Blunder Gereja Saat Menerima Filsafat Berhala; Sebuah Narasi tentang Cara Allah Memandang Umat-Nya — sebagai Kekasih, Sahabat, dan Anak — dan Mengapa Penyembahan sebagai Subordinasi adalah Cara Pandang Dunia yang Berdosa
Blunder Gereja Saat Menerima Filsafat Berhala
Sebuah Narasi tentang Cara Allah Memandang Umat-Nya — sebagai Kekasih, Sahabat, dan Anak — dan Mengapa Penyembahan sebagai Subordinasi adalah Cara Pandang Dunia yang Berdosa
---
Pendahuluan: Sebuah Blunder yang Mengubah Segalanya
Selama berabad-abad, gereja telah menerima filsafat berhala — filsafat Yunani — yang menganggap penyembahan sebagai bentuk subordinasi — pengakuan inferioritas — dan ketundukan kepada pihak yang lebih tinggi.
Dan karena itu — gereja telah mengembangkan sebuah konsep tentang Allah yang sebenarnya bukan Allah Alkitab — yaitu Allah yang memandang umat-Nya sebagai subordinat — bawahan — yang harus tunduk dan menyembah untuk mengakui inferioritas mereka.
Tetapi — Alkitab menggambarkan Allah yang berbeda — Allah yang memandang umat-Nya sebagai kekasih — sahabat — dan anak — yang selalu melindungi dan memaafkan — selama kita kembali dan tidak menolak anugerah-Nya.
Dan jika Allah yang memandang kita bukan subordinat-Nya — bagaimana bisa Bapa memandang Yesus sebagai subordinat saat Yesus menyembah-Nya?
Penyembahan sebagai bentuk subordinasi adalah cara pandang dunia yang berdosa — bukan cara pandang Allah yang adalah Kasih. Jika demikian — seluruh Alkitab adalah kemunafikan. Jadi — dengan sudut pandang Allah — kita bisa memahami mengapa Allah menyembah Allah adalah relasi Kasih.
Artikel ini akan menunjukkan — dengan referensi Alkitab — bahwa:
1. Gereja telah menerima filsafat berhala — yang menganggap penyembahan sebagai subordinasi.
2. Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih, sahabat, dan anak — bukan subordinat.
3. Penyembahan sebagai subordinasi adalah cara pandang dunia yang berdosa — bukan cara pandang Allah.
4. Dengan sudut pandang Allah — Allah menyembah Allah adalah relasi Kasih — bukan subordinasi.
---
Bagian 1: Gereja Telah Menerima Filsafat Berhala
1.1. Filsafat Yunani: Penyembahan sebagai Subordinasi
Filsafat Yunani — terutama filsafat Aristoteles dan Plato — menganggap penyembahan sebagai bentuk subordinasi — pengakuan inferioritas — dan ketundukan kepada pihak yang lebih tinggi.
Aspek Filsafat Yunani
Penyembahan Pengakuan inferioritas — ketundukan kepada yang lebih tinggi
Tuhan Yang Mahatinggi — yang tidak dapat dijangkau — yang tidak membutuhkan apa pun
Manusia Yang rendah — yang harus tunduk — yang harus menyembah
Relasi Hierarki — atasan dan bawahan
Kesimpulan: Filsafat Yunani menganggap penyembahan sebagai subordinasi — dan karena itu — Allah tidak dapat menyembah Allah — karena itu berarti Allah menjadi inferior terhadap diri-Nya sendiri.
1.2. Gereja Menerima Filsafat Ini
Gereja mula-mula — terutama dalam Konsili Nicea (325) dan Kalsedon (451) — menerima filsafat Yunani ini — dan mengembangkan konsep Trinitas yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani — yaitu Trinitas Persona.
Aspek Trinitas Persona
Istilah Ousia, hypostasis, persona — dari filsafat Yunani
Penyembahan Pengakuan inferioritas — karena itu, Allah tidak dapat menyembah Allah
Allah Yang tidak berubah — yang tidak dapat menderita — yang tidak dapat mati
Manusia Yang harus tunduk — yang harus menyembah — yang harus mengakui inferioritas
Kesimpulan: Gereja telah menerima filsafat berhala — dan karena itu — gereja telah kehilangan cara pandang Allah yang sebenarnya tentang penyembahan.
1.3. Akibatnya: Gereja Kehilangan Cara Pandang Allah
Karena menerima filsafat Yunani — gereja telah kehilangan cara pandang Allah tentang penyembahan:
Aspek Cara Pandang Filsafat Yunani Cara Pandang Allah
Penyembahan Subordinasi — pengakuan inferioritas Relasi kasih — ekspresi kasih
Allah Yang tidak dapat menyembah — karena itu berarti inferior Yang dapat menyembah — karena Ia adalah Kasih
Manusia Yang harus tunduk — yang harus menyembah Yang diangkat sebagai anak — yang menyembah karena kasih
Relasi Hierarki — atasan dan bawahan Kasih — kekasih, sahabat, anak
Kesimpulan: Gereja telah kehilangan cara pandang Allah tentang penyembahan — dan karena itu — gereja telah mengembangkan konsep yang salah tentang Allah dan tentang penyembahan.
---
Bagian 2: Allah Memandang Umat-Nya sebagai Kekasih, Sahabat, dan Anak
2.1. Allah Memandang Umat-Nya sebagai Kekasih
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Hosea 2:19-20 "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN" Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih — isteri
Yesaya 54:5 "Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya" Allah adalah suami — umat-Nya adalah isteri
Yeremia 2:2 "Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin" Allah mengingat kasih umat-Nya — seperti pengantin
Yehezkiel 16:8 "Aku bersumpah kepadamu dan mengikat perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, maka engkau menjadi milik-Ku" Allah mengikat perjanjian dengan umat-Nya — seperti pernikahan
Efesus 5:25-27 "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya... supaya jemaat kudus dan tak bercacat" Kristus mengasihi jemaat — seperti suami mengasihi isteri
Wahyu 19:7 "Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia" Jemaat adalah pengantin Anak Domba
Wahyu 21:2 "Aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya" Jemaat adalah pengantin perempuan
Kesimpulan: Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih — isteri — pengantin — bukan subordinat.
2.2. Allah Memandang Umat-Nya sebagai Sahabat
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Yohanes 15:15 "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku" Yesus menyebut murid-murid-Nya sahabat — bukan hamba
Keluaran 33:11 "TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya" Allah berbicara dengan Musa seperti sahabat
2 Tawarikh 20:7 "Bukankah Engkau, ya Allah kami, yang telah mengusir penduduk negeri ini... dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu, untuk selama-lamanya?" Abraham disebut sahabat Allah
Yesaya 41:8 "Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, sahabat-Ku" Abraham adalah sahabat Allah
Yakobus 2:23 "Abraham percaya kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran, dan ia disebut sahabat Allah" Abraham disebut sahabat Allah
Ayub 29:4 "Seperti pada waktu aku masih muda, ketika Allah melindungi kemahku, ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku" Ayub memiliki relasi intim dengan Allah
Kesimpulan: Allah memandang umat-Nya sebagai sahabat — bukan subordinat.
2.3. Allah Memandang Umat-Nya sebagai Anak
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah" Kita adalah anak-anak Allah
Roma 8:14-16 "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah... Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah" Kita adalah anak-anak Allah
Galatia 3:26 "Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus" Kita adalah anak-anak Allah
Galatia 4:6 "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'Abba, Bapa!'" Kita adalah anak-anak Allah — dan kita berseru kepada Bapa
Efesus 1:5 "Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" Kita adalah anak-anak Allah
1 Yohanes 3:1 "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah" Kita adalah anak-anak Allah
1 Yohanes 3:2 "Saudara-saudara yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah" Kita adalah anak-anak Allah
Yeremia 31:9 "Aku telah menjadi Bapa bagi Israel, dan Efraim adalah anak sulung-Ku" Allah adalah Bapa — Israel adalah anak
Yeremia 31:20 "Anak kesayangankah Efraim bagiku? Anak yang kumanjakan?" Allah memandang Efraim sebagai anak kesayangan
Hosea 11:1 "Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu" Allah memanggil Israel sebagai anak-Nya
Ulangan 14:1 "Kamu adalah anak-anak TUHAN, Allahmu" Kita adalah anak-anak Allah
Ulangan 32:6 "Bukankah Ia yang menjadi Bapamu dan yang menjadikan engkau?" Allah adalah Bapa
Mazmur 103:13 "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia" Allah adalah Bapa yang sayang
Amsal 3:12 "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" Allah adalah Bapa yang mengasihi
Maleakhi 1:6 "Seorang anak menghormati bapanya... Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku?" Allah adalah Bapa
Kesimpulan: Allah memandang umat-Nya sebagai anak — bukan subordinat.
2.4. Allah Selalu Melindungi dan Memaafkan
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Yesaya 43:1-2 "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau" Allah melindungi umat-Nya
Yesaya 49:15-16 "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku" Allah tidak melupakan umat-Nya
Yeremia 31:3 "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" Allah mengasihi dengan kasih kekal
Ratapan 3:22-23 "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Kasih setia Allah tidak berkesudahan
Mikha 7:18-19 "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia-Nya? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" Allah mengampuni dan memaafkan
1 Yohanes 1:9 "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" Allah mengampuni dosa
Lukas 15:20 "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia" Allah seperti bapa yang menunggu dan memaafkan
Efesus 4:32 "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" Allah mengampuni kita dalam Kristus
Kesimpulan: Allah selalu melindungi dan memaafkan umat-Nya — selama kita kembali dan tidak menolak anugerah-Nya.
---
Bagian 3: Penyembahan sebagai Subordinasi adalah Cara Pandang Dunia yang Berdosa
3.1. Penyembahan sebagai Subordinasi: Cara Pandang Dunia
Dunia yang berdosa menganggap penyembahan sebagai subordinasi — karena dunia menganggap relasi sebagai hierarki — atasan dan bawahan — yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
Aspek Cara Pandang Dunia Cara Pandang Allah
Penyembahan Subordinasi — pengakuan inferioritas Relasi kasih — ekspresi kasih
Relasi Hierarki — atasan dan bawahan Kasih — kekasih, sahabat, anak
Allah Yang tidak dapat menyembah — karena itu berarti inferior Yang dapat menyembah — karena Ia adalah Kasih
Manusia Yang harus tunduk — yang harus menyembah Yang diangkat sebagai anak — yang menyembah karena kasih
Kesimpulan: Penyembahan sebagai subordinasi adalah cara pandang dunia yang berdosa — bukan cara pandang Allah yang adalah Kasih.
3.2. Jika Penyembahan adalah Subordinasi, Seluruh Alkitab adalah Kemunafikan
Jika penyembahan adalah subordinasi —** maka seluruh Alkitab adalah kemunafikan — karena Alkitab menggambarkan Allah yang memandang umat-Nya sebagai kekasih, sahabat, dan anak — bukan subordinat.
Aspek Jika Penyembahan adalah Subordinasi Jika Penyembahan adalah Relasi Kasih
Allah Memandang umat-Nya sebagai subordinat Memandang umat-Nya sebagai kekasih, sahabat, anak
Penyembahan Pengakuan inferioritas Ekspresi kasih
Relasi Hierarki Kasih
Alkitab Kemunafikan — karena menggambarkan Allah yang mengasihi, tetapi menuntut subordinasi Konsisten — karena menggambarkan Allah yang mengasihi dan menyembah dalam kasih
Kesimpulan: Jika penyembahan adalah subordinasi —** maka seluruh Alkitab adalah kemunafikan. Tetapi jika penyembahan adalah relasi kasih —** maka seluruh Alkitab konsisten.
3.3. Yesus: Penyembahan sebagai Relasi Kasih, Bukan Subordinasi
Yesus — dalam penyembahan-Nya kepada Bapa —** tidak menyembah sebagai subordinat — tetapi sebagai Anak yang mengasihi Bapa.
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Yohanes 14:31 "Supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku" Yesus menyembah Bapa — karena kasih — bukan subordinasi
Yohanes 10:17-18 "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku... Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri" Yesus memberikan nyawa-Nya — karena kasih — bukan subordinasi
Filipi 2:6-8 "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri" Yesus — yang setara dengan Allah —** merendahkan diri-Nya — karena kasih — bukan subordinasi
Yohanes 17:4 "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi" Yesus memuliakan Bapa — karena kasih — bukan subordinasi
Kesimpulan: Yesus menyembah Bapa — bukan sebagai subordinat — tetapi sebagai Anak yang mengasihi Bapa. Penyembahan-Nya adalah relasi kasih — bukan subordinasi.
---
Bagian 4: Dengan Sudut Pandang Allah, Allah Menyembah Allah adalah Relasi Kasih
4.1. Allah adalah Kasih
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
1 Yohanes 4:8 "Allah adalah kasih" Kasih adalah hakikat Allah
1 Yohanes 4:16 "Allah adalah kasih" Kasih adalah hakikat Allah
Yohanes 3:35 "Bapa mengasihi Anak" Kasih Bapa kepada Anak — interaksi internal
Yohanes 14:31 "Aku mengasihi Bapa" Kasih Anak kepada Bapa — interaksi internal
Yohanes 17:24 "Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan" Kasih Bapa kepada Anak — kekal — sebelum penciptaan
Kesimpulan: Allah adalah Kasih — dan kasih itu berinteraksi secara internal dalam Trinitas — antara Bapa dan Anak — sejak kekekalan.
4.2. Penyembahan adalah Ekspresi Kasih, Bukan Subordinasi
Jika Allah adalah Kasih —** maka penyembahan adalah ekspresi kasih — bukan subordinasi.
Ayat Teks Apa yang Dinyatakan
Yohanes 14:31 "Aku mengasihi Bapa" Penyembahan Yesus adalah ekspresi kasih
Yohanes 10:17-18 "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku" Penyembahan Yesus adalah ekspresi kasih
Filipi 2:6-8 "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri" Penyembahan Yesus adalah ekspresi kasih
Yohanes 17:4 "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi" Penyembahan Yesus adalah ekspresi kasih
Roma 12:1 "Ibadahmu yang sejati" Penyembahan kita adalah ekspresi kasih
Kesimpulan: Penyembahan adalah ekspresi kasih — bukan subordinasi.
4.3. Allah Menyembah Allah adalah Relasi Kasih
Dengan sudut pandang Allah —** Allah menyembah Allah adalah relasi kasih — bukan subordinasi.
Aspek Sudut Pandang Dunia Sudut Pandang Allah
Penyembahan Subordinasi — pengakuan inferioritas Relasi kasih — ekspresi kasih
Allah menyembah Allah Tidak mungkin — karena berarti inferior Mungkin — karena itu adalah relasi kasih
Yesus menyembah Bapa Subordinasi — pengakuan inferioritas Relasi kasih — ekspresi kasih
Kita menyembah Allah Subordinasi — pengakuan inferioritas Relasi kasih — ekspresi kasih
Kesimpulan: Dengan sudut pandang Allah —** Allah menyembah Allah adalah relasi kasih — bukan subordinasi.
4.4. Jika Bapa Memandang Yesus sebagai Subordinat, Seluruh Alkitab adalah Kemunafikan
Jika Bapa memandang Yesus sebagai subordinat saat Yesus menyembah-Nya —** maka seluruh Alkitab adalah kemunafikan — karena Alkitab menggambarkan Allah yang memandang umat-Nya sebagai kekasih, sahabat, dan anak — bukan subordinat.
Aspek Jika Bapa Memandang Yesus sebagai Subordinat Jika Bapa Memandang Yesus sebagai Anak yang Dikasihi
Penyembahan Yesus Pengakuan inferioritas Ekspresi kasih
Relasi Bapa-Yesus Hierarki Kasih
Alkitab Kemunafikan — karena menggambarkan Allah yang mengasihi, tetapi menuntut subordinasi Konsisten — karena menggambarkan Allah yang mengasihi dan menyembah dalam kasih
Kesimpulan: Jika Bapa memandang Yesus sebagai subordinat —** maka seluruh Alkitab adalah kemunafikan. Tetapi jika Bapa memandang Yesus sebagai Anak yang dikasihi —** maka seluruh Alkitab konsisten.
---
Bagian 5: Perumusan yang Mengaitkan Seluruh Konsep
5.1. Alkitab Berbicara tentang Allah yang Memandang Umat-Nya sebagai Kekasih, Sahabat, dan Anak
Konsep Ayat Makna
Allah adalah Kasih 1 Yohanes 4:8, 16 Kasih adalah hakikat Allah
Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih Hosea 2:19-20; Yesaya 54:5; Yeremia 2:2; Yehezkiel 16:8; Efesus 5:25-27; Wahyu 19:7; 21:2 Allah adalah suami — umat-Nya adalah isteri
Allah memandang umat-Nya sebagai sahabat Yohanes 15:15; Keluaran 33:11; 2 Tawarikh 20:7; Yesaya 41:8; Yakobus 2:23 Allah berbicara dengan Musa seperti sahabat — Abraham disebut sahabat Allah
Allah memandang umat-Nya sebagai anak Yohanes 1:12; Roma 8:14-16; Galatia 3:26; 4:6; Efesus 1:5; 1 Yohanes 3:1-2; Yeremia 31:9, 20; Hosea 11:1; Ulangan 14:1; 32:6; Mazmur 103:13; Amsal 3:12; Maleakhi 1:6 Kita adalah anak-anak Allah — Allah adalah Bapa
Allah selalu melindungi dan memaafkan Yesaya 43:1-2; 49:15-16; Yeremia 31:3; Ratapan 3:22-23; Mikha 7:18-19; 1 Yohanes 1:9; Lukas 15:20; Efesus 4:32 Allah melindungi, mengampuni, dan memaafkan
Penyembahan sebagai subordinasi adalah cara pandang dunia — Dunia menganggap penyembahan sebagai subordinasi — tetapi Allah menganggapnya sebagai relasi kasih
Yesus menyembah Bapa sebagai relasi kasih Yohanes 14:31; 10:17-18; Filipi 2:6-8; Yohanes 17:4 Yesus menyembah Bapa karena kasih — bukan subordinasi
Allah menyembah Allah adalah relasi kasih — Dengan sudut pandang Allah — Allah menyembah Allah adalah relasi kasih
5.2. Perumusan Akhir
Gereja telah menerima filsafat berhala — yang menganggap penyembahan sebagai subordinasi — dan karena itu — gereja telah kehilangan cara pandang Allah tentang penyembahan.
Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih — sahabat — dan anak — bukan subordinat. Ia selalu melindungi dan memaafkan — selama kita kembali dan tidak menolak anugerah-Nya.
Allah tidak pernah memandang kita sebagai subordinat-Nya — bahkan setelah Yesus Kristus — kita diangkat ke hadirat-Nya.
Jika Allah yang memandang kita bukan subordinat-Nya —** bagaimana bisa Bapa memandang Yesus sebagai subordinat saat Yesus menyembah-Nya?
Penyembahan sebagai bentuk subordinasi adalah cara pandang dunia yang berdosa — bukan cara pandang Allah yang adalah Kasih. Jika demikian —** seluruh Alkitab adalah kemunafikan.
Jadi — dengan sudut pandang Allah —** kita bisa memahami mengapa Allah menyembah Allah adalah relasi Kasih — bukan subordinasi.
"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)
Soli Deo Gloria.
---
Daftar Referensi Alkitab
Perjanjian Lama
Ayat Tema
Keluaran 33:11 "TUHAN berbicara kepada Musa seperti seorang berbicara kepada temannya"
Ulangan 14:1 "Kamu adalah anak-anak TUHAN, Allahmu"
Ulangan 32:6 "Bukankah Ia yang menjadi Bapamu"
2 Tawarikh 20:7 "Abraham, sahabat-Mu"
Ayub 29:4 "Allah melindungi kemahku"
Mazmur 103:13 "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya"
Amsal 3:12 "TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya"
Yesaya 41:8 "Abraham, sahabat-Ku"
Yesaya 43:1-2 "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau"
Yesaya 49:15-16 "Aku tidak akan melupakan engkau"
Yesaya 54:5 "Yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau"
Yeremia 2:2 "Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu"
Yeremia 31:3 "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal"
Yeremia 31:9 "Aku telah menjadi Bapa bagi Israel"
Yeremia 31:20 "Anak kesayangankah Efraim bagiku?"
Yehezkiel 16:8 "Engkau menjadi milik-Ku"
Hosea 2:19-20 "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya"
Hosea 11:1 "Dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu"
Mikha 7:18-19 "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa"
Ratapan 3:22-23 "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN"
Maleakhi 1:6 "Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku?"
Perjanjian Baru
Ayat Tema
Matius 26:39 "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi"
Lukas 15:20 "Ayahnya itu berlari mendapatkan dia"
Yohanes 1:12 "Diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah"
Yohanes 3:35 "Bapa mengasihi Anak"
Yohanes 10:17-18 "Aku memberikan nyawa-Ku... menurut kehendak-Ku sendiri"
Yohanes 14:31 "Aku mengasihi Bapa"
Yohanes 15:15 "Aku menyebut kamu sahabat"
Yohanes 17:4 "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi"
Yohanes 17:24 "Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan"
Roma 8:14-16 "Kita adalah anak-anak Allah"
Roma 12:1 "Ibadahmu yang sejati"
Galatia 3:26 "Kamu semua adalah anak-anak Allah"
Galatia 4:6 "Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita"
Efesus 1:5 "Ia telah menentukan kita... untuk menjadi anak-anak-Nya"
Efesus 4:32 "Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu"
Efesus 5:25-27 "Kristus telah mengasihi jemaat"
Filipi 2:6-8 "Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri"
1 Yohanes 1:9 "Ia akan mengampuni segala dosa kita"
1 Yohanes 3:1-2 "Kita disebut anak-anak Allah"
1 Yohanes 4:8, 16 "Allah adalah kasih"
Yakobus 2:23 "Abraham disebut sahabat Allah"
Wahyu 19:7 "Hari perkawinan Anak Domba telah tiba"
Wahyu 21:2 "Yerusalem yang baru... berhias bagaikan pengantin perempuan"
---
Daftar Pustaka
· Alkitab, Terjemahan Baru (LAI, 2000).
· Barth, Karl. Church Dogmatics I/1, II/1, III/1, IV/1.
· Calvin, John. Institutes of the Christian Religion.
· Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Eerdmans, 1993.
· Moltmann, Jürgen. The Trinity and the Kingdom. Harper & Row, 1981.
· Wright, N.T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. HarperOne, 2006.
---
Gereja telah menerima filsafat berhala — yang menganggap penyembahan sebagai subordinasi — dan karena itu — gereja telah kehilangan cara pandang Allah tentang penyembahan. Allah memandang umat-Nya sebagai kekasih, sahabat, dan anak — bukan subordinat. Penyembahan sebagai subordinasi adalah cara pandang dunia yang berdosa — bukan cara pandang Allah yang adalah Kasih. Jika Bapa memandang Yesus sebagai subordinat saat Yesus menyembah-Nya — maka seluruh Alkitab adalah kemunafikan. Tetapi dengan sudut pandang Allah — Allah menyembah Allah adalah relasi Kasih — bukan subordinasi.
Komentar
Posting Komentar