Jika Semua Seperti Maria

Jika Semua Seperti Maria

Sebuah Renungan tentang Sikap Hati, Pengorbanan, dan Komunitas Kasih

---

Pendahuluan

Dalam narasi Injil Yohanes, terdapat sebuah peristiwa yang sering dilewatkan begitu saja, padahal di dalamnya tersimpan kebenaran yang sangat dalam tentang sikap hati, pengorbanan, dan makna menjadi komunitas kasih. Peristiwa itu adalah saat Maria mencurahkan minyak narwastu yang sangat mahal ke kaki Yesus, dan Yudas mengkritik tindakan itu dengan dalih "lebih baik dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin."

Yesus menjawab dengan kata-kata yang sering disalahpahami: "Orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak selalu ada padamu" (Yohanes 12:8). Apakah Yesus sedang membenarkan kemiskinan? Apakah Ia sedang mengabaikan orang miskin? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang Ia ajarkan?

Artikel ini akan membangun pemahaman tentang peristiwa ini dalam terang seluruh kerangka LTTI, dan menunjukkan bahwa jawaban Yesus adalah peringatan tentang sikap hati yang melanggengkan kemiskinan, sekaligus undangan untuk menjadi komunitas kasih seperti Maria.

---

Bagian 1: Dua Sikap Hati — Maria dan Yudas

1.1 Tindakan Maria: Pengorbanan Tanpa Syarat
"Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak itu memenuhi seluruh rumah." (Yohanes 12:3)

Tindakan Maria adalah tindakan yang berlebihan—tidak efisien, tidak praktis, bahkan di mata banyak orang, sia-sia. Minyak narwastu senilai tiga ratus dinar (kira-kira upah setahun) dicurahkan begitu saja. Namun, inilah esensi dari kasih yang sejati: kasih tidak pernah menghitung-hitung. Kasih tidak bertanya "Apakah ini efisien?" Kasih bertanya "Apa yang dapat kuberikan?"

Maria tidak bertanya apakah tindakannya "bermanfaat" bagi orang banyak. Ia hanya tahu bahwa Yesus layak menerima yang terbaik. Inilah sikap hati yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya—sikap yang memberi tanpa syarat, tanpa perhitungan, tanpa dalih.


1.2 Sikap Yudas: Kritik dan Dalih
"Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan menyerahkan Dia, berkata: 'Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?'" (Yohanes 12:4-5)

Di permukaan, perkataan Yudas terdengar mulia—ia peduli pada orang miskin. Tetapi penulis Injil dengan jujur mengungkapkan motivasinya:

"Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya." (Yohanes 12:6)

Yudas menggunakan orang miskin sebagai dalih untuk mengkritik pengorbanan Maria. Ia ingin terlihat sebagai orang yang "peduli" dan "bijaksana," padahal hatinya penuh dengan keserakahan dan pride. Inilah yang Yesus peringatkan: sikap mengkritik pengorbanan kasih dengan dalih "lebih baik digunakan untuk..." adalah bentuk klaim jasa dan pride religius (C-D-13; E2-GR-05).

---

Bagian 2: Apa Arti "Orang Miskin Selalu Ada"?

2.1 Kesalahpahaman Umum
Banyak orang membaca ayat ini dan berpikir: "Yesus mengatakan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi. Kita tidak perlu terlalu khawatir tentang orang miskin." Ini adalah kesalahpahaman yang sangat berbahaya dan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Yesus.


2.2 Pemahaman LTTI: Peringatan tentang Sikap Hati

Dalam kerangka LTTI, perkataan Yesus adalah peringatan, bukan pembenaran:
"Dengan sikap seperti yang kau tunjukkan sekarang—sikap yang mengkritik pengorbanan kasih demi terlihat benar—orang miskin akan selalu ada. Bahkan jika tidak ada orang miskin, sikapmu akan 'mengadakan' mereka sebagai alasan untuk tidak berkorban."

| Lapisan | Penjelasan |
| Permukaan | Yesus mengatakan bahwa orang miskin akan selalu ada, tetapi Ia tidak akan selalu berada di tengah mereka secara fisik |

| Tersembunyi | Yesus memperingatkan Yudas: "Sikapmu yang mengkritik pengorbanan kasih inilah yang membuat orang miskin selalu ada" |

| Inti | Yesus tidak sedang membenarkan kemiskinan. Ia sedang mengatakan: "Jika kita bersikap seperti Yudas—mengkritik pengorbanan kasih, menggunakan orang miskin sebagai dalih, dan mengklaim jasa—maka Aku tidak akan hadir dan menyertai serta merestui." |

2.3 "Mengadakan" Orang Miskin

Yesus sedang mengatakan bahwa sikap seperti Yudas akan terus menciptakan orang miskin. Mengapa? Karena:

1. Sikap kritis tanpa pengorbanan — Jika kita hanya mengkritik tanpa mau berkorban, kita tidak mengatasi apa pun.
2. Menggunakan orang miskin sebagai dalih — Jika kita menggunakan orang miskin untuk membenarkan keengganan kita berkorban, kita sedang "mengadakan" mereka sebagai alasan.
3. Klaim jasa — Jika kita ingin terlihat peduli tanpa benar-benar peduli, kita hanya memperkuat sikap egois kita sendiri.

---

Bagian 3: Jika Semua Seperti Maria

3.1 Bayangkan Sebuah Dunia di Mana Semua Orang Seperti Maria

Jika kita semua mempunyai sikap seperti Maria—yang mau berkorban, yang tidak menghitung-hitung, yang memberi dengan murah hati—maka tidak akan ada lagi orang miskin. Yang ada adalah sebuah komunitas kasih yang saling memperhatikan.

Maria tidak bertanya: "Apakah ini efisien?" Ia bertanya: "Apa yang dapat kuberikan kepada Yesus?" Sikap inilah yang mengubah dunia. Jika setiap orang percaya memiliki hati yang sama—tanpa menghitung, tanpa kritik, tanpa dalih—maka kemiskinan akan berkurang, dan gereja akan menjadi komunitas kasih yang sejati.


3.2 Dampak Sikap Maria

| Dampak | Penjelasan |
| Tidak ada lagi orang miskin | Kemurahan hati yang berkelanjutan akan mengatasi kemiskinan |
| Komunitas kasih | Terbentuk komunitas yang saling memperhatikan, bukan saling mengkritik |
| Yesus hadir | Yesus merestui dan hadir di tengah komunitas yang penuh kasih dan pengorbanan |


3.3 Gereja Mula-mula sebagai Prototype

Gereja mula-mula memberikan gambaran tentang komunitas seperti ini:
"Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama... Dan tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; sebab semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjualnya, dan hasil penjualan itu dibawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya." (Kisah 4:32-35)

Inilah gambaran dari komunitas kasih yang lahir dari sikap hati seperti Maria. Tidak ada orang miskin, karena semua saling memperhatikan. Tidak ada kritik, karena semua memberi dengan sukacita.

---

Bagian 4: Pelajaran bagi Kita Hari Ini

4.1 Dalam Kehidupan Pribadi

| Pertanyaan untuk Direnungkan | Penjelasan |
| Apakah saya memberi dengan murah hati atau menghitung-hitung? | Sikap Maria adalah memberi tanpa syarat |

| Apakah saya mengkritik pengorbanan orang lain dengan dalih "lebih baik digunakan untuk..."? | Sikap Yudas adalah mengkritik dengan dalih |

| Apakah saya menggunakan orang miskin sebagai alasan untuk tidak berkorban? | Sikap Yudas adalah "mengadakan" orang miskin |


4.2 Dalam Kehidupan Komunitas

| Prinsip | Penjelasan |
| Kemurahan hati mengatasi kemiskinan | Sikap murah hati menciptakan siklus kebaikan yang mengatasi kemiskinan |

| Kritik tanpa pengorbanan melanggengkan kemiskinan | Sikap mengkritik tanpa mau berkorban adalah bentuk apathy sosial |

| Komunitas kasih adalah tanda Kerajaan Allah | Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang saling memperhatikan |


4.3 Dalam Pelayanan dan Misi

| Prinsip | Penjelasan |
| Tindakan kasih yang "tidak efisien" justru berharga | Maria tidak bertanya tentang efisiensi, hanya tentang kasih |

| Jangan menggunakan orang miskin sebagai dalih | Orang miskin bukan alasan untuk tidak berkorban, tetapi panggilan untuk berkorban lebih banyak |

| Yesus hadir ketika kita berkorban dengan kasih | Sikap Maria membawa kehadiran dan perkenanan Yesus |

---

Bagian 5: Koneksi dengan Seluruh Kerangka LTTI

| Konsep LTTI | Koneksi dengan Sikap Maria |
| Pakaian Kemuliaan (C-D-15) | Maria tidak mencari pakaian kemuliaan bagi dirinya; ia memberi tanpa mengharapkan imbalan |
| Klaim Jasa (C-D-13) | Maria tidak mengklaim jasa; Yudas justru mengklaim jasa dengan kritiknya |
| Pengampunan sebagai Merangkul (E2-MI-03) | Maria merangkul Yesus dengan pengorbanannya |
| Kerinduan Eskatologis (E1-ES-05) | Maria merindukan Yesus, bukan pakaian kemuliaan duniawi |
| Komunitas Kasih (E2-DS-01) | Maria adalah prototype dari komunitas yang saling merangkul |

---

Kesimpulan: Pilihan antara Maria dan Yudas

Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan yang sama: akankah kita menjadi Maria atau Yudas?

| Sikap Maria | Sikap Yudas |
| Memberi tanpa syarat | Mengkritik dengan dalih |
| Tidak menghitung-hitung | Menghitung-hitung efisiensi |
| Menginspirasi kemurahan hati | "Mengadakan" orang miskin sebagai alasan |
| Yesus hadir dan merestui | Yesus "tidak selalu ada" — tidak merestui |

Yesus tidak sedang membenarkan kemiskinan ketika Ia berkata "orang miskin selalu ada padamu." Ia sedang memperingatkan: "Sikapmu yang mengkritik pengorbanan kasih inilah yang membuat orang miskin selalu ada."

Sebaliknya, jika kita semua memiliki hati seperti Maria—yang rela berkorban tanpa syarat—maka tidak akan ada lagi orang miskin, melainkan sebuah komunitas kasih yang saling memperhatikan. Kemiskinan bukanlah takdir, tetapi cerminan dari sikap hati—apakah kita mau berkorban atau hanya mau mengkritik.

"Sebab orang miskin selalu ada padamu" bukanlah pernyataan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi, tetapi peringatan bahwa sikap seperti Yudas akan terus melanggengkan kemiskinan. Jika kita semua memiliki hati seperti Maria—yang rela berkorban demi kasih—maka kemiskinan akan berkurang dan komunitas kasih akan terbangun.

---

Daftar Ayat Kunci

| Ayat | Isi |
| Yohanes 12:3 | Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu |
| Yohanes 12:4-5 | Yudas mengkritik: "Mengapa tidak dijual?" |
| Yohanes 12:6 | Motif Yudas—pencuri, bukan peduli pada orang miskin |
| Yohanes 12:7-8 | "Biarkanlah dia... orang miskin selalu ada, tetapi Aku tidak selalu ada" |
| Kisah 2:44-45 | Gereja mula-mula—segala kepunyaan bersama |
| Kisah 4:32-35 | Tidak ada orang berkekurangan di antara mereka |
| Yakobus 2:15-16 | Iman tanpa perbuatan adalah mati |
| Matius 25:35-40 | "Aku lapar dan kamu memberi Aku makan" |
| 2 Korintus 8:12 | "Jika kamu rela untuk memberi, pemberianmu akan diterima" |
| 2 Korintus 9:7 | "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" |
| 1 Timotius 6:17-19 | "Kaya dalam perbuatan baik, suka memberi, murah hati" |

---

Doksologi Penutup

Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, yang mengajarkan kami melalui tindakan Maria bahwa kasih tidak pernah menghitung-hitung. Kami mengaku bahwa sering kali kami bersikap seperti Yudas—mengkritik pengorbanan orang lain, menggunakan orang miskin sebagai dalih, dan mengklaim jasa bagi diri kami sendiri.

Ubahlah hati kami menjadi hati seperti Maria—hati yang memberi tanpa syarat, tanpa perhitungan, tanpa dalih. Agar melalui kami, orang miskin tidak lagi "selalu ada," tetapi komunitas kasih yang saling memperhatikan dibangun di bumi ini.

Karena hanya dengan sikap hati seperti Maria, Engkau hadir dan merestui. Dan hanya dalam kehadiran-Mu, kami menemukan kehidupan yang sejati.

"Sebab orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak selalu ada padamu." (Yohanes 12:8)

Biarlah kami menjadi komunitas yang membuat Engkau selalu ada—karena kami saling mengasihi dan berkorban satu sama lain.

Shaloom. 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom

Parakletos ketika beda teologi