Baptisan Bayi

Iman Orang Tua dan Penyerahan Anak: Sebuah Ketetapan Perjanjian Allah

Dalam sejarah keselamatan, Allah tidak pernah merancang keselamatan sebagai pengalaman individual yang terisolasi. Sejak awal, Allah membangun perjanjian-Nya bersama keluarga: iman orang tua menjadi wadah anugerah bagi anak-anak mereka. Prinsip ini terlihat jelas dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, terutama dalam praktik baptisan anak sebagai tanda dan meterai perjanjian anugerah Allah.

1. Prinsip Perjanjian: Iman Diperhitungkan sebagai Kebenaran

Dasar dari seluruh diskusi ini adalah Kejadian 15:6 – "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Iman Abram (Abraham) tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi menjadi pintu berkat bagi seluruh keturunannya (Kejadian 17:7). Inilah pola perjanjian Allah: kesetiaan-Nya turun-temurun.

2. Bukti dalam Perjanjian Lama: Samuel, Simson, Salomo

Perjanjian Lama memberikan contoh konkret orang tua yang menyerahkan anak mereka kepada Tuhan sejak kecil, dan iman mereka menjadi dasar bagi anak untuk hidup dalam kebenaran perjanjian.

· Samuel (1 Samuel 1:11, 27-28) – Hana menyerahkan Samuel seumur hidupnya kepada Tuhan. Sejak kecil, Samuel tinggal di Bait Suci. Iman Hana diperhitungkan sebagai kebenaran yang melingkupi panggilan Samuel sebagai nabi.
· Simson (Hakim-hakim 13:3-7, 24) – Orang tua Simson menerima ketetapan Allah bahwa anak mereka akan menjadi nazir Allah sejak dari kandungan. Ketaatan iman mereka membuka jalan bagi Allah untuk memakai Simson.
· Salomo (2 Samuel 12:24-25; 1 Tawarikh 22:9-10) – Daud menyerahkan Salomo sebagai anak perjanjian. Allah menyatakan, “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Iman Daud membawa Salomo dalam rancangan Allah sebagai pembangun Bait Suci.

3. Landasan Teologis Perjanjian Lama: Anak Termasuk dalam Perjanjian

Ulangan 30:6 menegaskan: “TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu.” Sunat hati – analog dengan sunat fisik – berlaku bagi keturunan. Demikian pula dalam Kejadian 17:7, Allah berjanji: “Aku akan menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” Anak-anak tidak berada di luar perjanjian; mereka termasuk di dalamnya karena iman orang tua.

4. Penghubung ke Perjanjian Baru: Baptisan sebagai Sunat Baru

Dalam Perjanjian Baru, baptisan menggantikan sunat sebagai tanda masuk perjanjian Allah. Kolose 2:11-12 menyatakan: “Dalam Dia kamu telah disunat... karena kamu telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia dalam baptisan.” Sama seperti sunat diberikan kepada anak-anak pada hari ke-8 (Kejadian 17:12), baptisan juga diberikan kepada anak-anak orang percaya sebagai tanda perjanjian anugerah.

Kisah Para Rasul 2:38-39 menegaskan: “Bertobatlah dan hendaklah kamu memberi dirimu dibaptis... sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu.” Janji anugerah – termasuk pengampunan dosa dan Roh Kudus – diberikan kepada orang tua percaya dan anak-anak mereka.

5. Praktik dalam Perjanjian Baru: Baptisan Seisi Rumah

Kisah Para Rasul 16:15, 31-33 mencatat baptisan keluarga Lidia dan kepala penjara. Kata “seisi rumah” jelas mencakup anak-anak ( jika ada ), karena konsep “rumah” dalam budaya Yahudi-Romawi selalu inklusif secara generasi. Janji keselamatan diberikan kepada “engkau dan seisi rumahmu” (ayat 31).

Yesus sendiri dalam Matius 19:14 berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Anak-anak tidak boleh dihalangi menerima berkat kerajaan, termasuk melalui baptisan.

6. Kesimpulan: Iman Orang Tua, Anugerah bagi Anak

Sepanjang Alkitab, iman orang tua bukanlah kunci keselamatan otomatis bagi anak (setiap orang tetap harus bertanggung jawab secara pribadi), melainkan wadah anugerah di mana anak dibesarkan dalam perjanjian Allah. Samuel, Simson, dan Salomo hidup dalam realitas itu. Dalam Perjanjian Baru, baptisan anak menjadi meterai nyata bahwa Allah menganggap anak-anak orang percaya sebagai bagian dari umat perjanjian-Nya.

Iman orang tua yang menyerahkan anaknya dalam baptisan adalah respons terhadap janji Allah. Dan seperti Abraham, iman itu diperhitungkan sebagai kebenaran – bukan karena perbuatan orang tua, tetapi karena kasih karunia Allah yang setia kepada generasi demi generasi.
Amin. 

Shaloom Tuhan Yesus, melindungi dan memberkati kita semua. Amin.🙏

Klik atau Tap untuk lihat Artikel terkait :


Klik atau Tap disini untuk baca Artikel Lainnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMAN dan Matematika

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom