Definisi Kematian, Penderitaan, dan "Versi Mini Allah" yang Alkitabiah; Membangun Kerangka Teologis yang Koheren Berdasarkan Kategori Alkitab Sendiri
Definisi Kematian, Penderitaan, dan "Versi Mini Allah" yang Alkitabiah
Membangun Kerangka Teologis yang Koheren Berdasarkan Kategori Alkitab Sendiri
---
Pendahuluan: Mengapa Definisi Itu Penting
Seluruh bangunan teologi Kristen — tentang Allah, tentang manusia, tentang keselamatan, tentang inkarnasi — berdiri atau runtuh berdasarkan definisi yang kita gunakan. Ketika kita salah mendefinisikan kematian, kita akan salah memahami salib. Ketika kita salah mendefinisikan penderitaan, kita akan salah memahami Allah. Ketika kita salah mendefinisikan manusia sebagai gambar Allah, kita akan salah memahami inkarnasi.
Selama berabad-abad, banyak definisi teologis telah dibentuk oleh kategori filsafat Yunani — bukan oleh kategori Alkitab. Akibatnya, muncul berbagai kontradiksi:
· Jika Allah tidak dapat menderita, bagaimana Ia dapat mengasihi?
· Jika Allah tidak dapat mati, bagaimana Yesus — yang adalah Allah — dapat mati?
· Jika manusia adalah gambar Allah, mengapa manusia begitu berbeda dari Allah?
Artikel ini akan membangun tiga definisi alkitabiah yang menjawab semua pertanyaan ini dengan koheren:
1. Definisi kematian — bukan berakhirnya keberadaan, tetapi terputusnya relasi dari Allah.
2. Definisi penderitaan — bukan kehilangan kesempurnaan, tetapi kehilangan anugerah dan terluka oleh penolakan.
3. Definisi "versi mini Allah" — manusia sebagai gambar Allah yang terbatas, diciptakan untuk mencerminkan Allah yang adalah Roh.
Dengan ketiga definisi ini, seluruh narasi Alkitab — dari penciptaan hingga inkarnasi hingga kebangkitan — menjadi koheren.
---
Bagian 1: Definisi Kematian yang Alkitabiah
1.1. Definisi yang Salah: Kematian sebagai Berakhirnya Keberadaan
Dalam filsafat Yunani, kematian dipahami sebagai berakhirnya keberadaan — lenyapnya hidup, kehancuran total. Dengan definisi ini:
Konsekuensi Masalah
Allah tidak dapat mati Karena Allah tidak dapat berakhir — Ia kekal.
Yesus tidak benar-benar mati Karena jika Yesus adalah Allah, Ia tidak dapat berakhir — maka kematian-Nya hanya "tampak" atau "sandiwara".
Kematian Kristus tidak memiliki nilai kekal Karena yang mati hanyalah "manusia Yesus" — bukan Allah.
Salib menjadi tidak masuk akal Karena jika Allah tidak dapat mati, mengapa Yesus harus mati?
Kesimpulan: Definisi kematian sebagai berakhirnya keberadaan adalah definisi filsafat Yunani — bukan definisi Alkitab — dan menyebabkan kontradiksi dalam teologi Kristen.
1.2. Definisi yang Benar: Kematian sebagai Terputusnya Relasi dari Allah
Alkitab mendefinisikan kematian bukan sebagai berakhirnya keberadaan — tetapi sebagai terputusnya relasi dari Allah — Sumber Hidup.
Ayat Konteks Makna
Kejadian 2:17 "Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Adam dan Hawa tidak langsung mati secara fisik — tetapi terputus relasinya dari Allah.
Roma 6:23 "Upah dosa ialah maut." Maut adalah keterputusan relasi dari Sumber Hidup.
Efesus 2:1 "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu." Mati rohani — terputus relasi dari Allah.
Lukas 15:24 "Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali." Anak bungsu mati karena terputus relasi dari ayah — hidup karena kembali.
1 Timotius 5:6 "Perempuan yang hidup dalam kesenangan, sesungguhnya ia sudah mati, walaupun ia masih hidup." Mati rohani — meskipun hidup fisik.
Yohanes 11:25 "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." Kematian fisik bukan akhir — karena relasi dengan Kristus tetap.
Kesimpulan: Dalam Alkitab, kematian adalah terputusnya relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.
1.3. Implikasi bagi "Allah Mati"
Dengan definisi ini:
Pertanyaan Jawaban
Apakah Allah mati? ✅ Ya — dalam arti terputus relasi — ketika umat-Nya memutuskan diri dari-Nya.
Apakah natur ilahi mati? ❌ Tidak — karena natur ilahi adalah Roh — dan Roh tidak dapat mati — tetapi Allah mengalami kematian relasi.
Apakah daging Yesus mati? ✅ Ya — daging itu mati — tetapi Allah tetap hidup — dan Ia membangkitkan daging itu.
Apakah Allah berhenti menjadi Allah? ❌ Tidak — karena identitas-Nya tetap — nama-Nya tetap — Ia tetap Allah — meskipun Ia mengalami kematian relasi.
Kesimpulan: Dengan definisi alkitabiah tentang kematian — "Allah mati" adalah benar — tanpa mengorbankan keilahian Allah — karena yang mati adalah relasi — dan daging — bukan natur ilahi.
1.4. Kematian sebagai Pengalaman Daging
Kematian — dalam pengertian pemisahan daging dan roh — adalah pengalaman manusia:
"Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya." (Pengkhotbah 12:7)
Aspek Manusia Allah
Hakikat Daging + roh Roh
Kematian Pemisahan daging dan roh Tidak dapat mati dalam natur ilahi
Daging Kembali menjadi debu Daging yang diambil dapat mati — tetapi Allah tetap hidup
Kebangkitan Menunggu kebangkitan Allah membangkitkan daging-Nya sendiri
Kesimpulan: Kematian adalah pengalaman daging — bukan pengalaman Roh — dan Allah adalah Roh — karena itu kematian tidak menjangkau natur ilahi-Nya.
---
Bagian 2: Definisi Penderitaan yang Alkitabiah
2.1. Definisi yang Salah: Penderitaan sebagai Kehilangan Kesempurnaan
Dalam filsafat Yunani, penderitaan dipahami sebagai kehilangan kesempurnaan — menjadi kurang dari yang seharusnya. Dengan definisi ini:
Konsekuensi Masalah
Allah tidak dapat menderita Karena Allah tidak dapat kehilangan kesempurnaan-Nya.
Allah tidak dapat berduka Karena kedukaan berarti ada yang kurang dalam Allah.
Allah tidak dapat terluka Karena luka berarti ada yang rusak dalam Allah.
Allah menjadi tidak peduli Karena jika Ia tidak dapat menderita, Ia tidak dapat mengasihi.
Kesimpulan: Definisi penderitaan sebagai kehilangan kesempurnaan adalah definisi filsafat Yunani — bukan definisi Alkitab — dan menyebabkan Allah menjadi tidak peduli.
2.2. Definisi yang Benar: Penderitaan sebagai Kehilangan Anugerah dan Terluka oleh Penolakan
Alkitab mendefinisikan penderitaan bukan sebagai kehilangan kesempurnaan — tetapi sebagai kehilangan anugerah — dan terluka oleh penolakan.
Ayat Konteks Makna
Kejadian 6:6 "Maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya." Allah berduka — terluka — karena dosa manusia.
Hosea 11:8 "Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak." Allah terguncang — terluka — karena umat-Nya.
Efesus 4:30 "Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah." Roh dapat didukakan — terluka.
Yesaya 63:9 "Dalam segala kesesakan mereka, Dia juga turut merasakan kesesakan itu." Allah turut merasakan — terluka.
Yeremia 3:8 "Aku telah memberi surat cerai kepada Israel." Allah mengalami kematian relasi — terluka.
Kesimpulan: Dalam Alkitab, penderitaan adalah kehilangan anugerah — dan terluka oleh penolakan — bukan kehilangan kesempurnaan.
2.3. Implikasi bagi "Allah Menderita"
Dengan definisi ini:
Pertanyaan Jawaban
Apakah Allah menderita? ✅ Ya — dalam arti terluka oleh penolakan — berduka karena dosa — merasakan kesesakan umat-Nya.
Apakah natur ilahi menderita? ❌ Tidak — karena natur ilahi adalah Roh — dan Roh tidak dapat menderita — tetapi Allah mengalami penderitaan relasi.
Apakah Allah berhenti menjadi Allah? ❌ Tidak — karena identitas-Nya tetap — nama-Nya tetap — Ia tetap Allah — meskipun Ia mengalami penderitaan relasi.
Kesimpulan: Dengan definisi alkitabiah tentang penderitaan — "Allah menderita" adalah benar — tanpa mengorbankan keilahian Allah — karena yang menderita adalah relasi — bukan natur ilahi.
2.4. Penderitaan sebagai Pengalaman Relasi
Penderitaan — dalam pengertian terluka oleh penolakan — adalah pengalaman relasi:
Aspek Manusia Allah
Sumber penderitaan Kehilangan anugerah — terluka oleh penolakan Terluka oleh penolakan umat-Nya
Objek penderitaan Relasi dengan Allah dan sesama Relasi dengan ciptaan-Nya
Akibat Manusia menderita — tetapi tidak berhenti menjadi manusia Allah menderita — tetapi tidak berhenti menjadi Allah
Penghiburan Anugerah Allah — pemulihan relasi Kasih-Nya yang kekal — pemulihan relasi
Kesimpulan: Penderitaan adalah pengalaman relasi — bukan pengalaman natur — dan Allah adalah Kasih yang berelasi — karena itu Ia dapat menderita — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
---
Bagian 3: Definisi "Versi Mini Allah" yang Alkitabiah
3.1. Definisi yang Salah: Manusia sebagai "Allah Kecil"
Dalam beberapa tradisi mistik, manusia dipahami sebagai "Allah kecil" — versi mini dari Allah — yang memiliki atribut ilahi dalam skala kecil. Dengan definisi ini:
Konsekuensi Masalah
Manusia adalah Allah Karena ia adalah "versi mini" dari Allah.
Manusia tidak berdosa Karena ia adalah "Allah kecil" yang sempurna.
Inkarnasi tidak diperlukan Karena manusia sudah memiliki atribut ilahi.
Keselamatan tidak diperlukan Karena manusia sudah menjadi "Allah kecil".
Kesimpulan: Definisi manusia sebagai "Allah kecil" adalah definisi yang salah — karena manusia bukanlah Allah — dan tidak memiliki atribut ilahi dalam skala kecil.
3.2. Definisi yang Benar: Manusia sebagai Gambar Allah yang Terbatas
Alkitab mendefinisikan manusia bukan sebagai "Allah kecil" — tetapi sebagai gambar Allah — representasi — versi mini — yang terbatas.
Ayat Konteks Makna
Kejadian 1:26-27 "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." Manusia adalah gambar — representasi — versi mini dari Allah.
Kejadian 2:7 "TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya." Manusia adalah debu + nafas Allah — versi mini yang terbatas.
Mazmur 8:6 "Engkau membuat dia sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat." Manusia adalah versi mini — sedikit lebih rendah — tetapi tetap gambar Allah.
Roma 8:29 "Supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya." Tujuan manusia adalah menjadi serupa — versi mini yang bertumbuh.
2 Petrus 1:4 "Supaya kamu menjadi peserta dalam kodrat ilahi." Manusia dapat berpartisipasi dalam kodrat ilahi — versi mini yang diperbarui.
Kesimpulan: Dalam Alkitab, manusia adalah gambar Allah — representasi — versi mini — yang terbatas — bukan Allah.
3.3. Implikasi bagi Inkarnasi
Dengan definisi ini:
Pertanyaan Jawaban
Mengapa Allah dapat menjadi manusia? ✅ Karena manusia adalah gambar Allah — versi mini — dan Allah yang Mahakuasa dapat mengambil bentuk apa pun — termasuk bentuk manusia — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
Apakah inkarnasi adalah "penurunan" martabat Allah? ❌ Tidak — karena memiliki daging bukanlah hal asing bagi Allah — manusia diciptakan menurut gambar-Nya — dan Ia dapat mengambil bentuk apa pun tanpa kehilangan identitas-Nya.
Apakah inkarnasi adalah "kontradiksi"? ❌ Tidak — karena Allah yang Mahakuasa dapat menjadi "versi mini" dari diri-Nya sendiri — bukan karena Ia lemah — tetapi karena Ia begitu kuat sehingga Ia dapat merelakan diri-Nya.
Kesimpulan: Definisi "versi mini" menjawab mengapa Allah dapat menjadi manusia — tanpa mengorbankan keilahian Allah — karena manusia adalah gambar Allah — dan Allah dapat mengambil bentuk gambar-Nya — tanpa kehilangan identitas-Nya.
3.4. Manusia sebagai "Versi Mini" dan Inkarnasi sebagai "Kebalikan Penciptaan"
Aspek Penciptaan Manusia Inkarnasi Allah
Arah Daging → Roh Roh → Daging
Subjek Manusia diciptakan Allah menjadi manusia
Sarana Hembusan nafas hidup Kelahiran sebagai manusia
Hasil Manusia hidup — gambar Allah Allah-manusia — gambar Allah yang sempurna
Tujuan Manusia menjadi gambar Allah Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan gambar-Nya
Kesimpulan: Penciptaan dan inkarnasi adalah dua arah dari satu gerakan kasih — daging diberi roh dan Roh mengambil daging — dan keduanya adalah tindakan kasih Allah.
---
Bagian 4: Koneksi Ketiga Definisi
4.1. Kematian, Penderitaan, dan "Versi Mini" — Satu Kerangka
Aspek Definisi Ayat Kunci
Kematian Terputusnya relasi dari Allah Kejadian 2:17; Roma 6:23; Efesus 2:1; Lukas 15:24
Penderitaan Kehilangan anugerah dan terluka oleh penolakan Kejadian 6:6; Hosea 11:8; Efesus 4:30; Yesaya 63:9
Versi Mini Manusia sebagai gambar Allah yang terbatas Kejadian 1:26-27; 2:7; Mazmur 8:6; Roma 8:29
4.2. Bagaimana Ketiganya Menjawab Pertanyaan Teologis
Pertanyaan Jawaban dengan Ketiga Definisi
Mengapa Allah dapat menderita? Karena penderitaan adalah terluka oleh penolakan — dan Allah adalah Kasih yang berelasi — dan relasi-Nya dapat terluka — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
Mengapa Allah dapat mati? Karena kematian adalah terputusnya relasi — dan Allah adalah Kasih yang berelasi — dan relasi-Nya dapat terputus — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
Mengapa Allah dapat menjadi manusia? Karena manusia adalah gambar Allah — versi mini — dan Allah yang Mahakuasa dapat mengambil bentuk gambar-Nya — tanpa kehilangan identitas-Nya.
Mengapa Yesus dapat mati dan bangkit? Karena daging yang diambil-Nya dapat mati — tetapi Allah tetap hidup — dan Ia membangkitkan daging itu — karena Ia adalah Roh — dan Roh tidak dapat mati.
Kesimpulan: Ketiga definisi ini saling melengkapi — dan menjawab semua pertanyaan teologis — tanpa kontradiksi.
4.3. Koneksi dengan Yohanes 4:24
"Allah itu Roh." (Yohanes 4:24)
Definisi Koneksi dengan Yohanes 4:24
Kematian Karena Allah adalah Roh — kematian yang dipahami manusia — yaitu pemisahan daging dan roh — tidak berlaku bagi-Nya.
Penderitaan Karena Allah adalah Roh — penderitaan-Nya adalah penderitaan relasi — bukan penderitaan fisik — dan Ia dapat terluka oleh penolakan — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
Versi Mini Karena Allah adalah Roh — manusia diciptakan sebagai gambar-Nya — daging yang diberi roh — versi mini dari Allah yang adalah Roh.
Kesimpulan: Yohanes 4:24 adalah kunci yang mengikat ketiga definisi — Allah adalah Roh — karena itu kematian tidak berlaku bagi-Nya — penderitaan-Nya adalah penderitaan relasi — dan manusia adalah gambar-Nya — versi mini dari Allah yang adalah Roh.
---
Bagian 5: Implikasi Praktis
5.1. Kita Menyembah Allah yang Hidup
Jika Allah adalah Roh — dan kematian tidak berlaku bagi-Nya — maka penyembahan kita tidak didasarkan pada ketakutan akan kematian — tetapi pada kasih kepada Allah yang hidup.
Penyembahan yang Salah Penyembahan yang Benar
Menyembah karena takut mati Menyembah karena mengasihi Allah yang hidup
Menyembah untuk mendapatkan hidup Menyembah karena telah menerima hidup
Menyembah di tempat tertentu Menyembah dalam roh dan kebenaran
Kesimpulan: Kita menyembah Allah yang hidup — yang tidak dapat mati — dalam roh dan kebenaran.
5.2. Kita Menantikan Kebangkitan Daging
Jika Allah yang adalah Roh mengambil daging — dan membangkitkan daging itu — maka kita yang adalah daging yang diberi roh juga akan dibangkitkan dalam kemuliaan:
"Tetapi jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Dia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu." (Roma 8:11)
Kesimpulan: Kita menantikan kebangkitan daging — pemulihan gambar Allah — persatuan kekal dengan Allah.
5.3. Kita Hidup dalam Kuasa Kebangkitan
"Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:4)
Kita dipanggil untuk:
1. Mati terhadap dosa — seperti Kristus mati.
2. Hidup dalam kebenaran — seperti Kristus bangkit.
3. Mengalami kuasa kebangkitan-Nya — dalam hidup sehari-hari.
Kesimpulan: Kita hidup dalam kuasa kebangkitan — karena Roh yang membangkitkan Yesus diam di dalam kita.
---
Bagian 6: Menjawab Keberatan
6.1. "Jika Kematian adalah Terputusnya Relasi, Bagaimana dengan Kematian Fisik?"
Jawaban: Kematian fisik adalah pemisahan daging dan roh — yang merupakan konsekuensi dari kematian rohani — tetapi bukan kematian yang sebenarnya. Kematian yang sebenarnya adalah terputusnya relasi dari Allah — dan itu dapat terjadi bahkan ketika seseorang masih hidup secara fisik (1 Timotius 5:6).
6.2. "Jika Penderitaan adalah Terluka oleh Penolakan, Bagaimana dengan Penderitaan Fisik?"
Jawaban: Penderitaan fisik adalah pengalaman daging — yang dapat dialami oleh siapa saja — tetapi penderitaan yang sebenarnya adalah penderitaan relasi — terluka oleh penolakan — dan itu dapat terjadi bahkan ketika seseorang tidak menderita secara fisik.
6.3. "Jika Manusia adalah 'Versi Mini' Allah, Apakah Manusia Berdosa?"
Jawaban: Ya — karena manusia adalah gambar Allah yang terbatas — dan gambar itu telah rusak oleh dosa — tetapi gambar itu dapat dipulihkan — melalui inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus.
---
Kesimpulan: Tiga Definisi, Satu Kerangka
Definisi Makna Ayat Kunci
Kematian Terputusnya relasi dari Allah Kejadian 2:17; Roma 6:23; Efesus 2:1
Penderitaan Kehilangan anugerah dan terluka oleh penolakan Kejadian 6:6; Hosea 11:8; Efesus 4:30
Versi Mini Manusia sebagai gambar Allah yang terbatas Kejadian 1:26-27; 2:7; Mazmur 8:6
Ketiga definisi ini adalah alkitabiah — dan saling melengkapi:
· Kematian adalah terputusnya relasi — bukan berakhirnya keberadaan — karena itu Allah dapat mengalami kematian relasi — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
· Penderitaan adalah terluka oleh penolakan — bukan kehilangan kesempurnaan — karena itu Allah dapat menderita — tanpa kehilangan ke-Allah-an-Nya.
· Manusia adalah gambar Allah — versi mini — yang terbatas — dan Allah dapat mengambil bentuk gambar-Nya — tanpa kehilangan identitas-Nya.
Dengan ketiga definisi ini, seluruh narasi Alkitab — dari penciptaan hingga inkarnasi hingga kebangkitan — menjadi koheren.
"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)
Soli Deo Gloria.
---
Daftar Referensi Alkitab
Ayat Tema
Kejadian 1:26-27 Manusia diciptakan menurut gambar Allah
Kejadian 2:7 Allah membentuk manusia dari debu dan memberi nafas hidup
Kejadian 2:17 "Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati"
Kejadian 6:6 "Menyesallah TUHAN... memilukan hati-Nya"
Keluaran 33:20 "Tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup"
Mazmur 8:6 "Sedikit lebih rendah dari pada malaikat"
Pengkhotbah 12:7 Debu kembali ke tanah, roh kembali kepada Allah
Yesaya 63:9 "Dia juga turut merasakan kesesakan itu"
Yeremia 3:8 "Aku telah memberi surat cerai kepada Israel"
Hosea 11:8 "Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku"
Lukas 15:24 "Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali"
Yohanes 1:14 Firman menjadi manusia
Yohanes 4:24 "Allah itu Roh"
Yohanes 10:18 Yesus berkuasa memberikan dan mengambil nyawa-Nya
Yohanes 11:25 "Akulah kebangkitan dan hidup"
Roma 6:4 Kita dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus
Roma 6:23 "Upah dosa ialah maut"
Roma 8:11 Roh membangkitkan tubuh yang fana
Roma 8:29 Kita menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya
1 Korintus 15:22, 45 Adam dan Kristus
Efesus 2:1 "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran"
Efesus 4:30 "Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus"
Filipi 2:6-8 Yesus mengosongkan diri dan mengambil rupa hamba
Kolose 2:9 Kepenuhan ke-Allahan berdiam dalam tubuh Kristus
1 Timotius 3:16 Allah menyatakan diri dalam rupa manusia
1 Timotius 5:6 "Sesungguhnya ia sudah mati, walaupun ia masih hidup"
2 Petrus 1:4 Kita menjadi peserta dalam kodrat ilahi
---
Daftar Pustaka
· Alkitab, Terjemahan Baru (LAI, 2000).
· Barth, Karl. Church Dogmatics III/1 (Doktrin Penciptaan) dan IV/1 (Doktrin Rekonsiliasi).
· Bonhoeffer, Dietrich. Creation and Fall: A Theological Exposition of Genesis 1-3. Fortress Press, 1997.
· Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Eerdmans, 1993.
· Moltmann, JΓΌrgen. The Trinity and the Kingdom. Harper & Row, 1981.
· Wright, N.T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. HarperOne, 2006.
---
Kematian adalah terputusnya relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan. Penderitaan adalah terluka oleh penolakan — bukan kehilangan kesempurnaan. Dan manusia adalah gambar Allah — versi mini yang terbatas — yang dapat dipulihkan melalui inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus. Inilah tiga definisi alkitabiah yang membangun kerangka teologis yang koheren — dan menjawab semua pertanyaan tentang Allah, manusia, dan keselamatan.
Komentar
Posting Komentar