Mishkan Basar - Perjamuan Terakhir

Keterhubungan "Mishkan Basar" dengan Perjamuan Terakhir dan Rumusan Anamnese

I. Pengantar: Titik Temu Mishkan Basar dan Perjamuan Terakhir

Mishkan Basar membangun rekonstruksi teologi inkarnasi berdasarkan metafora tabernakel (מִשְׁכָּן) dan daging (בָּשָׂר). Perjamuan Terakhir memiliki keterhubungan yang sangat erat dengan kerangka ini karena Yesus sendiri secara eksplisit menggunakan bahasa kurban dan perjanjian—dua elemen sentral dari sistem Mishkan. Anamnese (ἀνάμνησις - "pengenangan") yang diperintahkan Yesus dalam Perjamuan Terakhir bukan sekadar ritual mengingat, melainkan re-presentasi partisipatif dalam realitas Mishkan Basar yang sama.

---

II. Keterhubungan Langsung: Elemen Mishkan dalam Perjamuan Terakhir

2.1 Roti sebagai "Basar" (Daging) yang Hidup

Dalam catatan sinoptik (Matius 26:26; Markus 14:22; Lukas 22:19), Yesus mengambil roti, memberkatinya, memecahkannya, dan berkata: "Inilah tubuh-Ku" (τοῦτό ἐστιν τὸ σῶμά μου).

Artikel mendefinisikan basar sebagai "daging yang hidup dan fana" (hlm. 1, abstrak). Roti yang dipecahkan melambangkan basar Yesus yang akan diserahkan. Namun, artikel juga menegaskan bahwa Yesus sebagai Mishkan Basar adalah "tempat kediaman Shekhinah secara permanen" (hlm. 7). Dengan demikian, roti bukan sekadar lambang daging yang mati, melainkan Mishkan Basar yang hidup—daging yang ditempati kepenuhan Allah (Kolose 2:9).

Keterhubungan dengan anamnese: Perintah "Lakukanlah ini menjadi peringatan (anamnēsin) akan Aku" (Lukas 22:19) berarti bahwa setiap kali gereja memecahkan roti, mereka secara anamenik menghadirkan kembali realitas Mishkan Basar. Bukan sekadar mengingat peristiwa masa lalu, tetapi memasuki realitas yang sama: Allah yang berdiam dalam daging yang dipersembahkan.

2.2 Anggur sebagai Darah Perjanjian Mishkan

Yesus mengambil cawan dan berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku" (Lukas 22:20; bandingkan Matius 26:28: "darah-Ku ... yang ditumpahkan bagi banyak orang").

Dalam sistem Mishkan (tabernakel), darah kurban memegang peran sentral:

· Imamat 17:11: "Nyawa daging (basar) ada di dalam darah"
· Darah dibawa masuk ke tempat kudus untuk pengudusan (Imamat 16)
· Darah memeteraikan perjanjian (Keluaran 24:8 - "darah perjanjian")

Artikel menyebutkan: "Darah kurban dibawa ke dalam Mishkan untuk pengudusan" (hlm. 6). Ketika Yesus menyebut "darah-Ku" sebagai "darah perjanjian," Ia menghubungkan secara langsung:

1. Darah-Nya → darah basar (daging-Nya yang hidup)
2. Perjanjian baru → menggenapi sistem kurban Mishkan yang lama
3. Ditumpahkan → bahasa yang sama dengan kurban di mezbah

Keterhubungan dengan anamnese: Dalam rumusan anamnese Perjamuan Terakhir (Didache 9-10; Yustinus Martir, Apology 66), gereja perdana memahami bahwa "mengenangkan" kematian Yesus dalam Perjamuan adalah anamnesis yang sama dengan sistem kurban. Sama seperti kurban dalam Mishkan "diingat" Allah (Ibrani 10:3 - "pengingat akan dosa"), demikian pula Perjamuan menjadi "pengingat" (anamnēsis) akan kurban Kristus—namun berbeda dengan kurban PL yang berulang, anamnese dalam Perjamuan adalah re-presentasi partisipatif dari satu kurban yang sudah selesai (Ibrani 10:14).

