Allah Menderita dan Mati: Penjelasan Alkitab; Membebaskan Konsep Penderitaan dan Kematian dari Definisi Filsafat Yunani — Kembali kepada Kesederhanaan Alkitab

Allah Menderita dan Mati: Penjelasan Alkitab

Membebaskan Konsep Penderitaan dan Kematian dari Definisi Filsafat Yunani — Kembali kepada Kesederhanaan Alkitab

---

Pendahuluan: Dua Kata yang Telah Dirusak oleh Filsafat

Selama berabad-abad, gereja telah membingungkan diri-nya sendiri dengan pertanyaan: "Apakah Allah menderita? Apakah Allah mati?" Pertanyaan ini tampak sulit — bahkan mustahil — karena kita membaca kata "menderita" dan "mati" dengan definisi filsafat Yunani:

· Menderita — dalam filsafat Yunani — berarti kehilangan kesempurnaan — menjadi kurang dari yang seharusnya.
· Mati — dalam filsafat Yunani — berarti berakhirnya keberadaan — lenyapnya hidup — kehancuran.

Dengan definisi ini, Allah tidak mungkin menderita dan tidak mungkin mati — karena Allah tidak dapat kehilangan kesempurnaan-Nya dan tidak dapat berakhir keberadaan-Nya.

Tetapi — apakah definisi ini alkitabiah? Tidak. Alkitab memiliki definisi-Nya sendiri tentang penderitaan dan kematian — dan definisi itu berbeda dari definisi filsafat Yunani.

Artikel ini berargumen bahwa:

1. Mati — dalam Alkitab — berarti terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.
2. Menderita — dalam Alkitab — berarti kehilangan anugerah Allah — bukan kehilangan kesempurnaan.
3. Jika manusia dapat menderita tanpa menderita (karena anugerah Allah) — dan dapat mati tetapi tetap hidup (kata Yesus) — maka Allah tidak dapat dikatakan mati atau menderita dalam pengertian filsafat Yunani.
4. Yesus menderita dan mati — tetapi bukan karena Ia kehilangan anugerah atau terputus relasi dari Allah — melainkan karena Ia menanggung konsekuensi dosa manusia dalam kemanusiaan-Nya.
5. Filsafat Yunani telah menyesatkan gereja selama berabad-abad — dan kita perlu kembali kepada kesederhanaan Alkitab.

---

Bagian I: Apa Itu Mati? — Definisi Alkitab

1. Mati dalam Alkitab — Terputus Relasi dari Allah

Dalam Alkitab, mati bukanlah berakhirnya keberadaan — melainkan terputusnya relasi dari Allah:

"Tetapi TUHAN Allah berfirman: 'Engkau tidak boleh makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.'" (Kejadian 2:17)

Ketika Adam dan Hawa makan buah itu — mereka tidak langsung mati secara fisik — tetapi mereka terputus relasinya dari Allah. Itulah kematian yang sebenarnya — kematian rohani — terputusnya relasi dengan Sumber Hidup.

"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 6:23)

Maut adalah upah dosa — dan dosa adalah pemutusan relasi dari Allah. Karena itu, mati berarti terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.

2. Mati dalam Alkitab — Bukan Berakhirnya Keberadaan

Alkitab mengajarkan bahwa kematian fisik bukanlah akhir — melainkan transisi:

"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." (Yohanes 11:25)

Yesus mengatakan bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati — karena kematian fisik bukanlah akhir dari keberadaan. Kematian fisik adalah terputusnya relasi dari dunia ini — tetapi bukan terputusnya relasi dari Allah.

"Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:38-39)

Paulus menyatakan bahwa maut tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah — karena kematian fisik bukanlah pemutusan relasi dari Allah.

3. Mati dalam Alkitab — Terputus Relasi dari Allah

Jadi, mati dalam Alkitab berarti:

· Terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.
· Kehilangan hidup kekal — bukan kehancuran total.
· Terpisah dari Sumber Hidup — bukan lenyap.

Dan karena itu, ketika Yesus mati di kayu salib — Ia mengalami terputusnya relasi dari Bapa — itulah sebabnya Ia berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Yesus mengalami kematian rohani — terputusnya relasi dari Bapa — dalam kemanusiaan-Nya — agar kita tidak pernah mengalaminya.

---

Bagian II: Apa Itu Menderita? — Definisi Alkitab

1. Menderita dalam Alkitab — Kehilangan Anugerah

Dalam Alkitab, menderita bukanlah kehilangan kesempurnaan — melainkan kehilangan anugerah Allah:

"Tetapi oleh karena engkau tidak percaya akan perkataan-Ku, maka engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana segala sesuatu itu terjadi, sebab perkataan-Ku itu pasti akan digenapi." (Lukas 1:20)

Zakharia menderita — bukan karena kehilangan kesempurnaan — melainkan karena ia kehilangan anugerah untuk berbicara sementara waktu — sebagai konsekuensi dari ketidakpercayaannya.

Tetapi penderitaan yang sebenarnya bukanlah penderitaan fisik — melainkan penderitaan yang berakar pada kehilangan anugerah Allah:

· Kehilangan damai sejahtera — karena dosa.
· Kehilangan sukacita — karena jauh dari Allah.
· Kehilangan pengharapan — karena tidak percaya pada janji-Nya.

2. Menderita dalam Alkitab — Bukan Kehilangan Kesempurnaan

Alkitab tidak mengajarkan bahwa penderitaan adalah kehilangan kesempurnaan — karena kesempurnaan bukanlah milik manusia — melainkan milik Allah. Penderitaan manusia bukanlah kehilangan kesempurnaan — melainkan konsekuensi dari dosa dan kehilangan anugerah.

Dan karena itu, penderitaan dapat diatasi oleh anugerah Allah:

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.'" (2 Korintus 12:9)

Paulus menderita — tetapi ia tidak dikuasai oleh penderitaan — karena anugerah Allah cukup baginya. Penderitaan yang diterima dengan anugerah Allah bukanlah penderitaan yang menghancurkan — melainkan penderitaan yang memuliakan Allah.

3. Contoh: Daniel dan Tiga Orang Kudus dalam Perapian

Daniel dan tiga orang kudus — Sadrakh, Mesakh, dan Abednego — mengalami penderitaan fisik — tetapi mereka tidak menderita dalam pengertian kehilangan anugerah Allah:

· Daniel dilemparkan ke dalam gua singa — tetapi Allah mengutus malaikat-Nya untuk menutup mulut singa-singa itu (Daniel 6:22).
· Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala — tetapi Allah menyertai mereka — dan mereka tidak terbakar (Daniel 3:25-27).

Mereka menderita secara fisik — tetapi mereka tidak menderita secara rohani — karena anugerah Allah menyertai mereka. Inilah penderitaan yang dialami oleh orang beriman — penderitaan fisik yang tidak disertai kehilangan anugerah Allah.

4. Jika Manusia Dapat Menderita Tanpa Menderita — Bagaimana dengan Allah?

Jika manusia — yang adalah ciptaan — dapat menderita secara fisik tanpa menderita secara rohani (karena anugerah Allah) — maka bagaimana dengan Allah — yang adalah Sumber anugerah?

Allah tidak dapat menderita dalam pengertian kehilangan anugerah — karena Ia adalah Sumber anugerah. Ia tidak dapat kehilangan anugerah-Nya — karena anugerah-Nya adalah diri-Nya sendiri.

Dan karena itu, ketika Yesus menderita di kayu salib — Ia menderita secara fisik — tetapi Ia tidak menderita dalam pengertian kehilangan anugerah — karena Ia adalah Sumber anugerah. Penderitaan-Nya adalah penderitaan yang menanggung dosa manusia — bukan penderitaan yang kehilangan anugerah.

---

Bagian III: Jika Manusia Dapat Mati tetapi Tetap Hidup — Bagaimana dengan Allah?

1. Manusia Dapat Mati tetapi Tetap Hidup

Yesus mengatakan:

"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." (Yohanes 11:25)

Manusia dapat mati secara fisik — tetapi tetap hidup secara rohani — karena ia percaya kepada Kristus. Kematian fisik bukanlah akhir — karena hidup kekal melampaui kematian fisik.

Ini berarti bahwa kematian bukanlah berakhirnya keberadaan — melainkan transisi dari hidup di dunia ini ke hidup kekal.

2. Allah Tidak Dapat Mati — Karena Ia adalah Sumber Hidup

Jika manusia dapat mati tetapi tetap hidup — maka bagaimana dengan Allah — yang adalah Sumber Hidup?

Allah tidak dapat mati dalam pengertian terputus relasi dari Hidup — karena Ia adalah Hidup itu sendiri. Ia tidak dapat kehilangan hidup — karena hidup-Nya adalah diri-Nya sendiri.

Tetapi — dan inilah kunci-nya — Yesus mati di kayu salib bukan karena Ia kehilangan hidup — melainkan karena Ia menyerahkan hidup-Nya sendiri:

"Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali." (Yohanes 10:18)

Yesus mati — bukan karena Ia dikuasai oleh kematian — melainkan karena Ia menguasai diri-Nya sendiri — dan Ia memilih untuk menyerahkan hidup-Nya bagi dunia.

3. Kematian Yesus — Kematian yang Menguasai Diri-Nya Sendiri

Kematian Yesus bukanlah kematian yang dikuasai oleh maut — melainkan kematian yang dikuasai oleh diri-Nya sendiri. Ia menyerahkan hidup-Nya — dan Ia berkuasa mengambilnya kembali.

Dan karena itu, kematian-Nya memiliki nilai kekal — karena yang mati adalah Pribadi ilahi — bukan hanya manusia biasa.

---

Bagian IV: Filsafat Yunani Telah Menyesatkan Gereja

1. Definisi Filsafat Yunani tentang Penderitaan dan Kematian

Filsafat Yunani mendefinisikan penderitaan dan kematian dengan cara yang berbeda dari Alkitab:

· Menderita — kehilangan kesempurnaan — menjadi kurang dari yang seharusnya.
· Mati — berakhirnya keberadaan — lenyapnya hidup — kehancuran.

Dengan definisi ini, Allah tidak mungkin menderita dan tidak mungkin mati — karena Allah tidak dapat kehilangan kesempurnaan-Nya dan tidak dapat berakhir keberadaan-Nya.

2. Akibatnya — Gereja Terjebak dalam Kontradiksi

Dengan definisi filsafat Yunani, gereja terjebak dalam kontradiksi:

· Gereja mengakui dwi natur Kristus — tetapi menolak bahwa Allah menderita dan mati.
· Gereja mengakui bahwa Yesus adalah Allah — tetapi menolak bahwa Allah mati di kayu salib.
· Gereja mengakui bahwa Yesus menderita — tetapi menolak bahwa Allah menderita.

Ini adalah kontradiksi yang tidak konsisten — dan berakar pada definisi filsafat Yunani tentang penderitaan dan kematian.

3. Kembali kepada Kesederhanaan Alkitab

Jika kita kembali kepada definisi Alkitab — maka kontradiksi ini menjadi jelas:

· Mati — terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.
· Menderita — kehilangan anugerah Allah — bukan kehilangan kesempurnaan.

Yesus mati — dalam arti terputus relasi dari Bapa dalam kemanusiaan-Nya — agar kita tidak pernah mengalaminya.
Yesus menderita — dalam arti menanggung konsekuensi dosa manusia dalam kemanusiaan-Nya — bukan karena Ia kehilangan anugerah — karena Ia adalah Sumber anugerah.

Dan karena itu, Allah tidak dapat dikatakan mati atau menderita dalam pengertian filsafat Yunani — tetapi Allah dalam Kristus telah mengalami kematian dan penderitaan dalam kemanusiaan-Nya — untuk menyelamatkan kita.

---

Bagian V: Kesimpulan — Allah Menderita dan Mati dalam Pengertian Alkitab

Mari kita rangkum:

1. Mati — dalam Alkitab — berarti terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan.
2. Menderita — dalam Alkitab — berarti kehilangan anugerah Allah — bukan kehilangan kesempurnaan.
3. Jika manusia dapat menderita tanpa menderita (karena anugerah Allah) — dan dapat mati tetapi tetap hidup (kata Yesus) — maka Allah tidak dapat dikatakan mati atau menderita dalam pengertian filsafat Yunani.
4. Yesus menderita dan mati — tetapi bukan karena Ia kehilangan anugerah atau terputus relasi dari Allah — melainkan karena Ia menanggung konsekuensi dosa manusia dalam kemanusiaan-Nya.
5. Filsafat Yunani telah menyesatkan gereja selama berabad-abad — dan kita perlu kembali kepada kesederhanaan Alkitab.

Allah menderita dan mati — tetapi dalam pengertian Alkitab, bukan filsafat Yunani. Mati berarti terputus relasi dari Allah — bukan berakhirnya keberadaan. Menderita berarti kehilangan anugerah Allah — bukan kehilangan kesempurnaan. Jika manusia dapat menderita tanpa menderita karena anugerah Allah — dan dapat mati tetapi tetap hidup karena Kristus — maka Allah tidak dapat dikatakan mati atau menderita dalam pengertian filsafat Yunani. Yesus menderita dan mati — tetapi bukan karena Ia kehilangan anugerah atau terputus relasi dari Allah — melainkan karena Ia menanggung konsekuensi dosa manusia dalam kemanusiaan-Nya. Filsafat Yunani telah menyesatkan gereja selama berabad-abad — dan kita perlu kembali kepada kesederhanaan Alkitab.

Mati — terputus relasi dari Allah.
Menderita — kehilangan anugerah Allah.
Yesus mati dan menderita — untuk menanggung dosa manusia.
Dan Allah — dalam Kristus — telah mengalami kematian dan penderitaan — agar kita tidak pernah mengalaminya.

---

Soli Deo Gloria.

Komentar

Postingan Populer

Daftar Blog Terkait - Utama

Please Share The Link

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan