Gambar dan Rupa Allah

Gambar dan Rupa Allah: Hakikat yang Diwarisi, Kapasitas yang Terbatas

Memahami Makna "Baiklah Kita Menjadikan Manusia Menurut Gambar dan Rupa Kita"

---

Abstrak

Artikel ini merupakan sintesis dari tiga diskusi terakhir tentang makna "gambar dan rupa Allah" dalam diri manusia. Dengan menelusuri narasi penciptaan, pernyataan Yesus bahwa "Allah adalah Roh," serta peristiwa Musa yang hanya diizinkan melihat "punggung" Allah, artikel ini menunjukkan bahwa manusia mewarisi hakikat Allah (Roh, Kuasa, Hidup, Kasih) tetapi tanpa atribut "Maha." Karena manusia adalah "produk" dari Sumber Hidup, kita tidak memiliki kapasitas untuk berhadapan langsung dengan Allah—sama seperti setetes air yang "hilang" ketika melihat lautan. Artikel ini juga menjelaskan mengapa Yesus Kristus adalah perantara yang sempurna yang memungkinkan kita "melihat" Allah tanpa harus "mati" secara fungsional.

Kata kunci: gambar dan rupa Allah, hakikat Allah, Roh, kapasitas manusia, Sumber Hidup, perantara, Yesus Kristus.

---

Daftar Isi

1. Pendahuluan: Apa Itu "Gambar dan Rupa Allah"?
2. Allah Adalah Roh—Hakikat yang Diwarisi
3. Tanpa Atribut "Maha"—Hukum Sebab Akibat dan Logika
4. Kita Adalah "Produk" dari Sumber Hidup
5. Mengapa Wajah Allah Tidak Bisa Dilihat?
6. Analogi Setetes Air dan Lautan
7. Bagaimana Allah Berhadapan dengan Manusia?
8. Kesimpulan: Gambar dan Rupa, Bukan Kesetaraan
9. Daftar Ayat Kunci

---

Bagian 1: Pendahuluan — Apa Itu "Gambar dan Rupa Allah"?

Pertanyaan tentang apa sebenarnya "gambar dan rupa Allah" dalam diri manusia telah menjadi perdebatan teologis selama berabad-abad. Namun, jika kita membaca Alkitab dengan saksama—khususnya pernyataan bahwa "Allah adalah Roh" (Yohanes 4:24) dan narasi penciptaan manusia dari debu tanah (Kejadian 2:7)—kita menemukan jawaban yang sederhana namun mendalam:

"Gambar dan rupa Allah" berarti manusia mewarisi hakikat Allah, tetapi tanpa atribut "Maha."

Hakikat Allah adalah Roh—dan Roh itu memiliki kuasa, hidup, dan kasih. Manusia, sebagai gambar Allah, mewarisi hakikat ini: kita memiliki roh, kita memiliki kuasa (dalam skala terbatas), kita memiliki hidup (yang fana), dan kita memiliki kasih (yang terbatas). Tetapi kita tidak memiliki atribut "Maha"—kita tidak mahakuasa, tidak mahahidup, tidak mahakasih.

Dan karena seluruh narasi Alkitab menggambarkan hakikat Allah ketika berhadapan dengan ciptaan, maka kita hanya dapat mengenal Allah melalui hasil dari hakikat-Nya—seperti Musa yang hanya melihat "punggung" Allah, bukan wajah-Nya (Keluaran 33:18-23).

---

Bagian 2: Allah Adalah Roh — Hakikat yang Diwarisi

2.1 Pernyataan Yesus: "Allah adalah Roh"

"Allah adalah Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

Pernyataan ini bukan sekadar deskripsi tentang Allah, tetapi definisi hakikat-Nya:

| Aspek | Penjelasan |

| Roh | Bukan materi, tidak terbatas, tidak dapat dilihat dengan mata fisik |
| Kuasa | Roh memiliki kuasa—kuasa untuk mencipta, memelihara, dan menyelamatkan |
| Hidup | Roh adalah sumber kehidupan—semua hidup berasal dari-Nya |
| Kasih | Roh adalah kasih—kasih adalah hakikat-Nya, bukan sekadar atribut |


2.2 Manusia Mewarisi Hakikat Allah

Ketika Allah menciptakan manusia "menurut gambar dan rupa-Nya" (Kejadian 1:26-27), Ia memberikan hakikat-Nya kepada manusia—tetapi dalam skala yang terbatas:

| Hakikat Allah | Dalam Allah | Dalam Manusia |

| Roh | Roh mutlak, tidak terbatas | Roh yang terbatas, tetapi nyata |

| Kuasa | Mahakuasa—dapat mencipta dari ketiadaan | Berkuasa—dapat mengubah dan mencipta dalam skala terbatas |

| Hidup | Mahahidup—tidak dapat mati | Hidup—dapat mati, tetapi memiliki kehidupan |

| Kasih | Mahakasih—kasih yang sempurna dan tanpa syarat | Dapat mengasihi—kasih yang terbatas dan sering kali bersyarat |

Manusia mewarisi hakikat Allah, tetapi tanpa atribut "Maha." Kita adalah roh yang terbatas, kuasa yang terbatas, hidup yang terbatas, dan kasih yang terbatas.


2.3 Manusia sebagai "Produk" dari Sumber Hidup

Kita adalah produk dari Sumber Hidup:

| Aspek | Penjelasan |

| Bahan | Debu tanah—benda mati (Kejadian 2:7) |
| Sumber Hidup | Nafas Allah—kehidupan yang dihembuskan |
| Status | Produk—kami menerima kehidupan dari Sumber, bukan menjadi sumber itu sendiri |

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kejadian 2:7)

Debu adalah benda mati. Nafas Allah adalah kuasa kehidupan. Ketika keduanya bersentuhan, terjadilah hidup. Inilah "gambar dan rupa" Allah dalam tindakan: kemampuan untuk menerima dan menyalurkan kehidupan.

---

Bagian 3: Tanpa Atribut "Maha" — Hukum Sebab Akibat dan Logika

3.1 Mengapa Tanpa Atribut "Maha"?

Karena manusia adalah ciptaan, bukan Pencipta. Kita tidak dapat memiliki atribut "Maha" karena:

| Atribut "Maha" | Penjelasan |

| Mahakuasa | Hanya Allah yang dapat mencipta dari ketiadaan (ex nihilo) |
| Mahahidup | Hanya Allah yang tidak dapat mati—manusia fana |
| Mahakasih | Hanya Allah yang mengasihi dengan sempurna dan tanpa syarat |
| Mahatahu | Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu—manusia terbatas |

Kita adalah gambar Allah, bukan Allah itu sendiri. Kita "seperti" Dia, tetapi kita "bukan" Dia.


3.2 Hakikat Allah Berhadapan dengan Ciptaan: Hukum Sebab Akibat dan Logika

Seluruh narasi Alkitab menggambarkan hakikat Allah ketika berhadapan dengan ciptaan—bukan hakikat-Nya yang absolut dan tidak terlihat. Dan dalam interaksi ini, Allah menggunakan hukum sebab akibat dan logika:

| Contoh | Hukum Sebab Akibat |

| Penciptaan | Allah berfirman → terjadi (Kejadian 1) |
| Hukum Taurat | Jika taat → diberkati; jika tidak → dikutuk (Ulangan 28) |
| Nubuat | Jika bertobat → diampuni; jika tidak → dihukum (Yeremia 18:7-10) |
| Inkarnasi | Yesus mati → dosa diampuni (Roma 3:25-26) |
| Kebangkitan | Yesus bangkit → kita juga akan bangkit (1 Korintus 15:20-22) |

Logika dan sebab akibat adalah "bahasa" Allah ketika berhadapan dengan ciptaan. Ini bukan berarti Allah terbatas oleh logika, tetapi bahwa Ia memilih untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya melalui cara yang dapat dipahami oleh ciptaan-Nya.