2.3 Perjamuan Terakhir sebagai "Mezbah Mishkan Basar"

Artikel menyatakan: "Salib sebagai Mezbah Kurban" (hlm. 8). Namun, Perjamuan Terakhir adalah prolepsis (penggambaran ke depan) dari mezbah salib. Dalam teologi Perjanjian Lama:

· Mezbah terletak di halaman kemah, sebelum masuk ke tempat kudus
· Kurban dipersembahkan di mezbah, darahnya dibawa ke dalam

Yesus dalam Perjamuan Terakhir melakukan inversi yang radikal: Mezbah (salib) belum terjadi, tetapi Ia sudah menubuatkan dan "mengantisipasi" kurban tersebut melalui roti dan anggur. Dengan kata lain, Perjamuan adalah Mishkan Basar dalam mode sakramental—di mana roti dan anggur (produk basar - hasil bumi) menjadi sarana kehadiran nyata Kristus (sesuai dengan pernyataan artikel hlm. 11: "roti dan anggur menjadi sarana kehadiran nyata Kristus, sama seperti Shekhinah hadir dalam tabernakel").

---

III. Keterhubungan dengan Rumusan Anamnese (ἀνάμνησις)

3.1 Makna Anamnese dalam Perjanjian Lama (Mishkan)

Kata Yunani anamnēsis (ἀνάμνησις) digunakan dalam Septuaginta (LXX) untuk menerjemahkan akar Ibrani זָכַר (zakhar - "mengingat"). Dalam sistem Mishkan:

Rujukan PL 
- Fungsi Zakhar/Anamnēsis 
- Hubungan dengan Mishkan Basar

Imamat 2:2 
- "Segenggam tepung ... menjadi anamnēsis (peringatan) di atas mezbah" 
- Kurban sajian diingat Allah saat asap naik - Yesus sebagai kurban sajian yang sempurna

Imamat 24:7 
- "Roti sajian ... menjadi anamnēsis (peringatan) bagi umat" 
- 12 roti di meja roti sajian di tempat kudus - Yesus sebagai Roti Hidup (Yohanes 6), menjadi roti bagi ke-12 murid pada malam perjamuan. 

Bilangan 10:10 
- "Meniup nafiri ... menjadi anamnēsis di hadapan Allahmu" 
- Tindakan ritual yang membuat Allah "mengingat" perjanjian-Nya

Dalam teologi Ibrani, zakhar (anamnēsis) bukan sekadar aktivitas mental, melainkan tindakan yang menghadirkan realitas perjanjian secara efektif. Ketika Allah "mengingat" Nuh (Kejadian 8:1), Ia bertindak menyelamatkan. Ketika Allah "mengingat" perjanjian dengan Abraham (Keluaran 2:24), Ia membebaskan Israel dari Mesir.

Konsekuensi untuk Perjamuan: Anamnese yang Yesus perintahkan (touto poieite tēn emēn anamnēsin) berarti bahwa gereja, melalui tindakan memecah roti dan minum cawan, secara efektif menghadirkan realitas Mishkan Basar yang sama yang terjadi di Golgota. Ini bukan pengulangan kurban (Ibrani 7:27; 9:12), tetapi partisipasi anamenik dalam satu kurban yang sudah terjadi sekali untuk selamanya.

3.2 Paulus dan Anamnese sebagai Partisipasi dalam Mishkan Basar

Paulus dalam 1 Korintus 10:16-18 memberikan kunci teologis: "Bukankah cawan pengucapan syukur ... adalah persekutuan (koinōnia) dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?"

Paulus kemudian membandingkan dengan sistem Mishkan: "Perhatikanlah Israel menurut daging (basar): bukankah mereka yang makan kurban, sepersekutuan dari mezbah?" (1 Kor 10:8).

Di sini Paulus secara eksplisit:

1. Menghubungkan Perjamuan dengan sistem kurban Mishkan (mezbah Israel)
2. Menggunakan kata basar (daging) untuk Israel secara fisik
3. Mengajarkan bahwa makan roti dan minum cawan adalah koinōnia (persekutuan/partisipasi) dengan realitas Mishkan Basar Kristus

Keterhubungan dengan artikel: Artikel menyebut "Mishkan Basar sebagai Kemah Daging" (hlm. 5-7). Paulus menunjukkan bahwa Perjamuan adalah tindakan anamenik di mana jemaat secara nyata "memasuki" Mishkan Basar itu—bukan fisik, tetapi secara sakramental dan pneumatik.

3.3 Anamnese dalam Tradisi Liturgis Awal (Didache)

Didache 9-10 (akhir abad ke-1/awal abad ke-2) memberikan rumusan anamnese Perjamuan yang sangat terkait dengan Mishkan:

"Sama seperti roti yang dipecah-pecah tersebar di atas bukit-bukit dan dikumpulkan menjadi satu, demikianlah jemaat-Mu dikumpulkan dari ujung-ujung bumi ke dalam kerajaan-Mu." (Didache 9:4)

Roti yang tersebar dan dikumpulkan—ini adalah metafora Mishkan karena:

· Tabernakel terbuat dari papan-papan yang dikumpulkan menjadi satu kesatuan
· Bangsa Israel yang tersebar dikumpulkan ke pusat kemah suci
· Roti dari banyak bulir gandum menjadi satu roti - sama seperti Mishkan menyatukan umat

Rumusan anamnese ini menunjukkan bahwa gereja perdana memahami Perjamuan sebagai perpanjangan Mishkan Basar secara komunal. Bukan hanya Yesus adalah Mishkan Basar, tetapi gereja sebagai "Tubuh Kristus" juga menjadi Mishkan—tempat Allah berdiam (Efesus 2:21-22).

---

IV. Hubungan dengan Salib (Puncak Mishkan Basar)

4.1 Keterpisahan di Salib dan Anamnese Perjamuan

Artikel membahas seruan "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Matius 27:46) dan menyatakan:

"Sebagai basar (daging) – Yesus mengalami keterpisahan, penderitaan fisik, kematian ... sebagai Mishkan (kediaman Allah) – Allah tetap hadir" (hlm. 9)

Dalam rumusan anamnese Perjamuan, keterpisahan ini secara liturgis dihadirkan ulang. Perjamuan selalu memiliki dua kutub:

1. Kenangan akan kematian (keterpisahan, penderitaan, darah yang ditumpahkan)
2. Kenangan akan kehadiran (Kristus hadir secara nyata dalam roti dan anggur)

Liturgi gereja mula-mula merumuskan anamnese pasca-perjamuan dengan doa: "Sama seperti Engkau hadir bersama kami saat kami memecahkan roti ini, demikian juga ingatlah (anamnēsis) akan Gereja-Mu yang kudus" (Didache 10:5). Di sini anamnese bersifat dwipolar:

· Mengingat salib (masa lalu)
· Menghadirkan Kristus yang bangkit (masa kini) sebagai Mishkan Basar yang dimuliakan

4.2 Tirai Bait Suci Terbelah dan Anamnese

Artikel mencatat: "Ketika Yesus mati, tirai Bait Suci ... terbelah dua" (Matius 27:51). Ini menandakan bahwa Mishkan Basar yang sejati telah menyelesaikan karya kurban-Nya (hlm. 9).

Dalam rumusan anamnese Perjamuan, pembelahan tirai ini dihadirkan ulang secara sakramental. Penulis Ibrani (bab 10:19-22) secara eksplisit menghubungkan:

· Darah Yesus → pembukaan jalan masuk ke tempat maha kudus
· Tubuh Yesus → tirai yang baru (Ibrani 10:20: "jalan yang baru dan yang hidup ... yaitu tubuh-Nya")
· Perjamuan → anamnese yang memungkinkan jemaat masuk dengan penuh keberanian

Dengan demikian, setiap Perjamuan adalah tindakan anamenik yang membuka tirai—bukan secara fisik, tetapi secara rohani, jemaat dimasukkan ke dalam hadirat Allah melalui Mishkan Basar Kristus.

---

V. Tabel Ringkasan Keterhubungan

Elemen Mishkan Basar (dari artikel) 
- Elemen Perjamuan Terakhir 
- Fungsi Anamnese

Mishkan (Kemah) tempat Shekhinah 
- Roti sebagai "Tubuh Kristus" 
- Menghadirkan realitas kehadiran Allah dalam daging

Basar (daging fana yang dipersembahkan) 
- Roti dipecahkan - "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan" 
- Mengingat (anamnēsis) kematian sebagai kurban

Darah kurban untuk pengudusan 
- "Cawan ini adalah darah perjanjian" 
- Partisipasi (koinōnia) dalam darah yang memeteraikan perjanjian baru

Mezbah tempat kurban dipersembahkan 
- Salib (diantisipasi dalam Perjamuan) 
- Prolepsis - mengarahkan anamnese ke depan sekaligus ke belakang

Imam Besar memasuki tempat maha kudus 
- Yesus sebagai Imam sekaligus Kurban 
- Anamnese sebagai "pengingat efektif" yang membuka akses ke hadirat Allah

Kurban harian (tamid) dan peringatan (azkarah) 
- "Lakukanlah ini menjadi peringatan (anamnēsis) akan Aku" 
- Ritual berkelanjutan yang menghadirkan satu kurban yang sudah selesai

---

VI. Implikasi Teologis bagi Rumusan Anamnese

6.1 Anamnese sebagai "Real Presence" dalam Kerangka Mishkan

Artikel menyebut (hlm. 11): "roti dan anggur menjadi sarana kehadiran nyata Kristus, sama seperti Shekhinah hadir dalam tabernakel." Ini adalah kunci untuk memahami anamnese:

· Bukan transubstansiasi (perubahan substansi dalam kerangka physis Yunani yang ditolak artikel)
· Bukan sekadar simbol memorialis (Zwingli)
· Melainkan shekhinah sakramental - sama seperti Allah hadir secara nyata dalam tabernakel tanpa menjadi "tenda" itu sendiri, demikian pula Kristus hadir secara nyata dalam Perjamuan tanpa roti dan anggur berhenti menjadi roti dan anggur

Dengan kata lain: Perjamuan adalah Mishkan dalam mode sakramental. Anamnese adalah tindakan di mana Shekhinah (Allah yang hadir) secara anamenik "memasang kemah" kembali di tengah umat-Nya melalui roti dan anggur.

6.2 Anamnese sebagai Partisipasi dalam Satu Kurban yang Selesai

Artikel menekankan bahwa salib adalah "puncak persembahan kurban" (abstrak, hlm. 1). Anamnese Perjamuan tidak mengulang kurban, tetapi membawa jemaat ke dalam realitas kurban yang sudah selesai (Ibrani 9:12 - "sekali untuk selama-lamanya").

Analoginya:

· Mishkan PL: Kurban berulang, anamnese mengingat dosa (Ibrani 10:3)
· Mishkan Basar Kristus: Satu kurban, anamnese menghadirkan pengampunan yang sudah selesai (Ibrani 10:17-18)

Rumusan ini menghindari problem teologis yang sama yang dihindari artikel dalam kritiknya terhadap physis (bahwa Allah tidak bisa berubah atau menderita). Dalam Perjamuan, tidak ada pengulangan kurban—hanya partisipasi anamenik dalam satu kurban yang sudah terjadi secara historis di Golgota.

6.3 Anamnese Eskatologis: Menanti Mishkan Basar yang Sempurna

Paulus dalam 1 Korintus 11:26 merumuskan anamnese yang berorientasi ke depan: "Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang."

Perjamuan adalah anamnese yang proleptik:

· Mengingat ke belakang → salib sebagai puncak Mishkan Basar historis
· Menghadirkan ke sekarang → realitas Kristus yang bangkit sebagai Mishkan Basar yang dimuliakan (1 Korintus 15:44)
· Menunjuk ke depan → "Yerusalem baru ... kemah (skēnē) Allah di tengah-tengah manusia" (Wahyu 21:3) - Mishkan Basar eskatologis yang sempurna

---

VII. Kesimpulan: Keterhubungan yang Organis

Artikel Mishkan Basar dan rumusan anamnese Perjamuan Terakhir memiliki keterhubungan organik, bukan sekadar analogi. Secara sistematis:

1. Ontologis: Mishkan Basar mendefinisikan siapa Yesus itu (Kemah Daging yang ditempati Shekhinah). Anamnese Perjamuan adalah tindakan gereja yang memasuki realitas ontologis itu.
2. Sakramental: Sama seperti Mishkan PL adalah satu-satunya tempat kurban diterima, demikian pula Perjamuan (dalam teologi perdana) adalah locus di mana anamnese kurban Kristus secara efektif menghadirkan pengampunan.
3. Kristologis: Artikel menghindari kerangka physis Yunani (dua natur). Anamnese Perjamuan juga menghindari problem ini karena tidak perlu bertanya "natur mana yang hadir dalam roti?"—yang hadir adalah Pribadi Yesus sebagai Mishkan Basar secara utuh.
4. Ekklesiologis: Sama seperti Mishkan adalah pusat perkemahan Israel, demikian pula Perjamuan adalah pusat jemaat yang berkumpul—dan jemaat sendiri disebut "bait Allah" (1 Korintus 3:16), menjadi perpanjangan Mishkan Basar Kristus.
5. Eskatologis: Anamnese Perjamuan menatap kepada "hari Tuhan" ketika Mishkan Basar yang sempurna (Wahyu 21:3) akan menjadi realitas penuh—saat Shekhinah berdiam secara permanen di tengah umat tanpa lagi selubung kefanaan.

Dengan demikian, artikel Mishkan Basar tidak hanya menawarkan rekonstruksi teologi inkarnasi, tetapi juga memberikan landasan yang lebih kokoh dan lebih alkitabiah bagi teologi Perjamuan Kudus dan rumusan anamnesenya—sebuah sumbangan penting bagi liturgi, sakramentologi, dan spiritualitas Kristen kontemporer yang ingin kembali ke akar Ibrani tanpa meninggalkan iman akan Yesus sebagai Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Artikel

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Shalom dan Beshalom