Bukti Kekristenan Terikat Yudaisme

Bukti Kekristenan Terikat Yudaisme

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu bedakan "terikat" secara teologis (keselamatan) dan "terikat" secara historis/naratif (asal-usul).

Berdasarkan Perjanjian Baru (PB), Kekristenan TIDAK terikat pada Yudaisme untuk keselamatan, namun SANGAT TERIKAT secara akar, janji, dan identitas Allah. Berikut bukti dari PB untuk kedua sisi:

1. Bukti TIDAK Terikat Secara Teologis (Hukum Taurat)

· Paulus tentang Hukum: Dalam Galatia 2:16, Paulus tegas: "Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya karena iman dalam Kristus Yesus." Sunat dan aturan makanan tidak lagi mengikat (Kisah Para Rasul 15:19-20).
· Perjanjian Baru: Ibr 8:13 menyebut perjanjian lama sudah "menjadi tua dan usang, dan hampir lenyap" digantikan oleh Perjanjian Baru yang lebih unggul.

2. Bukti SANGAT Terikat Secara Naratif dan Janji (Akar Iman)

· Nasab dan Silsilah: Matius 1:1 secara khusus menyebut Yesus sebagai "anak Daud, anak Abraham". Kekristenan tidak memulai agama baru, melainkan mengklaim sebagai genap (penggenapan) dari janji Allah kepada Israel.
· Keselamatan "Terlebih Dahulu" bagi Yahudi: Paulus dalam Roma 1:16 menyatakan Injil adalah kekuatan Allah "pertama-tama bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi orang Yunani".
· Metafora Pohon Zaitun: Dalam Roma 11:17-24, Paulus menggambarkan orang Kristen non-Yahudi sebagai ranting liar yang dicangkokkan ke dalam pohon zaitun asli (Israel). Jadi, orang Kristen "menumpang" pada akar rohani Yudaisme, bukan memutusnya.
· Ibadah dan Mazmur: Jemaat mula-mula tetap beribadah di Bait Allah (Kis 3:1) dan membaca kitab suci Yahudi (PL) sebagai Firman Allah (2 Tim 3:16).

Kesimpulan PB:
Kekristenan adalah "Yudaisme yang digenapi" (Fulfillment Judaism). Secara hukum seremonial terputus, tetapi secara janji, kitab suci, dan identitas Allah tetap satu akar. Bahkan Paulus memperingatkan agar Kristen non-Yahudi tidak sombong terhadap orang Yahudi, karena "kamu tidak menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu" (Rm 11:18).

---

Tentang Septuaginta (LXX) 

Untuk memahami Septuaginta (LXX) secara rinci, kita harus melihatnya bukan sekadar "terjemahan Yunani", melainkan jembatan peradaban yang justru membuktikan bagaimana Kekristenan lahir dari rahim Yudaisme Helenistik. Berikut penjelasan rincinya:

---

1. Apa dan Asal-Usul (Nama "Tujuh Puluh")

· Arti Nama: Septuaginta dari bahasa Latin berarti "Tujuh Puluh", merujuk pada 70 (atau 72) penerjemah Yahudi.
· Legenda (Surat Aristeas): Diceritakan, Raja Ptolemy II Philadelphus (Mesir, ~285–247 SM) meminta 6 orang penerjemah dari masing-masing 12 suku Israel (total 72) ke Aleksandria untuk menerjemahkan Taurat ke bahasa Yunani bagi perpustakaannya. Terjemahan ini konon selesai dalam 72 hari dan diilhami Allah.
· Fakta Historis: Terjemahan ini lahir karena komunitas Yahudi di diaspora (khususnya Mesir) sudah kehilangan bahasa Ibrani sehari-hari dan hanya berbahasa Yunani Koine.

---

2. Cakupan dan Proses Penerjemahan (Bukan Sekali Jadi)

· Tahap Awal (Abad ke-3 SM): Hanya Lima Kitab Musa (Taurat) yang diterjemahkan.
· Tahap Lanjutan (Abad ke-2–1 SM): Kitab-kitab Nabi, Tulisan, dan kitab-kitab deuterokanonika (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, dll.) diterjemahkan, tetapi oleh banyak penerjemah berbeda dengan kualitas yang tidak seragam.
· Perbedaan Kanon: LXX memuat kitab-kitab yang tidak masuk dalam Kanon Ibrani (Tanakh) Masoretik. Inilah yang kelak disebut Apokrifa oleh Protestan, tetapi dianggap kanonik oleh Gereja Katolik dan Ortodoks.

---

3. Karakteristik Bahasa dan Gaya

· Terjemahan Harfiah vs Bebas:
  · Taurat diterjemahkan sangat literal (sering mengorbankan tata bahasa Yunani) demi menjaga kekudusan kata per kata.
  · Kitab Yesaya dan Ayub diterjemahkan lebih bebas dan puitis.
· Neologisme (Ciptaan Kata Baru): LXX menciptakan istilah-istilah teologis baru yang tidak ada dalam bahasa Yunani klasik, misalnya:
  · ἁμαρτία (hamartia) = dosa (diubah dari arti "melesetnya panah" menjadi "pelanggaran moral terhadap Allah").
  · διάθηκη (diatheke) = perjanjian (bukan sekadar kontrak/perjanjian warisan).
· Nama Allah: LXX menerjemahkan nama kudus YHWH (Yahweh/Tetragrammaton) menjadi Κύριος (Kyrios = Tuhan), yang kemudian dipakai PB untuk menyebut Yesus sebagai Tuhan.

---

4. Peran Septuaginta bagi Perjanjian Baru (PB)

Ini poin terpenting untuk pertanyaan Anda sebelumnya:

· PB Mengutip LXX, Bukan Teks Ibrani: Dari sekitar 300+ kutipan Perjanjian Lama di PB, sekitar 90% mengikuti teks LXX, bukan teks Ibrani Masoretik. Contoh: Matius 1:23 mengutip Yesaya 7:14 tentang "perawan" (parthenos), sedangkan teks Ibrani memakai almah (perempuan muda).
· Bahasa Teologi PB: Istilah-istilah kunci PB (seperti Evangelion = Injil, Parakletos = Penghibur, Ekklesia = Jemaat) lahir dari kosa kata LXX.
· Pembuktian Narasi: LXX menjadi "Alkitab" rasul-rasul. Ketika Paulus berkhotbah di sinagoga-sinagoga diaspora, ia membaca dari LXX, sehingga orang Kristen non-Yahudi bisa langsung mengakses kitab suci tanpa belajar Ibrani.

---

5. Status Kanonik dan Gereja Mula-mula

· Alkitab Gereja Perdana: Gereja abad 1-3 M hanya mengenal LXX sebagai Kitab Suci. Mereka tidak membedakan antara kitab "kanonik" dan "apokrifa" seperti yang dilakukan Yahudi Rabinik pasca-70 M.
· Perebutan Otoritas: Pada abad ke-2 M, ketika terjadi debat dengan Yahudi, para rabi menolak LXX dan mengembalikan otoritas pada teks Ibrani Masoretik (yang mereka bakukan). Sebaliknya, gereja justru makin mengukuhkan LXX sebagai terjemahan terilhami.

---

6. Varian Teks dan Pengaruh Teologis

Karena LXX diterjemahkan dari naskah Ibrani yang lebih tua (abad ke-3 SM) daripada naskah Masoretik (abad ke-7-10 M), LXX sering menyimpan pembacaan yang berbeda. Contoh penting:

· Usia para bapa leluhur dalam Kejadian 5 dan 11: LXX memberi angka yang berbeda (lebih tua) dari teks Masoretik.
· Mazmur 22 (LXX 21): Dikutip Yesus di salib (Eli, Eli, lama sabakhtani?), tetapi PB mengikuti bentuk LXX/Yunani, bukan teks Ibrani aslinya.

---

7. Dampak Jangka Panjang

· Bapak Gereja Latin: Hieronimus (abad ke-4) awalnya ingin menerjemahkan dari Ibrani (Vulgata), tetapi ia pun mengakui bahwa LXX adalah terjemahan yang digunakan para rasul.
· Liturgi Timur: Gereja Ortodoks Timur hingga kini masih menggunakan LXX sebagai dasar Perjanjian Lama resminya, bukan teks Ibrani.

---

Kesimpulan 

Septuaginta adalah bukti fisik terkuat bahwa Kekristenan tidak lahir dari "agama baru" yang memutus hubungan, melainkan mewarisi dan menguduskan versi Yudaisme diaspora yang sudah ter-Helenisasi. Bahkan ketika Yudaisme Rabinik kemudian menolak LXX, gereja justru mempertahankannya—menunjukkan bahwa akar Kristen memang berada di tanah Yudaisme, tetapi memilih cabang bahasa dan pemahaman yang berbeda dari Yudaisme pasca-Bait Suci.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom

Parakletos ketika beda teologi