Apa itu Predestinasi Allah?
Apa itu Predestinasi Allah?
Menjelaskan Ulang Seluruh Hasil Diskusi
---
Abstrak
Doktrin predestinasi telah lama menjadi salah satu teologi yang paling kontroversial dan membingungkan dalam Kekristenan. Perdebatan antara Calvinisme dan Arminianisme sering kali terjebak dalam kerangka filsafat Yunani tentang kausalitas, kehendak, dan determinisme. Tulisan ini merangkum seluruh hasil diskusi tentang predestinasi dengan menggunakan kerangka Mar'ot Echad dan kemahaan kasih, serta memberikan koreksi penting tentang apa arti "ditetapkan untuk binasa" dalam Perjanjian Baru. Dengan berpijak pada hakikat Allah sebagai Kasih yang Maha—tidak membutuhkan input dan tidak mengharuskan output—kita akan melihat bahwa predestinasi bukanlah tentang "siapa yang dipilih dan siapa yang ditolak" secara mekanis, melainkan tentang identitas relasional Allah yang kekal yang dinyatakan dalam tindakan kasih-Nya kepada umat manusia. Predestinasi adalah pernyataan bahwa keselamatan sepenuhnya inisiatif Allah, namun penolakan sepenuhnya tanggung jawab manusia. Kebinasaan orang-orang fasik bukanlah karena Allah menetapkan mereka untuk binasa, melainkan karena mereka menolak kasih karunia yang telah ditawarkan kepada semua orang.
---
Pendahuluan: Predestinasi yang Selalu Ada di Hadapan Kita
Sering kali kita membayangkan predestinasi sebagai sebuah doktrin yang tersembunyi di dalam kitab-kitab teologi, hanya bisa dipahami oleh para akademisi dengan bahasa Latin dan filsafat Yunani. Namun, kenyataannya, predestinasi adalah realitas yang kita alami setiap hari—dalam setiap relasi kasih yang tulus dan sejati.
Coba perhatikan:
· Seorang ibu yang memilih untuk mengasihi anaknya sejak anak itu masih dalam kandungan. Ia tidak menunggu anak itu "layak" atau "berprestasi" untuk mengasihinya. Ia mengasihi karena ia adalah ibu. Itu logika kasih. Itu predestinasi.
· Seorang suami yang berkomitmen kepada istrinya, "dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sehat dan sakit." Komitmen itu menentukan (mendestinasikan) bahwa ia akan tetap setia, terlepas dari perubahan kondisi. Itu logika kasih. Itu predestinasi.
· Seorang sahabat yang memilih untuk tetap berada di sisi sahabatnya, bahkan ketika sahabatnya gagal, berkhianat, atau melukai. Itu logika kasih. Itu predestinasi.
Kita tidak perlu menjadi teolog untuk memahami predestinasi. Kita cukup menjadi manusia yang mengasihi. Karena dalam setiap tindakan kasih yang sejati, ada pilihan, ada ketetapan, ada komitmen yang mendahului tindakan. Itulah predestinasi.
Dan jika manusia yang terbatas dan berdosa dapat mengasihi dengan logika kasih seperti ini, bagaimana mungkin Allah yang Maha Kasih tidak lebih dahulu, lebih setia, dan lebih kuat dalam kasih-Nya?
---
Bagian 1: Kesalahan Pemahaman tentang Predestinasi
1.1 Predestinasi dalam Pemahaman Tradisional
Doktrin predestinasi biasanya dirumuskan sebagai berikut: "Allah dari kekekalan telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian lainnya untuk dihukum." Rumusan ini, yang lazim dalam teologi Reformasi, memicu pertanyaan-pertanyaan sulit:
· Jika Allah memilih sebagian dan menolak sebagian, bukankah Ia tidak adil?
· Jika Allah sudah menentukan segalanya, bukankah manusia hanya boneka?
· Jika keselamatan sudah ditentukan, bukankah penginjilan dan pertobatan menjadi tidak berarti?
· Jika Allah menghendaki semua orang selamat (1 Timotius 2:4), bagaimana mungkin Ia memilih hanya sebagian?
Di sinilah teologi substansi Yunani gagal. Ia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan logika kausalitas—seolah-olah Allah adalah "penyebab pertama" yang menentukan segala akibat. Namun, Allah bukanlah penyebab seperti penyebab dalam rantai fisika. Allah adalah Pribadi yang mengasihi, dan kasih tidak dapat direduksi menjadi hubungan sebab-akibat.
1.2 "Ditetapkan untuk Binasa" — Koreksi Penting
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami predestinasi adalah membaca ayat-ayat tentang penghakiman seolah-olah itu adalah "predestinasi negatif." Perhatikan ayat-ayat ini:
· 1 Petrus 2:8: "Mereka tersandung padanya karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah ditentukan."
· Roma 9:22: "Bejana-bejana murka yang disiapkan untuk kebinasaan."
· Yudas 4: "Orang-orang fasik yang sudah lama ditentukan untuk dihukum."
Pemahaman tradisional membaca ayat-ayat ini sebagai bukti bahwa Allah telah menetapkan orang-orang tertentu untuk binasa. Namun, pembacaan ini keliru. Mari kita teliti lebih dalam.
Apa yang sebenarnya "ditetapkan"?
Yang ditetapkan dalam ayat-ayat ini bukanlah orang-orangnya, tetapi sikap penolakan itu sendiri. Allah menetapkan bahwa setiap orang yang menolak kasih-Nya akan binasa—bukan menetapkan orang tertentu untuk binasa.
Elemen Ditetapkan? Penjelasan
Sikap penolakan Ya Allah menetapkan bahwa siapa pun yang menolak kasih-Nya akan menerima konsekuensi
Orang yang menolak Tidak Manusia sendiri yang memilih untuk menolak
Konsekuensi penolakan Ya Kebinasaan adalah prinsip keadilan yang sudah ditetapkan Allah
Dengan kata lain: Allah menetapkan prinsip ("orang yang menolak Aku akan binasa"), tetapi tidak menetapkan orang ("A akan binasa, B akan selamat").
1.3 Contoh-Contoh dalam Alkitab
Tokoh Penolakan Kebinasaan Yang Ditetapkan
Saul Menolak firman Allah, berpura-pura taat (1 Samuel 15) Roh Allah meninggalkannya Sikap penolakan yang membawa kebinasaan
Safira Berpura-pura memberi dengan motivasi palsu (Kisah 5) Dihukum mati Sikap penolakan yang membawa kebinasaan
Yudas Mengkhianati Yesus dengan "ciuman" (Matius 26:48-49) Binasa Sikap penolakan yang membawa kebinasaan
Firaun Awalnya mengeraskan hatinya sendiri, kemudian Allah mengeraskannya Tenggelam di Laut Merah Sikap penolakan yang membawa kebinasaan
Pola yang jelas: Dalam setiap kasus, kebinasaan bukanlah predestinasi Allah, tetapi konsekuensi dari penolakan manusia terhadap kasih karunia. Mereka memilih untuk menolak, dan Allah menghormati pilihan mereka—dengan konsekuensi yang menyedihkan.
---
Bagian 2: Predestinasi dalam Terang Mar'ot Echad dan Kemahaan Kasih
2.1 Allah Maha Kasih: Inisiatif Sepenuhnya dari Allah
Jika Allah adalah Kasih yang Maha—tidak membutuhkan input dan tidak mengharuskan output—maka:
1. Kasih Allah tidak reaktif. Kasih-Nya tidak muncul sebagai respons terhadap kebaikan manusia. Kasih-Nya adalah inisiatif murni dari diri-Nya sendiri.
2. Kasih Allah tidak kondisional. Kasih-Nya tidak bergantung pada syarat apa pun dari pihak manusia.
3. Kasih Allah adalah hakikat-Nya. Keselamatan bukanlah "keputusan" Allah untuk mengasihi, tetapi ekspresi dari siapa Dia sudah sejak kekekalan.
Implikasi bagi predestinasi: Predestinasi adalah pernyataan bahwa keselamatan sepenuhnya dari Allah, sejak awal hingga akhir. Tidak ada manusia yang dapat "membuat" Allah mengasihinya dengan perbuatan baik. Kasih Allah meluap secara gratis, sebelum manusia ada, dan terlepas dari apa pun yang manusia lakukan.
Dengan demikian, predestinasi bukanlah tentang "Allah memilih A dan menolak B" dalam arti manusiawi. Predestinasi adalah tentang Allah yang dalam kasih-Nya yang Maha Kasih telah menetapkan untuk menyelamatkan umat-Nya melalui Kristus. Dan "umat-Nya" adalah mereka yang di dalam Kristus, yang merespons kasih-Nya.
2.2 Allah Echad: Predestinasi dalam Relasi Trinitas
Jika Allah adalah echad—kesatuan relasional yang di dalamnya terdapat Bapa, Putra, dan Roh—maka predestinasi terjadi dalam relasi Trinitas:
· Bapa menginisiasi rencana keselamatan dari kekekalan (Efesus 1:4).
· Putra melaksanakan rencana itu dalam inkarnasi, kematian, dan kebangkitan (Efesus 1:7).
· Roh Kudus mengaplikasikan rencana itu kepada orang percaya, membawa mereka kepada iman (Efesus 1:13-14).
Predestinasi bukanlah keputusan tunggal dari Allah yang soliter. Predestinasi adalah tindakan kasih bersama dari Trinitas—Bapa yang merancang, Putra yang menebus, Roh yang memanggil. Dan ketiganya adalah mar'ot echad—penampakan yang satu dari Allah yang esa dalam kasih.
Implikasi bagi predestinasi: Predestinasi tidak pernah dapat dipisahkan dari kasih Trinitas. Ini bukan "keputusan dingin" dari hakim, tetapi pelukan hangat dari Bapa yang mengasihi, melalui Putra yang mati, oleh Roh yang memanggil.
---
Bagian 3: Definisi Predestinasi yang Presisi
Berdasarkan kerangka di atas, kita dapat merumuskan definisi predestinasi yang presisi dalam tiga lapisan:
3.1 Predestinasi sebagai Rencana Kasih Kekal
Predestinasi adalah keputusan kekal Allah—yang lahir dari kasih Trinitas yang Maha Kasih—untuk menyelamatkan umat manusia melalui Yesus Kristus, dan untuk memanggil, membenarkan, dan memuliakan semua yang berada di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus.
Penjelasan:
· Ini bukan tentang "daftar nama" secara deterministik, tetapi tentang rencana keselamatan yang sudah ditetapkan sebelum dunia dijadikan.
· Fokusnya adalah pada Kristus sebagai pusat predestinasi: kita dipilih di dalam Dia, bukan terlepas dari Dia.
· Tujuan predestinasi adalah kemuliaan Allah dan kekudusan umat-Nya (Efesus 1:4, 12, 14).
3.2 Predestinasi sebagai Panggilan untuk Merespons
Predestinasi adalah panggilan Allah yang Maha Kasih kepada semua manusia untuk masuk ke dalam Kristus, dan janji-Nya bahwa semua yang datang kepada-Nya tidak akan ditolak (Yohanes 6:37).
Penjelasan:
· Predestinasi tidak menghilangkan kebebasan manusia. Allah mengasihi secara Maha Kasih—tanpa syarat dan tanpa paksaan. Kasih sejati menghormati kebebasan.
· Penolakan terhadap kasih Allah adalah respons manusia yang bebas, bukan ketetapan Allah. Allah tidak menghendaki kematian orang berdosa, tetapi bahwa ia bertobat (Yehezkiel 33:11).
· Tetapi—dan ini penting—manusia yang bebas tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Roh Kudus-lah yang memampukan manusia untuk merespons. Jadi, respons manusia adalah buah dari kasih Allah, bukan pencapaian otonom.
3.3 Predestinasi sebagai Kepastian bagi Orang Percaya
Predestinasi adalah jaminan kekal bagi setiap orang yang berada di dalam Kristus, bahwa mereka akan dipelihara oleh kuasa Allah sampai pada keselamatan akhir (1 Petrus 1:5).
Penjelasan:
· Predestinasi bukanlah "tiket masuk" yang membuat orang Kristen bisa hidup seenaknya. Ia adalah jaminan bahwa Allah yang memulai karya baik di dalam kita akan menyelesaikannya (Filipi 1:6).
· Predestinasi memberi kepastian dan penghiburan bagi orang percaya, terutama ketika mereka lemah. Bukan karena mereka kuat, tetapi karena Allah setia.
---
Bagian 4: Logika Kasih sebagai Bukti Predestinasi
4.1 Kasih Memilih: Preferensi yang Mendahului
Setiap kasih yang sejati selalu memilih. Tidak ada kasih tanpa pilihan. Cinta tidak pernah bersifat "acak" atau "netral." Cinta selalu mengarah pada objek tertentu.
· Seorang ibu tidak mengasihi semua anak di dunia dengan cara yang sama; ia memilih anaknya sendiri. Bukan karena anaknya lebih baik, tetapi karena anaknya adalah anaknya.
· Seorang kekasih tidak mengasihi semua orang dengan cara yang sama; ia memilih kekasihnya sendiri. Bukan karena kekasihnya lebih sempurna, tetapi karena cinta telah menentukan pilihannya.
Inilah predestinasi dalam skala manusiawi: Kasih menentukan pilihannya terlebih dahulu, kemudian membuktikan dirinya dalam tindakan. Ibu mengasihi anaknya bukan karena anaknya telah membuktikan diri layak; anaknya layak karena ibunya mengasihinya.
Teologi Paulus berkata: "Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan" (Efesus 1:4). Ini bukan keputusan yang dingin; ini adalah logika kasih. Kasih sejati selalu memilih lebih dahulu, tanpa menunggu objeknya membuktikan diri. Itulah predestinasi.
4.2 Kasih Berkomitmen: Ketetapan yang Tidak Berubah
Kasih yang sejati bukanlah perasaan sesaat; ia adalah komitmen. Dan komitmen, dengan sendirinya, adalah predestinasi dalam tindakan:
· Seorang suami yang berkata, "Aku akan setia kepadamu sepanjang hidupku" sedang menetapkan (mendestinasikan) masa depannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi ia telah menentukan untuk tetap mengasihi, terlepas dari apa pun.
· Seorang sahabat yang berjanji, "Aku akan selalu ada untukmu" sedang menetapkan responsnya terhadap masa depan yang tidak diketahui. Ia telah memilih untuk tetap setia.
Kasih selalu mendahului waktu. Ia menetapkan komitmen sebelum keadaan terjadi. Inilah esensi predestinasi dalam kehidupan manusia.
Dan jika manusia yang terbatas dan lemah ini dapat memiliki kasih yang berkomitmen, apalagi Allah yang Maha Kasih? Kasih-Nya sudah menentukan keselamatan kita sejak kekekalan, bukan karena kita layak, tetapi karena kasih-Nya Maha—tidak membutuhkan input dari kita, dan tidak mengharuskan output untuk membuktikan diri-Nya.
4.3 Kasih Mengorbankan Diri: Bukti Nyata Predestinasi
Kasih yang sejati selalu mengarah pada pengorbanan. Dan pengorbanan adalah bukti paling nyata dari predestinasi:
· Seorang ibu yang begadang untuk merawat anaknya yang sakit telah memilih untuk mengorbankan istirahatnya. Kasihnya menentukan tindakannya.
· Seorang sahabat yang rela dipuji orang lain saat temannya berhasil, dan rela dicela saat temannya gagal—ia telah menetapkan bahwa ia akan tetap ada, apapun yang terjadi.
Yesus sendiri berkata: "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13). Dan dalam kematian Kristus, predestinasi kasih Allah dinyatakan dengan paling jelas: sebelum kita bertobat, sebelum kita percaya, bahkan ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita (Roma 5:8). Itulah predestinasi—kasih yang telah menentukan untuk mengorbankan diri-Nya, bukan sebagai reaksi atas pertobatan kita, tetapi sebagai inisiatif yang datang lebih dahulu.
---
Bagian 5: Membedakan Predestinasi dan Penetapan Penghakiman
Aspek Predestinasi (Kasih) Penetapan Penghakiman
Definisi Allah memilih umat-Nya di dalam Kristus Allah menetapkan konsekuensi atas penolakan
Objek Orang percaya di dalam Kristus Sikap penolakan terhadap Kristus
Inisiatif Inisiatif Allah Respons Allah (konsekuensi)
Tujuan Keselamatan dan kemuliaan Keadilan dan penghakiman
Ayat Kunci Efesus 1:4-5; Roma 8:29-30 1 Petrus 2:8; Roma 9:22; Yudas 4
Hubungan antara keduanya:
```
Kasih Allah yang Maha Kasih (ditawarkan kepada semua)
↓
Manusia merespons dengan bebas
↓
┌────────────────┴────────────────┐
↓ ↓
Menerima kasih karunia Menolak kasih karunia
↓ ↓
Dipilih di dalam Kristus Ditetapkan untuk binasa
(Predestinasi) (Konsekuensi penolakan)
```
---
Bagian 6: Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Kritis
6.1 "Jika Allah Memilih Semua, Mengapa Tidak Semua Selamat?"
Ini adalah pertanyaan yang muncul jika kita membaca predestinasi secara mekanis. Dalam kerangka Mar'ot Echad, jawabannya adalah:
1. Allah memang menghendaki semua orang selamat (1 Timotius 2:4). Kehendak ini adalah kehendak kasih Allah yang Maha Kasih—Kasih yang meluap kepada semua ciptaan.
2. Namun, kasih sejati tidak memaksa. Allah menghormati kebebasan yang Ia ciptakan. Kasih-Nya adalah undangan, bukan paksaan.
3. Penolakan manusia terhadap kasih Allah adalah misteri kejahatan yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya. Tetapi yang pasti: Allah tidak menciptakan manusia untuk binasa. Manusia binasa karena mereka memilih untuk menolak Kasih.
Dengan kata lain:
· Keselamatan sepenuhnya inisiatif Allah.
· Penolakan sepenuhnya tanggung jawab manusia.
· Tidak ada kontradiksi di sini, karena Allah dan manusia berada dalam relasi kasih, bukan dalam rantai kausalitas.
6.2 "Jika Semua Ditentukan, Apa Gunanya Penginjilan dan Pertobatan?"
Penginjilan dan pertobatan bukanlah "alat" untuk "menambah jumlah orang yang dipilih." Dalam kerangka relasional:
· Penginjilan adalah ekspresi kasih Allah—Allah yang Maha Kasih menginginkan agar semua manusia mengenal kasih-Nya. Penginjilan adalah partisipasi kita dalam mar'ot echad—menampakkan kasih Allah kepada dunia.
· Pertobatan adalah respons manusia terhadap kasih Allah yang sudah lebih dulu bekerja. Roh Kudus memampukan kita untuk bertobat; tetapi pertobatan tetap merupakan tindakan nyata dari manusia yang bebas.
Penginjilan dan pertobatan bukanlah kontradiksi dengan predestinasi; mereka adalah cara predestinasi diwujudkan dalam sejarah. Allah yang telah menetapkan rencana keselamatan juga menetapkan cara-cara-Nya: melalui pemberitaan Injil dan pertobatan iman.
6.3 "Bagaimana dengan Mereka yang Tidak Pernah Mendengar Injil?"
Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kepastian filosofis. Namun, dalam kerangka kasih Allah yang Maha Kasih, kita dapat berkata:
1. Allah adalah Hakim yang adil dan Maha Kasih. Ia tidak akan menghukum siapa pun secara tidak adil (Kejadian 18:25).
2. Allah menyatakan diri-Nya kepada semua manusia melalui ciptaan (Roma 1:19-20) dan melalui hati nurani (Roma 2:14-15).
3. Keselamatan tetap hanya di dalam Kristus. Tetapi bagaimana Allah menerapkan karya Kristus kepada mereka yang tidak mengenal Injil adalah hak prerogatif-Nya, dan kita mempercayakannya kepada kasih-Nya yang Maha Kasih.
Ini adalah pengakuan akan keterbatasan pengetahuan kita, bukan ketidakpedulian terhadap misi. Sebaliknya, karena kita tahu bahwa keselamatan ada di dalam Kristus, kita semakin terdorong untuk memberitakan Injil kepada semua orang.
6.4 "Apakah Allah Mengetahui Sebelumnya Siapa yang Akan Menolak?"
Pertanyaan: Jika Allah mengetahui sebelumnya bahwa A akan menolak dan B akan menerima, bukankah ini semacam "predestinasi" juga?
Jawaban: Ada perbedaan antara:
· Foreknowledge (pengetahuan sebelumnya) — Allah mengetahui apa yang akan terjadi
· Predetermination (penetapan sebelumnya) — Allah menentukan apa yang akan terjadi
Allah mengetahui siapa yang akan menolak, tetapi Ia tidak menentukan mereka untuk menolak. Pengetahuan-Nya tidak menyebabkan penolakan mereka.
---
Bagian 7: Implikasi Pastoral dari Predestinasi yang Presisi
7.1 Penghiburan bagi yang Lemah
Predestinasi bukanlah doktrin yang menakutkan untuk membuat orang gemetar. Ia adalah doktrin penghiburan:
· Jika keselamatan tergantung pada upaya manusia, maka tidak ada yang pasti. Kita bisa jatuh kapan saja.
· Tetapi karena keselamatan adalah inisiatif kasih Allah yang Maha Kasih, kita memiliki jaminan yang kokoh: "Ia yang memulai pekerjaan baik di dalam kamu, akan menyelesaikannya" (Filipi 1:6).
7.2 Kerendahan Hati bagi yang Kuat
Predestinasi bukanlah alasan untuk merasa "lebih baik" dari orang lain yang tidak percaya:
· Jika kita percaya, itu bukan karena kita lebih baik, tetapi karena kasih Allah yang meluap kepada kita.
· Kita dipilih bukan untuk menjadi sombong, tetapi untuk menjadi berkat—terang bagi bangsa-bangsa, garam bagi dunia.
7.3 Dorongan untuk Mengasihi
Predestinasi yang benar selalu mengarah pada kasih, bukan perdebatan:
· Karena Allah telah mengasihi kita tanpa syarat, kita mengasihi sesama.
· Karena Allah menginginkan semua orang selamat, kita memberitakan Injil dengan kasih, bukan dengan kekerasan atau kesombongan.
7.4 Peringatan bagi yang Menolak
Jika pemahaman ini benar, maka:
· Tidak ada orang yang "ditetapkan" Allah untuk binasa sejak kekekalan.
· Setiap orang yang bertobat dapat diselamatkan.
· Tidak ada "batas predestinasi" yang menghalangi seseorang untuk datang kepada Kristus.
Seruan: "Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang" (Yohanes 6:37).
---
Bagian 8: Kesimpulan
8.1 Predestinasi adalah Logika Kasih
Selama ini kita menganggap predestinasi sebagai doktrin teologis yang rumit dan abstrak. Namun, dengan kerangka Mar'ot Echad dan kemahaan kasih, kita menemukan bahwa:
Predestinasi adalah logika kasih. Dan logika kasih adalah predestinasi. Tidak ada predestinasi di luar kasih, dan tidak ada kasih di luar predestinasi.
Kita membuktikannya setiap hari:
· Ketika ibu mengasihi anaknya tanpa syarat—itu predestinasi.
· Ketika pasangan suami-istri berkomitmen seumur hidup—itu predestinasi.
· Ketika sahabat tetap setia di saat sulit—itu predestinasi.
· Ketika seseorang mengampuni tanpa syarat—itu predestinasi.
Dan jika manusia yang terbatas dan berdosa dapat mengasihi dengan logika kasih seperti ini, bagaimana mungkin Allah yang Maha Kasih tidak lebih dahulu, lebih setia, dan lebih kuat dalam kasih-Nya?
8.2 Predestinasi Bukanlah Penetapan untuk Binasa
Kesalahan terbesar dalam memahami predestinasi adalah menyamakannya dengan "penetapan untuk binasa." Padahal:
· Predestinasi adalah keputusan kekal Allah untuk menyelamatkan di dalam Kristus.
· Penetapan untuk binasa adalah konsekuensi dari penolakan manusia terhadap kasih karunia.
Allah tidak menetapkan orang untuk binasa. Ia menetapkan prinsip bahwa siapa pun yang menolak kasih-Nya akan binasa. Kebinasaan adalah pilihan manusia, bukan ketetapan Allah.
8.3 Ringkasan Akhir
Predestinasi adalah keputusan kekal Allah yang Maha Kasih untuk mengasihi, memilih, dan menyelamatkan umat-Nya di dalam Kristus, melalui panggilan Roh, yang diresponi oleh iman manusia yang dibebaskan—semua itu terjadi bukan karena manusia, tetapi karena kasih Allah yang meluap. Penolakan terhadap kasih itu adalah tanggung jawab manusia, bukan kehendak Allah. Dan kepastian keselamatan adalah anugerah bagi semua yang berada di dalam Kristus.
Predestinasi bukanlah tentang "daftar hitam dan putih." Predestinasi adalah tentang Allah yang Kasih, yang dari kekekalan telah mengasihi, dan yang di dalam kasih-Nya yang Maha Kasih, telah menetapkan untuk menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus. Bukan karena kita, tetapi karena Dia.
---
Seruan untuk Mengasihi
Jika predestinasi adalah logika kasih, maka panggilan kita hari ini adalah:
1. Kasihilah lebih dahulu. Jangan menunggu orang lain layak. Kasihilah terlebih dahulu, seperti Allah mengasihi kita lebih dahulu.
2. Berkomitmenlah. Jangan kasih yang setengah-setengah. Kasih yang sejati adalah kasih yang berkomitmen, dalam suka dan duka.
3. Tetap setialah. Jangan tinggalkan orang yang Anda kasihi ketika ia jatuh. Kasihilah mereka melalui kegagalan, seperti Kristus mengasihi kita ketika kita masih berdosa.
4. Percayalah pada Kasih. Jika Anda mengasihi, Anda sedang berpartisipasi dalam realitas kekal Allah. Kasih Anda tidak sia-sia; ia adalah cerminan dari Allah yang echad.
---
Seruan Ibadah
---
Allah yang Maha Kasih dan Maha Kudus,
Engkau tidak menetapkan siapa pun untuk binasa.
Engkau menghendaki semua orang selamat dan datang kepada pengetahuan kebenaran.
Mereka yang binasa binasa karena mereka menolak kasih-Mu.
Bukan karena Engkau menolak mereka,
tetapi karena mereka memilih untuk berpaling dari-Mu.
Sebelum dunia dijadikan,
Engkau telah mengasihi kami di dalam Kristus.
Bukan karena kami baik,
tetapi karena Engkau adalah Kasih.
Kami tidak pernah dapat menambah kasih-Mu,
dan kami tidak pernah dapat mengurangi kasih-Mu.
Kasih-Mu adalah siapa Engkau,
dan Engkau tidak berubah.
Tuntunlah kami untuk hidup di dalam kepastian kasih-Mu,
bukan dalam ketakutan akan penolakan-Mu.
Dan karena kami telah menerima kasih-Mu dengan cuma-cuma,
ajarlah kami untuk mengasihi sesama dengan cuma-cuma.
Ampunilah kami yang sering menghakimi sesama,
seolah-olah kami tahu siapa yang Engkau "pilih" dan "tolak."
Ajarlah kami untuk memberitakan Injil kepada semua,
karena kasih-Mu meluas kepada semua.
Mar'ot Echad—Satu Allah, satu kasih, satu keselamatan di dalam Kristus.
Amin.
---
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar