montgomery. Muslim-Christian Encounters.
11. Cragg, Kenneth. The Call of the Minaret.
12. Deedat, Ahmed. Muhammad in the Bible (untuk klaim yang dikritik).
13. Naik, Zakir. Similarities Between Islam and Christianity (untuk klaim yang dikritik).
14. Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-Azim.
15. At-Tabari. Jami' al-Bayan.
16. Ar-Razi. Mafatih al-Ghayb.
---
Artikel ini disusun untuk tujuan akademik dan dialog antaragama yang jujur, dengan menghormati semua pihak yang terlibat.
Komentar
Posting Komentar