Berhala sebagai Tembok: Sejak Eden, Ketakutan—atau Tepatnya Kesalahpahaman—Manusia terhadap Allah Tidak Pernah Pudar; Ketika Arkeologi Menemukan "Yahweh dan Ashera"

Berhala sebagai Tembok: Sejak Eden, Ketakutan—atau Tepatnya Kesalahpahaman—Manusia terhadap Allah Tidak Pernah Pudar

Pendahuluan: Ketika Arkeologi Menemukan "Yahweh dan Ashera"

Pada tahun 1975, di situs Kuntillet Ajrud di Sinai timur, para arkeolog menemukan tulisan dan gambar dari abad ke-8 SM yang mengguncang dunia biblika: sebuah inskripsi yang menyebut "Yahweh dan Ashera-nya" (YHWH w-ʾšrth), disertai gambar figur-figur. Penemuan serupa juga muncul di Khirbet el-Qom. Bagi banyak orang, ini tampak seperti bom: apakah ini bukti bahwa Yahweh Alkitab dan Ashera—dewi kesuburan Kanaan—pernah dipuja bersama? Apakah ini membuktikan bahwa Allah Alkitab hanyalah salah satu dewa dalam pantheon Kanaan?

Jawaban singkatnya: tidak. Tetapi jawaban panjangnya justru meneguhkan tesis yang telah kita bangun sepanjang artikel-artikel sebelumnya—bahwa berhala adalah tembok yang dibangun manusia karena ketakutan dan kesalahpahaman terhadap Allah. Penemuan arkeologi ini bukan bukti bahwa Yahweh dan Ashera adalah pasangan ilahi; ia adalah bukti bahwa manusia—bahkan umat yang mengenal Yahweh—terus-menerus gagal memahami siapa Allah sesungguhnya, dan karena itu terus membangun tembok-tembok berhala, sejak Eden hingga hari ini.

Artikel ini akan menelusuri: (1) apa yang sebenarnya ditemukan arkeologi dan bagaimana Alkitab menilainya; (2) mengapa umat Israel—yang mengenal Yahweh—tetap membuat berhala; (3) bagaimana pola Eden terulang dalam setiap berhala; dan (4) mengapa kesalahpahaman tentang Allah tidak pernah pudar, bahkan di dalam gereja.

---

Bagian I: Apa yang Sebenarnya Ditemukan Arkeologi?

1.1. Kuntillet Ajrud dan Khirbet el-Qom

Di Kuntillet Ajrud (situs di Sinai utara, abad ke-8 SM), ditemukan tembikar dan dinding dengan inskripsi yang menyebut "Yahweh dari Samaria dan Ashera-nya" dan "Yahweh dari Teman dan Ashera-nya." Di Khirbet el-Qom (Yehuda, abad ke-8 SM), ditemukan inskripsi makam yang menyebut "Yahweh" dan "Ashera-nya," dengan tulisan yang memohon berkat.

Status: Fakta arkeologis. Inskripsi ini nyata dan telah dipublikasikan secara luas (mis. Meshel, Kuntillet Ajrud; Dever, Did God Have a Wife?).

1.2. Apa Arti "Ashera-nya"?

Kata "ashera" dalam bahasa Ibrani (אֲשֵׁרָה) memiliki beberapa makna: (1) dewi Ashera dalam pantheon Kanaan; (2) patung kayu yang melambangkan dewi itu (yang dilarang Alkitab); (3) tiang pemujaan. Dalam inskripsi Kuntillet Ajrud, frasa "Ashera-nya" (ʾšrth) kemungkinan merujuk pada patung atau tiang pemujaan yang dikaitkan dengan Yahweh—bukan pada dewi sebagai pasangan Yahweh.

Status: Analisis bahasa dan arkeologi. Mayoritas sarjana menafsirkan "Ashera-nya" sebagai objek kultus (patung/tiang), bukan sebagai pasangan ilahi Yahweh. Namun ada juga yang menafsirkannya sebagai dewi. Perdebatan masih berlangsung.

1.3. Apakah Ini Membuktikan Yahweh = Dewa Kanaan?

Tidak. Yang dibuktikan arkeologi adalah bahwa sebagian umat Israel pada abad ke-8 SM mencampuradukkan ibadah kepada Yahweh dengan praktik-praktik Kanaan—termasuk membuat patung Ashera dan menyembahnya bersama Yahweh. Ini persis yang dikecam para nabi.

Alkitab sendiri tidak menyembunyikan fakta ini. Justru Alkitab adalah dokumen yang paling blak-blakan mencatat penyimpangan umat Israel: dari anak lembu emas (Keluaran 32), hingga penyembahan Ashera di bawah setiap pohon rindang (2 Raja-raja 17:16; Yeremia 17:2), hingga reformasi Yosia yang menghancurkan patung-patung Ashera (2 Raja-raja 23:4-7).

Status: Alkitabiah. Alkitab mencatat praktik ini sebagai dosa, bukan sebagai norma.

---

Bagian II: Alkitab Menilai Ashera sebagai Berhala

2.1. Perintah yang Tegas

"Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun... Jangan sujud menyembah kepadanya" (Keluaran 20:4-5). "Janganlah kamu menegakkan bagimu berhala, dan janganlah kamu mendirikan patung atau tugu" (Imamat 26:1). "Tiang-tiang berhala" (מַצֵּבֹת, matsevot) dan "patung Ashera" (אֲשֵׁרִים, asherim) secara konsisten dikecam.

Status: Alkitabiah.

2.2. Para Nabi Menentang Ashera

Yeremia mengecam: "Anak-anak mereka ingat akan mezbah-mezbah mereka dan tiang-tiang berhala mereka di dekat pohon-pohon yang rindang" (Yeremia 17:2). Mikha menubuatkan penghakiman atas "patung-patung ukiran dan tiang-tiang berhala" (Mikha 5:13). Yesaya mengejek absurditas membuat berhala dari kayu yang sama yang dipakai untuk memasak (Yesaya 44:14-20).

Status: Alkitabiah.

2.3. Ashera Bukan Pasangan Yahweh

Alkitab tidak pernah menyebut Ashera sebagai pasangan Yahweh. Sebaliknya, Alkitab menyebut Ashera sebagai "dewa asing" (2 Raja-raja 17:16; 21:3), sebagai "kekejian" (2 Raja-raja 23:6), sebagai berhala yang harus dihancurkan. Yahweh adalah Allah yang tidak memiliki pasangan—"TUHAN itu Allah, tidak ada yang lain" (Ulangan 4:35; 6:4).

Status: Alkitabiah.

---

Bagian III: Mengapa Umat yang Mengenal Yahweh Tetap Membuat Berhala?

3.1. Pola Eden: Ketakutan dan Kesalahpahaman

Kembali ke Eden. Adam dan Hawa mengenal Allah—mereka berjalan bersama-Nya. Tetapi ketika keraguan ditanamkan, mereka memilih otonomi. Dan ketika mereka jatuh, respons pertama mereka adalah takut dan bersembunyi (Kejadian 3:10). Ketakutan akan Allah—bukan rasa hormat, melainkan rasa takut yang salah—mendorong mereka membangun tembok: daun ara, lalu persembunyian.

Pola ini berulang di Israel. Umat yang mengenal Yahweh tetap membuat berhala karena:

Pertama, mereka salah memahami siapa Yahweh. Mereka membayangkan Yahweh seperti dewa-dewa Kanaan—yang perlu "dikendalikan" dengan patung, yang perlu "dipuaskan" dengan ritual, yang perlu "dipasangkan" dengan dewi kesuburan agar panen berhasil. Mereka memproyeksikan kategori-kategori dunia ke atas Allah yang tidak dapat dikategorikan.

Kedua, mereka takut akan ketidakpastian. Dewa-dewa Kanaan menjanjikan kontrol: patung Ashera dianggap menjamin kesuburan, kelimpahan, dan perlindungan. Yahweh—yang berdaulat, yang tidak dapat dikendalikan, yang menuntut iman—terasa terlalu bebas, terlalu tidak terduga. Berhala menawarkan ilusi kendali.

Ketiga, mereka mengikuti budaya sekitar. Berhala adalah "agama yang nyaman"—sama seperti orang Israel meminta raja "seperti segala bangsa lain" (1 Samuel 8:5). Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa di sekitar mereka, dan berhala adalah bagian dari paket itu.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

3.2. Berhala sebagai Tembok

Berhala adalah tembok karena ia memisahkan manusia dari Allah yang sejati. Ketika seseorang menyembah patung—entah patung Ashera, anak lembu emas, atau bahkan konsep teologis yang kaku—ia sedang berkata kepada Allah yang hidup: "Aku lebih memilih yang ini. Yang ini lebih aman, lebih dapat kukendalikan, lebih sesuai dengan bayanganku."

Inilah yang Tuhan benci: bukan patungnya, melainkan tembok yang dibangun manusia untuk menghindari perjumpaan dengan-Nya. Berhala adalah daun ara versi lebih besar—usaha menutupi ketelanjangan dengan sesuatu yang kita produksi sendiri.

Status: Inferensi teologis (konsisten dengan Kejadian 3 dan seluruh narasi Alkitab).

---

Bagian IV: Yahweh Alkitab vs. "Yahweh" dalam Berhala

4.1. Apakah Allah yang Sama?

Pertanyaan kunci: apakah "Yahweh" yang disebut dalam inskripsi Kuntillet Ajrud adalah Allah yang sama dengan Yahweh dalam Alkitab?

Jawabannya: nama yang sama, tetapi pemahaman yang berbeda. Inilah inti dari kesalahpahaman manusia terhadap Allah. Nama "Yahweh" dalam inskripsi itu mungkin merujuk pada Allah yang sama yang disembah Israel, tetapi pemahaman mereka tentang Dia telah tercemar oleh kategori-kategori Kanaan. Mereka menyebut nama yang benar, tetapi membayangkan Allah yang salah.

Ini persis yang Yesus katakan kepada orang Samaria: "Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal" (Yohanes 4:22). Dan kepada orang-orang yang berseru "Tuhan, Tuhan" tetapi tidak mengenal Dia: "Aku tidak pernah mengenal kamu!" (Matius 7:23).

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

4.2. Bahaya Menggunakan Nama yang Benar untuk Allah yang Salah

Ini adalah peringatan yang keras. Seseorang bisa menyebut nama "Yahweh," "Yesus," atau "Allah" sambil menyembah berhala—yaitu, sambil membayangkan Allah yang sesuai dengan keinginannya sendiri, yang dapat dikendalikan, yang tidak menuntut penyerahan diri.

Berhala tidak selalu berupa patung. Ia bisa berupa konsep teologis, tradisi gereja, atau bahkan pengalaman rohani yang kita idolakan. Setiap kali kita berkata "Allahku adalah..." dan mengisi titik-titik itu dengan proyeksi kita sendiri—bukan dengan apa yang Alkitab nyatakan—kita sedang membuat berhala, meskipun kita menyebutnya "Yahweh."

Status: Inferensi teologis.

---

Bagian V: Kesalahpahaman yang Tidak Pernah Pudar—Bahkan di Gereja

5.1. Pola yang Berulang

Sejarah menunjukkan bahwa kesalahpahaman tentang Allah tidak pernah pudar. Ia hanya berubah bentuk:

· Israel kuno: berhala dari kayu dan batu, Ashera dan anak lembu emas.
· Gereja mula-mula: teologi yang dipengaruhi filsafat Yunani—Allah yang tidak tersentuh (apatheia), Allah yang menghukum, bukan Allah yang mencari.
· Abad pertengahan: Allah sebagai hakim yang harus dipuaskan dengan korban, indulgensi, dan ritual.
· Modernitas: Allah sebagai konsep filosofis, sebagai energi impersonal, atau sebagai proyeksi psikologis.
· Hari ini: Allah yang dijadikan "pelayan" keinginan kita—Allah yang memberkati tanpa menuntut, Allah yang menerima tanpa mengoreksi, Allah yang kita kendalikan dengan doa-doa formula.

Setiap bentuk ini adalah berhala—tembok yang dibangun karena ketakutan dan kesalahpahaman. Dan setiap kali, Allah yang sejati tetap mencari: "Di manakah engkau?"

Status: Analisis historis + Inferensi teologis.

5.2. Gereja dan Berhala Intelektual

Gereja sering membangun berhala yang paling halus: berhala doktrin yang benar tetapi kasih yang dingin. Kita bisa memiliki teologi yang ortodoks tentang Allah, tetapi hati yang jauh dari-Nya. Kita bisa menyebut nama Yesus dengan benar, tetapi membayangkan Dia sebagai hakim yang kejam, bukan Gembala yang mencari.

Yesus mengecam orang Farisi: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku" (Matius 15:8). Ini adalah berhala intelektual—tembok yang dibangun dari pengetahuan yang benar tetapi tanpa kasih.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

---

Bagian VI: Jalan Keluar—Meruntuhkan Tembok, Menerima Pakaian

6.1. Allah yang Mencari di Balik Tembok

Kabar baiknya adalah: Allah tidak berhenti mencari. Sejak Eden, Ia terus bertanya: "Di manakah engkau?" Ia terus memanggil umat-Nya keluar dari berhala-berhala mereka: "Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, Aku akan menyembuhkan penyimpanganmu" (Yeremia 3:22).

Dalam Kristus, Allah datang bukan untuk menghakimi tembok-tembok kita, melainkan untuk meruntuhkannya dari dalam—bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kasih yang menderita. Ia mengetuk, bukan mendobrak: "Lihatlah, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok" (Wahyu 3:20).

Status: Alkitabiah.

6.2. Melepas Berhala, Menerima Pakaian

Kisah Eden berakhir dengan Tuhan membuatkan pakaian dari kulit binatang bagi Adam dan Hawa (Kejadian 3:21). Pakaian itu adalah pengganti daun ara—pengganti usaha manusia menutupi ketelanjangannya sendiri. Pakaian itu adalah anugerah, bukan produksi.

Demikian pula, jalan keluar dari berhala adalah menerima pakaian yang Allah sediakan: kemuliaan kasih-Nya, yang menyelimuti ketelanjangan kita tanpa kita harus membangun tembok. Kita tidak perlu membuat "Yahweh" versi kita sendiri untuk merasa aman. Kita dapat datang kepada Allah yang sejati—yang sudah tahu kita telanjang, dan justru karena itu datang mencari.

Status: Alkitabiah + Inferensi teologis.

---

Penutup: Nama yang Sama, Allah yang Berbeda—dan Kasih yang Terus Mencari

Penemuan arkeologi tentang "Yahweh dan Ashera-nya" bukan bukti bahwa Allah Alkitab adalah dewa Kanaan. Ia adalah bukti bahwa manusia—bahkan umat yang mengenal nama Yahweh—terus-menerus gagal memahami siapa Allah sesungguhnya. Mereka menyebut nama yang benar, tetapi membangun tembok berhala karena ketakutan dan kesalahpahaman.

Pola Eden tidak pernah pudar. Sejak taman, manusia terus membangun tembok: daun ara, patung Ashera, anak lembu emas, teologi yang dingin, doktrin tanpa kasih. Dan setiap kali, Allah terus mencari: "Di manakah engkau?"

Berhala adalah tembok. Tetapi tembok itu tidak didirikan oleh Allah—ia didirikan oleh kita. Dan Allah, dalam kasih-Nya, tidak mendobrak tembok itu; Ia berdiri di ambang pintu dan mengetuk. Ia menunggu kita melepas daun ara kita, melepas berhala-berhala kita, dan menerima pakaian yang Ia sediakan.

Pertanyaannya bagi kita—dan bagi gereja—adalah ini: berhala apa yang sedang kita sebut "Yahweh" hari ini? Tembok apa yang kita bangun karena takut akan Allah yang tidak dapat kita kendalikan? Dan apakah kita bersedia mendengar suara-Nya yang mencari, dan membukakan pintu?

Sebab nama yang benar tanpa pemahaman yang benar hanyalah tembok. Tetapi Allah yang sejati—yang adalah Kasih—terus mencari di balik tembok itu, menunggu kita keluar dan berjumpa dengan-Nya.

Soli Deo Gloria.

---

Daftar Referensi Alkitab:

Perjanjian Lama:

· Kejadian 3:8-10, 21; Keluaran 20:3-5; 32:1-35; Imamat 26:1; Ulangan 4:35; 6:4; 1 Samuel 8:5; 2 Raja-raja 17:16; 21:3; 23:4-7; Yesaya 44:14-20; Yeremia 3:22; 17:2; Mikha 5:13.

Perjanjian Baru:

· Matius 7:23; 15:8; Yohanes 4:22; Wahyu 3:20.

Teolog:

· Augustinus, City of God—tentang berhala dan penyembahan yang salah.
· Karl Barth, Church Dogmatics—tentang Allah yang tidak dapat dikendalikan oleh konsep manusia.
· Jürgen Moltmann, The Crucified God (1972)—kritik atas Allah yang dingin.
· Abraham Heschel, The Prophets (1962)—tentang pathos Allah dan kritik terhadap berhala.
· N.T. Wright, The Day the Revolution Began (2016).
· Walter Brueggemann, Genesis (Interpretation Commentary).

Arkeologi dan Studi Biblika:

· Ze'ev Meshel, Kuntillet Ajrud (Horvat Teman): An Iron Age II Religious Site on the Judah-Sinai Border (2012).
· William G. Dever, Did God Have a Wife? Archaeology and Folk Religion in Ancient Israel (2005).
· John Day, Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan (2000).
· Mark S. Smith, The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel (2002).

Sekuler:

· Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (1961)—kritik atas pengetahuan yang meniadakan "Yang Lain."
· Martin Buber, I and Thou (1923)—relasi "Aku-Engkau" versus "Aku-Itu."
· Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (2000).
· Literatur psikologi tentang idolatry sebagai mekanisme pertahanan terhadap kecemasan eksistensial.

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan