TRINITAS, BUKAN IMAN PADA WUJUD ALLAH
IMAN KRISTEN BUKAN IMAN PADA WUJUD ALLAH
Memahami Amanat Agung sebagai Satu Nama Allah dalam Tiga Kehadiran
---
Abstrak
Iman Kristen sering disalahpahami sebagai kepercayaan pada "wujud" Allah—seolah-olah Allah adalah objek statis yang dapat didefinisikan, divisualisasikan, atau dibatasi oleh pemikiran manusia. Padahal, Alkitab tidak pernah mengajak manusia untuk percaya pada "wujud" Allah, melainkan pada kehadiran-Nya yang dinamis, personal, dan relasional. Amanat Agung (Matius 28:19-20) menjadi inti dari pemahaman ini: satu nama Allah—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang dinyatakan dalam tiga kehadiran yang menyelamatkan, memuridkan, dan menyertai umat-Nya hingga akhir zaman.
Artikel ini akan membangun sebuah kerangka teologis berdasarkan seluruh diskusi kita: bahwa Israel PL hanya percaya pada "utusan" karena takut menghadapi Allah yang transenden, bahwa kemunafikan mereka terletak pada pengakuan mulut tanpa relasi, dan bahwa Yesus datang untuk memulihkan iman yang sejati—bukan pada wujud, tetapi pada kehadiran Allah yang nyata dalam relasi.
---
Pendahuluan: Pergeseran dari "Wujud" ke "Kehadiran"
Sepanjang sejarah teologi, manusia selalu tergoda untuk membayangkan Allah dalam "wujud"—entah sebagai patung emas, gambar di dinding, atau konsep metafisik yang kaku. Tetapi Alkitab dengan tegas menolak semua upaya ini. Perintah kedua berbunyi: "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi" (Keluaran 20:4). Larangan ini bukan sekadar tentang penyembahan berhala, tetapi tentang pembatasan Allah dalam wujud apa pun.
Allah adalah Pribadi yang hadir, bukan objek yang berwujud. Ia bukan "sesuatu" yang bisa kita lihat, raba, atau definisikan. Ia adalah "AKU ADALAH AKU" (Keluaran 3:14)—keberadaan yang dinamis, mandiri, dan senantiasa hadir. Karena itu, iman Kristen tidak pernah diarahkan pada "wujud" Allah, tetapi pada kehadiran-Nya yang dinyatakan dalam tiga cara: Transenden, Imanen, dan Realisasi Relasi.
---
Bagian 1: PL dan Paradoks Kehadiran Allah
A. Allah Transenden yang Tak Terlihat
Perjanjian Lama dibangun di atas kesadaran bahwa Allah tidak dapat dilihat oleh manusia berdosa. Musa sendiri diperingatkan: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup" (Keluaran 33:20). Yesaya pun berseru: "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini orang yang najis bibir... dan mataku telah melihat Raja, yakni TUHAN semesta alam" (Yesaya 6:5). Kehadiran Allah yang transenden begitu kudus dan dahsyat sehingga manusia tidak tahan berdiri di hadapan-Nya.
Namun, Allah yang transenden ini bukanlah Allah yang jauh dan acuh tak acuh. Ia adalah Allah yang hadir—tetapi kehadiran-Nya di PL selalu disertai dengan "perisai" agar manusia tidak binasa: tiang awan, tiang api, kemah suci, dan yang paling penting, utusan-utusan-Nya.
B. Kehadiran Allah Melalui Utusan
Sepanjang PL, Israel tidak pernah beriman langsung kepada Allah yang transenden. Mereka selalu membutuhkan perantara: Malaikat TUHAN, Musa, para hakim, nabi, dan raja. Ketika Allah berbicara dari Gunung Sinai, bangsa Israel berkata kepada Musa: "Engkau berbicaralah dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati" (Keluaran 20:19). Mereka memilih utusan daripada Allah langsung.
Inilah sebabnya pola teofani di PL selalu sama: seorang utusan datang, berbicara atas nama Allah, dan manusia menyimpulkan bahwa utusan itu adalah Allah sendiri—karena hanya Allah yang bisa melakukan tindakan ilahi. Yakub berkata: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka" (Kejadian 32:30), padahal ia bergulat dengan "seorang laki-laki". Manoah berkata: "Kita pasti akan mati, sebab kita telah melihat Allah" (Hakim-hakim 13:22), padahal ia melihat Malaikat TUHAN.
Israel percaya pada kehadiran Allah yang terlihat melalui utusan, tetapi mereka tidak percaya pada Allah transenden secara langsung. Pengakuan mereka tentang Allah yang tak terlihat hanyalah "tameng" untuk melindungi diri dari tuntutan ketaatan yang nyata.
C. Kemunafikan Israel: Iman Mulut, Bukan Hati
Yesaya menegur bangsa ini dengan keras: "Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya menjauh dari pada-Ku" (Yesaya 29:13). Mereka mengaku percaya pada Allah Transenden, tetapi ketika seorang utusan datang—Musa, nabi, bahkan Yesus sendiri—mereka menuntut tanda. Bukan karena mereka ingin percaya, tetapi karena mereka ingin memiliki alasan untuk menolak.
Merekalah yang selalu meminta tanda: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu?" (Yohanes 6:30), padahal Yesus baru saja memberi makan 5000 orang. Mereka adalah generasi yang tidak setia, yang Yesus sebut sebagai "angkatan yang jahat dan tidak setia" (Matius 12:39).
---
Bagian 2: Amanat Agung sebagai Inti Iman Kristen
A. Satu Nama, Tiga Kehadiran
Di sinilah Amanat Agung menjadi puncak dari seluruh sejarah keselamatan. Yesus berkata:
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman." — Matius 28:19-20
Perhatikan: Yesus tidak berkata "dalam nama-nama" (jamak), tetapi "dalam nama" (tunggal). Ada satu nama Allah yang dinyatakan dalam tiga kehadiran:
Pribadi Aspek Kehadiran Definisi
Bapa Kehadiran Transenden Allah yang melampaui ciptaan, sumber segala kuasa, tidak terlihat dan tidak terjangkau oleh akal manusia.
Anak (Yesus) Kehadiran Imanen Allah yang datang, terlihat, dan dapat dialami secara nyata—Utusan terakhir yang adalah Allah sendiri.
Roh Kudus Kehadiran Realisasi Relasi Allah yang tinggal di dalam kita, membuat kehidupan dan kematian bermakna, dan mengutus kita untuk bersaksi.
B. Bapa: Kehadiran Transenden
Yesus mengajarkan kita untuk berdoa: "Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu" (Matius 6:9). Bapa adalah Allah yang di sorga—melampaui dunia, tidak terlihat, tetapi menjadi sumber segala berkat. Ia adalah Allah yang transenden, yang tidak bisa dilihat manusia (Yohanes 1:18), tetapi Ia adalah Bapa—bukan sekadar penguasa yang jauh, tetapi Pribadi yang mengasihi dan mendengar doa anak-anak-Nya.
Percaya pada Bapa berarti percaya bahwa ada Sumber di balik segala sesuatu, bahwa hidup ini bukan kebetulan, dan bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang dipanggil untuk memuliakan Dia.
C. Anak (Yesus): Kehadiran Imanen
Yesus adalah puncak dari semua "utusan" di PL. Ia bukan sekadar malaikat, nabi, atau raja—Ia adalah Allah sendiri yang menjadi manusia. Yohanes menulis: "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14). Kata "diam" dalam bahasa Yunani adalah skenoo—"mendirikan kemah"—menggambarkan Allah yang hadir di tengah umat-Nya seperti kemah suci di padang gurun, tetapi kali ini dalam wujud manusia.
Yesus berkata: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Inilah yang memecahkan paradoks PL: Allah yang transenden dan tak terlihat menjadi terlihat dalam Yesus. Dan manusia dapat melihat-Nya tanpa mati, karena Ia datang dalam kelemahan daging—inilah yang disebut kenosis (Filipi 2:7).
Percaya pada Anak berarti percaya bahwa Allah telah datang, bahwa Ia tidak tinggal diam di sorga, tetapi Ia turun, menderita, mati, dan bangkit untuk menyelamatkan kita.
D. Roh Kudus: Kehadiran Realisasi Relasi
Jika Bapa adalah sumber dan Anak adalah perwujudan, maka Roh Kudus adalah realisasi—kehadiran Allah yang menjadi nyata dalam relasi. Yesus berjanji:
"Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran" (Yohanes 14:16-17).
Roh Kudus bukanlah "roh" yang kabur, tetapi Pribadi yang tinggal di dalam kita, memimpin kita, menghibur kita, dan memberi kuasa kepada kita. Paulus menulis: "Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh kita berseru: 'Abba, Bapa!'" (Roma 8:15). Inilah realisasi relasi: Allah tidak lagi "di sana" atau "di sini" secara fisik, tetapi di dalam kita—sehingga setiap doa, setiap langkah, setiap perjuangan menjadi pertemuan dengan Allah yang hadir.
Percaya pada Roh Kudus berarti percaya bahwa Allah tetap hadir—bahkan ketika Yesus sudah naik ke sorga. Roh Kudus membuat kehidupan dan kematian bermakna: hidup menjadi panggilan untuk bersaksi, dan kematian menjadi pintu masuk ke kehidupan kekal (Roma 8:11).
---
Bagian 3: Memecahkan Kemunafikan Israel dengan Amanat Agung
A. Israel: Iman pada Utusan, Bukan pada Allah Transenden
Sepanjang PL, Israel hanya percaya pada kehadiran Allah yang terlihat melalui utusan, tetapi mereka tidak percaya pada Allah transenden secara langsung. Pengakuan mereka tentang Allah yang tak terlihat hanyalah "tameng" untuk melindungi diri dari tuntutan ketaatan yang nyata. Mereka menuntut tanda dari setiap utusan, tetapi ketika tanda diberikan, mereka tetap tidak percaya (Yohanes 6:30).
Inilah kemunafikan yang Yesus tegaskan: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari pada-Ku" (Markus 7:6). Mereka mengaku percaya pada Allah Transenden, tetapi hati mereka tidak pernah benar-benar berelasi dengan-Nya. Iman mereka adalah iman mulut, bukan iman hati.
B. Amanat Agung Membalikkan Pola Ini
Amanat Agung membalikkan pola kemunafikan Israel dengan tiga cara:
1. Tidak Ada Lagi Tanda yang Dituntut — Yesus berkata: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yohanes 20:29). Iman Kristen tidak bergantung pada tanda lahiriah, tetapi pada kesaksian Roh Kudus di dalam hati.
2. Tidak Ada Lagi Perantara yang Terbatas — Yesus adalah Utusan terakhir yang adalah Allah sendiri. Percaya pada Yesus berarti percaya pada Bapa (Yohanes 14:9). Tidak ada lagi jarak antara Allah Transenden dan manusia.
3. Kehadiran Menjadi Permanen dan Universal — Roh Kudus diberikan kepada semua orang percaya, bukan hanya imam atau nabi. Allah hadir di dalam kita, bukan hanya di Bait Suci atau di Gunung Sinai. Ini adalah realisasi relasi yang sempurna.
C. Iman Kristen Bukan Iman pada Wujud, tetapi pada Kehadiran
Dengan kerangka ini, kita dapat memahami bahwa iman Kristen bukanlah iman pada "wujud" Allah—seolah-olah Allah adalah objek yang dapat didefinisikan, divisualisasikan, atau dibatasi. Iman Kristen adalah iman pada kehadiran Allah yang dinyatakan dalam tiga cara:
1. Kehadiran Transenden (Bapa) — Allah yang melampaui segala sesuatu, sumber kehidupan dan kuasa.
2. Kehadiran Imanen (Anak) — Allah yang datang dan tinggal di antara kita, dapat dilihat dan dialami.
3. Kehadiran Realisasi Relasi (Roh Kudus) — Allah yang tinggal di dalam kita, memampukan kita untuk hidup, mati, dan bangkit bersama Kristus.
Inilah satu nama Allah yang Yesus perintahkan untuk diberitakan kepada semua bangsa—bukan sebagai doktrin yang kering, tetapi sebagai realitas relasi yang menghidupkan.
---
Bagian 4: Implementasi dalam Kehidupan Orang Percaya
A. Hidup dalam Kehadiran Transenden (Bapa)
Percaya pada Bapa berarti hidup dalam ketergantungan dan penyembahan. Kita tidak perlu melihat-Nya untuk percaya bahwa Ia ada, bahwa Ia mendengar doa, dan bahwa Ia memelihara kita. Seperti yang dikatakan Yesus: "Bapamu yang melihat yang tersembunyi, Ia akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:4). Hidup dalam kehadiran transenden berarti doa, penyembahan, dan ketaatan—bukan karena kita melihat Allah, tetapi karena kita percaya Ia hadir.
B. Hidup dalam Kehadiran Imanen (Anak)
Percaya pada Anak berarti mengikuti teladan Yesus dan hidup dalam kasih. Yesus berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yohanes 13:34). Kehadiran imanen Allah di dalam Yesus menjadi model bagi kita untuk hadir bagi sesama: turun, melayani, mengorbankan diri, dan mengasihi tanpa syarat.
C. Hidup dalam Kehadiran Realisasi Relasi (Roh Kudus)
Percaya pada Roh Kudus berarti hidup dalam kuasa dan menjadi saksi. Yesus berkata: "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku... sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8). Roh Kudus tidak hanya hadir untuk menghibur kita, tetapi untuk mengutus kita—menjadikan kita saluran kehadiran Allah bagi orang lain. Inilah realisasi relasi yang sejati: Allah hadir di dalam kita, dan melalui kita, Ia hadir bagi dunia.
---
Kesimpulan: Satu Nama, Tiga Kehadiran, Satu Iman
Amanat Agung adalah inti dari iman Kristen. Di dalamnya, Yesus tidak memberikan perintah untuk percaya pada "wujud" Allah yang abstrak, tetapi pada satu nama Allah yang hadir dalam tiga cara:
· Bapa — Allah yang transenden, sumber segala sesuatu, yang kita sembah dalam roh dan kebenaran.
· Anak — Allah yang imanen, yang datang dan tinggal di antara kita, yang kita ikuti dan kasihi.
· Roh Kudus — Allah yang merealisasikan relasi, yang tinggal di dalam kita dan mengutus kita.
Inilah yang membedakan iman Kristen dari semua agama lain. Kita tidak percaya pada Allah yang jauh, yang hanya bisa didekati dengan ritual dan ketakutan. Kita juga tidak percaya pada Allah yang hanya bisa dilihat sebagai "utusan" yang terbatas. Kita percaya pada Allah yang hadir—dalam kemuliaan-Nya yang transenden, dalam kerendahan-Nya yang imanen, dan dalam kuasa-Nya yang merealisasikan relasi di dalam hidup kita.
Dan janji terakhir dari Amanat Agung adalah: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Matius 28:20). Ini bukan janji tentang "wujud" yang akan datang, tetapi tentang kehadiran yang sudah, sedang, dan akan terus menyertai kita—dalam Bapa, dalam Anak, dan dalam Roh Kudus. Sampai akhir zaman. Amin.
---
Daftar Pustaka
· Alkitab, Edisi Studi (LAI, 2000).
· Barth, Karl. Church Dogmatics I/1: The Doctrine of the Word of God.
· Calvin, Yohanes. Institusi Agama Kristen (Terj. LAI).
· Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament (Eerdmans, 1993).
· Wright, N.T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense (HarperOne, 2006).
---
Artikel ini ditulis sebagai rangkuman dari diskusi tentang kehadiran Allah dalam PL dan PB, dengan Amanat Agung sebagai inti teologisnya.
Komentar
Posting Komentar