---

Bagian 4: Kita Adalah "Produk" dari Sumber Hidup

4.1 Allah Adalah Sumber Hidup

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah adalah sumber segala kehidupan:

"Sebab pada-Mu ada sumber kehidupan, di dalam terang-Mu kami melihat terang." (Mazmur 36:10)

"Allah, yang telah menjadikan dunia dan segala isinya... Ia sendiri memberikan kepada semua orang kehidupan dan nafas dan segala sesuatu." (Kisah Para Rasul 17:24-25)

"Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya kepada Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri." (Yohanes 5:26)

Allah adalah Hidup itu sendiri—bukan sekadar memiliki kehidupan, tetapi adalah kehidupan. Hidup bukanlah atribut yang Ia miliki; Hidup adalah hakikat-Nya.


4.2 Manusia Adalah "Produk" dari Sumber Hidup

Ini analog dengan:

| Analogi | Produk | Sumber |

| Air | Setetes air | Lautan |
| Cahaya | Sinar pantulan | Matahari |
| Api | Percikan api | Tungku |
| Kehidupan | Manusia (hidup yang terbatas) | Allah (Hidup itu sendiri) |

Seperti setetes air yang berasal dari lautan, tetapi tidak pernah menjadi lautan itu sendiri; seperti sinar pantulan yang berasal dari matahari, tetapi tidak pernah menjadi matahari itu sendiri; demikian pula manusia adalah produk dari Sumber Hidup, tetapi tidak pernah menjadi Sumber itu sendiri.

---

Bagian 5: Mengapa Wajah Allah Tidak Bisa Dilihat?

5.1 Kapasitas yang Tidak Sesuai

Firman Tuhan kepada Musa:

"Tetapi firman-Nya: 'Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.'" (Keluaran 33:20)

Mengapa? Karena kapasitas manusia tidak sesuai untuk berhadapan langsung dengan Sumber Hidup.

| Aspek | Kapasitas Manusia | Hakikat Allah |

| Kehidupan | Hidup yang diterima (fana, terbatas) | Hidup itu sendiri (kekal, tak terbatas) |
| Kekudusan | Terbatas, berdosa | Mahakudus, mutlak |
| Kuasa | Terbatas | Mahakuasa |
| Keberadaan | Bergantung pada Allah | Mandiri, tidak bergantung pada apa pun |

Ketika produk berhadapan dengan sumber secara langsung—tanpa perantara, tanpa penyesuaian kapasitas—produk itu akan "merasa" sebagai mati. Bukan karena sumber itu jahat, tetapi karena perbedaan kapasitas yang terlalu besar.

5.2 Logika Akan Shutdown

Logika manusia adalah alat yang terbatas. Ia dapat memahami realitas yang berada dalam jangkauan kapasitasnya, tetapi ia akan "shutdown" ketika berhadapan dengan realitas yang melampaui kapasitasnya.

| Realitas | Kapasitas Logika |

| Dunia fisik (sehari-hari) | Dapat dipahami |
| Alam semesta (skala besar) | Mulai kabur (relativitas, mekanika kuantum) |
| Allah (tak terbatas) | Shutdown — tidak dapat dipahami sepenuhnya |

Inilah sebabnya mengapa iman diperlukan. Bukan karena Allah tidak logis, tetapi karena logika kita terlalu kecil untuk menampung realitas-Nya.

---

Bagian 6: Analogi Setetes Air dan Lautan

6.1 Setetes Air dan Lautan

Anda memberikan analogi yang sangat tepat:

"Seseorang yang memiliki setetes air, akan merasa air itu 'tidak ada' ketika dia melihat laut."

Mari kita perjelas analogi ini:

| Aspek | Setetes Air | Lautan |

| Jumlah | Sangat kecil (1 tetes ≈ 0.05 ml) | Sangat besar (1.332 miliar km³) |
| Perbandingan | 1 : 2.6 × 10²⁵ | — |
| Pengalaman | Saya memiliki air | Saya melihat air yang tak terbatas |
| Perasaan | Air saya "hilang" atau "tidak ada" | Saya "tenggelam" atau "mati" jika masuk ke dalamnya |

Logika manusia akan langsung "shutdown" ketika berhadapan dengan realitas yang jauh melampaui kapasitasnya. Demikian pula ketika manusia berhadapan langsung dengan Allah—Sumber Hidup yang tak terbatas.


6.2 Perbandingan yang Lebih Akurat

Jika setetes air dibandingkan dengan lautan sudah sangat kecil, perbandingan kita dengan Allah jauh lebih ekstrem:

| Perbandingan | Skala |

| Setetes air : Lautan | 1 : 2.6 × 10²⁵ |
| Manusia : Allah | Tak terhingga—kita adalah ciptaan, Ia adalah Pencipta; kita adalah produk, Ia adalah Sumber |

"Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba, dan dianggap seperti debu pada neraca; sesungguhnya, pulau-pulau seperti abu halus." (Yesaya 40:15)

Jika setetes air "hilang" ketika melihat lautan, maka kita—yang jauh lebih kecil dibandingkan Allah—akan "mati" secara fungsional ketika berhadapan langsung dengan Sumber Hidup.


6.3 "Merasa" sebagai Mati

Kata "dapat hidup" di Keluaran 33:20 berarti "bertahan hidup" —secara harfiah, manusia tidak memiliki kapasitas untuk bertahan dalam hadirat langsung Allah. Bukan karena Allah membunuh, tetapi karena perbedaan kapasitas yang terlalu besar:

| Analogi | Penjelasan |

| Matahari | Jika kita terlalu dekat dengan matahari, kita terbakar—bukan karena matahari jahat, tetapi karena intensitasnya terlalu besar |

| Lautan | Jika kita masuk ke dalam lautan tanpa perlengkapan, kita tenggelam—bukan karena lautan jahat, tetapi karena kapasitas kita tidak sesuai |

| Allah | Jika kita berhadapan langsung dengan Allah tanpa perantara, kita "mati" secara fungsional—bukan karena Allah jahat, tetapi karena kapasitas kita tidak sesuai |

---

Bagian 7: Bagaimana Allah Berhadapan dengan Manusia?

7.1 Melalui Perantara

Karena manusia tidak dapat berhadapan langsung dengan Allah, Allah menggunakan perantara:

| Perantara | Penjelasan |

| Musa | Allah berbicara kepada Musa "mulut ke mulut" (Bilangan 12:8), tetapi Musa tetap tidak bisa melihat wajah Allah |

| Para Nabi | Allah berbicara melalui para nabi (Ibrani 1:1) |

| Taurat dan Hukum | Allah memberikan hukum sebagai pedoman |

| Bait Suci | Allah hadir di dalam Bait Suci, tetapi hanya Imam Besar yang bisa masuk, dan hanya setahun sekali |

| Yesus Kristus | Allah menjadi manusia—perantara yang sempurna |


7.2 Melalui "Punggung" Allah

Musa hanya diizinkan melihat "punggung" Allah:

"Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan." (Keluaran 33:23)

Apa artinya?

| Aspek | Penjelasan |

| Wajah Allah | Hakikat Allah yang absolut—tidak dapat dilihat oleh manusia |

| Punggung Allah | Hasil dari hakikat Allah—yaitu, apa yang Allah lakukan, bagaimana Ia bertindak, apa yang Ia ciptakan |

| Bagi Kita | Kita tidak dapat melihat hakikat Allah secara langsung, tetapi kita dapat melihat hasil dari hakikat-Nya: karya-karya-Nya, firman-Nya, dan tindakan-Nya dalam sejarah |


7.3 Melalui Yesus Kristus

Yesus adalah perantara yang sempurna:

"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." (Yohanes 1:18)

"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yohanes 14:9)

Yesus adalah "punggung" Allah yang sempurna—Ia adalah hasil dari hakikat Allah yang terlihat dalam bentuk manusia. Melalui Yesus, kita dapat "melihat" Allah tanpa harus "mati" karena kapasitas kita telah disesuaikan melalui kemanusiaan-Nya.

| Aspek | Penjelasan |

| Yesus adalah Allah | Ia adalah Sumber Hidup itu sendiri |
| Yesus adalah manusia | Ia juga adalah produk—berbagi kemanusiaan kita |
| Ia menjembatani | Sebagai Allah, Ia mewakili Sumber; sebagai manusia, Ia mewakili produk |

"Karena Allah itu esa dan esa pula Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus." (1 Timotius 2:5)

---

Bagian 8: Kesimpulan — Gambar dan Rupa, Bukan Kesetaraan

8.1 Ringkasan Logis

| Premis | Penjelasan |

| Allah adalah Roh | Hakikat Allah adalah Roh yang memiliki kuasa, hidup, dan kasih |

| Manusia mewarisi hakikat Allah | Kita memiliki roh, kuasa, hidup, dan kasih—tetapi tanpa atribut "Maha" |

| Manusia adalah produk dari Sumber Hidup | Kita menerima kehidupan dari-Nya, tetapi kita bukan sumber itu sendiri |

| Produk memiliki kapasitas yang terbatas | Kita adalah setetes air dibandingkan dengan lautan |

| Produk tidak dapat berhadapan langsung dengan sumber | Jika setetes air masuk ke dalam lautan, ia "hilang" |

| Logika manusia akan "shutdown" | Kapasitas kita terlalu kecil untuk menampung realitas Allah |

| Allah menggunakan perantara | Musa, para nabi, Bait Suci, dan akhirnya Yesus Kristus |



8.2 Apa Itu Gambar dan Rupa Allah?

Gambar dan rupa Allah berarti manusia mewarisi hakikat Allah—Roh yang memiliki kuasa, hidup, dan kasih—tetapi tanpa atribut "Maha."

| Hakikat Allah | Diwarisi Manusia | Tanpa Atribut "Maha" |

| Roh | Roh | Tidak maharoh—terbatas |
| Kuasa | Kuasa | Tidak mahakuasa—terbatas |
| Hidup | Hidup | Tidak mahahidup—fana |
| Kasih | Kasih | Tidak mahakasih—terbatas |

8.3 Mengapa Wajah Allah Tidak Bisa Dilihat?

Jawaban singkatnya:

Kita adalah "produk" dari Sumber Hidup. Ketika produk berhadapan langsung dengan sumbernya—tanpa perantara, tanpa penyesuaian kapasitas—produk itu akan "merasa" sebagai mati. Logika kita akan shutdown karena kapasitas kita terlalu kecil untuk menampung realitas Allah.


8.4 Hubungan dengan Mishkan Basar dan Pakaian Kemuliaan

Pemahaman ini konsisten dengan apa yang telah kita bangun sebelumnya:

| Konsep | Penjelasan |

| Mishkan Basar | Yesus adalah "Kemah Daging" — tempat Shekhinah (kemuliaan Allah) berdiam. Tetapi kemuliaan itu tidak terlihat secara langsung; ia hanya terlihat melalui "daging" Yesus |
| Pakaian Kemuliaan | Pakaian kemuliaan adalah manifestasi dari hakikat Allah—bukan hakikat itu sendiri. Ketika Yesus di Tabor, pakaian-Nya bersinar, tetapi itu adalah hasil dari hakikat-Nya, bukan hakikat-Nya secara langsung |
| Gambar dan Rupa | Manusia adalah gambar Allah—kita mewarisi hakikat-Nya (roh, kuasa, hidup, kasih), tetapi kita tidak memiliki atribut "Maha" |

Dengan demikian, kita melihat bahwa seluruh narasi Alkitab adalah tentang hasil dari hakikat Allah, bukan hakikat-Nya yang absolut. Kita tidak dapat melihat wajah Allah, tetapi kita dapat melihat punggung-Nya—yaitu, apa yang Ia lakukan, apa yang Ia katakan, dan bagaimana Ia bertindak.


8.5 Doksologi Penutup

Terpujilah Engkau, ya Allah, Sumber Hidup yang tak terbatas. Engkau adalah lautan kehidupan, dan kami adalah setetes air yang berasal dari-Mu. Kami mewarisi hakikat-Mu—kami memiliki roh, kuasa, hidup, dan kasih—tetapi kami bukan Engkau. Kami adalah gambar-Mu, tetapi kami tidak setara dengan-Mu.

Kami tidak dapat melihat wajah-Mu secara langsung karena kapasitas kami terlalu kecil. Tetapi Engkau, dalam kasih-Mu yang besar, telah memberikan perantara—Yesus Kristus, yang adalah "punggung"-Mu yang sempurna, yang menyatakan Engkau kepada kami.

Kami tidak perlu melihat wajah-Mu untuk mengenal Engkau, karena dalam Yesus, Engkau telah menunjukkan diri-Mu kepada kami. Dan kami menantikan hari ketika kami akan melihat Engkau "muka dengan muka" (1 Korintus 13:12)—bukan karena kami menjadi setara dengan-Mu, tetapi karena Engkau akan memulihkan kapasitas kami sepenuhnya.

"Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (1 Korintus 13:12)

"Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba, dan dianggap seperti debu pada neraca; sesungguhnya, pulau-pulau seperti abu halus." (Yesaya 40:15)

Shaloom. 🙏

---

Daftar Ayat Kunci

Penciptaan dan Gambar Allah

| Ayat | Isi |

| Kejadian 1:26-27 | "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" |
| Kejadian 2:7 | Debu + nafas Allah = manusia hidup |

Allah Adalah Roh dan Sumber Hidup

| Ayat | Isi |

| Yohanes 4:24 | "Allah adalah Roh" |
| Mazmur 36:10 | "Pada-Mu ada sumber kehidupan" |
| Yohanes 5:26 | "Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri" |
| Kisah Para Rasul 17:24-25 | "Allah... memberikan kepada semua orang kehidupan" |

Manusia sebagai Produk

| Ayat | Isi |

| Yesaya 40:15 | "Bangsa-bangsa seperti setitik air dalam timba" |
| Yesaya 64:8 | "Kami ini tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami" |

Wajah Allah Tidak Bisa Dilihat

| Ayat | Isi |

| Keluaran 33:20-23 | "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku... engkau akan melihat belakang-Ku" |
| Yohanes 1:18 | "Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah" |

Yesus sebagai Perantara

| Ayat | Isi |

| Yohanes 14:9 | "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" |
| 1 Timotius 2:5 | "Satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" |

Logika dan Sebab Akibat

| Ayat | Isi |

| Ulangan 28 | Jika taat → diberkati; jika tidak → dikutuk |
| Roma 3:25-26 | Yesus mati → dosa diampuni |
| 1 Korintus 15:20-22 | Yesus bangkit → kita juga akan bangkit |

Doksologi dan Penantian

| Ayat | Isi |

| 1 Korintus 13:12 | "Sekarang kita melihat dalam cermin... nanti muka dengan muka" |
| Roma 1:20 | Sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan dapat dilihat dari ciptaan |

---

Pernyataan Akhir

"Gambar dan rupa Allah" berarti manusia mewarisi hakikat Allah—Roh yang memiliki kuasa, hidup, dan kasih—tetapi tanpa atribut "Maha." Kita adalah produk dari Sumber Hidup, dan sebagai produk, kita tidak memiliki kapasitas untuk berhadapan langsung dengan Sumber tanpa perantara. Musa hanya diizinkan melihat "punggung" Allah; kita hanya dapat melihat hasil dari hakikat Allah, bukan hakikat-Nya secara langsung. Namun dalam Yesus Kristus, Allah telah menyediakan perantara yang sempurna—Ia yang adalah Allah dan manusia sekaligus, yang memungkinkan kita "melihat" Allah tanpa harus "mati" secara fungsional.

---

"Sebab pada-Mu ada sumber kehidupan, di dalam terang-Mu kami melihat terang." (Mazmur 36:10)

"Dan kami telah mengenal dan percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yohanes 4:16)

Shaloom. 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMAN dan Matematika

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom