TRINITAS, KEHADIRAN MENJELASKAN KRISTOLOGI
KEHADIRAN MENJELASKAN KRISTOLOGI
Mengapa Trinitas Hanya Bermakna jika Dipahami sebagai Tiga Kehadiran
---
Abstrak
Seluruh perdebatan teologis tentang Trinitas selama berabad-abad—mulai dari konsili-konsili awal, skisma-skiisma besar, hingga perdebatan modern—sebenarnya bermuara pada satu pertanyaan: Bagaimana Yesus bisa menjadi Allah? Dengan kata lain, Trinitas tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu dan hanya ada untuk menjelaskan Kristologi. Tanpa inkarnasi, tanpa Yesus yang adalah Allah, konsep Trinitas tidak akan pernah lahir.
Namun, terminologi klasik "tiga Pribadi dalam satu Esensi" gagal menjelaskan Kristologi dengan memuaskan. Konsep "Allah yang transenden" tidak bisa menjelaskan bagaimana Yang Tak Terbatas bisa menjadi terbatas. Konsep "Allah yang imanen" tidak bisa menjelaskan bagaimana Yang Tak Terlihat bisa menjadi terlihat tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya. Dan keduanya sama sekali tidak bisa menjelaskan bagaimana Allah yang sama bisa tinggal di dalam setiap orang percaya secara pribadi dan permanen.
Terminologi "Kehadiran" memecahkan semua kebuntuan ini. Dengan memahami Bapa sebagai Kehadiran Transenden, Anak sebagai Kehadiran Imanen, dan Roh Kudus sebagai Kehadiran Realisasi Relasi, kita mendapatkan kerangka yang gamblang, alkitabiah, dan dapat dialami untuk memahami inkarnasi, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pentakosta Yesus Kristus. Artikel ini akan menunjukkan bahwa "Kehadiran" bukan hanya alternatif bagi Trinitas, tetapi adalah kunci yang membuka seluruh misteri Kristologi.
---
Bagian 1: Trinitas Lahir untuk Menjelaskan Kristologi, Bukan Sebaliknya
A. Sejarah: Trinitas adalah Jawaban atas Pertanyaan "Siapakah Yesus?"
Gereja mula-mula tidak mulai dengan doktrin Trinitas. Mereka mulai dengan pengalaman bertemu Yesus—seorang Yahudi yang mati dan bangkit, yang mereka sembah sebagai Tuhan. Pertanyaan yang mendesak adalah: Bagaimana mungkin seorang manusia bisa disembah sebagai Allah tanpa melanggar keesaan Allah?
· Orang Yahudi — "Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Ulangan 6:4). Bagaimana Yesus bisa menjadi Allah tanpa ada dua Allah?
· Orang Yunani — Bagaimana Yang Kekal dan Tak Terbatas bisa menjadi manusia yang fana dan terbatas?
· Gereja — Bagaimana kita bisa menyembah Yesus sebagai Allah dan tetap setia pada Perjanjian Lama?
Inilah yang memaksa para Bapa Gereja (Athanasius, Agustinus, dll.) untuk merumuskan doktrin Trinitas: tiga Pribadi dalam satu Esensi. Namun, rumusan ini lahir dari kebutuhan Kristologis, bukan dari keinginan untuk menciptakan sistem teologis yang abstrak.
B. Masalah: "Tiga Pribadi" Gagal Menjelaskan Kristologi
Meskipun Trinitas klasik bertujuan menjelaskan Kristologi, terminologi "Pribadi" justru menimbulkan masalah baru:
Pertanyaan Kristologis Jawaban "Tiga Pribadi" Masalah yang Timbul
Bagaimana Yesus bisa menjadi Allah dan manusia? Anak adalah Pribadi kedua yang mengambil sifat manusia. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah Yesus memiliki dua kesadaran (Ilahi dan manusia)? Bagaimana mereka berinteraksi?
Apakah Yesus benar-benar Allah, atau hanya "mirip" Allah? Anak memiliki esensi yang sama dengan Bapa (homoousios). Tetapi tetap sulit menjelaskan mengapa Yesus berdoa kepada Bapa, atau mengapa Ia tidak mengetahui hari penghakiman (Markus 13:32).
Bagaimana Roh Kudus bisa menjadi Pribadi? Roh adalah Pribadi ketiga yang diutus oleh Bapa dan Anak. Tetapi Roh tidak pernah disebut "Pribadi" dalam Alkitab, dan istilah ini membuat Roh terkesan sebagai entitas yang terpisah.
Bagaimana tiga Pribadi bisa menjadi satu Allah? Satu esensi, tiga Pribadi. Ini adalah kontradiksi logis yang tidak pernah terpecahkan dengan memuaskan.
Terminologi "Pribadi" tidak pernah berhasil menjelaskan Kristologi secara gamblang. Ia hanya mengganti satu misteri dengan misteri lainnya.
---
Bagian 2: Mengapa Transendensi dan Imanensi Saja Tidak Cukup
A. Konsep Transenden Tidak Menjelaskan Inkarnasi
Teologi PL dan Yudaisme Rabinik menekankan transendensi Allah: Allah begitu tinggi, kudus, dan tak terjangkau sehingga manusia tidak bisa melihat-Nya tanpa mati (Keluaran 33:20). Konsep ini sangat baik untuk menjelaskan kebesaran Allah, tetapi gagal total untuk menjelaskan inkarnasi.
Pertanyaan Jawaban dari Konsep Transenden Kelemahan
Bagaimana Allah yang tak terbatas bisa menjadi manusia yang terbatas? Tidak mungkin—itulah sebabnya Yudaisme menolak inkarnasi. Ini membuat Allah tetap jauh dan tidak peduli.
Bagaimana Allah yang tak berubah bisa menjadi "tumbuh" sebagai manusia? Tidak mungkin—itulah sebabnya banyak bidat (seperti Docetisme) mengatakan Yesus hanya tampak seperti manusia. Ini mengingkari kemanusiaan Yesus yang sejati.
Bagaimana Allah yang mahatahu bisa "belajar" sebagai anak kecil? Tidak mungkin—itulah sebabnya beberapa teolog mengatakan Yesus memiliki dua kehendak dan dua pengetahuan. Ini menimbulkan kebingungan tentang siapa sebenarnya Yesus.
Konsep transendensi tidak cukup. Ia bisa menjelaskan Allah di sorga, tetapi gagal menjelaskan Allah di bumi dalam Yesus.
B. Konsep Imanen Tidak Menjelaskan Inkarnasi yang Sejati
Di sisi lain, konsep imanensi—Allah yang hadir di mana-mana dan dalam segala sesuatu—juga tidak cukup. Imanensi menjelaskan bahwa Allah dekat, tetapi tidak menjelaskan bagaimana Ia dekat secara khusus dalam Yesus.
Pertanyaan Jawaban dari Konsep Imanen Kelemahan
Apakah Yesus hanya "salah satu" cara Allah hadir? Ya—dan ini membuka pintu bagi panteisme atau universalisme. Ini mengurangi keunikan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.
Jika Allah hadir di mana-mana, apa bedanya Yesus dengan orang lain? Tidak ada perbedaan yang jelas. Ini mengingkari klaim Yesus sebagai "jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6).
Bagaimana Yesus bisa hadir secara fisik dan sekaligus hadir di mana-mana? Imanensi tidak menjelaskan perbedaan antara kehadiran fisik dan kehadiran rohani. Ini membuat inkarnasi kehilangan maknanya.
Konsep imanensi juga tidak cukup. Ia bisa menjelaskan bahwa Allah dekat, tetapi gagal menjelaskan keunikan dan kekhususan inkarnasi dalam Yesus.
C. Keduanya Tidak Menjelaskan Roh Kudus yang Tinggal dalam Diri Kita
Lebih dari itu, baik transendensi maupun imanensi sama sekali tidak menjelaskan realitas Roh Kudus yang tinggal di dalam setiap orang percaya secara pribadi. Bagaimana Allah yang transenden bisa tinggal dalam diri manusia yang berdosa? Bagaimana Allah yang imanen bisa hadir secara khusus dan personal dalam jutaan orang percaya sekaligus?
Pertanyaan Transendensi Imanensi Kelemahan Bersama
Bagaimana Roh Kudus tinggal dalam diri kita? Tidak bisa dijelaskan—itu hanya "misteri." Jika Allah hadir di mana-mana, apa bedanya tinggal dalam diri kita? Keduanya gagal menjelaskan kehadiran yang personal dan permanen dalam setiap orang percaya.
Bagaimana Roh Kudus bisa hadir secara unik dalam setiap orang? Tidak dijelaskan. Tidak dijelaskan. Tidak ada kerangka untuk menjelaskan kehadiran yang simultan dalam banyak individu.
---
Bagian 3: "Kehadiran" Menjelaskan Kristologi dengan Gamblang
A. Tiga Kehadiran: Kerangka yang Koheren
Dengan terminologi "Kehadiran," seluruh Kristologi menjadi jelas dan konsisten. Allah yang esa hadir dalam tiga cara yang berbeda, simultan, dan saling berelasi:
Kehadiran Peran dalam Kristologi Penjelasan
Bapa (Transenden) Sumber inkarnasi Bapa mengutus Anak (Yohanes 3:16). Bapa adalah sumber segala sesuatu, termasuk rencana keselamatan.
Anak (Imanen) Pelaksana inkarnasi Anak adalah kehadiran Allah yang menjadi manusia—Allah yang hadir secara fisik, dapat dilihat, dan dapat dialami.
Roh Kudus (Realisasi Relasi) Aplikasi inkarnasi Roh Kudus adalah kehadiran Allah yang tinggal di dalam kita—membawa realitas inkarnasi ke dalam hidup setiap orang percaya.
Perhatikan: Ketiga Kehadiran ini bukanlah tiga "Pribadi" yang terpisah, tetapi satu Pribadi Allah yang hadir dalam tiga cara yang berbeda. Dengan kerangka ini, semua masalah Kristologi terpecahkan.
B. Kehadiran Menjelaskan Inkarnasi
Inkarnasi adalah misteri terbesar: bagaimana Allah yang tak terbatas menjadi manusia yang terbatas. Terminologi "Kehadiran" menjelaskannya dengan gamblang:
Aspek Inkarnasi Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Allah menjadi manusia Kehadiran Imanen (Anak) adalah cara Allah hadir secara fisik tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya. Anak bukan "Pribadi kedua" yang terpisah, tetapi kehadiran Allah yang terlihat—sama seperti tiang awan dan api di PL, tetapi dalam wujud manusia yang sempurna. Yohanes 1:14 — "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita."
Yesus tetap Allah sepenuhnya Kehadiran Imanen tidak mengurangi ke-Allah-an-Nya, karena ia bukan "wujud" yang terpisah, tetapi cara hadir dari Pribadi yang sama. Sama seperti matahari tetap matahari meskipun cahayanya sampai ke bumi. Kolose 2:9 — "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan."
Yesus tetap manusia sepenuhnya Kehadiran Imanen adalah hadir dalam keterbatasan manusia—bukan karena Allah berubah, tetapi karena cara hadir-Nya beradaptasi dengan realitas manusia. Ibrani 4:15 — "Ia telah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita, namun tidak berbuat dosa."
Yesus bisa mati Kehadiran Imanen memungkinkan Allah untuk "mengalami" kematian, karena kehadiran itu hadir dalam daging yang fana. Bukan Allah yang mati, tetapi cara hadir-Nya dalam kemanusiaan yang mengalami kematian. 1 Petrus 3:18 — "Kristus telah mati sekali untuk segala dosa."
Yesus bisa bangkit Kehadiran Imanen adalah cara Allah hadir yang tidak bisa dikalahkan oleh maut—karena Allah adalah hidup itu sendiri. Kebangkitan adalah bukti bahwa kehadiran Allah tidak dapat binasa. Roma 6:9 — "Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi."
C. Kehadiran Menjelaskan Hubungan Yesus dengan Bapa
Salah satu masalah terbesar dalam Kristologi klasik adalah: Bagaimana Yesus bisa berdoa kepada Bapa jika Ia sendiri adalah Allah? Terminologi "Kehadiran" menjelaskannya dengan sederhana:
Pertanyaan Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Mengapa Yesus berdoa kepada Bapa? Kehadiran Imanen (Yesus) secara sadar merujuk pada Kehadiran Transenden (Bapa) sebagai sumber dari segala sesuatu. Ini bukan dua Pribadi yang berbeda, tetapi satu Pribadi yang hadir dalam dua cara—dan dalam kemanusiaan-Nya, Yesus mengalami relasi dengan Bapa sebagai anak kepada Bapa. Yohanes 17:1 — "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu."
Apakah Yesus lebih rendah dari Bapa? Tidak. Kehadiran Imanen dan Kehadiran Transenden adalah satu Pribadi yang hadir dengan cara berbeda. Ketika Yesus berkata, "Bapa lebih besar dari pada Aku" (Yohanes 14:28), itu adalah ungkapan dari cara kehadiran-Nya yang imanen—dalam kemanusiaan, Ia secara sukarela tunduk pada Bapa sebagai sumber. Filipi 2:6-8 — "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri."
Bagaimana Yesus bisa mengatakan, "Aku dan Bapa adalah satu"? (Yohanes 10:30) Karena Yesus dan Bapa adalah satu Pribadi—hanya berbeda cara hadir. Kehadiran Imanen dan Kehadiran Transenden tidak terpisah. Yohanes 14:9 — "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
D. Kehadiran Menjelaskan Roh Kudus
Roh Kudus adalah titik terlemah dalam Trinitas klasik. Istilah "Pribadi ketiga" membuat Roh terkesan sebagai entitas yang aneh dan kabur. Terminologi "Kehadiran" menjelaskan Roh Kudus dengan gamblang:
Aspek Roh Kudus Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Siapa Roh Kudus? Roh Kudus adalah Kehadiran Realisasi Relasi—cara Allah hadir secara personal dan permanen di dalam setiap orang percaya. Yohanes 14:16-17 — "Penolong yang lain... menyertai kamu selama-lamanya."
Mengapa Roh Kudus diutus? Setelah Kehadiran Imanen (Yesus) naik ke sorga, Allah tidak meninggalkan kita. Ia hadir dalam cara baru: di dalam kita, bukan hanya di antara kita. Yohanes 16:7 — "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu."
Apa fungsi Roh Kudus? Roh Kudus merealisasikan relasi—menjadikan kehadiran Allah nyata dalam hidup kita, memimpin, menghibur, mengajar, dan memberi kuasa. Kisah 1:8 — "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu."
Bagaimana Roh Kudus bisa hadir dalam semua orang percaya? Karena Roh bukanlah "Pribadi" yang terbatas, tetapi cara hadir dari Pribadi Allah yang esa. Sama seperti Bapa hadir di mana-mana secara transenden, Roh hadir di dalam setiap orang percaya secara personal—tanpa kehilangan keesaan. 1 Korintus 12:13 — "Kita semua telah diberi minum dari satu Roh."
---
Bagian 4: Kehadiran dalam Keseluruhan Kristologi
A. Pra-inkarnasi: Kehadiran Allah di PL
Sebelum Yesus lahir, Allah sudah hadir dalam berbagai cara di PL:
Cara Kehadiran PL Hubungan dengan Kehadiran Imanen
Malaikat TUHAN Kejadian 16:7-13, 22:11-18, Hakim-hakim 13:22 Ini adalah pra-inkarnasi dari Kehadiran Imanen—Allah hadir dalam wujud yang dapat dilihat dan diajak berelasi, tetapi belum dalam daging yang sempurna.
Tiang awan dan api Keluaran 13:21-22 Kehadiran yang memimpin—bayangan dari Yesus yang memimpin kita sebagai Gembala.
Kemah Suci / Bait Keluaran 25:8, 1 Raja-raja 8:10-11 Kehadiran yang diam di tengah—bayangan dari Yesus yang "diam" (skenoo) di antara kita (Yohanes 1:14).
Kemuliaan (Shekhinah) Yesaya 6:1-3, Yehezkiel 1:26-28 Kehadiran yang terlihat dalam kemuliaan—bayangan dari Yesus yang adalah "cahaya kemuliaan Allah" (Ibrani 1:3).
B. Inkarnasi: Kehadiran Imanen yang Sempurna
Yesus adalah puncak dari semua kehadiran Allah di PL. Ia bukan sekadar salah satu cara Allah hadir, tetapi kehadiran Allah yang sempurna, final, dan definitif:
Aspek Penjelasan Ayat
Ia adalah Imanuel "Allah menyertai kita" (Matius 1:23) — nama ini adalah inti dari kehadiran Allah. Matius 1:23
Ia adalah Firman "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14) — skenoo = mendirikan kemah, seperti kemah suci di PL. Yohanes 1:14
Ia adalah gambar Allah "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan" (Kolose 1:15) — Allah Transenden menjadi terlihat dalam Kehadiran Imanen. Kolose 1:15
Ia adalah cahaya kemuliaan "Cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah" (Ibrani 1:3) — Yesus memancarkan kemuliaan Allah. Ibrani 1:3
Ia adalah jalan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6) — Yesus adalah kehadiran yang memungkinkan kita berelasi dengan Bapa. Yohanes 14:6
C. Kematian dan Kebangkitan: Kehadiran yang Mengalahkan Maut
Kematian dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari kehadiran Allah yang imanen:
Peristiwa Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Kematian Yesus Kehadiran Imanen mengalami kematian—bukan karena Allah bisa mati, tetapi karena cara hadir-Nya dalam daging yang fana mengalami kematian. Ini adalah tindakan kasih yang sempurna. Roma 5:8 — "Kristus telah mati untuk kita."
Kebangkitan Yesus Kehadiran Imanen tidak bisa ditahan oleh maut—karena Allah adalah hidup itu sendiri. Kebangkitan adalah bukti bahwa kehadiran Allah tidak dapat dimusnahkan. Kisah 2:24 — "Allah telah membangkitkan Dia, dengan melepaskan Dia dari sengsara maut."
Makna kematian bagi kita Karena Kehadiran Imanen telah mengalami kematian, kematian tidak lagi menjadi akhir. Kematian menjadi pintu masuk ke dalam kehadiran Allah yang kekal. 1 Korintus 15:54-55 — "Maut telah ditelan dalam kemenangan."
D. Kenaikan dan Pentakosta: Kehadiran yang Meluas
Setelah kebangkitan, Yesus naik ke sorga—dan di sinilah Kehadiran Realisasi Relasi (Roh Kudus) mengambil alih:
Peristiwa Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Kenaikan Yesus Kehadiran Imanen kembali ke Transendensi—Yesus duduk di sebelah kanan Bapa. Namun, Ia tidak meninggalkan kita. Kisah 1:9-11
Pentakosta Kehadiran Realisasi Relasi (Roh Kudus) dicurahkan—Allah hadir di dalam setiap orang percaya secara permanen, bukan hanya di antara mereka. Kisah 2:1-4
Roh Kudus sebagai "Penolong lain" Roh Kudus adalah kehadiran Allah yang permanen—sama seperti Yesus hadir secara fisik, tetapi kini hadir secara rohani di dalam semua orang percaya. Yohanes 14:16-17
Kuasa untuk bersaksi Kehadiran Realisasi Relasi memberi kuasa untuk menjadi saksi—kehadiran Allah meluas melalui kesaksian kita. Kisah 1:8
E. Eskatologi: Kehadiran yang Permanen dan Kekal
Pada akhir zaman, seluruh ciptaan akan mengalami kehadiran Allah yang sempurna:
Aspek Eskatologi Penjelasan dengan "Kehadiran" Ayat
Kerajaan Allah Kehadiran Allah akan menjadi segala-galanya—tidak ada lagi jarak antara Allah dan ciptaan. 1 Korintus 15:28 — "Allah menjadi semua di dalam semua."
Yerusalem Baru "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka" (Wahyu 21:3) — kehadiran yang sempurna dan kekal. Wahyu 21:3
Melihat Allah "Kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (1 Yohanes 3:2) — Kehadiran Transenden akhirnya menjadi terlihat tanpa batas. 1 Yohanes 3:2
---
Bagian 5: Mengapa "Kehadiran" Menjelaskan Kristologi Lebih Baik daripada "Pribadi"
A. Perbandingan Langsung
Aspek Kristologi Dijelaskan dengan "Pribadi" Dijelaskan dengan "Kehadiran"
Inkarnasi "Pribadi kedua mengambil sifat manusia." Tidak jelas bagaimana ini terjadi. Kehadiran Imanen adalah cara Allah hadir dalam daging—jelas dan gamblang.
Yesus berdoa kepada Bapa Dua Pribadi berkomunikasi. Tapi bagaimana satu Allah berkomunikasi dengan diri-Nya sendiri? Kehadiran Imanen merujuk pada Kehadiran Transenden sebagai sumber—satu Pribadi dalam relasi internal.
Kematian Yesus Apakah "Pribadi kedua" mati? Ini menimbulkan teologi yang rumit tentang "kematian Allah." Kehadiran Imanen mengalami kematian dalam daging—Allah hadir dalam kemanusiaan yang fana.
Roh Kudus "Pribadi ketiga" yang misterius. Siapa Dia? Kehadiran Realisasi Relasi—cara Allah hadir di dalam kita. Jelas dan dapat dialami.
Trinitas Tiga Pribadi dalam satu Esensi—kontradiksi logis. Satu Pribadi yang hadir dalam tiga cara—koheren dan alkitabiah.
Pengalaman Iman Sulit dijelaskan bagaimana orang percaya berelasi dengan tiga Pribadi sekaligus. Orang percaya merasakan tiga Kehadiran sekaligus—dalam doa, ibadah, dan kehidupan sehari-hari.
B. "Kehadiran" Alkitabiah, "Pribadi" Filosofis
Tabel berikut menunjukkan bahwa "Kehadiran" adalah bahasa Alkitab, sedangkan "Pribadi" adalah bahasa filsafat:
Istilah Sumber Dasar Alkitab Dapat Dialami
Pribadi Filsafat Yunani-Romawi Tidak ada dalam Alkitab Tidak—hanya konsep abstrak
Kehadiran Alkitab Ratusan ayat berbicara tentang kehadiran Allah Ya—kehadiran dapat dirasakan dan dialami
C. "Kehadiran" Memulihkan Tujuan Trinitas
Tujuan Trinitas bukanlah untuk menciptakan teka-teki logika, tetapi untuk menjelaskan bagaimana Allah menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus. Dengan terminologi "Kehadiran," tujuan ini tercapai:
1. Bapa (Transenden) — Allah merencanakan keselamatan dari sorga.
2. Anak (Imanen) — Allah melaksanakan keselamatan di bumi.
3. Roh Kudus (Realisasi Relasi) — Allah mengaplikasikan keselamatan di dalam kita.
Inilah satu tindakan keselamatan dari satu Pribadi Allah yang hadir dalam tiga cara. Inilah Kristologi yang gamblang, alkitabiah, dan dapat dialami.
---
Kesimpulan: Kristologi Adalah Puncak "Kehadiran"
Seluruh Perjanjian Lama adalah persiapan untuk kehadiran Allah. Seluruh Perjanjian Baru adalah penggenapan kehadiran Allah. Dan puncak dari semua kehadiran Allah adalah Yesus Kristus—Kehadiran Imanen yang sempurna, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya membuka jalan bagi Kehadiran Realisasi Relasi (Roh Kudus) untuk tinggal di dalam setiap orang percaya.
Terminologi "Pribadi" gagal menjelaskan Kristologi. Ia adalah bahasa filsafat yang membingungkan, kontradiktif, dan tidak alkitabiah. Tetapi terminologi "Kehadiran" menjelaskan Kristologi dengan gamblang: Allah yang esa hadir sebagai Bapa (Transenden), Anak (Imanen), dan Roh (Realisasi Relasi)—satu Pribadi yang hadir dalam tiga cara, semuanya bekerja bersama untuk menyelamatkan dan memulihkan umat-Nya.
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." — Yohanes 3:16
Inilah Kristologi: Allah yang hadir dalam Yesus untuk menyelamatkan kita. Dan inilah yang akan terus kita alami sampai akhir zaman, ketika kehadiran Allah menjadi sempurna dan kekal.
Amin.
---
Daftar Pustaka
· Alkitab, Edisi Studi (LAI, 2000).
· Athanasius. On the Incarnation (Terj. oleh John Behr, St. Vladimir's Seminary Press, 2011).
· Barth, Karl. Church Dogmatics I/1 & IV/1 (T&T Clark, 1936-1969).
· Calvin, Yohanes. Institusi Agama Kristen (Terj. LAI, 1996).
· Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament (Eerdmans, 1993).
· Moltmann, Jürgen. The Trinity and the Kingdom (Harper & Row, 1981).
· Rahner, Karl. The Trinity (Burns & Oates, 1970).
· Wright, N.T. The Resurrection of the Son of God (Fortress Press, 2003).
· Zizioulas, John. Being as Communion (St. Vladimir's Seminary Press, 1985).
---
Artikel ini adalah puncak dari seluruh rangkaian diskusi tentang "Kehadiran" sebagai terminologi Trinitas yang alkitabiah, dengan fokus pada bagaimana "Kehadiran" menjelaskan Kristologi secara gamblang dan memecahkan kebuntuan yang ditimbulkan oleh terminologi "Pribadi" klasik.
Komentar
Posting Komentar