Katolik Bukan sebagai Senjata Pengecualian

Katolik Bukan sebagai Senjata Pengecualian

Menelusuri Makna "Umum" dari Konsili Yerusalem hingga Ironi Perpecahan

---

Pendahuluan: Ketika Kata yang Seharusnya Merangkul Justru Memecah

Dalam percakapan sehari-hari, istilah "Katolik" sering terdengar sebagai label identitas. Banyak yang memahami artinya secara dangkal sebagai "umum" atau "universal"—sebuah gereja yang tersebar di seluruh dunia. Namun, pemahaman ini hanya menyentuh permukaan. Ironisnya, kata yang secara etimologis berarti "merangkul seluruhnya" ini, dalam perjalanan sejarah, kerap digunakan sebagai instrumen untuk memisahkan, mengecualikan, bahkan menjustifikasi permusuhan antarumat beriman.

Artikel ini hendak mengembalikan makna asli "Katolik" pada akar sejarahnya—dimulai dari Konsili Yerusalem, melewati perdebatan awal Gereja perdana, hingga mencapai titik puncak ironi pada Skisma Besar 1054. Argumentasi utamanya adalah: "Katolik" bukanlah gelar kehormatan untuk satu institusi, melainkan panggilan untuk mempertahankan kelengkapan iman di tengah keberagaman, dan sama sekali bukan senjata untuk mengucilkan.

---

Bab 1: Konsili Yerusalem—Lahirnya Konsep "Kelengkapan"

Tahun 49 Masehi. Gereja perdana menghadapi krisis identitas terbesarnya: Haruskah orang non-Yahudi menjadi Yahudi terlebih dahulu sebelum menjadi Kristen? Sebagian kelompok (dikenal sebagai golongan "sunat") bersikukuh bahwa Taurat Musa tetap wajib bagi semua pengikut Kristus.

Namun, Paulus dan Barnabas membawa kabar berbeda. Di hadapan para rasul dan penatua di Yerusalem, mereka menyaksikan bagaimana Roh Kudus dicurahkan kepada orang-orang non-Yahudi tanpa perantaraan sunat atau hukum Taurat. Petrus pun bersaksi: "Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan keputusan-Nya dengan memberi Roh Kudus kepada mereka, sama seperti kepada kita" (Kisah 15:8).

Keputusan konsili yang dipimpin Yakobus ini revolusioner: Keselamatan adalah karena kasih karunia, bukan karena status etnis. Orang non-Yahudi tidak perlu menjadi Yahudi secara budaya; mereka hanya diminta menjauhkan diri dari penyembahan berhala, darah, dan percabulan (Kisah 15:29).

Di sinilah benih "Katholikos" ditaburkan. Gereja yang menerima keputusan ini menganggap dirinya "lengkap"—bukan karena ia besar secara kuantitas, tetapi karena ia tidak membuang sebagian dari umat Allah. Ia merangkul Yahudi dan Yunani, budak dan merdeka, tanpa kehilangan inti iman. Inilah makna "umum" yang pertama: kelengkapan dalam penerimaan, bukan universalitas geografis.

---

Bab 2: Makna "Umum" Menurut Bapa-Bapa Gereja

St. Ignasius dari Antiokhia (+110 M) adalah orang pertama yang secara tertulis menyebut "Gereja Katolik." Baginya, istilah ini bukanlah pujian untuk sebuah institusi, melainkan tameng melawan sektarianisme.

Pada abad-abad awal, bermunculan kelompok-kelompok yang memilih-milih ajaran:

· Gnostik yang merendahkan tubuh dan Perjanjian Lama.
· Marcion yang menolak seluruh Perjanjian Lama dan hanya menerima sebagian Injil Lukas.
· Ebionit yang bersikukuh bahwa Yesus hanyalah nabi biasa, bukan Allah.

Menghadapi hal ini, para Bapa Gereja menegaskan bahwa Gereja "Katolik" adalah Gereja yang memegang seluruh warisan para rasul: keempat Injil, semua surat, semua sakramen, dan seluruh Kanon Kitab Suci. Kata "umum" di sini berarti utuh secara doktrin, bukan "semua orang boleh masuk tanpa syarat."

St. Sirilus dari Yerusalem (abad ke-4) dalam katekesenya menjelaskan: "Gereja disebut Katolik karena ia mengajarkan seluruh kebenaran tanpa cacat, mengajar segala macam dosa untuk diampuni, dan merangkul segala jenis manusia—dari raja hingga pengemis." Di sini, "umum" mengandung tiga dimensi sekaligus:

1. Kebenaran yang utuh (integritas doktrinal).
2. Pengampunan yang universal (tanpa diskriminasi dosa).
3. Jangkauan yang inklusif (tanpa membedakan status sosial).

---

Bab 3: Konsili Nicea dan Penguatan "Satu, Kudus, Katolik, Apostolik"

Tahun 325 M, Konsili Nicea merumuskan Kredo yang hingga kini diakui oleh hampir seluruh umat Kristen di dunia. Salah satu frasanya berbunyi: "Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik."

Penting untuk dicatat: Kredo ini tidak diciptakan untuk membedakan "kita" dari "mereka" di dalam tubuh Kristus. Ia dirumuskan untuk melawan ajaran sesat Arianisme yang menyangkal keilahian Kristus. Dengan kata lain, "katolik" dalam Kredo Nicea adalah batas perlindungan, bukan pagar pengecualian. Ia berkata: "Kami tidak akan membiarkan iman yang utuh ini dirusak oleh pengajaran yang memutilasi Kristus."

Namun, benih ironi sudah mulai tumbuh. Ketika Kekaisaran Romawi menjadikan Kristen sebagai agama resmi, "Katolik" mulai bergeser maknanya—dari kualitas iman menjadi identitas institusional yang terstruktur. Gereja tidak lagi sekadar persekutuan orang percaya, tetapi sebuah organisasi dengan pusat administratif, hirarki, dan wilayah kekuasaan.

---

Bab 4: Skisma 1054—Ketika "Umum" Berubah Menjadi "Eksklusif"

Puncak ironi terjadi pada tahun 1054. Perselisihan teologis-politik antara Roma dan Konstantinopel—terutama tentang Filioque (apakah Roh Kudus berasal dari Bapa dan Anak, atau hanya dari Bapa) dan supremasi Paus—memuncak dalam saling mengucilkan (ekskomunikasi) antara Paus Leo IX dan Patriark Mikhael Kerularius.

Sejak saat itu, Gereja terbelah menjadi dua:

· Gereja Katolik Roma di Barat, menekankan kesatuan struktural di bawah Paus.
· Gereja Ortodoks Timur, menekankan kemurnian iman dan kesetaraan para patriark.

Ironi yang menyakitkan: Kedua belah pihak tetap mengaku sebagai "Gereja yang katolik." Roma mengklaim dirinya sebagai satu-satunya Gereja Katolik yang sejati. Sementara Timur, meskipun enggan menyebut dirinya "Katolik" sebagai nama resmi, tetap mengucapkan dalam kredonya: "Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik."

Pada detik inilah—seperti yang Anda katakan—istilah "Katolik" mulai kehilangan relevansi historisnya. Sebuah kata yang lahir dari semangat merangkul semua bangsa (Kisah 15) kini digunakan sebagai senjata untuk saling mengeksklusikan. Roma mengatakan Timur tidak katolik karena tidak patuh pada Paus. Timur mengatakan Roma tidak katolik karena menyimpang dari iman para Bapa.

Perpecahan ini bukan hanya administratif; ia adalah luka pada tubuh Kristus yang sampai hari ini belum pulih sepenuhnya.

---

Bab 5: Katolik sebagai Pengakuan Dosa, Bukan Gelar Kemenangan

Jika kita jujur secara historis, kita harus mengakui: Tidak ada satu pun gereja saat ini yang sepenuhnya "katolik" dalam arti utuh. Yang ada hanyalah potongan-potongan—fragmen dari Gereja yang satu, yang masing-masing memegang sebagian kebenaran dengan kesombongan bahwa merekalah yang paling benar.

Maka, apa gunanya tetap menggunakan istilah "Katolik"?

Pertama, sebagai seruan pertobatan. Ketika seorang Katolik mengaku "Aku percaya akan Gereja yang katolik," ia sedang berkata: "Saya mengakui bahwa kelengkapan iman ini bukanlah milik saya secara pribadi, tetapi anugerah yang harus saya jaga dan saya rindukan untuk dipulihkan dalam kesatuan." Ini adalah doa, bukan deklarasi kemenangan.

Kedua, sebagai penjaga kelengkapan doktrin. Di tengah kecenderungan gereja-gereja modern untuk menyesuaikan iman dengan selera zaman, istilah "Katolik" mengingatkan bahwa ada kebenaran yang tidak bisa dipilih-pilih. Anda tidak bisa menerima kasih karunia tetapi menolak sakramen. Anda tidak bisa percaya Kristus tetapi menolak Perjanjian Lama. Anda tidak bisa mengaku rohani tetapi merendahkan tubuh dan materi.

Ketiga, sebagai kritik terhadap sektarianisme. "Katolik" adalah anti-tesis dari "sekte." Sekte memilih-milih: hanya kelompok saya yang selamat, hanya ajaran saya yang benar, hanya budaya saya yang berkenan. Katolik—dalam makna aslinya—menolak semua itu. Ia mengajarkan bahwa kebenaran Allah lebih besar dari budaya, lebih luas dari bangsa, dan lebih dalam dari sekadar ritual.

---

Bab 6: Refleksi Kritis—Mengembalikan Katolik ke Pangkuan Sejarah

Mari kita akui: Selama istilah "Katolik" digunakan untuk:

· Menghakimi saudara seiman di gereja lain sebagai "tidak selamat,"
· Membenarkan ekspansi kolonialisme dengan bendera misi,
· Mempertahankan kekuasaan politik atas nama otoritas gerejawi,

...maka istilah itu telah menjadi senjata pengecualian yang mengkhianati akar sejarahnya sendiri.

Kembali ke Konsili Yerusalem: Keputusan besar para rasul adalah melepaskan tuntutan budaya (sunat, Taurat) demi mempertahankan inti iman (kasih karunia dan kebangkitan). Prinsip ini seharusnya menjadi pedoman hingga kini:

· Jika budaya atau tradisi gerejawi menjadi tembok yang menghalangi orang lain datang kepada Kristus, maka budaya itu harus dipertanyakan.
· Jika klaim otoritas (entah Paus, patriark, sinode, atau pendeta karismatik) digunakan untuk memecah belah, maka klaim itu telah melenceng dari semangat "umum."

Yang membuat sebuah gereja benar-benar "katolik" bukanlah ukuran, bukan usia, bukan kemegahan bangunan, dan bukan juga pengakuan dari Roma atau Konstantinopel. Yang membuatnya katolik adalah kesetiaannya pada seluruh kebenaran Alkitab, dan keterbukaannya untuk merangkul semua orang yang menerima kebenaran itu, tanpa kecuali.

---

Penutup: Katolik sebagai Kerinduan, Bukan Milik

Di akhir perjalanan ini, kita sampai pada satu kesimpulan: "Katolik" bukanlah sesuatu yang sudah kita miliki, melainkan sesuatu yang terus kita rindukan. Ia adalah horizon yang selalu di depan mata—sebuah kesatuan yang sempurna di mana semua pengikut Kristus, dari segala bangsa, bahasa, dan tradisi, dapat duduk bersama dalam satu meja Perjamuan Kudus tanpa saling menghakimi.

Perpecahan 1054, Reformasi abad ke-16, dan perpecahan-perpecahan berikutnya adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Tetapi fakta itu tidak membatalkan panggilan untuk menjadi "katolik." Justru fakta itu membuat panggilan tersebut semakin mendesak.

Maka, marilah kita berhenti menggunakan istilah "Katolik" sebagai:

· Bendera kemenangan untuk merendahkan yang lain,
· Sertifikat keselamatan untuk menjamin posisi kita sendiri,
· Alat politik untuk mempertahankan kekuasaan.

Sebaliknya, marilah kita menggunakannya sebagai:

· Doa untuk kesatuan yang hilang,
· Pengakuan bahwa kita tidak sempurna,
· Panggilan untuk terus belajar dari seluruh tradisi Kristen,
· Janji bahwa kita tidak akan berhenti merindukan hari di mana semua menjadi satu di dalam Kristus, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu (Yohanes 17:21).

Karena pada akhirnya, Gereja yang katolik bukanlah gereja yang terbesar, tertua, atau terkuat. Gereja yang katolik adalah gereja yang paling setia pada kebenaran, dan paling terbuka pada semua orang yang mencari kebenaran itu. Dan gereja semacam itu, sampai hari ini, masih sedang dibangun—dalam doa, dalam air mata, dan dalam harapan.

---

Soli Deo Gloria.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Yesus Di Baptis ?

Shalom dan Beshalom

Parakletos ketika beda teologi