Pembelaan Iman Tanpa Beban Teologis - Apologetika

Artikel: Apologetika dalam Terang Yesus dan Para Rasul — Kapan, Di Mana, dan Bagaimana?

Membaca Ulang Pembelaan Iman Tanpa Beban Teologis yang Memenjarakan

Oleh: [Nama Penulis]

---

Abstrak

Seluruh rangkaian artikel ini telah membangun sebuah paradigma baru: penginjilan adalah tindakan merangkul, melindungi, memberi kasih, dan memperjuangkan keadilan—bukan penyampaian teori teologis. Pertanyaan terakhir yang muncul adalah: "Apa kata Yesus dan para rasul tentang apologetika? Kapan, di mana, dan bagaimana?" Artikel ini meneliti setiap penggunaan kata "apologetika" (apologia) dalam Perjanjian Baru, pola Yesus dalam menghadapi tantangan, serta praktik para rasul. Kesimpulannya: apologetika alkitabiah bukanlah perlombaan intelektual untuk memenangkan argumen, melainkan kesaksian hidup yang lemah lembut dan penuh hormat, yang muncul dari kasih dan pengalaman pribadi akan Kristus. Apologetika sejati adalah memberi alasan tentang pengharapan yang ada di dalam diri kita, bukan membela sistem teologi. Ia terjadi dalam konteks penganiayaan, keraguan, dan kasih—bukan di ruang kuliah yang dingin.

---

Bab 1: Kata Apologia dalam Perjanjian Baru

1.1 Arti Kata

Kata Yunani ἀπολογία (apologia) berarti "pembelaan," "jawaban," atau "alasan yang diberikan." Ini adalah kata hukum: pembelaan di hadapan pengadilan.

| Kata | Arti | Penggunaan |

| Apologia (ἀπολογία) | Pembelaan, jawaban | Digunakan dalam konteks pengadilan dan tuduhan |
| Apologeomai (ἀπολογέομαι) | Membela diri, memberi jawaban | Bentuk kata kerja |
| Apologetikos (ἀπολογητικός) | Siap untuk membela | Tidak pernah digunakan dalam PB! |

Catatan penting: Kata apologetikos (yang menjadi dasar kata "apologetika" modern) tidak pernah muncul dalam Perjanjian Baru. Istilah ini adalah ciptaan kemudian, yang sering kali membawa beban yang tidak alkitabiah.

1.2 Penggunaan dalam Perjanjian Baru

| Ayat | Konteks | Jenis Apologetika |

| Kis. 22:1 | Paulus di hadapan orang banyak Yerusalem | Pembelaan atas tuduhan |
| Kis. 24:10 | Paulus di hadapan Feliks | Pembelaan hukum |
| Kis. 25:8 | Paulus di hadapan Festus | Pembelaan atas tuduhan |
| Kis. 25:16 | Festus menjelaskan hak Paulus | Konteks hukum |
| Kis. 26:1-2 | Paulus di hadapan Agripa | Pembelaan iman |
| 1 Kor. 9:3 | Paulus membela kerasulannya | Pembelaan panggilan |
| 2 Kor. 7:11 | "Pembelaan" dalam konteks pertobatan | Bukan apologetika intelektual |
| Flp. 1:7, 16 | Paulus dalam penjara | Pembelaan Injil di hadapan penguasa |
| 2 Tim. 4:16 | Paulus di hadapan pengadilan | Pembelaan di hadapan Kaisar |
| 1 Ptr. 3:15 | "Siap sedia untuk memberi pertanggungan jawab" | Satu-satunya perintah apologetika |


1.3 1 Petrus 3:15 — Satu-satunya Perintah Apologetika

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat."

Analisis Eksegetis:

| Elemen | Penjelasan |

| "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu" | Fondasi apologetika adalah relasi pribadi dengan Kristus, bukan penguasaan teologi |
| "Siap sedialah" | Kesiapan hati, bukan kesiapan argumentasi |
| "Memberi pertanggungan jawab" | Apologia — pembelaan, tetapi bukan perlombaan intelektual |
| "Tentang pengharapan yang ada padamu" | Objek pembelaan adalah pengharapan, bukan sistem teologi |
| "Dengan lemah lembut dan hormat" | Sikap menentukan segalanya—bukan kemenangan argumen |

Ini adalah satu-satunya perintah apologetika dalam Perjanjian Baru. Dan perhatikan: tidak ada perintah untuk:

· Menghancurkan argumen lawan
· Membuktikan Allah dengan logika
· Memenangkan debat teologis
· Membela doktrin tertentu

Yang diperintahkan: memberi kesaksian tentang pengharapan yang kita miliki, dengan lemah lembut dan hormat.

---

Bab 2: Yesus dan Apologetika — Pola yang Mengagetkan

2.1 Yesus Tidak Pernah "Membela" Iman-Nya dengan Argumen

| Situasi | Respons Yesus | Jenis Respons |

| Pencobaan di padang gurun (Mat. 4) | "Ada tertulis..." | Mengutip Firman, bukan berdebat |
| Orang Farisi meminta tanda (Mat. 12:38-39) | "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." | Penolakan untuk bermain dalam kerangka mereka |
| Herodes ingin melihat mujizat (Luk. 23:8-9) | Yesus diam | Keheningan adalah respons |
| Pilatus bertanya (Yoh. 18:33-38) | "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini... Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja." | Kesaksian tentang identitas, bukan argumentasi |
| Di hadapan Imam Besar (Mat. 26:62-64) | "Engkau telah mengatakannya." | Tidak membela diri |
| Di kayu salib (Luk. 23:34) | "Ya Bapa, ampunilah mereka..." | Doa, bukan argumentasi |

Pola Yesus:

| Yang Dilakukan Yesus | Yang Tidak Dilakukan Yesus |

| Bersaksi tentang identitas-Nya | Tidak pernah membela diri dengan argumen panjang |
| Mengutip Kitab Suci dengan otoritas | Tidak pernah menggunakan filsafat atau logika Yunani |
| Diam di hadapan tuduhan | Tidak pernah "mematahkan" argumen lawan |
| Berdoa bagi penganiaya | Tidak pernah "menang" dalam debat teologis |


2.2 Yesus dan Orang Farisi — Bukan Debat, Tetapi Peringatan

Yesus tidak pernah "berdebat" dengan orang Farisi dalam arti mencari kebenaran bersama. Ia menyatakan kebenaran dan memperingatkan mereka.

| Perbedaan | Debat | Peringatan Yesus |

| Tujuan | Mencari kebenaran bersama | Menyatakan kebenaran dan memanggil pertobatan |
| Sikap | Saling mendengarkan | Otoritas ilahi—"Aku berkata kepadamu" |
| Hasil | Mungkin mencapai kesepakatan | Tidak ada kompromi—"Celakalah kamu" (Mat. 23) |

Yesus tidak berdebat dengan orang Farisi. Ia mengutuk kemunafikan mereka dan memanggil mereka untuk bertobat. Ini bukan apologetika—ini adalah nubuat dan peringatan.


2.3 Yesus dan Murid-Murid — Pengajaran, Bukan Apologetika

Ketika Yesus mengajar murid-murid, Ia:

| Yang Dilakukan Yesus | Yang Tidak Dilakukan Yesus |

| Memberi perumpamaan yang sederhana | Tidak memberikan sistem teologi |
| Menjelaskan secara pribadi kepada mereka | Tidak melatih mereka untuk "membela iman" |
| Mengirim mereka untuk memberitakan Kerajaan | Tidak mengirim mereka untuk berdebat dengan ahli-ahli Taurat |

Murid-murid diutus untuk memberitakan Injil, bukan untuk memenangkan debat teologis.

