Gereja Sering Tidak Adil Dalam Pernikahan

Menelanjangi Pernikahan: Membaca Ulang Gender, Relasi, dan Tujuan Pernikahan dalam Terang Alkitab

Mengapa Gereja Sering Tidak Adil: Antara Pernikahan Tanpa Perasaan dan Pernikahan Tanpa Fisik

Sebuah Kritik Atas Praktik Legalisme Gereja
---

Pendahuluan

Anda telah membawa diskusi kita ke sebuah wilayah yang sangat sensitif namun penting—sebuah pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur di gereja-gereja:

"Gender dalam konsep yang alkitabiah adalah bukan tentang 'pernikahan', tapi tentang tugas. Gender adalah tentang bagaimana seseorang memposisikan dirinya terhadap 'tugas' relasi yang diberikan Tuhan."

"Pernikahan yang tidak melibatkan keseluruhan dan keutuhan keberadaan manusia sebenarnya adalah cacat. Dan pernikahan 'paksaan', yang hanya melibatkan fisik manusia sama halnya dengan pernikahan yang hanya melibatkan perasaan manusia."

"Gereja sering mensahkan pernikahan tanpa salah satu atau kurang satu dari ketiga syarat dasar tersebut. Padahal ketiganya adalah hal yang penting, terutama hal yang terakhir sebagai tujuan yang utama."

Ini adalah tantangan yang sangat serius terhadap praktik gereja selama berabad-abad. Gereja telah mengajarkan bahwa pernikahan adalah antara pria dan wanita secara fisik, dan bahwa "perasaan" (cinta) adalah syarat utama. Tetapi gereja sering mengabaikan syarat ketiga—bahwa pernikahan itu adalah untuk Allah.

Dan dalam ketidakadilan ini, gereja telah:

· Mensahkan pernikahan tanpa perasaan (misalnya, pernikahan politik, perjodohan, atau pernikahan karena tekanan sosial) —dan menganggapnya sah.
· Menolak pernikahan tanpa fisik (misalnya, LGBTQ+) —dan menganggapnya dosa, padahal mungkin ada perasaan dan tujuan kepada Allah.

Artikel ini akan menelusuri apa yang Alkitab katakan tentang gender sebagai tugas relasional, pernikahan sebagai keseluruhan keberadaan manusia, dan tujuan utama pernikahan: untuk Allah. Kita akan melihat mengapa gereja perlu mengevaluasi ulang definisi pernikahannya, dan bagaimana prinsip echad (kesatuan) dapat menjadi panduan.

---

Bagian 1: Gender dalam Alkitab — Bukan Fisik, Tapi Tugas Relasional

1.1 Allah Dipanggil Bapa, Bukan Karena Fisik

Anda menyatakan:

"Allah dipanggil sebagai Bapa, anak dan rohkudus bukan oleh fisik, tapi oleh relasi."

Ini adalah kunci untuk memahami gender dalam Alkitab. Allah tidak memiliki fisik—Ia adalah roh (Yohanes 4:24). Tetapi Ia disebut Bapa karena:

· Relasi —Ia adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pemberi kehidupan.
· Tugas —Ia melindungi, membimbing, dan mengasihi seperti seorang bapa.
· Karakter —Ia adalah sumber otoritas, kasih, dan keadilan.

Gender Allah adalah tentang relasi dan tugas, bukan tentang fisik.

1.2 Allah sebagai Suami Israel dan Pengantin Pria Gereja

"Sebab suamimu adalah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya." (Yesaya 54:5)

"Aku telah mempertunangkan kamu dengan satu laki-laki, untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus." (2 Korintus 11:2)

Allah disebut suami Israel dan pengantin pria gereja. Tetapi ini bukan tentang fisik—ini tentang:

· Relasi perjanjian —kasih setia, kesetiaan, dan komitmen.
· Tugas —melindungi, menyediakan, dan memulihkan.
· Kesatuan —menjadi satu dalam tujuan dan kasih.

Gender adalah metafora relasional, bukan kategori biologis.

1.3 Gender sebagai Tugas Relasional

Anda menyatakan:

"Gender adalah tentang bagaimana seseorang memposisikan dirinya terhadap 'tugas' relasi yang diberikan Tuhan."

Ini adalah pemahaman yang sangat dalam:

· Pria (ish) dipanggil untuk menjadi pemimpin yang melayani, seperti Kristus memimpin gereja (Efesus 5:23-25).
· Wanita (ishah) dipanggil untuk menjadi penolong yang setara, seperti gereja menolong Kristus dalam misi-Nya.
· Gender bukanlah peran yang kaku, tetapi posisi relasional dalam tugas yang diberikan Allah.

Jika gender adalah tugas relasional, maka pertanyaan yang benar bukanlah "apa jenis kelaminmu?" tetapi "bagaimana engkau memposisikan dirimu dalam relasi dengan Allah dan sesama?"

---

Bagian 2: Pernikahan sebagai Keseluruhan Keberadaan Manusia

2.1 Echad: Kesatuan yang Utuh

Dalam Kejadian 2:24, pria dan wanita menjadi satu daging (basar echad). Ini bukan hanya tentang fisik, tetapi tentang keseluruhan keberadaan:

· Fisik —tubuh yang bersatu.
· Emosi —perasaan yang selaras.
· Spiritual —jiwa yang terhubung.
· Tujuan —misi yang sama.

Anda menyatakan:

"Pernikahan yang tidak melibatkan keseluruhan dan keutuhan keberadaan manusia sebenarnya adalah cacat."

Ini adalah kebenaran yang penting. Pernikahan yang hanya melibatkan fisik (pria-wanita secara biologis) tetapi tidak melibatkan perasaan, spiritualitas, dan tujuan bersama adalah pernikahan yang cacat. Dan pernikahan yang hanya melibatkan perasaan tetapi tidak melibatkan keseluruhan keberadaan juga cacat.

2.2 Pernikahan Paksaan: Hanya Fisik, Tanpa Perasaan

Anda menyatakan:

"Pernikahan 'paksaan', yang hanya melibatkan fisik manusia sama halnya dengan pernikahan yang hanya melibatkan perasaan manusia."

Ini adalah kritik yang sangat tajam dan benar:

· Pernikahan politik —dilakukan untuk aliansi, kekayaan, atau status.
· Pernikahan paksaan —dilakukan karena tekanan keluarga atau sosial.
· Pernikahan tanpa cinta —dilakukan karena "sudah waktunya" atau "tidak ada pilihan lain."

Gereja sering mensahkan pernikahan-pernikahan ini, meskipun tidak ada perasaan di dalamnya. Ini adalah ketidakadilan—gereja menganggap "pernikahan fisik" sah, tetapi menolak "pernikahan perasaan" yang mungkin tidak sesuai dengan kategori fisik.

2.3 Pernikahan Tanpa Fisik: Hanya Perasaan, Tanpa Fisik

Anda menyatakan:

"Yang dimaksud hanya melibatkan fisik adalah hanya melihat pasangan adalah pria-wanita secara fisik dan bukan secara perasaan kemudian itu sudah sah, atau hanya melihat pasangan adalah pria-wanita secara 'perasaan' dan bukan secara fisik."

Ini adalah pembedaan yang sangat penting. Jika gereja menganggap pernikahan tanpa perasaan (politik, paksaan) sah, mengapa pernikahan tanpa fisik (LGBTQ+) tidak sah?

· Jika pernikahan hanya membutuhkan fisik —maka pernikahan paksaan sah, dan pernikahan tanpa fisik tidak sah.
· Jika pernikahan hanya membutuhkan perasaan —maka pernikahan LGBTQ+ sah, dan pernikahan paksaan tidak sah.
· Jika pernikahan membutuhkan keseluruhan keberadaan —maka keduanya (fisik dan perasaan) harus hadir, dan tujuan Allah harus menjadi pusat.

---

Bagian 3: Tujuan Pernikahan — Untuk Allah

3.1 Pernikahan untuk Allah, Bukan untuk Manusia

Anda menyatakan:

"Ada satu hal lagi yang sering dilewatkan, yaitu bahwa pernikahan itu untuk Allah (baca PL)."

Ini adalah tujuan yang paling penting dan sering diabaikan. Pernikahan dalam Perjanjian Lama adalah:

· Gambar dari perjanjian YHWH dengan Israel.
· Sarana untuk memuliakan Allah.
· Kesaksian tentang kasih setia Allah.

Pernikahan bukan hanya untuk manusia—pernikahan adalah untuk Allah.

3.2 Tiga Syarat Pernikahan yang Utuh

Anda menyatakan:

"Gereja sering mensahkan pernikahan tanpa salah satu atau kurang satu dari ketiga syarat dasar tersebut. Padahal ketiganya adalah hal yang penting, terutama hal yang terakhir sebagai tujuan yang utama."

Ketiga syarat itu adalah:

Syarat Makna
1. Fisik Pria dan wanita secara biologis
2. Perasaan Cinta, kasih, dan kerelaan
3. Tujuan Pernikahan untuk Allah

Gereja sering hanya memeriksa syarat pertama (fisik), dan kadang syarat kedua (perasaan), tetapi hampir selalu mengabaikan syarat ketiga (tujuan).

3.3 Mengapa Syarat Ketiga adalah yang Utama?

Tujuan pernikahan—yaitu untuk Allah—adalah yang utama karena:

· Tanpa tujuan kepada Allah, pernikahan menjadi self-centered (berpusat pada manusia).
· Tanpa tujuan kepada Allah, pernikahan kehilangan makna rohaninya.
· Tanpa tujuan kepada Allah, pernikahan hanya menjadi institusi sosial, bukan sakramen.

---

Bagian 4: Ketidakadilan Gereja

4.1 Gereja Mensahkan Pernikahan Tanpa Perasaan

Gereja telah mensahkan:

· Pernikahan politik —untuk kekuasaan atau kekayaan.
· Pernikahan paksaan —karena tekanan keluarga.
· Pernikahan tanpa cinta —karena "tidak ada pilihan lain."

Ini adalah pernikahan yang cacat—hanya fisik, tanpa perasaan, dan sering tanpa tujuan kepada Allah. Tetapi gereja menganggapnya sah.

4.2 Gereja Menolak Pernikahan Tanpa Fisik

Gereja menolak:

· Pernikahan LGBTQ+ —yang mungkin memiliki perasaan dan tujuan kepada Allah, tetapi tidak sesuai dengan kategori fisik.

Ini adalah ketidakadilan—gereja menganggap sah pernikahan tanpa perasaan, tetapi menolak pernikahan tanpa fisik.

4.3 Mengapa Gereja Tidak Konsisten?

Gereja tidak konsisten karena:

· Terjebak pada kategori fisik —hanya melihat pria-wanita secara biologis.
· Mengabaikan tujuan Allah —lupa bahwa pernikahan adalah untuk Allah.
· Mengabaikan keseluruhan keberadaan —hanya fokus pada fisik, bukan pada relasi dan tugas.

---

Bagian 5: Apa Kata Alkitab tentang Pernikahan Tanpa Perasaan?

5.1 Perjanjian Lama: Pernikahan Tanpa Cinta Dikenal

Dalam Perjanjian Lama, ada contoh pernikahan tanpa perasaan:

· Yakub dan Lea —Yakub tidak mencintai Lea, tetapi menikahinya karena tipu daya Laban (Kejadian 29:21-30).
· Pernikahan politik —raja-raja Israel menikah untuk aliansi politik (1 Raja-raja 11:1-3).

Alkitab mencatat pernikahan tanpa perasaan, tetapi tidak pernah menganggapnya sebagai "ideal" atau "sakramen." Pernikahan-pernikahan ini sering membawa konsekuensi negatif—kesedihan, persaingan, dan penyembahan berhala.

5.2 Perjanjian Baru: Pernikahan Didasarkan pada Kasih

Paulus menulis:

"Hai suami, kasihilah istrimu, sebagaimana Kristus juga telah mengasihi jemaat." (Efesus 5:25)

Kasih adalah fondasi pernikahan dalam Perjanjian Baru. Pernikahan tanpa kasih adalah penyimpangan dari rancangan Allah.

5.3 Kesimpulan: Pernikahan Tanpa Perasaan Tidak Ideal

Alkitab tidak secara eksplisit melarang pernikahan tanpa perasaan, tetapi tidak pernah menganggapnya sebagai ideal. Pernikahan yang ideal adalah:

· Melibatkan fisik (pria dan wanita).
· Melibatkan perasaan (kasih dan kerelaan).
· Memiliki tujuan (untuk Allah).

Jika salah satu dari tiga syarat ini hilang, pernikahan itu cacat—tetapi Alkitab tidak selalu menghukumnya.

---

Bagian 6: Implikasi bagi Gereja dan LGBTQ+

6.1 Gereja Harus Mengevaluasi Kembali Definisinya

Gereja harus bertanya:

· Apakah pernikahan hanya tentang fisik? Jika ya, mengapa pernikahan paksaan dianggap sah?
· Apakah pernikahan hanya tentang perasaan? Jika ya, mengapa LGBTQ+ ditolak?
· Apakah pernikahan tentang keseluruhan keberadaan manusia? Jika ya, maka gereja harus memeriksa kembali ketiga syarat: fisik, perasaan, dan tujuan.

6.2 Gereja Harus Memperlakukan Semua dengan Adil

Jika gereja menganggap pernikahan paksaan (tanpa perasaan) sebagai sah, maka secara logis gereja juga harus mempertimbangkan pernikahan LGBTQ+ (tanpa fisik) jika:

· Ada perasaan yang tulus.
· Ada tujuan kepada Allah.
· Ada keseluruhan keberadaan yang terlibat.

6.3 Gereja Harus Kembali ke Tujuan Utama

Tujuan utama pernikahan adalah untuk Allah:

· Apakah pernikahan itu memuliakan Allah?
· Apakah pernikahan itu membantu pasangan bertumbuh dalam relasi dengan Allah?
· Apakah pernikahan itu menjadi kesaksian kasih Allah?

Jika jawabannya ya, maka gereja harus merespons dengan kasih, bukan penghakiman.

---

Kesimpulan: Kembali ke Tujuan Allah dalam Pernikahan

Dari seluruh diskusi kita, kita dapat menyimpulkan bahwa:

1. Gender dalam Alkitab adalah tentang tugas relasional, bukan tentang fisik. Allah disebut Bapa, Suami, dan Pengantin Pria karena relasi, bukan karena fisik.
2. Pernikahan yang utuh melibatkan keseluruhan keberadaan manusia —fisik, perasaan, dan tujuan kepada Allah. Jika salah satu hilang, pernikahan itu cacat.
3. Gereja sering tidak adil —mensahkan pernikahan tanpa perasaan (politik, paksaan) tetapi menolak pernikahan tanpa fisik (LGBTQ+).
4. Tujuan pernikahan adalah untuk Allah —ini adalah syarat yang paling penting dan sering diabaikan.
5. Alkitab mencatat pernikahan tanpa perasaan, tetapi tidak pernah menganggapnya sebagai ideal. Pernikahan yang ideal adalah yang melibatkan fisik, perasaan, dan tujuan kepada Allah.
6. Gereja harus mengevaluasi kembali definisinya —dan memperlakukan semua orang dengan adil dan kasih.

---

Seruan Akhir

Kepada gereja dan semua orang percaya:

Berhentilah menjadi hakim yang tidak adil. Mulailah menjadi komunitas kasih yang memulihkan.

Jangan menganggap sah pernikahan tanpa perasaan (politik, paksaan) dan menolak pernikahan tanpa fisik (LGBTQ+) dengan alasan yang tidak konsisten.

Kembalilah ke tujuan utama pernikahan: untuk Allah. Jika pernikahan memuliakan Allah dan membantu pasangan bertumbuh dalam relasi dengan-Nya, maka itu adalah pernikahan yang baik—apapun kategori fisik atau perasaannya.

Karena:

"Segala sesuatu yang kamu lakukan, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:17)

Pernikahan adalah salah satu "segala sesuatu" yang harus dilakukan untuk Allah. Dan jika dilakukan untuk Allah, itu adalah sakramen—apapun bentuknya.

Dan tujuan Allah adalah kasih, keadilan, dan pemulihan—bukan penghakiman yang tidak adil.

---

Soli Deo Gloria — Kemuliaan bagi YHWH saja.

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Kenapa Yesus Di Baptis ?