Ekaristi dan Kehadiran Allah: Mencermati Eden untuk Menyadari Kehadiran Sejati Allah - Dari Eden ke Altar

Ekaristi dan Kehadiran Allah: Mencermati Eden untuk Menyadari Kehadiran Sejati Allah

Pendahuluan: Dari Eden ke Altar

Perdebatan tentang Ekaristi—apakah roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (transubstansiasi), atau Kristus hadir "di samping" elemen-elemen itu (konsubstansiasi), atau hanya simbol peringatan—telah memecah belah gereja selama berabad-abad. Tetapi jika kita mundur sejenak dari perdebatan teknis itu dan melihatnya melalui lensa Eden, kita akan menemukan sesuatu yang mengejutkan: perdebatan tentang bagaimana Allah hadir mungkin bukanlah pertanyaan yang paling penting. Yang lebih penting adalah apakah kita mengenali kehadiran-Nya ketika Ia datang—atau apakah kita, seperti Adam, menyalahartikannya sebagai interogasi dan bersembunyi.

Artikel ini akan menelusuri tiga benang: (1) bagaimana di Eden manusia salah membaca kehadiran Allah—menganggap Allah yang mencari sebagai Allah yang menginterogasi; (2) bagaimana kesalahpahaman yang sama terjadi dalam liturgi gereja, termasuk dalam perdebatan tentang transubstansiasi dan konsubstansiasi; dan (3) bagaimana pemahaman yang dangkal tentang "cukup satu kali" dan predestinasi mengungkapkan kesalahpahaman kita tentang kekekalan Allah—bahwa bagi Allah, seluruh waktu adalah satu waktu dalam kekekalan-Nya, dan karena itu Ia tidak "enggan" hadir, melainkan terus-menerus hadir.

---

Bagian I: Eden—Allah yang Mencari, Manusia yang Bersembunyi

1.1. "Di Manakah Engkau?"—Pertanyaan yang Salah Dibaca

Setelah Adam dan Hawa jatuh, mereka mendengar "suara TUHAN Allah yang sedang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk" (Kejadian 3:8). Apa respons mereka? Mereka bersembunyi. Lalu Allah memanggil: "Di manakah engkau?" (3:9).

Pertanyaan ini sering dibaca sebagai interogasi—Allah yang marah, yang mencari pelanggar untuk dihukum. Tetapi bacalah dalam terang seluruh narasi Alkitab: Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4:8). Ia tahu di mana Adam berada. Pertanyaan itu bukan untuk mendapatkan informasi, melainkan untuk mengundang Adam keluar dari persembunyiannya. Ini adalah pertanyaan yang mencari, bukan yang menginterogasi.

Namun Adam—oleh kenaifan intelektualnya, oleh rasa takut dan malunya—membaca pertanyaan itu sebagai ancaman. Ia menjawab: "Aku takut, karena aku telanjang; sebab itu aku sembunyi" (3:10). Ia memproyeksikan kepada Allah motif yang tidak dimiliki Allah. Ia membangun tembok—dan tembok itu adalah kesalahpahaman, bukan penolakan sadar.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

1.2. Proyeksi: Kita Melihat Allah Sesuai dengan Ketakutan Kita

Inilah pelajaran Eden yang paling mendalam: manusia cenderung memproyeksikan kepada Allah apa yang ia takuti dalam dirinya sendiri. Adam takut akan hukuman, maka ia melihat Allah sebagai hakim. Adam malu akan ketelanjangannya, maka ia melihat Allah sebagai pengintai. Adam ingin otonom, maka ia melihat Allah sebagai pembatas.

Pola ini berulang di sepanjang Alkitab. Ketika bangsa Israel gemetar di Sinai, mereka berkata kepada Musa: "Janganlah Allah berbicara langsung kepada kami, supaya kami jangan mati" (Keluaran 20:19). Mereka memproyeksikan kepada Allah niat yang tidak Ia miliki—padahal Allah baru saja membebaskan mereka dari Mesir dan ingin bersekutu dengan mereka.

Dan pola ini mencapai puncaknya dalam Kristus: Allah datang dalam rupa hamba, mencari yang terhilang, makan bersama orang berdosa—dan manusia membacanya sebagai ancaman, sebagai penghujatan, sebagai alasan untuk menyalibkan Dia.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

---

Bagian II: Liturgi—Ketika Gereja Mengulangi Kesalahan Eden

2.1. Transubstansiasi vs. Konsubstansiasi: Perdebatan tentang "Bagaimana"

Dalam teologi Katolik, transubstansiasi menyatakan bahwa substansi roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, sementara rupa (aksiden) tetap. Dalam beberapa tradisi Protestan, konsubstansiasi menyatakan bahwa Kristus hadir "bersama" elemen-elemen itu, tanpa perubahan substansi. Tradisi lain menekankan kehadiran spiritual melalui iman.

Perdebatan ini penting secara teologis, tetapi dari perspektif Eden, ia bisa menjadi tembok. Ketika kita menghabiskan energi untuk memastikan bagaimana Allah hadir, kita bisa kehilangan Dia yang hadir. Kita bisa menjadi seperti Adam: sibuk menganalisis ketelanjangan kita, sementara Allah berdiri di depan kita dan bertanya, "Di manakah engkau?"

Status: Inferensi teologis.

2.2. Apakah Allah "Perlu" Transubstansiasi?

Pertanyaan yang lebih dalam: apakah Allah harus dan perlu menjadi transubstansiasi atau konsubstansiasi untuk bersama dengan kita? Pertanyaan ini mengandung asumsi bahwa Allah membutuhkan mekanisme tertentu untuk hadir—seolah-olah Ia terikat oleh kategori-kategori kita.

Tetapi Allah tidak "perlu" apa pun. Ia hadir karena Ia mengasihi. Transubstansiasi dan konsubstansiasi adalah upaya kita—mungkin upaya yang sah dan berguna—untuk menjelaskan bagaimana kehadiran itu terjadi. Tetapi keduanya bisa menjadi berhala jika kita mengira bahwa Allah terikat oleh penjelasan kita—bahwa Ia hanya hadir jika kita telah mendefinisikan mekanismenya dengan benar.

Status: Inferensi teologis.

2.3. Adorasi: Respons terhadap Kehadiran, atau Tembok Baru?

Adorasi Ekaristi—penyembahan kepada Kristus yang hadir dalam roti dan anggur—adalah respons yang wajar jika kita percaya akan kehadiran nyata. Tetapi adorasi juga bisa menjadi tembok jika ia menggantikan perjumpaan yang hidup dengan Allah yang mencari. Jika kita menyembah "Kristus dalam Ekaristi" tetapi mengabaikan "Kristus dalam sesama yang lapar" (Matius 25:35-40), kita telah membangun tembok—sama seperti Adam yang menyembah Allah dengan kata-kata tetapi bersembunyi dari-Nya.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

2.4. Liturgi sebagai Perjumpaan, Bukan Formula

Liturgi yang sejati bukanlah formula untuk memanggil Allah turun, melainkan ruang perjumpaan di mana kita membuka diri kepada Allah yang sudah hadir. Ketika liturgi menjadi sekadar kewajiban, atau ketika kita mengira bahwa kita "menghadirkan" Allah melalui ritual yang benar, kita telah mengulangi kesalahan Eden: kita mengira kita dapat mengendalikan Allah dengan tindakan kita.

Allah tidak perlu "dihadirkan" oleh liturgi kita. Ia sudah hadir. Liturgi adalah respons kita—seperti Adam seharusnya keluar dari persembunyiannya dan berjumpa dengan Allah yang mencari. Liturgi adalah undangan untuk keluar dari tembok kita, bukan tembok baru untuk bersembunyi di baliknya.

Status: Inferensi teologis.

---

Bagian III: "Cukup Satu Kali"—Kesalahpahaman tentang Kekekalan dan Predestinasi

3.1. Pemahaman Dangkal tentang "Sekali untuk Selamanya"

Ibrani 10:10 menyatakan: "Kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus." Ayat ini sering dibaca secara dangkal: "Kristus sudah mati sekali, jadi tidak perlu lagi—cukup satu kali." Dari pembacaan ini muncul kesimpulan bahwa Allah "enggan" hadir berulang-ulang—bahwa Ia hanya bertindak sekali, lalu menarik diri.

