PERNIKAHAN, PERCERAIAN, DAN RAGI FARISI

PERNIKAHAN, PERCERAIAN, DAN RAGI FARISI

Sebuah Eksegesis atas Matius 19:3 dan Kejadian 3

---

Abstrak

Artikel ini membahas kekeliruan eksegesis yang telah berlangsung lama dalam tradisi gereja mengenai pernikahan dan perceraian. Berdasarkan analisis mendalam atas Matius 19:3 ("Apakah seorang laki-laki dengan alasan apa pun boleh menceraikan istrinya?") dan narasi Kejadian 3, penulis menunjukkan bahwa kekeliruan utama terletak pada kegagalan membedakan antara "alasan negatif" (usaha manusia untuk membenarkan dosa) dan "realita negatif" (konsekuensi nyata dari dosa yang telah terjadi). Gereja, karena gagal membedakan keduanya, sering jatuh ke dalam "ragi Farisi" —menghakimi korban sambil membiarkan pelaku dosa. Artikel ini menawarkan pembacaan ulang yang lebih setia pada teks dan pastoral yang lebih adil bagi korban.

---

Pendahuluan

Dalam Matius 19:3, orang-orang Farisi datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya teologis:

"Apakah seorang laki-laki dengan alasan apa pun boleh menceraikan istrinya?"

Selama berabad-abad, pertanyaan ini dibaca seolah-olah Yesus sedang menjawab pertanyaan tentang etika perceraian. Tetapi pembacaan ini keliru. Yesus tidak sedang membahas etika perceraian—Ia sedang membongkar akar dosa yang tersembunyi di balik pertanyaan itu.

Pertanyaan Farisi adalah pertanyaan yang sarat dengan "alasan negatif" —yaitu, usaha untuk mencari pembenaran teologis bagi dosa yang sudah mereka rencanakan. Mereka tidak ingin tahu apakah perceraian itu dosa; mereka ingin tahu bagaimana membuat perceraian itu "halal" di mata Allah dan masyarakat.

Artikel ini akan menunjukkan:

1. Apa itu "alasan negatif" dan bagaimana ia bekerja dalam dosa manusia
2. Perbedaan mendasar antara "alasan negatif" dan "realita negatif"
3. Bagaimana Kejadian 3 memberikan prototipe dari pola ini
4. Mengapa gereja sering jatuh ke dalam ragi Farisi dengan mencampuradukkan keduanya
5. Bagaimana membaca Matius 19 dengan benar dalam terang Kejadian 2-3

---

Bagian 1: "Dengan Alasan Apapun" — Sebuah Analisis Eksegesis

1.1 Konteks Matius 19:3

Matius 19:3 harus dibaca dalam konteks keseluruhan pasal 19, yang dimulai dengan:

"Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, pergilah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia menyembuhkan mereka di situ. Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia." (Matius 19:1-3)

Konteks ini penting:

| Elemen | Penjelasan |
| Yesus | sedang melayani orang banyak—menyembuhkan, mengajar, memberkati |
| Farisi | datang untuk mencobai (LK: peirazō — menguji, menjebak) |
| Mereka | tidak datang dengan pertanyaan tulus, tetapi dengan agenda tersembunyi |

Pertanyaan mereka:
"Apakah seorang laki-laki dengan alasan apa pun boleh menceraikan istrinya?"

Kata Yunani untuk "alasan apa pun" adalah κατὰ πᾶσαν αἰτίαν (kata pasan aitian) — "menurut setiap penyebab/alasan." Ini adalah frasa yang merujuk pada perdebatan teologis pada zaman itu antara dua aliran:
· Rabi Hillel: Mengizinkan perceraian dengan alasan apa pun (bahkan karena istri membakar roti)
· Rabi Shammai: Hanya mengizinkan perceraian karena perzinahan (zina)
Farisi sedang menguji: "Di pihak mana Yesus berdiri? Apakah Ia mengikuti Hillel atau Shammai?"


1.2 Apa yang Sebenarnya Mereka Tanyakan?

Pertanyaan Farisi bukan tentang etika perceraian. Mereka tidak bertanya: "Apakah perceraian itu dosa?" Mereka sudah tahu jawabannya. Mereka adalah ahli Taurat—mereka tahu Torah dengan baik.

Yang mereka tanyakan adalah:
"Alasan apa yang membolehkan seseorang untuk bercerai tanpa dianggap berdosa?"

Ini adalah pertanyaan yang mencari "celah" —sebuah loophole teologis yang memungkinkan seseorang melakukan perceraian tanpa merasa bersalah. Mereka ingin mengubah dosa menjadi halal dengan alasan teologis.

Inilah yang disebut Yesus sebagai "ragi Farisi" (Matius 16:6):

| Elemen | Penjelasan |
| Ragi | sesuatu yang kecil tetapi mengembang dan merusak seluruh adonan |
| Ragi Farisi | kemunafikan—mengajarkan aturan tetapi mencari celah untuk melanggarnya |
| Tujuan | menjaga penampilan kesalehan sambil membiarkan dosa dengan alasan "teologis" |


1.3 Respons Yesus: Kembali ke Kejadian 2-3

Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka. Ia mengalihkan perhatian:
"Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:4-6)

Yesus melakukan dua hal:
1. Mengembalikan ke rancangan awal —sebelum dosa masuk
2. Menolak semua "alasan" —karena tidak ada alasan yang membolehkan manusia menghancurkan apa yang Allah satukan

Mengapa Yesus menolak semua "alasan"? Karena semua "alasan negatif" adalah bahasa lain dari "izin untuk berbuat dosa."


1.4 "Alasan Negatif" dalam Matius 19

Yang dimaksud dengan "alasan negatif" adalah:

| Ciri | Penjelasan |
| Mencari pembenaran | Seseorang mencari dasar teologis untuk tindakan yang sudah ia rencanakan |
| Menghindari tanggung jawab | Ia ingin tetap merasa "benar" di hadapan Allah dan manusia |
| Menutupi dosa | Alasan digunakan untuk menyembunyikan dosa di balik argumen teologis |
| Mengubah dosa menjadi "halal" | Dosa dibungkus dengan bahasa teologis agar tampak sah |

Contoh "alasan negatif" dalam pernikahan:
· "Saya bercerai karena saya sudah tidak bahagia" → alasan untuk membenarkan dosa perceraian
· "Saya selingkuh karena istri saya tidak perhatian" → alasan untuk membenarkan dosa perselingkuhan
· "Saya meninggalkan keluarga karena mereka tidak menghargai saya" → alasan untuk membenarkan dosa penelantaran

Semua ini adalah "alasan negatif" —usaha untuk membenarkan dosa dengan argumen yang tampaknya logis atau teologis.

Yesus menolak semua ini. Tidak ada alasan yang membolehkan manusia menghancurkan apa yang Allah satukan. Tidak ada "alasan negatif" yang sah untuk bercerai, selingkuh, atau meninggalkan keluarga.


1.5 Mengapa Yesus Menolak "Alasan Negatif"?

Karena "alasan negatif" adalah buah dari dosa itu sendiri. Mereka adalah puncak dari kejatuhan manusia—yaitu, usaha untuk menutupi dosa dengan alasan.

Perhatikan Kejadian 3:
· Adam: "Wanita yang Kautempatkan di sisiku..." → alasan negatif untuk membenarkan dosa
· Hawa: "Ular yang memperdayakan aku..." → alasan negatif untuk membenarkan dosa

Allah menolak alasan mereka. Allah tidak menerima pembenaran Adam atau Hawa. Allah justru mengutuk dosa yang mereka lakukan.

Tetapi perhatikan: Allah tidak menghakimi mereka karena "realita negatif" yang terjadi (perceraian, perpisahan, rasa malu). Allah menghakimi mereka karena dosanya—yaitu, pelanggaran terhadap perintah-Nya.

---

Bagian 2: "Realita Negatif" — Konsekuensi dari Dosa

2.1 Definisi Realita Negatif

"Realita negatif" adalah konsekuensi nyata dari dosa yang telah terjadi. Ini bukan alasan untuk membenarkan dosa, tetapi akibat yang tidak terhindarkan dari dosa yang sudah dilakukan.

| Aspek | Penjelasan |
| Sumber | Berasal dari dosa yang sudah terjadi |
| Status | Bukan alasan untuk membenarkan, tetapi akibat yang harus dihadapi |
| Contoh | KDRT adalah dosa → perceraian adalah realita negatif |
| Contoh | Perselingkuhan adalah dosa → perceraian adalah realita negatif |
| Contoh | Penelantaran adalah dosa → perceraian adalah realita negatif |

Perbedaan mendasar:
| "Alasan Negatif" | "Realita Negatif" |
| Usaha untuk membenarkan dosa | Akibat dari dosa yang telah terjadi |
| Diciptakan oleh pelaku dosa | Dialami oleh korban dan pelaku |
| Bersifat subjektif dan manipulatif | Bersifat objektif dan nyata |
| Dosa itu sendiri | Konsekuensi dari dosa |


2.2 Kejadian 3: Alasan Negatif vs Realita Negatif

Dalam Kejadian 3, kita melihat kedua hal ini secara bersamaan:

| Peristiwa | "Alasan Negatif" (Dosa) | "Realita Negatif" (Akibat) |
| Adam dimakan buah | "Wanita yang Kautempatkan..." (alasan untuk membenarkan) | Adam dan Hawa terpisah —mereka bersembunyi |
| Hawa dimakan buah | "Ular yang memperdayakan..." (alasan untuk membenarkan) | Adam dan Hawa saling menyalahkan —relasi hancur |
| Keduanya melanggar | Mereka mencari alasan untuk menutupi dosa | Mereka tidak lagi satu daging—perceraian terjadi |

Allah tidak menghakimi mereka karena "realita negatif" (perpisahan, saling menyalahkan). Allah menghakimi mereka karena dosa yang mereka lakukan—dan alasan negatif yang mereka ciptakan untuk membenarkannya.

Tetapi Allah tetap mengasihi mereka:
· Allah memberi mereka pakaian kulit (Kejadian 3:21)—perlindungan
· Allah tidak membunuh mereka—kasih
· Allah memberi janji keturunan yang akan menghancurkan ular (Kejadian 3:15)—pemulihan

Ini adalah pola yang sama: Allah menegur dosa, menolak alasan, tetapi melindungi korban dan memberi janji pemulihan.


2.3 Perbedaan yang Harus Dipahami oleh Gereja

Gereja selama berabad-abad sering mencampuradukkan "alasan negatif" dan "realita negatif" —dan akibatnya sangat merusak:

| Jika Gereja Menganggap "Realita Negatif" sebagai "Alasan Negatif" | Akibatnya |
| Korban KDRT yang bercerai dianggap "berdosa" | Korban dihakimi, bukan dilindungi |
| Istri yang ditinggal selingkuh dianggap "berdosa" jika bercerai | Korban dihakimi, pelaku dibiarkan |
| Orang yang melarikan diri dari penelantaran dianggap "berdosa" | Korban dihakimi, pelaku dibiarkan |
| Korban yang menikah lagi setelah perceraian dianggap "berzina" | Korban kehilangan kesempatan untuk dipulihkan |

Inilah "ragi Farisi" yang Yesus peringatkan:
| Elemen | Penjelasan |
| Mengikat beban berat pada korban | (Matius 23:4) → "Kamu tidak boleh bercerai" |
| Tidak mau menyentuh beban itu | tidak mau melindungi korban |
| Menghakimi korban | seolah-olah merekalah yang berdosa |

Prinsip yang sama berlaku dalam perceraian: Gereja tidak boleh menghukum korban—Gereja harus melindungi mereka.

---

Bagian 3: Ragi Farisi — Ketika Gereja Mencampuradukkan Alasan dan Realita

3.1 Apa Itu Ragi Farisi?

Yesus berkata:
"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." (Matius 16:6)

"Ragi Farisi" adalah:
| Elemen | Penjelasan |
| Kemunafikan | mengajarkan aturan tetapi mencari celah untuk melanggarnya (Matius 23:3) |
| Beban berat | menambahkan aturan di luar firman Allah (Matius 23:4) |
| Penampilan di luar, kebusukan di dalam | membersihkan luar tetapi dalamnya penuh dosa (Matius 23:27-28) |
| Memprioritaskan aturan di atas kasih | mengabaikan yang lebih penting: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Matius 23:23) |

"Ragi Farisi" dalam konteks perceraian adalah:
| Elemen | Penjelasan |
| Aturan yang diajarkan | "Pernikahan adalah sakramen, jangan bercerai" |
| Celah yang dicari | "Tetapi jika ada alasan..." (mencari loophole) |
| Beban yang diikat | "Kamu tidak boleh bercerai" —bahkan jika suami memukulimu |
| Kemunafikan | Gereja mengajarkan kesucian pernikahan tetapi membiarkan dosa yang menghancurkannya |
| Hasil | Korban dihakimi, pelaku dibiarkan, pernikahan hancur |


3.2 Bagaimana Gereja Jatuh ke dalam Ragi Farisi?

Gereja jatuh ke dalam ragi Farisi ketika ia:
1. Mengajarkan aturan tanpa kasih —"Kamu tidak boleh bercerai" tanpa melindungi korban
2. Menghakimi korban —seolah-olah merekalah yang berdosa
3. Membiarkan pelaku —tidak menegur KDRT, perselingkuhan, penelantaran
4. Menambahkan beban —"Jika bercerai, kamu berdosa" —tanpa mempertimbangkan penderitaan korban

Inilah yang Yesus tegur dalam Matius 23:
"Kamu mengikat beban-beban berat pada manusia, tetapi kamu sendiri tidak mau menyentuhnya." (Matius 23:4)

Beban berat itu adalah: "Kamu tidak boleh bercerai—meskipun suamimu memukulimu setiap hari."

Dan ini adalah "ragi Farisi" karena:
| Elemen | Penjelasan |
| Gereja mengajarkan kesucian pernikahan | benar |
| Tetapi tidak melindungi kesucian itu dari dosa yang menghancurkannya | salah |
| Dan menghakimi korban yang melarikan diri | dosa |


3.3 Mengapa Gereja Harus Membuang Ragi Farisi?

Karena ragi Farisi menghancurkan:
| Elemen | Penjelasan |
| Korban | mereka dihakimi, bukan dipulihkan |
| Pelaku | mereka dibiarkan dalam dosa, tidak ditegur |
| Gereja | ia kehilangan kredibilitas sebagai tempat kasih dan keadilan |
| Kristus | nama-Nya dinodai oleh kemunafikan gereja |

Yesus mengajarkan:
"Aku menghendaki belas kasihan, bukan persembahan." (Matius 9:13)

Terjemahan untuk hari ini:
"Aku menghendaki belas kasihan bagi korban, bukan persembahan aturan yang menghakimi mereka."

---

Bagian 4: Membaca Ulang Matius 19 dengan Benar

4.1 Pembacaan yang Keliru
"Yesus berkata: 'Jangan bercerai.' Karena itu perceraian adalah dosa, dan siapa pun yang bercerai adalah pendosa."

Masalah pembacaan ini:
| Elemen | Penjelasan |
| Ini menghakimi korban | tanpa membedakan penyebab perceraian |
| Ini mengabaikan dosa | yang menghancurkan pernikahan |
| Ini jatuh ke dalam ragi Farisi | menambahkan beban pada korban |


4.2 Pembacaan yang Benar

Pembacaan yang benar:
"Yesus berkata: 'Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.' Artinya: Tidak ada alasan yang membolehkan manusia menghancurkan apa yang Allah satukan. Tetapi ketika dosa telah terjadi dan menghancurkan kesatuan, perceraian adalah realita yang terjadi—bukan alasan untuk membenarkan, tetapi konsekuensi dari dosa yang sudah terjadi."

Implikasi pembacaan ini:
| Aspek | Penjelasan |
| Pelaku dosa | Ditegur—KDRT, perselingkuhan, penelantaran adalah dosa |
| Korban | Dilindungi—mereka tidak dihakimi karena "bercerai" |
| Perceraian | Diakui sebagai realita yang terjadi ketika dosa telah menghancurkan kesatuan |
| Tujuan Gereja | Menegur pelaku, melindungi korban, memulihkan yang hancur |


4.3 "Jika Ya Katakan Ya" — Dosa Penambahan sebagai Akar Kebohongan

Dalam Matius 5:37, Yesus berkata:
"Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

"Penambahan" dalam Kejadian 3:
· Adam: "Ya, aku memakan buah—tetapi wanita yang Kautempatkan..."
· Hawa: "Ya, aku memakan buah—tetapi ular yang memperdayakan..."

Ini adalah "dosa penambahan" —usaha untuk menambahkan alasan pada jawaban "Ya." Alasan ini adalah kebohongan yang berusaha membenarkan dosa.

"Penambahan" dalam Matius 19:
· Farisi: "Apakah boleh bercerai dengan alasan apa pun?"
· Mereka mencari penambahan—alasan yang membolehkan perceraian

Yesus menolak semua penambahan:
"Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Tidak ada alasan yang membolehkan manusia menghancurkan apa yang Allah satukan. Tidak ada "penambahan" yang dapat membenarkan dosa. "Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakanlah tidak."


4.4 "Karena Ketegaran Hatimu" — Akar dari Perceraian

Dalam Matius 19:8, Yesus berkata:
"Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu."

Perhatikan: Yesus tidak berkata, "Karena perceraian adalah dosa." Yesus berkata, "Karena ketegaran hatimu" —ini adalah penyebab perceraian.

"Ketegaran hati" adalah:
| Elemen | Penjelasan |
| Pride | menolak untuk mengakui kesalahan |
| Apathy | tidak peduli pada pasangan |
| Keraguan | meragukan kebaikan Allah dalam pernikahan |

Ini adalah akar dosa—bukan status "cerai."

---

Bagian 5: Implikasi Pastoral dan Teologis

5.1 Bagi Gereja

| Yang Harus Dilakukan Gereja | Yang Tidak Boleh Dilakukan Gereja |
| Menegur pelaku dosa —KDRT, perselingkuhan, penelantaran | Menghakimi korban —mereka yang melarikan diri dari kekerasan |
| Melindungi korban —memberi tempat aman | Membiarkan pelaku —tidak menegur dosa |
| Memulihkan yang hancur —memberi harapan dan pemulihan | Menambah beban —"Kamu tidak boleh bercerai" tanpa pertolongan |
| Mengajarkan ideal ilahi —pernikahan seumur hidup | Mengubah ideal menjadi hukuman bagi korban |


5.2 Bagi Korban

| Pesan untuk Korban | Dasar Alkitab |
| Kamu tidak dihakimi —Allah melihat penderitaanmu | Yohanes 8:11 — "Aku tidak menghukummu" |
| Kamu dilindungi —Allah adalah tempat perlindungan | Mazmur 46:1 — "Allah adalah tempat perlindungan" |
| Kamu dipulihkan —Ada harapan bagi masa depanmu | Yoel 2:25 — "Aku akan memulihkan" |
| Kamu tidak berdosa karena melarikan diri —Melarikan diri dari kejahatan bukan dosa | Kejadian 3:21 — Allah memberi pakaian setelah kejatuhan |


5.3 Bagi Pelaku Dosa

| Pesan untuk Pelaku | Dasar Alkitab |
| Bertobatlah —Tinggalkan dosa yang menghancurkan | Matius 3:8 — "Hasilkan buah pertobatan" |
| Akui kesalahan —Jangan mencari "alasan negatif" | Kejadian 3 — Adam dan Hawa dihakimi karena alasan mereka |
| Pulihkan —Jika mungkin, pulihkan yang telah rusak | Lukas 19:8 — Zakheus mengembalikan empat kali lipat |
| Jika tidak mau bertobat —Gereja harus menegur | Matius 18:15-17 — Disiplin gereja |

---

Kesimpulan

Pernikahan adalah kesatuan "satu daging" yang Allah tetapkan sejak semula (Kejadian 2:24). Ini adalah ideal ilahi yang tidak boleh dihancurkan oleh manusia dengan "alasan negatif" apa pun.

"Alasan negatif" adalah usaha manusia untuk membenarkan dosa dengan argumen teologis. Ini adalah ragi Farisi —munafik, menambahkan beban, tetapi tidak mau menyentuhnya.

"Realita negatif" adalah konsekuensi nyata dari dosa yang telah terjadi. KDRT, perselingkuhan, penelantaran—ini adalah dosa yang menghancurkan pernikahan. Perceraian adalah realita yang terjadi ketika dosa telah menghancurkan kesatuan.

Gereja harus membedakan keduanya:
· Menegur pelaku dosa (alasan negatif) —mereka yang menghancurkan pernikahan
· Melindungi korban (realita negatif) —mereka yang menderita akibat dosa
· Jangan mencampuradukkan —jangan menghakimi korban seolah-olah mereka pelaku

Yesus mengajarkan:
"Aku menghendaki belas kasihan, bukan persembahan." (Matius 9:13)

Ini adalah panggilan bagi gereja: Kasihilah, lindungi, dan pulihkanlah—jangan menghakimi.

---

Daftar Pustaka

1. Alkitab (Terjemahan Baru dan Teks Yunani/Ibrani)
2. Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik (KGK 2383-2386)
3. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1601-1666)
4. Matius 19:3-12 — Analisis eksegesis
5. Kejadian 2-3 — Analisis narasi
6. Yohanes 8:1-11 — Perempuan berzinah
7. Matius 23 — Yesus menegur Farisi
8. Rabi Hillel dan Shammai — Latar belakang Matius 19:3

---

Soli Deo Gloria.

Artikel ini disusun sebagai bagian dari sistem LTTI 2.13 — Sebuah usaha untuk mengembalikan eksegesis Alkitab ke akar Ibrani dan membebaskan gereja dari ragi Farisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom

Parakletos ketika beda teologi