Postingan

Kelangkaan Ayat Humaniora dalam Al-Qur'an Menurut Sarjana dan Teolog Islam

Kelangkaan Ayat Humaniora dalam Al-Qur'an Menurut Sarjana dan Teolog Islam Serial Mari mengenal Islam sejenak (3)  Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda? Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.  --- Pendahuluan Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat sebuah pengamatan yang jarang dibahas secara terbuka: kelangkaan ayat-ayat yang berbicara tentang humaniora — tentang kasih kepada manusia sebagai manusia, tentang etika universal, tentang kemanusiaan yang tidak terikat oleh batas agama, suku, atau golongan. Pengamatan ini bukanlah pengamatan orang luar yang ingin merendahkan Al-Qur'an. Justru sebaliknya: ia muncul dari para sarjana dan teolog Muslim sendiri — orang-orang yang mencintai Al-Qur'an dan mengkajinya sepanjang hidup. Mereka menyadari bahwa ketika kita mencari ayat-ayat yang berbicara tentang humanisme universal — kasih kepada manusia tanpa syarat — jumlahnya sangat sedikit dibandingkan ayat-ayat tentang iba...

Islam Sebagai Mayoritas dan Minoritas

Islam Sebagai Mayoritas dan Minoritas Serial Mari mengenal Islam sejenak (2)  Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda? Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.  --- Pendahuluan Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur dalam diskursus keislaman kontemporer: apa yang membuat Islam disebut "sehat"? Bukan sehat secara jumlah pemeluk, bukan sehat secara politik, bukan sehat secara ekonomi. Tapi sehat secara substansi — sehat sebagai ajaran yang hidup dalam perilaku pemeluknya. Dan pertanyaan turunannya: apakah kesehatan Islam ditentukan oleh posisi mayoritas atau minoritas? Dua pertanyaan ini menjadi penting karena dalam banyak diskursus, "mayoritas" dan "minoritas" diperlakukan seolah-olah menjadi kategori teologis — seolah menjadi mayoritas adalah tanda keberkahan, dan menjadi minoritas adalah tanda kelemahan. Padahal Al-Qur'an tidak pernah berbicara seperti itu. --- Apa yang Dimaksud ...

Ketika Kasih Tanpa Syarat Hilang, Perspektif Al-Qur'an tentang Ucapan Baik sebagai Fondasi Kasih kepada Manusia

Ketika Kasih Tanpa Syarat Hilang Perspektif Al-Qur'an tentang Ucapan Baik sebagai Fondasi Kasih kepada Manusia Serial Mari mengenal Islam sejenak (1)  Dan apakah ini adalah situasi yang terjadi di tempat anda? Bandingkan dengan pengajaran dan praktek sebagai seorang Kristen di tempat anda.  --- Pendahuluan Dalam Al-Qur'an, ada satu ayat yang sering terlewat, padahal ia adalah fondasi paling dasar dari seluruh etika sosial dalam Islam. Ayat itu tidak berbicara tentang perang, tidak tentang ibadah ritual, tidak tentang hukum waris. Ia hanya berbicara tentang sesuatu yang tampak sepele: ucapan. "Wa idz akhadznā mītsāqa banī isrā'īla lā ta'budūna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānā wa dzil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qūlū lin-nāsi ḥusnā..." "Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil: Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kepada ...

Artikel 8 - Mengapa Roh Kudus Membiarkan Kontradiksi, Dari Samuel–Tawarikh menuju Hermeneutika Roh sebagai Kekasih

Mengapa Roh Kudus Membiarkan Kontradiksi Dari Samuel–Tawarikh menuju Hermeneutika Roh sebagai Kekasih Serial Trinitas Kehadiran Melalui Tahapan Relasi Artikel 8 --- Abstrak Artikel ini berangkat dari sebuah "knot" teologis klasik: 2 Samuel 24:1 mengatakan TUHAN menghasut Daud untuk menghitung Israel, sementara 1 Tawarikh 21:1 mengatakan Iblis yang membujuk Daud. Apakah ini kontradiksi? Artikel ini berargumen bahwa ini bukan kontradiksi, melainkan dua perspektif dari satu Roh yang sama. Lebih jauh, artikel ini mengajukan tesis: Roh Kudus — sebagai Kekasih — sengaja membiarkan kontradiksi dalam Alkitab, bukan karena kelalaian, tetapi karena Ia menghargai perbedaan, Ia tidak memaksa keseragaman, dan Ia mengundang manusia untuk naik tahap — dari Bapa (yang bingung), ke Sahabat (yang belajar), ke Kekasih (yang melihat kesatuan dalam perbedaan). Hermeneutika yang lahir dari tahap Kekasih bukanlah hermeneutika yang menghapus ketegangan, melainkan hermeneutika yang melihat kesatuan d...

Artikel 7 - Melayani Tanpa Mengasihi adalah Kesombongan, Pelayanan Sejati Lahir dari Rohkudus

Melayani Tanpa Mengasihi adalah Kesombongan Pelayanan yang Lahir dari Kekasih — dan yang Ditolak Yesus Serial Trinitas Kehadiran Melalui Tahapan Relasi Artikel 7 --- Abstrak Artikel ini menyajikan pemahaman tentang pelayanan yang lahir dari intimasi dengan Allah sebagai Kekasih — dan pelayanan yang ditolak karena tidak lahir dari kasih. Tesis utamanya: Pelayanan tanpa kasih adalah kesombongan — dan pada akhirnya ditolak oleh Yesus sendiri dengan kata-kata: "Aku tidak pernah mengenal kamu." Artikel ini berangkat dari kerangka Trinitas Kehadiran melalui Tahapan Relasi — di mana Kekasih (Roh Kudus) adalah tujuan akhir, dan Sahabat (Yesus) adalah teladan pelayanan yang merendahkan diri. Pelayanan yang sejati lahir dari Kekasih — yang merendahkan diri untuk melayani sebagai Sahabat. Pelayanan yang tanpa Kekasih adalah kesia-siaan — karena tidak menyadari makna pelayanan itu sendiri — dan berubah menjadi kesombongan — yang ditolak oleh Yesus. --- Bagian 1: Pendahuluan — Pelayanan y...

Artikel 6 - Yesus, Malaikat, Iblis, dan Status "Anak Allah"

Yesus, Malaikat, Iblis, dan Status "Anak Allah" Sebuah Pemahaman dari Kerangka Trinitas Kehadiran melalui Tahapan Relasi Serial Trinitas Kehadiran Melalui Tahapan Relasi Artikel 6 --- Abstrak Artikel ini menyajikan pemahaman tentang status "anak Allah" (Ibrani: בְּנֵי הָאֱלֹהִים — bənê hā'ĕlōhîm) dalam seluruh Alkitab, dengan berangkat dari kerangka Trinitas Kehadiran melalui Tahapan Relasi. Tesis utamanya: "Anak Allah" bukan status ontologis yang melekat pada natur tertentu, melainkan relasi intim dengan Allah sebagai Kekasih. Karena itu, mereka yang disebut "anak Allah" — baik malaikat di PL, orang percaya di PB, maupun Iblis sendiri — adalah makhluk yang telah mencapai tahap intim dengan Allah, tetapi tetap bisa jatuh. Sebaliknya, Yesus — meskipun menanggung kelemahan manusia dan dicobai dalam segala hal — tidak jatuh. Ini menjadi bukti implisit tetapi koheren bahwa Yesus bukan ciptaan, melainkan Allah itu sendiri — yang setia dan tidak be...