Mishkan Basar - Tirai, Ruang Kudus dan Mahakudus, Tabut Perjanjian dan Mezbah Kurban.

Mishkan Basar - Tirai, Ruang Kudus dan Mahakudus, Tabut Perjanjian dan Mezbah Kurban. 

Sintesis Teologis: Mishkan Basar sebagai Penjelasan "Dwinatur" Tanpa Kerangka Physis-Yunani

Model Mishkan Basar secara tidak langsung menjelaskan realitas yang coba ditangkap oleh dogma "dua natur" (Kalsedon), namun tanpa terjebak dalam kerangka filosofis Yunani yang problematis (physis, hypostasis, ousia).

---

I. Anatomi Mishkan sebagai Metafora Kristologis

1.1 Struktur Tiga Ruang Mishkan dan Korelasinya dengan Yesus

Ruang Mishkan 
- Karakteristik 
- Lambang dalam Diri Yesus 
- Dasar Alkitab

Tempat Kudus (HaKodesh) - Imam biasa bisa masuk - Ada roti sajian, kandil, mezbah dupa - Masih dalam ranah fana/duniawi Kemanusiaan Yesus yang tak bercacat - hidup tanpa dosa, namun tetap dalam basar (daging yang fana) Ibrani 4:15 - "sama seperti kita, namun tidak berdosa" Yohanes 1:14 - "Firman itu menjadi daging"
TIRAIM (Parokhet) - Pemisah antara kudus dan mahakudus - Satu-satunya penghalang sekaligus satu-satunya jalan - Terbuat dari kain ungu, kain ungu muda, kain kirmizi, dan lenan halus (Keluaran 26:31) Pribadi Yesus sebagai mediator - Ia adalah "jalan" (Yohanes 14:6), "pintu" (Yohanes 10:9), sekaligus "tirai yang robek" (Ibrani 10:20) Efesus 2:14 - "Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang merobohkan teman pemisah, yaitu perseteruan"
Tempat Mahakudus (Kodesh HaKodashim) - Hanya Imam Besar, setahun sekali - Tabut Perjanjian, kapporet (tutup pendamaian) - Kehadiran Shekhinah yang transenden Ke-Allah-an Yesus - realitas ilahi yang tak terlihat namun hadir di balik "tirai" daging-Nya Kolose 2:9 - "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" Yohanes 10:30 - "Aku dan Bapa adalah satu"

1.2 Penjelasan Krusial: 
Ini menjelaskan paradoks kristologis yang selama ini membingungkan. Perilaku Yesus yg menerima penyembahan tapi meminta menyembah Bapa. 

Penjelasan dalam Model Mishkan Basar 

Menerima penyembahan (Matius 14:33; 28:9; Yohanes 20:28 - Tomas: "Ya Tuhanku dan Allahku") Karena di balik tirai (daging Yesus) hadirlah Shekhinah (ke-Allah-an) secara utuh. Menyembah Yesus = menyembah Allah yang hadir di balik tirai. Jika Yesus hanya "manusia biasa" (Ebionit, Arian), penyembahan adalah syirik.

Menyuruh menyembah Bapa (Yohanes 4:23-24; 16:23) Karena Yesus sebagai tirai tidak menggantikan Shekinah. Tirai selalu menunjuk ke luar dirinya menuju realitas di baliknya. Jika Yesus = Bapa secara langsung tanpa "tirai" (Modalisme/Sabellianisme), maka menyuruh menyembah Bapa berarti menyembah diri sendiri.

Berdoa kepada Bapa (Yohanes 17; Matius 26:39) Sebagai tirai yang hidup, Yesus dalam kemanusiaan-Nya (ruang kudus) berorientasi ke Shekinah dalam ruang Mahakudus. Doa adalah ekspresi relasi "antara dua ruang." 

Perkataan "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30) Adalah kesatuan fungsional dan ontologis. 
Merujuk pada Yesus sebagai Mishkan Basar yaitu Bait Allah yang didalamnya ada Tabut Perjanjian. Dalam Tabut Perjanjian tertulis Firman Allah pada dua lohbatu. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1). Karenanya diatas Tabut Perjanjian diselimuti Shekinah. 
Jika Yesus hanya tirai tanpa realitas ilahi di baliknya, kesatuan ini hanya metafora kosong.

---

II. Mengapa Model Mishkan Basar Lebih Unggul dari Kerangka Physis-Yunani

2.1 Problem "Dwinatur" dalam Kerangka Kalsedon

Konsili Kalsedon (451 M) merumuskan:

"Satu Pribadi dalam dua natur (physis) , tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan."

Problemnya:

Istilah 
- Makna Yunani 
- Masalah untuk Kristologi

Physis 
- Proses pertumbuhan, perubahan, keterbatasan (dari phyō = tumbuh) 
- Allah bukan physis karena Ia tidak berubah, tidak terbatas, tidak "tumbuh".

Ousia 
- Esensi, keberadaan inti 
- Lebih netral, tetapi Bapa Kapadokia pun menggunakannya dengan hati-hati

Hypostasis 
- Substansi konkret, realitas individual 
- Masih dalam kerangka metafisika substansi (Aristoteles), tapi Allah itu Roh, bukan substansi

Konsekuensi absurd dari kerangka physis:

1. Jika Yesus memiliki "natur manusia", apakah natur itu tumbuh dan berubah? (Ya, secara jasmani. Tapi apakah "natur ilahi" juga tumbuh? Tidak - absurd.)
2. Jika kedua natur "tidak bercampur", bagaimana penjelasan komunikasi atribut (communicatio idiomatum)? Apakah "natur ilahi" bisa mati? (Tidak - absurd.)
3. Jika "natur" adalah kategori makhluk, apakah kita berkata bahwa Allah memiliki "natur" seperti batu, pohon, atau manusia? (Category error.)

2.2 Keunggulan Model Mishkan Basar

Model Mishkan Basar menjelaskan realitas yang sama tanpa kesalahan kategori:

Realitas Kristologis 
- Penjelasan Kalsedon (bermasalah) 
- Penjelasan Mishkan Basar (koheren)

Yesus sungguh manusia 
- Memiliki physis manusia yang lengkap 
- Tempat Kudus - hidup dalam basar (daging fana) dengan segala keterbatasan, namun tanpa dosa. Sama seperti imam yang melayani di ruang kudus.

Yesus sungguh Allah 
- Memiliki physis ilahi (tapi physis adalah kategori makhluk!) 
- Ruang Mahakudus - Shekhinah (kemuliaan Allah) hadir secara nyata di balik tirai daging. Yesus bukan Shekinah, melainkan tirai yang menghadirkan Shekinah dalam ruang Mahakudus.

Dua "hal" dalam satu Pribadi 
- Dua physis dalam satu hypostasis (istilah asing bagi Alkitab) 
- Tiga ruang dalam satu kemah - kemah secara keseluruhan adalah Yesus. Tirai memisahkan sekaligus menyatukan ruang kudus dan mahakudus.

Tercakup dalam formula "tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan" 
- Empat negasi yang membingungkan 
- Tirai - tidak bercampur dengan ruang kudus (tetap terpisah), tidak berubah (tirai tetap tirai), tidak terbagi (satu kesatuan kemah), tidak terpisahkan (tanpa tirai, kemah bukan kemah).

---

III. Implikasi Khusus: Penyembahan dan Doa

3.1 Mengapa Yesus Menerima Penyembahan?

Dalam kerangka Mishkan Basar, penyembahan kepada Yesus bukanlah penyembahan kepada daging (basar), melainkan penyembahan kepada Shekhinah yang hadir di balik tirai. Analogi:

· Tabernakel Perjanjian Lama: Orang Israel menyembah di depan kemah, bukan karena kemah itu Allah, tetapi karena di dalam kemah itu hadir Shekhinah. Namun, apakah "menyembah di depan kemah" sama dengan "menyembah kemah"? Tidak. Apakah itu penyembahan yang sah? Ya, karena Allah sendiri yang memerintahkan membangun kemah sebagai tempat pertemuan (Keluaran 25:8,22).

· Mishkan Basar Yesus: Sama seperti kemah PL adalah tempat Shekhinah, demikian pula Yesus adalah tempat kehadiran Allah secara permanen. Menyembah Yesus adalah menyembah Bapa melalui Anak - bukan menyembah daging, melainkan menyembah realitas ilahi yang hadir di dalam-Nya.

Firman Tuhan dalam Yohanes 5:23: "Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia."

Dalam model Mishkan Basar: Menghormati tirai (Anak) = menghormati Mahakudus (Bapa), karena tirai adalah satu-satunya akses ke Mahakudus.

3.2 Mengapa Yesus Menyuruh Menyembah Bapa?

Yesus berkata dalam Yohanes 4:23: "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran."

Dalam kerangka Mishkan Basar:

1. Tirai tidak menyembah dirinya sendiri - tirai selalu menunjuk ke luar dirinya menuju kemuliaan di baliknya. Demikian pula Yesus, dalam kemanusiaan-Nya (ruang kudus), secara sadar mengarahkan penyembahan kepada Bapa.
2. Yesus sebagai Imam Besar - Tugas imam besar adalah membawa umat ke hadirat Allah, bukan menjadi pusat penyembahan. Dalam Ibrani, imam besar tidak pernah berkata "sembahlah aku," melainkan "masuklah ke hadirat Allah."
3. Relasi Bapa-Anak - Kesatuan tidak berarti penghapusan relasi. Tirai dan ruang mahakudus adalah satu kemah, tetapi tirai bukan Shekinah dalam ruang mahakudus, dan Shekinah dalam ruang mahakudus bukan tirai. Relasi "Bapa-Anak" dalam Perjanjian Baru (Yohanes 17:21-23) adalah kesatuan relasional, bukan peleburan (yang akan menjadi panteisme atau modalisme), ini searah dengan arti dari "echad" Ulangan 6:4

3.3 Memecahkan "Komunikasi Atribut" (Communicatio Idiomatum)

Salah satu problem terbesar teologi dwinatur tradisional: Dapatkah kita berkata "Allah mati di kayu salib"?

Jika ya → seolah-olah Allah bisa mati (patripasianisme - bapa menderita)

Jika tidak → seolah-olah Yesus yang mati bukan Allah (Nestorianisme)

Solusi Mishkan Basar:

Pernyataan 
- Penjelasan Mishkan Basar 
- Contoh Analogi

"Allah mati di kayu salib" 
- Tidak tepat secara harfiah. 
Yang mati adalah basar (daging) yang ditempati Shekhinah. Shekhinah sendiri tidak mati, sama seperti kemah bisa roboh tetapi kemuliaan Allah yang mendiaminya tidak ikut roboh. 
- Jika sebuah istana terbakar, apakah rajanya ikut terbakar? Tidak. Raja tinggal di istana tetapi tidak menjadi istana.

"Yesus (sebagai Pribadi) mati" 
- Ya, secara relasional dan fungsional. 
Pribadi Yesus yang adalah Mishkan Basar arti lain dari Bait Allah, kesatuan tirai+ruang kudus+kehadiran Shekhinah - mengalami kematian secara basar. Namun ke-Allah-an yang hadir tidak "berhenti menjadi Allah." 
- Tirai yang robek tidak berarti ruang mahakudus lenyap; ruang mahakudus tetap ada, tetapi aksesnya sekarang terbuka.

"Darah Yesus adalah darah Allah" (Kisah Para Rasul 20:28) 
- Ya, secara anamenik dan representatif. 
Darah basar Yesus adalah darah yang di atasnya hadir Shekhinah. Sama seperti darah kurban dalam PL disebut "darah perjanjian" (Keluaran 24:8) yang menghadirkan Allah, demikian pula darah Yesus. 
- Bendera negara bukan negara itu sendiri, tetapi mewakili kedaulatan negara. Menghina bendera = menghina negara.

---

IV. Tabel Komparatif: Mishkan Basar vs Kalsedon vs Ajaran Sesat

Ajaran 
- Rumusan 
- Masalah 
- Solusi Mishkan Basar

Arianisme 
- Yesus adalah makhluk, bukan Allah 
- Tidak bisa menerima penyembahan; kontradiksi dengan Yohanes 20:28 
- Yesus adalah tirai di baliknya hadir Shekhinah (ke-Allah-an utuh). Menyembah Yesus = menyembah Shekhinah yang hadir.

Apollinarianisme 
- Yesus tidak memiliki jiwa manusia; Logos menggantikan jiwa Kemanusiaan 
- Yesus tidak lengkap 
- Tempat Kudus - Yesus memiliki basar (daging) yang lengkap, termasuk jiwa/roh manusia (Matius 26:38 - "sedih hati").

Nestorianisme 
- Dua pribadi terpisah (manusia Yesus dan Logos) 
- Memecah Kristus menjadi dua subjek Kesatuan kemah - tirai, ruang kudus, dan mahakudus adalah satu kemah, bukan tiga entitas terpisah.

Eutikhesianisme 
- Dua natur bercampur menjadi satu natur baru 
- Yesus bukan sungguh manusia, bukan sungguh Allah 
- Tirai - tidak bercampur dengan ruang kudus (tetap terpisah), tetapi tidak terpisah dari kesatuan kemah.

Kalsedon (ortodoks) 
- Dua physis dalam satu hypostasis 
- Physis adalah kategori makhluk (problem kategori) 
- Mishkan Basar - menggunakan metafora ruang, bukan metafisika substansi. 
- Menjelaskan realitas yang sama tanpa kesalahan kategori.

---

V. Kesimpulan Akhir: Mishkan Basar sebagai Teologi Alternatif yang Sah

"Mishkan Basar secara tidak langsung menjelaskan 'dwinatur' tanpa harus disebut dwinatur."

Model ini:

1. Menghormati realitas ganda - Yesus sungguh manusia (basar yang fana) dan sungguh Allah (Shekhinah hadir di balik tirai) - tanpa harus menggunakan kategori physis yang problematis.
2. Menjelaskan penyembahan kepada Yesus - karena di balik tirai daging-Nya hadirlah kemuliaan Allah yang layak disembah.
3. Menjelaskan doa Yesus kepada Bapa - karena sebagai tirai dan imam besar, Ia secara fungsional berada di "ruang kudus" yang berorientasi ke "mahakudus."
4. Menjelaskan relasi Trinitas - Bapa sebagai sumber Shekhinah, Putra sebagai Mishkan Basar (tirai + ruang kudus yang ditempati Shekhinah), Roh Kudus sebagai daya yang "menaungi" (Lukas 1:35) sehingga tirai terbentuk.
5. Tetap setia pada Alkitab - berbasis pada tabernakel (Keluaran 25-40), Yohanes 1:14 (eskēnōsen), dan Ibrani 10:20 (tirai = daging).

Dengan demikian, Mishkan Basar bukanlah bidah atau penyimpangan dari iman Kristen, melainkan ressourcement (kembali ke sumber Alkitabiah) yang justru lebih setia pada akar Ibrani iman Kristen daripada formulasi Yunani abad ke-5.

Akhirnya, model ini mengundang gereja untuk:

· Merayakan Perjamuan dengan kesadaran bahwa pemecahan roti = robeknya tirai
· Menyembah Yesus dengan pengertian bahwa di balik daging-Nya hadir Shekhinah Bapa
· Berdoa "dalam nama Yesus" dengan keyakinan bahwa tirai telah robek, akses ke Mahakudus terbuka lebar

Soli Deo Gloria - melalui Mishkan Basar, Yesus Kristus, Tuhan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Artikel

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Shalom dan Beshalom