Mengapa Ketiadaan Perjanjian Baru di Zaman Yesus dan Para Murid Bukanlah Masalah - Makna "Tradisi" dalam Kekristenan
INJIL, TORAH, DAN WAHYU PROGRESIF
Mengapa Ketiadaan Perjanjian Baru di Zaman Yesus dan Para Murid Bukanlah Masalah
---
Pendahuluan
Dalam apologetika, muncul pertanyaan yang sering diajukan: "Jika Yesus adalah nabi, mengapa Injil baru ditulis puluhan tahun setelah ia wafat? Bagaimana pengajaran bisa dilangsungkan tanpa kitab suci?"
Pertanyaan ini muncul dari asumsi bahwa agama harus selalu disertai kitab suci sejak awal. Jika tidak ada kitab, bagaimana pengajaran berlangsung? Bagaimana iman dilangsungkan?
Asumsi ini keliru karena mengabaikan konteks Yahudi di mana Yesus dan para murid hidup. Mereka adalah Yahudi yang saleh, dan selama masa Yesus, kitab suci mereka adalah Perjanjian Lama (Tanakh)—Taurat, Nabi-nabi, dan Kitab-kitab. Perjanjian Baru belum ada, tetapi itu bukan masalah, karena Yesus sendiri mengajarkan dan menafsirkan Perjanjian Lama.
Sebagai pembanding, Islam yang 700 tahun setelah Kekristenan pun, masih melakukan hal yang sama. Dibuktikan dari penulisan Hadis (di riwayatkan oleh. . . ).
Istilah Tradisi Lisan, memang asing bagi Kekristenan Modern, terutama Eropa.
Artikel ini akan menunjukkan bahwa:
1. Yesus dan para murid menggunakan Perjanjian Lama sebagai kitab suci mereka.
2. Semua pengajaran Yesus berasal dari Perjanjian Lama.
3. Para murid memerlukan waktu untuk mencerna pengajaran Yesus sebelum menuliskannya.
4. Roh Kudus memainkan peran dalam proses pengingatan dan penulisan Injil.
5. Ini semua konsisten dengan prinsip wahyu progresif yang kita lihat dalam Keluaran 6:3.
---
Bagian 1: Yesus dan Para Murid adalah Yahudi yang Saleh
1.1 Konteks Yahudi Yesus
Yesus lahir sebagai orang Yahudi (Matius 1:1-17), disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21), dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi. Ia:
· Pergi ke sinagoga pada hari Sabat (Lukas 4:16)
· Merayakan Paskah Yahudi (Lukas 22:7-15)
· Mengutip Taurat, Nabi, dan Mazmur (Matius 5:17-20; Lukas 24:44)
· Mengajar sebagai rabbi (guru) dalam tradisi Yahudi
1.2 Kitab Suci Yesus dan Para Murid
Selama masa Yesus, Perjanjian Baru belum ada. Kitab suci yang digunakan adalah:
· Taurat (Kejadian–Ulangan)
· Nabi-nabi (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Dua Belas Nabi)
· Kitab-kitab (Mazmur, Amsal, Ayub, dll.)
Total: 39 kitab yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama.
1.3 Yesus Mengutip Perjanjian Lama
Peristiwa Kutipan PL Ayat PB
Yesus dicobai di padang gurun Ulangan 8:3; 6:16; 6:13 Matius 4:1-11
Yesus mengajar di sinagoga Yesaya 61:1-2 Lukas 4:16-21
Yesus menubuatkan kematian-Nya Yesaya 53 Lukas 22:37
Yesus bangkit dan menjelaskan Musa, Nabi, Mazmur Lukas 24:44-47
Yesus sendiri berkata:
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17)
---
Bagian 2: Semua Pengajaran Yesus Berasal dari Perjanjian Lama
2.1 Yesus sebagai Penafsir Perjanjian Lama
Yesus tidak membawa kitab suci baru—Ia menafsirkan kitab suci yang sudah ada. Pengajaran-Nya adalah penggenapan dari apa yang sudah tertulis.
Pengajaran Yesus Akar di Perjanjian Lama
"Kasihilah Tuhan... dan sesamamu" Ulangan 6:5; Imamat 19:18
"Jangan membunuh, jangan berzinah..." Keluaran 20:1-17
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah" Yesaya 61:1; Mazmur 34:19
"Aku adalah roti hidup" Keluaran 16 (manna); Mazmur 78:24
"Aku adalah gembala yang baik" Mazmur 23; Yehezkiel 34
"Anak Manusia harus menderita" Yesaya 53; Daniel 7:13-14
2.2 Setelah Kebangkitan: Yesus Menjelaskan Perjanjian Lama
"Ia berkata kepada mereka: 'Inilah perkataan-Ku yang telah Kukatakan kepadamu, ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni: semua yang tertulis dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur harus digenapi.' Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." (Lukas 24:44-45)
Kesimpulan: Injil bukanlah kitab baru yang menggantikan PL, melainkan penggenapan PL dalam diri Yesus.
---
Bagian 3: Mengapa Injil Baru Ditulis Puluhan Tahun Kemudian?
3.1 Para Murid Perlu Mencerna Pengajaran Yesus
Yesus sendiri memahami bahwa para murid tidak langsung mengerti pengajaran-Nya. Berkali-kali Ia menegur mereka:
· "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Markus 4:40)
· "Belum juga kamu mengerti?" (Markus 8:21)
· "Apakah kamu masih belum mengerti?" (Matius 15:16)
· "Sampai sekarang kamu belum mengerti?" (Yohanes 14:9)
Bahkan setelah kebangkitan, para murid masih belum sepenuhnya paham:
· Mereka masih bertanya: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah 1:6)
· Yesus harus membuka pikiran mereka untuk mengerti Kitab Suci (Lukas 24:45)
3.2 Roh Kudus sebagai Pengingat
Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan mengingatkan mereka akan semua yang telah Ia ajarkan:
"Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)
"Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran." (Yohanes 16:13)
Proses ini memerlukan waktu. Para murid harus:
1. Mengalami peristiwa-peristiwa itu
2. Merenungkannya
3. Dibimbing oleh Roh Kudus
4. Baru kemudian menuliskannya
3.3 Mengapa Tidak Langsung Ditulis?
Alasan Penjelasan
Konteks lisan Budaya Yahudi mengutamakan tradisi lisan sebelum tulisan
Kebutuhan konteks Injil ditulis ketika komunitas Kristen sudah tersebar dan membutuhkan catatan tertulis
Penyaringan teologis Para murid perlu waktu untuk memahami signifikansi penuh dari peristiwa Yesus
Bimbingan Roh Kudus Penulisan Injil adalah proses ilahi yang melibatkan inspirasi Roh Kudus
---
Bagian 4: Konsistensi dengan Wahyu Progresif (Keluaran 6:3)
4.1 Prinsip yang Sama
Keluaran 6:3 mengajarkan bahwa Allah menyatakan diri secara progresif:
· Para leluhur mengenal-Nya sebagai El Shaddai
· Musa mengenal-Nya sebagai YHWH
· Para murid mengenal-Nya sebagai Bapa, melalui Yesus Kristus
Demikian pula dengan kitab suci:
· Zaman Para Leluhur: wahyu lisan
· Zaman Musa: Taurat ditulis
· Zaman Para Nabi: Kitab-kitab Nabi ditulis
· Zaman Yesus: pengajaran lisan
· Zaman Para Rasul: Injil ditulis
4.2 Tidak Ada Kontradiksi
Ketiadaan Perjanjian Baru di zaman Yesus bukanlah masalah, karena:
1. Yesus dan para murid menggunakan Perjanjian Lama sebagai kitab suci mereka.
2. Semua pengajaran Yesus berakar pada Perjanjian Lama.
3. Injil ditulis setelah para murid mencerna dan memahami pengajaran Yesus melalui Roh Kudus.
4. Proses ini konsisten dengan pola wahyu progresif yang Allah gunakan sepanjang sejarah.
4.3 Analogi
Zaman Kitab Suci yang Ada Wahyu Baru
Abraham Tidak ada Janji lisan
Musa Tidak ada (sampai Sinai) Taurat
Daud Taurat Mazmur, nubuat
Yesus Perjanjian Lama Pengajaran lisan
Para Rasul Perjanjian Lama Injil (PB)
Kesimpulan: Allah tidak terikat pada kitab suci tertulis pada setiap zaman. Ia berbicara melalui peristiwa, nabi, dan akhirnya melalui Anak-Nya (Ibrani 1:1-2).
---
Bagian 5: Implikasi bagi Apologetika
5.1 Menjawab Keberatan "Mengapa Injil Baru Ditulis Kemudian?"
Keberatan Jawaban
"Yesus tidak meninggalkan tulisan" Yesus adalah rabbi yang mengajar secara lisan, seperti tradisi Yahudi
"Injil baru ditulis 30-60 tahun kemudian" Para murid perlu waktu untuk mencerna, dan Roh Kudus memimpin proses penulisan
"Bagaimana pengajaran dilangsungkan tanpa kitab?" Melalui Perjanjian Lama dan tradisi lisan para rasul
"Apakah Injil dapat dipercaya?" Injil ditulis berdasarkan kesaksian mata (Lukas 1:1-4; 1 Yohanes 1:1-3)
5.2 Menjawab Keberatan "Agama Harus Ada Kitab Suci"
Asumsi ini tidak alkitabiah. Allah:
· Berbicara kepada Abraham tanpa kitab
· Berbicara kepada Musa sebelum Taurat ditulis
· Berbicara melalui para nabi sebelum nubuat ditulis
· Berbicara melalui Yesus sebelum Injil ditulis
Kitab suci adalah hasil dari wahyu, bukan syarat mutlak untuk wahyu.
5.3 Menjawab Keberatan "Mengapa Yesus Tidak Menulis?"
Yesus adalah rabbi dalam tradisi Yahudi. Rabbi mengajar secara lisan, dan murid-murid menghafal serta mewariskan pengajaran. Penulisan adalah tahap berikutnya dalam proses pewarisan.
---
Kesimpulan
Ketiadaan Perjanjian Baru di zaman Yesus bukanlah masalah, karena:
1. Yesus dan para murid adalah Yahudi yang saleh yang menggunakan Perjanjian Lama sebagai kitab suci.
2. Semua pengajaran Yesus berasal dari Perjanjian Lama dan merupakan penggenapannya.
3. Para murid memerlukan waktu dan bimbingan Roh Kudus untuk mencerna pengajaran Yesus.
4. Injil ditulis setelah proses itu, bukan sebagai kitab yang menggantikan PL, melainkan sebagai kesaksian penggenapan PL dalam Yesus.
5. Ini semua konsisten dengan prinsip wahyu progresif yang kita lihat dalam Keluaran 6:3.
Maka, pertanyaan "mengapa Injil baru ditulis kemudian?" bukanlah kelemahan, melainkan bukti bahwa Allah bekerja secara progresif—menyatakan diri-Nya sesuai zaman dan kebutuhan umat-Nya, sampai akhirnya Ia berbicara melalui Anak-Nya (Ibrani 1:1-2).
---
Daftar Referensi
Sumber Alkitab:
· Matius 1:1-17; 4:1-11; 5:17-20; 15:16
· Markus 4:40; 8:21
· Lukas 1:1-4; 2:21; 4:16-21; 22:7-15, 37; 24:44-47
· Yohanes 14:9, 26; 16:13
· Kisah 1:6
· Ibrani 1:1-2
· 1 Yohanes 1:1-3
Sumber tentang Tradisi Yahudi dan Yesus:
· Vermes, Geza. Jesus the Jew: A Historian's Reading of the Gospels. Fortress Press, 1981.
· Sanders, E.P. Jesus and Judaism. Fortress Press, 1985.
· Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press, 1996.
Sumber tentang Pembentukan Injil:
· Bauckham, Richard. Jesus and the Eyewitnesses: The Gospels as Eyewitness Testimony. Eerdmans, 2006.
· Byrskog, Samuel. Story as History – History as Story: The Gospel Tradition in the Context of Ancient Oral History. Mohr Siebeck, 2000.
Sumber tentang Wahyu Progresif:
· Childs, Brevard S. The Book of Exodus: A Critical, Theological Commentary. Westminster Press, 1974.
· Sarna, Nahum M. Exploring Exodus: The Origins of Biblical Israel. Schocken Books, 1996.
Sumber tentang Kanon dan Kitab Suci:
· Metzger, Bruce M. The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance. Oxford University Press, 1987.
· McDonald, Lee Martin. The Biblical Canon: Its Origin, Transmission, and Authority. Hendrickson, 2007.
---
Artikel ini disusun berdasarkan hasil diskusi mendalam tentang hubungan antara Perjanjian Lama, Yesus, dan pembentukan Perjanjian Baru, dengan mempertimbangkan konteks Yahudi, tradisi lisan, dan prinsip wahyu progresif dalam Keluaran 6:3. Semoga menjadi berkat bagi setiap pembaca yang merindukan pemahaman yang lebih dewasa tentang firman Allah.
Komentar
Posting Komentar