Titik Kritis dalam Pemahaman Otoritas Gereja
Lanjutan DOGMA = ROH KUDUS
Merekonstruksi Makna Dogmatis dari Perspektif Pneumatologi
Dengan Kitab Suci sebagai Jangkar, dan Otoritas Kenabian-Apostolik sebagai Saksi yang Menyatakan
---
Pendahuluan: Titik Kritis dalam Pemahaman Otoritas Gereja
Dalam diskusi sebelumnya, kita telah menetapkan tiga pilar dogma sejati:
1. Roh Kudus sebagai Kebenaran yang hidup.
2. Kitab Suci sebagai jangkar revelasi Allah.
3. Gereja sebagai saksi yang menyatakan, bukan menetapkan.
Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: Siapakah sebenarnya pemegang otoritas perutusan itu? Apakah otoritas itu melekat pada orang (murid dari para murid / suksesi kepemimpinan) atau pada tulisan (yang ditulis oleh para rasul dan nabi)?
Ini adalah persoalan mendasar yang telah menjadi sumber perpecahan selama berabad-abad. Mari kita periksa secara alkitabiah, baik dari Perjanjian Lama (para nabi) maupun Perjanjian Baru (para rasul/murid Yesus), untuk menemukan jawabannya.
---
Otoritas dalam Perjanjian Lama: Nabi vs. Tulisan
1. Otoritas Nabi: Menyampaikan, Bukan Menciptakan
Perjanjian Lama dengan jelas menunjukkan bahwa seorang nabi tidak memiliki otoritas atas dirinya sendiri. Otoritas nabi adalah otoritas yang diterima, bukan otoritas yang melekat pada pribadinya.
"Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya: 'Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu dalam suatu kitab.'" (Yeremia 30:1-2)
Nabi adalah jurubicara (nabi berarti "yang dipanggil" atau "yang berbicara atas nama"). Otoritas nabi terletak pada Firman yang disampaikan, bukan pada orangnya. Ketika nabi menyampaikan firman, otoritasnya adalah otoritas Allah, tetapi ketika nabi berbicara dari dirinya sendiri, ia tidak memiliki otoritas.
2. Ujian Nabi: Kesesuaian dengan Firman yang Sudah Ada
"Tetapi sekalipun nabi itu memberi tanda atau mujizat, dan apa yang dikatakannya itu terjadi, tetapi ia berkata: Mari kita mengikuti allah lain... janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi itu." (Ulangan 13:1-3)
Perhatikan: bahkan mujizat sekalipun tidak cukup untuk membuktikan otoritas seorang nabi. Ujian tertinggi adalah kesesuaian dengan Firman Allah yang sudah diwahyukan. Otoritas nabi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu tunduk pada Firman yang telah diberikan sebelumnya.
3. Nabi Palsu: Berbicara dari Dirinya Sendiri
"Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi mereka bernubuat demi nama-Ku secara dusta. Sebab itu Aku akan membuang kamu..." (Yeremia 14:14-15)
Nabi palsu adalah mereka yang mengklaim otoritas atas nama Tuhan, tetapi Tuhan tidak mengutus mereka. Otoritas mereka adalah otoritas palsu karena tidak berasal dari Allah. Perhatikan bahwa Allah tetap memegang kendali atas siapa yang diutus-Nya—otoritas perutusan adalah hak prerogatif Allah, bukan warisan institusional.
4. Perjanjian Baru tentang PL: Otoritas Ada pada Tulisan
"Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi justru Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku." (Yohanes 5:39)
Yesus sendiri mengarahkan otoritas pada Kitab Suci yang tertulis, bukan pada otoritas para ahli Taurat atau imam-imam kepala. Kitab Suci Perjanjian Lama adalah kesaksian tentang Kristus—otoritasnya berasal dari fakta bahwa ia adalah Firman Allah yang tertulis, bukan karena ditafsirkan oleh otoritas tertentu.
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17)
Yesus mengakui otoritas Tulisan (Taurat dan Nabi-nabi), bukan otoritas para penafsir (Farisi dan ahli Taurat). Ia bahkan mengecam para pemimpin agama yang menggantikan otoritas Firman dengan otoritas tradisi mereka:
"Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?" (Matius 15:3)
---
Otoritas dalam Perjanjian Baru: Para Rasul vs. Murid dari Murid
1. Otoritas Para Rasul: Diberikan Langsung oleh Kristus
Para rasul adalah mereka yang dipilih langsung oleh Yesus dan menerima otoritas secara langsung dari-Nya. Mereka adalah saksi mata kebangkitan (Kis. 1:21-22) dan menerima pengilhaman Roh untuk menuliskan Firman Allah.
"Dan Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil." (Markus 3:14)
Otoritas para rasul bersifat unikal dan tidak dapat diulang. Mereka adalah fondasi gereja, bersama dengan para nabi:
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru." (Efesus 2:19-20)
Perhatikan: dasar gereja adalah para rasul dan nabi—bukan penerus mereka. Fondasi diletakkan sekali untuk selamanya. Setelah fondasi diletakkan, tidak ada lagi "fondasi baru" yang dibangun.
2. Otoritas Tulisan Para Rasul: Diilhamkan dan Kekal
Para rasul tidak sekadar berbicara; mereka menulis di bawah ilham Roh Kudus. Tulisan mereka menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru.
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16)
Paulus menekankan tulisan yang diilhamkan, bukan orang yang mengajar secara lisan. Bahkan Paulus sendiri, meskipun seorang rasul, menuliskan ajarannya agar menjadi standar tetap bagi gereja.
"Dan anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan Kitab-kitab Suci yang lain." (2 Petrus 3:15-16)
Petrus menyebut surat-surat Paulus sebagai Kitab Suci, setara dengan "Kitab-kitab Suci yang lain" (Perjanjian Lama). Ini menunjukkan bahwa tulisan para rasul sudah dianggap sebagai Firman Allah yang berotoritas, bukan sekadar nasihat pribadi.
3. Murid dari Murid: Penerus dalam Pelayanan, Bukan dalam Otoritas Apostolik
Perjanjian Baru mengenal adanya penerus dalam pelayanan, seperti Timotius dan Titus. Namun penting untuk melihat perbedaan:
| PARA RASUL | PENERUS PARA RASUL |
| :--- | :--- |
| Dipilih langsung oleh Yesus | Dipilih oleh rasul atau gereja |
| Saksi mata kebangkitan | Bukan saksi mata langsung |
| Menerima ilham untuk menulis Kitab Suci | Tidak menerima ilham kanonik |
| Otoritas unikal sebagai fondasi | Otoritas fungsional sebagai pelayan |
| Mengajar dengan otoritas ilahi langsung | Mengajar berdasarkan apa yang sudah ditulis rasul |
Paulus memberikan instruksi kepada Timotius:
"Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." (2 Timotius 2:2)
Perhatikan alur: Paulus (rasul) → Timotius (penerus) → orang-orang yang dapat dipercayai (penerus berikutnya). Namun, apa yang diwariskan adalah apa yang telah Paulus ajarkan, bukan otoritas Paulus. Timotius tidak mewarisi otoritas apostolik Paulus; ia mewarisi ajaran apostolik untuk dijaga dan diteruskan.
4. Peringatan tentang Penggantian Otoritas
Paulus memberikan peringatan keras bahwa setelah kepergiannya, akan muncul orang-orang yang menyimpang:
"Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan mengikut mereka." (Kisah Para Rasul 20:29-30)
Paulus tidak berkata: "Percayalah pada penerusku karena mereka memiliki otoritas yang sama denganku." Sebaliknya, ia berkata: "Karena itu waspadalah" dan mengarahkan mereka pada Firman Allah (Kis. 20:32). Otoritas tidak diwariskan secara institusional; kewaspadaan dan ketaatan pada Firmanlah yang melindungi gereja.
5. Yohanes: Urapan Mengajar, Bukan Otoritas Hirarkis
"Tetapi urapan yang telah kamu terima dari pada-Nya tinggal di dalam kamu, dan tidak perlu kamu diajar oleh orang lain; tetapi urapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu." (1 Yohanes 2:27)
Yohanes menulis kepada seluruh jemaat, bukan hanya kepada para pemimpin. Ia mengatakan bahwa setiap orang percaya memiliki urapan Roh yang mengajar. Ini secara radikal mendemokratisasikan otoritas pengajaran—otoritas tertinggi ada pada Roh yang tinggal dalam setiap orang percaya, bukan pada hirarki gerejawi.
Namun, urapan ini tetap dalam bingkai apa yang telah diajarkan para rasul (1 Yoh. 2:24). Urapan Roh dan ajaran apostolik berjalan beriringan, tetapi keduanya dapat diakses oleh setiap orang percaya secara langsung, tanpa harus melalui perantaraan otoritas gerejawi.
---
Analisis Kritis: Otoritas Gereja sebagai Orang vs. Otoritas Tulisan Para Rasul
Masalah: Mengganti Otoritas Tulisan dengan Otoritas Orang
Sepanjang sejarah gereja, terjadi pergeseran yang halus namun fatal:
1. Awalnya: Otoritas ada pada tulisan para rasul dan nabi (Kitab Suci).
2. Lalu: Otoritas bergeser pada orang-orang yang mewarisi jabatan (uskup, paus, sinode).
3. Akibatnya: Firman Allah menjadi tunduk pada interpretasi dan keputusan manusia.
Ini persis seperti yang Yesus kritik terhadap orang Farisi:
"Sebab itu demikianlah firman TUHAN: Karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan." (Yesaya 29:13, dikutip Yesus dalam Matius 15:8-9)
Mengganti otoritas Firman dengan otoritas manusia adalah kesalahan yang berulang sepanjang sejarah keselamatan. Israel mengganti nabi-nabi Allah dengan para imam yang korup. Gereja mengganti otoritas rasuli dengan otoritas hierarki.
Mengapa Otoritas Ada pada Tulisan, Bukan pada Orang?
| TULISAN PARA RASUL | ORANG (PENERUS) |
| :--- | :--- |
| Diilhamkan Roh Kudus (2 Tim. 3:16) | Tidak diilhamkan secara kanonik |
| Tetap untuk selamanya (1 Ptr. 1:25) | Dapat berubah dan salah |
| Dapat diuji dan diverifikasi | Sulit diuji karena klaim otoritas |
| Terbuka untuk semua orang | Hanya dapat diakses melalui hierarki |
| Standar objektif | Cenderung subjektif dan politis |
Kitab Suci adalah saksi tertulis yang tidak dapat berubah. Orang hidup dapat berubah, dapat salah, dan dapat menyimpang. Karena itu, Allah memilih untuk menuliskan Firman-Nya agar tetap murni sepanjang zaman.
Kitab Suci Cukup: Doktrin Sola Scriptura
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17)
Kitab Suci cukup untuk:
· Mengajar
· Menyatakan kesalahan
· Memperbaiki kelakuan
· Mendidik dalam kebenaran
· Memperlengkapi untuk setiap perbuatan baik
Tidak ada kebutuhan untuk otoritas tambahan yang setara dengan Kitab Suci. Semua otoritas manusia di gereja bersifat sekunder dan instrumental—berguna selama ia setia pada Kitab Suci, tetapi tidak pernah menggantikan otoritas Kitab Suci.
Peran Gereja yang Sejati: Menjaga dan Menyatakan, Bukan Menetapkan
Gereja berfungsi sebagai penjaga dan penyampai Firman, tetapi bukan pemberi otoritas pada Firman. Firman sudah berotoritas karena ia adalah Firman Allah. Gereja tidak membuatnya menjadi otoritas; gereja mengakui dan menyatakan otoritasnya.
Seperti yang dikatakan Agustinus: "Aku tidak akan percaya pada Injil jika otoritas gereja tidak mendorongku"—namun ini harus dipahami dalam konteks bahwa gereja adalah saksi yang memperkenalkan kita pada Firman, bukan sumber otoritas Firman. Otoritas Firman berasal dari Allah sendiri, bukan dari gereja.
---
Implikasi: Mendefinisikan Ulang Otoritas Gereja
1. Otoritas Gereja adalah Otoritas Pelayanan, Bukan Otoritas Kemahiran
Gereja yang setia:
· Melayani Firman, bukan memerintah di atas Firman.
· Menyatakan apa yang sudah tertulis, bukan menambahkan apa yang tidak tertulis.
· Mengajar berdasarkan Kitab Suci, bukan berdasarkan tradisi manusia.
· Menjaga kemurnian ajaran, bukan menciptakan ajaran baru.
2. Otoritas Gereja adalah Otoritas Bersaksi, Bukan Otoritas Mengikat
Gereja adalah saksi (Kis. 1:8), bukan hakim. Tugas gereja adalah memberi kesaksian tentang:
· Apa yang telah Allah lakukan dalam Kristus.
· Apa yang telah ditulis oleh para rasul dan nabi.
· Apa yang Roh Kudus nyatakan dalam hati orang percaya.
Kesaksian gereja tidak pernah menggantikan kesaksian Roh dan kesaksian Firman.
3. Otoritas Gereja adalah Otoritas Persaudaraan, Bukan Otoritas Hierarkis
"Janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara." (Matius 23:8)
Yesus menekankan kesetaraan semua orang percaya. Otoritas dalam gereja adalah otoritas saudara yang lebih tua dalam iman, bukan otoritas tuan atas budak. Model kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan yang melayani, seperti Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13:14-15).
4. Otoritas Gereja adalah Otoritas yang Bertanggung Jawab kepada Firman
Gereja, termasuk para pemimpinnya, tunduk pada Firman Allah. Mereka tidak memiliki otoritas untuk mengubah, menambah, atau mengurangi Firman. Mereka hanya memiliki otoritas untuk:
· Menafsirkan Firman dengan benar (2 Tim. 2:15).
· Mengajar Firman dengan setia (Tit. 2:1).
· Menjaga Firman dari penyelewengan (2 Tim. 1:13-14).
---
Kesimpulan: Mengembalikan Otoritas pada Tempatnya
Setelah memeriksa Perjanjian Lama (para nabi) dan Perjanjian Baru (para rasul/murid Yesus), kita dapat menarik kesimpulan tegas:
1. Otoritas Perutusan Allah Ada pada Firman yang Tertulis
Perjanjian Lama: Para nabi menuliskan Firman Allah, dan tulisan itu menjadi standar bagi generasi berikutnya.
Perjanjian Baru: Para rasul menuliskan Firman Allah, dan tulisan itu menjadi standar bagi gereja sepanjang masa.
2. Otoritas Gereja Adalah Otoritas Sekunder dan Fungsional
Gereja tidak menerima warisan otoritas apostolik dalam arti yang sama dengan para rasul. Gereja menerima:
· Ajaran apostolik yang harus dijaga.
· Pelayanan untuk meneruskan ajaran itu.
· Saksi untuk menyatakan kebenaran itu.
Tetapi gereja tidak menerima:
· Otoritas untuk menulis Kitab Suci tambahan.
· Otoritas untuk menetapkan ajaran baru yang setara dengan Kitab Suci.
· Otoritas untuk mengikat hati nurani di luar Firman.
3. Setiap Orang Percaya Memiliki Akses Langsung pada Otoritas Firman dan Roh
Urapan Roh mengajar setiap orang percaya (1 Yoh. 2:27). Firman Allah terbuka untuk setiap orang percaya (Kis. 17:11). Karena itu, tidak ada seorang pun—betapa pun tinggi jabatannya—yang memiliki otoritas eksklusif untuk menafsirkan Firman bagi orang lain dengan cara yang mengikat hati nurani di luar kebenaran Firman itu sendiri.
4. Kembali ke Pola Alkitabiah
· PL: Firman Allah melalui nabi → ditulis → menjadi standar (Yosua 1:8; Ul. 31:24-26).
· PB: Firman Allah melalui rasul → ditulis → menjadi standar (2 Ptr. 3:15-16; Why. 22:18-19).
· Gereja: Menjaga, mengajar, dan menyatakan Firman → tetapi tidak pernah menggantikannya.
---
Penutup: Sebuah Seruan untuk Kembali
Persoalan yang kita hadapi bukanlah persoalan kecil. Sepanjang sejarah, gereja telah bergumul dengan godaan untuk mengganti otoritas Firman yang tertulis dengan otoritas orang-orang yang mengklaim mewarisi jabatan rasuli. Ini adalah penyimpangan yang serius yang telah menyebabkan:
· Tradisi manusia menggantikan perintah Allah.
· Hierarki gerejawi menggantikan persaudaraan dalam Kristus.
· Ketakutan pada otoritas manusia menggantikan kebebasan dalam Roh.
Namun kita dipanggil untuk kembali:
· Kembali pada Firman yang tertulis sebagai satu-satunya otoritas tertinggi.
· Kembali pada Roh Kudus yang mengajar setiap orang percaya.
· Kembali pada gereja sebagai saudara, bukan sebagai tuan.
Marilah kita mendengar seruan Yesus:
"Dan kamu tidak ingin datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup." (Yohanes 5:40)
Otoritas sejati tidak ada pada orang, tetapi pada Firman yang bersaksi tentang Kristus. Dan Firman itu tertulis untuk kita, agar kita dapat menyelidikinya, memahaminya, dan menghidupinya dalam kebebasan Roh, di dalam persekutuan gereja yang setia menyatakan kebenaran-Nya.
---
Soli Deo Gloria
---
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
— 2 Timotius 3:16
"Firman Allah tetap untuk selama-lamanya."
— 1 Petrus 1:25
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya."
— Matius 6:33
Komentar
Posting Komentar