Tetapi ini adalah kesalahpahaman tentang kekekalan. Bagi Allah, seluruh waktu adalah satu waktu dalam kekekalan-Nya. "Sekali untuk selamanya" bukan berarti "sekali lalu selesai," melainkan "sekali yang berlaku untuk selama-lamanya"—satu peristiwa yang dalam kekekalan Allah tidak pernah menjadi "masa lalu." Pengorbanan Kristus bukanlah peristiwa yang sudah lewat; ia adalah peristiwa yang dalam kekekalan Allah selalu kini.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

3.2. Kekekalan Allah: Bukan Waktu yang Panjang, Melainkan Ketiadaan Waktu

Kita cenderung membayangkan kekekalan sebagai "waktu yang sangat panjang"—juta tahun, miliar tahun. Tetapi kekekalan Alkitabiah bukanlah kuantitas waktu, melainkan kualitas keberadaan yang melampaui waktu. Allah tidak "menunggu" di antara tindakan-tindakan-Nya; Ia tidak "pernah" enggan hadir; Ia tidak "perlu" dihadirkan ulang oleh ritual kita.

Mazmur 90:4 berkata: "Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam." Bagi Allah, seluruh sejarah—dari Eden hingga akhir zaman—adalah satu momen dalam pandangan-Nya. Karena itu, ketika kita merayakan Ekaristi, kita tidak "mengulang" pengorbanan Kristus; kita berpartisipasi dalam satu peristiwa yang dalam kekekalan Allah selalu kini.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

3.3. Predestinasi: Bukan Allah yang Memilih Sebagian, Melainkan Allah yang Melihat Seluruh Waktu

Kesalahpahaman tentang "cukup satu kali" sering berkaitan dengan kesalahpahaman tentang predestinasi. Jika Allah hanya "memilih" sebagian orang untuk diselamatkan, dan "membiarkan" yang lain—maka Allah tampak seperti Allah yang enggan, yang hanya hadir bagi sebagian orang.

Tetapi predestinasi, dalam pemahaman yang lebih dalam, bukanlah tentang Allah yang memilih sebagian dan menolak yang lain. Predestinasi adalah tentang Allah yang melihat seluruh waktu dalam satu pandangan kekal—yang mengetahui sejak kekekalan siapa yang akan menerima kasih-Nya, tetapi yang tetap menawarkan kasih itu kepada semua orang. "Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan" (1 Timotius 2:4). Predestinasi bukan alasan untuk berkata "Allah tidak memilihku"—itu adalah misteri yang seharusnya membuat kita berlutut, bukan tembok untuk bersembunyi.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

3.4. Allah Tidak "Enggan" Hadir

Kesimpulannya: Allah tidak "enggan" hadir. Ia tidak "cukup sekali" lalu menarik diri. Dalam kekekalan-Nya, Ia selalu hadir—di Eden, di Sinai, di kayu salib, di Ekaristi, di hati orang percaya, di akhir zaman. Yang berubah bukanlah kehadiran Allah, melainkan kesediaan kita untuk mengenali dan menerima kehadiran itu.

Adam bersembunyi, maka ia tidak merasakan kehadiran Allah sebagai kasih—ia merasakannya sebagai ancaman. Demikian pula kita: ketika kita membangun tembok—entah tembok transubstansiasi, tembok konsubstansiasi, tembok ritual, tembok doktrin—kita bisa kehilangan kesadaran akan kehadiran Allah yang sudah ada di sana.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

---

Bagian IV: Ekaristi sebagai Eden yang Dipulihkan

4.1. Ekaristi: Allah yang Mencari, Kita yang Menerima

Jika Eden adalah kisah tentang Allah yang mencari dan manusia yang bersembunyi, maka Ekaristi adalah kisah tentang Allah yang mencari dan manusia yang menerima. Dalam Ekaristi, kita tidak "menghadirkan" Allah—kita datang kepada Allah yang sudah hadir, yang mengundang kita keluar dari persembunyian kita, yang memberi kita "pakaian" kasih-Nya.

Ekaristi adalah perjamuan—dan perjamuan adalah tempat di mana tembok-tembok runtuh. Di meja perjamuan, tidak ada hirarki, tidak ada proyeksi, tidak ada persembunyian. Ada hanya Allah yang memberi diri-Nya dan manusia yang menerima dengan tangan terbuka.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

4.2. Kehadiran Nyata: Bukan karena Mekanisme, tetapi karena Kasih

Apakah Kristus hadir secara nyata dalam Ekaristi? Ya—tetapi bukan karena transubstansiasi atau konsubstansiasi sebagai mekanisme. Ia hadir karena Ia adalah Kasih yang mencari, yang berjanji: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:20). Kehadiran-Nya dalam Ekaristi adalah kelanjutan dari kehadiran-Nya di Eden—Allah yang berjalan mencari, yang tidak pernah berhenti mengundang kita keluar dari persembunyian kita.

Transubstansiasi dan konsubstansiasi adalah upaya kita untuk memahami misteri ini—dan upaya itu sah, selama kita tidak mengira bahwa Allah terikat oleh penjelasan kita. Allah hadir bukan karena kita telah mendefinisikan mekanismenya dengan benar, melainkan karena Ia mengasihi kita.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

4.3. Adorasi yang Sejati: Keluar dari Persembunyian

Adorasi yang sejati bukanlah bersembunyi di balik ritual, melainkan keluar dari persembunyian—mengakui ketelanjangan kita, menerima pakaian kasih Allah, dan berjumpa dengan-Nya. Adorasi yang sejati adalah ketika kita berkata seperti Adam seharusnya berkata: "Tuhan, aku telanjang—tetapi Engkau sudah tahu, dan Engkau tetap mencari. Terima kasih."

Status: Inferensi teologis.

---

Bagian V: Kesimpulan—Kehadiran yang Tidak Pernah Berhenti

Mari kita rangkum:

1. Di Eden, manusia salah membaca kehadiran Allah. Allah yang mencari dibaca sebagai Allah yang menginterogasi. Adam bersembunyi, membangun tembok—bukan karena Allah menjauh, melainkan karena Adam salah memahami siapa Allah.
2. Kesalahpahaman yang sama terjadi dalam liturgi gereja. Perdebatan tentang transubstansiasi dan konsubstansiasi bisa menjadi tembok jika kita mengira Allah terikat oleh mekanisme kita. Allah tidak "perlu" transubstansiasi atau konsubstansiasi untuk hadir—Ia hadir karena Ia mengasihi.
3. "Cukup satu kali" adalah kesalahpahaman tentang kekekalan. Bagi Allah, seluruh waktu adalah satu waktu. Pengorbanan Kristus bukan peristiwa masa lalu—ia adalah peristiwa yang dalam kekekalan Allah selalu kini. Allah tidak "enggan" hadir; Ia selalu hadir.
4. Predestinasi bukanlah tembok untuk bersembunyi. Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Predestinasi adalah misteri yang seharusnya membuat kita berlutut, bukan alasan untuk berkata "Allah tidak memilihku."
5. Ekaristi adalah Eden yang dipulihkan. Di sana, Allah mencari dan kita menerima. Di sana, tembok-tembok runtuh. Di sana, kita keluar dari persembunyian kita dan berjumpa dengan Allah yang sudah tahu kita telanjang—dan tetap mengasihi kita.

Maka pertanyaan bagi kita—dan bagi gereja—adalah ini: apakah kita masih bersembunyi di balik tembok-tembok kita—tembok doktrin, tembok ritual, tembok proyeksi? Ataukah kita bersedia keluar dari persembunyian kita, mengakui ketelanjangan kita, dan menerima pakaian kasih Allah yang selalu mencari?

Sebab Allah tidak pernah enggan hadir. Ia selalu berjalan di taman, selalu bertanya "Di manakah engkau?", selalu mengetuk pintu. Yang perlu berubah bukanlah kehadiran-Nya, melainkan kesediaan kita untuk mengenali dan menerima-Nya.

Soli Deo Gloria.

---

Daftar Referensi Alkitab:

Perjanjian Lama:

· Kejadian 3:8-10, 21; Keluaran 20:19; Mazmur 90:4.

Perjanjian Baru:

· Matius 25:35-40; 28:20; Yohanes 6:53; 14:9; 1 Timotius 2:4; Ibrani 10:10; 1 Yohanes 4:8; Wahyu 3:20.

Teolog:

· Augustinus, Confessions; City of God—tentang kekekalan Allah dan waktu.
· Thomas Aquinas, Summa Theologica—tentang Ekaristi dan kehadiran nyata.
· Karl Barth, Church Dogmatics—tentang Allah yang selalu bertindak dan hadir.
· JΓΌrgen Moltmann, The Crucified God (1972)—tentang Allah yang menderita dan hadir.
· Dietrich Bonhoeffer, Creation and Fall (1933)—tafsiran Kejadian 3.
· N.T. Wright, The Day the Revolution Began (2016).

Sekuler:

· Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (1961)—tentang perjumpaan dengan "Yang Lain."
· Martin Buber, I and Thou (1923)—relasi "Aku-Engkau" versus "Aku-Itu."
· Literatur tentang projection dan idolatry dalam psikologi agama.

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan