KEHADIRAN, BUKAN ONENESS ABSOLUTE
KEHADIRAN, BUKAN ONENESS ABSOLUTE
Misteri yang Dirasakan, Bukan Konsep yang Dirumuskan
Kehadiran, Trinitas Dalam Pengalaman Hidup
---
Abstrak
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang terminologi "Kehadiran" adalah tuduhan bahwa ia jatuh ke dalam Oneness Absolute—yaitu paham yang mengatakan bahwa Allah hanya satu "wujud" yang berganti-ganti topeng, atau bahwa perbedaan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah ilusi. Tuduhan ini muncul karena mereka yang terbiasa dengan kerangka filosofis "tiga Pribadi" tidak dapat membayangkan bagaimana "satu" bisa mengandung "tiga" tanpa menjadi kontradiksi.
Namun, "Kehadiran" justru adalah antitesis dari Oneness Absolute. Oneness Absolute adalah konsep yang statis, monolitik, dan tidak berelasi—Allah yang sunyi, tanpa perbedaan internal, tanpa relasi, tanpa kasih. Sebaliknya, "Kehadiran" adalah realitas yang dinamis, personal, dan penuh relasi. Orang percaya tidak mengalami Allah sebagai "satu wujud" yang kabur, tetapi sebagai tiga Kehadiran yang jelas berbeda—dan pada saat yang sama, merasakan bahwa ketiganya adalah satu Pribadi yang esa.
Konsep "Kehadiran" hanya bisa dijelaskan oleh pengalaman—baik pengalaman yang tercatat dalam Alkitab maupun pengalaman umat percaya sepanjang zaman hingga hari ini. Kita merasakan Bapa, kita merasakan Anak, kita merasakan Roh Kudus. Kita merasakan perbedaan mereka, dan kita merasakan keesaan mereka. Ini adalah misteri yang telah diungkapkan—bukan misteri yang harus dipecahkan dengan logika, tetapi misteri yang harus diimani, dirasakan, dan dihayati.
Artikel ini akan menunjukkan bahwa "Kehadiran" bukanlah Oneness Absolute, tetapi justru satu-satunya kerangka yang mampu menjelaskan pengalaman iman Kristen yang sejati: mengalami Bapa sebagai sumber, Anak sebagai jalan, dan Roh sebagai kuasa—sekaligus dan dalam kesatuan yang sempurna.
---
Bagian 1: Oneness Absolute vs. Kehadiran
A. Apa Itu Oneness Absolute?
Oneness Absolute adalah paham yang mengatakan bahwa Allah adalah satu wujud tunggal yang tidak memiliki perbedaan internal apa pun. Dalam kerangka ini:
· Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah "mode" atau "topeng" yang dipakai oleh satu Pribadi secara bergantian.
· Tidak ada relasi antara Bapa, Anak, dan Roh—karena hanya ada satu Pribadi.
· Allah tidak mengenal kasih sebelum ciptaan, karena kasih membutuhkan relasi dengan yang lain.
· Inkarnasi hanyalah ilusi—Allah hanya "tampak" sebagai manusia, tetapi tidak benar-benar menjadi manusia.
Oneness Absolute adalah bidat modalisme yang sudah ditolak oleh gereja mula-mula. Ia gagal karena:
1. Bertentangan dengan Alkitab—yang menunjukkan Bapa mengasihi Anak, Anak berdoa kepada Bapa, dan Roh diutus oleh keduanya.
2. Bertentangan dengan pengalaman iman—orang percaya tidak mengalami Allah sebagai satu "wujud" yang berganti-ganti, tetapi sebagai tiga Kehadiran yang nyata dan berbeda.
3. Menghancurkan makna kasih Allah—jika Allah hanya satu Pribadi, maka kasih-Nya sebelum ciptaan hanyalah kasih kepada diri-Nya sendiri, yang tidak bermakna.
B. Mengapa "Kehadiran" Bukan Oneness Absolute?
"Kehadiran" sangat berbeda dari Oneness Absolute dalam tiga hal mendasar:
Aspek Oneness Absolute "Kehadiran"
Relasi Internal Tidak ada relasi—hanya satu Pribadi. Ada relasi yang sempurna antara Bapa, Anak, dan Roh—mereka saling mengenal, mengasihi, dan memuliakan.
Perbedaan Tidak ada perbedaan nyata—hanya mode yang bergantian. Ada perbedaan yang nyata dan permanen dalam cara kehadiran: Transenden, Imanen, dan Realisasi Relasi.
Pengalaman Tidak dapat dialami secara berbeda—hanya satu "wujud." Dapat dialami secara berbeda dan simultan—Bapa, Anak, dan Roh dirasakan sekaligus.
Inkarnasi Ilusi—Allah hanya "tampak" sebagai manusia. Nyata—Kehadiran Imanen benar-benar menjadi manusia dalam Yesus.
Roh Kudus Hanya "mode" lain dari satu Pribadi. Kehadiran yang nyata, personal, dan permanen di dalam orang percaya.
"Kehadiran" menegaskan perbedaan dalam keesaan, bukan meniadakannya. Inilah yang membuatnya sangat berbeda dari Oneness Absolute.
---
Bagian 2: Pengalaman Tiga Kehadiran yang Berbeda dan Bersamaan
A. Merasakan Kehadiran Bapa (Transenden)
Orang percaya merasakan kehadiran Bapa sebagai:
· Sumber — dari segala berkat, kasih, dan pemeliharaan.
· Kekudusan — yang dahsyat dan agung, layak disembah.
· Bapa — yang mengasihi, mendengar doa, dan memelihara anak-anak-Nya.
· Jauh namun dekat — transenden dalam kemuliaan, tetapi intim dalam kasih.
Ayat-ayat yang menggambarkan pengalaman ini:
Ayat Pengalaman Kehadiran Bapa
Mazmur 103:13 "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." — Bapa dirasakan sebagai kasih yang lembut.
Matius 6:9 "Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu." — Bapa dirasakan sebagai Yang Mahakudus dan Mahaagung.
Roma 8:15 "Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh kita berseru: 'Abba, Bapa!'" — Bapa dirasakan sebagai relasi yang intim.
Efesus 1:3 "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani." — Bapa dirasakan sebagai sumber berkat.
Kehadiran Bapa tidak sama dengan kehadiran Anak atau Roh. Ia dirasakan sebagai dasar, sumber, dan otoritas—seperti seorang bapa dalam sebuah keluarga.
B. Merasakan Kehadiran Anak (Imanen)
Orang percaya merasakan kehadiran Anak sebagai:
· Jalan — yang menuntun kita kepada Bapa.
· Teladan — yang patut diikuti dalam kasih dan pengorbanan.
· Pengampun — yang mati di kayu salib untuk dosa kita.
· Sahabat — yang dekat dan mengerti kelemahan kita.
· Imam Besar — yang menjadi perantara kita di hadapan Bapa.
Ayat-ayat yang menggambarkan pengalaman ini:
Ayat Pengalaman Kehadiran Anak
Yohanes 14:6 "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." — Anak dirasakan sebagai jalan kepada Bapa.
Yohanes 15:13 "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." — Anak dirasakan sebagai kasih yang berkorban.
Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." — Anak dirasakan sebagai tempat perhentian.
Ibrani 4:15 "Ia telah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita, namun tidak berbuat dosa." — Anak dirasakan sebagai Imam Besar yang mengerti.
Wahyu 3:20 "Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk..." — Anak dirasakan sebagai kehadiran yang mengetuk hati.
Kehadiran Anak dirasakan secara berbeda dari Bapa. Ia lebih dekat, personal, dan konkret—karena Ia pernah hidup sebagai manusia dan mengenal pergumulan kita.
C. Merasakan Kehadiran Roh Kudus (Realisasi Relasi)
Orang percaya merasakan kehadiran Roh Kudus sebagai:
· Penghibur — yang menyertai dan menghibur dalam kesedihan.
· Penuntun — yang memimpin ke dalam seluruh kebenaran.
· Pemberi kuasa — yang memampukan kita untuk bersaksi dan melayani.
· Pengudus — yang mengubah kita semakin serupa dengan Kristus.
· Penolong — yang menolong kita berdoa ketika kita tidak tahu bagaimana berdoa.
Ayat-ayat yang menggambarkan pengalaman ini:
Ayat Pengalaman Kehadiran Roh Kudus
Yohanes 14:16-17 "Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran." — Roh dirasakan sebagai Penolong yang permanen.
Roma 8:26 "Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita." — Roh dirasakan sebagai penolong dalam doa.
Galatia 5:22-23 "Buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera..." — Roh dirasakan melalui buah-buah yang dihasilkan dalam hidup.
Kisah 1:8 "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu." — Roh dirasakan sebagai kuasa untuk bersaksi.
Efesus 1:13-14 "Kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus... yang merupakan jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya." — Roh dirasakan sebagai jaminan keselamatan.
Kehadiran Roh Kudus dirasakan sebagai yang paling intim dan permanen—Ia tinggal di dalam diri kita, bukan hanya di antara kita.
D. Merasakan Ketiganya Bersamaan
Inilah yang membedakan "Kehadiran" dari Oneness Absolute: Orang percaya merasakan ketiga Kehadiran sekaligus, bukan bergantian.
Pengalaman Iman Kehadiran Bapa Kehadiran Anak Kehadiran Roh
Berdoa Kita berseru kepada Bapa. Kita berdoa dalam nama Yesus. Roh menolong kita berdoa (Roma 8:26).
Menyembah Kita menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Kita menyembah Yesus sebagai Tuhan (Filipi 2:11). Kita menyembah dalam Roh (Filipi 3:3).
Menerima kasih karunia Kasih Allah (Bapa) dicurahkan ke dalam hati kita (Roma 5:5). Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 13:14). Persekutuan Roh Kudus (2 Korintus 13:14).
Mengalami keselamatan Bapa memilih kita sejak semula (Efesus 1:4). Anak menebus kita (Efesus 1:7). Roh memeteraikan kita (Efesus 1:13).
Menjadi saksi Diutus oleh Bapa (Yohanes 20:21). Mengikuti teladan Anak (Yohanes 13:15). Diberi kuasa oleh Roh (Kisah 1:8).
Orang percaya tidak pernah hanya mengalami Bapa tanpa Anak, atau Anak tanpa Roh. Dalam setiap saat kehadiran Allah, ketiga Kehadiran itu hadir secara simultan—meskipun kita mungkin menyadari salah satu dari mereka secara lebih dominan pada saat tertentu.
---
Bagian 3: "Kehadiran" Hanya Bisa Dijelaskan oleh Pengalaman
A. Alkitab Bukanlah Buku Teologi, tetapi Catatan Pengalaman
Alkitab tidak berbicara tentang Allah dalam bahasa filsafat yang abstrak. Alkitab adalah catatan pengalaman umat Allah dengan kehadiran-Nya:
Tokoh Pengalaman Kehadiran Allah Ayat
Abraham Bertemu dengan tiga orang yang salah satunya adalah TUHAN (Kejadian 18). Kejadian 18:1-2
Yakub Bergulat dengan "seorang laki-laki" dan berkata: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka" (Kejadian 32:30). Kejadian 32:30
Musa Melihat semak duri yang menyala, mendengar suara Allah, dan berbicara dengan-Nya "berhadapan muka." Keluaran 3:2-6; 33:11
Yesaya Melihat Tuhan duduk di atas takhta dan berseru: "Celakalah aku! Aku binasa!" (Yesaya 6:1-5). Yesaya 6:1-5
Murid-murid Melihat Yesus secara fisik, mendengar ajaran-Nya, menyentuh luka-luka-Nya, dan melihat Dia bangkit. Yohanes 20:24-29; 1 Yohanes 1:1-3
Gereja mula-mula Mengalami Roh Kudus turun pada hari Pentakosta dengan kuasa yang nyata. Kisah 2:1-4
Paulus Bertemu dengan Yesus di jalan ke Damsyik—pengalaman yang mengubah seluruh hidupnya. Kisah 9:3-6
Alkitab tidak pernah berkata: "Percayalah pada tiga Pribadi dalam satu Esensi." Tetapi Alkitab penuh dengan kesaksian: "Aku telah melihat TUHAN," "Roh TUHAN menghinggapi aku," "Bapa, Engkau mengasihi aku."
B. Pengalaman Umat Percaya Sepanjang Zaman
Pengalaman akan kehadiran Allah tidak berhenti di Alkitab. Sepanjang sejarah, orang percaya terus mengalami kehadiran Bapa, Anak, dan Roh Kudus:
Zaman Contoh Pengalaman Kehadiran yang Dirasakan
Bapa-bapa Gereja Agustinus mengalami pertobatan yang radikal ketika mendengar suara anak kecil: "Ambil dan bacalah!"—dan ia membaca Roma 13:13-14. Kehadiran Anak berbicara melalui firman, Roh menginsafkan, Bapa memanggil.
Para mistikus Santo Fransiskus dari Assisi mengalami stigmata—luka-luka Kristus di tubuhnya. Kehadiran Anak yang menderita dirasakan secara fisik dan rohani.
Para reformator Martin Luther mengalami terobosan ketika membaca Roma 1:17—"orang benar akan hidup oleh iman." Kehadiran Bapa sebagai kasih yang mengampuni, Roh yang membuka mata.
Gerakan kebangunan John Wesley merasakan hati "dihangatkan secara aneh" ketika membaca Luther tentang iman. Kehadiran Roh yang menegaskan keselamatan, Anak yang mengampuni, Bapa yang menerima.
Orang percaya hari ini Jutaan orang Kristen di seluruh dunia bersaksi tentang doa yang dijawab, penghiburan dalam penderitaan, kuasa untuk mengampuni, dan buah Roh dalam hidup mereka. Ketiga Kehadiran dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
C. Pengalaman Pribadi: "Aku Merasakan-Nya"
Setiap orang percaya dapat bersaksi:
· "Aku merasakan kehadiran Bapa" — ketika aku berdoa dan tahu bahwa aku didengar, ketika aku melihat pemeliharaan-Nya dalam hidupku, ketika aku merasa dikasihi tanpa syarat.
· "Aku merasakan kehadiran Anak" — ketika aku membaca firman dan Yesus berbicara kepadaku, ketika aku menerima pengampunan, ketika aku melihat kasih-Nya dalam sesamaku.
· "Aku merasakan kehadiran Roh" — ketika hatiku dihangatkan dalam ibadah, ketika aku diberi kuasa untuk mengampuni, ketika aku dituntun dalam kebenaran, ketika aku menghasilkan buah Roh.
Dan yang paling menakjubkan: Aku merasakan ketiganya bersamaan. Dalam satu doa, aku berseru kepada Bapa, melalui Anak, dalam Roh. Dalam satu ibadah, aku menyembah Bapa, mengagumi Anak, dan dipenuhi Roh. Dalam satu hari, aku hidup di hadapan Bapa, mengikuti teladan Anak, dan dipimpin oleh Roh.
Inilah yang tidak bisa dijelaskan oleh Oneness Absolute—karena Oneness Absolute hanya memiliki satu "wujud" yang tidak bisa memberikan pengalaman yang kaya dan berlapis seperti ini.
---
Bagian 4: Misteri yang Telah Diungkapkan
A. Bukan Misteri yang Harus Dipecahkan, tetapi Misteri yang Harus Diimani
"Kehadiran" adalah misteri—tetapi bukan misteri yang tidak bisa diketahui. Ini adalah misteri yang telah diungkapkan oleh Allah sendiri:
"Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya Ia datang menyelamatkan kita. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karena keselamatan yang diadakan-Nya!" — Yesaya 25:9
Allah tidak menyembunyikan diri-Nya. Ia menyatakan diri-Nya:
· Dalam ciptaan — "Sesungguhnya, langit memberitakan kemuliaan Allah" (Mazmur 19:1).
· Dalam sejarah — melalui perjanjian dengan Abraham, Musa, dan Daud.
· Dalam firman — melalui para nabi yang berbicara atas nama-Nya.
· Dalam Yesus — "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14).
· Dalam Roh Kudus — "Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran" (Yohanes 16:13).
Misteri telah diungkapkan. Yang tersisa adalah: kita percaya atau tidak?
B. Percaya atau Tidak: Respons Manusia
Allah telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus—tiga Kehadiran dalam satu Pribadi. Sekarang, keputusan ada di tangan kita:
Respons Akibat
Percaya Kita mengalami kehadiran-Nya secara nyata, menerima keselamatan, dan hidup dalam kuasa Roh.
Tidak percaya Kita menolak kehadiran-Nya, kehilangan keselamatan, dan hidup tanpa pengharapan.
Yesus sendiri berkata:
"Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." — Yohanes 3:36
Ini bukan tentang "memahami" Trinitas secara logis. Ini tentang percaya pada kehadiran Allah yang telah dinyatakan—dan membiarkan kehadiran itu mengubah hidup kita.
C. Misteri yang Hidup, Bukan Misteri yang Mati
"Kehadiran" adalah misteri yang hidup—bukan teka-teki yang harus dipecahkan, tetapi realitas yang harus dialami. Seperti yang dikatakan oleh seorang teolog: "Trinitas bukanlah masalah yang harus dipecahkan, tetapi panggung di mana drama keselamatan berlangsung."
Dan drama keselamatan itu adalah:
· Bapa merencanakan keselamatan dari sorga.
· Anak melaksanakan keselamatan di bumi.
· Roh mengaplikasikan keselamatan di dalam hati kita.
Ini bukan Oneness Absolute. Ini adalah Tiga Kehadiran dalam Satu Pribadi—sebuah misteri yang telah diungkapkan, yang dapat dirasakan, dan yang mengubah hidup.
---
Bagian 5: Implikasi bagi Iman dan Kehidupan
A. Iman Bukanlah Penerimaan Konsep, tetapi Relasi dengan Kehadiran
Jika Trinitas adalah konsep "tiga Pribadi," maka iman bisa menjadi sekadar penerimaan doktrin—sebuah pernyataan teologis yang kita setujui. Tetapi jika Trinitas adalah "tiga Kehadiran," maka iman adalah relasi yang hidup dengan Allah yang hadir:
· Iman adalah berdoa kepada Bapa dan merasakan bahwa Ia mendengar.
· Iman adalah mengikuti Yesus dan merasakan bahwa Ia memimpin.
· Iman adalah hidup dalam Roh dan merasakan bahwa Ia mengubah kita.
Inilah iman yang sejati—bukan iman pada konsep, tetapi iman pada Kehadiran.
B. Ibadah Bukanlah Ritual, tetapi Pertemuan dengan Kehadiran
Jika Allah adalah "tiga Pribadi" yang abstrak, ibadah bisa menjadi sekadar ritual—kita melakukan sesuatu karena kita "harus." Tetapi jika Allah adalah "tiga Kehadiran," ibadah adalah pertemuan:
· Kita datang ke hadirat Bapa dengan kagum dan hormat.
· Kita datang ke hadirat Anak dengan kasih dan syukur.
· Kita datang ke hadirat Roh dengan kerendahan hati dan keterbukaan.
Dan dalam ibadah yang sejati, kita mengalami ketiga Kehadiran sekaligus.
C. Kasih Bukanlah Perintah, tetapi Buah dari Kehadiran
Oneness Absolute tidak memiliki relasi internal—Allah hanya satu Pribadi yang sunyi. Tetapi "Kehadiran" menunjukkan bahwa Allah adalah kasih karena di dalam diri-Nya sendiri ada relasi yang sempurna antara Bapa, Anak, dan Roh:
"Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." — Roma 5:5
Kasih bukanlah perintah yang harus dipaksakan, tetapi buah dari kehadiran Allah di dalam kita. Ketika kita mengalami kasih Bapa, kasih Anak, dan kasih Roh, kita secara alami mengasihi sesama.
D. Keselamatan Bukanlah Status, tetapi Kehadiran yang Permanen
Keselamatan bukan sekadar "status" bahwa kita telah diselamatkan. Keselamatan adalah kehadiran Allah yang permanen di dalam kita:
"Roh sendiri bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." — Roma 8:16
Kita diselamatkan karena:
· Bapa memilih kita sejak semula (Efesus 1:4).
· Anak menebus kita di kayu salib (Efesus 1:7).
· Roh memeteraikan kita sebagai milik Allah (Efesus 1:13).
Dan kita terus diselamatkan karena kehadiran Allah tetap tinggal di dalam kita sampai akhir.
---
Kesimpulan: Satu dalam Perbedaan, Perbedaan dalam Satu
"Kehadiran" bukanlah Oneness Absolute. Oneness Absolute adalah konsep yang statis, sunyi, dan tidak berelasi. Sebaliknya, "Kehadiran" adalah realitas yang dinamis, personal, dan penuh relasi:
· Kita merasakan Bapa sebagai sumber yang transenden.
· Kita merasakan Anak sebagai jalan yang imanen.
· Kita merasakan Roh sebagai kuasa yang merealisasikan relasi.
Dan kita merasakan ketiganya bersamaan—dalam doa, dalam ibadah, dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak pernah hanya mengalami satu Kehadiran tanpa yang lain. Ini adalah satu dalam perbedaan, dan perbedaan dalam satu—sebuah misteri yang telah diungkapkan oleh Allah sendiri.
"Sebab itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus... Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman." — Matius 28:19-20
Inilah Amanat Agung: satu nama yang hadir dalam tiga Kehadiran. Bukan konsep yang harus dipecahkan, tetapi realitas yang harus diimani. Bukan teka-teki yang membingungkan, tetapi pengalaman yang menghidupkan.
Misteri telah diungkapkan. Tinggal kita percaya atau tidak.
Dan bagi kita yang percaya, kita mengalami—setiap hari—kehadiran Bapa yang mengasihi, Anak yang memimpin, dan Roh yang menguatkan. Sampai akhir zaman. Amin.
---
Daftar Pustaka
· Alkitab, Edisi Studi (LAI, 2000).
· Barth, Karl. Church Dogmatics I/1 (T&T Clark, 1936).
· Calvin, Yohanes. Institusi Agama Kristen (Terj. LAI, 1996).
· Moltmann, Jürgen. The Trinity and the Kingdom (Harper & Row, 1981).
· Rahner, Karl. The Trinity (Burns & Oates, 1970).
· Wright, N.T. Simply Christian (HarperOne, 2006).
· Zizioulas, John. Being as Communion (St. Vladimir's Seminary Press, 1985).
---
Artikel ini adalah puncak dari seluruh rangkaian diskusi tentang "Kehadiran," menegaskan bahwa "Kehadiran" bukanlah Oneness Absolute, melainkan realitas yang dialami, dirasakan, dan diimani oleh orang percaya sepanjang zaman.
Komentar
Posting Komentar