Kasih yang Salah Paham

Kasih yang Salah Paham: Mengapa Kita Tidak Bisa (dan Tidak Perlu) Mengasihi Allah

Oleh: Refleksi dari Diskusi

Selama berabad-abad, spiritualitas Kristen telah diwarnai oleh satu kesalahpahaman besar: bahwa kita harus "mengasihi Allah" dengan usaha aktif kita. Kita diajarkan untuk berusaha mencintai, berjuang mengasihi, dan bahkan merasa bersalah ketika cinta kita terasa dangkal. Namun, jika kita menelusuri Alkitab dengan jernih, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang membebaskan: kita tidak pernah dipanggil untuk menjadi subjek yang mengasihi Allah; kita dipanggil untuk menjadi wadah yang menerima dan merespons kasih-Nya.

1. Kesalahpahaman tentang "Mengasihi Allah"

Kata "mengasihi" dalam bahasa Indonesia sering dipahami sebagai aksi aktif, inisiatif dari pihak pelaku. Dalam relasi manusia, itu wajar. Tetapi dalam relasi vertikal dengan Sang Pencipta, kata ini menjadi jebakan semantik.

· Fakta Teologis: Allah adalah kasih (agape). Ia tidak "memiliki" kasih; Ia adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih adalah esensi-Nya, bukan atribut yang bisa ditanggapi dengan "aksi cinta" yang setimpal dari manusia.
· Akibat Kekeliruan: Ketika kita menganggap "mengasihi Allah" adalah tindakan aktif, kita jatuh ke dalam dua perangkap:
  1. Legalisme: Kita membuat daftar perilaku (ibadah, pelayanan, doa) yang dianggap sebagai "bukti cinta" kepada Allah, lalu mengukur kesalehan dari situ.
  2. Kecemasan: Ketika perasaan cinta kita memudar, kita menganggap Allah kecewa atau menjauh.

Padahal, Allah tidak butuh cinta kita. Ia tidak kekurangan apa pun. Yang Ia rindukan bukanlah aksi kita, melainkan kerendahan hati kita untuk menerima kasih-Nya.

2. Definisi yang Benar: Respons, Bukan Aksi

Jika kita tidak "bisa" mengasihi Allah dalam arti aktif, lalu apa yang dimaksud dengan perintah Yesus: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu" (Matius 22:37)?

Jawabannya ada pada kata "resonansi" atau "respons". Mengasihi Allah dalam bahasa Alkitab bukanlah tindakan inisiatif, melainkan keadaan hati yang merespons. Seperti garpu tala yang bergetar karena menerima getaran dari garpu tala lain, kasih kita kepada Allah hanyalah gema dari kasih-Nya yang lebih dulu menerpa kita (1 Yohanes 4:19).

Dengan kata lain:

Kesalahpahaman Pemahaman yang Benar
"Aku harus berusaha mengasihi Allah." "Aku membiarkan diri dikasihi Allah."
"Aksi cintaku menyenangkan Allah." "Penerimaan dan syukurku adalah respons alami."
"Jika tidak aktif mengasihi, aku berdosa." "Jika tidak responsif, aku hanya kehilangan sukacita."

Hidup menurut kasih (menjalankan perintah, mengampuni, melayani) bukanlah "aksi" untuk membalas Allah, melainkan "ekspresi" dari orang yang sadar bahwa dirinya sudah diterima sepenuhnya.

3. Dampaknya pada Pandangan tentang Pernikahan dan Panggilan Hidup

Kesalahpahaman ini juga meracuni cara kita memandang pernikahan, selibat, atau pernikahan ulang. Banyak orang berpikir:

· "Aku menikah untuk menyenangkan Allah."
· "Aku selibat agar lebih kudus bagi Allah."
· "Aku tidak boleh menikah ulang karena itu 'dosa' terhadap Allah."

Padahal, Alkitab jelas: di surga tidak ada pernikahan (Matius 22:30). Pernikahan adalah institusi duniawi yang bersifat sementara, sebuah "alat peraga" untuk membantu kita memahami kesetiaan dan pengorbanan Kristus.

Maka, menikah, selibat, atau menikah ulang adalah sah selama kita menyadari bahwa itu semua hanyalah:

· Usaha manusia yang tak sempurna untuk memahami kasih Sang Pencipta yang sempurna.
· Lahan latihan di mana kita belajar mengasihi sesama sebagai respons atas kasih Allah, bukan sebagai syarat untuk diterima oleh-Nya.

Tidak ada status pernikahan yang membuat kita lebih "berhasil" mengasihi Allah. Yang ada hanyalah satu panggilan: Hidup dalam kesadaran penuh bahwa kita sudah dikasihi, dan membiarkan kasih itu mengalir melalui keterbatasan kita.

4. Penutup: Menyempurnakan Segala Sesuatu

Kesalahan terbesar dalam kerohanian adalah berpikir bahwa kita harus "menambahkan" sesuatu pada kasih Allah. Kita tidak perlu menambahkan aksi cinta kita agar sempurna. Yang kita perlukan hanyalah mengakui bahwa kita tidak sempurna, dan membiarkan kasih Allah yang sempurna itu menyempurnakan segala sesuatu—termasuk keputuhan kita, kegagalan kita, dan pilihan hidup kita.

"Karena kasih Allah menyempurnakan segala sesuatu." (1 Yohanes 4:18)

Jadi, berhentilah berusaha mengasihi Allah. Mulailah menerima bahwa Anda sudah dikasihi. Maka, seluruh hidup Anda—entah menikah, sendirian, atau memulai kembali—akan menjadi nyanyian syukur yang otomatis, tanpa perlu dipaksakan.

---

Selamat merayakan kasih yang tidak perlu dibalas, tetapi cukup diresapi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMAN dan Matematika

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom