SETARA BUKAN SAMA, Kritik Penerjemahan Filipi 2:6 TB
SETARA BUKAN SAMA
Kritik atas Penerjemahan Filipi 2:6 TB dalam Terang Yohanes 5:18
---
Pendahuluan
Perdebatan tentang keilahian Yesus Kristus seringkali berpusat pada satu kata: setara atau sama. Dalam diskusi teologis, kata-kata bukanlah sekadar istilah teknis, melainkan jendela pemahaman yang dapat membuka—atau justru mengaburkan—kebenaran. Terjemahan Baru (TB) Lembaga Alkitab Indonesia memilih kata "setara" dalam Filipi 2:6, sementara dalam Yohanes 5:18 memakai frasa "menyamakan diri". Dua kata yang tampak serumpun ini, dalam bahasa Indonesia modern, menyimpan perbedaan makna yang sangat mendasar—dan justru menimbulkan masalah teologis yang serius.
Artikel ini akan mengupas tuntas akar masalah tersebut, membandingkan teks Yunani, menelusuri kemungkinan alasan penerjemahan, serta menyoroti kelemahan yang timbul ketika kata setara dipakai untuk menggambarkan hubungan Yesus dengan Allah Bapa.
---
I. Masalah Utama: "Setara" vs "Sama" dalam Bahasa Indonesia
Dalam percakapan sehari-hari, kedua kata ini sering dianggap sinonim. Namun dalam diskusi teologis dan filosofis, perbedaannya sangat krusial:
Kata Makna Dasar Implikasi
Sama Satu hakikat, satu sumber, identik dalam esensi Menunjukkan keesaan dan kesatuan asal
Setara Sejajar derajat, tetapi berbeda sumber Menunjukkan dua entitas terpisah yang disamakan nilainya
Contoh sederhana: tangan dan kaki adalah sama-sama anggota tubuh, satu sumber (tubuh). Namun tidak ada orang yang menyebut tangan dan kaki setara, karena fungsinya berbeda. Seorang atlit lari akan lebih memilih kakinya, seorang pemanah akan lebih memilih tangannya. Sebaliknya, Presiden dan Perdana Menteri bisa disebut setara dalam kedudukan, tetapi mereka berasal dari negara berbeda—tidak satu hakikat.
Ketika Filipi 2:6 diterjemahkan dengan kata setara, maka secara implisit teks tersebut menggambarkan Yesus dan Allah sebagai dua pribadi terpisah yang disamakan derajatnya—sebuah konsep yang justru mendekati pandangan Arianisme (yang mengajarkan Yesus sebagai makhluk ciptaan tertinggi, bukan Allah sehakikat).
---
II. Analisis Teks Yunani: Filipi 2:6
Mari kita bedah kata demi kata dari teks asli:
ὃς ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων οὐχ ἁρπαγμὸν ἡγήσατο τὸ εἶναι ἴσα θεῷ
Yunani Transliterasi Terjemahan Harfiah Makna
ὃς hos Yang / Ia yang Merujuk kepada Kristus
ἐν μορφῇ θεοῦ en morphē theou dalam bentuk/wujud Allah Morphē = wujud hakiki yang menampilkan esensi batin (bukan sekadar rupa lahiriah /schēma)
ὑπάρχων huparchōn yang ada / yang berada Partisip yang menunjukkan keberadaan kekal yang terus-menerus—bukan mulai ada
οὐχ ouch tidak Negasi kuat
ἁρπαγμὸν harpagmon rampasan / sesuatu yang direbut / dipertahankan Kata paling sulit: berarti "sesuatu yang sudah dimiliki, bukan perlu direbut" (mayoritas pakar)
ἡγήσατο hēgēsato ia menganggap Keputusan sadar Kristus
τὸ εἶναι to einai hal untuk menjadi / berada Infinitif eksistensial
ἴσα isa sama (bukan setara) Bentuk dari isos: sama dalam kuantitas, kualitas, atau hakikat
θεῷ theō dengan Allah Objek perbandingan
Terjemahan harfiah yang akurat:
"Ia yang sejak kekal berada dalam wujud hakiki Allah, tidak menganggap hal untuk sama dengan Allah sebagai sesuatu yang harus direbut (atau dipertahankan secara egois)."
Perhatikan: Kata yang dipakai adalah ἴσα (isa) = SAMA, bentuk lain dari isos—akar kata yang sama dengan ἴσον (ison), Yohanes 5:18. Dalam bahasa Yunani Koine, tidak ada dikotomi antara "sama" dan "setara" seperti dalam bahasa Indonesia modern. Isa selalu merujuk pada kesamaan hakikat atau kualitas.
---
III. Bandingkan dengan Yohanes 5:18
"Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, karena bukan saja Ia melanggar hukum Sabat, tetapi juga Ia mengatakan, bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah."
Analisis:
· Kata Yunani untuk "menyamakan" di sini adalah ἴσον (ison), bentuk lain dari isos—kata yang SAMA dengan Filipi 2:6!
· Namun TB menerjemahkannya sebagai "menyamakan diri" (bukan "setara"), karena ayat ini adalah tuduhan dari orang Yahudi. Mereka menuduh Yesus mengklaim status yang hanya layak bagi Allah.
· Yesus tidak membantah tuduhan itu, tetapi justru memperkuatnya dengan pernyataan: "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30)—satu hakikat, bukan sekadar setara derajat.
Kesimpulan sementara: Jika Yohanes 5:18 diterjemahkan dengan "menyamakan diri" (karena konteks tuduhan), mengapa Filipi 2:6 yang merupakan pernyataan doktrinal Paulus diterjemahkan dengan "setara"—padahal kata Yunani-nya SAMA?
---
IV. Mengapa Penerjemahan Filipi 2:6 Memilih Kata "Setara"?
Ada beberapa kemungkinan alasan teologis dan pastoral di balik pilihan ini:
1. Pengaruh Teologi Trinitas Klasik (Konsili Nicea 325 M)
Konsili Nicea merumuskan kata homoousios (sehakikat) untuk melawan Arianisme. Namun kata homoousios sangat sarat dengan filsafat Yunani tentang ousia (substansi)—sebuah konsep yang abstrak dan berat bagi jemaat awam. Dalam upaya menyederhanakan, para penerjemah memilih kata "setara" sebagai padanan yang lebih "ringan" dan mudah dipahami daripada "sama" yang bisa disalahartikan sebagai Oneness (paham bahwa Allah hanya satu pribadi).
2. Menghindari Kesalahpahaman Modalisme/Sabelianisme
Jika diterjemahkan "sama", dikhawatirkan orang akan berpikir Yesus dan Bapa adalah pribadi yang identik (seperti dalam paham Oneness/Modalisme). Dengan memakai "setara", penekanan bergeser pada kesetaraan derajat antara dua pribadi—sehingga Trinitas terlihat lebih "aman" secara doktrinal.
---
V. Kelemahan Fatal Pilihan Kata "Setara"
Meskipun tampak bijak secara pastoral, pilihan kata setara justru memiliki kelemahan teologis yang tidak kalah serius:
Kelemahan Penjelasan
1. Menimbulkan kesan dua sumber "Setara" dalam bahasa Indonesia modern selalu mengandaikan dua entitas yang berbeda asal-usul. Ini bertentangan dengan iman bahwa Yesus adalah Allah sehakikat, bukan sekadar sejajar derajat.
2. Mendekati Arianisme Arianus mengajarkan bahwa Yesus setara dengan Allah dalam kehormatan, tetapi tidak sama hakikatnya. Kata "setara" justru memperkuat posisi Arianisme yang sudah ditolak Nicea.
3. Inkonsistensi dengan Yohanes 5:18 Jika Yohanes 5:18 memakai ison dan diterjemahkan "menyamakan", mengapa Filipi 2:6 yang memakai isa (kata yang sama) diterjemahkan "setara"? Inkonsistensi ini membingungkan pembaca Indonesia.
4. Tidak mencerminkan maksud Paulus Paulus justru ingin menekankan bahwa Yesus telah memiliki kesamaan hakikat penuh dengan Allah, dan itulah yang membuat kerendahan-Nya (kenosis) menjadi luar biasa. Kata "setara" menghilangkan kedalaman teologis itu.
---
VI. Solusi Penerjemahan yang Lebih Tepat
Beberapa terjemahan Indonesia modern telah mencoba memperbaiki kekeliruan ini:
Terjemahan Filipi 2:6
Terjemahan Baru (TB) "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan"
AYT "tidak menganggap kesamaan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipegang"
FAYH "walaupun Ia sama dengan Allah"
Saya mengusulkan terjemahan yang lebih akurat dan teologis:
"Ia yang sejak kekal berada dalam wujud hakiki Allah, tidak menganggap kesamaan hakikat dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan secara egois, melainkan mengosongkan diri-Nya..."
Dengan terjemahan ini:
· Kata "kesamaan hakikat" menggantikan "kesetaraan" — menekankan satu sumber.
· Kata "sejak kekal" menerjemahkan huparchōn — menekankan pra-eksistensi.
· Kata "secara egois" menangkap nuansa harpagmon — bukan sekadar "mempertahankan" tanpa makna.
---
VII. Penutup
Pilihan kata dalam penerjemahan Alkitab bukanlah persoalan kecil. Setiap kata membawa bobot teologis yang dapat membangun—atau meruntuhkan—pemahaman jemaat. Terjemahan Baru memilih kata setara untuk Filipi 2:6 dengan maksud baik: memudahkan pemahaman Trinitas dan menghindari kesan Oneness. Namun dalam praktiknya, kata setara justru menjebak pembaca ke dalam logika dua sumber yang terpisah—sebuah bahaya yang tidak kalah serius.
Yang diajarkan Alkitab adalah kesamaan hakikat, bukan sekadar kesetaraan derajat. Yesus tidak sekadar "sejajar" dengan Allah; Ia adalah Allah sendiri yang mengambil rupa hamba. Inilah misteri inkarnasi yang membuat kita berlutut dalam penyembahan—bukan sekadar mengagumi seorang tokoh yang "setara" dengan Allah, tetapi menyembah Allah yang menjadi manusia demi keselamatan kita.
"Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30)
Bukan "setara", tetapi satu.
---
Semoga menjadi pengajaran yang membangun, mengajak kita untuk tidak sekadar membaca Alkitab, tetapi menggali kekayaan bahasa asli yang menyimpan kebenaran yang tak tergantikan.
---
Komentar
Posting Komentar