---

Bab 3: Para Rasul dan Apologetika — Pola yang Sama

3.1 Paulus — Apologetika dalam Konteks Penganiayaan

Paulus melakukan "apologetika" dalam konteks:

| Konteks | Ayat | Sifat Apologetika |

| Di hadapan orang banyak | Kis. 22:1-21 | Kesaksian tentang pengalaman pribadi dengan Kristus |
| Di hadapan Feliks | Kis. 24:10-21 | Pembelaan hukum, bukan teologi |
| Di hadapan Festus | Kis. 25:8-12 | Pembelaan hukum |
| Di hadapan Agripa | Kis. 26:1-29 | Kesaksian tentang panggilan dan pengalaman |
| Di hadapan Kaisar | 2 Tim. 4:16-17 | Pembelaan di pengadilan—Tuhan mendampingi |

Perhatikan: Paulus tidak pernah mengadakan "sesi apologetika" di ruang kelas. Apologetikanya terjadi:

· Di hadapan pengadilan (karena dituduh)
· Di hadapan orang banyak (karena diserang)
· Di hadapan penguasa (karena dipenjara)

Apologetika Paulus adalah kesaksian di bawah tekanan, bukan kuliah di ruang aman.


3.2 Apologetika Paulus di Atena (Kis. 17) — Satu-satunya "Debat" Publik

Ini adalah contoh yang paling sering dipakai untuk membenarkan apologetika intelektual. Tetapi mari kita baca dengan cermat:

| Elemen | Penjelasan |

| Konteks | Paulus terganggu melihat berhala—bukan "terpanggil" untuk berdebat |
| Pendekatan | Memulai dari altar "Allah yang tidak dikenal" —membangun jembatan budaya |
| Isi | Memberitakan Allah Pencipta dan kebangkitan Yesus—bukan sistem teologi |
| Respons | Ada yang mengejek, ada yang ingin mendengar lagi, dan beberapa percaya |
| Hasil | Paulus pergi—tidak tinggal untuk "memenangkan" semua orang |

Yang dilakukan Paulus di Atena:

1. Mengamati budaya mereka
2. Menemukan titik temu (altar "Allah yang tidak dikenal")
3. Memberitakan Kristus yang bangkit
4. Meninggalkan hasilnya kepada Allah

Yang tidak dilakukan Paulus di Atena:

1. Memakai argumentasi filosofis yang rumit
2. Berdebat untuk "memenangkan" lawan
3. Memberi sistem teologi yang lengkap
4. Memaksa mereka untuk menerima


3.3 Petrus — Apologetika sebagai Kesaksian Hidup

1 Petrus 3:15 adalah satu-satunya perintah apologetika. Perhatikan konteks ayat ini:

| Ayat Sebelumnya | Ayat | Ayat Sesudahnya |

| 1 Ptr. 3:13-14: "Siapa yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita karena kebenaran, kamu akan berbahagia." | 1 Ptr. 3:15: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu... siap sedialah untuk memberi pertanggungan jawab..." | 1 Ptr. 3:16: "Dan hendaklah kamu dengan hati nurani yang murni..." |

Konteks apologetika Petrus:

· Penganiayaan — mereka menderita karena iman
· Perbuatan baik — kesaksian melalui tindakan kasih
· Hati nurani murni — hidup yang jujur di hadapan Allah dan manusia
· Pengharapan — fokus pada apa yang Allah telah lakukan

Apologetika Petrus adalah kesaksian hidup di tengah penderitaan, bukan perlombaan intelektual.

---

Bab 4: Kapan, Di Mana, dan Bagaimana Apologetika Sejati?

4.1 Kapan?

| Kapan Apologetika Dilakukan | Dasar Alkitab |

| Ketika diminta | 1 Ptr. 3:15 — "kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab" |
| Ketika dituduh | Kis. 22:1; 24:10; 25:8 — Paulus di hadapan pengadilan |
| Ketika ada keraguan | Yudas 1:22 — "Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu" |
| Ketika ada kesempatan | Kol. 4:6 — "Hendaklah perkataanmu selalu penuh kasih" |

Apologetika bukanlah: kegiatan rutin mingguan, program gereja, atau perlombaan intelektual.

Apologetika adalah: respons terhadap kebutuhan, tuduhan, atau pertanyaan yang muncul secara alami dalam konteks kasih.


4.2 Di Mana?

| Di Mana Apologetika Terjadi | Dasar Alkitab |

| Di hadapan pengadilan/penguasa | Paulus di hadapan Feliks, Festus, Agripa, Kaisar |
| Di tengah orang banyak | Paulus di Yerusalem (Kis. 22) |
| Dalam percakapan pribadi | Yesus dengan Nikodemus (Yoh. 3), perempuan Samaria (Yoh. 4) |
| Di ruang ibadah | Paulus di sinagoga (Kis. 17:1-4) |
| Di pasar | Paulus di Atena (Kis. 17:17) |

Apologetika bukanlah: ruang kuliah yang steril, debat publik yang kompetitif, atau media sosial yang penuh kebencian.

Apologetika adalah: di mana pun ada pertanyaan, tuduhan, atau keraguan—dalam konteks relasi dan kasih.


4.3 Bagaimana?

| Bagaimana Apologetika Dilakukan | Dasar Alkitab |

| Dengan lemah lembut dan hormat | 1 Ptr. 3:15 — "dengan lemah lembut dan hormat" |
| Dengan hati nurani murni | 1 Ptr. 3:16 — "dengan hati nurani yang murni" |
| Dengan kasih | Ef. 4:15 — "dengan kasih kita berkata benar" |
| Dengan kesaksian pribadi | Kis. 22, 26 — Paulus bersaksi tentang pengalamannya |
| Dengan kesabaran | 2 Tim. 2:24-25 — "seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus sabar" |
| Dengan mengandalkan Roh Kudus | 1 Ptr. 3:15 — "kuduskanlah Kristus di dalam hatimu" — fondasi relasional |

Apologetika bukanlah:

| Bukan | Penjelasan |

| Memenangkan argumen | Kita dipanggil untuk bersaksi, bukan untuk menang |
| Menghancurkan lawan | Kita dipanggil untuk mengasihi, bukan untuk menghancurkan |
| Membuktikan Allah dengan logika | Allah tidak perlu dibuktikan—Ia menyatakan diri-Nya |
| Memberi semua jawaban | Kita tidak memiliki semua jawaban—kita memiliki pengharapan |

---

Bab 5: Apologetika dan Teologi — Perbedaan Kritis

5.1 Tabel Perbandingan

| Aspek | Apologetika Alkitabiah | Apologetika Teologis Modern |

| Tujuan | Memberi kesaksian tentang pengharapan | Memenangkan perdebatan intelektual |
| Sumber | Pengalaman pribadi dengan Kristus | Penguasaan teologi dan filsafat |
| Metode | Lemah lembut, hormat, kasih | Argumentasi, logika, retorika |
| Konteks | Penganiayaan, keraguan, kasih | Ruang kuliah, debat, media |
| Hasil | Menyaksikan Kristus | Memenangkan argumen |
| Dasar | Roh Kudus yang berkarya | Kemampuan intelektual manusia |


5.2 Apologetika yang Keliru

| Jenis Apologetika Keliru | Masalah |

| Apologetika sebagai pertahanan sistem | Membela doktrin, bukan memberitakan Kristus |
| Apologetika sebagai perlombaan | Mencari kemenangan, bukan mencari jiwa |
| Apologetika sebagai pengganti kasih | Argumentasi tanpa kasih adalah bising (1 Kor. 13:1) |
| Apologetika sebagai alat kekuasaan | Memaksakan kebenaran, bukan mengundang ke dalam kasih |


5.3 Apologetika Sejati — Kesaksian tentang Pengharapan

"Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu." (1 Ptr. 3:15)

Apa yang kita bersaksikan? Pengharapan. Bukan sistem teologi, bukan doktrin yang sempurna, bukan jawaban untuk semua pertanyaan.

Pengharapan adalah:

| Aspek Pengharapan | Penjelasan |

| Personal | Pengharapan yang kita miliki—pengalaman pribadi dengan Kristus |
| Pasti | Berdasarkan pada kebangkitan Kristus, bukan pada kemampuan kita |
| Mengubah hidup | Pengharapan yang mengubah cara kita hidup, menderita, dan mati |
| Dapat dibagikan | Pengharapan yang memberi hidup kepada orang lain |

Ini adalah apologetika yang sesungguhnya: memberi alasan tentang pengharapan yang telah mengubah hidup kita, dengan lemah lembut dan hormat, dalam konteks kasih dan penganiayaan.

---

Bab 6: Apologetika dan Roh Kudus — Menyerahkan Hasil kepada-Nya

6.1 Mengapa Kita Tidak Perlu Khawatir?

| Alasan | Penjelasan |

| Roh Kudus yang meyakinkan | Yoh. 16:8 — "Ia akan meyakinkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman" |
| Roh Kudus yang memberi hikmat | Luk. 12:11-12 — "Janganlah kamu khawatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan, karena Roh Kudus akan mengajar kamu" |
| Roh Kudus yang membuka hati | Kis. 16:14 — "Tuhan membuka hati Lydia" |
| Roh Kudus yang memimpin ke dalam kebenaran | Yoh. 16:13 — "Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran" |

Kesimpulan: Kita tidak perlu meyakinkan siapa pun—itu pekerjaan Roh Kudus. Kita tidak perlu memberi semua jawaban—Roh Kudus yang memimpin ke dalam kebenaran. Tugas kita hanyalah:

1. Menghidupi pengharapan
2. Memberi kesaksian tentang pengharapan
3. Melakukan kasih
4. Mempercayai Roh untuk menyelesaikan sisanya


6.2 Apologetika dan Doa — Hubungan yang Terlupakan

| Apologetika Tanpa Doa | Apologetika dengan Doa |

| Bergantung pada kemampuan sendiri | Bergantung pada kuasa Roh |
| Berusaha meyakinkan dengan logika | Mempercayai Roh untuk meyakinkan |
| Fokus pada argumen | Fokus pada kasih dan kesaksian |
| Hasil: kelelahan dan kekecewaan | Hasil: ketenangan dan kepercayaan |

Paulus, sang apologet, adalah penggemar doa:

| Ayat | Isi Doa |

| Ef. 1:16-19 | Memohon hikmat dan wahyu Roh |
| Ef. 3:14-19 | Memohon agar jemaat dikuatkan oleh Roh |
| Flp. 1:9-11 | Memohon agar kasih bertambah |
| Kol. 1:9-12 | Memohon hikmat dan pengertian rohani |

Apologetika tanpa doa adalah kesombongan intelektual. Apologetika dengan doa adalah kesaksian yang bergantung pada Roh.

---

Bab 7: Kesimpulan — Kembali ke Kesederhanaan Apologetika

7.1 Ringkasan Jawaban

"Apa kata Yesus dan para rasul tentang apologetika?"

Yesus: Tidak pernah "berdebat" untuk memenangkan argumen. Ia bersaksi, mengajar, memperingatkan, dan diam di hadapan tuduhan. Ia menyerahkan pekerjaan meyakinkan kepada Roh Kudus.

Para Rasul: Apologetika terjadi dalam konteks penganiayaan dan tuduhan. Mereka memberi kesaksian tentang pengharapan mereka, dengan lemah lembut dan hormat. Mereka tidak mengadakan "sesi apologetika" di ruang kelas.

Perintah: Siap sedia memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu, dengan lemah lembut dan hormat (1 Ptr. 3:15).


7.2 Kapan, Di Mana, dan Bagaimana?

| Pertanyaan | Jawaban Alkitabiah |

| Kapan? | Ketika diminta, ketika dituduh, ketika ada keraguan, ketika ada kesempatan |
| Di mana? | Di hadapan pengadilan, di tengah orang banyak, dalam percakapan pribadi, di mana pun ada pertanyaan atau keraguan |
| Bagaimana? | Dengan lemah lembut dan hormat, dengan hati nurani murni, dengan kasih, dengan kesaksian pribadi, dengan mengandalkan Roh Kudus |


7.3 Sebuah Rumusan Akhir untuk Seluruh Rangkaian

"Dari Adam-Hawa kita belajar tentang 'echad'—kesatuan yang majemuk dalam kasih. Dari Trinitas kita belajar bahwa Allah adalah kasih dalam relasi. Dari pernikahan kita belajar bahwa ia adalah bayangan dari kesatuan Kristus-gereja. Dari gereja kita belajar bahwa ia adalah tempat pemulihan bagi yang terluka. Dari penginjilan kita belajar bahwa tugas kita adalah merangkul, bukan memberi teori. Dan dari apologetika kita belajar bahwa tugas kita adalah bersaksi tentang pengharapan, bukan memenangkan perdebatan. Karena pada akhirnya, iman bukanlah sebuah sistem yang harus dibuktikan—iman adalah sebuah relasi yang harus dihidupi. Dan relasi itu adalah dengan Yesus Kristus, yang merangkul kita semua dengan kasih yang tidak pernah berakhir, yang oleh Roh Kudus memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran."


7.4 Doa Penutup

Bapa, terima kasih karena Engkau tidak memanggil kami untuk menjadi pembela doktrin yang handal, tetapi menjadi saksi pengharapan yang hidup. Ampunilah kami karena sering kali kami lebih peduli untuk memenangkan argumen daripada mengasihi orang. Ajari kami untuk memberi kesaksian tentang pengharapan yang ada di dalam kami—bukan dengan kata-kata yang rumit, tetapi dengan hidup yang penuh kasih. Dan percayakanlah kepada Roh Kudus pekerjaan meyakinkan, mengajar, dan memimpin orang ke dalam kebenaran. Karena Engkaulah Allah yang merangkul, dan kami adalah anak-anak-Mu. Di dalam nama Yesus, yang adalah Pengharapan kami. Amin.

---

Daftar Pustaka

Sumber Utama

· Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS)
· Novum Testamentum Graece (NA28)

Komentar

· Morris, L. (1992). The Gospel According to Matthew. Eerdmans.
· Carson, D.A. (1991). The Gospel According to John. Eerdmans.
· Fee, G.D. (1987). The First Epistle to the Corinthians. Eerdmans.
· Marshall, I.H. (1991). 1 Peter. IVP.

Apologetika

· Newbigin, L. (1989). The Gospel in a Pluralist Society. Eerdmans.
· Stackhouse, J.G. (2002). Humble Apologetics: Defending the Faith Today. Oxford.
· Keller, T. (2015). Preaching: Communicating Faith in an Age of Skepticism. Viking.

---

Apendiks: Semua Ayat Apologia dalam Perjanjian Baru

| Ayat | Konteks | Catatan |

| Kis. 22:1 | Paulus di hadapan orang banyak | Pembelaan atas tuduhan |
| Kis. 24:10 | Paulus di hadapan Feliks | Pembelaan hukum |
| Kis. 25:8 | Paulus di hadapan Festus | Pembelaan atas tuduhan |
| Kis. 25:16 | Festus menjelaskan hak Paulus | Konteks hukum |
| Kis. 26:1-2 | Paulus di hadapan Agripa | Pembelaan iman |
| Kis. 26:24 | Festus menuduh Paulus gila | Bukan apologetika |
| 1 Kor. 9:3 | Paulus membela kerasulannya | Pembelaan panggilan |
| 2 Kor. 7:11 | "Pembelaan" dalam konteks pertobatan | Bukan apologetika intelektual |
| Flp. 1:7 | Paulus dalam penjara | Pembelaan Injil |
| Flp. 1:16 | Paulus dalam penjara | Pembelaan Injil |
| 2 Tim. 4:16 | Paulus di hadapan pengadilan | Pembelaan di hadapan Kaisar |
| 1 Ptr. 3:15 | Perintah apologetika | Satu-satunya perintah |

---

Akhir dari Seluruh Rangkaian Artikel

---

Disclaimer: Seluruh rangkaian artikel ini adalah hasil penelitian eksegesis dan teologis yang berusaha membangun sebuah kerangka membaca Alkitab yang koheren, alkitabiah, dan pastoral—mulai dari Kejadian hingga Wahyu, dari Adam-Hawa hingga gereja, dari pernikahan hingga penginjilan, dari teologi hingga apologetika. Semua kesalahan adalah tanggung jawab penulis; kebenaran, kasih, dan keadilan adalah milik Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus dan dikerjakan oleh Roh Kudus.

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." — 1 Petrus 3:15

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMAN dan Matematika

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom