Pernikahan, Perceraian, dan Pertobatan
Pernikahan, Perceraian, dan Pertobatan: Sekolah Kasih Karunia di Tengah Kejatuhan Manusia
---
Pendahuluan: Ideal dan Realitas dalam Keseimbangan
Kita telah menelusuri bersama bahwa "satu daging" (Kejadian 2:24) adalah pernyataan tentang hakikat manusia—bukan definisi pernikahan. Pernikahan adalah pengakuan dan perayaan atas hakikat itu, sebuah upaya rekonsiliasi di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa.
Kini kita sampai pada pertanyaan paling mendasar: Bagaimana Matius 19:6 dan Matius 5:48 saling berkorelasi dalam membentuk pemahaman kita tentang pernikahan, perceraian, dan pertobatan?
Artikel ini akan menunjukkan bahwa:
1. Matius 5:48 (kesempurnaan) dan Matius 19:6 (ketidakbolehan perceraian) adalah dua sisi dari ideal yang sama—panggilan untuk menjadi utuh dalam kasih, seperti Bapa di sorga.
2. Kegagalan mencapai ideal itu bukanlah dosa, tetapi bukti kejatuhan manusia yang terus berlanjut.
3. Pernikahan adalah lembaga pembelajaran, bukan lembaga kesempurnaan—tempat manusia belajar mengampuni, bertobat, dan bertumbuh.
4. Hukum perkawinan levirat (Ulangan 25:5-10) adalah gambar dari pembelajaran berkelanjutan ini, di mana pengalaman "janda" menjadi pelajaran bagi suami baru.
5. Tujuan akhir dari semua pembelajaran ini adalah kesatuan dengan Allah—yang di surga tidak lagi memerlukan pernikahan (Matius 22:30).
---
Bagian 1: Matius 5:48 dan 19:6—Dua Sisi Ideal yang Sama
1.1 Matius 5:48: Panggilan untuk Sempurna dalam Kasih
"Karena itu hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48)
Seperti yang telah kita bahas, kata "sempurna" (teleios) berarti "matang, utuh, mencapai tujuan"—bukan "tanpa dosa" dalam arti moralistik. Dalam konteks Khotbah di Bukit, Yesus sedang berbicara tentang kasih yang tanpa batas—seperti Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan baik (ayat 45).
Ini adalah panggilan untuk mengasihi seperti Allah mengasihi: tanpa syarat, tanpa diskriminasi, dan tanpa batas.
1.2 Matius 19:6: Panggilan untuk Kesatuan yang Tak Terpisahkan
"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6)
Ayat ini adalah aplikasi konkret dari Matius 5:48 dalam konteks pernikahan. Jika kita dipanggil untuk mengasihi seperti Bapa, maka dalam pernikahan kita dipanggil untuk:
· Mengasihi pasangan tanpa syarat—bahkan ketika sulit.
· Mempertahankan kesatuan—bahkan ketika ada konflik.
· Mengampuni—bahkan ketika terluka.
Keduanya adalah ideal yang sama: menjadi utuh dalam kasih, seperti Bapa di sorga.
1.3 Kesamaan: Keduanya adalah Panggilan, Bukan Hukum yang Mematikan
Matius 5:48 Matius 19:6
"Sempurnalah seperti Bapa" "Jangan bercerai"
Adalah arah (telos) yang harus diperjuangkan Adalah arah (telos) yang harus diperjuangkan
Bukan tuntutan hukum yang jika gagal maka dihukum Bukan tuntutan hukum yang jika gagal maka dihukum
Gagal mencapai kesempurnaan = kelemahan, bukan dosa Gagal mempertahankan pernikahan = kelemahan, bukan dosa
---
Bagian 2: Kegagalan Pernikahan Adalah Kelanjutan Kejatuhan
2.1 Kegagalan Mencapai Ideal = Bukti Kelemahan Bahwa Kita Memiliki Dosa Asal
Seperti yang telah kita tegaskan berkali-kali, Alkitab membedakan antara:
· Kelemahan (astheneia) — kondisi manusia yang rapuh akibat dosa asal.
· Kejahatan (poneria) — tindakan yang disengaja untuk melawan kehendak Allah.
Kegagalan dalam pernikahan—ketidakmampuan untuk mempertahankan kesatuan, ketidakmampuan untuk mengampuni, ketidakmampuan untuk bertahan—adalah kelemahan, bukan kesengajaan. Ini adalah bukti bahwa manusia masih dalam proses kejatuhan, belum sepenuhnya pulih.
2.2 Keraguan dan Apatis: Akar dari Kejatuhan Berkelanjutan
Dosa asal bukan hanya peristiwa masa lalu; ia adalah kondisi yang terus berlanjut. Dua manifestasi utamanya dalam pernikahan adalah:
1. Keraguan (doubt)
· Adam dan Hawa ragu akan kebaikan Allah (Kejadian 3:1-5).
· Dalam pernikahan, keraguan muncul sebagai: "Apakah pasangan ini benar-benar baik untukku? Apakah Allah benar-benar peduli dengan pernikahanku? Apakah ada jalan keluar yang lebih baik?"
2. Apatis (apathy)
· Setelah dosa, manusia cenderung tidak peduli—baik terhadap Allah maupun terhadap sesama.
· Dalam pernikahan, apatis muncul sebagai: ketidakmampuan untuk berusaha, menyerah sebelum berjuang, dan kehilangan harapan.
Kegagalan dalam pernikahan adalah manifestasi dari keraguan dan apatis ini—bukan dosa yang disengaja, tetapi kelanjutan dari kejatuhan manusia yang belum sepenuhnya dipulihkan.
2.3 "Ancaman Dosa" dan Pengampunan: Sebuah Koreksi Penting
Dalam diskusi disebutkan: "Idealnya kita sempurna seperti Bapa dalam mengampuni, tapi bukanlah dosa ketika kita gagal sebagai kelemahan, walaupun ada ancaman dosa kitapun tidak akan diampuni."
Ini adalah pemahaman yang akan kita bedah:
1. Ada "ancaman" —Yesus berkata, "Jika kamu tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu" (Matius 6:15). Ini adalah peringatan serius tentang konsekuensi dari ketidakmampuan mengampuni.
2. Namun, kegagalan mengampuni adalah kelemahan, bukan dosa yang disengaja. Jika seseorang berusaha mengampuni tetapi gagal karena luka yang terlalu dalam, itu adalah kelemahan, bukan pemberontakan.
3. Yang menjadi dosa adalah ketika seseorang sengaja menolak untuk mengampuni—dengan hati yang keras dan bangga. Itu adalah kesengajaan (poneria), bukan kelemahan.
Dengan kata lain: Gagal mengampuni karena luka = kelemahan. Menolak mengampuni karena kesombongan = dosa.
---
Bagian 3: Pernikahan sebagai Lembaga Pembelajaran, Bukan Kesempurnaan
3.1 Tujuan Pernikahan: Belajar Menjadi Sempurna, Bukan Menjadi Sempurna Instan
Jika pernikahan adalah lembaga kesempurnaan, maka:
· Tidak boleh ada kegagalan.
· Setiap pasangan harus berhasil.
· Kegagalan adalah akhir segalanya.
Tetapi jika pernikahan adalah lembaga pembelajaran, maka:
· Kegagalan adalah bagian dari kurikulum.
· Setiap pasangan belajar dari kesalahan.
· Kegagalan bukan akhir, tetapi batu loncatan menuju pertumbuhan.
Pernikahan adalah sekolah di mana manusia belajar:
· Mengampuni—karena pasangan akan selalu menyakiti.
· Bertobat—karena kita akan selalu gagal.
· Mengasihi tanpa syarat—karena kita tidak pernah cukup layak.
3.2 Pertobatan: Bagian dari Kurikulum, Bukan Hukuman
Dalam sekolah pernikahan, pertobatan adalah pelajaran harian, bukan hukuman atas kegagalan. Setiap kali kita gagal, kita dipanggil untuk:
1. Mengakui kelemahan kita.
2. Meminta pengampunan dari Allah dan pasangan.
3. Berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Ini adalah siklus pertumbuhan: kegagalan → pengakuan → pertobatan → pemulihan → pertumbuhan.
---
Bagian 4: Hukum Perkawinan Levirat—Pembelajaran Berkelanjutan
4.1 Ulangan 25:5-10: Perintah Menikahi Janda Saudara
"Apabila saudara-saudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; tetapi iparnya harus mendatangi dia dan mengambil dia menjadi isterinya... Maka anak sulung yang lahir nanti haruslah dianggap sebagai anak saudaranya yang mati itu." (Ulangan 25:5-6)
Hukum ini sering dianggap aneh atau kuno. Namun, jika kita memahaminya sebagai lembaga pembelajaran, maknanya menjadi dalam:
4.2 Mengapa Perintah Ini Diberikan?
1. Untuk menjaga nama keluarga — agar nama saudara yang mati tidak hilang dari Israel.
2. Untuk memberikan perlindungan — janda dan anak-anaknya tetap mendapat perawatan.
3. Untuk memberikan pelajaran berkelanjutan — suami baru belajar dari pengalaman janda tentang:
· Kehilangan dan kesedihan.
· Ketergantungan pada Allah.
· Pentingnya kasih dan kesetiaan.
4.3 "Janda" sebagai Metafora Pembelajaran
Dalam Perjanjian Baru, janda sering menjadi gambaran tentang:
· Ketergantungan penuh pada Allah (1 Timotius 5:5).
· Kesetiaan dalam penderitaan (Lukas 2:36-38).
· Harapan di tengah kehilangan (Kisah Para Rasul 9:39-41).
Ketika seorang pria menikahi janda, ia belajar dari pengalamannya:
· Ia belajar tentang penderitaan yang tidak ia alami sendiri.
· Ia belajar tentang kesetiaan Allah yang memelihara janda.
· Ia belajar bahwa pernikahan bukanlah tentang kebahagiaan instan, tetapi tentang pengorbanan dan pelayanan.
Inilah pembelajaran berkelanjutan yang menjadi tujuan pernikahan.
---
Bagian 5: Tujuan Akhir—Kesatuan dengan Allah (Di Surga Tak Kawin)
5.1 Matius 22:30 — Akhir dari Lembaga Pernikahan
"Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di sorga." (Matius 22:30)
Jika pernikahan adalah lembaga pembelajaran, maka ia memiliki batas waktu. Ketika kita mencapai kesempurnaan dalam kesatuan dengan Allah, kita tidak lagi memerlukan pernikahan.
Di surga:
· Tidak ada lagi perceraian—karena tidak ada lagi dosa.
· Tidak ada lagi pernikahan—karena kita sudah sempurna dalam kasih.
· Kita semua adalah satu dalam Kristus—tidak lagi terbagi dalam pasangan.
5.2 Pernikahan sebagai Jalan Menuju Kesatuan dengan Allah
Paulus menulis: "Rahasia ini besar; tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat" (Efesus 5:32).
Pernikahan adalah gambar dari kesatuan yang lebih besar: kesatuan antara Kristus dan gereja. Setiap pasangan yang berjuang untuk mengasihi, mengampuni, dan bertahan sedang belajar tentang kesatuan ilahi.
· Ketika kita gagal mengampuni pasangan, kita belajar betapa sulitnya mengampuni—dan betapa besar pengampunan Allah.
· Ketika kita gagal mempertahankan pernikahan, kita belajar betapa rapuhnya manusia—dan betapa kokohnya kasih Allah.
· Ketika kita mencoba lagi (dalam pernikahan ulang), kita belajar bahwa Allah adalah Allah yang memberi kesempatan baru.
5.3 Kegagalan sebagai Kelanjutan Kejatuhan, tetapi Bukan Akhir
Seperti yang telah kita bahas, kegagalan dalam pernikahan adalah kelanjutan dari kejatuhan manusia—keraguan dan apatis yang terus menghantui. Namun, kegagalan bukanlah akhir.
Allah adalah Allah yang memulihkan:
· Ia memulihkan Daud setelah dosanya.
· Ia memulihkan Petrus setelah penyangkalannya.
· Ia memulihkan perempuan yang berzinah (Yohanes 8:1-11).
· Ia memulihkan mereka yang gagal dalam pernikahan.
Pertobatan adalah jalan kembali—kembali ke Allah, kembali ke hakikat manusia sebagai satu, dan kembali ke proses pembelajaran.
---
Bagian 6: Implikasi Pastoral—Merangkul Pembelajaran, Bukan Menghukum Kegagalan
6.1 Gereja sebagai Sekolah, Bukan Pengadilan
Jika pernikahan adalah lembaga pembelajaran, maka gereja harus menjadi:
· Sekolah—tempat orang belajar, gagal, dan mencoba lagi.
· Rumah sakit—tempat orang yang terluka dirawat.
· Keluarga—tempat orang yang gagal diterima dan dipulihkan.
Bukan:
· Pengadilan—yang menghukum setiap kegagalan.
· Penjara—yang mengurung orang dalam rasa bersalah.
· Pabrik—yang memproduksi pasangan "sempurna."
6.2 Menghadapi Perceraian dan Pernikahan Ulang
Dengan pemahaman ini, gereja dapat:
1. Mengajarkan ideal — pernikahan seumur hidup sebagai panggilan Allah.
2. Mengakui realitas — bahwa kegagalan terjadi karena kelemahan manusia.
3. Memberi ruang bagi pertobatan — bukan hukuman, tetapi pemulihan.
4. Mendukung pernikahan ulang — jika dilakukan dengan hati yang bertobat dan motif yang benar.
Perceraian bukanlah dosa yang tak terampuni. Pernikahan ulang bukanlah pelanggaran terhadap hakikat. Semua adalah bagian dari proses pembelajaran yang panjang menuju kesatuan dengan Allah.
---
Kesimpulan: Sekolah Kasih Karunia
Matius 5:48 dan Matius 19:6 adalah dua sisi dari panggilan yang sama: menjadi utuh dalam kasih seperti Bapa di sorga. Namun, panggilan ini bukanlah hukum yang mematikan, tetapi arah yang harus diperjuangkan.
Pernikahan adalah lembaga pembelajaran:
· Tempat kita belajar mengampuni, meskipun gagal.
· Tempat kita belajar bertobat, meskipun jatuh.
· Tempat kita belajar mengasihi, meskipun tidak sempurna.
Kegagalan adalah bagian dari kurikulum:
· Bukan dosa, tetapi kelemahan.
· Bukan akhir, tetapi batu loncatan.
· Bukan hukuman, tetapi pelajaran.
Tujuan akhirnya adalah kesatuan dengan Allah:
· Di surga, tidak ada lagi pernikahan.
· Di surga, kita sempurna dalam kasih.
· Di surga, semua pembelajaran selesai.
Karena itu, marilah kita:
· Berjuang untuk ideal, tetapi tidak menghakimi yang gagal.
· Mengajarkan kebenaran, tetapi selalu membungkusnya dengan kasih karunia.
· Mengingat bahwa Allah adalah Allah yang memulihkan—bagi mereka yang gagal, bagi mereka yang bercerai, bagi mereka yang menikah ulang, dan bagi kita semua yang masih dalam proses belajar.
---
"Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya, pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6)
Soli Deo Gloria.
---
Pertanyaan Reflektif Akhir:
Jika pernikahan adalah sekolah pembelajaran, bagaimana gereja dapat menjadi ruang yang aman bagi mereka yang gagal, tanpa mengorbankan kebenaran tentang ideal pernikahan?
Komentar
Posting Komentar